DAFTAR PUSTAKA
C. Cara kerja Pembuatan SLH
1. Jalankan program ArcView dengan mengklik ikon yang ada didesktop.
2. Panggil Project yang berisi tema digitasi pada acara Penyuntingan dan Pemberian Skor pada Polygon.
3. Atur properti tampilan untuk unit jarak dan jarak peta secara berurutan menjadi meter dan kilometer.
5. Penampalan dilakukan dengan GeoProcessing Wizard pada menu tampilan di menubar.
6. Tentukan tipe tampalan yang hendak digunakan.
7. Tentukan tema input dan tema yang menjadi penampalnya. 8. Simpan tema hasil penampalan kedalam folder yang sesuai. 9. Buka tabel untuk tema yang telah ditampal.
10. Masukkan kolom data baru dengan tipe String sebagai isinya.
11. Beri kode pada setiap polygon sesuai dengan polygon pembentuknya.
Pemberian skor pada polygon
1. Proses Labelling dimulai dengan cara klik button open theme table maka akan muncul atribut dari citra tersebut
2. Klik menu table > start editing
3. Klik edit > add field maka akan muncul 4. Kotak field definition, keterangan ;
Pada Name kita isi “keterangan”
Pada Type kita isi “string” karena atribut yang akan kita masukan adalah angka.
Pada Width kita isi “16” yang merupakan lebar kolom yang kita buat. 5. Klik “OK” maka akan muncul kolom yang kita inginkan
6. Kemudian dilakukan penanaman sesuai dengan jenis data atribut yang ada pada citra.
7. Setelah selesai penanaman atribut, dilakukan penyimpanan yaitu klik theme, klik stop editing, maka hasil atribut akan tersimpan secara otomatis. Tandanya yaitu kolom atribut akan tercetak miring.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil
Gambar 4. Tema tanah.
Gambar 6. Tema curah hujan.
Gambar 7. Tema penampalan curah hujan, lereng, dan jenis tanah.
B. Pembahasan
Sistem Informasi Geografis dibagi menjadi dua kelompok yaitu sistem manual (analog), dan sistem otomatis (yang berbasis digital komputer). Perbedaan yang paling mendasar terletak pada cara pengelolaannya. Sistem Informasi manual biasanya menggabungkan beberapa data seperti peta, lembar transparansi untuk tumpang susun (overlay), foto udara, laporan statistik dan laporan survey lapangan. Kesemua data tersebut dikompilasi dan dianalisis secara manual dengan alat tanpa komputer. Sedangkan Sistem Informasi Geografis otomatis telah menggunakan komputer sebagai sistem pengolah data melalui proses digitasi. Sumber data digital dapat berupa citra satelit atau foto udara digital serta foto udara yang terdigitasi. Data lain dapat berupa peta dasar terdigitasi (Purwanto, 2004).
Geoprocessing adalah suatu cara yang ditempuh dalam membuat data spasial yang baru berdasarkan existing theme di dalam obyek view. Geoprocessing juga merupakan kumpulan fungsi-fungsi yang terhubung dengan sistem arcview dan melakukan operasi dengan didasarkan dari lokasi geografis layer-layer input. Terdapat 6 fungsi dalam geoprocessing yakni Dissolve, Merge, Clip, Intersect, Union, dan Assign Data. Fungsi-fungsi geoprocessing ini sering juga digunakan sebagai pelengkap dari fungsi Buffer (Lillesand et al., 1990)
Geoprocessing adalah kumpulan fungsi fungsi yang terhubung dengan sistem arcview dan melakukan operasi dengan didasarkan dari lokasi geografis layer-layer input, geoprocessing ada 6 fungsi yakni Dissolve, Merge, Clip, Intersect, Union, dan
Assign Data. Fungsi-fungsi geoprocessing ini sering juga digunakan sebagai pelengkap dari fungsi Buffer, oleh sebab itu dalam contoh yang akan ditampilkan nantinya akan banyak berkaitan dengan geoprocessing. Pengaktifan ekstension geoprocessing akan mengaktifkan geoprocessing wizard pada menu view. Pengaktifan geoprocesing wizard sekaligus akan menampilkan dialog box geoprocessing yang terdiri dari 6 fungsi seperti Disolve, Merge, clip, intersect, union, dan assign (Paine, 1982).
Analisis adalah proses pengambilan keputusan dan atau simpulan (makna) dari suatu informasi geografi. Sedangkan, manipulasi adalah proses perolehan informasi baru dari suatu data riil medan melalui penyutingan, pemutakhiran, interpolasi, tumpang tepat, dan pemodelan. Perembangan SIG saat ini mampu menghasilkan berbagai fungsi analisis yang canggih dengan memanfaatkan data spasial dan data atribut untuk berbagai analisis keruangan, misalnya untuk prediksi erosi, prediksi banjir dan longsor, prediksi sebaran hama dan penyakit tanaman, memprediksi potensi sumberdaya wilayah, perhitungan kelas kemampuan lahan dan daya dukung lahan, serta untuk mengungkap berbagai fenomena alam yang sulit diprediksi tanpa bantuan SIG. Salah satu keunggulan SIG adalah terletak pada kemampuannya untuk menampilkan obyek atau fenomena obyek yang tidak terprediksi sebelumnya. Fungsi dasar untuk analisis data SIG dilakukan melalui fungsi-fungsi matematik, seperti : penjumlahan, pengurangan, perbandingan, perkalian, interpolasi, konversi dan ekstrasi (Sisno, 2002).
Namun sebelumnya dilakukan pengaktifan ekstension geoprocessing untuk memunculkan geoprocessing wizard pada menu view. Pengaktifan geoprocesing wizard sekaligus akan menampilkan dialog box geoprocessing yang terdiri dari 6 fungsi seperti Disolve, Merge, clip, intersect, union, dan assign.
Pada saat praktikum hanya dilakukan intersect (pemotongan) dua tema/poligon. Adapun langkah-langkah dalam pemotongan dua tema antara lain :
1. Buatlah sebuah obyek view dan kemudian tampilkan theme (shapefile) berupa jenis tanah, lereng, dan curah hujan.
2. Aktifkan kedua theme yang akan dipotong secara simultan (gunakan kursor/mouse klik dan tombol SHIFT). Aktifkan (pilihlah dengan menggunakan tool “select feature” atau meng-klik records yang bersangkutan di dalam table atributnya, atau dengan dengan melakukan setting nilai-nilai bitmap records yang bersangkutan hingga bernilai true dengan menggunakan script evenue) unsur- unsur spasial yang bersangkutan yang termasuk pada kriteria-kriteria yang telah ditentukan. Setelah terpilih record atau unsur-unsur spasial yang bersangkutan akan aktif dan nampak tersorot dengan warna default (biasanya kuning muda). 3. Setelah semua unsur spasial memenuhi kriteria telah terpilih, aktifkan (klik) view
ini dan gunakan menu view sub menu GeoProcessing Wizard untuk memunculkan seri kotak dialog “ geoprocessing”
4. Pada kotak dialog “geoprocessing” yang pertama ini pilihlah radio button Intersect Two Themes. Kemudian klik tombol “next” untuk beralih pada kotak dialog selanjutnya.
5. Jika muncul kotak dialog “geoprocessing” yang kedua, kliklah tombol hasil operasi intersecting ini. Kemudian klik tombol Finish untuk keluar kotak dialog yang bersangkutan.
6. Setelah menekan tombol Finish dan menunggu sesaat, maka shapefile hasil operasi intersecting ini segera akan di dapat.
7. Jika tabel atribut theme hasil operasi intersecting di atas ditampilkan, maka akan diperoleh tampilan sebagai berikut :
a. Jika tabel atribut theme ini diperhatikan maka akan nampak bahwa sebagian field berasal dari tabel atribut jenis tanah, sementara yang lain berasal dari atribut curah hujan.
b. Tetapi karena unsur-unsur atau records yang terdapat di dalam table atribut hasil intersect ini belum memiliki skor sendiri (total) atau penilaian lainnya, maka harus ditambahkan sendiri oleh pengguna. Untuk menambahkan nilai ini, sebagai contoh pengguna dapat menambahkan fields baru ke dalam table atribut hasil intersecting (misalkan total skor dan fungsi kawasan).
Berdasarkan proses geoprocessing yang telah dilakukan, terdapat theme baru hasil akhir geoprosessing yang merupakan data spasial irisan tiga theme (jenis tanah, lereng, dan curah hujan) yang menjadi masukannya terhadap theme overlay sebagai
batas intersect-nya. Hasil yang didapat kemudian diolah dalam bentuk fungsi kawasan sehingga didapat kawasan lindung, penyangga, Budidaya Tanaman Semusim (BTS), Budidaya Tanaman Tahunan (BTT), dan Pemukiman.
V. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan
Pada kegiatan survey dan pemetaan sumber daya lahan, SIG dimanfaatkan untuk pembuatan peta satuan lahan homogen (SLH) yang disusun berdasarkan operasi tumpang tindih (overlay) dua atau lebih peta. Kegiatan overlay yang dilakukan pada saat praktikum menghasilkan peta fungsi kawasan hasil yang diberi perlakuan intersect antara sebuah tema/polygon dengan tema lainnya.
B. Saran
Alangkah baiknya praktikum dilaksanakan lebih teratur dan dilaksanakan pada waktu yang tepat. Sehingga praktikan dapat datang dan menyelesaikan praktikum dengan baik.
Danoedoro, P. 1996. Pengolahan Citra Digital Teori dan Aplikasinya dalam Bidang Penginderaan Jauh. Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Elly, M. Jafar. 2009. Sistem Informasi Geografis. Graha Ilmu. Yogyakarta.
Kadir, Abdul. 2003. Konsep dan Tuntunan Praktis Basisdata. Penerbit Andi. Yogyakarta.
Karim, Syaeful dan Djauharry Noor. 2006. Analisis Dan Perancangan Sistem Informasi Geografis Sebagai Alat Bantu Pembuat Keputusan Alokasi Industri Di Wilayah Kota Depok. Universitas Bina Nusantara. Yogyakarta.
Lillesand, Thomas M, dan Kiefer, Ralph W. 1990. Penginderaan Jauh dan Interpretasi Citra. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Paryono, Petrus. 1994. Sistem Informasi Geografis. Penerbit Andi. Yogyakarta. Permanasari, Intan. 2007. Aplikasi SIG Untuk Penyusunan Basisdata Jaringan Jalan
Di Kota Magelang. Universitas Negeri Semarang, Semarang. Prahasta, Eddy. 2002. Sistem Informasi Geografis. Informatika. Bandung.
____________. 2004. Konsep-Konsep Dasar Sistem Indormasi Geografis. Informatika. Bandung.
Purwanto, Taufik. 2004. Analisis Data Spasial. Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Ramakhrisnan, Johannes, Raghu and Gehrke. 2000. Database Management Systems. McGraw-Hill. Singapore.
Yousman, Yeyep. 2004. Sistem Informasi Geografis dengan ArcView3.3 Professional. Andi Offset. Yogyakarta.
Yuliadji RW, Suryono GF, Ruben A. 1994. Aplikasi SIG untuk Pemetaan Informasi Pembangunan. Gramedia. Jakarta.
I. PENDAHULUAN
Peta tematik (juga disebut sebagai peta statistik atau peta tujuan khusus) menyajikan patron penggunaan ruangan pada tempat tertentu sesuai dengan tema tertentu. Berbeda dengan peta rujukan yang memperlihatkan pengkhususan geografi (hutan, jalan, perbatasan administratif), peta-peta tematik lebih menekankan variasi penggunaan ruangan daripada sebuah jumlah atau lebih dari distribusi geografis. Distribusi ini bisa saja merupakan fenomena fisikal seperti iklim atau ciri-ciri khas manusia seperti kepadatan penduduk atau permasalahan kesehatan.
Peta tematik adalah peta yang menyajikan informasi tentang suatu tema atau maksud tertentu, dalam kaitannya dengan unsur topografi yang spesifik sesuai tema peta. Detail topografi pada peta tematik diambil dari peta dasar. Tema peta dapat diketahui dari judul petanya, sehingga dengan membaca judul peta dapat diketahui tema atau informasi pokok apa yang tersaji dalam peta tersebut. Suatu peta dapat terdiri dari satu tema (peta analisis), misalnya peta tanah, peta geologi, peta kelas lereng; atau dapat terdiri dari dua tema atau lebih yang mempunyai kaitan atau relevansi (peta multi-tema), misalnya peta areal HPH yang berisi informasi tentang batas areal HPH, nama HPH serta batas-batas fungsi hutan. Peta sintesis adalah peta hasil perpaduan beberapa peta tematik, yang setelah diadakan skoring berubah menjadi peta dengan tema baru, misalnya peta TGHK yang merupakan perpaduan dari peta tanah, peta kelas lereng dan peta curah hujan.
Peta tematik tentatif yaitu peta tematik sementara yang masih perlu dilakukan penelitian terestrial untuk menjadikannya peta tematik akhir. Peta tematik tentatif
baru mengalami proses pengeplottan data ke peta dasar. Peta tematik (final thematic map) yaitu peta yang dibuat dan didesain untuk menggambarkan kenampakan- kenampakan atau konsep-konsep khusus. Peta tematik berupa data tematik kemudian diletakkan atau diplotkan ke peta dasar (RBI). Peta tematik akhir sudah mengedepankan informasi khusus atau bertema sehingga penekanannya pada tema khususnya.
B. Tujuan Praktikum
Menampilkan (layout) pada dalam format cetak yang benar misalnya dalam skala peta 1: 50.000.
C. Manfaat