BAB III METODE PENYELESAIAN HADIS KONTRADIKTIF
H. Sandaran Ilmu Ma‘ānī al-Ḥadīts
4. Hermeneutik (‘Ilm Fahm)
4. Hermeneutik (‘Ilm Fahm)
Model pendekatan hermeneutika menjadi salah satu alternatif dalam kajian hadis di era kontemporer ini, disebabkan model pemahaman hadis yang digunakan oleh sebagian pengkaji hadis masih cendrung tekstualis-literalis yang dianggap kurang memadai untuk menjawab tantangan zaman. Konsekuensi dari model hermeneutika dalam memahami hadis, tidak hanya mengandalkan perangkat keilmuan terdahulu seperti, ilmu nahwu-sharaf, balaghah, ushul fiqh dan sebagainya tetapi dibutuhkan ilmu-ilmu kontemporer seperti teori sosiologi, antropologi, filsafat ilmu, sejarah dan lain sebagainya. Oleh karena itu paradigma antara disiplin keilmuan dalam penafsiran menjadi suatu hal yang niscaya.
Pendekatan hermeneutika yang dikembangkan oleh para peminat studi hadis kontemporer sangat beragam. Keberagaman ini muncul bukan hanya karena semakin terbukanya umat Islam terhadap gagasan-gagasan yang berasal dari luar seperti isu mengenai gender, HAM, demokrasi, civil society, pluralisme, konstruksi sosial dan sebagainya. Namun juga karena adanya dinamika dan kesadaran dari mereka akan kekurangan-kekurangan metode dan pendekatan yang ada selama ini.
Dengan kentalnya nuansa hermeneutik, maka peran teks, pengarang dan pembaca menjadi berimbang, sehingga kesewenang-wenangan dalam memahami hadis dan pemaksaan penafsiran terhadap makna suatu hadis bisa dihindari. Dengan demikian, otoritarianisme pemahaman hadis bisa dieliminasi dan produk-produk pemikiran keislaman yang berbasis pada teks hadis menjadi lebih otoritatif, tidak otoriter dan despotik. Hal ini bisa memberikan perkembangan pemahaman yang lebih luas, karena di sana masih ada ruang diskusi dan dialog untuk menerima kritik demi mencari
kemungkinan makna-makna baru yang lebih relevan, aktual, dan kontekstual dengan era kekinian.44
Dalam buku Ilmu Ma’anil Hadis, Abdul Mustaqim membagi tipologi paradigma pemahaman hadis kepada tiga varian: Pertama, paradigma normatif-tekstual. Kelompok ini memandang hadis sebagai teks yang sakral dan memahaminya harus sebagaimana adanya, sesuai dengan lafaz yang termuat di dalam nas hadis tersebut. Oleh karena itu, usaha untuk memahami teks hadis di luar dari zahir nasnya tidak bisa diterima dan dianggap tidak valid. Disamping itu, kelompok ini juga tidak mau menerima majāz dan ta’wīl sehingga hadis mesti dipahami sebagaimana yang tertera di teks hadis. Dalam sejarah studi hadis, golongan ini dikenal dengan ahl al-hashwī yang berkoalisi dengan ahl al-ḥadīs, selain itu golongan ini juga dianggap berlawanan dengan ahl al-ra’yī. Salah satu tokoh sahabat yang tergolong dalam kelompok ini adalah ‘Abdullāh bin
‘Umar. Setelah itu muncul nama Dāwud al-Ẓāhirī dan Ibn Ḥazm. Mereka menilai hadis sebagai teks baku yang berlaku dalam segala ruang dan waktu. Di zaman sekarang, tipologi pemahaman seperti ini dianut oleh kaum salafi-wahabi dan juga jamā‘ah tablīgh. Mereka tidak mau menerima model-model pemahaman kontekstual, karena pemahaman kontekstual dianggap sebagai upaya untuk mengutak-atik makna hadis sesuai kehendak sendiri.
Kedua, paradigma historis-kontekstual. Kelompok ini memandang hadis lebih moderat. Mereka tidak buru-buru menolak atau menerima suatu hadis sebelum melakukan telaah dan kajian yang seksama. Karena terkadang nabi menyampaikan hadis secara metaforis, sehingga perlu
44 Abdul Mustaqim, Ilmu Ma’anil Hadis: Paradigma Interkoneksi Berbagai Metode dan Pendekatan dalam Memahami Hadis Nabi, 18.
71
dipahami secara simbolik juga. Selain itu hadis yang berbahasa Arab juga banyak mengandung kata-kata yang bermakna majaz. Demikian juga hadis yang bernuansa ilmiah. Jika hadis tersebut bisa dijelaskan secara ilmiah, maka hadis yang sebelumnya diragukan kebenarannya secara ilmiah bisa diperkuat dengan bukti-bukti ilmiah yang ada. Oleh karena itu, setidaknya ada tiga metodologi yang digunakan kelompok ini untuk mencapai pemahaman yang mereka maksud. Pertama, melakukan kajian historis, melalui kajian kritis terhadap aspek sanad dan matannya. Kedua, melakukan kajian bahasa linguistik dengan memperhatikan aspek semantis, struktur linguistik termasuk juga aspek majāznya. Ketiga, melakukan kajian hermeneutis melalui usaha menginterkoneksikan hadis dengan disiplin ilmu yang lain seperti kedokteran, sosial, geografi dan sebagainya. Hasilnya, jika hadis tersebut ada korelasi dan terbukti secara ilmiah maka hadis tersebut valid secara historis dan ilmiah sehingga bisa diamalkan. Akan tetapi jika belum ditemukan koherensi, baik dari segi historis, linguistik ataupun ilmiah. Maka untuk sementara hadis tersebut dimauqūfkan (dihentikan statusnya untuk diamalkan) sampai ditemukan bukti ilmiah yang bisa mendukung pengamalan hadis tersebut sebagai informasi yang valid.
Ketiga, paradigma rejeksionis-liberal. Kelompok ini cenderung menolak hadis-hadis yang bertolak belakang dengan logika mereka dan tidak masuk akal. Salah satunya adalah hadis medis mengenai sayap lalat sebagai obat penawar. Salah satu tokohnya adalah Maḥmūd Abū Rayyā, ia menolak hadis tersebut dan tidak mempercayainya. Bahkan ia mengkritik Abū Hurayrah Ra. perawi hadis tersebut dan mengatakan hafalan Abu Hurayrah tidak bisa dipercaya. Begitu juga dengan Muḥammad Tawfīq Ṣidqi, ia menuding hadis tentang lalat itu
bertentangan dengan akal dan teori medis. Bagaimana mungkin hewan yang menjijikkan dan penyebar kuman itu bisa dijadikan obat penawar jika ditenggelamkan ke dalam air sebagaimana perintah nabi di dalam hadis. Demikian kira-kira keraguan dan penolakan Tawfīq Ṣidqi terhadap kebenaran hadis tentang lalat tersebut.45
45 Abdul Mustaqim, Ilmu Ma’anil Hadis: Paradigma Interkoneksi Berbagai Metode dan Pendekatan dalam Memahami Hadis Nabi, 28-32.
BAB IV
MENILIK EGALISASI SISI KONTRADIKTIF HADIS PEMBATASAN SOSIAL DAN KEUTAMAAN INTERAKSI
SOSIAL
Virus corona yang tersebar hari ini adalah musuh tak tampak secara kasat mata. Manusia seolah-olah berperang dengan musuh misterius yang tidak terdeteksi oleh panca indera. Musuh ini bisa saja datang secara tiba-tiba dan tidak terduga. Orang yang terpapar virus ini kadang tidak menunjukkan gejala apapun, sehingga membuat manusia khawatir dan was-was untuk saling melakukan interaksi sosial bahkan dengan orang yang terlihat sehat sekalipun.1
Keadaan seperti ini pernah terjadi di zaman Rasulullah Saw. dengan diversifikasi yang berbeda, sehingga menimbulkan korban jiwa yang cukup banyak termasuk para sahabat. Oleh karena itu Rasulullah Saw.
mengeluarkan sabda-sabda yang berkaitan dengan penyakit menular.
Namun, pada kesempatan yang lain Rasulullah Saw. melalui hadisnya juga menyampaikan beberapa keutamaan menjalin interaksi sosial. Maka dalam hal ini terjadi kontradiksi antara anjuran untuk menghindar dari penyakit menular dan keutamaan interaksi sosial yang notabenenya tidak bisa dilakukan saat wabah penyakit menular sedang terjadi.
1 Mukti Ali Qusyairi dan Roland Gunawan, Teologi Wabah Memahami dan Menyikapi Wabah Corona (Bekasi: Islam Damai Publishing, 2020), 125.
A. Hadis-Hadis Pembatasan Sosial dan Keutamaan Interaksi Sosial Serta Kualitasnya
1. Hadis Tentang Pembatasan Sosial
Hadis-hadis mengenai pembatasan sosial tercantum dalam beberapa kitab hadis. Dalam kesempatan ini saya mencantumkan tiga butir hadis dengan redaksi yang tidak jauh berbeda. Dalam riwayat Muslim dari jalur
‘Abdurrahmān bin ‘Auf dan riwayat Bukhārī dari jalur Usāmah bin Zayd mempunyai redaksi yang sama. Adapun dari riwayat Aḥmad melalui jalur Usāmah bin Zayd mempunyai sedikit perbedaan. Pada riwayat Bukhārī dan Muslim menggunakan lafaz falā taqdumū ‘alayh, sedangkan dalam riwayat Aḥmad menggunakan lafaz falā tadkhulū ‘alayh. Semua hadis ini berbicara tentang anjuran untuk tidak mendatangi negeri yang sedang terpapar wabah dan larangan untuk melarikan diri dari negeri yang sedang terjangkit wabah, sedangkan dirinya sedang berada di negeri tersebut.
Dalam hadis riwayat Muslim dijabarkan secara gamblang sabab al-Īrad hadis tersebut. berikut redaksi lengkap hadis-hadis tentang pembatasan sosial:
Redaksi dalam Ṣaḥīḥ Muslim
a
2 Muslim b. Ḥajjāj, Ṣaḥīḥ Muslim (Kairo: Dār al-Ḥadīth, 2010 M), 720-1. Selain di kitab Ṣaḥīḥ Muslim, penulis juga menemukan hadis serupa di: Aḥmad b. Ḥanbal
al-74
Telah menceritakan kepada kami Yaḥyā bin Yaḥyā al-Tamīmī dia berkata; Aku membaca Hadis Mālik dari Ibn Shihāb dari ‘Abd al-Ḥamīd bin ‘Abd al-Raḥmān bin Zayd bin al-Khaṭṭāb dari ‘Abdullah bin
‘Abdullah bin al-Ḥārits bin Nawfal dari ‘Abdullah bin ‘Abbās bahwa Pada suatu ketika ‘Umar bin Khaṭṭāb pergi ke Syam. Tiba-tiba datang
‘Abd al-Raḥmān bin ‘Auf yang sejak tadi belum hadir karena suatu urusan. Kemudian ia berkata; Aku mengerti masalah ini. Aku mendengar Rasulullah Saw. bersabda, Apabila kamu mendengar wabah berjangkit di suatu negeri, janganlah kamu datangi negeri itu. Dan apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, maka janganlah keluar dari negeri itu karena hendak melarikan diri. Ibn ‘Abbās berkata;
‘Umar bin Khaṭṭāb lalu mengucapkan puji syukur kepada Allah, setelah itu dia pergi.
Kronologi kisah ini tercantum dalam hadis Muslim, selain itu al-Nawawī juga menjelaskan dalam kitabnya al-Minhāj Sharḥ Muslim.
Disebutkan dalam riwayat, ketika khalifah Umar hendak menuju negeri Syam dan sampai di wilayah Sargh (sebuah perkampungan yang terletak di pinggiran Syam dan berbatasan dengan Ḥijāz) beliau mendengar kabar ada wabah yang sedang terjadi di negeri Syam. Lalu beliau mengajak kaum muhajirin, anshar dan sesepuh Quraysh untuk bermusyawarah demi memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Syam atau kembali pulang ke Madinah. Sebagian besar mereka menganjurkan untuk kembali ke Madinah dan tidak melanjutkan perjalanan, namun ada juga sekelompok orang yang tidak setuju dengan anjuran tersebut dan menyarankan untuk Shaybānī, Musnad Aḥmad (Beirut: Muassasah al-Risālah, 2001), III/214. Aḥmad b.
‘Amr al-Bazzār, Musnad al-Bazzār (Madinah: Maktabah al-‘Ulūm wa al-Ḥikam, 1988), III/204-205. Abū Dāwud Sijistānī, Sunan Abī Dāwud (Beirut: Dār Kutub
al-‘Ilmiyah, 2015), 501. Muhammad b. Ismā‘īl al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī (Kairo: Dār al-Taufīqiyyah li al-Turāth, 2012), IV/21. Sulaymān b. Aḥmad al-Ṭabarānī, al-Mu‘jam al-Kabīr (Mosul : Maktabah al-‘Ulūm wa al-Hikam, 1983), I/130. Muhammad Ibn Ḥibbān, Ṣaḥīḥ Ibn Ḥibbān (Beirut: Muassasah al-Risālah, 1993), VII/ 218. Aḥmad b.
Ḥusayn al-Bayhaqī, Sunan al-Bayhaqī al-Kubrā (Makkah: Maktabah Dār al-Bāz, 1994), III/376. ‘Abd Razzāq Ṣan‘ānī, Muṣannaf ‘Abd Razzāq (Beirut: Maktab al-Islāmī, 1983), XI/147. Abū Ya‘lā Al-Mawṣilī, Musnad Abī Ya‘lā, Kairo: Dār al-Ḥadīth, 2013), II/157-158.
tetap bertahan dan melanjutkan perjalanan. Khalifah Umar lebih memilih pendapat mayoritas dan memutuskan untuk pulang kembali ke Madinah.
Akan tetapi, Abū ‘Ubaydah bin Jarrāḥ menyangsikan keputusan Umar.
“mengapa engkau melarikan diri dari ketetapan Allah wahai khalifah?”
ujarnya. Lalu Umar menjawab bahwa apa yang dilakukannya bukanlah melarikan diri dari ketetapan Allah, tetapi berpindah kepada ketentuan Allah yang lainnya sambil memberikan analogi seekor unta yang dikembalakan di tempat tandus atau subur juga merupakan ketentuan Allah. Setelah dialog itu, akhirnya datanglah ‘Abdurrahmān bin ‘Auf menyampaikan sabda nabi bahwa Rasulullah Saw. melarang seseorang untuk memasuki wilayah yang sedang terkena wabah, begitupun orang-orang yang berada di dalam wilayah yang terkena wabah dilarang untuk pergi meninggalkan negerinya. Sabda Rasulullah Saw. yang disampaikan melalui lisan ‘Abdurrahman bin Auf ini membuat Umar semakin yakin untuk kembali ke Madinah dan tidak melakukan interaksi dengan orang-orang yang sedang terkena penyakit menular.3
Redaksi dalam Ṣaḥīḥ Bukhārī
b
ِﰊَأ ْﻦَﻋَو ِرِﺪَﻜْﻨُﻤْﻟا ِﻦْﺑ ِﺪﱠﻤَُﳏ ْﻦَﻋ ٌﻚِﻟﺎَﻣ ِﲏَﺛﱠﺪَﺣ َلﺎَﻗ ِﻪﱠﻠﻟا ِﺪْﺒَﻋ ُﻦْﺑ ِﺰﻳِﺰَﻌْﻟا ُﺪْﺒَﻋ ﺎَﻨَـﺛﱠﺪَﺣ
(ُﻪَﻌَِﲰ ُﻪﱠﻧَأ ِﻪﻴِﺑَأ ْﻦَﻋ ٍصﺎﱠﻗَو ِﰊَأ ِﻦْﺑ ِﺪْﻌَﺳ ِﻦْﺑ ِﺮِﻣﺎَﻋ ْﻦَﻋ ِﻪﱠﻠﻟا ِﺪْﻴَـﺒُﻋ ِﻦْﺑ َﺮَﻤُﻋ َﱃْﻮَﻣ ِﺮْﻀﱠﻨﻟا َﺳُأ ُلَﺄْﺴَﻳ ِﻪﱠﻠﻟا ِلﻮُﺳَر ْﻦِﻣ َﺖْﻌَِﲰ اَذﺎَﻣ ٍﺪْﻳَز َﻦْﺑ َﺔَﻣﺎ
َلﺎَﻗ ُﺔَﻣﺎَﺳُأ َلﺎَﻘَـﻓ ِنﻮُﻋﺎﱠﻄﻟا ِﰲ
ِﻪﱠﻠﻟا ُلﻮُﺳَر َنﺎَﻛ ْﻦَﻣ ﻰَﻠَﻋ ْوَأ َﻞﻴِﺋاَﺮْﺳِإ ِﲏَﺑ ْﻦِﻣ ٍﺔَﻔِﺋﺎَﻃ ﻰَﻠَﻋ َﻞِﺳْرُأ ٌﺲْﺟِر ُنﻮُﻋﺎﱠﻄﻟا
ْﻢُﻜَﻠْـﺒَـﻗ َـﺗ َﻼَﻓ ٍضْرَﺄِﺑ ِﻪِﺑ ْﻢُﺘْﻌِﻤَﺳ اَذِﺈَﻓ َﻼَﻓ ﺎَﻬِﺑ ْﻢُﺘْـﻧَأَو ٍضْرَﺄِﺑ َﻊَﻗَو اَذِإَو ِﻪْﻴَﻠَﻋ اﻮُﻣَﺪْﻘ
ُﻪْﻨِﻣ اًراَﺮِﻓ ﱠﻻِإ ْﻢُﻜْﺟِﺮْﺨُﻳ َﻻ ِﺮْﻀﱠﻨﻟا ﻮُﺑَأ َلﺎَﻗ ُﻪْﻨِﻣ اًراَﺮِﻓ اﻮُﺟُﺮْﺨَﺗ
4.
3 Yaḥyā b. Sharaf al-Nawawī, Al-Minhāj Sharḥ Ṣaḥīḥ Muslim, (Beirut: Dār Iḥyā’ al-Turāts, 1972), XIV/208-12.
4 Muhammad b. Ismā‘īl al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī (Beirut: Dār Ibn Kathīr, 1987), III/1281.
76
Telah bercerita kepada kami ‘Abd al-‘Azīz bin ‘Abdullah berkata, telah bercerita kepadaku Mālik dari Muhammad bin al Munkadir dan dari Abū al-Naḍr, maula ‘Umar bin ‘Ubaydillah dari ‘Āmir bin Sa‘d bin Abū Waqqāṣ dari bapaknya bahwa dia (‘Āmir) mendengar bapaknya bertanya kepada Usāmah bin Zayd, "Apa yang pernah kamu dengar dari Rasulullah Saw. tentang masalah ṭā‘ūn (wabah penyakit sampar, pes, lepra)?". Lalu Usāmah berkata; Rasulullah Saw. bersabda, “ṭā‘ūn adalah sejenis kotoran (siksa) yang dikirim kepada satu golongan dari Bani Israil atau kepada umat sebelum kalian. Oleh karena itu, jika kalian mendengar ada wabah tersebut di suatu wilayah janganlah kalian memasuki wilayah tersebut dan jika kalian sedang berada di wilayah yang terkena wabah tersebut janganlah kalian mengungsi darinya”. Abū al-Naḍr berkata: Janganlah kalian mengungsi darinya kecuali untuk menyelamatkan diri”.
Redaksi dalam Musnad Aḥmad bin Ḥanbal
c
Telah bercerita kepada kami Wakī‘ dari Sufyān dari Habīb bin Abī Tsābit dari Ibrāhīm bin Sa‘d dari Sa‘d bin Mālik, Khuzaymah bin Tsābit dan Usāmah bin Zayd, mereka berkata Rasulullah Saw. bersabda: ṭā‘ūn adalah kotoran atau azab, dengannya sekelompok kaum disiksa. Jika terjadi di suatu tempat sementara kalian ada di sana maka kalian jangan keluar meninggalkannya dan apabila kalian mendengar wabah terjadi di suatu tempat maka kalian jangan mendatanginya.
2. Hadis Tentang Keutamaan Interaksi Sosial
Hadis-hadis dalam sub tema ini membicarakan tentang interaksi sosial yang biasa dilakukan oleh masyarakat. Interaksi sosial tersebut mengandung keutamaan dan memberikan manfaat kepada orang-orang
5 Aḥmad b. Ḥanbal al-Shaybānī, Musnad Aḥmad (Beirut: Muassasah al-Risālah, 2001), XXXVI/184-85.
yang mengamalkannya. Ada tiga hadis yang membahas mengenai bentuk keanekaragaman interaksi sosial yang terjadi dengan redaksi hadis yang berbeda-beda. Hadis yang diriwayatkan oleh Abū Dāwud melalui jalur al-Barā’ bin ‘Āzib Ra. Dalam hadis ini Rasulullah Saw. memberikan jaminan pengguguran dosa bagi orang-orang yang bersalaman saat mereka saling berjumpa. Kemudian hadis riwayat Ibn Mājah dari jalur
‘Abdullah bin Salām Ra., melalui hadis ini Rasullullah Saw.
menyampaikan faktor-faktor yang menghantarkan orang masuk surga, salah satunya adalah orang-orang yang menjalin ikatan silaturahmi.
Terakhir, hadis riwayat Muslim dari jalur Abū Hurayrah Ra. Dalam hadis ini Rasulullah Saw. memberitahukan bahwa orang-orang yang senang berkumpul untuk menimba ilmu dan mempelajari Al-Qur’an akan senantiasa mendapat naungan malaikat dan limpahan rahmat. Ketiga hadis ini sebagai bukti bahwa interaksi sosial adalah hal yang penting bagi manusia dalam kehidupan bermasyarakat dan sebagai sarana untuk meraih ganjaran dari Allah Swt., berikut redaksi lengkap hadis-hadis tersebut:
Redaksi dalam Sunan Abū Dāwud
a
ُﻦْﺑ ِﺮْﻜَﺑ ﻮُﺑَأ ﺎَﻨَـﺛﱠﺪَﺣ
(َﻖَﺤْﺳِإ ِﰊَأ ْﻦَﻋ ِﺢَﻠْﺟَْﻷا ْﻦَﻋ ٍْﲑَُﳕ ُﻦْﺑاَو ٍﺪِﻟﺎَﺧ ﻮُﺑَأ ﺎَﻨَـﺛﱠﺪَﺣ َﺔَﺒْﻴَﺷ ِﰊَأ
َلﺎَﻗ ِءاَﺮَـﺒْﻟا ْﻦَﻋ ِﻪﱠﻠﻟا ُلﻮُﺳَر َلﺎَﻗ :
َﺮِﻔُﻏ ﱠﻻِإ ِنﺎَﺤَﻓﺎَﺼَﺘَﻴَـﻓ ِنﺎَﻴِﻘَﺘْﻠَـﻳ ِﻦْﻴَﻤِﻠْﺴُﻣ ْﻦِﻣ ﺎَﻣ
ﺎَﻗِﺮَﺘْﻔَـﻳ ْنَأ َﻞْﺒَـﻗ ﺎَﻤُﻬَﻟ .
6
6 Abū Dāwud al-Sijistānī, Sunan Abī Dāwud (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyah, 2015), 812. Hadis serupa juga penulis temukan di kitab: Aḥmad b. Ḥusayn al-Bayhaqī, Sunan al-Kubrā li al-Bayhaqī (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyah, 2003), VII/160.
Muḥammad b. Yazīd al-Qazwaynī, Sunan Ibn Mājah (Kairo: Dār al-Ḥadīts, 2010), III/308. ‘Abdullah b. Abī Shaybah, Muṣannaf bin Abī Shaybah (Riyadh: Maktabah al-Rushd, 1988), V/246. Aḥmad b. Ḥanbal al-Shaybānī, Musnad Aḥmad (Beirut:
Muassasah Risālah, 2001), XXX/517. Muḥammad b. ‘Īsā Tirmidhī, Sunan al-Tirmidhī (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyah, 2011), 641.
78
Telah menceritakan kepada kami Abū Bakr bin Abī Shaybah berkata, telah menceritakan kepada kami Abū Khālid dan Ibn Numayr dari al Ajlaḥ dari Abū Isḥaq dari Al Barā’ ia berkata, "Rasulullah Saw.
bersabda,“Tidaklah dua orang muslim bertemu lalu berjabat tangan kecuali Allah akan memberi ampunan kepada keduanya sebelum mereka berpisah”.
Redaksi dalam Sunan Ibn Mājah
b
Telah menceritakan kepada kami Abū Bakr bin Abī Shaybah telah menceritakankepada kami Abū Usāmah dari ‘Auf dari Zurārah bin Awfā telah menceritakan kepadaku ‘Abdullah bin Salām dia berkata, “Tatkala Nabi Saw. tiba di Madinah, maka orang-orang bergegas menyambut kehadiran beliau dengan menyerukan, “Rasulullah Saw. datang!
Rasulullah datang! Rasulullah datang! " hingga tiga kali. Maka aku ikut berkumpul di tengah-tengah kerumunan manusia untuk melihat beliau, ketika telah jelas kupandang wajahnya, maka bisa kuketahui bahwa raut muka beliau bukanlah raut muka seorang pendusta. Ucapan pertama kali yang aku dengar dari beliau adalah, “Wahai manusia, tebarkanlah salam, berilah makan, sambunglah ikatan sillaturrahmi, shalatlah di
7 Muḥammad b. Yazīd al-Qazwaynī, Sunan Ibn Mājah (Kairo: Dār al-Ḥadīts, 2010), III/151. Hadis serupa juga penulis temukan di: al-Ḥākim al-Naysābūrī, Mustadrak
‘alā al-Ṣaḥīḥayn (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyah, 1990), VI/176. Muḥammad b. Abī Shaybah, Muṣannaf Ibn Abī Shaybah (Riyadh: Maktabah al-Rushd, 2004), XIII/30.
‘Abdullah b. Abd al-Ṣamad al-Dārimī, Sunan al-Dārimī (Arab Saudi: Dār al-Mughnī, 2000), III/720. Aḥmad b. Ḥanbal Shaybānī, Musnad Aḥmad (Beirut: Muassasah al-Risālah, 2001), XXXIX/201. Muḥammad b. Salāmah al-Qaḍā‘ī, Musnad Shihāb (Beirut:
Muassasah Risālah, 1986), I/418. Aḥmad b. ‘Abdullah Aṣbahānī, Ma‘rifah Ṣahābah lī Abī Nu‘aym (Riyadh: Dār Waṭan, 1998), III/1665. Aḥmad b. Ḥusayn al-Bayhaqī, Shu‘ab al-Īmān (Riyadh: Maktabah al-Rushd, 2003), V/57.
malam hari ketika manusia terlelap tidur, niscaya kalian masuk surga dengan selamat.”
Redaksi dalam Ṣaḥīḥ Muslim
c
Telah menceritakan kepada kami Yaḥyā bin Yaḥyā al-Tamīmī dan Abū Bakr bin Abī Shaybah dan Muḥammad bin al ‘Alā’ al-Hamdānī (dan lafaz ini milik Yaḥyā) dia berkata; telah mengabarkan kepada kami, dan berkata yang lainnya, telah menceritakan kepada kami Abū Mu‘āwiyah dari al A‘mash dari Abū Ṣāliḥ dari Abū Hurayrah dia berkata;
Rasulullah Saw. telah bersabda, 'Barangsiapa membebaskan seorang mukmin dari suatu kesulitan dunia, maka Allah akan membebaskannya dari suatu kesulitan pada hari kiamat. Barangsiapa memberi kemudahan kepada orang yang berada dalam kesulitan, maka Allah akan memberikan kemudahan di dunia dan akhirat. Barangsiapa menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat.
Allah akan selalu menolong hamba-Nya selama hamba tersebut menolong saudaranya sesama muslim. Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan jalan ke surga
8 Muslim b. Ḥajjāj, Ṣaḥīḥ Muslim (Kairo: Dār al-Ḥadīts, 2010), 854. Penulis juga menemukan hadis serupa di: Aḥmad b. Ḥanbal al-Shaybānī, Musnad Aḥmad (Beirut: Muassasah al-Risālah, 2001), XII/393. Muḥammad b.Yazīd al-Qazwaynī, Sunan Ibn Mājah (Kairo: Dār al-Ḥadīts, 2010), I/126. Abū Dāwud al-Sijistānī, Sunan Abū Dāwud (Beirut: Dār Kutub ‘Ilmiyah, 2015), 239. ‘Abdullah Dārimī, Sunan al-Dārimī (Makkah: Dār al-Bashīr, 2013), 167.
80
baginya. Tidaklah sekelompok orang berkumpul di suatu masjid (rumah Allah) untuk membaca Al-Qur'an, melainkan mereka akan diliputi ketenangan, rahmat, dan dikelilingi para malaikat, serta Allah akan menyebut-nyebut mereka pada malaikat-malaikat yang berada di sisi-Nya. Barangsiapa yang ketinggalan amalnya, maka nasabnya tidak juga meninggikannya.
Dari hadis-hadis nabi yang membahas tentang pembatasan sosial tampak ada anjuran dari nabi kepada umatnya untuk menjauh dari wilayah yang sedang terkena wabah, bahkan mengarah kepada larangan untuk memasuki wilayah tersebut. Tidak hanya larangan untuk memasuki wilayah yang terkena wabah, tetapi juga larangan untuk melarikan diri dari wilayah yang sedang terjangkit wabah ketika orang-orangnya berada dalam wilayah tersebut. Dalam hadis Muslim yang diriwayatkan oleh
‘Abdurrahmān bin ‘Auf tampak secara nyata praktik pengamalan hadis nabi ini. Khalifah Umar bin Khattab sebagai sosok yang pertama kali menerapkan hadis tersebut.
Keputusan khalifah Umar untuk menjauh dari wilayah wabah seolah-olah terlihat sebagai bentuk pengasingan diri dari interaksi sosial dan menjauh dari kelompok masyarakat. Padahal dalam hadis lain, nabi berpesan untuk menjaga interaksi sosial sebagai upaya untuk menumbuhkan kecintaan dan tali persaudaraan. Salah satunya dengan berjabat tangan sebagaimana hadis yang disampaikan oleh Abū Dāwud riwayat dari Barā’ bin ‘Āzib. Bahwa bersalaman itu mengandung nilai ibadah yang melekat pada perbuatannya, selain itu keuntungan dari bersalaman adalah digugurkannya dosa-dosa di antara dua orang yang bersalaman. Oleh karena itu, bersalaman tidak hanya sebatas budaya atau adat yang ada di zaman Nabi Muhammad Saw., tetapi juga mengandung unsur nilai norma dan agama. Maka di saat orang saling bersalaman akan
muncul pemikiran atau niat bahwa bersalaman itu tidak hanya sekedar adat kebiasaan tetapi juga merupakan anjuran Nabi Muhammad Saw.9
Kemudian keputusan khalifah Umar seolah-olah menjadi penyebab terputusnya ikatan silaturahmi antar sesama anggota keluarga dan hubungan ukhuwah islamiyah. Orang yang menjauh dari negeri yang terjangkit wabah memang berupaya untuk menyelamatkan dirinya, tetapi hal itu bisa menjauhkan orang-orang dari perintah nabi untuk saling mendekatkan diri dan menyambung komunikasi yang selama ini terputus.
Karena hubungan silaturahmi merupakan rahmat dan kasih sayang, oleh sebab itu nabi sangat menganjurkan untuk menjaganya agar meraih keamanan dan ketentraman dalam pergaulan hidup berbangsa dan bermasyarakat.10
3. Kualitas Hadis-Hadis Pembatasan Sosial
Hadis a: Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim (w. 261 H) melalui jalur: ‘Abdurrahmān bin ‘Auf (w. 32 H) - ‘Abdullah bin ‘Abbās (w. 68 H) - ‘Abdullah bin ‘Abdullah bin al-Ḥārits bin Nawfal (w. 99 H) -
‘Abd al-Ḥamīd bin ‘Abd al-Raḥmān bin Zayd bin al-Khaṭṭāb (wafat masa kekhalifahan Hishām bin ‘Abd Mālik (105-125 H) ) - Ibn Shihāb Zuhrī (w. 125 H) - Mālik bin Anas (w. 179 H) – Yaḥyā bin Yaḥyā al-Tamīmī (w. 226 H) – Muslim bin al-Ḥajjāj (w. 261 H). Dari segi kredibilitasnya, seluruh perawi dalam hadis ini tsiqoh. Sedangkan dari ketersambungan sanadnya, saling bersambung karena mereka adalah bubungan antara guru dan murid.11 Maka bisa disimpulkan bahwa hadis
9 Radhie Munadi, “Berjabat Tangan Dalam Perspektif Hadis Nabi; Suatu Kajian Ma’ani Al-Hadis”, JURNAL USHULUDDIN, vol. 23, no. 1, (2021), 101.
10 Rahmat Syafei, Al-Hadis; Akidah, Akhlak, Sosial dan Hukum (Bandung:
Pustaka Setia, 2000), 21.
11 Aḥmad b. Ḥajar al-‘Asqalānī, Tahdhīb al-Tahdhīb (Beirut: Dār al-Fikr,
11 Aḥmad b. Ḥajar al-‘Asqalānī, Tahdhīb al-Tahdhīb (Beirut: Dār al-Fikr,