• Tidak ada hasil yang ditemukan

Keluhan Kesehatan pada Pemilik Rumah Tinggal

BAB IV HASIL PENELITIAN

4.2 Hasil Penelitian

4.2.5 Keluhan Kesehatan pada Pemilik Rumah Tinggal

Keluhan kesehatan pada pemilik rumah dalam penelitian ini terdiri atas 5 jenis, yaitu : mata perih, mata berair, mual, sulit bernapas, dan sakit kepala/pusing Tabel 4.5 Distribusi Responden Berdasarkan Keluhan Kesehatan yang

Dirasakan

Tabel 4.5 menunjukkan bahwa pada jenis keluhan kesehatan mata perih 13 responden (68,4%) yang mengalami keluhan mata perih. Pada jenis keluhan kesehatan mata berair 3 responden (15,8%) yang mengalami keluhan mata berair.

Pada jenis keluhan kesehatan mual semua responden (100%) tidak mengalami keluhan mual. Pada jenis keluhan kesehatan sulit bernapas semua responden (100%) tidak mengalami keluhan sulit bernapas. Pada jenis keluhan kesehatan sakit kepala / pusing 6 responden (31,6%) yang mengalami keluhan sakit kepala / pusing.

4.2.6 Tabulasi Silang Responden dan Keluhan Kesehatan 1. Umur Responden

Adapun umur responden berdasarkan keluhan kesehatan dapat dilihat pada tabel 4.6 dibawah ini:

Tabel 4.6 Tabulasi Silang Umur Responden dengan Keluhan Kesehatan pada Pemilik Rumah Tinggal di Tepi Jalan Djamin Ginting Kelurahan Padang Bulan Medan Tahun 2016 tahun yang paling banyak mengalami keluhan kesehatan yaitu sebanyak 8 orang (88,9)

2. Jenis Kelamin

Adapun jenis kelamin responden berdasarkan keluhan kesehatan dapat dilihat pada tabel 4.7 dibawah ini:

Tabel 4.7 Tabulasi Silang Jenis Kelamin Responden dengan Keluhan Kesehatan pada Pemilik Rumah Tinggal di Tepi Jalan Djamin Ginting Kelurahan Padang Bulan Tahun 2016

Jenis kelamin Keluhan Kesehatan

Tabel 4.7 menunjukkan bahwa responden yang berjenis kelamin perempuan yaitu sebanyak 8 orang (80,0%) yang paling banyak mengalami keluhan kesehatan.

3. Tingkat Pendidikan

Adapun tingkat pendidikan responden berdasarkan keluhan kesehatan dapat dilihat pada tabel 4.8 dibawah ini:

Tabel 4.8 Tabulasi Silang Tingkat Pendidikan Responden dengan Keluhan Kesehatan pada Pemilik Rumah Tinggal di Tepi Jalan Djamin Ginting Kelurahan Padang Bulan Medan Tahun 2016

Tabel 4.8 menunjukkan bahwa responden yang berpendidikan sarjana yaitu sebanyak 7 orang (70,0%) yang paling banyak mengalami keluhan kesehatan.

4. Lama Bertempat Tinggal di Rumah Tepi Jalan

Adapun lama bertempat tinggal di rumah tepi jalan responden berdasarkan keluhan kesehatan dapat dilihat pada tabel 4.9 dibawah ini : Tabel 4.9 Tabulasi Silang Lama Tinggal di Rumah Tepi Jalan

Responden dengan Keluhan Kesehatan pada Pemilik Rumah Tinggal di Tepi Jalan Djamin Ginting Kelurahan yang paling banyak mengalami keluhan kesehatan yaitu sebanyak 4 orang.

5. Durasi Tinggal di Dalam Rumah

Adapun durasi tinggal di dalam rumah dalam sehari responden berdasarkan keluhan kesehatan dapat dilihat pada tabel 4.10 dibawah ini : Tabel 4.10 Tabulasi Silang Durasi Tinggal di Dalam Rumah dalam

Sehari Responden dengan Keluhan Kesehatan pada Pemilik Rumah Tinggal di Tepi Jalan Djamin Ginting Kelurahan Padang Bulan MedanTahun 2016

Durasi tinggal di

Tabel 4.10 menunjukkan bahwa responden yang berada selama 17 – 24 jam di dalam rumah yang paling banyak mengalami keluhan kesehatan yaitu sebanyak 8 orang (88,9%).

5.1 Kadar Karbon Monoksida (CO) dalam Ruangan pada Rumah Tinggal di Tepi Jalan Djamin Ginting Kelurahan Padang Bulan

Berdasarkan hasil pengukuran yang dilakukan di 9 rumah yaitu pada masing – masing ruangan rumah tinggal yang memiliki dan tidak memiliki tanaman, dapat dilihat bahwa kadar karbon monoksida (CO) tidak ada yang melebihi nilai ambang batas yaitu 27 ppm menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1077 Tahun 2011 tentang pedoman penyehatan udara dalam ruang rumah, namun kadar tertinggi karbon monoksida (CO) sebesar 0,000618 ppm yaitu pada lokasi pengukuran di rumah 1. Asumsi penelitian ini, kadar karbon monoksida (CO) yang dibawah nilai ambang batas dikarenakan rata-rata rumah tinggal memiliki ventilasi alami maupun buatan seperti kipas angin sehingga terjadi aliran udara dengan demikian hal ini juga mempengaruhi keberadaan gas karbon monoksida (CO) di dalam ruangan rumah tinggal.

Berdasarkan hasil pengukuran yang dilakukan di dalam ruangan rumah tinggal untuk rumah yang memiliki tanaman diperoleh hasil yang lebih rendah jika dibandingkan dengan rumah yang tidak memiliki tanaman. Hal ini terjadi karena polutan dari luar dihalangi oleh tanaman.

Tinggi rendahnya kadar karbon monoksida (CO) di dalam ruangan dipengaruhi oleh banyak faktor, diantaranya adalah faktor kecepatan angin, arah angin, cuaca, dan suhu udara di sekitar dapat mempengaruhi penyebaran bahan pencemar (Sarudji, 2010). Keberadaan gas karbon monoksida (CO) dalam

ruangan juga akan dipengaruhi oleh pergerakan udara atau aliran udara dalam ruangan (Fardiaz, 1992).

Karbon Monoksida (CO) yang terdapat di dalam ruangan pada rumah tinggal di tepi jalan raya Djamin Ginting Kelurahan Padang Bulan berasal dari pencemar luar ruangan yaitu emisi gas buang dari kendaraan bermotor di jalan.

Karbon monoksida (CO) diproduksi dari pembakaran yang tidak sempurna dari bahan-bahan yang mengandung karbon seperti hasil buang kendaraaan bermotor, pembakaran di perindustrian, pembangkit listrik, pembakaran sampah dan sebagainya (Sastrawijaya, 2009). Sektor transportasi mempunyai ketergantungan yang tinggi terhadap energi, penggunaan energi tersebut berasal dari bahan bakar minyak (BBM) yang mengeluarkan senyawa karbon monoksida (CO).

Konstribusi dari gas buangan kendaraan bermotor tersebut mencapai 60-70% (Wardhana, 2004).Semakin banyak jumlah kendaraan yang melintasi jalan tersebut maka kadar karbon monoksida (CO) yang di buang ke udara juga akan semakin meningkat dengan demikian kualitas udara akan semakin menurun.

5.2 Kadar Nitrogen Dioksida (NO2) dalam Ruangan pada Rumah Tinggal di Tepi Jalan Djamin Ginting Kelurahan Padang Bulan Berdasarkan hasil pengukuran yang dilakukan di 9 titik yaitu pada pada masing – masing ruangan rumah tinggal yang memiliki dan tidak memiliki tanaman dapat dilihat bahwa kadar nitrogen dioksida (NO2) tidak ada yang melebihi nilai ambang batas yaitu 0,04 ppm menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1077 Tahun 2011 tentang pedoman penyehatan udara dalam ruang rumah, namun rata-rata kadar nitrogen dioksida (NO2) yaitu 0,000149 ppm. Asumsi penelitian ini, kadar nitrogen dioksida (NO2) yang

dibawah nilai ambang batas dikarenakan rata-rata rumah tinggal memiliki ventilasi alami maupun buatan seperti kipas angin sehingga terjadi aliran udara dengan demikian hal ini juga mempengaruhi keberadaan gas nitrogen dioksida (NO2) di dalam ruangan rumah tinggal.

Tinggi rendahnya kadar nitrogen dioksida (NO2) di dalam ruangan dipengaruhi oleh banyak faktor, diantaranya adalah faktor kecepatan angin, arah angin, cuaca, dan suhu udara di sekitar dapat mempengaruhi penyebaran bahan pencemar (Sarudji, 2010). Hasil penelitian ini sama dengan penelitian yang dilakukan oleh Pangaribuan (2012) yaitu tentang pengukuran konsentrasi karbon monoksida (CO) dan nitrogen dioksida (NO2) di dalam ruangan rental game online di sekitar jalan raya Djamin Ginting Kelurahan Padang Bulan Medan menunjukkan bahwa tidak ada kadar karbon monoksida (CO) dan nitrogen dioksida (NO2) yang melebihi ambang batas. Menurut Fardiaz (1992) konsentrasi NOx di udara dalam suatu kota bervariasi sepanjang hari tergantung dari sinar matahari dan aktivitas kendaraan.

5.3 Karakteristik Ruangan Rumah Tinggal

Pada umumnya bangunan rumah tinggal yang berada di tepi jalan raya Djamin Ginting Kelurahan Padang Bulan terletak dengan jarak yang sangat dekat dengan jalan raya. Kondisi jalan raya di sekitar lokasi penelitian ini adalah jalan yang sering terjadi kemacetan lalu lintas.

5.3.1 Ventilasi

Pada umumnya rumah yang berada di tepi jalan raya Kelurahan Padang Bulan memiliki ventilasi dan jendela yang menghadap jalan raya dan kurang dari

10% luas lantai. Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan bahwa dari 9 rumah yang diteliti terdapat 4 rumah tinggal yang memiliki ventilasi dengan luas tidak memenuhi syarat. Menurut Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah No. 403 tahun 2002 tentang pedoman teknis pembangunan rumah sederhana sehat, bahwa untuk ruangan pada rumah tinggal harus memiliki lubang ventilasi minimal 10% dari luas lantai.

Pengukuran yang dilakukan pada 9 titik di dalam ruangan rumah tinggal diketahui karakteristik ventilasi berdasarkan jumlah titik pengukuran karbon monoksida (CO) dan nitrogen dioksida (NO2), yaitu hasil pengukuran dibawah nilai ambang batas pada seluruh rumah dengan ventilasi yang memenuhi syarat dan tidak memenuhi syarat menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1077 Tahun 2011 tentang pedoman penyehatan udara dalam ruang rumah. Rumah dengan ventilasi yang memenuhi syarat memiliki kadar yang lebih rendah jika dibandingkan dengan rumah dengan ventilasi tidak memenuhi syarat.

Menurut National Institute of Occupational Safety and Health (NIOSH) tahun 1997, ventilasi udara mempengaruhi kualitas udara dalam ruangan sebanyak 52%. Ventilasi digunakan untuk mengendalikan suhu, kelembaban udara dan pergerakan udara. Ventilasi dengan tekanan udara tertentu dapat mempengaruhi kecepatan pergerakan udara, arah pergerakan, intensitas pergerakan.

5.3.2 Luas Rumah

Berdasarkan hasil pengamatan pada lokasi penelitian, umumnya rumah yang berada di tepi jalan Djamin Ginting Kelurahan Padang Bulan memiliki luas

rumah yang memenuhi syarat. Berdasarkan Keputusan Menteri Permukiman dan Prasana Wilayah No. 403 tahun 2002 tentang Pedoman Teknis Pembangunan Rumah Sederhana Sehat, dari 9 rumah di lokasi penelitian terdapat 1 rumah yang tidak memenuhi syarat dengan luas minimal 9m3/orang

Menurut Chandra (2007), kriteria rumah sehat di Indonesia salah satunya memiliki luas bangunan antara 21-36 meter persegi. Luas ruangan dapat mempengaruhi kualitas udara di dalamnya, dimana semakin besar luas ruangan maka pergerakan udara di dalamnya semakin bebas. Hal ini juga mempengaruhi konsentrasi karbon monoksida (CO) dan nitrogen dioksida (NO2) di dalam ruangan rumah tinggal.

Pengukuran yang dilakukan pada 9 titik di dalam ruangan rumah tinggal diketahui karakteristik luas rumah berdasarkan jumlah titik pengukuran karbon monoksida (CO) dan nitrogen dioksida (NO2), yaitu hasil pengukuran dibawah nilai ambang batas pada seluruh rumah dengan luas rumah yang memenuhi syarat dan tidak memenuhi syarat menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1077 Tahun 2011 tentang pedoman penyehatan udara dalam ruang rumah.

5.3.3 Tinggi Plafon Dari Lantai

Berdasarkan hasil pengamatan pada lokasi penelitian, seluruh rumah yang berada di tepi jalan Djamin Ginting Kelurahan Padang Bulan memiliki tinggi plafon dari lantai yang memenuhi syarat yaitu 2,8 meter , sesuai dengan Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah No. 403 tahun 2002 tentang pedoman teknis pembangunan rumah sederhana sehat.

Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan, seluruh rumah yang berada di tepi jalan raya Kelurahan Padang Bulan memiliki tinggi plafon dari lantai yang memenuhi syarat Pengukuran yang dilakukan pada 9 titik di dalam ruangan rumah tinggal diketahui karakteristik tinggi plafon dari lantai berdasarkan jumlah titik pengukuran karbon monoksida (CO) dan nitrogen dioksida (NO2), yaitu hasil pengukuran dibawah nilai ambang batas pada seluruh rumah dengan tinggi plafon dari lantai yang memenuhi syarat.

Menurut Keman (2005) tinggi ruangan mempengaruhi pergerakan udara di dalam ruangan secara vertikal, apabila terdapat udara yang tidak bebas dalam ruangan maka bahan pencemar udara dalam konsentrasi yang cukup akan memiliki kesempatan untuk memasuki tubuh penghuninya.

5.3.4 Jarak Rumah dengan Jalan Raya

Berdasarkan hasil pengamatan pada lokasi penelitian, umumnya rumah yang berada di tepi jalan Djamin Ginting Kelurahan Padang Bulan memiliki jarak rumah dengan jalan raya yang memenuhi syarat. Berdasarkan Undang-undang nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung,bahwa setiap bangunan harusmemiliki garis sepadan. Dari 9 rumah di lokasi penelitian terdapat 2 rumah yang tidak memenuhi syarat dengan jarak minimal 5 meter.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Driejana dan Putri (2009) bahwa terdapat hubungan antara jarak rumah dengan jalan raya atau sumber pencemar dengan konsentrasi bahan pencemar dalam rumah. Semakin dekat jarak dengan sumber pencemar maka semakin besar konsentrasi pencemar di dalam rumah.

Menurut Sutardi (2008) dalam Meirinda (2008), konsentrasi suatu gas dalam

udara di suatu tempat dalam ruangan dipengaruhi oleh dua faktor, pertama: faktor sumber yaitu volume sumber, konsentrasi sumber dan jarak tempat pengukuran dari sumber. Kedua : faktor lingkungan yaitu temperatur udara, kelembaban udara, tekanan udara, arah dan kecepatan angin. Hal ini juga dapat mempengaruhi konsentrasi CO (karbon monoksida) dan NO2 (nitrogen dioksida) dalam rumah tinggal.

Pengukuran yang dilakukan pada 9 titik di dalam ruangan rumah tinggal diketahui karakteristik jarak rumah dengan jalan raya berdasarkan jumlah titik pengukuran karbon monoksida (CO) dan nitrogen dioksida (NO2), yaitu hasil pengukuran dibawah nilai ambang batas dengan jarak rumah ke jalan raya yang memenuhi syarat dan tidak memenuhi syarat. Hal ini dipengaruhi oleh faktor lainnya seperti ventilasi dan kepadatan hunian dalam ruangan. Kondisi polutan pada udara di luar ruangan sebelum masuk ke dalam ruangan, digerakkan oleh kendaraan yang lalu lalang sementara keadaan gedung di sekitar tepi jalan tidak semuanya tinggi atau bertingkat sehingga udara di sekitar jalan dapat bergerak secara vertikal maupun horizontal. Hal ini mempengaruhi kadar polutan yang dapat masuk ke dalam ruangan seperti karbon monoksida (CO) dan nitrogen dioksida (NO2) yang dihasilkan oleh kendaraan di jalan.

5.4 Keluhan Kesehatan pada Pemilik Rumah di Tepi Jalan Raya Djamin Ginting

Berdasarkan hasil analisis data, dari 5 jenis keluhan kesehatan yang ditanyakan pada responden, yaitu mata perih, mata berair, mual, sulit bernapas, dan sakit kepala/pusing, diketahui bahwa keluhan kesehatan yang terbanyak adalah mata perih yaitu sebanyak 13 orang, sedangkan keluhan sakit kepala /

pusing yaitu sebanyak 6 orang, dan keluhan mata berair sebanyak 3 orang, serta semua pemilik rumah tidak ada yang mengalami keluhan mual dan sulit bernapas.

Keluhan kesehatan yang dialami oleh pemilik rumah tinggal mungkin disebabkan oleh debu / partikulat yang beterbangan di lingkungan rumah.

Karbon monoksida (CO) dalam paparan yang menahun akan menyebabkan berkurangnya penyediaan oksigen ke seluruh tubuh, hal ini akan mengakibatkan terjadinya sesak napas, gangguan saraf, infark jantung bahkan dapat menyebabkan kematian bayi dalam kandungan (Mukono, 2005). Konsentrasi karbon monoksida (CO) sebesar 10 ppm, gejala yang dirasakan dapat berupa pusing, perubahan fungsi paru –paru serta terjadi rasa sesak napas (Soemirat, 2009). Hal ini diakibatkan karena keracunan gas karbon monoksida (CO) dan nitrogen dioksida (NO2) ditandai dari keadaan yang ringan seperti pusing, sakit kepala dan mata perih. Keadaan yang lebih berat dapat berupa rasa mual, telinga berdengung, detak jantung meningkat, rasa tertekan di dada, kesukaran bernapas, menurunnya kemampuan gerak tubuh, gangguan pada sistem kardiovaskular, serangan jantung sampai kepada kematian (Wardhana, 2004).

Selain itu, nitrogen dioksida (NO2) merupakan gas yang toksik bagi manusia dan umumnya mengganggu sistem pernapasan (Mulia, 2005). Apabila manusia terpapar dengan gas nitrogen dioksida (NO2) selanjutnya pemajanan nitrogen dioksida (NO2) dengan kadar 5 ppm selama 10 menit terhadap manusia dapat mengakibatkan kesulitan dalam bernapas (Fardiaz, 1992).

Adapun hasil pengukuran kadar karbon monoksida (CO) dan nitrogen dioksida (NO2) yang dilakukan di rumah tepi jalan raya, tidak ada titik yang

melebihi batas baku mutu yang ditetapkan Peraturan Pemerintah No.41 tahun 1999 tentang pedoman penyehatan udara dalam ruangan rumah. Walaupun dalam jumlah yang masih jauh di bawah baku mutu, namun peningkatan jumlah kebutuhan akan kendaraan bermotor akan semakin meningkatkan kadar karbon monokisida (CO) dan nitrogen dioksida (NO2). Serta paparan karbon monoksida (CO) dan nitrogen dioksida (NO2) dalam jumlah yang sedikit secara terus menerus dapat mengganggu sistem pernapasan. Organ tubuh yang paling peka terhadap pencemaran nitrogen dioksida (NO2) adalah paru - paru. Paru - paru yang terkontaminasi oleh nitrogen dioksida (NO2) akan membengkak sehingga penderita sulit bernapas (Wardhana, 2004).

Pada konsentrasi yang normal ditemukan di atmosfer, NO tidak mengakibatkan iritasi dan berbahaya, tetapi pada konsentrasi udara ambien yang normal NO dapat mengalami oksidasi menjadi NO2 yang lebih berbahaya (Chandra, 2007). Nitrogen oksida (NO) mempunyai kemampuan membatasi kadar oksigen dalam darah dan juga mudah bereaksi dengan oksigen membentuk NO2. Apabila NO2 bertemu dengan uap air di udara atau dalam tubuh manusia maka akan terbentuk HNO3 yang dapat merusak tubuh (Sastrawijaya, 2009).

Keluhan kesehatan yang dialami oleh pemilik rumah tinggal mungkin disebabkan oleh udara yang tidak sehat, debu yang beterbangan, atau asap kendaraan bermotor yang lalu lalang di jalan raya yang dikeluarkan pada saat terjadi kemacetan.

5.5 Karakteristik Responden Yang Mengalami Keluhan Kesehatan

Berdasarkan karakteristik responden yang meliputi umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, lama bertempat tinggal di rumah tepi jalan raya, dan durasi tinggal di dalam rumah, di temukan bahwa responden yang paling banyak mengalami keluhan kesehatan adalah kelompok umur diatas 50 tahun yaitu sebanyak 8 orang, hal ini menunjukkan bahwa umur merupakan salah satu variabel penting dalam bidang penelitian komunitas. Umur dapat menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi perkembangan penyakit secara langsung atau secara tidak langsung sehingga menyebabkan perbedaan di antara angka kesakitan dan kematian pada masyarakat (Chandra, 2008).

Berdasarkan karakteristik jenis kelamin ditemukan paling tinggi terdapat pada jenis kelamin perempuan dengan jumlah responden sebanyak 8 orang. Hal tersebut dikarenakan lebih banyaknya aktivitas yang dilakukan oleh pemilik rumah perempuan sehingga beresiko lebih tinggi terkena keluhan kesehatan.

Berdasarkan karakteristik tingkat pendidikan ditemukan tingkat pendidikan yang paling banyak mengalami keluhan kesehatan adalah sarjana dengan jumlah responden sebanyak 7 orang. Hal ini terjadi karena tingkat pendidikan terbanyak responden adalah sarjana. Perbedaan tingkat pendidikan dapat menyebabkan perbedaan pola berpikir seseorang dalam menghadapi suatu masalah (Notoatmodjo, 2003).

Berdasarkan karakteristik berdasarkan lama bertempat tinggal di tepi jalan raya ditemukan paling tinggi terdapat pada kelompok pemilik rumah yang bertempat tinggal di tepi jalan raya selama 21 sampai 30 tahun dan diatas 40 tahun

yaitu sebanyak 4 orang. Hal ini memiliki kaitan dimana keluhan kesehatan akan semakin meningkat apabila terjadi paparan terus menerus dan selama bertahun-tahun.

Berdasarakan karakteristik durasi tinggal di rumah dalam sehari ditemukan responden yang paling banyak mengalami keluhan kesehatan adalah responden yang setiap harinya tinggal selama 17 sampai 24 jam yaitu sebanyak 8 orang. Hal ini terjadi dikarenakan semakin lama responden berada di dalam rumah tepi jalan raya semakin besar tingkat paparan karbon monoksida (CO) dan nitrogen dioksida (NO2) yang dialami oleh responden. Menurut Mukono (2008), periode paparan yang lama dapat menyebabkan timbulnya keluhan pernapasan.

Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa seluruh hasil uji pengukuran kualitas udara di rumah tepi jalan Djamin Ginting Kelurahan Padang Bulan masih dibawah nilai ambang batas. Meskipun tidak ada satu titik yang melebihi nilai ambang batas namun keluhan kesehatan ditemukan pada pemilik rumah, hal ini terjadi karena paparan polutan gas selama beberapa tahun dapat menimbulkan keluhan pernapasan (Mukono, 2008). Selain itu hal ini juga berpengaruh dengan karakteristik yang meliputi umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, lama tinggal dirumah tepi jalan , dan durasi tinggal di rumah dalam sehari. Pengaruh karbon monoksida (CO) dan nitrogen dioksida (NO2) terhadap tubuh manusia tidak sama antara manusia yang satu dengan yang lain. Daya tahan tubuh manusia ikut menentukan toleransi tubuh terhadap pengaruh adanya karbon monoksida (CO) dan nitrogen dioksida (NO2).

6.1 Kesimpulan

Dari hasil penelitian yang dilakukan maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Hasil pengukuran karbon monoksida (CO) yang dilakukan di dalam ruangan rumah tinggal di tepi jalan raya Djamin Ginting Kelurahan Padang Bulan tidak ada yang melebihi nilai ambang batas, dengan nilai tertinggi yaitu 0,000618 ppm.

2. Hasil pengukuran nitrogen dioksida (NO2) yang dilakukan di dalam ruangan rumah tinggal di tepi jalan raya Djamin Ginting Kelurahan Padang Bulan tidak ada yang melebihi nilai ambang batas, dengan nilai rata-rata yaitu 0,000147 ppm.

3. Hasil penelitian terhadap karakteristik rumah diketahui bahwa seluruh titik pada rumah yang memiliki tanaman maupun tidak memiliki tanaman dan dengan karakteristik rumah (ventilasi, luas rumah, tinggi plafon dari lantai, dan jarak rumah dengan jalan raya) yang memenuhi syarat atau tidak memenuhi syarat diperoleh hasil bahwa kadar karbon monoksida (CO) dan nitrogen dioksida (NO2) dibawah nilai ambang batas.

4. Hasil penelitian terhadap responden diketahui bahwa distribusi karakteristik responden penelitian yang terbanyak berasal dari kelompok umur diatas 50 tahun yaitu 9 orang (47,4%). Jenis kelamin responden yang terbanyak adalah perempuan yaitu 10 orang (52.6%). Tingkat pendidikan responden terbanyak

adalah sarjana yaitu 10 orang (52,6%). Lama bertempat tinggal di rumah pinggir jalan terbanyak adalah 21 sampai 30 tahun yaitu 7 orang (36,8%).

Dan durasi tinggal di rumah dalam sehari terbanyak adalah 9 sampai 16 jam yaitu 10 orang (52,6%).

5. Hasil penelitian terhadap keluhan kesehatan yang dilakukan pada 19 pemilik rumah tinggal di tepi jalan raya Djamin Ginting Kelurahan Padang Bulan, diketahui bahwa tidak semua pemilik rumah memiliki keluhan kesehatan, namun jenis keluhan kesehatan yang sering di alami adalah mata perih dan pusing.

6.2 Saran

1. Kepada pemilik rumah sebaiknya lebih memperhatikan kondisi kesehatan lingkungan khususnya kualitas udara di dalam rumah dengan memperbaiki sistim ventilasi dan memperbanyak tanaman hijau di pekarangan rumah, agar terhindar dari pencemaran udara baik dari dalam ruangan maupun dari luar ruangan.

2. Kepada peneliti lain, disarankan untuk melanjutkan penelitian ini dengan menambah cakupan penelitian misalnya hubungan antara kualitas udara dalam ruangan rumah tinggal dengan keluhan kesehatan pemilik rumah, sehingga diperoleh data dan informasi ilmiah yang lebih lengkap.

3. Perlu diadakannya penelitian lebih lanjut mengenai pengukuran kadar gas karbon monoksida (CO) dan nitrogen dioksida (NO2) dalam ruangan pada rumah tinggal dan memperbanyak pengambilan sampel dengan berbagai kondisi lingkungan untuk mengetahui pola penyebaran gas polutan.

Akhadi, Mukhlis. 2009. Ekologi Energi: Mengenali Dampak Lingkungan dalam Pemanfaatan Sumber-Sumber Energi. Penerbit Graha Ilmu, Yogyakarta.

Chandra, Budiman. 2007. Pengantar Kesehatan Lingkungan. Penerbit Buku Kedokteran, Jakarta.

_______________. Metodologi Penelitian Kesehatan. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta

Fardiaz, S., 1992. Polusi Air dan Udara. Kanisius, Yogyakarta.

Fitria Laila ., Wulandari Arminsih ririn ., Hermawati Ema ., Dewi Susanna ., 2008. Kualitas Udara Dalam Ruang Perpustakaan Universitas “X”

Ditinjau Dari Kualitas Biologi, Fisik dan Kimiawi. Makara Kesehatan, Vol. 12, No 2 : 76-82

Handika Andre Rizki dan Driejana, 2013. Polusi Udara Dalam Rumah Sekitar Jalan Raya : Intrusi No2 Dari Transportasi Dan Gangguan Pernapasan Pada Penghuni Rumah. Jurnal Teknik Lingkungan UNAND 10 (2) : 119 - 132

Kastiyowati, Indah, 2001. Dampak dan Upaya Penanggulangan Pencemaran Udara. Diakses 20 Mei 2016; http://www.bulerinlitbang.dephan.go.id

Kastiyowati, Indah, 2001. Dampak dan Upaya Penanggulangan Pencemaran Udara. Diakses 20 Mei 2016; http://www.bulerinlitbang.dephan.go.id