Implikasi Filsafat Konstruktivisme untuk Pemberdayaan Masyarakat
D. Islam, Konstruktivisme, dan Pemberdayaan Masyarakat
1. Implikasi pada Rekonstruksi Konsep-konsep Agama
Kenneth Gergen, seorang tokoh Constructionist Theory di bidang psikologi, mengatakan bahwa manusia memerlukan agama sebagai landasan moral dalam mengarungi kehidupan dan bermasyarakat, dan sudah menjadi kodrat alam bahwa manusia dan kehidupan masyarakat senantiasa berkembang, yang saat ini telah sampai pada era post-modern. Sementara aturan-aturan agama yang tertuang dalam kitab suci atau teks lainnya bersifat dasar dan hanya memuat hal-hal pokok. Dengan demikian dalam rangka memberi landasan moral bagi manusia yang hidup dalam masyarakat yang terus mengalami perkembangan, agama yang bersifat dasar tersebut harus diinterpretasi sehingga bisa memberi landasan praksis yang sesuai dengan zaman.
Agama yang dianggap suci atau sakral (sacred), bagi Gergen bukanlah hal yang tidak bisa disentuh, tetapi justru merupakan sebuah tantangan bagaimana membuat yang sakral tadi bisa membumi, beroperasi dalam dunia praktis. Jika tidak, maka agama akan digantikan oleh ilmu pengetahuan yang mampu memuaskan nilai-nilai netral bagi 83
Model-Model Kesejahteraan Sosial Islam
budaya modern. Oleh sebab itu agama perlu disikapi sebagai hal yang
profan dalam arti memberdayakan keberfungsiannya dalam kehidupan,
khususnya dalam perannya sebagai pemberi landasan moral.146
Dengan kata lain demi efektivitas peran agama di masyarakat yang terus berkembang dan mengalami perkembangan, perlu dilakukan
hermeneutika terhadap makna Al-Qur'an.147 Hermeneutik Al-Qur'an dilakukan, setidak-tidaknya ada dua kepentingan dalam kaitannya sebagai landasan moral, yakni bahwa ajaran-ajaran Al- Qur'an tertentu telah dimaknai sedemikian rupa oleh ulama dan umat pada masa tertentu yang pada masa sekarang tidak lagi relevan sehingga perlu ditinjau ulang, bahwa ajaran-ajaran Al- Qur'an yang bersifat dasar tersebut perlu dimaknai lebih progresif sehingga mampu menjadi landasan moral yang bersifat praksis dan mendorong kemajuan umat.
Dengan demikian pokok-pokok agama seperti teologi, hukum Islam, fikih.dan akhlak, sangat mungkin untuk dikritisi karena pada dasarnya adalah produk atau hasil konstruksi para pemikir dan ulama Islam. Seiring dengan pengkritisan ajaran agama tersebut, juga sekaligus dilakukan pemaknaan yang lebih mendukung terhadap kemajuan masyarakat. Sudah banyak kesadaran ke arah ini, misalnya rumusan ke
arah Teologi Pembangunan148, Membumi- kan Al-Qur'an149, dan
sebagainya, meskipun tentu saja terjadi pro dan kontra yang untuk itu dinasihatkan Al-Qur'an:
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah satu kaum mengolok-olok kaum yang lain, karena boleh jadi mereka yang diolok-olok itu lebih baik dibanding mereka yang mengolok-olok. Dan jangan pula wanita-wanita mengolok-olokwanita-wanitayang lain karena bolehjadi wanita-wanita yang diolok-olok tersebut lebih baik dari pada yang diolok-olok. Dan janganlah kamu saling mencela di antara dirimu sendiri (sesama mukmin) serta janganlah kalian saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah panggilan yang buruk, padahal yang dipanggil itu sudah menyatakan keimanannya. Dan barang siapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim" (Q.S. Al-Hujurat:ll)150
Al-Qur'an sendiri telah memberitahukan bahwa ajaran yang termuat
146 Gergen, K.J. Reflecting on/ with My Companions. Manuscripts. Dalam Hermans et al (eds). Social Constructionism and Theology. (Boston: Brill, 2002), hal. 2.
147 Faiz, Fahruddin. Hermeneutika Al-Qur'an. (Yogyakarta: eLSAQ Press, 2005), hal. 12. 148 M. Mashur Amin, M. (ed.). Teologi Pembangunan. (Yogyakarta: LKPSM NU DIY, 1989).
149 Shihab, Q. Membumikan Al-Qur'an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam kehidupan Masyarakat. (Bandung: Mizan, 1996). 150 Departemen Agama R.I. Al-Qur'an dan Terjemahnya. (Jakarta: Depag R.1,1990), hal. 847.
84
Implikasi Filsafat Konstruktivisme untuk Pemberdayaan Masyarakat
di dalamnya adalah sumber dan landasan moral manusia mengarungi hidup dan kehidupan.151 Disebabkan bersifat dasar, maka dilakukan penafsiran dan pemaknaan oleh para ulama untuk membumikan Al-Qur'an demi peran praksisnya. Pada wilayah tafsir ini, baik dalam kajian teologi, hukum-hukum fikih, akhlak dan lainnya, sangat berpeluang melahirkan bias-bias perbedaan disebabkan latar belakang yang berbeda baik dari sisi penafsir maupun konteks yang melingkupi pada saat penafsiran dilakukan.152 Secara nyata hal ini telah melahirkan berbagai aliran di kalangan Islam. Misalnya pada teologi, dikenal adanya aliran Qodariyah, Jabbariyah, Syiah, Mu'tazilah, Asy'ariyah, dan sebagainya, dan di kalangan fikih dikenal adanya Madzhab Syafi'i, Maliki, Hanafi, dan Hambali.
Suprayogo & Tobroni mengklasifikasi ada empat kelompok cara dan sikap orang menghadapi kitab suci:
a. Sikap legalistis. Kelompok ini menekankan bahwa kitab suci adalah kitab hukum agama (kumpulan hukum agama). Bagi mereka, beragama adalah melaksanakan hukum agama dengan 'benar', dan kesalehan dalam beragama diukur dari komitmen- nya melaksanakan hukum agama
b. Sikap literalis atau tekstualis atau skripturalis. Kelompok ini berpendapat bahwa dalam menghadapi kitab suci yang dipentingkan adalah huruf-huruf yang tertera dalam kitab berdasarkan arti kata perkata dan kalimat perkalimat. Kaum literalis kurang memperhatikan bentuk-bentuk sastra, konteks bagian-bagian dalam keseluruhan, struktur teks, konteks sosiologis, situasi historis pada waktu teks diturunkan, kekinian dan kedisinian, maksud teks, kondisi subjektif penulis teks seperti pengalaman hidup, kejiwaan dan lainnya sewaktu menulis teks. c. Sikap kelompok modernis atau demitologis atau puritanis. Kelompok ini
sangat mementingkan keaslian isi (substansi), maksud, tujuan, dan substansi pesan kitab suci dengan menghilangkan unsur-unsur mitos, meliputi kata-kata khas, ungkapan-ungkapan khusus, bentuk-bentuk sastra unik, dan peristiwa-peristiwa fiktif-imaginer. Setelah ditemukan maksud yang asli dari kitab suci, kemudian diungkapkan kembali dalam bahasa yang lebih kontekstual dan modern.
d. Kelompok egoistis. Kelompok ini mendekati kitab suci tidak
151 "Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu, dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)"(Q.S. Al-Baqarah; 2:2).
3b Amin Abdullah. Mendengarkan 'kebenaran' Hermeneutika. Dalam Faiz, F.Hermeneutika Al- Qur'an. (Yogyakarta: eLSAQ Press, 2005), hal. 16-17. 85
Model-Model Kesejahteraan Sosial Islam
didasarkan pada iman dan kepatuhan, tetapi pada pikiran, analisis dan kepentingannya sendiri. Kitab suci bisa diterima jika sejalan dengan pikirannya, dan ditolak jika bertentangan dengan pikiran dan kepentingannya.153
Paparan tersebut memberi gambaran bahwa terdapat peluang yang sangat memungkinkan untuk melakukan penafsiran agama sedemikian rupa, baik yang tidak mendukung (menghambat) kemajuan dan pembangunan atau sebaliknya bersifat progresif, mendukung perubahan dan kemajuan. Apabila Setiana mengkla- sifikasi bahwa ada tiga kekuatan di dalam masyarakat kaitannya dengan pembangunan yakni kekuatan pendorong, kekuatan bertahan, dan kekuatan pengganggu154, bukan tidak mungkin lahirnya kelompok-kelompok tersebut dipengaruhi oleh pema- haman mereka akan agama, terutama karena bangsa Indonesia adalah bangsa beragama. Di sini nampak bahwa peran tokoh agama cukup menentukan.
Intinya bahwa dengan mengacu pada pandangan filsafat konstruktivisme, sangat mungkin dilakukan koreksi terhadap pandangan-pandangan agama yang tidak lagi relevan dengan dinamika zaman untuk dimaknai secara progresif, membangun, memberdayakan, demi mencapai kesejahteraan, keamanan, kebahagiaan dan keselamatan di atas bumi ini, mencapai baldatun thoyyibatun wa rabbun ghojur. Pandangan-pandangan agama yang bernuansa fatalisme harus segera direkonstruksi dan dilakukan hermeneutika menuju pandangan agama yang membangun, progresif, dan konstruktif.
Beberapa ajaran agama dari kitab suci yang mendesak dilakukan rekonstruksi dan reinterpretasi demi memberdayakan umat untuk melakukan pembangunan mencapai kemakmuran antara lain:
a. Ajaran tugas kekhalifahan sebagai kepanjangan tangan Tuhan melakukan pembangunan di atas muka bumi demi kesejahteraan seluruh makhluk
b. Ajaran tentang kecanggihan potensi manusia yang tidak dimiliki makhluk lain
c. Ajaran tentang kew.ajiban menuntut ilmu dan belajar sepanjang hidup
d. Ajaran tentang kreativitas melakukan budidaya, modifika- si, pembaharuan dan sebangsanya
e. Ajaran tentang predikat mulia di sisi Tuhan dan makhluk
153 Suprayogo, Iman & Tobroni. Metodologi Penelitian Sosial-Agama. (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2003), hal. 40-41.
154 Setiana, L. Loc.Cit.
86
Implikasi Filsafat Konstruktivisme untuk Pemberdayaan Masyarakat berdasarkan iman dan karya
f. Ajaran tentang tolong menolong dalam kebaikan dan kesejahteraan g. Ajaran tentang kemandirian
h. Ajaran tentang kepahlawanan, perjuangan, dan pengabdian i. Ajaran tentang taqdir, ikhtiar, pembalasan, surga dan neraka j. Dan lain-lain
Slogan yang menyatakan bahwa kesuksesan umat Islam terletak pada triple fondasi yakni Iman, Ilmu, dan Amal (akhlak) adalah benar adanya. Taliziduhu Ndraha menyatakan bahwa pegangan hakiki manusia untuk melakukan pemberdayaan Sumber Daya Manusia dalam melakukan pembangunan adalah pegangan yang bersifat transenden yaitu Tuhan.155 Tuhan menjadi inspirasi, pegangan, semangat, tujuan, dan kontrol. Yudian Wahyudi menegaskan bahwa manusia bertugas mengejawantahkan ayat Quraniah (teks Al-Qur'an dan Hadis), ayat-ayat Kauniah (kosmos, ilmu pengetahuan alam), dan ayat-ayat-ayat-ayat Insaniah (kosmis, ilmu pengetahuan tentang diri manusia), menjadi sarana keselamatan dan keamanan bagi manusia di dunia secara holistis, sedang untuk sampai pada keselamatan akhirat harus ditambah dengan persyaratan tauhid.156 Jika tidak, akan terjadilah kesengsaraan atau azab Tuhan, di mana azab yang paling langsung dirasakan makhluk tanpa pandang bulu adalah ketika terjadi ketidakselarasan dengan hukum-hukum alam (ayat kauniah). Misalnya ketika terjadi penebangan hutan dan pepohonan besar-besaran tanpa ilmu pengetahuan, akan terjadi banjir dan longsong, yang akibatnya dirasakan semua orang, baik muslim, non muslim atau atheis.
Dengan demikian, penyadaran umat akan ruh ajaran Islam yang sebenarnya, mutlak harus dilakukan. Ini adalah tanggung jawab para petugas pembangunan dan pemberdayaan masyarakat yang bersinergi dengan para agamawan dan ulama. Maka reinterpretasi, reorganisasi, rekonstruksi terhadap nilai-nilai agama tidak bisa berhenti dan harus terus dilakukan dengan berbarengan
155 Ndraha, T. Pengantar Teori Pengembangan Sumber Daya Manusia. (Jakarta: Rineka Cipta, 1999), hal. 19.4. 156 Wahyudi, Yaki. Islam dan Nasionalisme: Sebuah Pendekatan Maqashid Syari'ah. (Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga,
2006), hal. 8-9. 87
Model-Model Kesejahteraan Sosial Islam
menguak rahasia ilmu Allah yang berlaku pada seluruh alam, sehingga sinergis antara ruh ayat qouliah, ayat kauniah, dan ayat insaniah. Rekonstruksi dan reinterpretasi agama ini tentu saja harus mengacu pada kaidah-kaidah yang berlaku, tanpa meninggalkan konteks dan memperhatikan ilmu pengetahuan kauniah dan insaniah. Barangkali hal inilah yang dimaksud Surat Al-A'raf ayat 96 dalam Al-Qur'an:
"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakiva, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya"
2. Implikasi pada Pendamping dan Strategi Pemberdayaan