BAB III METODE PENYELESAIAN HADIS KONTRADIKTIF
D. Cara Memahami Hadis-Hadis Yang Kontradiktif
bertentangan dengan akal, hadis yang bertentangan dengan ijmak, hadis yang bertentangan dengan fakta dan juga hadis yang bertentangan di bagian awal dan akhirnya.16
3. Kelompok Ulama yang Moderat
Selain itu juga terdapat ulama yang moderat dalam menyikapi kontradiksi hadis. Kelompok ulama ini berpendapat bahwa kontradiksi hadis hanya meliputi tiga jenis kontradiksi saja; yakni kontradiksi hadis dengan Al-Qur’an, kontradiksi hadis dengan hadis yang serupa dan kontradiksi hadis dengan akal.
Sebagian orang yang tidak mengetahui disiplin ilmu ini, secara tidak sopan mengatakan dan menilai hadis-hadis yang terlihat bertentangan dengan ayat Al-Qur’an itu tidak ṣaḥīḥ bahkan menilainya mauḍū‘ (palsu).
Oleh karena itu Imam al-Nawawī dan Imam al-Shuyūṭī menekankan betapa pentingnya disiplin ilmu mukhtalif al-Ḥadīts dalam ilmu hadis.
Ilmu ini adalah disiplin ilmu yang sangat penting dalam ranah kajian ilmu hadis. Semua ulama mengharuskan untuk mengetahui ilmu ini dari beberapa sisi. Permasalahan dalam mukhtalif al-Ḥadīts hanya bisa diselesaikan oleh para imam hadis yang berhasil mengkompromikan antara hadis dan fiqh, serta para ulama ushul al-Fiqh yang menyelami makna-makna lafadh hadis secara mendalam.17
D. Cara Memahami Hadis-Hadis Yang Kontradiktif
Secara umum hadis-hadis yang saling bertentangan bisa dipahami dengan dua cara, sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam al-Nawawī di dalam kitabnya Taqrīb wa Taysīr li Ma‘rifah Sunan Bashīr al-Nadhīr, yaitu; pertama, bisa dikompromikan antara dua hadis yang saling
16 Ali Mustafa Yaqub, Cara Benar Memahami Hadis, 189.
17 Jalāl al-dīn al-Shuyūṭī, Tadrīb al-Rāwī fī Sharḥ Taqrīb al-Nawawī (Beirut:
Dār al-Kutub al-‘Ilmiyah, 2009), 411.
bertentangan, sehingga status dari keduanya jelas dan wajib diamalkan keduanya. Kedua, tidak mungkin bisa dikompromikan antara keduanya karena alasan yang lain. Jika bisa diketahui salah satunya adalah hadis yang nāsikh, maka hadis ini yang lebih diutamakan. Dan jika tidak diketahui, maka mengamalkan hadis yang rājiḥ (unggul) setelah mentarjīḥnya dengan melihat sifat-sifat rawinya dan keunggulan mereka dalam lima puluh bidang tarjīḥ (kualifikasi) yang lebih diutamakan.18
Oleh karena itu cara memahami dua hadis yang kontradiksi ada dua cara; pertama,dengan mengompromikan dua hadis tersebut, artinya masing-masing dari dua hadis itu diamalkan. Kedua, dengan cara nasakh apabila bisa diketahui histori hadis antara yang mutaqaddim (pertama) dan muta’akhir (kedua). Maka hal ini, al-muta’akhir menasakh (menghapus pemberlakuan hukum) al-mutaqaddim. Namun, jika cara nasakh ini tidak bisa dilakukan, maka gunakan cara yang ketiga yaitu dengan mentarjīḥ (mengkualifikasi) salah satunya melalui sebuah tahapan-tahapan tarjīḥ yang menurut Imam Ḥazimī dalam kitabnya al-I‘tibār fī al-Nāsikh wa al-Mansūkh min al-Atsar, jumlahnya mencapai lima puluh tahapan.19
Apabila ditemukan hadis yang kontradiksi dengan Al-Qur’an dan masih bisa dikompromikan keduanya, maka amalkan hadis dari hasil yang sudah dikompromikan. Tetapi jika tidak bisa dikompromikan, maka gunakan metode nasakh (penghapusan hukum sebelumnya). Artinya, adakalanya menasakh hadis dengan Al-Qur’an atau Al-Qur’an dengan hadis. Hal ini menurut kalangan yang membolehkan adanya nasakh pada dalil-dalil tersebut, sehingga tidak perlu menggunakan metode tarjīḥ
18 Muḥyi al-dīn b. Sharaf al-Nawawī, al-Taqrīb wa al-Taysīr li al-Ma‘rifah Sunan al-Bashīr al-Nadhīr (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Arabi, 1985), 90.
19 Ali Mustafa Yaqub, Cara Benar Memahami Hadis, 192-93.
53
(kualifikasi) dalam keadaan ini. Karena tidak boleh mentarjīḥ hadis atas al-Kitab atau Al-Qur’an, sebab kedudukan Al-Qur’an lebih tinggi daripada hadis.
Adapun jika ada hadis yang terkesan bertentangan dengan akal, maka kemungkinan akal tidak mampu menjangkau pemahaman hadis tersebut, karena pemahaman logika terhadap hadis relatif. Jika seseorang tidak mampu memahami makna hadis, maka sebaiknya ia bertanya kepada orang yang lebih mumpuni dalam pemahaman hadis. Atau wajib baginya untuk membaca buku-buku karya ulama yang mu‘tabar (terkenal), sehingga bisa mendapatkan pemhaman hadis yang baik dan utuh.
Seseorang tidak boleh lancang menghukumi suatu hadis itu tidak ṣahīh atau palsu lantaran tidak memahami maksud hadis atau dengan dalih bahwa hadis tersebut kontradiksi dengan akal.20
Ketika tiga cara di atas sudah dilakukan untuk memahami hadis, tetapi masih belum menemukan titik terang maka bisa menggunakan cara yang keempat yakni al-Tawaqquf (penundaan). Cara ini menjadi alternatif di saat dua hadis yang kontradiktif tidak dapat dikompromikan, tidak dapat dinasakh dan tidak dapat ditarjīḥ. Oleh karena itu hadis tersebut ditunda, dihentikan, ditinggalkan bahkan tidak diamalkan. Hadis mutawaqqaf fīh ini kasusnya hampir sama dengan hadis muḍṭarib, yaitu ketika dua hadis yang kontradikif tidak dapat ditarjīḥ. Akan tetapi hadis muḍṭarib lebih umum dibandingkan mutawaqqaf fīh. Hal ini karena hadis muḍṭarib bisa terjadi di matan dan sanad sekaligus baik pada hadis ṣahīh, hasan dan ḍa‘īf. Sedangkan mutawaqqaf fīh hanya terjadi pada matan dan sanad hadis yang maqbūl.21
20 Ali Mustafa Yaqub, Cara Benar Memahami Hadis, 194.
21 Abdul Majid Khon, Takhrij dan Metode Memahami Hadis, (Jakarta:
AMZAH, 2014), 205.
Kemudian cara terakhir yang cukup sesuai dengan perkembangan zaman dan ilmu pengetahuan hari ini adalah dengan cara ta’wil (hermeneutik). Cara ini menjadi alternatif untuk menyelesaikan hadis-hadis yang tampak bertentangan. Sebagai contoh adalah hadis-hadis mengenai lalat. Hadis ini dinilai bertentangan dengan teori ilmu pengetahuan dan kesehatan. Karena lalat adalah serangga yang menjijikkan dan bisa menimbulkan penyakit. Lalu bagaimana mungkin, hewan yang menjijikkan itu bisa menjadi obat penawar ketika dia menghinggapi air minum lalu seluruh tubuhnya dicelupkan sebagai obat penawar sebagaimana yang dianjurkan Rasulullah Saw. di dalam sabdanya.
ِﱐَﺮَـﺒْﺧَأ َلﺎَﻗ ٍﻢِﻠْﺴُﻣ ُﻦْﺑ ُﺔَﺒْﺘُﻋ ِﲏَﺛﱠﺪَﺣ َلﺎَﻗ ٍل َﻼِﺑ ُﻦْﺑ ُنﺎَﻤْﻴَﻠُﺳ ﺎَﻨَـﺛﱠﺪَﺣ ٍﺪَﻠَْﳐ ُﻦْﺑ ُﺪِﻟﺎَﺧ ﺎَﻨَـﺛﱠﺪَﺣ ﱠﻠﻟا ﻰﱠﻠَﺻ ﱡِﱯﱠﻨﻟا َلﺎَﻗ ُلﻮُﻘَـﻳ ُﻪْﻨَﻋ ُﻪﱠﻠﻟا َﻲِﺿَر َةَﺮْـﻳَﺮُﻫ ﺎَﺑَأ ُﺖْﻌَِﲰ َلﺎَﻗ ٍْﲔَـﻨُﺣ ُﻦْﺑ ُﺪْﻴَـﺒُﻋ َﻢﱠﻠَﺳَو ِﻪْﻴَﻠَﻋ ُﻪ
ُْﻷاَو ًءاَد ِﻪْﻴَﺣﺎَﻨَﺟ ىَﺪْﺣِإ ِﰲ ﱠنِﺈَﻓ ُﻪْﻋِﺰْﻨَـﻴِﻟ ﱠُﰒ ُﻪْﺴِﻤْﻐَـﻴْﻠَـﻓ ْﻢُﻛِﺪَﺣَأ ِباَﺮَﺷ ِﰲ ُبﺎَﺑﱡﺬﻟا َﻊَﻗَو اَذِإ ىَﺮْﺧ
ًءﺎَﻔِﺷ .
22Telah bercerita kepada kami Khālid bin Makhlad telah menceritakan kepada kami Sulaymān bin Bilāl berkata; telah bercerita kepadaku
‘Utbah bin Muslim berkata; telah mengabarkan kepadaku ‘Ubayd bin Ḥunayn berkata; saya mendengar Abu Hurayrah Ra. berkata; Nabi Saw.
bersabda, "Jika ada seekor lalat yang terjatuh pada minuman kalian maka tenggelamkan kemudian angkatlah, karena pada satu sayapnya penyakit dan sayap lainnya terdapat obatnya”.
Melihat hadis ini, sebagian manusia ada yang mempertanyakan apakah mungkin lalat yang identik dengan hewan yang menjijikkan bisa dijadikan obat jika hinggap di makanan atau minuman lalu manusia bisa dengan mudah mengkonsumsinya. Mereka lupa bahwa jika manusia dihadapkan dalam kondisi darurat, terjebak di gurun pasir yang tandus dan tidak ada minuman kecuali hanya segelas air yang dihinggapi lalat.
22 Muḥammad b. Ismāīl al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, III/1206.
55
Saat dihadapkan dengan kondisi yang demikian, manusia mempertaruhkan dua resiko yang mesti diambilnya. Resiko menanggung lapar dan haus yang bisa mencelakakan diri sendiri atau resiko dengan membiarkan lalat yang mengandung banyak virus dan bakteri hinggap di minuman tersebut. oleh karena itu hadis Nabi Muhammad Saw.
memberikan isyarat untuk membenamkan seluruh bagian tubuh lalat, sekaligus untuk mencegah bakteri yang dibawa oleh lalat itu terkontaminasi di dalam minuman karena bagian sayap lalat yang lainnya berguna sebagai penawar virus.23
Kemudian beberapa ilmuwan di universitas Malik Abdul Aziz Arab Saudi dan di Mesir mengadakan penelitian untuk membuktikan kebenaran sabda Nabi Muhammad Saw. tersebut. Mereka membuat minuman yang dimasukkan di dalam beberapa bejana, di dalamnya terdapat beberapa minuman yang terdiri dari air, madu dan jus. Minuman tersebut dibiarkan terbuka dan dihinggapi lalat. Setelah lalat hinggap di minuman tersebut, lalu dilakukan perbandingan antara minuman yang lalat dibenamkan ke dalam minuman tersebut dengan minuman yang lalat nya tidak dibenamkan hanya dibiarkan hinggap. Setelah diamati dengan mikroskop, maka diperoleh hasil bahwa minuman yang dihinggapi lalat dan tidak dibenamkan ke dalamnya, dipenuhi oleh banyak kuman dan bakteri sedangkan minuman yang dihinggapi lalat, lalu dibenamkan kedalamnya, justru tidak dijumpai sedikitpun kuman dan bakteri.24 Fakta ini menunjukkan adanya kebenaran ilmiah dari sabda nabi yang bisa dijadikan landasan untuk memahami hadis-hadis nabi yang sekiranya
23 Zaghlūl Rāghib Muḥammad Najjār, I’jāz ‘Ilmī fi Sunnah al-Nabawiyah (Giza: Dār Nahḍah Miṣr, 2012), 405.
24 Zaghlūl Rāghib Muḥammad Najjār, I’jāz ‘Ilmī fi Sunnah al-Nabawiyah, 408.
terlihat bertentangan dengan ilmu pengetahuan modern atau ilmu kesehatan dan sebagainya.