BAB V PERBANDINGAN ANTARA KONSEP ABU HAMID
B. Jiwa Manusia
Menurut pandangan al-Ghazali, manusia merupakan individu yang terdiri dari dua unsur, yakni jasad dan ruh. Kedua unsur ini merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.
Namun ruh yang memiliki posisi tertinggi, ruh di sini memiliki empat unsur, yakni qalb, ruh, nafs (hawa/syahwat), aql.
Jika kita membahas istilah-istilah tersebut, pada intinya kita membahas tentang jiwa manusia. Dalam karya al-Ghazali, pembahasan tentang jiwa berkaitan dengan istilah hati (qalb).
Baik jiwa maupun hati dua-duanya merupakan bagian dari aspek batin (esoteris) dalam diri manusia. Oleh karena itu, pembahasan tentang hati sangat dekat dengan pembahasan dari sudut pandang psikologis.
Jika al-Ghazali mengemukakan bahwa manusia terdiri dari empat unsur, Robert Frager berpendapat lain. Dalam bukunya yang sangat terkenal, Robert Frager menjelaskan bahwa ada tiga unsur dasar dalam diri manusia, yakni hati, diri (nafsu),
dan ruh. Ketiga unsur tersebut juga merupakan konsep dasar dalam psikologi sufi.5
Di sini penulis berusaha menjelaskan istilah-istilah tersebut dengan berpedoman dari karya al-Ghazali dan Robert Frager:
a) Qalb (Hati)
Hati yang dimaksud al-Ghazali dalam kitabnya Ihyâ’
‘Ulûmuddîn adalah yang halus (lathifah), yakni sifat-sifat dan keadaan dari hati tersebut. Bukan hakikat pada dzatnya. Lathifah atau hati yang halus tersebut merupakan hakikat dari manusia itu sendiri. Hatilah yang merasa, mengetahui, mengenal, dari manusia.6
Seperti yang tergambar dalam diagram Frager, hati menempati lapis kedua yang terbungkus langsung oleh lapisan dada. Ialah wujud halus (lathifah) yang bersemayam di dalam sanubari setiap manusia. Hakikat diri kita yang menyimpan cahaya kecerdasan dan cahaya ilahi. Dimana kecerdasan hati ini lebih dalam dan mendasar dibandingkan kecerdasan abstrak akal.7
b) Ruh
Al-Ghazali mendefinisikan ‘ruh’ dalam artian fisik tubuh halus (jism lathif) sumbernya adalah rongga jantung (qalb al-jismani) yang menyebar ke seluruh anggota badan lewat
5Robert Frager, Heart, Self, & Soul: The Sufi Psychology of Growth, Balance, and Harmony, (United State of America: The Publication of The Theosophical Publishing House, 1999), hal. 1.
6Imam al-Ghazali, Ihyâ’ ‘Ulûmuddîn jilid III, hal.898
7Robert Frager, Heart, Self, & Soul, hal. 2
pembuluh darah. Selanjutnya makna ruh secara batin, al-Ghazali menyebutnya sebagai bagian dari manusia yang mengetahui (al-lathifah min al-insan). Dari pengertian tersebut, ruh merupakan salah satu dari makna hati.8
Frager menyebut ‘tingkatan tertinggi ruh’ dengan istilah
“The secret of secret” – yang maha rahasia atau sirrul asrar.
Jiwa ini bersifat konstan (tidak berubah), karena ia adalah percikan dari Tuhan di dalam diri setiap manusia.9 Hal ini berdasar pada Quran yang berbunyi: “Telah kusempurnakan kejadiannya (Adam) dan kutiupkan kedalamnya ruh-Ku.”10 c) Nafs
Dalam psikologi sufi, diri, jiwa, atau nafs merupakan aspek psikis pertama yang juga merupakan musuh terburuk bagi manusia. Akan tetapi, di sisi lain diri (nafs) juga bisa berkembang mejadi alat yang bernilai/berharga. Diri (nafs) merupakan kumpulan dari berbagai kekuatan yang ada dalam diri manusia, kekuatan ini pula yang dapat mengakibatkan rasa sakit dan penderitaan, bahkan bisa menuntut manusia untuk menyakiti orang-orang yang dikasihi.
Robert Frager menerjemahkan “diri yang memerintah untuk melakukan kejahatan” sebagai nafs tirani, karena diri manusia tersebut didominasi oleh kecenderungan negatif, yang berakar
8 Imam al-Ghazali, Ihyâ’ ‘Ulûmuddîn jilid III, hal. 899
9 Robert Frager, Heart, Self, & Soul, hal. 97
10 Q.S. al-Hijr, ayat 29
dari keegoisan yang sering tidak disadari. Di sisi lain, tingkat tertinggi nafs dikenal sebagai nafs yang suci/murni.11
Al-Ghazali menyebut nafs sebagai pusat potensi marah dan syahwat pada manusia. Seperti sabda Nabi Muhammad saw.
“A’daa ‘aduwwika nafsu-kallati baina janbaika” yang artinya:
Musuh yang terbesar adalah nafsu yang berada diantara dua lambungmu.
d) Akal
Akal menurut al-Ghazali adalah pengetahuan tentang hakikat segala sesuatu di alam materi, dalam makna ini akal ibarat sifat-sifat ilmu yang bertempat di dalam hati (jiwa). Dalam makna lain, yang diaksud akal adalah “yang memperoleh pengetahuan” itu, yakni hati (yang halus).
Dari pengertian di atas, dapat kita lihat bahwasanya akal itu ditujukan terhadap sifat orang yang berilmu. Dan ditujukan sebagai tempat pengetahuan, yakni mengetahui. Seperti sabda Nabi Muhammad saw, “Yang pertama-tama dijadikan oleh Allah adalah akal.”12
Apabila kita perhatikan, di dalam unsur manusia Robert Frager tidak menyebutkan akal. Karena dalam bukunya Heart, Self, & Soul, Robert Frager menyebutkan secara spesifik akal itu dikandung pusat hati spiritual (Lubb), yaitu bagian hati terdalam.
11Robert Frager, Heart, Self, & Soul, hal.3
12Imam al-Ghazali, Ihyâ’ ‘Ulûmuddîn jilid III, hal. 901-902
Hal ini terdapat dalam pembahasan tentang Tahap Penalaran dan Pemahaman. Dalam pembahasan ini, pemahaman batin kerap kali dianggap sebagai sesuatu yang serupa dengan kecerdasan atau nalar (akal).
Namun perlu kita ketahui bahwasanya dalam pengetahuan sufi, akal tidaklah otak – seperti yang dipahami dunia Barat – akan tetapi akal merupakan daya pikir yang dapat menjadikan manusia memahami dan mengetahui segala sesuatu.13
Pemahaman batin tersebut diibaratkan dua cahaya, satu seperti cahaya matahari, dan yang lainnya seperti cahaya pelita (lampu). Kedua cahaya tersebut sama-sama terang, akan tetapi cahaya hati yang terdalam tetap tidak berubah dan merupakan cahaya yang langsung dari Allah.14
Semua orang yang mengenal Allah, orang tersebut telah mengembangkan akal mereka. Namun, Robert Frager ini menjelaskan bahwasanya akal dan pengetahuan saja tidak cukup.
Karena banyak orang yang berilmu, namun kecerdasannya digunakan hanya untuk melayani egonya saja.
Oleh karena itu, pengetahuan batiniah dari lubuk hati terdalam hanya dapat dirasakan oleh mereka yang telah mengalami transformasi batin yang mendalam, serta menyingkap tabir yang menutupi cahaya tersebut.15
13 Inner understanding is often thought of as something similar to intelligence or reason, lihat Robert Frager, Heart, Self, & Soul, hal. 35
14Robert Frager, Heart, Self, & Soul, hal. 35
15Robert Frager, Heart, Self, & Soul, hal.36
Penulis di sini menemukan bahwasanya al-Ghazali menunjukkan kecenderungannya cara pandang dualisme. Dimana al-Ghazali menyebutkan dua makna bagi tiap masing-masing istilah qalb, ruh, nafs, dan aql, yakni eksoteris (zahir) dan esoteris (batin) sekaligus.
e) Hubungan Qalb, Ruh, Nafs, Aql
Dari pembahasan di atas, dapat diketahui bahwa jiwa manusia adalah satu kesatuan dari empat unsur entitas yang membentuk esensi manusia. Esensi manusia yang disebut dengan jiwa - qalb, ruh, nafs, dan aql - merujuk untuk satu entitas yang sama, yakni luthf, rabbani, ruhani. Namun berdasarkan penggunaannya, masing-masing istilah memiliki konsepsi yang berbeda.
Qalb merujuk pada kondisi jiwa yang berpotensi untuk menerima pengetahuan, baik yang bersifat rasional maupun ilham.
Hati juga yang berfungsi mengendalikan seluruh anggota tubuh serta menjadi tempat asal mula kehendah, iradah sebagai awal mula tindakan.
Ruh sendiri menunjukkan kondisi jiwa sebagai entitas tak kasat mata yang menjadikan jasad hidup. Sedangkan nafs sendiri mengandung naluri dasar berupa syahwat dan ghadab yang diperlukan, guna mempertahankan keberlangsungan hidup manusia itu sendiri. Dan akal menunjukkan kondisi jiwa yang melakukan penalaran rasional.
Jika penulis sederhanakan, ruh lah yang sebenarnya memiliki jiwa, akal, dan hati. Ketiganya merupakan unsur-unsur
potensi yang halus dari ruh. Dengan semua potensi tersebut manusia dapat memahami segala realitas dan akhirnya berpengetahuan; bertindak karena dorongan jiwa, dan berpikir dengan akal.
Namun dari keempat entitas tersebut, hati dan akal lah yang paling banyak mewarnai entitas yang lain. Akal dan hati merupakan dua sebutan yang berbeda, namun merupakan substansi manusia yang sama menerima pengetahuan, berakal, serta memutuskan perbuatan dan tingkah laku.