SIMPULAN DAN SARAN
Lampiran 4. Catatan Tematik
Corporate Social Responsibility PT Holcim Indonesia Tbk
Praktek CSR PT Holcim Indonesia Tbk di Pabrik Narogong dilaksanakan oleh Departemen Community Relations (Commrel) di beberapa desa binaannya. Salah satunya ialah Desa Kembang Kuning sebagai salah satu desa yang terdekat dengan area pabrik. Program-program yang dilaksanakan oleh Commrel di antaranya terkait pendidikan, kesehatan, infrastruktur, bantuan sosial, dan pemberdayaan ekonomi. Program pemberdayaan ekonomi didasarkan atas ide untuk “membangun bersama masyarakat” yang digunakan sebagai solusi permasalahan masyarakat khususnya bidang ekonomi. Program pemberdayaan ekonomi merupakan salah satu hubungan kemitraan antara PT Holcim dengan masyarakat, khususnya lembaga atau kelompok yang ada didalam masyarakat.
Program pemberdayaan ekonomi memang dikhususkan bagi lembaga atau kelompok yang terdapat di masyarakat, dan sekiranya dapat diberdayakan bersama-sama dengan perusahaan. Identifikasi lembaga atau kelompok dilakukan sebelumnya untuk mengetahui apakah lembaga atau kelompok tersebut telah memenuhi kriteria yang dimiliki perusahaan, dan juga untuk mencari tahu permasalahan, kebutuhan serta potensi yang dimiliki lembaga atau kelompok tersebut.
Kesesuaian Program Pemberdayaan Ekonomi
Kesesuaian program ialah bagaimana program yang ditujukan kepada masyarakat dapat menyesuaikan dengan kebutuhan serta potensi masyarakat. Salah satu anggota berpendapat bahwa :
“..kan banyak ya neng koperasi abal-abal yang ditawarin ke masyarakat sini tapi malah jadinya utang gede, nah kalau yang dibina Holcim ini
enak, hukumnya jelas, lokasinya dekat jadi ya sesuai dan saya butuhin...”
(I, 44 tahun)
Kesesuaian program pada program pemberdayaan ekonomi tergolong cukup tinggi pada masing-masing indikatornya, yang di antaranya ialah materi, metode, media, waktu pelaksanaan, dan lokasi pelaksanaan.
Pendekatan yang dilakukan kepada masyarakat oleh perusahaan merupakan salah satu aspek penting yang menentukan keberhasilan suatu program. Jika pendekatan yang dilakukan perusahaan sudah baik, tentu masyarakat akan memberikan respon positif kepada pelaksanaan program, salah satunya ialah dengan kemauan masyarakat untuk berpartisipasi. Pada program pemberdayaan ekonomi, kesesuaian metodenya sudah tergolong tinggi. Hal tersebut didukung oleh pernyataan salah satu anggota, yaitu:
“..caranya Holcim itu bagus, mengajak masyarakat untuk berorganisasi, awalnya kan kita hanya berbentuk PKK terus tiba-tiba digandeng sama Holcim ya kita senang, berterima kasih malah. Terus dengan caranya begitu kita jadi lebih inisiatif sendiri, buka buka internet buat tau tentang koperasi untuk buka usaha...” (S, 45 tahun)
mayoritas anggota merasa bahwa metode yang digunakan dalam program tersebut sudah cukup persuasif.
Materi program yang dimaksudkan ialah segala sesuatu yang disampaikan dalam seluruh rangkaian kegiatan program. Program pemberdayaan ekonomi tidak hanya membantu lembaga dalam masyarakatnya dalam bentuk bantuan dana saja, namun juga dalam bidang pengembangan masyarakat. pengembangan masyarakat dilakukan dengan diadakannya pelatihan-pelatihn tertentu, seperti pelatihan keterampilan, kerajinan tangan, bercocok tanam, dan edukasi lainnya. Pelatihan tersebut tentunya menyajikan berbagai materi yang terkait. Berhubung dengan sasaran pelatihan yaitu masyarakat, materi program harus disesuaikan dengan bagaimana kemampuan masyarakat, agar materi tersebut dapat berguna. Kesesuaian materi program pemberdayaan ekonomi dengan anggota Kopwama tergolong cukup tinggi, seperti pendapat salah satu anggota, yaitu:
“..materi yang disampaikan itu berkaitan dengan koperasi, kan kita kan orang awam yah jadi kita tau disitu bahwa koperasi bisa jalan kalo ada
legalitas, dan butuh anggota-anggotanya juga...” (S, 45 tahun)
materi yang disajikan dalam beberapa pelatihan ataupun saat diskusi bersama pihak perusahaan dan PKK (saat belum menjadi koperasi) sudah tergolong tinggi, yaitu karena materi sudah sejalan dengan tujuan koperasi. Meskipun begitu, materi yang disajikan masih terdapat kekurangan yang di antaranya yaitu tidak terdapatnya hasil cetak materi sehingga anggota tidak dapat menyimpan materi tersebut untuk kemudian hari.
Penyajian materi tersebut tentunya menggunakan media sebagai pengantar. Media yang digunakan dalam suatu program ialah seluruh alat bantu yang berfungsi sebagai perantara yang menghubungkan antara penyampai program dengan sasaran program. Pada program pembinaan koperasi, media yang digunakan ialah berupa gambar yang diproyeksikan, yaitu slide presentation. Kesesuaian media yang digunakan dalam program pemberdayan ekonomi memiliki kekurangan dan juga kelebihan, seperti yang disampaikan oleh salah satu anggota, sebagai berikut :
“..pake proyektor trus pake ada slidenya gitu ya jadi merhatiin sih terus kan emang jadi lebih ngerti, tapi sayangnya kita ga dapet kertasnya gitu sih ya, kan diganti slidenya cepet...” (I, 44 tahun)
menurut beberapa anggota yang diwawancarai, media yang digunakan sebenarnya sudah cukup baik dan mampu menarik perhatian anggota saat kegiatan dilakukan, namun juga menyusahkan bagi sebagian anggota, khususnya anggota yang duduk agak jauh dari layar dan juga para lansia.
Pelaksanaan pelatihan maupun kegiatan dalam program pemberdayaan ekonomi sudah cukup tinggi kesesuaiannya. Kesesuaian waktu pelaksanaan pada program ini tergolong tinggi, dengan alasan bahwa dalam menentukan waktu untuk berkumpul selalu didiskusikan dan dipilih atas kesepakatan bersama anggota dan pengurus, sehingga tidak ada anggota yang merasa disulitkan. Hal tersebut didukung oleh pendapat salah satu anggota, sebagai berikut :
“...kumpul gitu mah kita sendiri yang nentuin, jadi maunya hari apa minggu keberapa tinggal pilih, trus kalo udah ada tanggalnya mah tinggal masing-masing ketua kelompoknya kasih tau ke anak buahnya... (A, 42 tahun)
sementara itu, lokasi pelaksanaan program pemberdayaan ekonomi memiliki kekurangan dan juga kelebihan. Mayoritas anggota merasa bahwa pemilihan lokasi tidak menyulitkan anggota, karena lokasi yang dipilih dekat dengan lokasi
rumah anggota. Namun, pemilihan tempat dinilai kurang mendukung, seperti lokasi yang terlalu kecil atau malah kebesaran. Hal tersebut didukung oleh pendapa anggota, yaitu sebagai berikut :
“...lokasi mah deket neng kan cuma di Club House, deket tinggal nyebrang...” (I, 44 tahun)
“...dimana tuh Club House yah, kegedean neng jadi jauh proyektornya tapi kalo dikantor koperasi mah kan juga kekecilan yah...” (A, 42 tahun)
Tingkat Partisipasi pada Program Pemberdayaan Ekonomi
Program pemberdayaan ekonomi yang dilaksanakan oleh departemen Commrel dilaksanakan dalam beberapa tahapan yaitu perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, dan kemudian pemanfaatan hasil. Tahap perencanaan pada program ini ialah termasuk identifikasi kelompok dan kegiatan sosialisasi. Kemudian pada tahap pelaksanaan termasuk didalamnya ialah proses legalisir koperasi, negosiasi dana bantuan, dan pelaksanaan simpan pinjam dalam koperasi selama 12 bulan. Selanjutnya, pada tahap evaluasi mencakup setelah 12 bulan simpan pinjam dilakukan maka akan ada proses tutup buku dan pelaporan penggunaan dana bantuan setelah simpan pinjam dilaksanakan. Hasil evaluasi akan dijadikan sebagai acuan dalam pelaksanaan tahun berikutnya, sehingga apabila angsuran pendanaan simpan pinjam berjalan lancar akan menjadi hal yang baik pula pada pencairan dana tahun berikutnya. Terakhir ialah pemanfaatan hasil yaitu pembagian SHU (Sistem Hasil Usaha) bagi masing-masing anggota dan melakukan pengajian bersama yang biasanya diselenggarakan ditempat tertentu.
Perencanaan program meliputi identifikasi kelompok dan kegiatan sosialisasi. Identifikasi kelompok dilakukan dengan mencari apa-apa saja kelompok yang terdapat di masing-masing desa binaan PT Holcim Indonesia Tbk. Di desa Kembang Kuning dusun Narogong tepatnya terdapat PKK yang sudah berdiri sejak 1987 dan saat itu sedang melaksanakan kegiatan UP2K yaitu kegiatan simpan pinjam oleh anggota PKK (yang kemudian menjadi Kopwama). Dengan begitu, pihak perusahaan melakukan identifikasi atas kelompok tersebut terutama kriteria, masalah, potensi, dan kebutuhan kelompok. Jika sesuai dengan kriteria yang dimiliki oleh perusahaan maka dibentuklah sebuah hubungan kemitraan di antara perusahaan dan kelompok tersebut. Hubungan kemitraan tersebut diawali dengan kegiatan sosialisasi yang direspon positif oleh anggota. Pada tahap perencanaan, partisipasi anggota Kopwama tergolong tinggi, sesuai dengan bagaimana pernyataan salah satu anggota :
“...mau ngasih saran, kritik atau apa mah bebas sih menyuarakan pendapatnya ga ada dibatesin atau kayak gak didengar atau apa...” (SS, 56 tahun)
pada tahap ini juga masyarakat merasa bahwa pengambilan keputusan diberikan seutuhnya kepada pengurus dan anggota. Jika ada beberapa anggota yang berpartisipasi rendah ialah karena mereka merasa tidak sempat datang jika ada perkumpulan namun berpartisipasi pada tahap lainnya.
Pelaksanaan program pemberdayaan ekonomi pada Kopwama pada tahun pertama melibatkan tidak hanya pihak community relations, anggota Kopwama, pemerintahan desa, tetapi juga pihak notaris untuk melakukan legalisir lembaga. Namun begitu, dalam pelaksanaan aspirasi anggota Kopwama juga menjadi
dijadikan pertimbangan dalam mengambil keputusan. Seperti yang dipaparkan oleh salah satu anggota Kopwama:
“...kalo ada pendapat, saran ,dan lainnya itu pasti dipertimbangin sih sama anggota, bareng-bareng ditentuin...” (S, 45 tahun)
Partisipasi anggota pada tahap pelaksanaan tergolong tinggi, yaitu karena adanya aktivitas simpan pinjam dan juga kegiatan bulanan (yang biasanya dibarengi dengan pengajian PKK). Anggota juga merasa bahwa pada tahap ini perusahaan tidak membatasi bagaimana anggota melakukan aktivitasnya, namun tetap terdapat pemantauan oleh perusahaan. Ada juga anggota yang merasa bahwa meskipun keputusan dilimpahkan kepada pengurus dan anggota, sebenarnya perusahaan juga memiliki andil dalam keputusan tersebut.
Pada tahap evaluasi program, yang lebih terlibat hanyalah pihak pengurus Kopwama dan pihak perusahaan. Diskusi ataupun pertemuan terkait pelaporan dana bantuan oleh PT Holcim Indonesia Tbk diberitahukan sebelumnya kepada anggota, namun tidak sedikit anggota yang lebih memilih untuk melimpahkan keputusan kepada dua pihak tersebut dengan alasan bahwa mereka tidak mengerti dan mempercayakan kepada pengurus Kopwama atas keputusan yang mungkin akan diambil. Dipaparkan oleh salah satu anggota Kopwama, sebagai berikut:
“...kalo pas kumpul laporan ke Holcim saya pernah denger sih, tapi saya gaikutan itumah, kalo buat nentuin sesuatu mah lebih ke pengurus aja kali yah saya mah sebagai anggota ngikut aja, kan pasti pengurus mah mutusin yang terbaik buat koperasi...” (A, 42 tahun)
mayoritas dari anggota berpendapat bahwa pengambilan keputusan pada tahap evaluasi diserahkan kepada pengurus dan pihak perusahaan, dengan alasan bahwa mereka mempercayakan masa depan koperasi dan merasa bahwa pengurus dan perusahaan lebih tau yang terbaik bagi koperasi. Meskipun begitu, terdapat juga anggota yang merasa tetap harus ikut saat tahap evaluasi, dengan tujuan sebisa mungkin menyampaikan saran maupun kritik atas kekurangan-kekurangan yang dirasakan selama 12 bulan pertama koperasi dijalankan.
Pemanfaatan hasil mungkin menjadi tahapan yang paling melibatkan seluruh anggota, dengan adanya pembagian SHU (sistem hasil usaha) yang jumlahnya dihitung berdasarkan keseringan anggota dalam melakukan penyimpanan dan peminjaman. Pembagian SHU dilakukan di akhir tahun pada kegiatan tutup buku. Seperti yang disampaikan oleh salah satu anggota :
“...kalo hasil kita pasti dapet ga ada ditahan-tahan, informasi jelas ga ditutup-tutupin...” (I, 44 tahun)
hampir semua anggota merasakan hasil SHU meskipun ada beberapa yang tetap kurang puas. Beberapa anggota yang kurang puas tersebut dikarenakan mereka merasa jumlah SHU yang didapat sedikit, meskipun SHU merupakan hasil hitung berdasarkan keseringan anggota dalam melakukan simpan pinjam.
Keaktifan anggota dalam berpartisipasi dalam setiap tahapan program pemberdayaan ekonomi di Kopwama kembali lagi pada karakteristik individu anggota tersebut, karena perlakuan yang diberikan dalam program ini ialah sama pada setiap anggota, tidak terdapat perbedaan pendekatan maupun pemberian materi program.
Kemanfaatan Program Pemberdayaan Ekonomi
Program pemberdayaan ekonomi tentunya bertujuan agar memberikan manfaat yang dapat berguna bagi anggota Kopwama. Kemanfaatan dari program yang dirasakan oleh masyarakat dapat digolongkan menjadi dua yaitu dari bidang ekonomi dan dari bidang sosial. Kemanfaatan ekonomi merupakan manfaat yang dirasakan oleh masyarakat dalam kehidupan ekonominya. Anggota Kopwama sebagai sasaran program cukup merasakan adanya manfaat ekonomi dari dilaksanakannya program, di antaranya ialah kesempatan ekonomi yang dinilai lebih besar, yaitu karena anggota bisa melakukan aktivitas simpan pinjam sehingga bagi anggota yang membutuhkan modal untuk melakukan usaha bisa melakukan pinjaman dari koperasi tersebut. Hal tersebut didukung pernyataan salah satu anggota :
“...saya jadi lebih mandiri ya keuangannya, saya kan bisnis katering gitu yah sama kalo pas lebaran suka bikin kue saya jualin, nah itu modalnya kan dari koperasi tinggal pinjam...” (E, 34 tahun)
namun tidak semua anggota yang melakukan pinjaman menggunakan uang tersebut untuk dijadikan modal. Banyak anggota yang menggunakannya sebagai pemenuh kebutuhan sehari-hari saja. Meskipun begitu, anggota tetap merasa ada manfaat yang dirasa, yaitu anggota merasa lebih mandiri dalm mengelola keuangannya karena saat anggota harus membayar iuran pinjamannya, anggota diperkenankan untuk sekalian menabung, sehingga memberikan kesempatan bagi anggota untuk menabung dan menggunakan uangnya dimasa depan. Hal tersebut didukung oleh pernyataan salah satu anggota, yaitu :
“...saya belum merasakan adanya kesempatan ekonomi yang lebih besar sih, soalnya saya emang gak jualan atau usaha warung, tapi saya jadi lebih mandiri sih kan bisa pinjam dan menabung...”(I, 44 tahun)
Pada bidang kemanfaatan sosial, manfaat dari program tersebut cukup dirasakan oleh anggota. Kemanfaatan sosial program merupakan manfaat yang dirasakan oleh masyarakat dalam hubungannya dengan lingkungan sosialnya. Mayoritas anggota merasakan bahwa meskipun ada manfaat sosial yang dirasakan, namun tetap saja tidak dapat membantu menyelesaikan permasalahan yang dirasakan di antara anggota sebagai masyarakat. Salah satu anggota memberikan pernyataan sebagai berikut :
“...kalo permasalahan ekonomi di antara anggota mah gak berkurang ya, tapi manfaat mah tetep ada kerasa...” (SS, 56 tahun)
permasalahan ekonomi dan sosial di antara anggota dinilai tidak mengalami perubahan sebelum maupun sesudah program pemberdayaan ekonomi dilaksanakan. Namun, masyarakat merasakan adanya perubahan hubungan antara masyarakat dengan perusahaan, yaitu mereka menjadi kenal lebih baik dengan perusahaan dan pihak-pihak yang mengurusi program. Kemudian mayoritas anggota merasa puas atas pelaksanaan program, terutama atas kesesuaianya dengan kebutuhan dan pelayanan yang dilakukan perusahaan.
Lampiran 5. Dokumentasi
Proses wawancara dengan responden
Kantor Koperasi Wanita Mandiri
Dokumentasi Kegiatan Program Pemberdayaan Ekonomi PT Holcim Indonesia Tbk