• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV KONSEP ROBERT FRAGER TENTANG HATI

D. Konsep Robert Frager Tentang Hati

5. Cahaya Hati

Menurut Robert Frager, pemahaman spiritual merupakan cahaya yang dipancarkan oleh Tuhan ke dalam hati. Cahaya tersebut diibaratkan lampu yang membantu kita untuk bisa melihat. Cahaya-cahaya tersebut adalah cahaya praktik (amaliah), cahaya iman, cahaya gnosis (makrifat), serta cahaya kesatuan dan keunika. Keempat cahaya tersebut berasal dari sumber ilahi yang sama. Setiap cahaya tersebut ibarat sebuah gunung, berikut penjelasannya:

29Frager, Robert, Obrolan Sufi,hal.76-77

a. Cahaya Amaliah

Cahaya amaliah di dalam dada ini amat kuat, sehingga tak ada satupun di duni ini yang mampu menghancurkannya selama Tuhan memeliharanya. Batas-batas terjauh atau puncak dari gunung ini yakni berjuang melawan sifat-sifat negatif seseorang dan melaksanaan tindakan yang baik.

Di atas puncak gunung tersebut bertengger seekor burung (nafs tirani ) – nafs yang berada pada tingkat terendah. Burung tersebut terbang di sebuah lembah penyembahan terhadap tuhan-tuhan palsu, keraguan, kemunafikan, kekafiran, dan sejenisnya.

Nabi Muhammad berkata, “Di dalam hati manusia terdapat banyak lembah dan jurang, yang di dalamnya terdapat jurang yang curam.” Maka dari itu, kita jangan sampai membiarkan diri kita jatuh dan terjerumus ke dalam jurang keraguan dan kemunafikan.30

b. Cahaya Iman

Gunung cahaya iman ini terletak di dalam hati kita, dan di atas gunung itu terdapat burung (nafs) yang terinspirasi dan terbang di lembah kesalehan dan kejahatan. Bahkan gunung ini lebih besar dan lebih stabil dibandingkan gunung cahaya amaliah.

Nabi Muhammad pernah berkata mengenai orang-orang beriman,

“Iman dalam hati seperti pegunungan yang kokoh.”

30Robert Frager,, Heart, Self, & Soul, hal.37

Meskipun nafs merupakan bagian integral dari semua sikap/perilaku lahiriah kita, termasuk doa kita dan praktik-praktik keagamaan lainnya. Namun nafs tidak mempunyai kemampuan untuk mengetahui hati atau pengetahuan batiniah. Batas-batas terjauh atau puncak gunung ini adalah kepercayaan kepada Allah dan penglihatan, dengan memahami melalui terang iman terhadap apa yang tidak terlihat oleh mata.31

c. Cahaya Makrifat

Cahaya makrifat ada dalam hati lebih dalam (fu’ād), dan di atas gunung tersebut terdapat burung – nafs – penyesalan. Burung itu terkadang terbang di lembah kebanggaan, kegembiraan, dan kenikmatan di dalam rahmat Tuhan. Namun pada waktu yang berbeda, burung ini terbang di lembah kebutuhan, kerendahan, kerendahan hati, kepapaan, mencemooh diri sendiri, dan kemiskinan. Ia mencakup sikap menyalahkan diri sendiri, dan penyesalan terhadap kesalahan-kesalahan.

Jika dibandingkan dengan dua gunung cahaya sebelumnya – cahaya amaliah dan cahaya iman – gunung cahaya makrifah lebih besar dan lebih indah. Karena gunung cahaya makrifah ini merupakan sumber penglihatan, dan penglihatan itu lebih pasti dari pada pengetahuan. Melalui cahaya makrifah ini kita bisa memahami apa yang hilang dan binasa, dan kita juga bisa mengenal Allah yang kekal.32

31Robert Frager, Heart, Self, & Soul, hal.37

32Robert Frager, Heart, Self, & Soul, hal.37-38

d. Cahaya Kesatuan dan Keunikan

Cahaya yang tertinggi adalah cahaya kesatuan dan keunikan yang terletak di dalam lubuk hati terdalam, ukuran dan keagungannya pun tak terbatas. Begitu juga burung yang bertengger di atasnya adalah burung dari diri yang tenang, yang terbang di lembah ketenangan, kepuasan, kefirmannya yang besar dalam penyatuan, dan keindahan dari kemashuran mengingat Tuhan.

Penggambaran dari keempat cahaya-cahaya positif di atas laksana pegunungan cahaya yang ada di dalam hati kita.

Sementara kecenderungan negatif kita sangatlah kecil dan juga lemah, bagaikan seekor burung yang bertengger/hinggap di puncak gunung yang besar. Apabila kita berpihak pada burung kecil ini, maka ia akan mengantarkan kita pada lembah kegelapan.33

Di sini Robert Frager menggambarkan bagaimana pandangan psikologi Barat terkait pembahasan cahaya hati.

Berdasarkan teori psikologi Barat, kita didominasi oleh keterbatasan dan kelemahan kepribadian kita sendiri. Sedangkan kecenderungan spiritual kita sangatlah kecil dan minim, bagaikan burung-burung kecil cahaya yang bertengger di puncak pegunungan kepribadian gelap kita yang terbatas.

Robert Frager menjelaskan bahwasanya hati dalam psikologi sufi adalah psikologi spiritual yang mendalam. Dimana

33Frager. Robert, Heart, Self, & Soul,hal.38

hati tidak mengabaikan kecenderungan negatif kita, tetapi itu menempatkan mereka pada tempatnya. Jika dibandingkan dengan cahaya hati batiniah, kecenderungan ini relatif lebih kecil dan tidak signifikan.

Hanya saja jika kita membiarkan diri kita untuk berpihak dan mengikuti kecenderungan tersebut, mereka memiliki kekuatan nyata atas kita. Kita akan jauh lebih bijaksana untuk mengidentifikasi dengan terang dan kebenaran yang jauh lebih besar dalam diri kita, untuk mengikuti bimbingannya, dan untuk mewujudkannya dalam kehidupan kita sendiri.34

6. Unsur-Unsur Manusia

Robert Frager menjelaskan dalam bukunya yang sangat terkenal Heart, Self, & Soul, bahwa ada tiga unsur mendasar dalam diri manusia yakni hati, diri (nafsu), dan ruh. Berikut penjelasannya;

a. Hati

Seperti yang sudah penulis jelaskan di atas, bahwasanya hati yang dimaksud Robert Frager adalah hati spiritual. Orang yang tulus dan mempunyai niat baik dianggap sebagai seseorang yang ‘memiliki hati.’ Begitu pun sebaliknya, orang yang tidak mempunyai belas kasih adalah orang yang ‘tidak memiliki hati.”

Menurut psikologi sufi sendiri, hati menyimpan kecerdasan dan kearifan yang terdalam. Salah satu dasar disiplin

34Frager. Robert, Heart, Self, & Soul, hal.38

spiritual sufi adalah cinta, adapun rumah cinta itu sendiri adalah hati. Oleh karena itu, semakin kita belajar untuk lebih mencintai orang lain, maka kita akan semakin mampu mencintai Tuhan.35 b. Diri

Dalam psikologi sufi, Robert Frager menyebutkan bahwa diri, jiwa, atau nafs merupakan sebuah aspek psikis pertama yang menjadi musuh terbesar dalam diri manusia. Tingkat terendahnya adalah nafs tirani. Di sini Robert Frager menerjemahkan jiwa – jiwa yang menyuruh kita kepada kejahatan – sebagai nafs tirani.

Alasannya karena kecenderungan yang negatif dapat mendominasi kehidupan manusia, layaknya seorang tiran yang memiliki kekuatan absolut.36

Dimana nafs tirani ini adalah seluruh kekuatan dalam diri yang bisa menjauhkan manusia dari jalan spiritual. Kekuatan-kekuatan inilah yang menyebabkan rasa sakit dan penderitaan yang amat dahsyat. Tak hanya itu saja, nafs tirani juga bisa mendorong kita menyakiti orang-orang yang kita cintai.

Di sisi lain, nafs yang suci dikenal sebagai tingkat nafs tertinggi. Di tingkat inilah kepribadian bagaikan kristal murni yang sempurna dan memantulkan cahaya ilahi, yang hampir tanpa cacat.

35Frager. Robert, Heart, Self, & Soul, hal.2

36Robert Frager,, Heart, Self, & Soul,hal.3

c. Ruh

Ruh dalam psikologi sufi mencakup jenis ruh manusia yang didasari oleh prinsip evolusi. Dimana ruh ini memiliki tujuh aspek atau dimensi, yakni; mineral, nabati, hewani, pribadi, insani, dan rahasia serta maharahasia.

Di dalam tasawuf sendiri, keseimbangan emosi dan hubungan yang sehat dan menyehatkan adalah sama pentingnya dengan kesehatan spiritual dan jasmani. Yang mana tujuannya adalah hidup sepenuhnya di dunia, namun tidak pernah merasa terikat kepadanya atau pun melupakan sifat dasar dan tujuan spiritual kita.

Adapun fungsi psikis kita bersumber dari ruh pribadi kita yang terletak di otak, ruh pribadi ini menjadi tempat bernaungnya kecerdasan dan ego manusia.

85

Perbandingan Antara Konsep Abu Hamid al-Ghazali dan Robert Frager Tentang Hati

A. Definisi Hati Menurut Al-Ghazali dan Robert Frager

Kata “Hati” adalah kata yang disepadankan maknanya dengan qalb. Di mana kata hati ini digunakan dalam dua kategori makna; yakni denotatif1 dan konotatif2. Di sini akan dijelaskan makna hati dalam dua pengertian tersebut. Pertama makna denotatif hati, di mana hati diartikan sebagai nama bagi organ yang terdapat di dalam tubuh, hati dalam pengertian ini tak hanya dimiliki oleh manusia, tapi juga dimiliki oleh makhluk lain seperti hewan.

Kedua adalah makna konotatif, makna yang kedua ini memaknai hati sebagai wujud metafisis-abstrak yang imateri.

Hati di sini tidak dapat dilihat melalui panca indera, namun eksistensinya atau keberadaannya dapat dirasakan melalui dampak yang timbul. Tokoh sufi yang sering dinisbatkan sebagai pencetus sebagai aksioma3 spiritualitas hati adalah Abu Hamid

1Denotatif atau denotasi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) merupakan kata yang didasarkan atas penunjukan yang lugas pada sesuatu di luar bahasa atau yang didasarkan atas konvensi (pemufakatan atau kesepakatan) tertentu dan bersifat objektif. Dalam makna lain denotasi adalah makna kata secara harfiah atau makna yang sebenarnya dari suatu kata.

2 Konotatif atau konotasi adalah kata yang mempunyai makna lain di baliknya, atau sesuatu makna yang berkaitan dengan sebuah kata.

3 Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata aksioma bermakna sebuah pernyataan yang dapat diterima sebagai kebenaran tanpa pembuktian.

Muhammad Al-Ghazali – atau yang sering kita kenal dengan sebutan Imam Al-Ghazali.

Seperti yang sudah penulis jelaskan di bab 3, bahwasanya al-Ghazali mendefinisikan hati dalam dua makna, yakni hati dalam arti materi dan spiritual. Hati secara materi di sini disebut jantung, sedangkan hati spiritual adalah hati nurani, yakni yang halus (lathifah) yang mengandung unsur Ketuhanan (Rabbânîyyah) dan kerohaniaan (ruhaniyah).

Ada pun hati (qalb) dalam pandangan Robert Frager juga bermakna ganda, yakni qalb jasmani (jantung) dan qalb ruhani (hati). Di mana fungsi keduanya hamper sama, yakni; jantung berfungsi mengatur fisik, sedangkan hati berfungsi untuk mengatur psikis seseorang.

Pandangan mengenai hati dari kedua tokoh ini – Al-Ghazali dan Robert Frager – sama, di mana hati mempunyai dua makna, yakni hati secara fisik dan spiritual. Melalui penelitian ini, penulis menemukan bahwa yang dimaksud hati dari kedua tokoh ini bukanlah hati dalam arti fisik, melainkan hati spiritual – yang merupakan pusat perasaan halus.

Seperti yang diungkapkan al-Ghazali dalam kitabnya Ihyâ’ ‘Ulûmuddîn, hati yang dimaksud dalam kitab ini ialah yang halus (lathifah), ialah menyebutkan sifat-sifat dan keadaannya, bukan menyebutkan hakikat pada dzatnya.4

4Imam al-Ghazali, Ihya’Ulumuddin, Juz III, hal.899

Dalam penelitian kali ini, untuk menerjemahkan kata

‘qalb’penulis menggunakan kata ‘hati’ bukan ‘jantung’. Hal ini berdasarkan pada pandangan al-Ghazali tentang hati, ia menganggap bahwa yang terpenting itu bukan penamaan atau bentuk hati secara fisik, melainkan entitasnya yang halus dan merupakan hakikat dari manusia itu sendiri (hati spiritual).

B. Jiwa Manusia

Menurut pandangan al-Ghazali, manusia merupakan individu yang terdiri dari dua unsur, yakni jasad dan ruh. Kedua unsur ini merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.

Namun ruh yang memiliki posisi tertinggi, ruh di sini memiliki empat unsur, yakni qalb, ruh, nafs (hawa/syahwat), aql.

Jika kita membahas istilah-istilah tersebut, pada intinya kita membahas tentang jiwa manusia. Dalam karya al-Ghazali, pembahasan tentang jiwa berkaitan dengan istilah hati (qalb).

Baik jiwa maupun hati dua-duanya merupakan bagian dari aspek batin (esoteris) dalam diri manusia. Oleh karena itu, pembahasan tentang hati sangat dekat dengan pembahasan dari sudut pandang psikologis.

Jika al-Ghazali mengemukakan bahwa manusia terdiri dari empat unsur, Robert Frager berpendapat lain. Dalam bukunya yang sangat terkenal, Robert Frager menjelaskan bahwa ada tiga unsur dasar dalam diri manusia, yakni hati, diri (nafsu),

dan ruh. Ketiga unsur tersebut juga merupakan konsep dasar dalam psikologi sufi.5

Di sini penulis berusaha menjelaskan istilah-istilah tersebut dengan berpedoman dari karya al-Ghazali dan Robert Frager:

a) Qalb (Hati)

Hati yang dimaksud al-Ghazali dalam kitabnya Ihyâ’

‘Ulûmuddîn adalah yang halus (lathifah), yakni sifat-sifat dan keadaan dari hati tersebut. Bukan hakikat pada dzatnya. Lathifah atau hati yang halus tersebut merupakan hakikat dari manusia itu sendiri. Hatilah yang merasa, mengetahui, mengenal, dari manusia.6

Seperti yang tergambar dalam diagram Frager, hati menempati lapis kedua yang terbungkus langsung oleh lapisan dada. Ialah wujud halus (lathifah) yang bersemayam di dalam sanubari setiap manusia. Hakikat diri kita yang menyimpan cahaya kecerdasan dan cahaya ilahi. Dimana kecerdasan hati ini lebih dalam dan mendasar dibandingkan kecerdasan abstrak akal.7

b) Ruh

Al-Ghazali mendefinisikan ‘ruh’ dalam artian fisik tubuh halus (jism lathif) sumbernya adalah rongga jantung (qalb al-jismani) yang menyebar ke seluruh anggota badan lewat

5Robert Frager, Heart, Self, & Soul: The Sufi Psychology of Growth, Balance, and Harmony, (United State of America: The Publication of The Theosophical Publishing House, 1999), hal. 1.

6Imam al-Ghazali, Ihyâ’ ‘Ulûmuddîn jilid III, hal.898

7Robert Frager, Heart, Self, & Soul, hal. 2

pembuluh darah. Selanjutnya makna ruh secara batin, al-Ghazali menyebutnya sebagai bagian dari manusia yang mengetahui (al-lathifah min al-insan). Dari pengertian tersebut, ruh merupakan salah satu dari makna hati.8

Frager menyebut ‘tingkatan tertinggi ruh’ dengan istilah

“The secret of secret” – yang maha rahasia atau sirrul asrar.

Jiwa ini bersifat konstan (tidak berubah), karena ia adalah percikan dari Tuhan di dalam diri setiap manusia.9 Hal ini berdasar pada Quran yang berbunyi: “Telah kusempurnakan kejadiannya (Adam) dan kutiupkan kedalamnya ruh-Ku.”10 c) Nafs

Dalam psikologi sufi, diri, jiwa, atau nafs merupakan aspek psikis pertama yang juga merupakan musuh terburuk bagi manusia. Akan tetapi, di sisi lain diri (nafs) juga bisa berkembang mejadi alat yang bernilai/berharga. Diri (nafs) merupakan kumpulan dari berbagai kekuatan yang ada dalam diri manusia, kekuatan ini pula yang dapat mengakibatkan rasa sakit dan penderitaan, bahkan bisa menuntut manusia untuk menyakiti orang-orang yang dikasihi.

Robert Frager menerjemahkan “diri yang memerintah untuk melakukan kejahatan” sebagai nafs tirani, karena diri manusia tersebut didominasi oleh kecenderungan negatif, yang berakar

8 Imam al-Ghazali, Ihyâ’ ‘Ulûmuddîn jilid III, hal. 899

9 Robert Frager, Heart, Self, & Soul, hal. 97

10 Q.S. al-Hijr, ayat 29

dari keegoisan yang sering tidak disadari. Di sisi lain, tingkat tertinggi nafs dikenal sebagai nafs yang suci/murni.11

Al-Ghazali menyebut nafs sebagai pusat potensi marah dan syahwat pada manusia. Seperti sabda Nabi Muhammad saw.

“A’daa ‘aduwwika nafsu-kallati baina janbaika” yang artinya:

Musuh yang terbesar adalah nafsu yang berada diantara dua lambungmu.

d) Akal

Akal menurut al-Ghazali adalah pengetahuan tentang hakikat segala sesuatu di alam materi, dalam makna ini akal ibarat sifat-sifat ilmu yang bertempat di dalam hati (jiwa). Dalam makna lain, yang diaksud akal adalah “yang memperoleh pengetahuan” itu, yakni hati (yang halus).

Dari pengertian di atas, dapat kita lihat bahwasanya akal itu ditujukan terhadap sifat orang yang berilmu. Dan ditujukan sebagai tempat pengetahuan, yakni mengetahui. Seperti sabda Nabi Muhammad saw, “Yang pertama-tama dijadikan oleh Allah adalah akal.”12

Apabila kita perhatikan, di dalam unsur manusia Robert Frager tidak menyebutkan akal. Karena dalam bukunya Heart, Self, & Soul, Robert Frager menyebutkan secara spesifik akal itu dikandung pusat hati spiritual (Lubb), yaitu bagian hati terdalam.

11Robert Frager, Heart, Self, & Soul, hal.3

12Imam al-Ghazali, Ihyâ’ ‘Ulûmuddîn jilid III, hal. 901-902

Hal ini terdapat dalam pembahasan tentang Tahap Penalaran dan Pemahaman. Dalam pembahasan ini, pemahaman batin kerap kali dianggap sebagai sesuatu yang serupa dengan kecerdasan atau nalar (akal).

Namun perlu kita ketahui bahwasanya dalam pengetahuan sufi, akal tidaklah otak – seperti yang dipahami dunia Barat – akan tetapi akal merupakan daya pikir yang dapat menjadikan manusia memahami dan mengetahui segala sesuatu.13

Pemahaman batin tersebut diibaratkan dua cahaya, satu seperti cahaya matahari, dan yang lainnya seperti cahaya pelita (lampu). Kedua cahaya tersebut sama-sama terang, akan tetapi cahaya hati yang terdalam tetap tidak berubah dan merupakan cahaya yang langsung dari Allah.14

Semua orang yang mengenal Allah, orang tersebut telah mengembangkan akal mereka. Namun, Robert Frager ini menjelaskan bahwasanya akal dan pengetahuan saja tidak cukup.

Karena banyak orang yang berilmu, namun kecerdasannya digunakan hanya untuk melayani egonya saja.

Oleh karena itu, pengetahuan batiniah dari lubuk hati terdalam hanya dapat dirasakan oleh mereka yang telah mengalami transformasi batin yang mendalam, serta menyingkap tabir yang menutupi cahaya tersebut.15

13 Inner understanding is often thought of as something similar to intelligence or reason, lihat Robert Frager, Heart, Self, & Soul, hal. 35

14Robert Frager, Heart, Self, & Soul, hal. 35

15Robert Frager, Heart, Self, & Soul, hal.36

Penulis di sini menemukan bahwasanya al-Ghazali menunjukkan kecenderungannya cara pandang dualisme. Dimana al-Ghazali menyebutkan dua makna bagi tiap masing-masing istilah qalb, ruh, nafs, dan aql, yakni eksoteris (zahir) dan esoteris (batin) sekaligus.

e) Hubungan Qalb, Ruh, Nafs, Aql

Dari pembahasan di atas, dapat diketahui bahwa jiwa manusia adalah satu kesatuan dari empat unsur entitas yang membentuk esensi manusia. Esensi manusia yang disebut dengan jiwa - qalb, ruh, nafs, dan aql - merujuk untuk satu entitas yang sama, yakni luthf, rabbani, ruhani. Namun berdasarkan penggunaannya, masing-masing istilah memiliki konsepsi yang berbeda.

Qalb merujuk pada kondisi jiwa yang berpotensi untuk menerima pengetahuan, baik yang bersifat rasional maupun ilham.

Hati juga yang berfungsi mengendalikan seluruh anggota tubuh serta menjadi tempat asal mula kehendah, iradah sebagai awal mula tindakan.

Ruh sendiri menunjukkan kondisi jiwa sebagai entitas tak kasat mata yang menjadikan jasad hidup. Sedangkan nafs sendiri mengandung naluri dasar berupa syahwat dan ghadab yang diperlukan, guna mempertahankan keberlangsungan hidup manusia itu sendiri. Dan akal menunjukkan kondisi jiwa yang melakukan penalaran rasional.

Jika penulis sederhanakan, ruh lah yang sebenarnya memiliki jiwa, akal, dan hati. Ketiganya merupakan unsur-unsur

potensi yang halus dari ruh. Dengan semua potensi tersebut manusia dapat memahami segala realitas dan akhirnya berpengetahuan; bertindak karena dorongan jiwa, dan berpikir dengan akal.

Namun dari keempat entitas tersebut, hati dan akal lah yang paling banyak mewarnai entitas yang lain. Akal dan hati merupakan dua sebutan yang berbeda, namun merupakan substansi manusia yang sama menerima pengetahuan, berakal, serta memutuskan perbuatan dan tingkah laku.

C. Hati dan Akal

a) Hubungan Hati dan Akal

Sebagaimana kemampuannya untuk berfikir, akal tidak dapat dipisahkan dari rasio. Begitu pun akal dengan hati – di mana hati sebagai substansi yang mengetahui persoalan rasional empiris maupun metafisis. Al-Ghazali merupakan salah satu ulama Islam yang yang konsen dalam kajian tersebut – akal dan hati.

Apabila berbicara tentang konsep hati Al-Ghazali tidak bisa lepas hubungannya dengan akal. Menurutnya akal dan hati tidak bisa dipisah sebagaimana substansi-substansi lain, seperti nafs dan ruh. Al-Ghazali menyebut substansi-substansi tersebut sebagai jiwa (nafs). Karena hati, akal, jiwa, dan ruh merupakan hakikat manusia itu sendiri.

Dalam pembahasan tentang hati dan akal, al-Ghazali mengartikan keduanya sebagai berikut; hati diartikan sebagai

wadah untuk makrifat, yakni alat untuk mengetahui hal-hal yang bersifat ilahiah.16 Sedangkan akal itu sendiri sebagai alat untuk mengetahui ilmu yang diamati dari panca indera atau dari hal-hal yang dzahir (lahir).

Al-Ghazali dalam kitab-kitab filsafatnya meletakkan akal yang punya kemampuan untuk menerima intuisi dari malaikat.

Sampai pada batas ini, tampaknya al-Ghazali tidak jauh berbeda dengan filsuf Muslim lainnya seperti al-Farabi dan ibnu Sina yang masih bersifat Aristotelian, karena ia masih berada dalam epistemologi yang sama.17

Meskipun pada awalnya epistemologi al-Ghazali bersifat paripatetik, namun pada akhirnya epistemologi tersebut megalami perkembangan lebih jauh, penekanan dan konsentasinya pun berbeda. Epistemologi tersebut bukan lagi paripatetik, namun lebih tepat disebut iluminasionistik. Iluminasionistik itu sendiri merupakan sebuah gerakan klimaks dari titik tekan al-Aql (akal) sebagai basis pengetahuan menuju Qalb (hati). Namun

al-16Hal ini dimungkinkan jika hati yang dimaksud di sini sudah bersih sebersih-bersihnya dari hawa nafsu, dengan melalui pola hidup zuhud, wara’, dan dzikir secara terus-menerus. Maka dengan demikian, ilmu ladunni atau ilmu ilahi tersebut akan memancarkan cahaya-cahaya ke dalam hati, sehingga ia menjadi wadah bagi makrifat tersebut. Lihat Ensiklopedia Tasawuf Imam Al-Ghazalihal.384.

17Bagi pandangan Arostoteles, pengetahuan merupakan hasil pengamatan terhadap kenyataan empiris dengan melepaskan unsur-unsur universal dari yang partikular. Jika abstraksi itu diteruskan, maka akan melapaui taraf dugaan dan pendapat, higga pada akhirnya mencapai episteme sebagai pengetahuan sejati. Lihat Akhmad Shodiq, Prophetic Character Building: Tema Pokok Pendidikan Akhlak Menurut Al-Ghazali, (Jakarta:

Kencana, 2018),hal.52

Ghazali tidak pernah menafikan keberadaan al-aql sebagai daya yang memungkinkan untuk mencapai intusi.18

Al-Ghazali ketika menjelaskan intuisi, ia lebih berkonsentrasi pada qalb semata. Namun qalb di sini tidak sepenuhnya bermakna hati, bahkan sering kali bermakna akal. Dalam Misykât al-Anwâr kecenderungan penyebutan sumber pengetahuan dengan al-qalb – oleh kalangan sufi – dikarenakan makna kata

Al-Ghazali ketika menjelaskan intuisi, ia lebih berkonsentrasi pada qalb semata. Namun qalb di sini tidak sepenuhnya bermakna hati, bahkan sering kali bermakna akal. Dalam Misykât al-Anwâr kecenderungan penyebutan sumber pengetahuan dengan al-qalb – oleh kalangan sufi – dikarenakan makna kata

Dokumen terkait