• Tidak ada hasil yang ditemukan

Urgensi Hati Bagi Manusia

BAB V PERBANDINGAN ANTARA KONSEP ABU HAMID

F. Urgensi Hati Bagi Manusia

Salah satu alasan manusia diciptakan bertujuan agar mereka menyembah Tuhan-Nya. Di mana hal ini membutuhkan adanya keimanan kepada-Nya. Ketika hati seseorang sudah siap menerima hidayah dari Tuhan, maka dengan sendirinya iman itu akan datang kepada orang tersebut. Seseorang tidak akan bisa dan tidak akan sanggup menerima hidayah tersebut, jika ia sendiri tidak mengenal siapa tuhannya.

Ada pun keistimewaan manusia dibandingkan dengan makhluk yang lainnya terletak pada kesiapan atau kemampuannya manusia tersebut untuk mengetahui hakikat Tuhan (ma’rifah). Sedangkan untuk mengetahui hakikat Tuhan, seseorang harus mempunyai alat atau senjata. Dalam konsep tasawuf al-Ghazali, alat untuk mengetahui hakikat Tuhan adalah hati (qalb).

Seperti yang sudah dijelaskan al-Ghazali dalam kitabnya Ihyâ’ ‘Ulûmuddîn juz III, bahwasanya “Hatilah yang mengetahui Allah. Hati juga yang mendekati Allah, dia yang bekerja karena Allah, dia pula yang berjalan kepada Allah.”Maka dari itu, hati mempunyai peran yang sangat penting. Sedangkan anggota tubuh lainnya hanya sebagai pengikut hati, pelayan, serta alat yang dipergunakan oleh hati.32

Di mana dalam kajian tasawuf, hati memiliki peranan yang sangat penting, keberadaannya juga dapat menjadi sarana untuk menemukan dan menghayati segala bentuk rahasia ilahi, serta mampu membuka tabir alam gaib yang berada di sisi Tuhan.

Sering kita tahu dan dengar bahwasanya jihad yang paling besar dan paling utama adalah melawan hawa nafsu. Seseorang bisa dikatakan beruntung ketika mereka bisa mengendalikan hawa nafsu yang ada dalam dirinya. Agar bisa sampai pada cahaya Tuhan, seseorang harus membersihkan hatinya dari dosa-dosa dan maksiat melalui pelbagai praktik rohani. Maka dari itu, peran hati di sini sangatlah penting untuk bisa mengetahui hakikat pengetahuan yang sebenarnya.

Peran hati bagi seluruh anggota tubuh menurut al-Ghazali diibaratkan raja bagi seluruh prajuritnya, dimana semua prajurit tersebut bekerja berdasarkan perintah sang raja, dan patuh kepadanya. Karena perintah hatilah yang akan melahirkan

32Imam Al-Ghazali, Ihyâ’ ‘Ulûmuddîn Juz III, hal. 896.

kepribadian yang lebih baik, istiqomah, terlebih lagi tubuh hanyalah sebagai pelaksana dari semua titah atau perintah hati.

Hati adalah suatu elemen yang mempunyai peran sangat besar dalam kehidupan manusia. Karena hati di sini banyak mempengaruhi tingkah laku, dan melalui hati juga, manusia akan mampu mendekatkan diri kepada Allah berdasarkan penggerak dari hati, sehingga mampu mengetahui urusan dunia dan akhirat.

Dalam penelitian ini, penulis berkesimpulan bahwa dalam konsep hati ini, al-Ghazali adalah seorang sufi yang mampu memadukan tasawuf dan syariat. Di mana al-Ghazali berpegang teguh pada al-Quran dan as-Sunnah. Hal ini terlihat jelas dalam kitabnya Ihya’ Ulumuddin, ia berbicara tentang akhlak yang mencelakakan muhlikat) dan akhlak yang menyelamatkan (al-munjiyat). Jiwa harus dibersihkan dari akhlak yang tercela. Jadi dapat disimpulkan bahwa tasawuf menurut al-Ghazali adalah mengosongkan hati dari segala sesuatu selain Allah, menganggap rendah segala sesuatu selain Allah. Sikap itulah yang mempengaruhi hati dan anggota tubuh lainnya.

Sementara Robert Frager yang merupakan seorang syekh modern, tak hanya membahas tentang tasawuf – tepatnya psikologi sufi. Melainkan ia juga menjelaskan sudut pandangnya yang berbeda, bagaimana psikologi sufi dan psikologi Barat berlainan dalam transmisi keilmuan. Jika menurut psikologi Barat puncak kesadaran manusia ialah kesadran rasional. Namun dalam pandangan Robert Frager Psikologi Sufi cakupannya lebih luas.

Yang mana kesadaran rasional tersebut menurut para sufi sering kali merupakan wujud kondisi tidur dalam sadar.

107 PENUTUP A. Kesimpulan

Hati menurut pandangan al-Ghazali merupakan tempat/wadah sesuatu yang halus (al-Lathifah). Yang halus tersebut berkaitan dengan sifat-sifat manusia, dan hati itu sendiri merupakan hakikat manusia. Hakikat hati menurut al-Ghazali, yakni hakikat metafisik yang tidak bisa diungkap kecuali seseorang bisa menghalau penghalang yang ada pada dirinya antara alam fisik dan alam metafisik melalui perenungan dan mujahadah dari dalam dirinya.

Jadi dalam hal ini, hati yang dimaksud al-Ghazali adalah substansi non-materi yang gaib dan tidak kelihatan. Di mana hati berfungsi untuk merasai, mengenal, dan mengetahui suatu perkara atau ilmu. Menurut al-Ghazali hati mempunyai peranan yang sangat besar, karena dengan hati yang bersih manusia dapat memahami ilmu, dapat mengenal Allah SWT seterusnya terpasak kepercayaan serta keimanan yang utuh dalam diri manusia itu sendiri.

Penekanan al-Ghazali terhadap hati – pengertian batin – dalam kehidupan manusia lebih pada tahap kualitas hidup manusia. Di mana hati menjadi daya dorong dan sumber dari tingkah laku manusia. Manusia bisa dianggap baik atau buruk perbuatannya, tergantung dari kondisi hatinya.

Hati dapat berfungsi membentuk kepribadian manusia dengan baik jika hati tersebut bersih dari sifat-sifat tercela dan diilhami oleh cahaya kebaikan, serta selalu mendekatkan diri dan mengingat Allah.

Akan tetapi, hati juga dapat berfungsi merusak kepribadian manusia jika orang tersebut diliputi oleh rasa was-was dan mengikuti ajakan setan, hawa nafsu, amarah, serta dikuasai oleh sifat-sifat tercela.

Sedangkan implementasi hati itu sendiri lebih mengarah pada akhlak, yaitu spontanitas manusia dalam bersikap. Begitu pula indikasi sehat atau sakitnya hati spiritual kita, hal itu bisa dilihat dari akhlak atau moral kita. Ketika hati seseorang solih, maka seluruh jasad dan panca indra yang menjadi gerbang terluar dari kota nafs yang berhadapan langsung dengan alam fisik, akan sehat pula.

Seperti halnya orang yang berhati sehat, tingkah laku lahiriahnya akan berkembang dan cenderung menjauhkan diri dari sifat-sifat yang tercela, serta senantiasa menuju ke arah perbuatan yang baik dan positif. Dengan pendekatan hati inilah akan melahirkan sebuah kebijakan yang sangat arif. Maksudnya adalah, orang yang berbuat sesuatu hal dengan mengikuti kata hati, maka orang tersebut akan mendapatkan pengetahuan yang akan mengantarkannya kepada kebenaran. Di mana hati ini mempunyai kekuatan lebih besar dari pada inderawi atau akal.

Hati dalam pandangan Robert Frager adalah “Hati sebagai pusat spiritualitas,” yang mana hati merupakan hakikat spiritualitas batiniah/kejiwaan, bukan hati dalam makna fisik (jantung). Hati merupakan sumber cahaya batiniah, inspirasi, kreativitas, dan belas kasih.

Dalam penelitian ini, penulis berkesimpulan bahwa Robert Frager dalam bukunya Heart, Self, & Soul membuat perbandingan antara psikologi modern dengan psikologi sufi.

Robert Frager berkesimpulan bahwa psikolog modern telah membatasi perhatiannya hanya pada aspek fisik saja, dimana mereka sekadar menangkap fenomena kejiwaannya saja, namun tidak berhasil memahami kejiwaan manusia yang sesungguhnya, yaitu aspek ruhani manusia. Dimana salah satu aspek ruhani itu sendiri adalah hati.

Dalam tradisi sufi, hati dipandang sebagai mediator antara pengaruh luar dunia dan pengaruh spiritual dalam diri manusia.

Pengetahuan tentang apa yang diketahui merupakan salah satu elemen terpenting dalam pengetahuan tentang hati. Pengetahuan tersebut juga harus diperdalam dengan suatu pengalaman. Karena pengetahuan kita tidak lengkap kecuali kita bertindak berdasarkan apa yang kita ketahui, dan, juga, setiap tindakan memengaruhi hati.

Berdasarkan uraian dalam bab-bab sebelumnya, penulis berkesimpulan bahwasanya konsep sufi tentang hati lebih kompleks. Di mana hati merupakan kuil (tempat

memuja/menyembah) yang diciptakan oleh Tuhan dan terletak di dada setiap manusia. Tuhan menciptakan hati tersebut untuk menaruh cahaya-cahaya ilahi di dalam diri setiap manusia.

Seorang sufi pernah mengatakan, “Jika kata-kata berasal dari hati, maka ia akan masuk ke dalam hati. Namun jika kata-kata itu yang keluar dari mulut/ucapan saja, kata-kata-kata-kata tersebut tidak akan masuk ke dalam hati dan hanya melewati pendengaran.” Cinta itu sendiri merupakan essensi dari tasawuf, sedangkan wadah cinta itu adalah hati.”

B. Saran

Berdasarkan hasil penelitian ini, penulis mengemukakan beberapa saran: pertama, untuk pembaca yakni konsep pemikiran al-Ghazali dan Robert Frager tentang hati dapat sedikit menjadi panduan bagi siapa saja yang hendak memahami tentang kejiwaan manusia. Sambungan teori dari kedua tokoh ini dapat membantu siapa saja untuk bisa memahami fungsi sentral hati bagi kehidupan manusia. Di mana hati menjadi daya dorong dan sumber dari tingkah laku manusia.

Kedua bagi mahasiswa, semoga dengan hasil penelitian kali ini dapat menjadi referensi atau titik tolak dalam penelitian berikutnya, terutama yang berhubungan dengan konsep hati dalam ilmu tasawuf. Tak hanya itu saja, bagi mahasiswa yang mampu memahami konsep hati ini bisa mengetahui pengetahuan yang sesungguhnya, karena sumber pengetahuan itu berasa dari hati (qalb).

Ketiga bagi Fakultas Ushuluddin, dengan adanya penelitian ini penulis berharap bisa menjadi referensi baru untuk fakultas, khususnya Program Studi Ilmu Tasawuf. Karena dalam penelitian ini tidak hanya memuat pemikiran al-Ghazali, namun juga pemikiran Robert Frager – seorang tokoh psikologi sufi yang karyanya sekarang sering dijadikan referensi.

112

Tasawuf Imam Al-Ghazali, Jakarta: Mizan.

Ahmad Warson Munawwir. 1997.Kamus al-Munawwir: Arab Indonesia, Surabaya: Pustaka Progresif.

Akhmad Shodiq. 2018. Prophetic Character Building: Tema Pokok Pendidikan Akhlak Menurut Al-Ghazali, Jakarta:

Kencana.

Al-Ghazali, Al-Imam.1410/1990.Mukhtasar Ihya’ Ulumuddin, cetakan 1, Beirut: Muassasah al-Kutub Al-Tsaqafiyyah.

_____. 1986. Tahafut Al-Falasifah: Kerancuan Para Filosuf, Penerjem: Ahmadie Thaha, Jakarta: Pustaka Panjimas.

_____. 2008. Ringkasan Ihya’ Ulumuddin/ Imam Al-Ghazali/

penerjemah: ‘Abdul Rosyad Siddiq, Cet.III, Jakarta:

Akbar Media.

_____. 2006. Ihya’ Ulum al-Din vol.III.New Delhi: Islamic Book Service.

_____. 2011. Keajaiban Hati, Penerjemah:Mansyur Alkhatiri,Jakarta: Khatulistiwa Press.

_____. 2016. Kimia Kebahagiaan: al-Ghazali; the Aichemy of Happiness; Kimia-I Sa’adat, : Shahih.

_____. 2011. Ihyâ’ ‘Ulûmuddîn; Menghidupkan Kembali Ilmu-Ilmu Agama – Keajaiban Kalbu Jilid 4, Jakarta:

Republika.

Badan Litbang dan Diklat Kementrian Agama RI dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). 2016. Tafsir Ilmi: Fenomena Kejiwaan Manusia dalam perspektif

Al-Quran dan Sains, (Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Quran.

Badan Litbang dan Diklat Kementrian Agama RI dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). 2016.

Fenomena Kejiwaan Manusia: Dalam Perspektif Al-Quran dan Sains, November

Badan Litbang dan Diklat Kementrian Agama RI. 2016.Tafsir Ilmi: Penciptaan Manusia dalam Perspektif Al-Quran dan Sains, Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Quran.

Freger, Robert.1999. Heart, Self, & Soul: The Sufi Psychology of Growth, Balance, and Harmony, United States of Amerika: publication of The Theosophical Publishing House.

_____. 2014.Obrolan Sufi: untuk Transformasi Hati, Jiwa, dan Ruh. Diterjemahkan oleh: Hilmi Akmal. Jakarta: Zaman.

Fu’ad Farid Isma’il & Abdul Hamid Mutawalli. 2012. Cara Mudah Belajar Filsafat (Barat dan Islam), Cet.I.

Jogjakarta: Ircisod.

Gulen , Muhammad Fethullah. 2013.Tasawuf untuk Kita Semua:

Menapaki Bukit-bukit Zamrud Kalbu Melalui Istila-istilah dalam Praktik Sufisme, Jakarta: Republika.

Ja’far. 2016. Gerbang Tasawuf. Medan: Perdana Publishing.

Javad Nurbakhsy. 1998. Psikologi Sufi, Penerjem: Arief Rakhmat, Psychologyof Sufism, Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru.

Jalaluddin Rakhmat. 2007. The Road To Allah: Tahap-Tahap Perjalanan Ruhani Menuju Tuhan,Jakarta, Mizan.

Keserun As. Rahman (Penerjemah), Untaian Nasihat Imam Al-Ghazali – Mawaizh al-Imam al-Al-Ghazali,(Jakarta Selatan:

Turos, 2014

M. Yasir Nasution. 1988. Manusia Menurut Al-Ghazali, Jakarta:

Rajawali Press.

Mahfud Junaedi., Mirza Mahbub Wijaya. 2019. Pengembangan paradigma Keilmuan Perspektif Epistemologi Islam, Jakarta: Kencana.

Margareth Smith. 2000.Pemikiran dan Doktrin Mistis Imam al-Ghazali, penerjem: Amrouni, Jakarta: Riora Cipta.

Mohammad Monib. 2011.8 Pintu Surga,(Jakarta: PT Elex Media Komputindo.

Rakhmat, Jalaluddin. 2007.The Road To Allah: Tahap-Tahap Perjalanan Ruhani Menuju Tuhan, Jakarta: Mizan.

Simuh.2019.Tasawuf dan Perkembangannya dalam Islam, Yogyakarta: IRCiSoD.

Siroj, Said Aqil. 2006. Tasawuf Sebagai Kritik Sosial:

Mengedepankan Islam Sebagai Inspirasi dan Bukan Aspirasi, Bandung: Mizan.

Yadi Purwanto. 2007. Epistemologi Psikologi Islam, Bandung:

Refika Atema.

JURNAL-JURNAL:

Duriana, Anin Lihi, “Qalbu Dalam Pandangan Al-Ghazali,”

(Jurnal MEDIASI, Vol.9, No.2, Januari – Desember, 2015.

Hal. 28-45

Mansyur, “Al-Qalbu Dalam Perspektif Al-Quran”, (Institut Parahikma Indonesia [IPI], vol. 5 No. 1, 2017. Hal.45-66 Nurotun Mumtahanah, “Tafsir Ayat al-Qur’an Tentang Qalb:

Kajian Tafsir Maudhu’I,” Jurnal Akademika, Volume 13, Nomer 1, Juni 2019. Hal.13-30

Suryadi, Rudi Ahmad. 2015. Dimensi-Dimensi Manusia Perspektif Pendidikan Islam, Yogyakarta: Deepublish.

Syirazi, Syekh Nasir Makarim. 2015. Tafsir Al-Amtsal: Tafsir Kontemporer, Aktual, dan Populer, penerjem: Akmal Kamil,Lebak Bulus: Sadra Press.

INTERNET:

Robert Frager, “Robert Frager is an American Social Psychology,”

http://prabook.com/web/mobile/#!profile/1917676Diakses pada 2020,08,22.

https://web.archive.org/web/20060515183835/http://in.integralins titute.org/contributor.aspx?id=12, Diakses pada 2020,08,22.

https://web.archive.org/web/20100527154306/http://www.itp.edu /academics/faculty/cv/Rfrager/cv.pdf diakses pada 2020,08,22.

https://id.g;osbe.com/tr/id/sohbetdiakses pada 2020,08,22.

http://www.intutionnetwork.org/txt/frager.htm diakses pada 16,12, 2020.

Dokumen terkait