• Tidak ada hasil yang ditemukan

Maka Alam Menjadi Murka

Dalam dokumen PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN (Halaman 164-171)

163

secara global sekarang ini, kita harus mengatakan ekonomilah yang harus melestarikan ekologi! Apabila kita mesti mengurbankan ekologi, pengurbanan ini hanya dapat dibenarkan apabila itu benar-benar diperlukan demi kehidupan itu sendiri. Kehidupan adalah sesuatu yang lebih luhur ketimbang ekonomi ataupun ekologi. Kehidupan itu lebih dari sekadar “ada” secara fisik. Yang kita maksudkan dengan “kehidupan” adalah apa yang dijanjikan oleh Yesus “hidup dalam segala kepenuhannya.” Dengan demikian, jelaslah bahwa baik ekonomi maupun ekologi adalah bagian-bagian yang penting dari kehidupan.

Pentingnya masing-masing ditentukan oleh sumbangan masing-masing, baik kuantitatif maupun kualitatif bagi hidup dalam segala kepenuhannya itu.

Simaklah renungan yang berjudul Maka Alam Menjadi Murka berikut ini (Ismail 2002, 120-122).

164

daerah resapan air atau tempat parkir bagi air. Akibatnya air hujan jadi liar dan menggenangi kita. Lihat juga apa yang kita perbuat terhadap alam di pedalaman. Hutan digunduli. Bukit digaruk. Akibatnya semua air hujan langsung masuk ke sungai. Terjadilah longsor. Terjadilah banjir.

Pokoknya kita telah menggerayangi gunung, menyakiti hutan, mencekik sungai, melukai danau, mencemari waduk dan membekap tanah.

Kita telah mengusik alam, maka sekarang alam mengusik kita. Kita telah memusuhi alam, maka sekarang alam memusuhi kita.

Padahal sebenarnya alam adalah sahabat dan mitra kita. Baik alam maupun kita adalah sama-sama ciptaan Allah. Tuhan menempatkan kita di tengah alam supaya kita hidup bersama dengan alam.

Hal itu sudah ditulis sejak halaman pertama dalam Alkitab. Dalam Kitab Kejadian terdapat dua cerita penciptaan. Cerita pertama terdapat dalam Kejadian 1:1 sampai dengan 2:4a, ditulis oleh para pengarang kelompok imam pada abad ke-5 sM. Menurut cerita pertama ini manusia bertugas menguasai dan menggarap alam. Istilah yang digunakan adalah “taklukkanlah ... berkuasalah” (1:28). Cerita kedua terdapat dalam Kejadian 2:4b sampai dengan 25, ditulis oleh para pengarang kelompok Yahwist empat abad sebelum cerita pertama. Menurut cerita kedua tugas manusia adalah

“mengusahakan dan memelihara” (Kej. 2:15). Dalam bahasa Ibrani abad (menghambakan diri, melayani) dan shamar (menjaga, merawat, melestarikan).

Kemudian dengarkan pengakuan pemazmur: “Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya” (Mzm. 24:1) dan

“Punya-Mulah langit, punya-Mulah juga bumi, dunia serta isinya Engkaulah yang mendasarkannya” (Mzm. 89:12).

Alam ini bukan milik kita, melainkan milik Tuhan. Kita hanya menumpang tinggal, tanpa bayar sewa atau kontrak. Kita punya tugas memelihara gunung, hutan, sungai, laut, waduk, danau, serta tanah kepunyaan Tuhan ini, bukan merusaknya.

Kita telah merusak dan mengotori alam ini. Kita kurang ramah terhadap alam.

Kita makin serakah dalam menggaruk alam. Akibatnya alam murka. Makin lama ia makin murka dan kita makin menjadi sengsara.

Bukankah lebih baik kita berdamai dengan alam? Sebetulnya alam bisa bersahabat dengan kita, kalau kita juga mau bersahabat. Lebih baik kita bersahabat dengan alam supaya hidup kita di tengah alam bukan menjadi

165

sengsara melainkan sejahtera. Setelah menyimak renungan di atas yang berjudul Maka Alam Menjadi Murka dan paparan di bawah ini, Anda diberi kesempatan untuk menanya sebanyak-banyaknya pertanyaan kritis yang berkenaan dengan tugas manusia dalam alam.

Skala pencemaran lingkungan pada abad ke-21 ini menjadi semakin besar.

Pada masa lampau masalah lingkungan itu nyata di kota-kota besar saja, misalnya dalam hal pencemaran udara dan air. Jumlah perusahaan dan industri memang masih sangat terbatas. Sementara dalam abad ke-21 ini pengaruh pencemaran lingkungan memang meningkat dengan sangat pesat dan bukan hanya terjadi di kota-kota besar saja.

Di samping itu, laju perkembangan produksi sintetis-organis dari bahan- bahan kimia tidak dapat dibendung, dan merupakan suatu hal yang baru. Semakin meningkatnya jumlah kebutuhan produksi kimia ikut mendorong agar penanganan atas masalah lingkungan dilakukan pada tingkat internasional. Masalah lingkungan juga semakin rumit: bukankah rumah kaca untuk pembibitan tanaman juga mengandung berbagai macam bahan kimia yang dapat merusak kesehatan, belum lagi robeknya lapisan ozon, hujan asam, peracunan udara, air dan dasar bumi dan sebagainya. Penyebab utama krisis ekologi adalah keserakahan manusia yang pernah diungkapan sebagai mendapat laba ekonomis melalui rugi ekologis. Mahatma Gandhi menyatakan,

“Bumi ini mempunyai cukup untuk memenuhi kebutuhan semua orang, namun tidak cukup untuk memenuhi keserakahan semua orang.” Sumber-sumber alam secara global cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar semua orang, apabila dimanfaatkan secara bijak dan didistribusikan secara adil. Kecukupan bagi semua orang harus didahulukan ketimbang kelimpahan bagi segelintir orang (Darmaputera 1996, 128).

Perusakan lingkungan hidup mempunyai banyak sebab. Polusi dari industri dan kendaraaan bermotor merupakan salah satu sebab yang ditemukan di mana-mana. Ada juga sebab yang berlaku khusus untuk suatu wilayah tertentu. Sampai sekarang kita mendapat kesan bahwa persoalan spesifik bagi Indonesia di bidang lingkungan hidup adalah penebangan hutan tropis (dengan izin maupun liar) dan kebakaran hutan yang hampir setiap musim kemarau terjadi di beberapa tempat. Tanah air kita sebagai negara kepulauan dulu dianggap diganggu oleh penebangan hutan bakau yang secara alamiah

166

melindungi keutuhan pantai di belakangnya. Kini kita menyadari bahwa ada sebab lebih dahsyat lagi, yaitu pengerukan pasir laut yang menghilangkan ratusan hektar tanah dari tujuh pulau kecil di Kalimantan Timur dan merusak seluruh ekosistem di sekitarnya sehingga para nelayan pun banyak dirugikan, karena menangkap ikan menjadi semakin sulit (Bertens 2004, 213-214). Sekaligus kita dengar bahwa cara merusak ini sudah berlangsung lama dan tidak sebatas Kalimantan Timur saja. Di Kepulauan Riau rupanya sebelumnya sudah terjadi hal yang sejenis. Tenggelamnya Pulau Nipah disebut sebagai contohnya. Di daerah perbatasan ini akibat perusakan jelas lebih parah lagi sebab selain pengaruh destruktif atas lingkungan hidup, hilangnya pulau, timbulnya persoalan territorial. Sebuah pulau berperanan pula sebagai titik pangkal penentuan batas RI dengan negara-negara tetangga.

Pada bulan Juni 1992, di Rio de Janairo, Brazilia, diselenggarakan KTT Bumi yang dihadiri oleh hampir seluruh Kepala Negara di dunia. KTT tersebut mencetuskan tekad untuk menyelamatkan bumi dari malapetaka yang bakal datang oleh ulah manusia. Bersamaan dengan KTT tersebut, diselenggarakan pula pertemuan tokoh-tokoh agama yang terkenal di dunia: Katolik, Protestan, Islam, Buddha dan Yahudi. Tokoh agama tersebut secara bersama-sama mengaku dosa mereka atas kealpaan mereka selama ini. Mereka mengaku bahwa selama ini mereka sibuk dengan pertentangan dan pertengkaran di antara mereka untuk memperebutkan anggota-anggota, sedangkan masalah bumi yang tercemar sangat diabaikan. Mereka bertekad untuk memperbarui komitmen. Mereka sepakat untuk bekerja sama seerat-eratnya untuk mencari jalan bagaimana caranya menyelamatkan “Ibu Bumi” yang setia mengayomi dan merangkul anak-anaknya, kendati anak-anaknya telah memperkosanya selama bertahun-tahun.

Sesuatu yang dipercayakan kepada kita tentu kita jaga baik-baik. Merawat kehidupan tidak cukup hanya dengan pengendalian polusi. Kita juga harus berbicara mengenai konservasi. Memelihara kelestarian sesuatu itulah yang disebut konservasi. Ancaman terbesar terhadap umat manusia bisa saja pada akhirnya bukan perang nuklir, melainkan risiko yang datangnya dari suatu masa damai, yakni perusakan sumber daya alami bumi oleh kebodohan, kerancuan berpikir dan keserakahan manusia. Konservasi merupakan tindakan penyelamatan atau penjatahan sumber-sumber alam untuk penggunaan yang

167

kemudian. Oleh karenanya, konservasi melihat ke depan: kebutuhan untuk membatasi konsumsi sekarang agar kita mempunyai persediaan bagi hari esok, bagi generasi-generasi yang akan datang. Dua pertanyaan dapat dikemukakan sehubungan dengan konservasi. Pertama, mengapa kita mesti melakukan konservasi bagi generasi-generasi mendatang? Kedua, berapa banyak yang harus kita konservasikan?

Pertanyaan ini kedengarannya aneh. Namun demikian, pertanyaan ini harus kita sampaikan sebab ada beberapa ahli yang mengemukakan bahwa kita tidak mempunyai dasar rasional untuk menyesuaikan tindakan kita sekarang demi kepentingan generasi yang akan datang. Kita tidak dapat dengan pasti mengetahui, begitu kata mereka, apakah generasi yang akan datang itu akan betul-betul ada, kita juga tidak dapat mengetahui secuil pun bagaimana mereka itu nanti. Apa yang mereka butuhkan dan apa yang mereka inginkan, bisa saja amat berbeda dari kita. Siapa tahu mereka sudah dapat memperkembangkan sumber-sumber daya pengganti yang murah dan cukup banyak guna menggantikan sumber-sumber yang langka yang kita miliki sekarang. Karena kita tidak mengetahui dengan pasti mengenai hal-hal ini, begitu kata mereka selanjutnya, salahlah kita bila kita mesti mengurbankan kebutuhan-kebutuhan kita sekarang dengan risiko menghancurkan seluruh peradaban hanya demi kepentingan masa depan yang sama sekali di luar pengetahuan kita.

Tentu saja benar untuk mengatakan bahwa kita tidak memiliki kepastian apa-apa mengenai generasi-generasi yang akan datang. Namun demikian, tidak berarti kita lalu tidak mempunyai kewajiban moral untuk bersikap adil terhadap mereka. Tentu saja tidak adil bila kita secara berlebihan mengurbankan generasi sekarang demi kepentingan generasi-generasi yang akan datang. Sama tidak adilnya apabila generasi sekarang tidak meninggalkan apa pun bagi generasi- generasi mendatang. Kita mempunyai kewajiban moral untuk mewariskan kepada generasi yang akan datang suatu kondisi kehidupan yang lebih baik daripada kondisi sewaktu kita menerimanya dahulu dari generasi yang sebelum kita. Sudah waktunya kita menyadari tanggung jawab kita terhadap generasi-generasi yang akan datang.

Setiap orang tua yang baik berusaha untuk menjaga rumah, perabot, dan tanah yang dimiliki sebagai warisan bagi anak cucu mereka. Sikap ini harus

168

menjadi sikap umum manusia terhadap generasi-generasi yang akan datang.

Kita dibebani kewajiban berat untuk mewariskan ekosistem bumi ini dalam keadaan baik dan utuh kepada anak, cucu, dan cicit kita.

Kalau begitu, berapa banyak yang mesti kita konservasikan agar kebutuhan-kebutuhan kita sekarang terpenuhi dan sekaligus hak-hak generasi mendatang terlindungi? Apakah Anda dapat mengusulkan angka-angka?

Sebenarnya yang dibutuhkan bukanlah angka-angka, tetapi sebuah pergeseran paradigma. Perubahan seluruh cara berpikir kita. Kita mesti bergeser dari paradigma lama ke paradigma baru. Paradigma lama adalah paradigma era industri yang memiliki komponen-komponen sebagai berikut:

harapan akan kemajuan material yang tidak terbatas serta konsumsi yang terus bertumbuh, keyakinan bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi akan mampu memecahkan semua persoalan, mencapai sasaran efisiensi, pertumbuhan dan produktivitas dalam segala hal, penguasaan atas alam, serta hidup yang diwarnai oleh persaingan dan individualisme. Paradigma inilah yang telah menyeret dunia kepada degradasi lingkungan, pengurasan sumber-sumber alam, hilangnya makna hidup, distribusi yang tidak merata serta tidak terkendalinya teknologi dengan efektif. Paradigma baru adalah paradigma era pascaindustri yang memiliki komponen-komponen sebagai berikut: kecukupan material yang didasarkan pada terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan dasar, hemat dalam pemanfaatan sumber- sumber alam, sedikit demi sedikit beralih kepada sumber-sumber yang dapat didaur ulang, pergeseran dari hak milik pribadi kepada pemerataan melalui pembayaran pajak, dari orientasi jangka pendek ke jangka panjang, dari isu-isu nasional ke isu-isu global, tekanan kepada etika lingkungan dan penatalayanan terhadap alam, tujuan diarahkan kepada perkembangan dan realisasi diri manusia, serta pertumbuhan kesadaran dan kreativitas dan kerja sama serta solidaritas sebagai pengganti persaingan dan individualisme. Paradigma era pascaindustri sebagai dasar bagi terbentuknya sebuah masyarakat yang lestari.

Kita harus berusaha berpikir dan bertindak ekologis. Kita bertobat dari segala tindakan yang bersifat menghambur-hamburkan sumber daya alam, mencemarkan dan merusak tanpa alasan. Kita sadar bahwa bagi manusia lebih mudah menaklukkan bumi daripada menaklukkan dirinya sendiri.

169

Allah memberi alam kepada manusia dan memberi manusia kepada alam. Dari satu segi, hasil bumi diberikan kepada manusia sebagai makanan dan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan yang lain (Kej. 1:29). Dari segi yang lain, manusia diberi tugas untuk berkuasa di bumi dan memelihara bumi (Kej. 2:15) sesuai dengan kehendak Tuhan. Hubungan ini berfaedah bagi manusia dan juga bagi alam.

Tugas pertama adalah manusia diberi tugas untuk menggunakan alam dan berkuasa atas alam. Waktu Allah menciptakan manusia, Ia berkata kepada mereka, “Penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi” (Kej.1:28). Manusia diberi tugas untuk membimbing dan menjinakkan alam.

Pandangan Alkitab ini sering dikritik oleh orang-orang yang merasa bahwa pandangan ini menyebabkan manusia merusak dan kurang menghargai alam.

Perlu diingat bahwa perintah untuk menaklukkan dunia diberikan kepada manusia sebagai wakil Allah. Manusia diletakkan dalam dunia sebagai sarana pemerintahan Allah. Manusia dimaksudkan untuk berkuasa sesuai dengan kehendak Allah, bukan dengan sewenang-wenang. Dia bertanggung jawab untuk menggunakan alam bukan dengan mengutamakan dirinya sendiri tetapi dalam pelayanan kepada sesamanya dan penghargaan kepada alam.

Tugas kedua ialah memelihara alam. Manusia harus menjaga alam sehingga tidak rusak. Menurut Alkitab alam tanpa pemeliharaan manusia tidak lengkap.

Manusia dibutuhkan untuk mengatur alam bukan demi keuntungan manusia saja tetapi juga demi kebaikan alam. Manusia bertanggung jawab untuk memelihara alam sebagai karunia dari Allah, yang juga mencintai alam itu.

Sumber: http://naturenesia.wordpress.com/about/

170

Tugas manusia untuk menggunakan alam dan berkuasa di atas alam perlu dipisahkan dari tugasnya untuk memelihara alam. Di negara-negara industri tugas menaklukkan alam sering diutamakan dengan mengabaikan tugas menjaga, merawat, dan mengagumi alam. Sebagai akibat teknologi dan industri, penaklukan alam sering disertai sikap yang terlalu keras dan eksploitatif terhadap alam. Manusia modern sering kehilangan sikap yang lembut dan ramah terhadap alam. Ia menggunakan alam tetapi kurang menyayangi alam.

Tugas manusia dalam dunia diberikan oleh Allah, dan ia bertanggung jawab kepada Allah atas pelaksanaan tugas itu. Prinsip utama yang mendasari pandangan orang Kristen tentang lingkungan ialah bahwa dunia adalah milik Tuhan. Ia yang menciptakan dan memelihara dunia juga memiliki alam dan mempunyai kewibawaan tertinggi atasnya. “Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya dan dunia serta yang diam di dalamnya. Sebab Dialah yang mendasarkannya di atas lautan dan menegakkannya di atas sungai-sungai”

(Mzm. 24:1-2). Manusia tidak mempunyai hak milik yang mutlak atas bumi. Ia hanya menjadi pengurus atau manajer. Bumi dipercayakan kepada manusia untuk diolah dan diurusnya.

Simaklah renungan berikut ini yang berjudul Lagi-lagi Bencana Alam (Ismail 2012, 65-67). Negeri apa yang paling banyak gunung berapinya? Indonesia.

Gunung apinya ada 129. Negeri apa yang frekuensi gempanya paling kerap dan paling kontinu sepanjang tahun? Juga Indonesia.

Dalam dokumen PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN (Halaman 164-171)