BAB V PEMBAHASAN
5.4 Keluhan Kesehatan pada Pemilik Rumah di Tepi Jalan
Berdasarkan hasil analisis data, dari 5 jenis keluhan kesehatan yang ditanyakan pada responden, yaitu mata perih, mata berair, mual, sulit bernapas, dan sakit kepala/pusing, diketahui bahwa keluhan kesehatan yang terbanyak adalah mata perih yaitu sebanyak 13 orang, sedangkan keluhan sakit kepala /
pusing yaitu sebanyak 6 orang, dan keluhan mata berair sebanyak 3 orang, serta semua pemilik rumah tidak ada yang mengalami keluhan mual dan sulit bernapas.
Keluhan kesehatan yang dialami oleh pemilik rumah tinggal mungkin disebabkan oleh debu / partikulat yang beterbangan di lingkungan rumah.
Karbon monoksida (CO) dalam paparan yang menahun akan menyebabkan berkurangnya penyediaan oksigen ke seluruh tubuh, hal ini akan mengakibatkan terjadinya sesak napas, gangguan saraf, infark jantung bahkan dapat menyebabkan kematian bayi dalam kandungan (Mukono, 2005). Konsentrasi karbon monoksida (CO) sebesar 10 ppm, gejala yang dirasakan dapat berupa pusing, perubahan fungsi paru –paru serta terjadi rasa sesak napas (Soemirat, 2009). Hal ini diakibatkan karena keracunan gas karbon monoksida (CO) dan nitrogen dioksida (NO2) ditandai dari keadaan yang ringan seperti pusing, sakit kepala dan mata perih. Keadaan yang lebih berat dapat berupa rasa mual, telinga berdengung, detak jantung meningkat, rasa tertekan di dada, kesukaran bernapas, menurunnya kemampuan gerak tubuh, gangguan pada sistem kardiovaskular, serangan jantung sampai kepada kematian (Wardhana, 2004).
Selain itu, nitrogen dioksida (NO2) merupakan gas yang toksik bagi manusia dan umumnya mengganggu sistem pernapasan (Mulia, 2005). Apabila manusia terpapar dengan gas nitrogen dioksida (NO2) selanjutnya pemajanan nitrogen dioksida (NO2) dengan kadar 5 ppm selama 10 menit terhadap manusia dapat mengakibatkan kesulitan dalam bernapas (Fardiaz, 1992).
Adapun hasil pengukuran kadar karbon monoksida (CO) dan nitrogen dioksida (NO2) yang dilakukan di rumah tepi jalan raya, tidak ada titik yang
melebihi batas baku mutu yang ditetapkan Peraturan Pemerintah No.41 tahun 1999 tentang pedoman penyehatan udara dalam ruangan rumah. Walaupun dalam jumlah yang masih jauh di bawah baku mutu, namun peningkatan jumlah kebutuhan akan kendaraan bermotor akan semakin meningkatkan kadar karbon monokisida (CO) dan nitrogen dioksida (NO2). Serta paparan karbon monoksida (CO) dan nitrogen dioksida (NO2) dalam jumlah yang sedikit secara terus menerus dapat mengganggu sistem pernapasan. Organ tubuh yang paling peka terhadap pencemaran nitrogen dioksida (NO2) adalah paru - paru. Paru - paru yang terkontaminasi oleh nitrogen dioksida (NO2) akan membengkak sehingga penderita sulit bernapas (Wardhana, 2004).
Pada konsentrasi yang normal ditemukan di atmosfer, NO tidak mengakibatkan iritasi dan berbahaya, tetapi pada konsentrasi udara ambien yang normal NO dapat mengalami oksidasi menjadi NO2 yang lebih berbahaya (Chandra, 2007). Nitrogen oksida (NO) mempunyai kemampuan membatasi kadar oksigen dalam darah dan juga mudah bereaksi dengan oksigen membentuk NO2. Apabila NO2 bertemu dengan uap air di udara atau dalam tubuh manusia maka akan terbentuk HNO3 yang dapat merusak tubuh (Sastrawijaya, 2009).
Keluhan kesehatan yang dialami oleh pemilik rumah tinggal mungkin disebabkan oleh udara yang tidak sehat, debu yang beterbangan, atau asap kendaraan bermotor yang lalu lalang di jalan raya yang dikeluarkan pada saat terjadi kemacetan.
5.5 Karakteristik Responden Yang Mengalami Keluhan Kesehatan
Berdasarkan karakteristik responden yang meliputi umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, lama bertempat tinggal di rumah tepi jalan raya, dan durasi tinggal di dalam rumah, di temukan bahwa responden yang paling banyak mengalami keluhan kesehatan adalah kelompok umur diatas 50 tahun yaitu sebanyak 8 orang, hal ini menunjukkan bahwa umur merupakan salah satu variabel penting dalam bidang penelitian komunitas. Umur dapat menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi perkembangan penyakit secara langsung atau secara tidak langsung sehingga menyebabkan perbedaan di antara angka kesakitan dan kematian pada masyarakat (Chandra, 2008).
Berdasarkan karakteristik jenis kelamin ditemukan paling tinggi terdapat pada jenis kelamin perempuan dengan jumlah responden sebanyak 8 orang. Hal tersebut dikarenakan lebih banyaknya aktivitas yang dilakukan oleh pemilik rumah perempuan sehingga beresiko lebih tinggi terkena keluhan kesehatan.
Berdasarkan karakteristik tingkat pendidikan ditemukan tingkat pendidikan yang paling banyak mengalami keluhan kesehatan adalah sarjana dengan jumlah responden sebanyak 7 orang. Hal ini terjadi karena tingkat pendidikan terbanyak responden adalah sarjana. Perbedaan tingkat pendidikan dapat menyebabkan perbedaan pola berpikir seseorang dalam menghadapi suatu masalah (Notoatmodjo, 2003).
Berdasarkan karakteristik berdasarkan lama bertempat tinggal di tepi jalan raya ditemukan paling tinggi terdapat pada kelompok pemilik rumah yang bertempat tinggal di tepi jalan raya selama 21 sampai 30 tahun dan diatas 40 tahun
yaitu sebanyak 4 orang. Hal ini memiliki kaitan dimana keluhan kesehatan akan semakin meningkat apabila terjadi paparan terus menerus dan selama bertahun-tahun.
Berdasarakan karakteristik durasi tinggal di rumah dalam sehari ditemukan responden yang paling banyak mengalami keluhan kesehatan adalah responden yang setiap harinya tinggal selama 17 sampai 24 jam yaitu sebanyak 8 orang. Hal ini terjadi dikarenakan semakin lama responden berada di dalam rumah tepi jalan raya semakin besar tingkat paparan karbon monoksida (CO) dan nitrogen dioksida (NO2) yang dialami oleh responden. Menurut Mukono (2008), periode paparan yang lama dapat menyebabkan timbulnya keluhan pernapasan.
Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa seluruh hasil uji pengukuran kualitas udara di rumah tepi jalan Djamin Ginting Kelurahan Padang Bulan masih dibawah nilai ambang batas. Meskipun tidak ada satu titik yang melebihi nilai ambang batas namun keluhan kesehatan ditemukan pada pemilik rumah, hal ini terjadi karena paparan polutan gas selama beberapa tahun dapat menimbulkan keluhan pernapasan (Mukono, 2008). Selain itu hal ini juga berpengaruh dengan karakteristik yang meliputi umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, lama tinggal dirumah tepi jalan , dan durasi tinggal di rumah dalam sehari. Pengaruh karbon monoksida (CO) dan nitrogen dioksida (NO2) terhadap tubuh manusia tidak sama antara manusia yang satu dengan yang lain. Daya tahan tubuh manusia ikut menentukan toleransi tubuh terhadap pengaruh adanya karbon monoksida (CO) dan nitrogen dioksida (NO2).
6.1 Kesimpulan
Dari hasil penelitian yang dilakukan maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Hasil pengukuran karbon monoksida (CO) yang dilakukan di dalam ruangan rumah tinggal di tepi jalan raya Djamin Ginting Kelurahan Padang Bulan tidak ada yang melebihi nilai ambang batas, dengan nilai tertinggi yaitu 0,000618 ppm.
2. Hasil pengukuran nitrogen dioksida (NO2) yang dilakukan di dalam ruangan rumah tinggal di tepi jalan raya Djamin Ginting Kelurahan Padang Bulan tidak ada yang melebihi nilai ambang batas, dengan nilai rata-rata yaitu 0,000147 ppm.
3. Hasil penelitian terhadap karakteristik rumah diketahui bahwa seluruh titik pada rumah yang memiliki tanaman maupun tidak memiliki tanaman dan dengan karakteristik rumah (ventilasi, luas rumah, tinggi plafon dari lantai, dan jarak rumah dengan jalan raya) yang memenuhi syarat atau tidak memenuhi syarat diperoleh hasil bahwa kadar karbon monoksida (CO) dan nitrogen dioksida (NO2) dibawah nilai ambang batas.
4. Hasil penelitian terhadap responden diketahui bahwa distribusi karakteristik responden penelitian yang terbanyak berasal dari kelompok umur diatas 50 tahun yaitu 9 orang (47,4%). Jenis kelamin responden yang terbanyak adalah perempuan yaitu 10 orang (52.6%). Tingkat pendidikan responden terbanyak
adalah sarjana yaitu 10 orang (52,6%). Lama bertempat tinggal di rumah pinggir jalan terbanyak adalah 21 sampai 30 tahun yaitu 7 orang (36,8%).
Dan durasi tinggal di rumah dalam sehari terbanyak adalah 9 sampai 16 jam yaitu 10 orang (52,6%).
5. Hasil penelitian terhadap keluhan kesehatan yang dilakukan pada 19 pemilik rumah tinggal di tepi jalan raya Djamin Ginting Kelurahan Padang Bulan, diketahui bahwa tidak semua pemilik rumah memiliki keluhan kesehatan, namun jenis keluhan kesehatan yang sering di alami adalah mata perih dan pusing.
6.2 Saran
1. Kepada pemilik rumah sebaiknya lebih memperhatikan kondisi kesehatan lingkungan khususnya kualitas udara di dalam rumah dengan memperbaiki sistim ventilasi dan memperbanyak tanaman hijau di pekarangan rumah, agar terhindar dari pencemaran udara baik dari dalam ruangan maupun dari luar ruangan.
2. Kepada peneliti lain, disarankan untuk melanjutkan penelitian ini dengan menambah cakupan penelitian misalnya hubungan antara kualitas udara dalam ruangan rumah tinggal dengan keluhan kesehatan pemilik rumah, sehingga diperoleh data dan informasi ilmiah yang lebih lengkap.
3. Perlu diadakannya penelitian lebih lanjut mengenai pengukuran kadar gas karbon monoksida (CO) dan nitrogen dioksida (NO2) dalam ruangan pada rumah tinggal dan memperbanyak pengambilan sampel dengan berbagai kondisi lingkungan untuk mengetahui pola penyebaran gas polutan.
Akhadi, Mukhlis. 2009. Ekologi Energi: Mengenali Dampak Lingkungan dalam Pemanfaatan Sumber-Sumber Energi. Penerbit Graha Ilmu, Yogyakarta.
Chandra, Budiman. 2007. Pengantar Kesehatan Lingkungan. Penerbit Buku Kedokteran, Jakarta.
_______________. Metodologi Penelitian Kesehatan. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta
Fardiaz, S., 1992. Polusi Air dan Udara. Kanisius, Yogyakarta.
Fitria Laila ., Wulandari Arminsih ririn ., Hermawati Ema ., Dewi Susanna ., 2008. Kualitas Udara Dalam Ruang Perpustakaan Universitas “X”
Ditinjau Dari Kualitas Biologi, Fisik dan Kimiawi. Makara Kesehatan, Vol. 12, No 2 : 76-82
Handika Andre Rizki dan Driejana, 2013. Polusi Udara Dalam Rumah Sekitar Jalan Raya : Intrusi No2 Dari Transportasi Dan Gangguan Pernapasan Pada Penghuni Rumah. Jurnal Teknik Lingkungan UNAND 10 (2) : 119 - 132
Kastiyowati, Indah, 2001. Dampak dan Upaya Penanggulangan Pencemaran Udara. Diakses 20 Mei 2016; http://www.bulerinlitbang.dephan.go.id Keman, S . 2005. Kesehatan Perumahan dan Lingkungan Pemukiman.
Diakses 2 november 2016. http://journal.unair.ac.id/filerPDF/KESLING-2-1-04.pdf
Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1405/MENKES/SK/XI/2002 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja Perkantoran Dan Industri
Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1407/MENKES/SK/XI/2002 tentang pedoman Pengendalian Dampak Pencemaran Udara
Keputusan Menteri Permukiman Dan Prasarana Wilayah Nomor:
403/Kpts/M/2002 Tentang Pedoman Teknis Pembangunan Rumah Sederhana Sehat (Rs Sehat)
Meirinda. 2008. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kualitas Udara dalam Rumah di Sekitar Tempat Pembuangan Akhir Sampah Kelurahan Terjun Kecamatan Medan Marelan. USU, Medan
Mukono, H.J. 2008. Pencemaran Udara dan Pengaruhnya Terhadap Gangguan Saluran Pernafasan. Cetakan Ketiga. Airlangga University Press. Surabaya.
__________. 2010. Toksikologi Lingkungan. Cetakan Kedua. Airlangga University Press. Surabaya
__________. 2010. Prinsip Dasar Kesehatan Lingkungan. Airlangga University Press. Surabaya
__________. 2011. Aspek Kesehatan Pencemaran Udara. Airlangga University Press. Surabaya
Mulia, R. M. 2005. Pengantar Kesehatan Lingkungan. Cetakan Pertama.
Yogyakarta: Graha Ilmu
Moestikahadi, S. 2001. Pencemaran Udara. Penerbit ITB. Bandung.
Notoatmodjo, Soekidjo. 2003. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Rineka Cipta, Jakarta
___________________. 2007. Kesehatan Masyarakat: Ilmu & Seni. Penerbit Rineka Cipta, Jakarta.
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1077/MENKES/PER/V/2011 tentang Pedoman Penyehatan Udara Dalam Ruang Rumah
Putri dan Driejana, 2009. Analisis Konsentrasi NO2 di Dalam Ruangan pada Rumah Tinggal di Tepi Jalan Raya (Studi Kasus: Wilayah Bandung).
Diakses pada 27 juli 2016. http://www.ftsl.itb.ac.id
Ryadi, Slamet. 2005. Pengantar Kesehatan Lingkungan dimensi dan Tinjauan Konsepsual. Usaha Nasional. Surabaya.
Sarudji, D. 2010. Kesehatan Lingkungan. Karya Putra Darwati. Bandung Sastarwijaya, A. T. 2009. Pencemaran Lingkungan. PT. Rinike Cipta. Jakarta.
Slamet, J.S., 1994. Kesehatan Lingkungan. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
__________, 2009 Kesehatan Lingkungan. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta
Soemirat. 2009. Kesehatan lingkungan. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta
Sunu, Pramudya. 2001. Melindungi Lingkungan dengan Menerapkan ISO 14001. Grasindo, Jakarta.
Undang-Undang RI No.23 Tahun 2007 Tentang Pencemaran Lingkungan
Wardhana, Wisnu Arya. 2004. Dampak Pencemaran Lingkungan. Andi Offset.
Yogyakarta.
ANALISIS KONSENTRASI CO DAN N02 DALAM RUANGAN SERTA KONDISI KARAKTERISTIK RUMAH DAN KELUHAN KESEHATAN
PADA RUMAH TINGGAL DI TEPI JALAN RAYA DJAMIN GINTING KELURAHAN PADANG BULAN
7 Durasi tinggal dirumah dalam sehari _____ Jam
II. KELUHAN GANGGUAN KESEHATAN
5
Apakah Anda sering merasakan sakit kepala/pusing ?
Pertanyaan pendukung
1. Apakah Anda sering mencium bau asap kendaraan di dalam rumah pada siang hari ?
a. Ya b. Tidak
2. Apakah Anda sering mencium debu didalam rumah ?
a. Ya b. Tidak
3. Apakah Anda sering merasa lelah/cepat capek pada saat menjalankan aktivitas di dalam rumah ?
a. Ya b. Tidak
4. Apakah selama tinggal di rumah tepi jalan raya Djamin ginting anda pernah merasakan keluhan kesehatan ?
a. Ya b. Tidak
5. Apakah gejala-gejala tersebut terus berulang ?
a. Ya b. Tidak
ANALISIS KONSENTRASI CO DAN N02 DALAM RUANGAN SERTA KONDISI KARAKTERISTIK RUMAH DAN KELUHAN
KESEHATAN PADA RUMAH TINGGAL DI JALAN DJAMIN GINTING KELURAHAN PADANG
BULAN KOTA MEDAN TAHUN 2016 Jenis Rumah : a. Memiliki tanaman
b. Tidak memiliki tanaman Jumlah penghuni rumah :
KARAKTERISTIK RUMAH
No Pertanyaan Jawaban
Ya Tidak 1 Luas ventilasi rumah lebihdari 10 % luas lantai
2 Tinggi plafon dari lantai ≥ 2,8 meter 3 Luas rumah (9m2/orang)
4 Jarak rumah dari tepi jalan raya 5 m
Gambar 1. Alat yang digunakan untuk mengukur kadar CO dan NO2
Gambar 2. Wawancara yang dilakukan pada pemilik rumah
Gambar 3. Pengukuran kadar CO dan NO2 di dalam rumah
Gambar 4. Pengukuran CO dan NO2 di dalam rumah
Gambar 5. Pengukuran CO dan NO2 di dalam Rumah
Gambar 7. Gambaran jarak rumah dengan jalan raya
PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1077/MENKES/PER/V/2011
TENTANG
PEDOMAN PENYEHATAN UDARA DALAM RUANG RUMAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA,
Menimbang: a. bahwa kualitas udara yang buruk dalam ruang rumah dapat menimbulkan gangguan kesehatan, sehingga perlu upaya penanggulangan secara tepat dan berkesinambungan oleh semua pihak;
b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, perlu menetapkan Peraturan Menteri Kesehatan tentang Pedoman Penyehatan Udara Dalam Ruang Rumah;
Mengingat: 1. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 134, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4247);
2. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 (Lembaga Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844);
3. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5059);
Persyaratan kualitas udara dalam ruang rumah meliputi :
a. Kualitas fisik, terdiri dari parameter: partikulat (Particulate Matter/PM2,5 dan PM10), suhu udara, pencahayaan, kelembaban, serta pengaturan dan pertukaran udara (laju ventilasi);
b. Kualitas kimia, terdiri dari parameter: Sulfur dioksida (SO2), Nitrogen dioksida (NO2), Karbon monoksida (CO), Karbon dioksida (CO2), Timbal
(Plumbum=Pb), asap rokok (Environmental Tobacco Smoke/ETS), Asbes, Formaldehid (HCHO), Volatile Organic Compound (VOC); dan
c. Kualitas biologi terdiri dari parameter: bakteri dan jamur.
A. Persyaratan Fisik
No Jenis Parameter Satuan Kadar yang
dipersyaratkan
No Jenis Parameter satuan Kadar maksimal yang
Pertukaran udara yang tidak memenuhi syarat dapat menyebabkan suburnya pertumbuhan mikroorganisme, yang mengakibatkan gangguan terhadap kesehatan manusia.
b. Faktor Risiko
1) Kurangnya ventilasi (jumlah dan luas ventilasi tidak cukup, sesuai persyaratan kesehatan).
2) Tidak ada pemeliharaan AC secara berkala.
c. Upaya Penyehatan
Upaya penyehatan dapat dilakukan dengan mengatur pertukaran udara, antara lain yaitu :
1) Rumah harus dilengkapi dengan ventilasi, minimal 10% luas lantai dengan sistem ventilasi silang
2) Rumah ber-AC (Air Condition) pemeliharaan AC dilakukan secara berkala sesuai dengan buku petunjuk, serta harus melakukan pergantian udara dengan membuka jendela minimal pada pagi hari secara rutin 3) Menggunakan exhaust fan
4) Mengatur tata letak ruang
5. Partikel debu diameter 2,5µ (PM2,5) dan Partikel debu diameter 10µ (PM10)
a. Dampak
PM2,5 dan PM10 dapat menyebabkan pneumonia, gangguan sistem pernapasan, iritasi mata, alergi, bronchitis khronis.
PM2,5 dapat masuk kedalam paru yang berakibat timbulnya emfisema paru, asma bronchial, dan kanker paru-paru serta gangguan kardiovaskular atau kardiovascular (KVS).
b. Faktor Risiko
Secara umum PM2,5 dan PM10 timbul dari pengaruh udara luar (kegiatan manusia akibat pembakaran dan aktifitas industri). Sumber dari dalam rumah antara lain dapat berasal dari perilaku merokok, penggunaan energi
MENTERI PERMUKIMAN DAN PRASARANA WILAYAH REPUBLIK INDONESIA
KEPUTUSAN MENTERI PERMUKIMAN DAN PRASARANA WILAYAH NOMOR: 403/KPTS/M/2002
TENTANG
PEDOMAN TEKNIS PEMBANGUNAN RUMAH SEDERHANA SEHAT (Rs SEHAT) MENTERI PERMUKIMAN DAN PRASARANA WILAYAH,
Menimbang :
c. bahwa rumah adalah merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia dan merupakan faktor penting dalam peningkatan harkat dan martabat manusia, maka perlu diciptakan kondisi yang dapat mendorong pembangunan perumahan untuk menjaga kelangsungan penyediaan perumahan bagi seluruh lapisan masyarakat
d. bahwa kemampuan masyarakat khususnya yang berpenghasilan rendah masih terbatas untuk membeli rumah yang layak, sehat, aman, serasi, dan teratur, maka perlu pembangunan rumah yang dapat dilakukan secara bertahap.
e. bahwa beragamnya potensi bahan bangunan dan budaya di Indonesia menuntut suatu penanganan perumahan yang berbeda-beda pada setiap daerah sesuai dengan potensi lokal, agar biaya pembangunan rumah dapat dijangkau oleh masyarakat berpenghasilan rendah
f. bahwa di samping pedoman teknik pembangunan perumahan sederhana tidak bersusun, pedoman teknik pembangunan kapling siap bangun dan pedoman teknik pembangunan perumahan sangat sederhana, maka untuk meningkatkan penyediaan perumahan yang mengakomodasi potensi bahan bangunan, budaya dan aspirasi lokal perlu dilengkapi dengan menyempurnakan pedoman teknik yang sudah ada
g. bahwa untuk maksud tersebut huruf a, b, c, dan d perlu pengaturan dan penetapan pedoman teknis pembangunan rumah sederhana sehat berbasis pada potensi lokal yang perlu ditetapkan dengan Surat Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah
Mengingat :
4. Undang Undang Nomor 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 23, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3469)
5. Undang Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3839)
6. Peraturan Pemerintah Nomor 80 Tahun 1999 tentang Kawasan Siap Bangun dan Lingkungan Siap Bangun Berdiri Sendiri (Lembaran Negara Tahun
Kebutuhan ruang per orang dihitung berdasarkan aktivitas dasar manusia di dalam rumah. Aktivitas seseorang tersebut meliputi aktivitas tidur, makan, kerja, duduk, mandi, kakus, cuci dan masak serta ruang gerak lainnya. Dari hasil kajian, kebutuhan ruang per orang adalah 9 m2 dengan perhitungan ketinggian rata-rata langit-langit adalah 2.80 m.
Rumah sederhana sehat memungkinkan penghuni untuk dapat hidup sehat, dan menjalankan kegiatan hidup sehari-hari secara layak. Kebutuhan minimum ruangan pada rumah sederhana sehat perlu memperhatikan beberapa ketentuan sebagai berikut:
kebutuhan luas per jiwa
kebutuhan luas per Kepala Keluarga (KK)
kebutuhan luas bangunan per kepala Keluarga (KK)
kebutuhan luas lahan per unit bangunan
Secara lengkap dapat dilihat pada Tabel 2.
Kebutuhan Kesehatan dan Kenyamanan
Rumah sebagai tempat tinggal yang memenuhi syarat kesehatan dan kenyamanan dipengaruhi oleh 3 (tiga) aspek, yaitu pencahayaan, penghawaan, serta suhu udara dan kelembaban dalam ruangan.
Aspek-aspek tersebut merupakan dasar atau kaidah perencanaan rumah sehat dan nyaman.
Pencahayaan
Matahari sebagai potensi terbesar yang dapat digunakan sebagai pencahayaan alami pada siang hari. Pencahayaan yang dimaksud adalah penggunaan terang langit, dengan ketentuan sebagai berikut:
cuaca dalam keadaan cerah dan tidak berawan,
ruangan kegiatan mendapatkan cukup banyak cahaya,
ruang kegiatan mendapatkan distribusi cahaya secara merata.