BAB II TINJAUAN PUSTAKA
3.11 Cara Pemeriksaan Sampel
1. Prinsip
Prinsip kerja alat ini adalah pengukuran beberapa gas pada konsentrasi yang berbeda dengan menggunakan sensor tertentu yang dapat dipertukarkan berbeda dalam satu monitor untuk pemantauan kualitas udara dalam ruangan, dan luar ruangan serta deteksi ozone dan mudah dibawa dengan menggunakan alat Aeroqual Series 500 Portable Gas Monitor.
2. Peralatan
a. Alat Aeroqual Series 500 Portable Gas Monitor
b. Sensor karbon monoksida (CO) dan Nitrogen Dioksida (NO2) c. Stopwatch
3. Cara Kerja
A. Prosedur on/off alat
a. Untuk menyalakan alat, lakukan dengan menekan tomnol I/O selama 3 detik
b. Kemudian dibiarkan selama 3 menit untuk proses pemanasan dan auto zero
c. Sedangkan untuk mematikan alat lakukan juga dengan menekan tomnol I/O selama 3 detik
B. Setting Unit
a. Untuk memulai pengukuran lakukan dengan menekan tombol Enter untuk masuk ke Menu
b. Kemudian menekan tombol ▲▼ untuk memilih Menu
c. Tekan tombol Enter untuk select Menu dan pilih Menu Exit untuk kembali
C. Prosedur Pengukuran
a. Menekan tombol I/O kemudian tekan Enter lalu pilih menu “Max Min AV”
b. Kemudian tekan Enter untuk start c. Kemudian pilih Exit untuk kembali D. Prosedur Akses Data
a. Nyalakan alat Aeroqual Series 500 pada PC b. Lalu instal Software Aeroqual Series 500 pada PC
c. Connect Aeroqual Series 500 pada PC menggunakan kabel USB d. Pilih menu Data-Graph Logged Data pada Software Aeroqual di
PC E. Export Data
a. Pilih menu File Export Logged Data pada Software Aeroqual di PC
b. Pilih format Plain Texy File atau MS Excel File 3.12 Teknik Analisa Data
Data diperoleh dari hasil wawancara dan pengamatan, di analisa secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk tabel distribusi kemudian dinarasikan
dengan kepustakaan dan data pemeriksaan karbon monoksida (CO) dan nitrogen dioksida (NO2) dari hasil analisis laboratorium.
4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Kelurahan Padang Bulan merupakan salah satu kelurahan di Kecamatan Medan Baru. Kelurahan Padang Bulan merupakan salah satu daerah yang padat dengan perumahan yang rapat dan ramai dengan lalu lintas dan sering terjadi macet.
Di sepanjang Jalan Djamin Ginting Kelurahan Padang Bulan terdapat banyak fasilitas hiburan, toko-toko, rumah makan, fasilitas perbelanjaan dan percetakan sehingga daerah ini ramai oleh orang-orang yang menggunakan fasilitas-fasilitas tersebut. Selain itu, di daerah ini juga terdapat beberapa fasilitas kampus sehingga membuat daerah ini menjadi lokasi yang strategis sebagai daerah tempat tinggal untuk mahasiswa yang harus menyewa rumah kost.
Di sepanjang tepi jalan Djamin Ginting Kelurahan Padang Bulan terdapat 27 rumah tinggal dengan berbagai ukuran atau kapasitasnya. Bangunan rumah tinggal yang terdapat di sepanjang jalan Djamin Ginting Kelurahan Padang Bulan ini pada umumnya terletak dekat dengan jalan dan memiliki jendela yang menghadap ke arah jalan raya serta hanya memiliki tanaman yang terdapat dipekarangan rumah dengan jumlah minim.
Adapun batas-batas wilayah untuk daerah Kelurahan Padang Bulan, yaitu:
- Sebelah utara berbatasan dengan Kelurahan Merdeka - Sebelah selatan berbatasan dengan Kelurahan Titi Rantai - Sebelah Timur berbatasan dengan Sei Babura
- Sebelah barat berbatasan dengan Jalan Pembangunan
4.2 Hasil Penelitian
4.2.1 Kadar Karbon Monoksida (CO) pada Ruangan di Dalam Rumah
Adapun hasil pengukuran karbon monoksida (CO) dalam ruangan rumah yang berlokasi di tepi jalan raya Djamin Ginting Kelurahan Padang Bulan dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 4.1 Hasil Pengukuran Kadar Karbon Monoksida (CO) di Dalam Ruangan pada Rumah Tinggal di Tepi Jalan Djamin Ginting Kelurahan Padang Bulan Medan Tahun 2016
Rumah
Tabel 4.1 menunjukkan bahwa dari pengukuran yang dilakukan pada rumah tinggal pertama sampai yang terakhir diperoleh hasil bahwa tidak ada kadar karbon monoksida (CO) yang melebihi ambang batas menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1077 Tahun 2011 tentang pedoman penyehatan udara dalam ruang rumah.
4.2.2 Kadar Nitrogen Dioksida (NO2) pada Ruangan di Dalam Rumah
Adapun hasil pengukuran nitrogen dioksida (NO2) dalam ruangan pada rumah tinggal di tepi jalan raya Djamin Ginting Kelurahan Padang Bulan dapat dilihat pada tabel 4.2 berikut ini :
Tabel 4.2 Hasil Pengukuran Nitrogen Dioksida (NO2) di Dalam Ruangan
Tabel 4.2 menunjukkan bahwa dari pengukuran yang dilakukan pada rumah tinggal pertama sampai yang terakhir diperoleh hasil bahwa tidak ada kadar nitrogen dioksida (NO2) yang melebihi ambang batas menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1077 Tahun 2011 tentang pedoman penyehatan udara dalam ruang rumah.
4.2.3 Karakteristik Rumah Tinggal
Adapun karakteristik rumah pada rumah tinggal di tepi jalan raya Djamin Ginting Kelurahan Padang Bulan dapat dilihat pada tabel 4.3 di bawah ini:
Tabel 4.3 Distribusi Karakteristik Rumah Tinggal di Tepi Jalan Djamin Ginting Kelurahan Padang Bulan Medan Tahun 2016
Rumah Ventilasi TMS : Tidak Memenuhi Syarat
Tabel 4.3 menunjukkan bahwa berdasarkan karakteristik ventilasi seluruh titik pada ruangan rumah tinggal diperoleh hasil bahwa sebanyak 5 unit rumah tinggal yang memenuhi syarat luas ventilasi dan 4 rumah tinggal yang tidak memenuhi syarat luas ventilasi. Berdasarkan karakteristik luas rumah diperoleh hasil bahwa sebanyak 8 unit rumah tinggal yang memenuhi syarat luas rumah dan 1 rumah tinggal yang tidak memenuhi syarat luas rumah. Berdasarkan karakteristik tinggi plafon dari lantai diperoleh hasil bahwa seluruh rumah tinggal memenuhi syarat tinggi plafon dari lantai. Berdasarkan karakteristik jarak rumah dengan jalan raya diperoleh hasil bahwa sebanyak 7 unit rumah tinggal yang memenuhi syarat jarak rumah dengan jalan raya dan 2 rumah tinggal yang tidak memenuhi syarat jarak rumah dengan jalan raya.
4.2.4 Karakteristik Responden Pemilik Rumah Tinggal
Karakteristik responden dalam penelitian ini adalah meliputi umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, lama tinggal di rumah, dan durasi tinggal di rumah dalam sehari.
Tabel 4.4 Distribusi Karakteristik Responden pada Pemilik Rumah di Tepi Jalan Raya Djamin Ginting Kelurahan Padang Bulan Medan
Lama Bertempat Tinggal di Rumah Tepi Jalan
≤10 Tahun 5 26,3
Tabel 4.4 menunjukkan bahwa pada variabel umur responden terbanyak adalah kelompok umur lebih dari 50 tahun yaitu sebanyak 9 orang (47,4%). Pada variabel jenis kelamin responden terbanyak adalah perempuan yaitu sebanyak 10
orang (52,6%). Pada variabel tingkat pendidikan responden terbanyak adalah pada tingkat pendidikan sarjana yaitu 10 orang (52,6%). Pada variabel lama bertempat tinggal di rumah tepi jalan, responden terbanyak adalah pada kelompok pemilik rumah yang bertempat tinggal di tepi jalan selama 21 sampai 30 tahun yaitu sebanyak 7 orang (36,8%). Pada variabel durasi tinggal di rumah dalam sehari, responden terbanyak adalah yang kesehariannya berada di rumah selama 9 sampai 16 jam dalam sehari yaitu sebanyak 10 orang (52,6%).
4.2.5 Keluhan Kesehatan Pada Pemilik Rumah Tinggal
Keluhan kesehatan pada pemilik rumah dalam penelitian ini terdiri atas 5 jenis, yaitu : mata perih, mata berair, mual, sulit bernapas, dan sakit kepala/pusing Tabel 4.5 Distribusi Responden Berdasarkan Keluhan Kesehatan yang
Dirasakan
Tabel 4.5 menunjukkan bahwa pada jenis keluhan kesehatan mata perih 13 responden (68,4%) yang mengalami keluhan mata perih. Pada jenis keluhan kesehatan mata berair 3 responden (15,8%) yang mengalami keluhan mata berair.
Pada jenis keluhan kesehatan mual semua responden (100%) tidak mengalami keluhan mual. Pada jenis keluhan kesehatan sulit bernapas semua responden (100%) tidak mengalami keluhan sulit bernapas. Pada jenis keluhan kesehatan sakit kepala / pusing 6 responden (31,6%) yang mengalami keluhan sakit kepala / pusing.
4.2.6 Tabulasi Silang Responden dan Keluhan Kesehatan 1. Umur Responden
Adapun umur responden berdasarkan keluhan kesehatan dapat dilihat pada tabel 4.6 dibawah ini:
Tabel 4.6 Tabulasi Silang Umur Responden dengan Keluhan Kesehatan pada Pemilik Rumah Tinggal di Tepi Jalan Djamin Ginting Kelurahan Padang Bulan Medan Tahun 2016 tahun yang paling banyak mengalami keluhan kesehatan yaitu sebanyak 8 orang (88,9)
2. Jenis Kelamin
Adapun jenis kelamin responden berdasarkan keluhan kesehatan dapat dilihat pada tabel 4.7 dibawah ini:
Tabel 4.7 Tabulasi Silang Jenis Kelamin Responden dengan Keluhan Kesehatan pada Pemilik Rumah Tinggal di Tepi Jalan Djamin Ginting Kelurahan Padang Bulan Tahun 2016
Jenis kelamin Keluhan Kesehatan
Tabel 4.7 menunjukkan bahwa responden yang berjenis kelamin perempuan yaitu sebanyak 8 orang (80,0%) yang paling banyak mengalami keluhan kesehatan.
3. Tingkat Pendidikan
Adapun tingkat pendidikan responden berdasarkan keluhan kesehatan dapat dilihat pada tabel 4.8 dibawah ini:
Tabel 4.8 Tabulasi Silang Tingkat Pendidikan Responden dengan Keluhan Kesehatan pada Pemilik Rumah Tinggal di Tepi Jalan Djamin Ginting Kelurahan Padang Bulan Medan Tahun 2016
Tabel 4.8 menunjukkan bahwa responden yang berpendidikan sarjana yaitu sebanyak 7 orang (70,0%) yang paling banyak mengalami keluhan kesehatan.
4. Lama Bertempat Tinggal di Rumah Tepi Jalan
Adapun lama bertempat tinggal di rumah tepi jalan responden berdasarkan keluhan kesehatan dapat dilihat pada tabel 4.9 dibawah ini : Tabel 4.9 Tabulasi Silang Lama Tinggal di Rumah Tepi Jalan
Responden dengan Keluhan Kesehatan pada Pemilik Rumah Tinggal di Tepi Jalan Djamin Ginting Kelurahan yang paling banyak mengalami keluhan kesehatan yaitu sebanyak 4 orang.
5. Durasi Tinggal di Dalam Rumah
Adapun durasi tinggal di dalam rumah dalam sehari responden berdasarkan keluhan kesehatan dapat dilihat pada tabel 4.10 dibawah ini : Tabel 4.10 Tabulasi Silang Durasi Tinggal di Dalam Rumah dalam
Sehari Responden dengan Keluhan Kesehatan pada Pemilik Rumah Tinggal di Tepi Jalan Djamin Ginting Kelurahan Padang Bulan MedanTahun 2016
Durasi tinggal di
Tabel 4.10 menunjukkan bahwa responden yang berada selama 17 – 24 jam di dalam rumah yang paling banyak mengalami keluhan kesehatan yaitu sebanyak 8 orang (88,9%).
5.1 Kadar Karbon Monoksida (CO) dalam Ruangan pada Rumah Tinggal di Tepi Jalan Djamin Ginting Kelurahan Padang Bulan
Berdasarkan hasil pengukuran yang dilakukan di 9 rumah yaitu pada masing – masing ruangan rumah tinggal yang memiliki dan tidak memiliki tanaman, dapat dilihat bahwa kadar karbon monoksida (CO) tidak ada yang melebihi nilai ambang batas yaitu 27 ppm menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1077 Tahun 2011 tentang pedoman penyehatan udara dalam ruang rumah, namun kadar tertinggi karbon monoksida (CO) sebesar 0,000618 ppm yaitu pada lokasi pengukuran di rumah 1. Asumsi penelitian ini, kadar karbon monoksida (CO) yang dibawah nilai ambang batas dikarenakan rata-rata rumah tinggal memiliki ventilasi alami maupun buatan seperti kipas angin sehingga terjadi aliran udara dengan demikian hal ini juga mempengaruhi keberadaan gas karbon monoksida (CO) di dalam ruangan rumah tinggal.
Berdasarkan hasil pengukuran yang dilakukan di dalam ruangan rumah tinggal untuk rumah yang memiliki tanaman diperoleh hasil yang lebih rendah jika dibandingkan dengan rumah yang tidak memiliki tanaman. Hal ini terjadi karena polutan dari luar dihalangi oleh tanaman.
Tinggi rendahnya kadar karbon monoksida (CO) di dalam ruangan dipengaruhi oleh banyak faktor, diantaranya adalah faktor kecepatan angin, arah angin, cuaca, dan suhu udara di sekitar dapat mempengaruhi penyebaran bahan pencemar (Sarudji, 2010). Keberadaan gas karbon monoksida (CO) dalam
ruangan juga akan dipengaruhi oleh pergerakan udara atau aliran udara dalam ruangan (Fardiaz, 1992).
Karbon Monoksida (CO) yang terdapat di dalam ruangan pada rumah tinggal di tepi jalan raya Djamin Ginting Kelurahan Padang Bulan berasal dari pencemar luar ruangan yaitu emisi gas buang dari kendaraan bermotor di jalan.
Karbon monoksida (CO) diproduksi dari pembakaran yang tidak sempurna dari bahan-bahan yang mengandung karbon seperti hasil buang kendaraaan bermotor, pembakaran di perindustrian, pembangkit listrik, pembakaran sampah dan sebagainya (Sastrawijaya, 2009). Sektor transportasi mempunyai ketergantungan yang tinggi terhadap energi, penggunaan energi tersebut berasal dari bahan bakar minyak (BBM) yang mengeluarkan senyawa karbon monoksida (CO).
Konstribusi dari gas buangan kendaraan bermotor tersebut mencapai 60-70% (Wardhana, 2004).Semakin banyak jumlah kendaraan yang melintasi jalan tersebut maka kadar karbon monoksida (CO) yang di buang ke udara juga akan semakin meningkat dengan demikian kualitas udara akan semakin menurun.
5.2 Kadar Nitrogen Dioksida (NO2) dalam Ruangan pada Rumah Tinggal di Tepi Jalan Djamin Ginting Kelurahan Padang Bulan Berdasarkan hasil pengukuran yang dilakukan di 9 titik yaitu pada pada masing – masing ruangan rumah tinggal yang memiliki dan tidak memiliki tanaman dapat dilihat bahwa kadar nitrogen dioksida (NO2) tidak ada yang melebihi nilai ambang batas yaitu 0,04 ppm menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1077 Tahun 2011 tentang pedoman penyehatan udara dalam ruang rumah, namun rata-rata kadar nitrogen dioksida (NO2) yaitu 0,000149 ppm. Asumsi penelitian ini, kadar nitrogen dioksida (NO2) yang
dibawah nilai ambang batas dikarenakan rata-rata rumah tinggal memiliki ventilasi alami maupun buatan seperti kipas angin sehingga terjadi aliran udara dengan demikian hal ini juga mempengaruhi keberadaan gas nitrogen dioksida (NO2) di dalam ruangan rumah tinggal.
Tinggi rendahnya kadar nitrogen dioksida (NO2) di dalam ruangan dipengaruhi oleh banyak faktor, diantaranya adalah faktor kecepatan angin, arah angin, cuaca, dan suhu udara di sekitar dapat mempengaruhi penyebaran bahan pencemar (Sarudji, 2010). Hasil penelitian ini sama dengan penelitian yang dilakukan oleh Pangaribuan (2012) yaitu tentang pengukuran konsentrasi karbon monoksida (CO) dan nitrogen dioksida (NO2) di dalam ruangan rental game online di sekitar jalan raya Djamin Ginting Kelurahan Padang Bulan Medan menunjukkan bahwa tidak ada kadar karbon monoksida (CO) dan nitrogen dioksida (NO2) yang melebihi ambang batas. Menurut Fardiaz (1992) konsentrasi NOx di udara dalam suatu kota bervariasi sepanjang hari tergantung dari sinar matahari dan aktivitas kendaraan.
5.3 Karakteristik Ruangan Rumah Tinggal
Pada umumnya bangunan rumah tinggal yang berada di tepi jalan raya Djamin Ginting Kelurahan Padang Bulan terletak dengan jarak yang sangat dekat dengan jalan raya. Kondisi jalan raya di sekitar lokasi penelitian ini adalah jalan yang sering terjadi kemacetan lalu lintas.
5.3.1 Ventilasi
Pada umumnya rumah yang berada di tepi jalan raya Kelurahan Padang Bulan memiliki ventilasi dan jendela yang menghadap jalan raya dan kurang dari
10% luas lantai. Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan bahwa dari 9 rumah yang diteliti terdapat 4 rumah tinggal yang memiliki ventilasi dengan luas tidak memenuhi syarat. Menurut Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah No. 403 tahun 2002 tentang pedoman teknis pembangunan rumah sederhana sehat, bahwa untuk ruangan pada rumah tinggal harus memiliki lubang ventilasi minimal 10% dari luas lantai.
Pengukuran yang dilakukan pada 9 titik di dalam ruangan rumah tinggal diketahui karakteristik ventilasi berdasarkan jumlah titik pengukuran karbon monoksida (CO) dan nitrogen dioksida (NO2), yaitu hasil pengukuran dibawah nilai ambang batas pada seluruh rumah dengan ventilasi yang memenuhi syarat dan tidak memenuhi syarat menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1077 Tahun 2011 tentang pedoman penyehatan udara dalam ruang rumah. Rumah dengan ventilasi yang memenuhi syarat memiliki kadar yang lebih rendah jika dibandingkan dengan rumah dengan ventilasi tidak memenuhi syarat.
Menurut National Institute of Occupational Safety and Health (NIOSH) tahun 1997, ventilasi udara mempengaruhi kualitas udara dalam ruangan sebanyak 52%. Ventilasi digunakan untuk mengendalikan suhu, kelembaban udara dan pergerakan udara. Ventilasi dengan tekanan udara tertentu dapat mempengaruhi kecepatan pergerakan udara, arah pergerakan, intensitas pergerakan.
5.3.2 Luas Rumah
Berdasarkan hasil pengamatan pada lokasi penelitian, umumnya rumah yang berada di tepi jalan Djamin Ginting Kelurahan Padang Bulan memiliki luas
rumah yang memenuhi syarat. Berdasarkan Keputusan Menteri Permukiman dan Prasana Wilayah No. 403 tahun 2002 tentang Pedoman Teknis Pembangunan Rumah Sederhana Sehat, dari 9 rumah di lokasi penelitian terdapat 1 rumah yang tidak memenuhi syarat dengan luas minimal 9m3/orang
Menurut Chandra (2007), kriteria rumah sehat di Indonesia salah satunya memiliki luas bangunan antara 21-36 meter persegi. Luas ruangan dapat mempengaruhi kualitas udara di dalamnya, dimana semakin besar luas ruangan maka pergerakan udara di dalamnya semakin bebas. Hal ini juga mempengaruhi konsentrasi karbon monoksida (CO) dan nitrogen dioksida (NO2) di dalam ruangan rumah tinggal.
Pengukuran yang dilakukan pada 9 titik di dalam ruangan rumah tinggal diketahui karakteristik luas rumah berdasarkan jumlah titik pengukuran karbon monoksida (CO) dan nitrogen dioksida (NO2), yaitu hasil pengukuran dibawah nilai ambang batas pada seluruh rumah dengan luas rumah yang memenuhi syarat dan tidak memenuhi syarat menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1077 Tahun 2011 tentang pedoman penyehatan udara dalam ruang rumah.
5.3.3 Tinggi Plafon Dari Lantai
Berdasarkan hasil pengamatan pada lokasi penelitian, seluruh rumah yang berada di tepi jalan Djamin Ginting Kelurahan Padang Bulan memiliki tinggi plafon dari lantai yang memenuhi syarat yaitu 2,8 meter , sesuai dengan Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah No. 403 tahun 2002 tentang pedoman teknis pembangunan rumah sederhana sehat.
Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan, seluruh rumah yang berada di tepi jalan raya Kelurahan Padang Bulan memiliki tinggi plafon dari lantai yang memenuhi syarat Pengukuran yang dilakukan pada 9 titik di dalam ruangan rumah tinggal diketahui karakteristik tinggi plafon dari lantai berdasarkan jumlah titik pengukuran karbon monoksida (CO) dan nitrogen dioksida (NO2), yaitu hasil pengukuran dibawah nilai ambang batas pada seluruh rumah dengan tinggi plafon dari lantai yang memenuhi syarat.
Menurut Keman (2005) tinggi ruangan mempengaruhi pergerakan udara di dalam ruangan secara vertikal, apabila terdapat udara yang tidak bebas dalam ruangan maka bahan pencemar udara dalam konsentrasi yang cukup akan memiliki kesempatan untuk memasuki tubuh penghuninya.
5.3.4 Jarak Rumah dengan Jalan Raya
Berdasarkan hasil pengamatan pada lokasi penelitian, umumnya rumah yang berada di tepi jalan Djamin Ginting Kelurahan Padang Bulan memiliki jarak rumah dengan jalan raya yang memenuhi syarat. Berdasarkan Undang-undang nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung,bahwa setiap bangunan harusmemiliki garis sepadan. Dari 9 rumah di lokasi penelitian terdapat 2 rumah yang tidak memenuhi syarat dengan jarak minimal 5 meter.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Driejana dan Putri (2009) bahwa terdapat hubungan antara jarak rumah dengan jalan raya atau sumber pencemar dengan konsentrasi bahan pencemar dalam rumah. Semakin dekat jarak dengan sumber pencemar maka semakin besar konsentrasi pencemar di dalam rumah.
Menurut Sutardi (2008) dalam Meirinda (2008), konsentrasi suatu gas dalam
udara di suatu tempat dalam ruangan dipengaruhi oleh dua faktor, pertama: faktor sumber yaitu volume sumber, konsentrasi sumber dan jarak tempat pengukuran dari sumber. Kedua : faktor lingkungan yaitu temperatur udara, kelembaban udara, tekanan udara, arah dan kecepatan angin. Hal ini juga dapat mempengaruhi konsentrasi CO (karbon monoksida) dan NO2 (nitrogen dioksida) dalam rumah tinggal.
Pengukuran yang dilakukan pada 9 titik di dalam ruangan rumah tinggal diketahui karakteristik jarak rumah dengan jalan raya berdasarkan jumlah titik pengukuran karbon monoksida (CO) dan nitrogen dioksida (NO2), yaitu hasil pengukuran dibawah nilai ambang batas dengan jarak rumah ke jalan raya yang memenuhi syarat dan tidak memenuhi syarat. Hal ini dipengaruhi oleh faktor lainnya seperti ventilasi dan kepadatan hunian dalam ruangan. Kondisi polutan pada udara di luar ruangan sebelum masuk ke dalam ruangan, digerakkan oleh kendaraan yang lalu lalang sementara keadaan gedung di sekitar tepi jalan tidak semuanya tinggi atau bertingkat sehingga udara di sekitar jalan dapat bergerak secara vertikal maupun horizontal. Hal ini mempengaruhi kadar polutan yang dapat masuk ke dalam ruangan seperti karbon monoksida (CO) dan nitrogen dioksida (NO2) yang dihasilkan oleh kendaraan di jalan.
5.4 Keluhan Kesehatan pada Pemilik Rumah di Tepi Jalan Raya Djamin Ginting
Berdasarkan hasil analisis data, dari 5 jenis keluhan kesehatan yang ditanyakan pada responden, yaitu mata perih, mata berair, mual, sulit bernapas, dan sakit kepala/pusing, diketahui bahwa keluhan kesehatan yang terbanyak adalah mata perih yaitu sebanyak 13 orang, sedangkan keluhan sakit kepala /
pusing yaitu sebanyak 6 orang, dan keluhan mata berair sebanyak 3 orang, serta semua pemilik rumah tidak ada yang mengalami keluhan mual dan sulit bernapas.
Keluhan kesehatan yang dialami oleh pemilik rumah tinggal mungkin disebabkan oleh debu / partikulat yang beterbangan di lingkungan rumah.
Karbon monoksida (CO) dalam paparan yang menahun akan menyebabkan berkurangnya penyediaan oksigen ke seluruh tubuh, hal ini akan mengakibatkan terjadinya sesak napas, gangguan saraf, infark jantung bahkan dapat menyebabkan kematian bayi dalam kandungan (Mukono, 2005). Konsentrasi karbon monoksida (CO) sebesar 10 ppm, gejala yang dirasakan dapat berupa pusing, perubahan fungsi paru –paru serta terjadi rasa sesak napas (Soemirat, 2009). Hal ini diakibatkan karena keracunan gas karbon monoksida (CO) dan nitrogen dioksida (NO2) ditandai dari keadaan yang ringan seperti pusing, sakit kepala dan mata perih. Keadaan yang lebih berat dapat berupa rasa mual, telinga berdengung, detak jantung meningkat, rasa tertekan di dada, kesukaran bernapas, menurunnya kemampuan gerak tubuh, gangguan pada sistem kardiovaskular, serangan jantung sampai kepada kematian (Wardhana, 2004).
Selain itu, nitrogen dioksida (NO2) merupakan gas yang toksik bagi manusia dan umumnya mengganggu sistem pernapasan (Mulia, 2005). Apabila manusia terpapar dengan gas nitrogen dioksida (NO2) selanjutnya pemajanan nitrogen dioksida (NO2) dengan kadar 5 ppm selama 10 menit terhadap manusia dapat mengakibatkan kesulitan dalam bernapas (Fardiaz, 1992).
Adapun hasil pengukuran kadar karbon monoksida (CO) dan nitrogen dioksida (NO2) yang dilakukan di rumah tepi jalan raya, tidak ada titik yang
melebihi batas baku mutu yang ditetapkan Peraturan Pemerintah No.41 tahun 1999 tentang pedoman penyehatan udara dalam ruangan rumah. Walaupun dalam jumlah yang masih jauh di bawah baku mutu, namun peningkatan jumlah kebutuhan akan kendaraan bermotor akan semakin meningkatkan kadar karbon monokisida (CO) dan nitrogen dioksida (NO2). Serta paparan karbon monoksida (CO) dan nitrogen dioksida (NO2) dalam jumlah yang sedikit secara terus menerus dapat mengganggu sistem pernapasan. Organ tubuh yang paling peka terhadap pencemaran nitrogen dioksida (NO2) adalah paru - paru. Paru - paru yang terkontaminasi oleh nitrogen dioksida (NO2) akan membengkak sehingga penderita sulit bernapas (Wardhana, 2004).
Pada konsentrasi yang normal ditemukan di atmosfer, NO tidak mengakibatkan iritasi dan berbahaya, tetapi pada konsentrasi udara ambien yang
Pada konsentrasi yang normal ditemukan di atmosfer, NO tidak mengakibatkan iritasi dan berbahaya, tetapi pada konsentrasi udara ambien yang