Teknologi canggih yang diterapkan dalam dunia bisnis tidak semuanya bersahabat dengan lingkungan alam. Sejak tahun 1960-an, kita sudah sangat sering mendengar teriakan tentang menipisnya sumber alam, pengotoran udara, air dan tanah, pemanasan bumi, musim yang berubah tanpa aturan lagi, hutan- hutan menjadi gundul, efek rumah kaca dan lain-lain. Semuanya itu membuat kita berpikir untuk menemukan suatu relasi yang benar dalam perspektif hubungan yang tidak saling mematikan antara dunia bisnis, manusia dan alam lingkungan. Dewan Gereja-Gereja se-Dunia (WCC), yang pada bulan Februari 1992 menyelenggarakan Sidang Raya yang ke-8 di Canberra-Australia, menyerukan agar upaya kita tidak berorientasi lagi kepada manusia (man oriented) tetapi kepada kehidupan (life oriented). Manusia diserukan supay sadar bahwa dia bukanlah tujuan penciptaan. Upaya-upaya untuk mengeksploitasi bumi bagi kepentingannya sendiri harus diganti oleh sikap dasar bahwa manusia pada hakikatnya tidak mempunyai arti apa-apa bila dilepaskan dari makhluk-makhluk lainnya dalam suatu lingkaran ekologis yang tidak putus-putusnya.
Melalui bab ini, Anda diharapkan mencapai beberapa tujuan pembelajaran.
Adapun tujuan pembelajaran yang hendak dicapai adalah: (i) bersyukur kepada Tuhan yang telah mencipta, menyelamatkan, memelihara dan membarui ciptaan- Nya; (ii) mengembangkan sikap kasih kepada Tuhan sebagai Pencipta, Penyelamat, Pemelihara dan Pembaru ciptaan-Nya; (iii) berpengharapan akan masa depan yang lebih baik; (iv) peduli dan bertanggung jawab memelihara ciptaan Tuhan; (v) menganalis karya Tuhan berdasarkan kesaksian Alkitab; (vi) menganalisis ajaran tentang karya Tuhan berdasarkan kesaksian Alkitab; (vii) menerapkan tanggung jawab etis Kristen dalam pemeliharaan lingkungan hidup; (viii) merumuskan hasil penelaahan dasar-dasar Alkitab yang menunjukkan Tuhan sebagai Pencipta; (ix) menyajikan hasil penelaahan dasar-dasar Alkitab yang memperlihatkan Tuhan sebagai
154
Pemelihara dan Pembaharu ciptaan-Nya; serta (x) melakukan tindakan pemeliharaan lingkungan hidup sebagai tanggung jawab etisnya.
Gambar kerusakan alam berupa polusi udara akibat penerapan teknlogi Sumber: fransiscofaldo.wordpress.com
Simaklah pernyataan sejarawan Amerika, Lynn White, berikut. Ia menyatakan bahwa “kekristenan bukan saja mentahbiskan dualisme manusia dan alam, tetapi juga menggarisbawahi kehendak Allah bahwa manusia mengeksploitasi alam demi kepentingan pribadinya. Kekristenan memikul beban kesalahan yang maha besar” (Stott 2005, 158-159). Menurut Anda, apakah benar pernyataan White tersebut? Mengapa White mengeluarkan pernyataan seperti itu? Apa yang perlu Anda lakukan untuk mematahkan pernyataan White tersebut? Silakan Anda mengamati dan menganalisis hubungan antara ekonomi dan ekologi yang terjadi dewasa ini di Indonesia!
Hubungan antara ekonomi dan ekologi menjadi pusat perhatian, sebab pada dasarnya masalah ekologi timbul sebagai akibat serta menjadi korban dari kegiatan ekonomi (Sumartana 1994, 110). Kegiatan ekonomi yang menjadi tulang punggung pembangunan sering dianakemaskan sebegitu rupa sehingga ia menjadi terlalu manja dan kurang diawasi, kenakalan mereka dibiarkan. Hubungan antara ekonomi dan ekologi kemudian menampakkan
155
wajah yang buruk. Dalam tayangan televisi dapat disaksikan rusaknya lingkungan laut yang menyebabkan matinya ikan, kerang dan kepiting, serta merugikan para nelayan dan petani kerang. Mereka sangat dirugikan oleh pembuangan limbah pabrik yang seenaknya sehingga mematikan dan merusak lingkungan. Tingkah para pencari untung tersebut mencerminkan sikap etik tertentu yang perlu dipertimbangkan secara kritis. Mereka menganggap seolah-olah mereka hidup tanpa tetangga, tanpa orang lain, tidak mau tahu bahwa perilaku mereka telah amat merugikan orang lain, merusak lingkungan hidup. Para pemilik pabrik yang tidak bertanggung jawab dan pencari untung tersebut telah berbuat seolah-olah mengejar keuntungan diri sendiri layak membuat rugi orang lain. Hubungan antara ekonomi dan ekologi dalam praktik dipertentangkan satu terhadap yang lain. Inilah awal dari malapetaka itu.
Sebenarnya hubungan antara ekonomi dan ekologi bisa dijabarkan dari pengertian etimologis yang justru bisa saling membantu dan membina.
Ekonomi berasal dari kata oikos dan nomos. Oikos berarti ’rumah tangga‘ dan nomos berarti ’aturan, hukum.’ Ekonomi bisa diartikan sebagai upaya untuk mengatur atau penatalayanan rumah tangga (housekeeping). Sedang ekologi gabungan dari kata oikos dan logos. Oikos berarti ’rumah tangga‘, logos berarti
‘perkataan, pemahaman dan pengertian.’ Hubungan antara ekonomi dan ekologi tergabung dalam pemahaman bahwa kita tidak bisa menata masyarakat dan alam ini tanpa mengerti dan memeliharanya. Dengan kata lain, maka usaha untuk melakukan housekeeping harus dibarengi naturekeeping.
Berbicara tentang ekonomi dan ekologi, khususnya dari perspektif Indonesia, harus dimulai dengan mengatakan bahwa ia tidak merupakan masalah pilihan
“ini atau itu,” seolah-olah dengan bebasnya dapat dipilih antara ekonomi atau ekologi. Atau andai dipaksa untuk memilih, yang harus kita katakan adalah bahwa ini bukanlah pilihan yang mudah atau sederhana. Akar masalahnya memiliki sejarah yang cukup panjang. Selama lebih dari 200 tahun, pertumbuhan industri yang menjadi sakaguru pertumbuhan ekonomi Barat, telah didukung oleh tersedianya bahan bakar yang murah, sumber alam yang melimpah ruah serta lingkungan yang seakan-akan tanpa batas mampu menyerap semua limbah (Daraputera 1996, 120). Keadaan seperti ini
156
tidak hanya terjadi di Barat. Selama dasawarsa pertama pembangunan di Indonesia, kita juga dibuai oleh asumsi yang sama: persediaan minyak dan gas bumi yang melimpah, simpanan sumber alam yang kaya raya, dan tidak sedikit pun terpikirkan bahwa limbah industri akan menjadi masalah.
Kesadaran bahwa industrialisasi juga menciptakan masalah datangnya amat lambat. Pengalaman Amerika Serikat memberikan ilustrasi yang menarik.
Pada tahun 1960-an, mereka telah mulai menyadari terjadinya degradasi lingkungan yang disebabkan oleh industrialisasi. Namun demikian, pada waktu itu, mereka masih yakin bahwa teknologi pada akhirnya pasti akan mampu memecahkan masalah tersebut. Baru kemudian, sebelum dasawarsa itu berakhir, mereka menyadari bahwa walaupun teknologi mampu membantu dalam menemukan sumber daya alternatif, teknologi menciptakan masalah lingkungan yang amat serius. Oleh karena itu, pada awal tahun 1970-an, disahkanlah beberapa perangkat peraturan untuk mengendalikan polusi serta melindungi kelestarian alam. Pada pertengahan tahun 1970-an, kembali terjadi titik balik. Pada waktu itu, Amerika Serikat menderita akibat embargo minyak dan resesi ekonomi. Menghadapi keadaan seperti itu, banyak orang beranggapan bahwa masalah energi serta pertumbuhan ekonomi jauh lebih penting ketimbang masalah lingkungan. Pada akhir tahun 1970-an, peraturan mengenai lingkungan mulai dikendorkan demi pertumbuhan ekonomi.
Indonesia juga mempunyai cerita yang hampir sama. Selama Pelita I-III, fokus pembangunan Indonesia adalah pertumbuhan ekonomi. Baru kemudian kita terkejut menyadari betapa tingginya harga yang harus dibayar untuk itu:
kelestarian ekologi yang telah kita kurbankan demi pertumbuhan ekonomi.
Didorong oleh kesadaran ini lahirlah konsep “Pembangunan Berwawasan Lingkungan,” “Amdal” (Analisis dampak atas lingkungan), dan sebagainya.
Belakangan ini, untuk lebih menarik para investor asing ke Indonesia, ada kecenderungan untuk mengendurkan masalah ekologi lagi.
Alasan yang paling banyak dikemukakan untuk mengendurkan aturan- aturan mengenai lingkungan hidup adalah ekonomi: demi pertumbuhan ekonomi, penanaman modal asing, industrialisasi, menciptakan lapangan kerja, persaingan global dan sebagainya. Alasan-alasan itu ada benarnya. Namun demikian, harus dipertanyakan alasannya yang paling dasar: apakah memang dapat dibenarkan bila kita mengurbankan ekologi demi ekonomi?
157
Mengurbankan sesuatu hanya sah apabila: kita harus melakukannya demi tujuan yang lebih luhur dan kita yakin bahwa manfaatnya lebih besar daripada yang kita kurbankan.
Tampak jelas bahwa di balik isu ekonomi dan ekologi, sesungguhnya ada konflik-konflik kepentingan, konflik-konflik kekuasaan, dan konflik-konflik nilai- nilai yang pelik. Betapa sulitnya menentukan kebijakan yang secara seimbang sekaligus menjamin baik lingkungan hidup, pertumbuhan ekonomi, tersedianya lapangan kerja, maupun kesehatan manusia.
Di satu sisi, tidak dapat dipungkiri bahwa Indonesia membutuhkan pertumbuhan ekonomi dan industri untuk menciptakan lapangan kerja.
Indonesia juga membutuhkan teknologi pertanian yang baru untuk memproduksi bahan pangan yang lebih banyak, bahkan teknologi tinggi untuk mampu bertahan dalam persaingan global. Pada sisi lain, kita mengetahui bahwa semua itu juga akan menguras habis sumber daya alam kita, menciptakan polusi terhadap lingkungan hidup kita, serta membahayakan kesehatan manusia, dan sebagainya.
Kompleksitas masalah ini penting kita sadari terus-menerus, agar kita tidak terjerembab pada penyederhanaan masalah yang berlebihan. Namun demikian, kita juga tidak boleh hanya berhenti dalam frustasi lalu tidak mampu bertindak apa-apa, sementara tindakan begitu dibutuhkan. Untuk mampu bertindak secara benar dan tepat, kita perlu melakukan analisis biaya dan manfaat. Analisis ini akan membantu Anda untuk mengetahui kerumitan permasalahannya.
Namun demikian, analisis ini hanyalah awal saja, yang segera harus diikuti dengan analisis etis. Analisis etis akan membantu menentukan tindakan yang benar, baik dan tepat.
Analisis biaya dan manfaat mengasumsikan bahwa semuanya dapat dihitung dengan pasti. Di dalam beberapa kasus, kalkulasi seperti itu memang mungkin. Misalnya, kita dapat menghitung dengan hampir pasti berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk membersihkan air laut dari tumpahan minyak mentah dari sebuah kapal tanker yang tenggelam. Dalam banyak kasus yang lain, terutama apabila polusi itu melibatkan kerugian bagi
158
kesehatan manusia atau kematian, kerugian itu tidak pernah dapat diukur dengan angka. Berapakah harga sebuah kehidupan?
Masalah pokoknya adalah bagaimana memperkirakan dan menghitung risiko.
Penghitungan risiko merupakan masalah karena ada begitu banyak teknologi mutakhir yang tidak pernah dapat kita perkirakan risikonya dengan tepat, baik bagi generasi sekarang maupun bagi generasi yang akan datang.
Contohnya penggunaan teknologi nuklir. Persoalan etis mendasar yang harus kita kemukakan sehubungan dengan analisis biaya dan manfaat adalah sebagai berikut. Misalnya diasumsikan bahwa kita dapat membuktikan manfaat dari teknologi tertentu memang jauh lebih besar dari kerugiannya.
Apakah ini dengan sendirinya memperbolehkan kita memaksakannya kepada semua orang, termasuk kepada mereka yang berkeberatan? Bagaimana dengan hak-hak moral mereka yang paling dasar? Bukankah setiap orang mempunyai hak untuk diperlakukan atas sesuatu oleh orang lain, hanya setelah ia menyatakan persetujuannya? Bila orang dengan jelas telah menyatakan ketidaksetujuannya, bukankah hak moral dasar mereka itu dilanggar bila dipaksakan juga?
Ketika analisis biaya dan manfaat tidak mampu memberikan petunjuk yang pasti mengenai bagaimana harus bertindak, keputusan mengenai hal itu haruslah diserahkan kepada masyarakat yang bersangkutan. Ini tentu saja benar! Namun demikian, di dalam kenyataan, prinsip ini amat sulit diterapkan. Orang akan dapat memberikan persetujuannya hanya apabila ia sebelumnya mengetahui benar apa yang harus disetujuinya dan apa saja risiko dari persetujuannya itu. Harus diingat bahwa teknologi mutakhir itu sering begitu kompleksnya sehingga masyarakat awam tidak mungkin menguasai seluk-beluk persoalannya, apalagi risiko-risiko yang mungkin dapat ditimbulkannya. Bahkan di kalangan para ahli pun, ketidaksepakatan mengenai ini adalah sesuatu yang lazim. Bila kita tidak mampu mengetahui, bagaimana kita harus mengambil keputusan?
Kita memerlukan pendekatan yang lain, yakni pendekatan yang tidak sepenuhnya cuma bergantung pada analisis biaya dan manfaat. Kehidupan, pada akhirnya, selalu melampaui kalkulasi angka-angka. Dalam hal ini, yang kita butuhkan adalah sebuah komitmen moral. Komitmen moral yang
159
Envi ro nt me nt
menghormati kehidupan di atas segala-galanya, termasuk melampaui keuntungan ekonomi.
Bukan bermaksud untuk mengatakan bahwa keuntungan ekonomi itu tidak penting bagi kehidupan. Sebaliknya, ekonomi adalah bagian kehidupan yang amat penting. Ekonomi mempunyai fungsi yang amat vital bagi kehidupan, dan oleh karena itu jangan kita meremehkannya. Yang hendak dikatakan adalah ekonomi itu penting sepanjang menopang kehidupan. Oleh sebab itu, persoalan kita bukanlah ekonomi atau kehidupan, melainkan ekonomi untuk kehidupan
Walaupun bermanfaat, suatu tindakan tidak dapat digantungkan sepenuhnya pada kalkulasi untung rugi. Ketika biaya atau risiko tidak dapat dipastikan sebelumnya, kehidupan harus ditempatkan di depan, menjadi pertimbangan kita satu-satunya.
Bagaimana menerjemahkan prinsip ini ke dalam tindakan? Ada beberapa kemungkinan. Beberapa ahli mengusulkan bahwa ketika risiko tidak mungkin diperkirakan dengan pasti, jalan terbaik adalah memilih proyek-proyek yang tidak mengandung risiko kerusakan yang tidak mungkin diperbaiki. Sekalipun sebuah teknologi baru dapat diharapkan memberikan manfaat yang
Ecology
Economy
Society
160
maksimum, tetapi bila ia juga mengandung risiko penghancuran yang fatal, proyek ini harus mutlak kita tolak.
Beberapa ahli lain mengusulkan cara lain, demi keadilan diidentifikasikan siapa-siapa yang akan paling dibahayakan atau menanggung risiko yang terbesar sekiranya kemungkinan yang paling buruk terjadi, dan kemudian direncanakan langkah-langkah untuk memastikan bahwa mereka terlindungi.
Generasi mendatang dan anak-anak, misalnya, termasuk dalam kategori yang mesti dijamin perlindungannya.
Pendekatan lain lagi adalah sebagai berikut. Ketika risiko tidak mungkin diperhitungkan dengan pasti sebelumnya, harus diasumsikan kemungkinan yang paling buruk, dan kemudian mempertanyakan apakah dalam situasi yang seperti itu, kehidupan terlindungi. Tentu saja risiko adalah bagian yang tidak terelakkan dari kehidupan. Namun demikian, hidup ini bukan permainan untung-untungan. Ketika yang dipertaruhkan adalah kehidupan itu sendiri, kita tidak punya pilihan lain. Ketika hidup itu sendirilah yang menghadapi risiko kehancuran, manfaat apa lagi yang masih mungkin kita harapkan?
Bisnis memang bertujuan untuk mencari untung. Dan harus diakui bahwa mencari untung tidak haram. Seorang pengusaha bekerja untuk mencari untung. Tujuan hidup (termasuk pengusaha) adalah mencari untung serupa dengan analogi bahwa tujuan hidup adalah bernafas. Kita tidak bisa hidup tanpa bernafas, tetapi agaknya sulit diterima kalau dikatakan bahwa tujuan hidup “hanya” untuk bernafas. Di samping itu, ada batasan moral mengenai keuntungan, sebab jual beli manusia, jual beli obat terlarang, jual beli minuman keras, jual beli pornografi, sekalipun mungkin amat menguntungkan; jelas-jelas bertentangan dengan moral masyarakat. Termasuk di dalamnya menipu pajak, memperkerjakan anak-anak, menindas buruh, memanipulasi peraturan;
semuanya bisa menguntungkan, akan tetapi bukan itu bisnis yang bercorak etis.
Dalam kaitan dengan ekologi, ekonomi sering berjalan sendiri. Ekonomi sering dikelola dengan naluri atau dorongan ketamakan, ketidaksabaran, kerakusan, kebodohan dan kecerobohan. Kalangan bisnis sering menganggap bahwa alam ini adalah suatu aset modal yang didapat dengan gratis. Di pihak lain, tenaga manusia yang melimpah menyebabkan sumber daya manusia itu
161
dihargai seminimal mungkin, ditekan serendah mungkin sebagai “faktor produksi.” Bisnis dijalankan seolah-olah “tidak ada hari esok,” mengeruk dan mengeruk keuntungan, seolah-olah manusia tidak mempunyai anak-anak yang harus tetap hidup. Bisnis dilakukan seolah-olah perusahaan sedang mengalami likuidasi. Cara kita mengeksploitasi alam dan sesama manusia, bagaikan menjelang mengalami proses kebangkrutan, sehingga dilakukan pengurasan habis-habisan terhadap sumber daya alam dan sumber daya manusia.
Melaksanakan kewajiban perpajakan merupakan salah satu bentuk tanggung jawab warga negara untuk turut serta dalam membangun bangsa dan negara
Sumber: bisnis.liputan6.com
Kebebasan dalam berbisnis, ternyata ada batas-batasnya. Kebebasan itu berakhir ketika ia mengancam kehidupan orang lain, dan sekarang ini dengan amat nyata ditambahkan aspek baru yang sangat menonjol yaitu kelestarian lingkungan. Hubungan antara ekonomi dan ekologi berkenaan dengan batas-batas ini. Kebebasan kita berakhir ketika kebebasan itu sudah mulai mengancam hak hidup orang lain. Menyangkut soal lingkungan, lebih fundamental lagi, karena yang dipertaruhkan bukan hanya kehidupan orang lain belaka, akan tetapi seluruh umat manusia dalam seluruh sejarahnya.
Untuk menghadapi destruksi alam dan kemanusiaan di masyarakat, pendekatan etika ekologis dimulai dari asumsi mengenai keterikatan yang menyatu antara semua unsur kehidupan di muka bumi. Kehidupan ini bukan
162
hanya kehidupan untuk manusia (lebih-lebih bukan untuk segelintir orang), akan tetapi semuanya merupakan sebuah komunitas, yaitu “komunitas biotik.” Kita perlu mencari keseimbangan antara kebebasan individu yang merupakan asumsi dari dunia bisnis, dengan seluruh lingkungan biotik, baik dalam bentuk alam lingkungan dan masyarakat. Dilihat dari perspektif ekologis, setiap individu berada dalam suatu jaringan kehidupan yang saling bergantung satu dengan yang lain. Keseluruhan kehidupan itu merupakan satu kesatuan organis yang memberikan kepada setiap “warganya” hak yang sama untuk hidup. Ada “kodeterminasi” yang dinamis antara individu dan masyarakat, ada saling ketergantungan antara ekonomi dan ekologi, antara manusia dan alam, antara buruh dan majikan.
Pada akhirnya, segala persoalan yang kita hadapi berkaitan dengan kerusakan lingkungan, adalah bertemu dengan musuh terbesar kita, yaitu diri kita sendiri.
Manusia yang batil, serakah dan yang tidak mempedulikan alam serta sesama.
Manusia berada di dalam sistem, struktur serta institusi yang ia ciptakan sendiri, yang menguras sesamanya dan alam sekitarnya. Dalam segala upaya kita untuk memperbaiki kualitas lingkungan, kita juga bertemu dengan partner yang terbaik dan terpercaya, yaitu diri kita sendiri. Manusia merindukan perbaikan dirinya dan percaya pada kebaikan, baik sebagai lawan maupun sebagai kawan. Kita disadarkan bahwa alam lingkungan sekitar kita dan mereka yang menjadi korban dari penganiayaan adalah tanggung jawab seluruh warga masyarakat bersama. Etika haruslah kritis terhadap segala keputusan yang kena-mengena dengan manusia dan menyangkut integritas alam. Kelemahan-kelemahan manusiawi dalam dirinya maupun institusinya haruslah tetap ditempatkan di bawah kritik etika terus-menerus. Etika lingkungan menuntut agar kita belajar untuk menghormati alam. Kita juga harus membatinkan suatu perasaan tanggung jawab khusus terhadap lingkungan lokal kita sendiri. Kita harus merasa bertanggung jawab terhadap kelestarian biosfer. Etika lingkungan memuat larangan keras untuk merusak, mengotori dan meracuni. Selain itu, sikap solidaritas dengan generasi-generasi yang akan datang juga dituntut oleh etika lingkungan.
Kita harus menolak pandangan bahwa bila diperlukan kita harus mengurbankan ekologi demi ekonomi, seolah-olah ekonomi itu lebih luhur daripada ekologi. Sebaliknyalah, dalam mempertimbangkan situasi ekologis
163
secara global sekarang ini, kita harus mengatakan ekonomilah yang harus melestarikan ekologi! Apabila kita mesti mengurbankan ekologi, pengurbanan ini hanya dapat dibenarkan apabila itu benar-benar diperlukan demi kehidupan itu sendiri. Kehidupan adalah sesuatu yang lebih luhur ketimbang ekonomi ataupun ekologi. Kehidupan itu lebih dari sekadar “ada” secara fisik. Yang kita maksudkan dengan “kehidupan” adalah apa yang dijanjikan oleh Yesus “hidup dalam segala kepenuhannya.” Dengan demikian, jelaslah bahwa baik ekonomi maupun ekologi adalah bagian-bagian yang penting dari kehidupan.
Pentingnya masing-masing ditentukan oleh sumbangan masing-masing, baik kuantitatif maupun kualitatif bagi hidup dalam segala kepenuhannya itu.
Simaklah renungan yang berjudul Maka Alam Menjadi Murka berikut ini (Ismail 2002, 120-122).