• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V PERBANDINGAN ANTARA KONSEP ABU HAMID

C. Hati dan Akal

a) Hubungan Hati dan Akal

Sebagaimana kemampuannya untuk berfikir, akal tidak dapat dipisahkan dari rasio. Begitu pun akal dengan hati – di mana hati sebagai substansi yang mengetahui persoalan rasional empiris maupun metafisis. Al-Ghazali merupakan salah satu ulama Islam yang yang konsen dalam kajian tersebut – akal dan hati.

Apabila berbicara tentang konsep hati Al-Ghazali tidak bisa lepas hubungannya dengan akal. Menurutnya akal dan hati tidak bisa dipisah sebagaimana substansi-substansi lain, seperti nafs dan ruh. Al-Ghazali menyebut substansi-substansi tersebut sebagai jiwa (nafs). Karena hati, akal, jiwa, dan ruh merupakan hakikat manusia itu sendiri.

Dalam pembahasan tentang hati dan akal, al-Ghazali mengartikan keduanya sebagai berikut; hati diartikan sebagai

wadah untuk makrifat, yakni alat untuk mengetahui hal-hal yang bersifat ilahiah.16 Sedangkan akal itu sendiri sebagai alat untuk mengetahui ilmu yang diamati dari panca indera atau dari hal-hal yang dzahir (lahir).

Al-Ghazali dalam kitab-kitab filsafatnya meletakkan akal yang punya kemampuan untuk menerima intuisi dari malaikat.

Sampai pada batas ini, tampaknya al-Ghazali tidak jauh berbeda dengan filsuf Muslim lainnya seperti al-Farabi dan ibnu Sina yang masih bersifat Aristotelian, karena ia masih berada dalam epistemologi yang sama.17

Meskipun pada awalnya epistemologi al-Ghazali bersifat paripatetik, namun pada akhirnya epistemologi tersebut megalami perkembangan lebih jauh, penekanan dan konsentasinya pun berbeda. Epistemologi tersebut bukan lagi paripatetik, namun lebih tepat disebut iluminasionistik. Iluminasionistik itu sendiri merupakan sebuah gerakan klimaks dari titik tekan al-Aql (akal) sebagai basis pengetahuan menuju Qalb (hati). Namun

al-16Hal ini dimungkinkan jika hati yang dimaksud di sini sudah bersih sebersih-bersihnya dari hawa nafsu, dengan melalui pola hidup zuhud, wara’, dan dzikir secara terus-menerus. Maka dengan demikian, ilmu ladunni atau ilmu ilahi tersebut akan memancarkan cahaya-cahaya ke dalam hati, sehingga ia menjadi wadah bagi makrifat tersebut. Lihat Ensiklopedia Tasawuf Imam Al-Ghazalihal.384.

17Bagi pandangan Arostoteles, pengetahuan merupakan hasil pengamatan terhadap kenyataan empiris dengan melepaskan unsur-unsur universal dari yang partikular. Jika abstraksi itu diteruskan, maka akan melapaui taraf dugaan dan pendapat, higga pada akhirnya mencapai episteme sebagai pengetahuan sejati. Lihat Akhmad Shodiq, Prophetic Character Building: Tema Pokok Pendidikan Akhlak Menurut Al-Ghazali, (Jakarta:

Kencana, 2018),hal.52

Ghazali tidak pernah menafikan keberadaan al-aql sebagai daya yang memungkinkan untuk mencapai intusi.18

Al-Ghazali ketika menjelaskan intuisi, ia lebih berkonsentrasi pada qalb semata. Namun qalb di sini tidak sepenuhnya bermakna hati, bahkan sering kali bermakna akal. Dalam Misykât al-Anwâr kecenderungan penyebutan sumber pengetahuan dengan al-qalb – oleh kalangan sufi – dikarenakan makna kata akal pada masa itu telah direduksi menjadi sarana perdebatan dan adu argumentasi semata, bukan menangkap cahaya suci pengetahuan transendental.

Akal itu sendiri adalah mata hati yang berfungsi untuk mengetahui Allah dan kebenaran risalah. Jadi penyebutan al-qalb itu dimaksudkan untuk menghindari dari pengaruh negatif, dari anggapan terhadap substansi daya pikir yang ada pada manusia.19 b) Perbedaan Antara Akal dan Hati

Ada pun perbedaan hati dan akal hanya pada posisi dan fungsi dari masing-masing substansi. Namun dibalik perbedaan akal dan hati, yang memberi karakteristik pada jiwa dan ruh,serta tingkah

18Dari kajian pemikiran al-Ghazali ini tidak ditemukan penjelasan yang bersifat mereduksi keluasan peran akal, kecuali makna terbatas bukan dalam makna hakiki (makna yang sebenarnya).Kesimpulan Yasir Nasution dalam bukunya yang berjudul Manusia Menurut Al-Ghazali, yang mengatakan bahwa Al-Ghazali mengalami perubahan yang mendasar dengan meredusi peran akal yang awalnya begitu luas di bawah fakultas hati perlu dicermati ulang.Lihat M. Yasir Nasution, Manusia Menurut Al-Ghazali, (Jakarta:

Rajawali Press, 1988), hal. 35 dan 94.

19Peran akal dalam Misykatul Anwar meliputi capaian rasional dan laduni. Bahkan peran dan capain apa yang selama ini disebut al-qalb disebut sebagai al-aql.Al-Ghazali menjelaskan bahwa “sesungguhnya di dalam hati manusia ada sebuah esensi (‘ain), inilah sifat keutamaannya.Inilah yang kadang disebut al-aql haday al-ruh, atau haday disebut al-nafs al-insani.”

Lihat Al-Ghazali, Misykatul Anwar, hal.5-8

laku dan perbuatan manusia adalah akal dan hati. Menurut al-Ghazali, berdasarkan hubungan keduanya mampu menunjukkan kepada kita tentang hakikat kebenaran (kenyataan yang sebenarnya).

Adapun kelebihan hati atas akal adalah hati mampu melihat segala hakikat kebenaran. Kemampuan akal terbatas, akal hanya bisa menangkap pengetahuan yang bersifat rasional dan empiris melalui indra dan daya nalar (rasio), sedangkan hati mampu menanngkap kebenaran ‘pengetahuan’ secara tidak terbatas.

Kemampuan yang tidak terbatas tersebut diperoleh denga dzauq atau intusi.20

Jika akal tidak dapat memperoleh pengetahuan yang sebenarnya, namun hati bisa mengetahui hakikat segala yang ada.

Jika dilimpahi cahaya-cahaya Tuhan, hati mampu mengetahui rahasia-rahasia Tuhan.21 Oleh karena itu, akal tingkatannya berada di bawah tingkatan hati.

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwasanya akal dan hati dalam pandangan al-Ghazali merupakan satu entitas yang sama. Namun kedua istilah ini mempunya karakteristik yang membedakan satu sama lain.

Antara akal dan hati, keduanya sama-sama menerima kebenaran, akan tetapi kebenaran yang diterima berbeda. Hati menerima kebenaran namun dalam urusan spiritual, sedangkan akal terbatas hanya dalam urusan intelegensia.

20“Relasi Akal dan Hati,” hal.

21Ensiklopedia Tasawuf Imam Al-Ghazali, hal.385

Ketika akal hanya berurusan dalam urusan rasional-empiris, hati lebih menekankan pada sisi rasional-emosional-spiritualitas untuk memahami fenomena alam dan ayat-ayat Allah. Perbedaan kemampuan ini sejatinya untuk menggapai dua dimensi alam yang berbeda, yaitu alam indra (‘alam syahādah) dan alam supernatural (‘alam malakūt atau alam ghaib).

Bagi kaum sufi, hati (qalb) merupakan jalan untuk mencapai cahaya Ilahi. Robert Frager mengatakan dalam bukunya Heart, self, & Soul – bahwasanya hati adalah kuil Tuhan yang ada di dalam diri manusia yang merefleksikan cahaya Tuhan.22 Hati dalam tasawuf juga dianggap sebagai alat tertinggi dalam menangkap ilmu. Bahkan sebagian sufi juga menggembor-gemborkan ilmu ladunni (ilmu yang ditiupkan Allah kepada hati manusia) tanpa adanya usaha dan tanpa disertai dalil.

Psikologi Barat beranggapan bahwa puncak keahliah manusia, jalan untuk memperoleh pengetahuan dan kearifan, dapat kita peroleh dengan nalar logika; hamper segenap pengetahuan hanya dapat dikemukakan lewat sistematika rasional yang ditata secara logis. Namun psikologi sufi memahami bahwa sistematika kalimat-kalimat rasional tersebut bersifat terbatas, karena hanya kondisi spiritual-lah yang mampu melampaui penjelasan rasional.

Di saat psikologi Barat menempatkan nalar logika sebagai puncak keahlian manusia, dan dianggap sebagai jalan untuk memperoleh pengetahuan dan kearifan. Namun dalam psikologi sufi tidak demikian, kecerdasan yang abstrak dan logis dianggap

22Lihat Robert Frager, Frager. Robert, Heart, Self, & Soul, hal.24

sebagai kecerdasan rendah. Karena pengetahuan tersebut hanya berguna di sekolah dan juga untuk mempelajari keahlian-keahlian yang berkaitan dengan kesuksesan dunia.Sedangkan pengetahuan sendiri haruslah diamalkan.23

Hal ini terbukti berdasarkan sistem pendidikan di Barat yang cenderung terlalu menekankan akal dan mengabaikan hati. Di pendidikan dasar – seperti membaca, manulis, dan aritmatika – seluruhnya melibatkan akal.24 Dalam hal-hal yang menyuburkan/membangkitkan hati (seperti kesenian, dan keahlian-keahlian sosial) malah dinomorduakan dan hanya dianggap sebagai pelengkap saja.

Maka dari itu, Robert Frager melihat kenyataan tersebut menjelaskan stereotip bahwasanya para sarjana yang berpendidikan tinggi, di mana mereka pintar tapi tidak terlalu cerdas. Ada satu kalimat yang disukai oleh para sufi yang ditulis Robert Frager dalam bukunya, “Sarjana yang tidak mempraktekkan apa yang telah ia pelajari, bagaikan seekor keledai yang mengangkut banyak buku”. Artinya, buku-buku yang dibawa di dalam gerobak keledai itu tidak bisa mengubah keledai tersebut. Begitu pula dengan buku-buku yang hanya tersimpan di dalam kepala para sarjana. Karena kearifan sejati adalah mempelajari sesuatu dengan baik, dan kemudian menerapkannya.25

23Robert Frager, Heart, Self, & Soul, hal. 8-9.

24Robert Frager, Heart, Self, & Soul, hal.21

25Robert Frager, Heart, Self, & Soul, hal.14-15.

Hal tersebut bertolak belakang dengan psikologi sufi, karena yang ditekankan dalam psikologi sufi adalah kebutuhan untuk membangkitkan hati. Seseorang yang hatinya terbuka akan lebih bijaksana, lebih pengertian, dan penuh kasih sayang dibandingkan dengan orang yang hatinya tertutup.

Dalam psikologi sufi, hati tidak hanya tempat berkumpulnya kegairahan dan perasaan, namun hati juga menyimpan kecerdasan dan kearifan kita yang terdalam. Hati merupakan lokus makrifat, gnosis, atau pengetahuan spiritual. Ada pun cita-cita para sufi – dijelaskan oleh Robert Frager dalam bukunya Heart, Self, and Soul – yakni menumbuhkan hati yang lembut dan penuh kasih sayang, dan juga menumbuhkan kecerdasan hati.

Bisa juga dikatakan bahwa, dua unsur yang bisa menentukan kadar dan nilai kejiwaan manusia adalah akal dan hati, sebagai karakteristik manusia dan memberikan ciri khas dalam dimensi nafs.

Dokumen terkait