DIHADAPI BANGSA INDONESIA
B. Pandangan para Tokoh tentang Krisis yang Dihadapi Oleh Bangsa Indonesia
'Krisis yang terjadi di negara kita sejak tahun 1997, tidak terjadi secara mendadak dan berdiri sendiri, ini terjadi karena akumulasi dari problematika yang terus berproses hingga mencapai titik klimaks. Dalam artian krisis moneter (krisis ekonomi) bukan semata-mata karena faktor finansial, namun ada banyak faktor yang menyebabkan yang menjadi akar persoalan bangsa ini.
. Dalam visi Islam peran aktor (manusia) dalam hal ini sangat mempengaruhi, karena manusialah kunci kesuksesan atau kerusakan dalam kehidupan di dunia ini sebagai Khalifatullah fil ardl. Bangsa Indonesia
merupakan bangsa yang beriman kepada Allah, namun keimanan juga harus dibuktikan dengan perbuatan, yang nyata yaitu melaksanakan aturan main dalam hidup seperti yang telah digariskan oleh Allah dalam Al-Qur’an dan Hadits. 25
Hal ini sangat rasional bahwa Tuhan yang menciptakan manusia lebih mengetahui (Maha Mengetahui) tentang seluk beluk manusia dan alam dan titik-titik rawannya, oleh karena itu manusia sengaja dibekali oleh Allah tentang konsep hidup agar tidak keliru dalam memahami kehidupan, aturan- aturan yang ditransformasikan melalui kitab suci (Al-Qur’an) dan sunnah Rasul sudah menjadi keharusan untuk diaplikasikan dalam semua sektor kehidupan. Bagi mereka yang menolak secara frontal ataupun diplomatis, sudah tentu akan menanggung konsekwensinya, yaitu mengalami berbagai kesulitan dan problematika dalam kehidupan, seperti dijelaskan oleh Allah dalam Al-Qur’an sebagai berikut:
S’ / z'
”Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya
baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan
menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta". Berkatalah ia: "Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?" Allah berfirman: "Demikianlah, telah datang kepadamu 25Ahmad Najieh, 323 Hadits dan Syair Untuk Bekal Dakwah, Pustaka
ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan". 26 27
Sekarang dapat kita lihat betapa orang sudah tidak lagi mematuhi aturan-aturan dari Allah, kemaksiatan tiap hari kita saksikan di depan mata kita secara terang-terangan baik secara langsung atau melalui media elektronik, media cetak dan sebagainya.
Daud Rasyid memahami krisis melalui hadits yang diriwayatkan oleh Al Hakim dalam kitabnya Al Mustadrak dan Ibnu Majah dalam sunahnya.
Rasul bersabda “Wahai Kaum Muhajirin, lima perkara akan kalian diuji dengannya dan aku berharap semoga kalian tidak mengalaminya, tidaklah perbuatan zina muncul pada suaiu masyarakat hingga mereka menyatakan secara terang-terangan, kecuali di tengah-tengah mereka pasti tersebar penyakit menular dan penyakit-penyaklit yang belum ada di masa lalu. Mereka tidak berlaku curang dalam timbangan kecuali mereka akan ditimpa paceklik, sulit pangan dan penguasa yang berlaku dholim pada mereka, mereka tidak memakan zakat harta kecuali pasti ada diberi hujan kecuali karena kasihan pada binatang ternak. Tidaklah mereka 'melanggar janji Allah dan Rasul kecuali pasti akan ditundukkan mereka di depan musuhnya lalu mereka mengambil apa ada di tangannya, dan jika para pemimpin mereka tidak menerapkan kitab Allah dan memilih diantara apa yang diturunkan Allah niscaya Allah akan menimpakan keganasan sebagian mereka atas sebagian yang lain. 28
Dari hadits di atas Rasul merinci satu-persatu penyebab krisis dan akibat buruknya (1) prostitusi yang transparan menyebabkan penyakit aids dan, munculnya penyakit baru yang ahir-ahir ini muncul yang belum ada
26QS Thoha ayat 124-126 27http//www.daudrasyid.com
sebelumnya. (2) Sikap curang dan penipuan hingga menimbulkan krisis
BBM, meningkatnya harga sembako, korupsi yang dianggap wajar dan sebagainya. (3) Enggan membayar zakat yang menyebabkan bencana dimana-mana (4) mengingkari janji Allah dan Rasul sehingga kekayaan SDA bangsa ini dikuasai oleh bangsa asing (5) menolak hukum Allah yang berakibat gejolak, tindakan kekerasan, kebiadaban antar penduduk. Beliau berkata jika diteliti lebih dalam sebenarnya krisis yang teijadi pada bangsa ini berakar dari (a) runtuhnya moral (b) gaya hidup materialistik (c) krisis ideologi (keyakinan) (d) tidak menerapkan sistem Allah (e) menyalah gunakan nikmat (f) menghalalkan semua cara (g) mengingkari janji Allah.
Nurcholish Madjid menegaskan bahwa kita tidak boleh menuhankan penguasa dengan melihat sebagian warga yang bertekat pejah gesang derek
pemimpin (hidup mati ikut pemimpin). 29 30 Pemahaman seperti inilah yang
menyebabkan ketidakmandirian warga dan mengkultuskan, serta bergantung pada pemimpin (manusia) sehingga berakibat munculnya krisis multi dimensi.
Kebanyakan para tokoh memandang krisis multi dimensi yang dihadapi oleh bangsa Indonesia mulai, krisis sumber daya manusia, ekonomi, politik, budaya dan moral bangsa ini berakar pada rapuhnya keyakinan bangsa ini dan pengingkaran terhadap aturan yang telah
w
digariskan oleh Allah.
29Ibid., him. 3- 4
Menurut Eko Prasetiyo krisis moral yang melanda hampir di semua
lapisan masyarakat Indonesia semakin memperpuruk keadaan pendidikan di
negeri ini, pendidikan kita memang kacau balau. Karena pemegang kebijakan tuli dengan kritik yang ditujukan padanya padahal kita tahu bahwa pendidikan adalah cermin peradaban dan kualitas bangsa, wajah pendidikan semakin muram karena dihiasai dengan tingginya biaya pendidikan dan rendahnya kualitas sekolah. Merosotnya kualitas oendidikan tak bisa dipisahkan dengan kebijakan negara pada sektor pendidikan, kekeliruan negara karena menyamakan lembaga pendidikan dengan lembaga keuangan. 31 Sehingga pertimbangannya adalah tentang untung ragi (materi atau uang). Komersialisasi pendidikan sekarang merupakan bisnis yang menjanjikan, inilah penyebab utama kerusakan kualitas moral dan pendidikan di negara ini, karena anak didik dididik untuk menjadi hamba harta, tidak bagaimana anak didik bisa mempunyai yakin (mentalitas), kemandirian, kreatif, sehingga dengan bekal ketrampilan anak dididik bisa mempunyai semangat hidup mandiri, semangat dan tidak mudah putus asa.sehingga dapat menyelesaikan problematika hidupnya secara mandiri.
Taufik Abdullah mengatakan Indonesia mengalami krisis
kepemimpinan lokal dan hilangnya komunitas desa yang mengakibatkan konflik menjadi sulit diatasi,32 hilangnya kepemimpinan lokal yang dulunya
i
3‘Eko Prasetyo, Orang Miskin di Lingkungan Sekolah, Institut Pers, Jogjakarta, 2004, him. 100
dapat mengatasi persoalan-persoalan lokal dengan dukungan sistem nilai dan kearifan, menjadi konflik-konflik yang ada di daerah semakin sulit diatasi bahkan semakin menjadi. Menurut beliau komunitas desa dan seluruh perangkatnya telah diobrak-abrik oleh struktur kekuasaan pusat, yang bersifat sentralis. 33 Negara terlalu jauh memasuki kehidupan masyarakat, yang membuat masyarakat tidak berdaya lagi. Krisis kepemimpinan lokal tak terhindarkan lagi, disusul krisis kepemimpinan pusat ditambah krisis ekonomi dan sosial.
J. Salusu mengemukakan Indonesia termasuk negara yang paling kacau (tidak stabil di Asia saat ini, hal ini disebabkan oleh ketidak stabilan politik dan ekonomi.34 Hal ini bersumber dari konflik kepentingan, para elit politik berebut kepentingan golongannya sendiri, kepentingan pribadi dan golongan sehingga mengesampingkan kepentingan orang lain yang pada akhirnya menyebabkan krisis multi dimensional.
.. Nurkholish Madjid menekankan krisis yang dialami bangsa Indonesia tidak sekedar krisis ekonomi tapi juga krisis spiritual. Apa yang beliau katakan sangat tepat ketika kita melihat kenyataan sekarang ini, di mana nilai-nilai kemanusiaan menghilang, sehingga muncullah sifat-sifat hewani yang menyebabkan korupsi, kolusi, nepotisme merajalela, mendarah daging, yang kemudian hal ini menjadi sumber krisis ekonomi yang tidak kunjung pulih. Pinjaman yang seharusnya digunakan untuk memperkuat
i
33Ibid., him. 1
perekonomian, malah di korupsi oleh elit politik yang tidak bertanggung jawab.
Koento Wibisono Indonesia mengalami kehilangan falsafah bangsa, yaitu nilai-nilai nasionalisme, cinta tanah air, demokrasi, keadilan sosial dan semangat gotong royong,35 hilangnya nilai-nilai ini menyebabkan kerusakan tatanan moral bangsa yang semakin merosot.
Zainuddin Maliki dalam bukunya politisi busuk krisis ekonomi, politik dan religius disebabkan oleh ulah para elit politik yang mempunyai akhlak buruk, sehingga bertindak sesuka hati tanpa memikirkan kepentingan orang lain.
Pengamat ekonomi politik Andrinop A Changi ago krisis yang teijadi di Indonesia akibat rapuhnya pilar ekonomi politik dan sosiaLAbdullah Gymnastiar mengatakan krisis kelangkaan energi disebabkan perilaku boros oleh bangsa ini, hal ini juga dapat kita lihat di sebagian perilaku bangsa ini yang sulit dikontrol.
Setiap manusia mempunyai hati nurani, baik dari orang-orang suci ruhaniawan, politisi, ilmuwan, seniman, pedagang, menteri, sopir, tukang ojek, polisi, bandit dan lain-lain, semua pasti condong pada kebenaran, dan nilai-nilai kemanusiaan, namun kenyataan yang kita salahkan hati ini sekarang telah mati. Karena kematian ini terjadi secara serentak teijadi di bangsa ini terjadilah kerusakan serentak juga dari manusianya kemudian
35Mohammad Sobari, Di Bawah Payung Agung, Kegetiran Berdialog
alamnya. Indonesia mengalami krisis politik pemerintahan, keamanan,
kemanusiaan, ekonomi, pangan krisis dan moral lingkungan.36 37
Sejak runtuhnya orde baru tahun 1997 hingga sekarang keadaan bangsa ini semakin kacau di semua bidang kehidupan, karena tidak hanya manusianya saja yang rusak tapi juga berefek pada hancurnya alam, padahal alam sebagai penopang hidup manusia. Pergeseran budaya bangsa kita, beralih ke budaya barat menyebabkan, tidak menghargai budaya sendiri, melupakan sehingga bangsa ini mengalami krisis identitas. Nilai-nilai budaya bangsa yang luhur terkubur karena tergeser arus budaya barat Keadaan moral bangsa ini dari keadaan budaya, politik, keagamaan nampaknya tidak lagi ada pengaruhnya dalam kehidupan. Karena sudah didasari dengan nafsu serakah, emosi, dan ego yang dikedepankan. Sehingga
manusia tidak lagi ada harganya dan kekejiannya melebihi binatang. 38 Konflik rakyat dengan pemerintah, karena pada era Suharto banyak hak-hak rakyat kususnya tanah banyak dikuasai oleh oknum pemerintah. 39 Rusaknya mentalitas oknum pengadilan menumbuh suburkan praktek jual vonis
36Ali Zawawi Saiful Ma’shum, Krisis Sosial Ekonomi dan Politik
Penjelasan Al-Q ur’an, Gema Insani Press, Jakarta, 1999, him. 17 - 155
37Radhar Panca Dahana, Menjadi Manusia Indonesia, LKiS, Yogjakarta, 2001, him. 209
38Widi Yarmanto, Bermuka Badak Pahit Getir Negeri Katulistiwa, Rosda Karya, Bandung, 2000
39Noerfauzi, dkk., Otonomi Daerah Sumber Daya Alam Lingkungan, Laporan Pustaka Utama, Yohyakarta, 2000,
peradilan. 40 Hukum dengan mudahnya dijual belikan dengan uang, jadi
yang menang uang bukan kebenaran dan keadilan. Umt Islam terpecah- belah, terkotak-kotak dalam organisasi dan partai politik sehingga hal ini menyebabkan. Konflik antar organisasi keagamaan. 41 42 Akar persoalan ini adalah adanya rasa bangga terhadap masing-masing golongan, serta merasa lebih baik dari yang lain.
Rusakya sistem pemerintahan karena yang memegang kekuasaan adalah orang-orang yang tidak bermoral, sehinga cepat sekali dalam merusak negara, KKN, pelanggaran HAM, penindasan, ketidak adilan yang nyata dalam kehidupan. 43 Konflik yang terjadi di negara Indonesia ini terjadi karena ada lima faktor, yaitu, kesenjangan sosial, dalam diri masyarakat terhadap benih-benih konflik yang kian lama kian membesar (iri hati, dendam membara), Retaknya aliansi di tingkat pusat dan terjadinya konflik di elit politik, kemerosotan moral aparatur negara dan masyarakat acapkali lebih memilih kekerasan dalam menyelesaikan persoalan. 44 Maraknya budaya KKN mmbuat rakyat semakin miskin.45 Kenyataan yang
^Sri Bintang Pamungkas, Dari Orde Baru Ke Indonesia Baru Lewat
Reformasi, Erlangga, Jakarta, him. 211
41Sjamsudduha, Konflik Rekonsiliasi NU Muhammadiyah, Bina Ilmu, Surabaya, 1999, him. 3
42Lihat QS Al Mu’min 53, Ar Rum 32
43Ueri Guna wan, Adi Sasono : Di Bawah Bendera Rakyat Reportase
Gagasan dan Kasus Politik, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1999, him. 56
44Anas Urbaningrum, Ranjau-Ranjau Reformasi, Potret Konflik Politik
Paska Kejatuhan Suharto, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1998, him. 4 - 5
45Ahmad Syafi’i Ma’arif, Membumikan Islam, Pustaka Pelajar, Yogjakarta, 1994, him. 156
kita lihat di mana para pejabat hidup bermewah-mewah sedangkan rakyat kecil semakin miskin dan hidup susah. Pemerintah sudah tidak lagi mempertimbankan aspek dan dampak dari pembangunan sehingga acap kali
kerugian rakyat tidak dihitung dan yang penting pemerintah tetap untung.46
Hilangnya kepribadian bangsa karena efek negatif laju perkembangan IPTEK sedang bangsa Indonesia secara umum tidak mempunyai basik, penyaring, yang kuat dalam mmpertahankan nilai-nilai budaya kita yang luhur. Larut terbawa arus negatif perkembangan zaman.47 Pada umumnya masyarakat kita juga mengalami krisis motivasi sehingga menyebabkan banyak orang frustasi, pengangguran meningkat, serta rendahnya etos keija, hal ini semakin menurunkan semangat kemandirian dan kreativitas anak bangsa. Bergesernya orientasi belajar pada sebagian besar pelajar dan mahasiswa negeri ini akan mengakibatkan semakin rendahnya SDM kita, inilah realitas krisis yang kita hadapi.
Melihat kenyataan yang teijadi semakin hari keadaan bangsa Indonesia semakin parah, korupsi yang dilakukan oleh para pejabat semakin memperpuruk keadaan negara ini, ketidak percayaan rakyat kepada pemerintah semakin menjadi ini tidak lain karena hati-hati masyarakat bangsa ini sudah terisi oleh penyakit cinta dunia, kerakusan, iri hati, tidak terima dengan taqdir Allah, dendam dan sebagainya.
i
46Angger Jati Wijaya, Kabar Dari Negeri Yang Terbakar, LKiS, DK3 Bantul, Jogjakarta, 2003, him. 28-31
47Emha Ainun Nadjib, Markesot Bertutur Lagi, Mizan, Bandung, 1994, him. 271
PANDANGAN USTADZ SOFIYUDDIN BIN FADLI ZAEN