C Peran dan Fungsi Masjid Masa Khilafah Islamiyyah
E. Mengapa Masjid Kita Sepi? 240 : Melacak Akar Masalah
1. Cara Pandang Umat terhadap Hadis
Menurut identifikasi dan analisis penulis, bahwa salah satu penyebab
240 Pengertian "sepi" yang dimaksud di sini adalah jumlah jama'ah shalatnya yang sedikit dan kegiatan sosialnya yang tidak tampak kecuali hanya pengajian-pengajian agama rutin dan kegiatan insidental lainnya, seperti peringatan-peringatan hari besar Islam; Maulid Nabi SAW, Isra' Mi'raj, dan sebagainya.
241 Ahmad Sarwono, Masjid Jantung Masyarakat, Rahasia dan Manfaat Memakmurkan Masjid, (Bantul: Izzan Pustaka, 2003), hal. xx.
143
Model-Model Kesejahteraan Sosial Islam
tidak langsung tetapi cukup signifikan di antara sebab lainnya yang menjadikan masjid kita sepi adalah problem cara pandang umat Islam yang kurang benar dan tidak proporsional terhadap teks agama (isyarat hadis Nabi, sirah nabawi). Kemung- kinan besar umat hanya fokus pada hadis-hadis yang bersifat sugestis dan keakhiratan tanpa melihat kepada hadis-hadis lain yang juga sama pentingnya.
Mereka hanya sibuk membangun masjid (man bana masjidan) sebanyak-banyaknya dengan harapan mendapat imbalan berupa rumah di surga (banallah lahu bay tan fi al-jannah) tanpa memperhatikan pada aspek kebutuhan dan skala prioritas. Tidak mempertimbangkan kualitas tetapi lebih kepada kuantitas. Padahal di bab lainnya, Nabi secara tegas juga memperingatkan kepada umat untuk tidak sembarangan medirikan masjid, bahkan melarang pembangunan masjid yang tidak didasarkan atas ketaqwaan (ussisa ala al-taqwa).
Implikasi dari fenomena maraknya pembangunan masjid yang tidak pada proporsinya ini adalah justru timbulnya konflik sosial di masyarakat, karena adanya persaingan dan perlombaban membangun masjid. Bahkan yang lebih memprihatinkan, bahwa pada beberapa wilayah di Indonesia yang dikenal dengan kota seribu masjid (seperti di salah satu kota di provinsi NTB) dengan mayoritas muslim taat dan fanatik, justru sering terlihat munculnya konflik internal umat beragama. Artinya, banyaknya masjid yang dibangun yang tanpa mempertimbangkan aspek lain yang jauh lebih penting, ternyata tidak mampu menjadi peredam konflik dan perekat umat, tetapi justru sebaliknya.
Di beberapa wilayah di Jawa yang penulis sering saksikan, bahwa implikasi dari penerapan hadis yang kurang tepat tersebut, banyak umat kita yang memiliki proyek ambisius pembangunan masjid dengan modal pas-pasan dan sangat minim dana. Kenyataan yang terjadi adalah, mereka mencari dana dengan segala cara, termasuk meminta para pengguna jalan untuk rela memberi sumbangan sambil berceramah dan membacakan ayat-ayat al- Qur'an. Cara-cara seperti itu sangat memalukan Islam; ini barangkali yang disindir al-Qur'an dengan kelompok penjual agama dengan harga yang murah (wa la taystaru bi ayati tsamanan qalilan).242
242 Lihat, QS. Al-Baqarah 2:41 dan QS. Al-Maidah 5:44 Dalam Tafsir Ibn Katsir dijelaskan mereka yang menjual
ayat-144
Fungsi Masjid: Antara Realita dan Idealita Sebagai akibat dari pola pembangunan masjid yang tidak berdasarkan atas pertimbangan skala priorotas, maka yang terjadi adalah, banyaknya masjid yang bermunculan di berbagai tempat dengan dana yang dipaksakan, sehingga tidak menghasilkan suatu hasil yang diharapkan dan bahkan seringkali mengecewakan; keberadaan masjid yang megah dan mewah, banyak bertebaran di mana-mana, tetapi jama'ahnya sedikit dan sepi kegiatan sosial.
Pada tataran normatif, mari kita tengok dan buka kembali lembaran-lembaran fatwa dalam Kutub al-Tis'ah (sebuah kumpulan kitab hadis berjumlah sembilan jenis sebagai refrensi standar kajian hadis) yang mengakomodir hadis-hadis Nabi yang bernuansa futuristik dan prediktif tentang peringatan akan datangnya sebuah zaman, di mana banyak masjid didirikan dengan keindahan arsitektur dan kemegahan bangunannya, tetapi jama'ahnya tidak ada (sedikit).
"Ya'ti ala al-nas zaman, yatabahauna bi al-masajid, tsumma la ya'murunaha
ilia qalilan", "sungguh, akan datang pada umatku suatu zaman, mereka saling bermegah-megahan dengan membangun beberapa masjid, tetapi yang memakmurkannya hanya sedikit"243. Dalam bentuk yang lain, Rasul saw juga
mensinyalir: "la taqumu al-sa'ah hatta yatabaha al-nas fi al-masajid", tidak akan
terjadi hari kiamat hingga manusia saling berbagga dengan bangunan masjid mereka.244
Di sisi lain, Nabi saw tidak pernah diperintahkan (Tuhan) untuk meninggikan dan memanjangkan bangunan masjid, sabdanya: "Ma umirtu bi
tasyid al-masajid", "Aku tidak diperintahkan untuk meninggikan dan memanjangkan bangunan masjid". Tetapi justru umatnya bersikap
kebalikannya, sebagimana Ibn Abbas berkata: "Namun kalian justru akan
menghiasai masjid-masjid kalian seperti yang dilakukan oleh Yahudi dan Nasrani".245Masjid yang mereka bangun tidak didasari atas ketaqwaan
(ussisa ala al-taqwa) dan petunjuk (al-huda), sehingga meskipun kelihatannya ayat Tuhan dengan harga murah adalah mereka yang memperdagangkan ayat-ayat al-Qur'an dengan pengharapan keuntungan keduniaan semata (al-dunya) dengan penuh ambisius (al-syahawat). Lihat, Al-Hafidz Imad al-Din Abu al-Fida' Ismail ibn Katsir, Tafsir al-Qur'an al-Azim (Beirut: Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1969). 243 Ibn Hajar al-Asqalani, Fath al-Bari, bi Syarh Sahih al-Bukhari, Jilid I (Beirut: Dar al-Fikr, 1990), hal. 539-540. 244 Lihat, dalam riwayat Imam Ahmad jilid III no 145, Sunan Abi Dawud no 449, al-Nasa'i jilid II, no 32, dan Ibn
Khuzaimah no 1323. hadis tersebut merupakan hadis marfu' dari jalur Anas ra.
245 Lihat, dalam Sunan Abi Dawud, no 448, Ibn Hibban, no 1615, Tabrani, no 13003, dan Baihaqiy, no 438.
145
Model-Model Kesejahteraan Sosial Islam
megah dari luarnya, tetapi tidak banyak difungsikan secara maksimal kecuali hanya terasa kering. Kata Nabi saw: "Masajiduhum amirah wa hiya
kharabun min al-huda", Masjid-masjid dibangim dengan megah, tetapi sepi dari pelaksanaan petunjuk Allah". (HR. Baihaqi). Meskipun mereka menghias masjid, tetapi sesungguhnya telah tumbuh niat yang kurang tulus ikhlas. Kata Nabi saw: "ma sa'a amalu qaum qattun ilia zakhrafuu masaajidahum" (HR. Ibnu Majah), sekali- kali tidak buruk amal suatu kaum kecuali tatkala mereka mulai menghias masjid-masjid mereka"246