Implikasi Filsafat Konstruktivisme untuk Pemberdayaan Masyarakat
D. Islam, Konstruktivisme, dan Pemberdayaan Masyarakat
2. Implikasi pada Pendamping dan Strategi Pemberdayaan Masyarakat
Telah disebutkan di muka bahwa memberdayakan masyarakat berarti melakukan perubahan ke arah yang lebih baik yang identik dengan pembangunan yang berarti perubahan, kemajuan (progress), yaitu peningkatan bidang-bidang kehidupan yang memang diarahkan kepada tujuan yang hendak dicapai.157 Pemberdayaan identik pula dengan melakukan pengembangan sumber daya manusia, yang tidak sekedar membentuk manusia profesional dan terampil yang sesuai dengan kebutuhan sistem untuk dapat memberikan kontribusinya di dalam proses pembangunan, tetapi menekankan pentingnya 'ke mampu an'
(empowerment) manusia, kemampuan manusia untuk mengaktualisasikan
segala potensinya sebagai manusia.158
Dengan demikian merubah masyarakat ke arah yang lebih baik berarti merubah cara pikir masyarakat, sedang merubah cara pikir berarti berhadapan dengan pengetahuan yang dimiliki masyarakat. Maka dalam kerangka melakukan pemberdayaan terhadap masyarakat yang perlu dilakukan oleh para pembaharu, tenaga pendamping, tenaga motivator atau tenaga penyuluh adalah mengubah cara pikir masyarakat ke arah yang lebih dinamis, progresif, inovatif, sehingga ketika cara pikir telah terbentuk sedemikian rupa, tentulah akan diikuti dengan perubahan pada perilaku yang berarti inovasi itu sendiri akan segera dilakukan oleh tangan-tangan mereka sendiri yang difasilitasi oleh tenaga pendamping dari luar.
Seorang tenaga pendamping masyarakat yang mengikuti prinsip konstruktivisme, akan memahami bahwa penyuluhan- penyuluhan,
157 Khairuddin. Pembangunan Masyarakat. (Yogyakarta: Liberty, 2000), hal. 25.
15888 Tjokrowinoto, M. Pembangunan Dilema dan Tantangan. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001), hal. 29.
Implikasi Filsafat Konstruktivisme untuk Pemberdayaan Masyarakat
pelatihan-pelatihan, dan berbagai kegiatan lain yang serupa, dilakukan dalam rangka membangun kembali atau merekonstruksi pengetahuannya tentang berbagai hal, misalnya tujuan hidupnya, makna hidupnya, makna kebahagiaan, makna kesengsaraan, makna kejayaan, makna kemiskinan, makna masa depan, makna anak, makna orang tua, dan seterusnya. Masyarakat dibantu untuk belajar mengembangkan pengetahuan ke arah yang lebih berdampak kepada kemajuan, kesejahteraan, dan kemandiri- an.
Menjadi tenaga pendamping konstruktivis, memberdayakan bukanlah memindahkan konsep-konsep pembangunan, kemak- muran, kesejahteraan dengan begitu saja kepada masyarakat tetapi pemberdayaan adalah suatu kegiatan yang memfasilitasi bagi masyarakat untuk membangun sendiri pengetahuannya. Menjadi pendamping pemberdayaan berarti berpartisipasi dengan masyarakat dalam membentuk pengetahuan, membuat makna, mencari kejelasan, bersikap kritis, dan mengadakan justifikasi. Jadi menjadi fasilitator berarti adalah suatu bentuk belajar itu sendiri.
Fasilitator konstruktivis akan membantu masyarakat untuk mampu berfikir yang baik, dalam arti memiliki pengetahuan yang mampu dijadikan acuan untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapinya, dengan cara membiarkannya berfikir sendiri. Jadi prinsip konstruktivisme menghendaki tenaga pendamping masyarakat berperan sebagai mediator dan fasilitator yang berfungsi:
1) Menyediakan pengalaman belajar yang memungkinkan masyarakat bertanggung jawab dalam membuat rancangan, proses, dan kegiatan, bukan memberi kuliah atau ceramah.
2) Menyediakan atau memberikan kegiatan-kegiatan yang merangsang keingintahuan masyarakat dan membantu mereka untuk mengekspresikan gagasan-gagasannya dan mengkomunikasikan ide cemerlang mereka. Menyediakan sarana yang merangsang mereka berfikir secara produktif.
3) Memonitor, mengevaluasi, dan menunjukkan apakah pemikiran masyarakat berlaku untuk menghadapi persoalan baru.159
Demi efektifitas pencapaian tersebut, diperlukan beberapa kegiatan: 1) Fasilitator perlu banyak berinteraksi dengan masyarakat
2) Tujuan apa yang hendak dibuat dalam pelatihan maupun kegiatan lainnya, dibicarakan bersama dengan masyarakat
3) Fasilitator memahami pengalaman belajar mana yang diperlukan
159 Suparno, P. Op. Cit, hal. 66. 89
Model-Model Kesejahteraan Sosial Islam
masyarakat, dan iapun bersedia belajar dengan mereka
4) Diperlukan keterlibatan dengan masyarakat yang sedang berjuang dan memberi kepercayaan bahwa mereka mampu
5) Fasilitator mempunyai pemikiran yang fleksibel untuk mengerti dan menghargai ide-ide dan pemikiran masyarakat160
Masyarakat sudah memiliki pengetahuan dan pengalaman sejak awal, pengetahuan tersebut adalah dasar untuk membangun pengetahuan selanjutnya. Oleh sebab itu fasilitator perlu mengerti pada taraf mana pengetahuan mereka. Misalnya fasilitator hendak memfasilitasi inovasi pertanian, hendaklah berangkat dari pengetahuan yang telah mereka miliki. Seorang konstruktivis tidak pernah membenarkan ajarannya sebagai satu-satunya kebenaran. Perlu diciptakan suasana sehingga muncul antusiasme untuk berfikir kreatif dan inovatif dengan cara membiarkan mereka berjuang dengan persoalan yang ada dan membantu mereka hanya jika mereka bertanya atau minta tolong.
16090 Pannea dkk. Op.Cit. hal. 24..
Model'Mpdel Kesejahteraan Sosial Islam
Menjadi fasilitator pemberdayaan masyarakat adalah proses membantu masyarakat untuk mengubah diri mereka sendiri melalui pengubahan akan pengetahuan dan cara-cara yang diyakininya. Fasilitator bukanlah mentransfer pemahaman orang yang telah tahu (fasilitator) kepada orang yang belum tahu (masyarakat), melainkan membantu masyarakat agar dapat mengkonstruksi sendiri pengetahuannya yang menyangkut hidup mereka melalui kegiatannya terhadap fenomena dan objek yang ingin diketahui. Untuk itu diperlukan penyediaan prasarana dan situasi yang memungkinkan dialog secara kritis.
Tugas fasilitator lebih menjadi mitra yang aktif bertanya, merangsang pemikiran, menciptakan persoalan, membiarkan masyarakat mengungkapkan gagasan dan konsepnya. Hal yang penting adalah menghargai dan menerima pemikiran masyarakat apa adanya sambil menunjukkan apakah pemikiran itu jalan atau tidak. Fasilitator harus menguasai pengetahuan secara luas dan mendalam sehingga dapat lebih fleksibel menerima gagasan masyarakat yang berbeda.
Prinsip-prinsip konstruktivisme telah banyak digunakan dan berperan sebagai referensi dan refleksi kritis terhadap praktek, pembaruan, dan perencanaan di dunia pendidikan. Oleh karena pemberdayaan masyarakat hakikatnya adalah pembelajaran dan pendidikan masyarakat, maka konstruktivisme juga bisa berperan cukup efektif di dalam membangun cara kerja pemberdayaan masyarakat.
Beberapa prinsip yang bisa digunakan landasan bekerja dalam kerangka pemberdayaan masyarakat antara lain adalah: (1) pengetahuan dibangun oleh masyarakat sasaran secara aktif, (2) tekanan dalam proses pemberdayaan terletak pada individu masyarakat sasaran, (3) melakukan pemberdayaan adalah membantu masyarakat memberdayakan diri mereka sendiri, (4) tekanan lebih diarahkan pada proses pemberdayaan, bukan pada hasil, (5) kurikulum dan materi kegiatan pemberdayaan disusun dengan melibatkan partisipasi masyarakat sasaran, dan (6) pendamping pemberdayaan adalah fasilitator.161
161 Suparno, P. Op.Cit., hal. 73.
102
Implikasi Filsafat Konstruktivisme untuk Pemberdayaan Masyarakat
Prinsip-prinsip tersebut bisa digunakan dalam membuat perencanaan proses pemberdayaan yang sesuai, pembaruan kurikulum dan materi pemberdayaan, perencanaan program persiapan para penyuluh, motivator, dan untuk mengevaluasi pro-gram pembelajaran yang sudah berjalan. Sebagai contoh sekelom- pok tenaga penyuluh atau motivator yang memakai prinsip konstruktivisme, akan menyusun kegiatan-kegiatan dan materi pemberdayaan dengan melibatkan secara aktif peran serta masyarakat, ketika mereka memberikan pelatihan misalnya mereka akan menekankan keaktifan peserta, interaksi antar peserta dihidupkan, peserta diberi kebebasan mengungkapkan gagasan dan pemikiran mereka.
Karena pengetahuan dibentuk secara individual dan sosial, kelompok belajar bisa dikembangkan.162 Dalam kelompok belajar, individu harus mengungkapkan bagaimana ia melihat persoalan dan apa yang akan dibuatnya dengan persoalan itu. Ini salah satu jalan menciptakan refleksi yang menuntut kesadaran akan apa yang sedang dipikirkan dan dilakukan. Pemanfaatan belajar dan kerja dalam kelompok ini, pernah dibuktikan efektivitasnya oleh Hadipranata dengan melakukan penelitian pengaruh team building terhadap etos kerja dan kontribusinya bagi produktivitas kerja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kelompok Kecil Kerja Kompak (4K) berpengaruh positif dan nyata terhadap etos kerja, karena team
build-ing yang tepat membuat teamwork atau kerja yang baik, kerja kompak
yang baik membangkitkan moral kerja, semangat kerja atau etos kerja yang tinggi.163
Pendamping konstruktivis dalam melakukan pemberdayaan masyarakat melalui pengubahan pengetahuan bisa memanfaatkan model belajar kelompok, terutama dalam memfasilitasi individu mampu mengoperasionalkan pengetahuannya. Hal ini penting karena bagi kaum konstruktivis, meletakkan kebenaran pada validi- tas
162 Watts & Pope. Thinking about Thinking, Learning about Learning: Constructivism in Physics Education". Physics Education, 24: 326-331.
163 Hadipranata, A. Pengaruh Pembentukan Kelompok (Team Building) terhadap Etos Kerja dan Kontribusinya bagi Produktivitas Kerja Insani. jurnal Psikologi, 26 (1),1999, hal 18-28.
103
Model-Model Kesejahteraan Sosial Islam
berupa kemampuan suatu konsep atau pengetahuan dalam beroperasi yakni pengetahuan yang dikonstruksikan itu dapat digunakan dalam menghadapi macam-macam fenomena dan persoalan yang berkaitan dengan pengetahuan tersebut.164
F, Penutup
Setelah memberikan paparan mengenai pemberdayaan masyarakat, filsafat konstruktivisme, kemungkinan penerapan konstruktivisme untuk melakukan pemberdayaan masyarakat dan mengkonsultasikannya dengan Islam dan melakukan pembahasan seperlunya, maka dapat ditarik beberapa simpulan:
1. Filsafat konstruktivisme relevan digunakan sebagai paradigma melakukan pemberdayaan masyarakat karena pemberdayaan masyarakat identik dengan pengembangan sumber daya manusia dimana merubah manusia diseyogyakan diawali dengan merubah cara pandang atau pengetahuan mereka, hal mana bisa dilakukan dengan menggunakan prinsip-prinsip konstruktivisme dalam membentuk pengetahuan.
2. Pemberdayaan masyarakat yang diawali dengan mengkonstruk ulang pengetahuan masyarakat tentang berbagai konsep ke arah yang lebih baik (dalam arti membangun), identik dengan cara kerja pendekatan Tman' dengan melakukan konstruksi enam dasar konsep (Rukun Iman) yang akan mewarnai pengalaman dan perilaku selanjutnya dalam dunia nyata dalam bentuk yang membangun (Islam dan Ihsan).
3. Sikap masyarakat terhadap pembangunan, mendukung atau menolak bahkan menghambat, sangat mungkin dipengaruhi oleh nilai-nilai yang dianut masyarakat, termasuk nilai-nilai agama. Oleh sebab itu pengetahuan mereka akan nilai-nilai tertentu yang berkaitan dengan pembangunan perlu ditinjau ulang. Dalam hal ini filsafat konstruktivisme menjadi inspirasi untuk melakukan rekonstruksi terhadap ajaran-ajaran agama sehingga menjadi
164 Shapiro, B. What Children Bring to Ligh: A Constructivist Perspective on Children's Learning in Science. (New York: Teachers College Press, 1994).
104
Implikasi Filsafat Konstruktivisme untuk Pemberdayaan Masyarakat
semangat dan landasan moral melakukan pembangunan yang efektif.
4. Beberapa prinsip konstruktivisme juga relevan digunakan melakukan pemberdayaan masyarakat melalui perubahan konstruksi pengetahuan yang lebih membangun antara lain prinsip menempatkan masyarakat sebagai subjek, menghargai pengalaman dan pengetahuan mereka, bertindak tidak menggurui tetapi sebagai mediator dan fasilitator, melibatkan masyarakat secara aktif dalam perencanaan tindakan, dan menampilkan diri sebagai lingkungan yang memiliki pengetahuan yang lebih memadai sehingga masyarakat tanpa disadari akan memperoleh kemajuan pengetahuan yang lebih konstruktif.
5. Tenaga fasilitator pemberdayaan dan agamawan (Islam) diharapkan bekerja sama dalam membangun masyarakat. Kerja gabungan ini diharapkan mampu merumuskan cara kerja yang efektif dan efisien, terutama demi hasil pembangunan dan kemajuan masyarakat yang dikendalikan oleh nilai tauhid, ilmiah, dan akhlakul karimah. Inilah hasil pembangunan dan kemajuan yang sebenarnya.Q
Daftar Pustaka
Amin Abdullah. Etika Tauhidik sebagai Dasar Kesatuan Epistemologi
Keilmuan Umum dan Agama (Dari Paradigma Positivistik- Sekularistik ke Arah Teoantroposentrik-Integralistik) Dalam Menyatukan Kembali
ilmu-ilmu Agama dan Umum. Yogyakarta: Suka Press, 2003. Amin Abdullah. Mendengarkan'kebenaran' Hermeneutika. Dalam Faiz, F.
Hermeneutika Al-Qur'an. Yogyakarta: eLSAQ Press, 2005
Berger, P. & Luckmann T. Tafsir Sosial atas Kenyataan. Terjemahan Hasan Basari. Jakarta: LP3ES, 1994.
Bettencourt A. What is Constructivism and Whay Are They All Talking about
It? N.Y: Michigan University, 1989.
Departemen Agama R.I. Al Qur'an Dan Terjemahnya. Jakarta: Departemen Agama, 1990.
Faiz, F. Hermeneutika Al-Qur'an. Yogyakarta: eLSAQ Press, 2005.
Model-Model Kesejahteraan Sosial Islam
Gergen, K.J. Reflecting on/with My Companions. Manuscripts. Dalam Hermans et al (eds). Social Constructionism and Theology. Boston: Brill, 2002.
Hadipranata. A. MIKEO bukan MBO. Buletin Psikologi (Fak. Psikologi UGM), Th. IV, No. 1, Agustus, 1996.
Hadipranata, A. Pengaruh Pembentukan Kelompok (Team Building) terhadap Etos Kerja dan Kontribusinya bagi Produktivitas Kerja Insani. Jumal Psikologi, 26 (1),1999, 18-28.
Khairuddin. Pembangunan Masyarakat. Yogyakarta: Liberty, 2000. Mashur Amin, M. (ed.). Teologi Pembangunan. Yogyakarta: LKPSM NU
DIY, 1989.
Mubarak, Z. Sosiologi Agama. Malang: UIN Malang Pres, 2006. Muslih, M. Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Belukar, 2006.
Nanik Machendrawaty. & A.A Safei. Pengembangan Masyarakat Islam. Bandung: Rosda Karya, 2001.
Ndraha, T. Pengantar Teori Pengembangan Sumber Daya Manusia. Jakarta: Rineka Cipta, 1999.
Nurjannah. Kesehatan Mental: Hand-out Mata kuliah. Yogyakarta: Fak. Dakwah UIN Sunan Kalijaga, 2005.
Nurjannah. Tiga Kerangka Kesehatan Mental Islam. Hisbah: Jurnal
Bimbingan dan Konseling Islam, Vol. 5 (1), 2006, hal 1-14.
Pannea, P., Mustafa, D., Sekarwinahyu M. Konstruktivisme dalam
Pembelajaran. Jakarta: Proyek Pengembangan Universitas
terbuka Dirjen PT Depdiknas, 2001
Prawitasari, J.E. Pendekatan Psikoterapi Gestalt. Dalam Psikoterapi. Subandi, M.A. (Ed). Yogyakarta: Fak. Psikologi UGM, 2002. Salim A. Teori & Paradigma Penelitian Sosial. Yogyakarta: Tiara Wacana,
2006.
Setiana, L. Teknik Penyuluhan dan Pemberdayaan Masyarakat. Bogor: Ghalia Indonesia, 2005.
Shapiro, B. What Children Bring to high: A Constructivist Perspective on Children's Learning in Science. New York: Teachers College Press, 1994.
Suhartini; Halim; Khambali, I.; Basyid, A. (Eds) Model-Model
Pemberdayaan Masyarakat. Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2005.
Implikasi Filsafat Konstruktivisme untuk Pemberdayaan Masyarakat
Sunyoto Usman. Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat. Yogya-karta: Pustaka Pelajar, 2004.
Suparno, P. Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan. Yogyakarta: Kanisius, 1997.
Suprayogo, I. & Tobroni. Metodologi Penelitian Sosial-Agama. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2003
Tjokrowinoto, M. Pembangunan Dilema dan Tantangan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001.
UIN Sunan Kalijaga. Kerangka Dasar Keilmuan & Pengembangan
Kurikulum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Yogyakarta: Pokja
Akademik UIN, 2004.
UIN Sunan Kalijaga. Kompetensi Program StudiUIN Sunan Kalijaga
Yogyakarta. Yogyakarta: Pokja Akademik UIN, 2005.
Wahyudi, Y. Islam dan Nasionalisme: Sebuah Pendekatan Maqashid Syari'ah. Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga, 2006.
Watts & Pope. Thinking about Thinking, Learning about Learning: Constructivism in Physics Education". Physics Education, 24: 326-331.
Q Shihab. Membumikan Al-Qur'an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam kehidupan
Masyarakat. Bandung: Mizan, 1996.