(PERSOALAN) YANG DIHADAPI BANGSA INDONESIA
D. Catatan Kritis terhadap Pemikiran Ustadz Sofiyuddin bin Fadli Zaen
1. Pandangan beliau tentang krisis yang dihadapi bangsa Indonesia lebih cenderung pada masalah yang paling mendasar yaitu dari sisi aqidah dan ahlak. Secara tegas beliau memberikan pandangan bahwa Indonesia mengalami krisis abdinya Allah dan krisis syirik masai. Beliau lebih
cenderung pada aliran konservatif seperti Al-Ghozali misal dalam kode etik
yang harus dipatuhi oleh guru (pendidik), yaitu sebagai berikut:
a. Mendidik anak didiknya dengan kasih sayangnya seperti dia menyayangi anaknya sendiri.
b. Guru bersedia sungguh-sungguh mengikuti tuntunan Rasulullh, • sehingga dia tidak mengajar untuk mencari upah atau
mengharapkan tanda jasa.
c. Profesionalisme guru dalam bidangnya sehingga mampu mencegah anak didiknya dari akhlak yang buruk.
d. Memberi nasihat pada anak didiknya.
e. Harus pakar dalam satu ahlinya sehingga tidak meremehkan orang fc lain.
g. Ilmu yang diajarkan harus diamalkan sehingga ada penyatuan
ucapan dan tindakan.73
Dalam hal pendidikan beliau memandang pada kenyataan sekarang ini, pergeseran orientasi pendidik dan peserta didik yang cenderung
pada materialistik cukup besar pengaruhnya terhadap
keberlangsungan krisis multi dimensi yang teijadi di Indonesia ini. Hal mendasar ini yang kemudian tidak pernah didasari oleh umat Islam baik dari kalangan ulama, cendekiawan, guru, ustadz, pemerintah, orang tua sehingga sangat sulit untuk diatasi, secara dari besar umat Islam, sudah banyak melupakan hal-hal yang prinsip (mendasar) sehingga untuk membenahi membutuhkan usaha yang sungguh-sungguh, sabar dan kontinyu seta membutuhkan waktu yang lama.
Beliau dalam memandang hakikat krisis bangsa ini karena manusia telah melupakan nilai-nilai kemanusiannya, sifat dasar yang dimiliki oleh bangsa ini mulai hilang berganti dengan sifat hewani yang sangat menonjol yang kemudian menyebabkan suburnya keserakahan, kedengkian, cinta dunia, tak peduli terhadap nasib sesama, dengan melihat kenyataan yang teijadi KKN, pelanggaran HAM, perpecahan antar golongan, rusaknya moral dan lain-lain.
73Muhammad Jawwal Ridho, Tiga Aliran Utama Teori Pendidikan Islam
2. Berkaitan dengan pendidikan dan ahlak sebagai solusi yang ditawarkan
kepada bangsa ini, maka pendidikan harus dirombak total. Kemudian
didirikan kembali dengan pondasi keyakinan dan ketaqwaan kepada
Allah dengan kesanggupan kembali kepada jalan Rasulullah.
Kepercayaan beliau kepada lembaga pendidikan mulai pudar karena di lembaga ini sebagai besar sudah dijadikan sebagai ladang bisnis, tingginya biaya pendidikan sekarang ini menjadi bukti pernyataan ini, sehingga output yang dihasilkan hanya merambah beban dan persoalan negeri ini, seperti apa yang dikatakan oleh Eko Prasetyo : lembaga pendidikan banyak mencetak penjahat dan pengangguran.
Secara tegas beliau mengatakan satu-satunya jalan untuk i membenahi kondisi bangsa ini adalah dengan cara mendidik para calon pendidik (suami dan istri) diajari bagaimana nikah yang benar dengan niat, cara, tujuan yang benar menurut ajaran Islam, yang kemudian dari pernikahan yang benar, maka akan terlahir generasi pengganti yang akan memimpin bangsa ini dengan keberanian, kejujuran dalam menegakkan kebenaran.
Satu generasi yang berkualitas di hadapan Allah akan dapat menyebabkan turunnya rahmat Allah, dan dengan turunnya rahmat Allah ke bumi akan dapat menyebabkan efek positif yaitu berupa ^kesadaran umat Islam untuk kembali ke jalan yang benar dan terus berbenah dalam jalan yang benar dan semangat dalam berbuat kebaikan baik terhadap sesama maupun terhadap alam sekitarnya.
3. Lahirnya generasi yang taat dan patuh pada Allah dengan setia dan senang hati mengikuti cara hidup Rasulullah, yang bisa hidup memberikan teladan yang baik sebagai solusi krisis yang dihadapi bangsa ini
Melihat sejarah bahwa generasi unggul dimasa lalu juga terlahir dari keluarga yang cerdas (keturunan yang berkualitas) seperti Rasullah, shahabat, tabiin, dan semua tokoh-tokoh besar dunia lainnya
Hal ini sangat relistis karena lembaga inilah yang paling berpengaruh terhadap perilaku anak-didik dari kecil sampai dewasa .Ustadz sofiyuddin lebih menekankan pada keihlasan sebagai salah satu syarat keberhasilan pendidikan dan yang paling tulus ihlas dalam pendidikan adalah ibunya, maka ini menjadi kunci, oleh karena itu sekarang yang penting adalah mendidik calon generasi pendidik yang akan datang yang berkualitas, membekali mereka dengan yaqin yang kuat, ahlak yang mulia, disertai keterampilan yang dibutuhkan guna menunjang kehidupan pada masa sekarang, mempunyai ikatan yang kuat dengan Allah serta hubungan baik dengan sesama mahluk baik manusia maupun alam sekitarnya.
Jika generasi unggul ini berkumpul dalam satu tujuan kebaikan atau jalan Allah maka, akan terlahir generasi yang berkualitas dihadapan Allah dan manusia, yang nanti akan mengganti dan memimpin bangsa ini .Tidak usah banyak cukup satu dalam satu kabupaten atau propinsi misalkan orang- orang yang berkualitas di hadapan Allah dan Rasul maka akan menyebabkan turunnya rahmat dan cahaya dari Allah, sehingga dapat memberikan efek
positif bagi kehidupan manusia dan alam sekitar karena mendapatkan
siraman rahmat dari-Nya, serta timbulnya kesadaran kepada manusia untuk kembali ke jalan Allah dan Rasuli, selalu memberikan manfaat dan kebaikan kepada mahluk dan alam sekitarnya. Ustadz sofiyuddin lebih menekankan substansi pelaksanaan ajaran islam, bukan hanya sekedar paham tapi tidak mau untuk melakukan dalam kehidupan. Beliau selalu tampil terdepan dalam contoh kebaikan dan memberi manfaat pada lingkungan sekitar.
Bergesernya orientasi tujuan lembaga pendidikan terhadap pembinaan anak didik yang cenderung besar terhadap keduniaan, akan memperparah krisis yang teijadi di Indonesia, padahal tujuan pendidikan Islam adalah terbentuknya insan kamil dan dapat mandiri.
Ada hal penting yang menjadi ciri pemikiran pendidikan beliau yaitu bersatunya kepribadian yang berkeyakinan tinggi, berahlak mulia, serta memegang teguh syariat dengan (pengabungan pribadi tauhid, ahlak, fiqih) dan di* topang dengan keterampilan hidup sehinga bisa melaksanakan syariat islam secara total dalam kehidupan sehari-hari
Kemudian mengenai pandangan beliau tentang ahlak sebagai solusi terhadap krisis bangsa ini beliau tidak memisahkan antara keduanya karena keduanya merupakan satu-kesatun yang tidak dapat dipisahkan ,keduanya adalah sebab akibat jika sebab baik maka akibat baik dan sebaliknya .
Untuk mendapatkan generasi yang berahlak mulia maka anak harus didik dari dasar yaitu dari bimbingan orang tua.. Sebenarnya pandangan ini sudah banyak di kemukakan oleh tokoh-tokoh pendidikan yang lain, tapii
beliau lebih menekankan pada pelaksanaan yang seimbang antara antara
aspek-aspek pendidikan.
Islam adalah agama yang mengandung nilai-nilai ruhani ,maka aspek ini juga harus diperhatikan .Generasi muslim yang syamil hanya akan terlahir dari keluarga yang berkualitas yang dibangun atas dasar pondasii keimanan, keyakinan, kasih sayang, kesederhanaan,kreatif.dari hal-hal terkecil niat, tujuan, syarat, cara, pada saat berserubuh, pada saat hamil, makanan, hal-hal yang dianggap kecil ini sangat diperhatikan oleh beliau ,karena beliau berpendapat hal ini sangat berpengaruh terhadap anak, sekarang yang penting adalah bagai mana kita memperbaiki diri dan keluarga, kemudian masyarakat sampek terbentuknya negara yang kuat dengan pondasi ahlak yamg mulia.
P E N U T U P
Pada bab ini akan penulis akan menguraikan tentang (a) kesimpulan (b) saran-saran ( c ) penutup.
A. Kesimpulan
Setelah penulis menguraikan pandangan Ustadz Sofiyuddin bin Fadli Zaen tentang hakikat krisis yang dihadapai oleh bangsa Indonesia dan pandangan beliau tentang pendidikan dan akhlak sebagai solusi dari persoalan (krisis) bangsa Indonesia, maka penulis akan menulis kesimpulan sebagai berikut:
1. Krisis yang dihadapi bangsa Indonesia pada akarnya bersumber dari adanya krisis abdi / hamba Allah. Sehingga menyebabkan krisis yang kedua, yaitu krisis keyakinan (syirik masai) yang kemudian berakhir pada kerusakan moral dan krisis multidimensional yang tak kunjung padam. Akibat datri dua krisis ini menyebabkan meru sak an manusia dan juga alam yang disebabkan adannya kerakusan dan keserakahan manusia yang ingin menguasai dunia. Kebobrokan moral inilah yang menjangkit ke seluruh lapisan masyarakat, sehingga dapat kompak bersatu padu dalam membuat kerusakan di muka bumi.
2. Untuk mengatasi krisis yang dihadapi bangsa Indonesia ini Ustadz Sofiyuddin berpendapat bahwa jalan yang efektif untuk mengatasinya adalah membenahi pendidikan dari awal (dasar) secara tepat, sedang
dalam pandangan Islam itu adalah ( j jX \ ) lembaga pendidikan pertama, maka yang perlu dibenahi adalah pendidikan kekeluargaan, pendidikan pranikah, pendalaman fikih munakahat, agar
mereka siap membina keluarga yang akan menjadi ”Kawah
Candradimuka” bagi anak-anak mereka sebagai generasi pengganti
generasi sekarang (tua) yang sudah rusak. Karena ketika generasi jelek (keluar dari Islam), maka Allah akan mengganti generasi yang Allah mencintai mereka dan mereka juga mencintai Allah. Yang benar, maka akan terlahir generasi yang benar, benar di sini adalah benar di hadapan Allah, dengan diri selalu taat pada Allah dan Rasul serta selalu memberikan kebaikan pada orang di sekitarnya baik dengan orang (manusia) juga dengan alam sekitar, selalu memberi manfaat dan memberi aman, kesejahteraan, ketentraman serta jauh dari membuat kerusakan.
Lembaga pendidikan awal ini akan berhasil jika dibangun dengan azas keimanan dan ketaqwaan, kasih sayang, pengertian keharmonisan, kejujuran, keterbukaan, saling membutuhkan, kesederhanaan, serta ditopang dengan materi yang cukup (qonaah).
Proses pendidikan dimulai sejak pranikah, sebelum nikah para pemuda pemudi dididik bagaimana nikah yang benar, niat yang benar, tujuan yang benar, sesuai dengan ajaran Islam, sehingga dia paham tentang hak dan kewajiban sebagai suami istri, serta pentingnya pembinaan keluarga supaya dapat menghasilan generasi yang shaleh
dan cerdas, yang perlu diperhatikan dari pernikahan adalah syarat, dan
rukunnya harus dipenuhi sesuai dengan syariat Islam, serta penyatuan dua kehidupan dalam satu tujuan kepada Allah dan Rasulullah.
Dalam hubungan intim perlu ditekankan adanya rasa syukur kepada Allah atas nikmatnya, jangan hanya melampiaskan hawa nafsu karena akan berpengaruh kepada anak yang akan lahir.
Pada saat hamil seorang ibu harus menjaga syariat Islam, sabar, syukur, nerima, menyenangkan suami, menjaga diri dari makanan haram, selalu ingat Allah, dan menjauhi hawa nafsu (seperti nyidam dan lain-lain), suami juga diharapkan dapat selalu mendampingi sang istri supaya kondisi ruhani, emosi tetap setabil, seperti para ibunya tokoh-tokoh besar dunia ternyata peijuangan ibunya di dalam waktu mengandungpun sudah dimulai.
Pada saat anak lahir didik dengan baik kususnya pada penanaman tauhid dan ahlak yang mulia, yaitu pada usia 0 sampai 6 tahun, anak harus dibekali pondasi tauhid, ahlak yang baik seperti contoh kejujuran, keberanian, kesederhanaan, qonaah, kasih sayang, kepedulian terhadap penderitaan sesama, menyayangi faqir miskin dan lain-lain.
Setelah anak dibekali pondasi Aqidah, ahlak yang baik .selanjutnya diberikan bekal keterampilan untuk kehidupan di dunia, (pengetahuan umum kesenian), IPTEK, bahasa asing, komputer dan
perangkat yang lain yang mendukung kehidupan di zaman sekarang
(modem).
•3. Lahirnya sosok pribadi hamba hanya akan terlahir dari pernikahan
,ni
if> seorang yang mempunyai keyakinan, dengan benarnya niat dan cara dan tujuan yang benar menurut ajaran Islam karena dari keluarga anak akan dibimbing dan diarahkan ke jalan yang benar, yaitu jalan kebenaran, taat dan patuh pada Allah dengan senang hati mengikuti cara hidup Rasulullah. Generasi inilah yang akan menggantikan generasi sekarang yang sudah rusak untuk membenahi dan mengatasi krisis yang terjadi di Indonesia.
Eksistensi dunia ini adalah bagi orang-orang yang beriman ketika di dunia masih ada orang mukmin maka dunia masih ada dan sebaliknya maka masing-masing pribadi muslim harus bersungguh dalam mencari diri untuk mengenal Tuhannya dan hidup sesuai dengan sifat-sifat Allah sebagai perwujudan seorang hamba yang menjadi wakil
(khalifah fil ardl), dan yang paling penting sekarang adalah bagaimana
diri kita masing-masing segera bertaubat dan berbenah diri, keluarga. Kemudian bisa memberi kebaikan dalam masyarakat sampai ke negara. 4. Pribadi mukmin adalah sosok yang pribadi yang mempunyai keyakinan
yang kuat memegang aqidah taat dan patuh pada Allah dan Rasul (kuat dalam syariat) dan mempunyai ahlak yang mulia, sehingga mempunyai keyakinan yang kuat, kesabaran, kesederhanaan, qonaah, kasih sayang, jujur, peduli terhadap si papa, berani dalam kebenaran dan takut dalam
maksiat. Generasi inilah yang ditunggu dalam penyelesaian krisis yang
dihadapi oleh bangasa Indonesia.
B. Saran
1. Kepada umat Islam secara umum.
Hendaknya setiap pribadi memperhatikan diri dan keluarganya segera berbenah dan bertaubat agar selamat dari azab Allah dunia dan akhirat.
Kepada semua muslim yang mengakui kebenaran Islam jangan
hanya mengakui saja tetapi ajaran Islam hendaknya diturunkan
(dipraktekkan, dipakai) dalam kehidupan sehari-hari, jangan menipu
dirinya sendiri karena antara cita-cita dan usaha harus ada kesamaan,
kita menginginkan kedamaian dan ketentraman, tapi kita kesampingkan Islam, maka semua akan sia-sia. Hendaknya ajaran Islam dipraktekkan dalam diri, keluarga, masyarakat dan negara ini jangan sampai mempeijual belikan agama demi menggapai keuntungan dunia. Mari berusaha mencari jati diri kita masing-masing supaya mengenal Tuhan Allah, mengoreksi diri dan terus berbenah, hidup dengan penuh menerima pemberian Allah sederhana, kasih sayang, semangat, mandiri, jujur dan selalu memberikan manfaat pada sesama dan menjauhi berbuat kerusakan, serta selalu taat dan patuh pada Allah dengan senang hati mengikuti teladan Nabi Muhammad SAW
2. Kepada setiap orang tua.
Kepada setiap kepala rumah tangga diwajibkan mendidik anak-anaknya
dengan Aqidah, Syariat, dan ahlak kepada anak dan keluarganya
dengan memberikan contoh, sehingga terbentuklah keluarga yang harmonis, dengan keluarga yang harmonis, maka di sana akan dapat menjadi sarana mendidik anak yang kondusif untuk membentuk pribadi muslim yang tangguh.
Kepada setiap orang tua yang mempunyai anak-yang sudah siap menikah agar dibekali ilmu kekeluargaan, syariat dan keterampilan yang mendukung terciptanya keluarga harmonis (sakinah), karena disinilah lembaga pendidikan dasar yang akan menentukan lahir tidaknya generasi muslim yang cerdas dan berakhlak mulia.
3. Kepada lembaga pendidikan Islam.
Lembaga pendidikan Islam diharapkan dapat menjadikan pendidikan keluarga sebagai salah satu mata kuliah / pelajaran yang wajib diberikan kepada mahasiswa dan siswa karena pada hakikatnya mereka semua adalah calon pendidik bagi anak-anak mereka, Sebagai generasi penerus bangsa ini.
4. Kepada pemerintah
Hendaknya pemerintah menjadikan pemahaman terhadap syariat Islam, ‘masalah kekeluargaan dan pendidikan anak sebagai salah satu ayarat
C. Penutup
Semua daya dan upaya hanya milik Allah kita bisa bergerak juga atas pertolongan-Nya, maka tanpa pertolongan dia tak akan bisa melakukan sesuatu apapun, maka menjadi kewajiban kita adalah bersyukur atas segala pemberiannya dan menerima semuanya dengan senang hati, dengan bukti nyata melakukan apa yang dicintai dan dilakukan Rasul dan menjauhi apa yang dibenci dan dilarang-Nya. Tulisan ini adalah karya perdana penuli tentu masih banyak kesalahan dan kekurangan di sana sini, maka penulis sangat mengharapkan saran dan kritik agar karya ini lebih baik dan semoga dapat mendorong kepada penulis untuk lebih semangat dalam mengembangkan karyanya di bidang penulisan. Akhirnya penulis berharap
agar karya ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca yang budiman pada umumnya. Wallahu a’lam bish showab.
Achmadi, Islam Sebagai Paradigma Ilmu Pendidikan, Aditya Media, Yogyakarta, 1992
Adz-Dzakiey, Hamdani Bakran, Prophetic Intelligence Kecerdasan Kenabian, Islamika, Jogyakarta, 2004
Agenda Muslim Syamil Kreasi Bandung, 2002
Al Ghozali, Imam, Cinta dan Perkawinan, CV. Bintang Pelajar, Surabaya, tt ______________, Ihya' Ulumuddin, Juz III, Darul Islami, Beirut, Lebanon
Al Jariri, Abu Bakar Jabir, Ensiklopedi Muslim Minhajul Muslim, Darul Falah, Jakarta, 2003
Al Majlisi, Allamah, Bimbingan Sikap dan Perilaku Menurut Nabi Muhammad
dan Keluarganya, Pustaka Zahra, Jakarta, 2002
Ali, Hery Noer, Munzier S., Watak Pendidikan Islam, Friska Agung Insani, Jakarta, 1984
Amsyari, Fuad, Islam Kaffah Tantangan dan Aplikasinya di Indonesia, Gema Insani Press, Jakarta, 1995
Ansarian, Husayin, Membangun Keluarga yang Dicintai Allah, Pustaka Zahra, Jakarta, 2002
Anton dan Ahmad Charris Zubeir, Metode Penelitian Filsafat, Yogyakarta, Kanisius, 1990
Basyir, Ahmad Azhar, Hukum Perkawinan Islam, Perpustakaan Fakultas Hukum UII Yogyakarta,
Dawan, Ainurrofiq, Emoh Sekolah, Menolak Komersialisasi Pedidikan dan
Kanibalisme Intelektual, Menuju Pendidikan Multikultural, Inspeal Pres,
Yogyakarta, 2003
Depag RI, Al-Qur ’an dan Terjemahannya, Jakarta, 1974
Dialog Pribadi dengan Ustadz Sofiyuddin bin Fadli Zaen, Depok 15-6-2005 ______________________________________16-5-2005 ____________________________________________________ 17-6-2005 __________________________________________________ 116-6-2005 ____________________________________________________ 18-6-2005 Echols, John M. dan Hasan Shadily, Kamus Indonesia Inggris, Gramedia Pustaka
Utama, Jakarta
Guna wan, Heri, Adi Sasono : Di Bawah Bendera Rakyat Reportase Gagasan dan
Kasus Politik, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1999
Hawa, Said; Mensucikan Jiwa, Robbani Press, Jakarta, 2001 http//www. pergerakan Indonesia.org
http//www.daudrasyid.com
Kartini, Kartono, Pengantar Metodologi Riset Sosial, Bandung, Mandar Maju, 1990
Kelompok Studi Islam AL UMMAH, Panduan Aktivis Harokah, Jakarta, 2002 Keraf, Qorys, Komposisi, Nusa Indah, Flores, 1984
Kisyik, Abdul Hamid, Bimbingan Islam Mencapai Keluarga Sakinah, Al Bayan, Bandung, 1995
Ma'arif, Ahmad Syafi'i, Membumikan Islam, Pustaka Pelajar, Yogjakarta, 1994 Ma'shum, Ali Zawawi Saiful, Krisis Sosial Ekonomi dan Politik Penjelasan Al-
Qur 'an, Gema Insani Press, Jakarta, 1999
Machendrawaty, Nanih, Pengembangan Masayarakat Islam, Rosda Karya, Bandung, 2001
Maqsoed, Ruqoyah Waris, Mengatur Remaja ke Surga, Al Bayan, Bandung, 1997 Misykini, Ali, Keluarga Sakinah, Cahaya, Bogor, 2004
Mustamiroh, Umi Ida, Menjadi Wanita Shalihah, PP Nurul Islam Karya Mukti, Peninjauan, OKU, Sumsel, tt
Nadjib, Emha Ainun, Markesot Bertutur Lagi, Mizan, Bandung, 1994
Najieh, Ahmad, 323 Hadits dan Syair Untuk Bekal Dakwah, Pustaka Amani, Jakarta, 1984
Noerfauzi, dkk., Otonomi Daerah Sumber Daya Alam Lingkungan, Laporan Pustaka Utama, Yohyakarta, 2000
Pamungkas, Sri Bintang, Dari Orde Baru Ke Indonesia Baru Lewat Reformasi,
Erlangga, Jakarta
Pemikiran Pendidikan Islam (Kajian Tokoh Klasik dan Kontemporer), Fakultas
Tarbiyah dan Pustaka Pelajar, Semarang, 1999
Pesan Ustadz Sofiyuddin bin Fadli Zaen, tanggal 08 - 02 - 2005
Prasetiyp, Eko, Orang Miskin Dilarang Sekolah, Insists Press, Yogyakarta, 2004 Prasetyo, Eko, Orang Miskin di Lingkungan Sekolah, Institut Pers, Jogjakarta,
_____________, Qodhoya Dakwah dan Ummah, Departemen Kaderisasi PKS, Jakarta, 2002
Rasyid, Sulaiman, Fiqih Islam, Sinar Baru Algensindo, Bandung, 1996
Sarifuddin, Amin, Mencari Diri Menemui Illahi, Skripsi, Jurusan Aqidah Filsafat, U IN Syarif Hidayatullah, Jakarta, 2004
Sasono, Adi, dkk., Solusi Islam atas Problematika Umat, Ekonomi, Pendidikan
dan Dakwah, Gema Insani Pres, Jakarta, 1998
Setiawan, Palgunadi, Daun Berserakan (Sebuah Renungan Hati), Gema Insani Press, Jakarta, 2004
Shihab, M. Quraish, Wawasan Al-Qur ’an, Mizan, Bandung, 1996 ________________, MembumikanAl-Q ur’an, Mizan, Bandung, 1994
Sjamsudduha, Konflik Rekonsiliasi NU Muhammadiyah Bina Ilmu, Surabaya, 1999
Skripsi Muh. Trimo, Pendidikan Keimanan Bagi Anak Dalam Perspektif Al-
Ghozali, STAIN Salatiga, Tarbiyah, PAI, 2003
Skripsi Amin Syarifuddin, Mencari Diri Menemui Illahi, (Menelusuri Jejak-Jejak
Tasawuf Ajaran Spiritual Sofiyuddin bin Fadli Zaen), UIN Syarif
Hidayatullah, Jakarta, 2004
Skripsi Siti Qosidah Kinerja Ikhlas dalam Pendidikan Manusia Tarbiyah, PAI
tahun 2002
Sobari, Mohammad, Di Bawah Payung Agung, Kegetiran Berdialog dengan
Supamo, Paul, Moerti Yoedho Koesoemo, Dettey Titisari, St. Kartono,
Pendidikan Budi Pekerti di Sekolah Suatu Tujuan Umum, Kanisius,
Yogyakarta, 2002
Takariawan, Cahyadi, Di Jalan Dakwah Aku Menikah, Era Intermedia, Solok, 2005
Tilaar, HAR, Pendidikan, Kebudayaan dan Masyarakat Madani Indonesia,
Strategi Pendidikan Nasional, PT. Remaja Rosdakaya, Jakarta, 1999
Ulwan, Abdullah Nashih, Pendidikan Anak dalam Islam, Pustaka Amani, Jakarta, 1999
Urbaningrum, Anas, Ranjau-Ranjau Reformasi, Potret Konflik Politik Paska
Kejatuhan Suharto, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1998
Wardhana, Wisnu Arya, Al-Q ur’an dan Energi Nuklir, ustaka Pelajar, Yogyakarta, 2004
Wijaya, Angger Jati, Kabar Dari Negeri Yang Terbakar, LKiS, DK3 Bantul, Jogjakarta, 2003
Yarmanto, Widi, Bermuka Badak Pahit Getir Negeri Katulistiwa, Rosda Karya, Bandung, 2000
Yasmadi, Modernisasi Pesantren Kritik Nurcholis Madjid terhadap Pendidikan
Islam Tradisional, Ciputrat Pres, Jakarta, 2002
Zaen, Sgfiyuddin bin Fadli, Bisakah ke Allah Sebuah Perjalanan dalam Puing-
Puing Kekufurn, Ponpes Nurul Ihsan Karya Mukti XII, Peninjauan, OKU,
Peninjauan OKU Sumsel, tt
________________________, Mencari Diri Menemui Ilahi, Pondok Pesantren Nurul Ihsan, Karya Mukti, Peninjauan, OKU, 1999
________________________, Rahasia H uruf Hijaiyah, PP Nurul Ihsan Karya Mukti Peninjauan OKU Sumsel, 1999
________________________, Sajak Buat Tuhan, Ponpes Nurul Ihsan Karya Mukti XII, Peninjauan, OKU, Sumatra Selatan, 2004
________________________, Satria Paningit Tumbal Negara, Ponpes Nurul Islam, Karya Mukti, Peninjauan, OKU, Sumsel, 2002
________________________, Selamat Tinggal Manusia Kami Kembali Kelangit,
Ponpes Nurul Ihsan, Karya Mukti, Peninjauan, OKU, Sumsel. 2001
________________________, Syair Buat Pengantin Baru dan Lama, Depag, 2005
. 0 \
W ■ Sihabudin bin Selamet Syamdani lahir di Boyolali, 10 . v 3 ^ April 1982, di sebelah utara Kota Boyolali tepatnya di
Dusun Gandu, Desa Karang Gatak, Kec. Klego, Kab.
I X Boyolali, dengan latar belakang sosial yang
masyarakatnya masih abangan dia berusaha mencari jati *i' diri dengan menempuh pendidikan sebagai berikut : Walau di desa terpencil pada waktu itu di Dusun Gandu sudah ada RA (Roudhotul Athfal) pada tahun 88 kemudian meneruskan ke MI Islamiyah 88 - 94. Setelah selesai penulis melanjutkan sekolah ke MTs Muhammadiyah 07 Klego 94 - 97, selanjutnya pada tahun 1997 - 2000 penulis menyelesaikan SMU-nya di MAN Suruh Kab. Semarang, sambil nyantri di salah satu pondok pesantren di