BAB III AKUNTABILITAS KINERJA
B. Capaian Kinerja Lainnya
Capaian skor Pola Pangan Harapan tahun 2021 sebesar 87,2 atau 95,19% dari target 91,6. Hasil penghitungan skor PPH menjadi indikator yang digunakan untuk mengukur pencapaian kualitas konsumsi pangan. Skor PPH Konsumsi didefinisikan sebagai proporsi kelompok pangan yang menggambarkan keragaman dan keseimbangan pangan dalam kondisi konsumsi pangan. Skor PPH Konsumsi dihitung dengan cara mengalikan persentase Angka Kecukupan Energi (AKE) tingkat konsumsi dengan bobot setiap kelompok pangan yang sudah ditetapkan. Pola konsumsi pangan yang ideal digambarkan dengan skor PPH 100. Capaian PPH Tahun 2021 sebagaimana terlihat pada Tabel 11.
Tabel 11. Perkembangan Skor PPH 2020 – 2021
Uraian
2020 2021*)
T R T R
Skor Pola Pangan Harapan (PPH) 90,8 86,3 91,6 87,2 Sumber : Susenas 2021, diolah dan dijustifikasi dengan pendekatan pengeluaran oleh BKP Ket : Target berdasarkan Renstra BKP 2020-2024
Dari Tabel 11 menunjukkan bahwa kualitas konsumsi pangan masyarakat semakin baik walaupun belum mencapai target yang ditetapkan dalam Renstra BKP. Upaya yang dilakukan untuk meningkatkan Skor PPH, telah dialokasikan kegiatan kedalam dukungan program/kegiatan tahun 2021 dengan mengalokasikan anggaran untuk kegiatan diversifikasi pangan, pengembagan pangan lestari, pertanian keluarga, serta sosialisasi kepada masyarakat untuk konsumsi pangan beragam bergizi seimbang dan aman (B2SA).
2. Penguatan UMKM Pangan Lokal
Dalam upaya penguatan dan pengembangan industri pangan lokal berbasis UMKM, Pemerintah dan Pemerintah Daerah bertanggung jawab dalam
melakukan pembinaan terhadap usaha mikro, kecil dan menegah. Strategi penguatan dan pengembangan UMKM pangan lokal dapat dilakukan dengan peningkatan daya saing produk dan peningkatan kapasitas SDM UMKM (pelatihan/bimtek), penguatan kelembagaan UMKM, fasilitasi peralatan/sarana pengolahan pangan, bantuan permodalan melalui KUR serta perluasan pemasaran (eskalasi UMKM, digital marketing/pemasaran online, dan kemitraan dengan off taker) sehingga dapat menghasilkan produk yang bermutu dan berdaya saing.
Untuk mempercepat diversifikasi pangan lokal, Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian pada tahun 2021 melaksanakan kegiatan Penguatan UMKM Pangan Lokal melalui Pengembangan Industri Pangan Lokal (PIPL).
Kegiatan ini merupakan kegiatan prioritas dalam upaya penyediaan olahan pangan lokal yang bermutu dan berdaya saing, melalui pemanfaatan inovasi teknologi pengolahan pangan dan perluasan akses pasar melalui pemberdayaan UMKM yang dilakukan di 34 provinsi.
Penguatan UMKM Pangan Lokal melalui Pengembangan Industri Pangan Lokal (PIPL) merupakan salah satu upaya mendukung pengembangan pangan lokal melalui pemberdayaan UMKM. Sasaran kegiatan adalah UMKM yang dimiliki perseorangan atau kelompok usaha yang mengolah bahan baku pangan lokal menjadi produk intermediate maupun produk akhir. Dalam pelaksanaannya, UMKM PIPL akan mendapat fasilitasi berupa pendampingan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) melalui pelatihan, gathering, serta promosi untuk meningkatkan akses pemasaran dan pengembangan permodalan melalui KUR guna meningkatkan skala usaha UMKM.
Dana bantuan untuk pelaksanaan kegiatan PIPL diberikan dalam bentuk dana dekonsentrasi provinsi yang pelaksanaanya dimanfaatkan untuk pertemuan koordinasi/sosialisasi, pelatihan, gathering UMKM (temu usaha/ bisnis, fasilitasi UMKM melalui KUR), promosi (pencetakan bahan promosi dan Eskalasi UMKM), dan pendampingan, serta monitoring dan evaluasi. Pada tahun 2021, realisasi dari kegiatan ini sebesar 536 UMKM atau (107,20%) dari target 500 UMKM, sebagaimana Gambar 15.
Gambar 15. Penguatan UMKM Pangan Lokal
3. Penguatan Cadangan Pangan Pemerintah Daerah (CPPD)/Pengembangan Lumbung Pangan Masyarakat (LPM)
Cadangan pangan mempunyai peran yang sangat penting dalam menjaga ketersediaan pangan dan juga stabilisasi harga pangan, terutama pada komoditi beras yang merupakan kebutuhan pokok masyarakat. Dari sisi ketersediaan, kontribusi tersedianya cadangan pangan diharapkan dapat mendukung setiap penduduk Indonesia dapat mengakses kebutuhan pokok dan hidup secara berkelanjutan. Dari sisi stabilisasi harga pangan, keberadaan cadangan pangan memiliki peranan penyangga harga dan pasokan, baik dari sisi konsumen maupun produsen. Saat terjadi lonjakan harga disebabkan kurangnya pasokan maka cadangan pangan yang tersedia dapat dilepas ke pasar untuk membantu menstabilisasikan harga. Sebaliknya, apabila harga pangan menurun maka dapat dilakukan penyimpanan sebagai cadangan pangan untuk mengurangi pasokan yang berlimpah di pasaran.
Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan, pada pasal 23 dinyatakan bahwa dalam mewujudkan kedaulatan pangan, kemandirian pangan dan ketahanan pangan; pemerintah menetapkan Cadangan Pangan Nasional (CPN). CPN terdiri atas Cadangan Pangan Pemerintah (CPP), Cadangan Pangan Pemerintah Daerah (CPPD) dan
Cadangan Pangan Masyarakat (CPM). Keberadaan CPN ditujukan untuk mengantisipasi kekurangan/kelebihan ketersediaan pangan, gejolak harga pangan dan/atau keadaan darurat.
Penguatan Cadangan Pangan Pemerintah Daerah (CPPD) dan Lumbung Pangan Masyarakat (LPM) bertujuan untuk mewujudkan penyediaan cadangan pangan untuk mendekatkan akses pangan masyarakat dalam upaya pemenuhan kebutuhan pangan sebagai salah satu langkah intervensi penurunan stunting baik di masa panen raya maupun pancaroba. Jumlah provinsi penyelenggara CPPD sebanyak 31 dari 34 provinsi, sedangkan jumlah kabupaten/kota penyelenggara CPPD sebanyak 291 dari 508 kabupaten/kota.
Lumbung Pangan Masyarakat (LPM) yang dibangun dan dikembangkan oleh Kementerian Pertanian melalui Badan Ketahanan Pangan tahun 2021 dialokasikan melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) Fisik Bidang Pertanian.
Kegiatan LPM DAK Fisik Bidang Pertanian meliputi Pembangunan Lumbung Pangan Masyarakat (LPM) dan penyediaan sarana pendukungnya dengan komponen: (1) pembangunan fisik LPM kapasitas 30-60 ton per unit dan (2) sarana pendukung lainnya dengan beberapa pilihan yaitu pengadaan RMU dengan kapasitas minimal 0,5 ton per jam disertai dengan rumah RMU dan/atau pembangunan lantai jemur. Dari alokasi 381 kelompok, terealisasi 359 kelompok atau (94%) pada tahun anggaran 2021 sebagaimana Gambar 16.
Gambar 16. Penguatan CPPD/LPM
4. Pekarangan Pangan Lestari (P2L)
Badan Ketahanan Pangan (BKP) melalui Pusat Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan sejak tahun 2010 sampai dengan tahun 2019 telah melaksanakan Kegiatan Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL). Dalam upaya memperluas penerima manfaat dan pemanfaatan lahan, sejak tahun 2020 kegiatan KRPL berubah menjadi Pekarangan Pangan Lestari atau disingkat P2L. Kegiatan P2L dilaksanakan untuk meningkatkan ketersediaan, aksesibilitas, dan pemanfaatan pangan dalam rangka mewujudkan ketahanan pangan rumah tangga dan mendukung program pemerintah penanganan lokasi prioritas intervensi penurunan stunting. Kegiatan ini dilakukan melalui pemanfaatan lahan pekarangan, lahan tidur dan lahan kosong yang tidak produktif, sebagai penghasil pangan dalam memenuhi pangan dan gizi rumah tangga, serta berorientasi pasar untuk meningkatkan pendapatan rumah tangga.
Pada tahun 2021, realisasi kegiatan P2L 4.469 kelompok atau 97,75% dari target 4.570 kelompok. Terdapat 101 kelompok P2L tidak mencairkan dana banper sampai dengan akhir tahun karena kendala revisi DIPA, adanya usulan perubahan lokasi, kelompok yang diusulkan tidak memenuhi kriteria dalam juknis sehingga Dinas yang menangani Ketahanan Pangan Daerah tidak sanggup melaksanakan kegiatan P2L, serta ada beberapa kelompok yang telah mencairkan namun tidak sanggup melaksanakan kegiatan sehingga dana banper dikembalikan ke kas negara.
Untuk mengetahui pelaksanaan kegiatan P2L Badan Ketahanan Pangan telah melakukan evaluasi dampak kegiatan Kawasan Rumah Pangan Lestari/Pekarangan Pangan Lestari sebagaimana disajikan pada Gambar 17.
Gambar 17. Evaluasi Dampak Kegiatan KRPL/P2L
Berdasarkan hasil evaluasi dampak kegiatan, secara umum, kinerja kegiatan KRPL/P2L cukup berhasil dengan rerata skor tingkat keberhasilan secara agregat sebesar 0,72. Keberhasilan tersebut didukung baik dari aspek tangible benefit maupun intangible benefit.
5. Pengentasan Daerah Rentan Rawan Pangan/Pertanian Keluarga (PDRP/PK)
Pertanian keluarga menurut Rencana Aksi Nasional Pertanian Keluarga Indonesia (RAN-PK) 2021-2024 adalah kegiatan pertanian, perikanan dan akuakultur, kehutanan serta peternakan berbasis sumberdaya lokal yang dikelola secara bersama oleh anggota keluarga pada lahan yang dimiliki ataupun disewa/dipinjam untuk memenuhi kebutuhan pangan dan meningkatkan ekonomi keluarga. Salah satu implementasi dari konsep RAN PK, dilaksanakan melalui kegiatan Pengentasan Daerah Rentan Rawan Pangan/Pertanian Keluarga (PDRP/PK) yang dibiayai melalui dana Bantuan Pemerintah. Pemanfaatan dana Bantuan Pemerintah digunakan untuk kegiatan usaha budidaya, antara lain: komoditas tanaman pangan dan/atau komoditas hortikultura (sayuran semusim dan buah-buahan semusim) dan/atau komoditas peternakan (ternak unggas dan ternak kecil) dan/atau perikanan air tawar.
Kegiatan usaha budidaya tersebut memperhatikan sumberdaya lokal yang
dimiliki oleh masing-masing daerah dan dikelola secara bersama-sama oleh kelompok tani/gabungan kelompok tani/Kelompok Usaha Bersama yang melibatkan keluarga petani yang bertujuan untuk meningkatkan ketersediaan, keterjangkauan dan pemanfaatan pangan keluarga petani yang sesuai dengan kebutuhan gizi seimbang, mengentaskan daerah rentan rawan pangan, menguatkan daerah tahan pangan dan meningkatkan pendapatan keluarga petani.
Pada tahun 2021, kegiatan PDRP/PK dialokasikan di 109 lokasi dan telah terealisasi 100%. Seluruh lokasi telah memanfaatkan dana Bantuan Pemerintah dengan melaksanakan: (1) persiapan lahan/kandang/kolam, (2) penanaman/
pembelian bibit ternak/ikan, (3) pemeliharaan, dan (4) panen.
Gambar 18. Pengentasan Daerah Rentan Rawan Pangan/Pertanian Keluarga