• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bung Karno di Bawah Bendera Jepang Aiko Kurasawa

MENGAPA Soekarno, Bung Karno, memutuskan bekerja sama dengan Jepang pada waktu Indonesia diduduki oleh tentara Jepang? Riwayatnya bagaimana?

Pada waktu tentara Jepang masuk Indonesia, pada awal tahun 1942, Bung Karno ada di Sumatera. Dia dibuang oleh Belanda, pertama ke Ende, Flores, lalu ke Bengkulu. Dia sudah 13 tahun dibuang ke luar Jawa dengan istrinya, Ny Inggit Garnasih.

Riwayat Bung Karno bertemu dengan utusan tentara Jepang dan dibawa kembali ke Jawa yang ditulis dalam otobiografinya,

mengisahkan, waktu ada kabar tentara Jepang akan segera mendarat di Sumatera, petugas Belanda datang ke rumah Bung Karno di Bengkulu. Mereka memutuskan membawa Bung Karno ke Padang, dan dari sana membawanya ke Australia bersama dengan petinggi Belanda.

Belanda mungkin takut Bung Karno akan dimanfaatkan oleh Jepang. Agar tidak diketahui Jepang yang sudah mendekati pantai barat Sumatera, Bung Karno dan istrinya, disuruh jalan kaki di dalam hutan menuju ke Padang. Beberapa hari kemudian mereka keluar dari hutan, naik bus ke Padang. Waktu itu situasi Kota Padang sangat kacau, dan kebanyakan orang Belanda sudah lari. Ternyata sudah tidak ada kapal lagi yang bisa membawa Bung Karno ke Australia, artinya Bung Karno ditinggalkan Belanda. Dan, menurut Bung Karno, itulah kesalahan besar Belanda. Dia memutuskan tinggal di Padang, menumpang di rumah teman. Seminggu kemudian, tentara Jepang memasuki kota ini.

Suatu hari, seorang perwira tentara Jepang, Kapten Sakaguchi dari Barisan Propaganda, mendatangi tempat tinggal Bung Karno. Menanyakan kondisinya. Mereka berkomunikasi dalam bahasa

Perancis. Dan Sakaguchi mengundang Bung Karno ke Bukittinggi, Markas Besar Angkatan Darat Jepang Ke-25. Bung Karno dibawa ke sana dan dipertemukan dengan Kolonel Fujiyama.

Beberapa minggu lewat, tanpa kemajuan apa-apa. Lantas ada perintah dari Jawa agar Bung Karno dipulangkan ke Jakarta. Tentu saja Bung Karno senang sekali, dan pada bulan Juli 1942-empat bulan sesudah penjajahan militer Jepang dimulai-Bung Karno dan istrinya kembali ke Jakarta dengan naik kapal dari Palembang. Dalam memoar Jenderal Imamura, Panglima Besar Pertama Angkatan Darat Jepang Ke-16 yang menduduki Pulau Jawa, ada cerita tentang pemulangan Bung Karno itu. Pada suatu hari, pemerintahan militer Jepang menerima permintaan dari pemuda- pemuda Indonesia agar Jepang membebaskan Bung Karno yang sedang dibuang di Bengkulu. Barisan Propaganda (Sendenbu) Jepang di Jawa yang waktu itu dipimpin Letkol Keiji Machida, mempertimbangkan dampaknya. Ia menyimpulkan, Bung Karno sangat berguna. Ia pun memerintahkan agar mencari Bung Karno di Sumatera. Mungkin di situlah Kapten Sakaguchi, atas perintah dari Jakarta, mencari Bung Karno.

Pembesar-pembesar Nanpo Sogun (Markas Besar Tertinggi di

Daerah Selatan) yang ada di Singapura waktu itu, ragu-ragu. Mereka khawatir munculnya dampak negatif pembebasan Bung Karno. Bung Karno dianggap sebagai seorang nasionalis yang sangat fanatik. Sebaliknya, Jenderal Imamura tidak peduli, dan menyetujui keputusannya Sendenbu.

Menurut catatan Jenderal Imamura, tidak lama sesudah Bung Karno kembali ke Jawa, Bung Karno minta bertemu Imamura. Tentu saja Jenderal Imamura setuju, dan Bung Karno diterima.

Kepala Barisan Propaganda Letkol Keiji Machida memberi

keterangan sedikit lain. Menurut dia, pertemuan itu diselenggarakan atas prakarsa Barisan Propaganda. Agar pertemuan itu bisa diterima oleh Jenderal Imamura, Machida memakai pelukis Basuki Abdullah sebagai alasan. Basuki Abdullah dikirim untuk melukis Jenderal Imamura, sedangkan Bung Karno dan Bung Hatta mendampingi. Letkol Machida pun mengatakan, Bung Karno adalah saudara Basuki Abdullah.

Dalam memoar Jenderal Imamura, diceritakan juga tentang seorang pelukis yang bernama Basuki Abdullah yang pernah melukis

Imamura. Menurut ingatannya, pelukis itu adalah saudara Soekarno. Saya tidak mengerti kenapa Machida harus memakai alasan

pertemuan panglima Jepang dan pemimpin Indonesia itu dan saya kurang yakin apakah pertemuan itu adalah pertemuan pertama antara Bung Karno dan Imamura.

Bukti terjadinya pertemuan adalah sebuah foto Jenderal Imamura dengan Basuki Abdullah, Bung Karno, Bung Hatta, dan Machida yang memegang lukisan Imamura hasil karya Basuki Abdullah. Kejadian ini sangat menarik, sebab pelukis yang terkenal itu pernah melukis Panglima Besar Tentara Jepang.

Tentang Bung Karno, Jenderal Imamura punya kesan sebagai sosok yang tenang, santun, bicaranya sopan. Juru bahasa yang dipakai pada waktu itu adalah seorang pemuda Jepang yang lahir di

Kalimantan dan dididik di sekolah Belanda. Meskipun umurnya baru 18 tahun, kemampuan bahasanya sangat baik.

Pada pertemuan pertama itu, Jenderal Imamura menanyakan apakah Bung Karno siap bekerja sama dengan Jepang. Menurut Imamura, ia tidak mekso. Dia memberi pilihan antara "bekerja sama" atau "bersikap netral". Dia hanya mengatakan kalau Bung Karno menentang Jepang, terpaksa akan dipakai cara-cara kekerasan. Jenderal Imamura juga tidak menjanjikan kemerdekaan, karena Pemerintah Jepang masih punya rencana untuk menguasai terus Indonesia. Imamura hanya berjanji, akan meningkatkan situasi keamanan dan memperbaiki kedudukan bangsa Indonesia.

Catatan Bung Karno tentang pertemuan dengan Jenderal Imamura tidak bertentangan dengan tulisan Imamura. Katanya, Imamura tidak memaksa Bung Karno bekerja sama dengan Jepang. Imamura juga tidak pernah menjanjikan kemerdekaan Indonesia. Imamura

mengatakan, semua keputusan tergantung pada kaisar, bahkan dia pun tidak tahu bagaimana status Indonesia di kemudian hari.

Sesudah pertemuan dengan Imamura, Bung Karno berunding

dengan teman-temannya selama beberapa hari. Akhirnya diputuskan untuk bekerja sama dengan Jepang. Sesuai dengan otobiografinya, maksud pertama Bung Karno bukan untuk "membantu" Jepang, tetapi "memanfaatkan" kesempatan itu untuk memperbaiki nasib bangsa Indonesia. Memang besar risikonya, tetapi Bung Karno mungkin merasa yakin bisa mengatasinya. Bung Karno

memperkirakan tentara Jepang tidak akan tinggal lama di Indonesia. Mereka nanti akan segera kalah. Oleh karena, itu dia pikir sebaiknya tidak menentang Jepang secara terbuka.

Kerja sama pemimpin Filipina dengan Jepang pun mungkin jadi pertimbangan Bung Karno. Meskipun situasi Filipina berbeda dengan Indonesia, tetapi Filipina sudah diberi otonomi oleh Ame-rika sejak

tahun 1936, dan sudah dijanjikan diberi kemerdekaan penuh pada tahun 1946. Harapan itu dihancurkan oleh masuknya tentara

Jepang. Presiden Quezon melarikan diri bersama pasukan Amerika, sambil memerintahkan kepada anak buahnya agar berpura-pura kerja sama dengan Jepang demi keselamatan bangsa. Mereka yang bekerja sama dengan Jepang antara lain adalah Jose P Laurel-ayah mantan Wakil Presiden Laurel-dan Benigno S Aquino-ayah

almarhum Benigno Aquino Junior-sekaligus mertua mantan Presiden Cora-zon Aquino. Waktu Amerika kembali dan menguasai Filipina, para pemimpin Filipina yang bekerja sama dengan Jepang dituntut sebagai pengkhianat dan diadili. Tetapi, sesudah Filipina mendapat kemerdekaan penuh pada tahun 1946, proses pengadilan mereka dihentikan. Dengan kata lain, pemimpin pemerintahan baru mengerti kenapa mereka terpaksa bekerja sama dengan Jepang.

(2) Bung Karno dalam film Jepang

Bung Karno diberi tugas memimpin organisasi rakyat, seperti Pusat Tenaga Rakyat (Putera) dan Jawa Hokokai. Ia juga diberi tugas memberikan ceramah dan pidato untuk membangkitkan rasa benci terhadap Belanda dan rasa nasionalisme yang sudah lama ditindas Belanda. Dia sering menjadi "bintang film" dalam propaganda Jepang. Pada zaman pendudukan Jepang, film adalah media yang sangat menonjol sebagai sarana komunikasi. Tentara Jepang mempelajari strategi itu dari Nazi dan membuat banyak film propaganda dan film berita.

Pada waktu itu, angka buta huruf di kalangan rakyat Indonesia masih tinggi. Oleh karena itu, film yang sifatnya audio-visual, lebih mudah dimengerti dan punya dampak lebih besar daripada media cetak. Kantor cabang sebuah perusahaan film Jepang, Nippon Eigasha, dibuka di Jakarta. Dan mereka setiap bulan meluncurkan dua film berita dan dua film "budaya" (istilah terjemahan dari bahasa Jerman, artinya hampir sama dengan film dokumenter yang dibuat untuk maksud pendidikan dan propaganda).

Bung Karno sendiri dimasukkan hampir setiap bulan, baik dalam film berita maupun film budaya. Dalam film-film itu ia menyampaikan pidato yang cukup panjang. Suara dan wajah Bung Karno

ditayangkan dan tersebar ke seluruh Pulau Jawa dalam film 35 mm. Filmnya diputar tidak hanya di gedung bioskop di kota, tetapi juga dibawa ke seluruh pelosok oleh Barisan Propaganda dan diputar di lapangan. Penduduk diajak nonton secara gratis. Meskipun Bung Karno sudah sangat terkenal di antara kaum intelektual, tetapi belum dikenal di kalangan rakyat biasa. Dengan film-film itu mereka mulai mengenal wajah dan suara Bung Karno.

Rakyat mulai tertarik pada pidato Bung Karno yang isinya

membangkitkan rasa nasionalisme Indonesia. Padahal, sebenarnya Jepang meminta Bung Karno menyampaikan pidato yang

menggerakkan rakyat untuk bekerja sama dengan Jepang demi kepentingan usaha peperangan Asia Timur Raya. Bung Karno ternyata berhasil agak mengesampingkan "pesan sponsor" itu. Dalam usaha menggerakkan hati rakyat, dia hati-hati memilih kosakata yang tidak berbau fasisme, dan menghindari kosakata yang mementingkan kepentingan Jepang. Di lain pihak, dia juga pintar. Dia tidak memakai kosakata yang menyinggung perasaan tentara Jepang. Misalnya, dia selalu memakai istilah kesejahteraan, kebahagiaan dan kemuliaan bangsa, sebaliknya tak pernah

memakai istilah "kemerdekaan" bangsa sebelum September 1944. Menarik sekali menganalisis isi pidato Bung Karno. Berikut ini beberapa contoh pidato Bung Karno yang pernah ditayangkan melalui film.

Contoh 1:

"Marilah kita bekerja bersama-sama agar supaya lekas tercapai cita- cita kita bersama, yaitu Asia Raya." (Yaeshio, 1942). Dia sering memakai istilah "Asia Raya". Konotasi kata ini ambigu. Kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia tidak selalu berarti fasisme Jepang, tetapi Asia yang raya atau "Asia untuk bangsa Asia".

Contoh 2:

"Masyarakat baru yang kita sedang susun itu, tak mungkin kekal kalau kita tidak mencapai kemenangan akhir, karena itu marilah kita taruhkan perjuangan ini sampai ke ujung-ujungnya, tahanlah

menderita, tahanlah kesukaran. Kebesaran kita tidak dapat kita capai di atas kasur bantalnya kesenangan, kebesaran kita itu hanyalah kita bisa capai di dalam api unggunnya perjuangan." (Menoedjoe ke Arah Mengambil Bagian Pemerintahan Dalam Negeri, Oktober, 1943). Pidato ini, berjudul Upacara Pembukaan Chuo Sangiin, hanya menyinggung saja perjuangan bangsa Indonesia dan tidak berbau fasisme dan militerisme Jepang.

Contoh 3:

"Kita harus... mengulangi di dalam hati kita, bulatkan di dalam hati kita, bahwa peperangan sekarang ini bukanlah hanya peperangan Dai Nippon saja, tetapi adalah peperangan kita pula, peperangan

seluruh Benua Asia, baik dari rakyat Indonesia maupun Filipina, maupun Burma, maupun Thai, maupun Tiongkok, maupun

Manchukuo. Seluruh rakyat di Benua Asia ini adalah ikut berperang. Pada tanggal 8 Maret yang lalu, di lapangan Ikada ini pula, saya telah gemblengkan di dalam kamu punya hati semuanya, bahwa kamu semuanya, kita semuanya adalah ikut berperang. Bung Karno ikut berperang! Bung Hatta ikut berperang! Kusumo Utoyo ikut berperang!" (Jawa News, No 15 Oktober 1943).

Apa yang dimaksud dalam pidato ini adalah solidaritas bangsa Asia menghadapi kekuatan Barat. Bung Karno menginterpretasi perang Jepang sebagai perang bangsa Asia sendiri, dan menganggap Amerika dan Inggris sebagai musuhnya sendiri. Agitasi anti-Barat bisa dilihat dalam pidato berikut yang disampaikan pada bulan April 1943.

Contoh 4:

"Saudara-saudara, musuh kita yang terbesar yang selalu merusakkan keselamatan dan kesejahteraan Asia dan juga merusakkan keselamatan dan kesejahteraan Indonesia ialah Amerika dan Inggris. Oleh karena itu di dalam peperangan Asia Timur Raya ini, maka segenap kita punya tenaga, segenap kita punya kemauan, segenap kita punya tekad harus kita tujukan

kepada hancur-leburnya Amerika dan Inggris itu. Selama kekuasaan dan kekuatan Amerika dan Inggris belum hancur-lebur, maka Asia dan Indonesia tidak bisa selamat."

Karena itu, semboyan kita sekarang ini ialah, "Hancurkan kekuasaan Amerika. Hancurkan kekuasaan Inggris. Amerika kita setrika, Inggris kita linggis!" (ulang tiga kali) (Jawa News, No 2 April 1943).

(3) Pernikahan dengan Fatmawati

Di satu pihak, zaman Jepang adalah zaman berjuang dalam

berbagai kesulitan sebagai seorang nasionalis, tetapi zaman ini juga merupakan zaman sangat bahagia untuk kehidupan pribadi Bung Karno. Dia akhirnya memutuskan hubungan perkawinan dengan Inggit Garnasih dan menikah lagi dengan Fatmawati.

Bung Karno jatuh cinta pada Fatmawati, salah seorang murid Bung Karno sewaktu mengajar di sekolah Muhammadiyah di Bengkulu. Inggit adalah istri yang membantu dan memberi dukungan pada Bung Karno selama 20 tahun dalam masa susah dan penuh penderitaan. Ny Inggit adalah pembuka jalan bagi Bung Karno

menjadi pahlawan dan pemimpin bangsa. Tanpa bantuannya, Bung Karno tidak bisa mendapatkan kedudukan itu. Sedangkan

perpisahan itu diawali dengan perselisihan dengan Ny Inggit yang sudah dinikahi selama 20 tahun, tidak juga melahirkan anak. Padahal, Bung Karno ingin punya anak.

Akan tetapi, karena Ibu Inggit tidak setuju Bung Karno punya istri kedua, padahal Bung Karno ingin punya anak, akhirnya ia

menceraikan Ny Inggit dan menikahi Ny Fatmawati pada Juni 1943, kurang lebih setahun setelah Bung Karno kembali ke Jawa.

Pada waktu itu, secara kebetulan Bung Karno sedang menghadapi berbagai persoalan di bidang politik. Gerakan Putera tidak berjalan baik dan diancam dibubarkan, kemerdekaan untuk Burma (kini Myanmar) dan Filipina diumumkan, tetapi Indonesia tidak diberi kesempatan. Bung Karno sangat kecewa atas keputusan Jepang itu. Bung Karno berhasil mengatasi kesulitan dan kekecewaan itu berkat kegembiraan dalam kehidupan pribadinya.

Tidak lama kemudian foto Fatmawati dimuat di halaman depan majalah Jawa Baru edisi tanggal 1 Januari 1944, yang tentu saja mengejutkan bangsa Indonesia. Dalam foto itu Ibu Fatmawati mengenakan kimono-pakaian tradisional Jepang-hadiah istri Perdana Menteri Tojo yang diberikan ketika Bung Karno

mengunjungi Jepang pada bulan November 1943. Selama satu tahun masih sebagai istri Bung Karno di bawah bendera Jepang, setahu saya, foto Inggit tidak pernah dimuat dalam majalah atau koran Jepang. Ny Inggit tidak pernah muncul di muka umum. Pada tahun 1944, anak pertama Bung Karno, Guntur, lahir. Betapa besar kebahagiaan Bung Karno dan Ny Fatmawati. Panglima Besar Jepang memberi nama Jepang kepadanya, yaitu "Osamu". Osamu adalah kode Angkatan Darat Ke-16 yang menduduki Jawa, yang artinya "memerintah". Kebetulan pada waktu itu ada seorang bidan wanita Jepang, yang dikirim ke Indonesia untuk membantu Jawa Hokokai dan Fujinkai. Bidan ini-namanya Sanko Sakigawa-sangat akrab dengan Bung Karno. Oleh karena itu, Bung Karno segera memperlihatkan bayinya kepada Sakigawa, sekaligus meminta nasihat tata cara mengasuhnya.

(4) Pergaulan dengan orang Jepang

Pemerintahan militer Jepang tidak terlalu mencampuri ke-giatan dan upaya Bung Karno menggerakkan massa. Hal itu mungkin

disebabkan Bung Karno berhasil meyakinkan petinggi Jepang

tentang kesetiaannya terhadap Jepang. Dalam pergaulan sehari-hari dengan orang Jepang, dia terlihat cukup sabar, sopan, dan ramah.

Akhirnya terbangun kepercayaan orang Jepang terhadap Bung Karno. Bung Karno sendiri menulis dalam otobiografinya, "Tentara Jepang tidak pernah percaya saya penuh", tetapi setahu saya, Bung Karno belum pernah dicurigai oleh pihak Jepang, sedangkan Moh Hatta sering dilihat dengan mata kecurigaan sehingga akhirnya pernah ada rencana tentara Jepang membunuhnya di Puncak Pass atau menahan dia di Jepang pada waktu dia mengunjungi ke Jepang bersama Soekarno pada bulan November 1943.

Ada episode yang membuktikan betapa pihak Jepang memberi arti penting bagi sosok Bung Karno. Sewaktu Bung Karno mengunjungi Jepang dan bertemu dengan Kaisar Hirohito pada bulan November 1943, Kaisar menjabat tangan Bung Karno. Padahal, menurut kebiasaan Kerajaan Jepang, kaisar hanya berjabat tangan dengan seorang kepala negara. Artinya perlakuan kepada Bung Karno itu sangat istimewa.

(5) Sikap keras Bung Karno

Meskipun demikian, Bung Karno kadang-kadang mengambil sikap keras terhadap Jepang. Sesudah janji "kemerdekaan di kemudian hari"diumumkan pada September 1944, Bung Karno menangis dengan gembira bersama kawan-kawan Jepang. Tetapi, lama- kelamaan dia tahu pemerintahan militer Jepang tidak serius dan tidak segera mengambil langkah-langkah realisasi-enam bulan bulan lewat tanpa kebijakan apa-apa-Bung Karno tidak bisa sabar lagi. Dengan keras ia meminta petinggi Jepang segera bertindak. Sikap Bung Karno begitu keras sehingga Miyoshi-seorang pejabat

Gunseikanbu-khawatir akan terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan kalau tidak diambil tindakan sebelum 9 Maret 1945-hari ulang tahun keempat Jepang menduduki Indonesia. Dengan demikian, pada hari itu diumumkan akan dibentuk Badan Penyelidik Usaha-usaha

Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), meskipun di pihak Jepang belum ada konsensus dengan para panglima yang

menduduki pulau-pulau lain di Indonesia.

Ada satu episode yang menceritakan kekerasan sikap Bung Karno. Suatu hari sesudah De-klarasi Koiso, dia mengirim sebuah surat kepada mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Jepang. Surat itu sampai ke asrama mahasiswa Kokusai Gakuyukai di Tokyo pada tanggal 24 September 1944. Menurut Kusnaeni, yang waktu itu belajar di Jepang, Bung Karno menulis, Perjuangan untuk kemerdekaan Indonesia lebih penting daripada janji Jepang. Bung Karno tak lagi menaruh harapan pada Deklarasi Koiso, karena dia merasa kemerdekaan bukan suatu barang yang akan diberi, tetapi harus direbut dengan perjuangan.

Menyambut hadirnya BPUPKI, Bung Karno mengambil prakarsa aktif. Dalam waktu singkat menyediakan bahan Piagam Jakarta, Pancasila, dan Undang-Undang Dasar. Dia sering mendesak kawan- kawan lain dengan mengatakan "Indonesia merdeka selekas-

lekasnya" dan "Indonesia merdeka sekarang juga". Dia mengatakan, "Kemerdekaan itu tampaknya seperti perkawinan. Siapakah yang menunggu sampai gajinya naik, sampai, katakanlah, 500 gulden, dan menunggu sampai rumah yang dibangunnya selesai?"

Dalam perhitungan Bung Karno, Jepang mulai memihak bangsa Indonesia sejak setuju pembentukan BPUPKI. Menu-rut Bung Karno, Dai Nippon Teikoku (Kerajaan Jepang Raya) dalam mempersiapkan kemerdekaan Indonesia tidak lebih daripada peranan seorang bidan, dan yang mengambil kemerdekaan haruslah bangsa Indonesia sendiri. Dia merasa menang dalam "judi". Dan di sanalah mulai terjadi kemenangan untuk Indonesia.

(6) Bung Karno dalam kenangan teman Jepang

Saito Shizuo, pegawai tinggi Gunseikanbu dan Duta Besar Jepang di Indonesia tahun 1961-1966 menilai Bung Karno adalah cooperator, tetapi bukan pengagum Jepang. Dia menilai Bung Karno selalu memilih solusi yang praktis dan menghindari bertabrakan dengan Jepang.

Sesudah Indonesia merdeka, Bung Karno masih mempertahankan persahabatan dengan orang-orang Jepang yang pernah

memperlihatkan simpati terhadap bangsa Indonesia. Menurut

Jenderal Imamura, sewaktu dia ditahan Belanda di Cipinang sebagai penjahat perang dengan ancaman hukuman mati, Soekarno diam- diam menyampaikan pesan melalui pegawai Cipinang tentang rencana menculik dan merebutnya ke tangan Republik Indonesia. Saya tidak tahu apakah rencana ini betul-betul berasal dari Soekarno yang memimpin Pemerintah RI di Yogyakarta waktu itu, atau berasal dari orang lain.

Menurut catatan Nishijima, anak buah Laksamana Maeda dan yang juga hadir dalam rapat persiapan Naskah Proklamasi di rumah Maeda pada tanggal 16 Agustus 1945 malam, Bung Karno memberi perhatian kepada nasib Maeda yang kurang baik di masa

pascaperang. Dan pernah pada tahun 1950, ia menawarkan sumbangan mobil atau uang yang memadai kepada Maeda. Akhirnya sumbangan itu berbentuk uang yang diberikan kepada Maeda. Lalu, pada tahun 1958, ketika Bung Karno mengunjungi Jepang pertama kali sesudah perang, ia pun menengok Maeda yang sedang sakit.

Bung Karno adalah orang yang tidak melupakan bantuan dan simpati yang pernah diberikan dalam situasi sulit. Bung Karno menghargai bantuan beberapa orang Jepang yang memberi kesempatan membuka jalan ke arah Indonesia merdeka. Saya, sama sekali tidak percaya pada teori bahwa pendudukan Jepang memberi jalan ke Indonesia merdeka, atau Jepang menduduki Indonesia untuk memerdekakan Asia. Tetapi, saya juga tidak membantah kenyataan bahwa beberapa orang Jepang dalam kapasitas pribadi menunjukkan simpati pada rakyat Indonesia. Dan, mungkin Bung Karno menangkap maksud baik mereka, dan selalu berusaha membalas budi.

* Aiko Kurasawa Pengajar di pascasarjana Keio University, doktor ilmu sejarah politik dari Universitas Cornell (1987) dengan disertasi "Mobilisasi dan Kontrol" di Indonesia.

>Jumat, 1 Juni 2001

Bung Karno, Arsitek-seniman