• Tidak ada hasil yang ditemukan

Waktu Siklus Proses 1 BKA BKB

menit

Jumlah Pengamatan

Tabel 4.8. Hasil Rekapitulasi Uji Keseragaman Data Urutan

Proses Waktu Siklus

(Menit) BKA (Menit) BKB (Menit) Keterangan

1 1,29 1,83 0,76 Seragam

Sumber : Pengolahan Data

Berdasarkan hasil rekapitulasi pada tabel 4.8, dapat disimpulkan bahwa semua data pengamatan waktu siklus proses produksi berada pada batas kontrol (in control).

4.2.4. Uji Kecukupan Data

Setelah data waktu proses diatas telah diuji keragaman data tersebut, selanjutnya akan dilakukan uji kecukupan data untuk mengetahui apakah jumlah data yang dikumpulkan dari hasil penelitian telah cukup atau sudah memenuhi jumlah data

yang seharusnya. Rumus yang digunakan dalam menghitung uji kecukupan data adalah sebagai berikut.

N'=

k

s N ∑ x2- (∑ x)2

∑ x

2

N = Jumlah pengamatan yang seharusnya dilaksanakan s = Tingkat ketelitian

k = Diperoleh dari tabel distribusi normal Jika tingkat kepercayaan 99% maka k = 3 Jika tingkat kepercayaan 95% maka k = 2 Jika tingkat kepercayaan 68% maka k = 1 x = Waktu pengamatan

N = Jumlah pengamatan yang telah dilakukan N’< N menunjukkan data sudah representative

Berikut merupakan salah satu contoh perhitungan dari uji kecukupan data yang diambil dari proses pertama dapat dilihat pada Tabel 4.9.

Tabel. 4.9. Contoh Perhitungan Uji Kecukupan Data

Sumber : Pengolahan Data

Dari data waktu proses pertama diatas dan jumlah ketelitian yang sudah diapat, dapat kita rumuskan sebagai berikut.

N'= k

Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh hasil nilai N’ N (8,01 10) yang berarti data waktu siklus untuk proses pertama telah cukup. Hasil rekapitulasi uji kecukupan data setiap proses dapat dilihat pada Tabel 4.10.

≤ ≤

Tabel 4.10. Hasil Rekapitulasi Uji Kecukupan Data Tiap Proses

4.2.5. Perhitungan Waktu Baku

Perhitungan waktu normal dilakukan dengan mengalikan waktu siklus rata-rata setiap proses dengan rating factor yang bertujuan untuk menyesuaikan kecepatan antara operator yang satu dengan operator lainnya, sehingga waktu yang diambil adalah waktu normal operator (operator yang bekerja dengan wajar dan normal).

Perhitungan waktu baku merupakan perhitungan waktu yang dibutuhkan oleh seorang operator untuk menyelesaikan satuan pekerjaanya dengan penambahan faktor

allowance pada waktu normal. Contoh perhitungan waktu normal dan waktu baku pada proses pertama, adalah sebagai berikut:

Waktu Normal=Waktu Siklus x Rating Factor Waktu Normal=1,29 x 1,15

Waktu Normal=1,49

Waktu Baku=Waktu Normal x 100%

100%-Allowance Waktu Baku=1,49 x 100%

100%-6%

Waktu Baku=1,49 x 100%

94%

Waktu Baku=1,58

Berikut merupakan hasil dari rekapitulasi hasil perhitungan waktu normal dan waktu baku untuk setiap proses yang dapat dilihat pada tabel 4.11.

Tabel 4.11. Rekapitulasi Hasil Perhitungan Waktu Normal Dan Waktu Baku Urutan

Tabel 4.11. Rekapitulasi Hasil Perhitungan Waktu Normal Dan Waktu Baku

Sumber : Pengolahan Data

4.2.6. Perhitungan Matric Lean Aktual

Perhitungan metrik lean terdiri dari manufacturing lead time, process cycle efficiency, process lead time dan process velocity.

1. Manufacturing Lead Time merupakan waktu yang dibutuhkan untuk melakukan proses produksi dari awal sampai dengan akhir berdasarkan waktu baku.

Perhitungan Manufacturing Lead Time dilakukan dengan cara menjumlahkan seluruh waktu proses kerja yang terdiri dari 22 proses kerja. Uraian proses kerja dan waktu baku dapat dilihat pada Tabel 4.12.

Tabel 4.12. Uraian Proses Kerja Dan Waktu Baku

No Aktivitas Waktu Baku

(Menit)

1 TBS ditimbang di Weightbridge 1,58

2 TBS dibawa ke stasiun sortasi 2,56

3 TBS dibongkar dan disortir 33,45

4 Menunggu TBS memasuki Loading Ramp 15,92

5 TBS hasil penyortiran dimasukkan ke dalam Loading Ramp 28,83

6 TBS dimasukkan ke dalam lori 13,27

7 Menunggu proses Sterilizer 80,50

8 Lori ditarik menuju tempat Sterilizer 11,03

9 Melakukan proses Sterilizer untuk menghasilkan buah masak 150,44

10 Lori ditarik keluar 19,50

11 Pengangkatan dan Penuangan muatan Lori 73,76

12 TBS dimasukkan ke dalam mesin Thresher untuk memisahkan

brondolan dengan tandan kosong 75,68

13 Brondolan dilumatkan dengan menggunakan mesin Digester 19,84 14 Berondolan melalui proses penekanan (press) pada mesin Screw

Press sehingga menghasilkan CPO kotor dan inti 23,58

15 CPO kotor diendapkan di Sand Trap Tank 36,77

16 CPO kotor disaring menggunakan Vibrating Screen 21,40 17 CPO kotor ditampung sementara pada Oil Tank 29,10 18 CPO kotor dipisahkan antara minyak, air dan sludge dengan

menggunakan Continuous Storage Tank 19,54

19 Minyak dan air diendapkan di Pure Oil Tank 35,73 20

Minyak dimasukkan ke dalam mesin Vaccum Dryer untuk

memisahkan minyak dari kandungan air, sehingga diperoleh CPO murni

23,20 21 CPO murni dialirkan ke dalam Storage Tank 11,96

22 Pengisian CPO pada truk 37,75

Sumber : Pengolahan Data

2. Process Cycle Efficiency merupakan suatu ukuran yang mengidentifikasi sejumlah proses yang memberikan nilai tambah (value added). Dalam melakukan perhitungan nilai Process Cycle Efficiency, terlebih dahulu yang harus dilakukan

adalah mengelompokkan kegiatan atau proses kerja yang bernilai tambah dengan proses yang tidak bernilai tambah. Rekapan value added time,unnecessary added time dan non-value added time, dapat dilihat pada Tabel 4.13.

Tabel 4.13. Rekapan Value Added Time, Unnecessary Added Time dan Non-Value Added Time

No Aktivitas Value Added

Time (Menit) 1 TBS ditimbang di Weightbridge 1,58

2 TBS dibawa ke stasiun sortasi 2,56

3 TBS dibongkar dan disortir 33,45

4 Menunggu TBS memasuki Loading Ramp

15,92 5 TBS hasil penyortiran

dimasukkan ke dalam Loading Ramp

28,83

6 TBS dimasukkan ke dalam lori 13,27

7 Menunggu Proses Sterilizer 80,50

8 Lori ditarik menuju tempat Sterilizer

11,03 9 Melakukan proses Sterilizer

untuk menghasilkan buah masak

150,44

10 Lori ditarik keluar 19,50

11 Pengangkatan dan Penuangan muatan Lori

73,76 12 TBS dimasukkan ke dalam

mesin Thresher untuk memisahkan brondolan dengan tandan kosong

75,68

13 Brondolan dilumatkan dengan

menggunakan mesin Digester 19,84

Tabel 4.13. Rekapan Value Added Time, Unnecessary Added Time dan Non-Value Added Time (Lanjutan)

No Aktivitas Value Added

Time (Menit) penekanan (press) pada mesin Screw Press sehingga

menghasilkan CPO kotor dan inti

23,58

15 CPO kotor diendapkan di Sand Trap Tank

sementara pada Oil Tank

29,10 18 CPO kotor dipisahkan antara

minyak, air dan sludge dengan menggunakan Balance Tank memisahkan minyak dari kandungan air, sehingga diperoleh CPO murni

23,20

21 CPO murni dialirkan ke dalam Storage Tank

11,96 22 Pengisian CPO pada truk 37,75

Total Value Added Time 548,10

Total Unnecessary Added Time 120,87

Total Non Value Added Time 96,42

Total Manufacturing Lead Time 765,39

Sumber : PT. Perkebunan Nusantara IV Adolina

Berdasarkan tabel 4.13. diketahui bahwa besar waktu untuk kegiatan yang value added berdasarkan pandangan customer atau pelanggan adalah 548,10 menit, besar waktu untuk kegiatan unnecessary added adalah 120,87 menit dan lama waktu untuk kegiatan yang non value added adalah 96,42 menit dan total waktu dari seluruh kegiatan adalah sebesar 765,39 menit. Perhitungan process cycle efficiency adalah sebagai berikut :

Process Cycle Efficiency = Value Added Time

Manufacturing Lead Time x 100%

= 548,10

765,39 x 100%

= 71,61%

3. Process Lead Time merupakan Matric Lean yang digunakan untuk mengetahui lama waktu yang diperlukan untuk memproses sejumlah barang dari awal hingga selesai. Perhitungan process Lead Time untuk memproduksi jumlah Crude Palm Oil (CPO) selama bulan Agustus 2021 adalah sebagai berikut :

Rata - Rata Kecepatan Penyelesaian = Total Produksi Per Bulan Jumlah hari kerja

Rata - Rata Kecepatan Penyelesaian = 16.800 30 Rata - Rata Kecepatan Penyelesaian = 560 Unit

Process Lead Time = Jumlah Produk Dalam Proses Rata - Rata Kecepatan Penyelesaian

Process Lead Time = 16.800 560 Process Lead Time = 30 hari

4. Process Velocity merupakan kecepatan proses dalam memproduksi sejumlah barang dari awal hingga akhir. Berikut merupakan proses perhitungan Process Velocity adalah sebagai berikut :

Process Velocity = Jumlah Aktivitas Dalam Proses Process Lead Time Process Velocity = 22

30

Process Velocity = 0,73 per hari

Hasil perhitungan process velocity menunjukkan kecepatan proses yang diperlukan untuk menyelesaikan produk pada bulai Agustus 2021, yaitu sebesar 0,73 proses per hari. Kecepatan proses pada produksi Crude Palm Oil perlu ditingkatkan secara terus menerus untuk mengurangi biaya produksi, dengan cara mengurangi pemborosan-pemborosan yang terjadi selama proses produksi berlangsung.

4.2.7. Perancangan CVSM (Current Value Stream Mapping)

Current Value Stream Map (CVSM) merupakan suatu gambaran proses produksi aktual yang meliputi aliran informasi dan material. Tujuan pemetaan ini adalah untuk mengidentifikasi seluruh jenis pemborosan yang terjadi di sepanjang proses produksi dan untuk mengambil langkah perbaikan dalam upaya mengeliminasi pemborosan tersebut, guna merancang Future Value Stream Map (FVSM).

Current Value Stream Map (CVSM) untuk proses produksi Crude Palm Oil (CPO) dapat dilihat pada Gambar 4.3.

Purchasing PPC Marketing

Gambar 4.3. Current Value Stream Map (CVSM) Proses Produksi Crude Palm Oil

4.2.8. Cause And Effect / Fishbone Diagram (Diagram Sebab Akibat)

Identikasi faktor penyebab pemborosan (waste) dilakukan dengan menggunakan diagram sebab-akibat atau yang biasa kita kenal dengan diagram Fishbone (cause and effect diagram). Diagram sebab-akibat atau diagram Fishbone (cause and effect diagram) merupakan suatu alat yang digunakan untuk menentukan hipotesis akar permasalahan dan penyebab potensial untuk sebuah permasalahan.

Analisis dilakukan terhadap faktor manusia, material, mesin, metode kerja, dan lingkungan. Diagram ini dirancang dengan cara berdiskusi (brainstorming) dengan pihak perusahaan, atau lebih tepatnya dengan Factory Manager, karena dianggap sebagai pihak yang paling memahami keseluruhan proses produksi. Diagram sebab akibat pemborosan (waste) dalam produksi CPO dapat dilihat pada gambar berikut.

TBS menunggu

Gambar 4.4. Cause and Effect Diagram TBS menunggu memasuki Loading Ramp

TBS menunggu Operator tidak melakukan SOP

yang berlaku

Gambar 4.5. Cause and Effect Diagram TBS menunggu memasuki proses Sterilizer

Setelah proses identifikasi faktor penyebab pemborosan (waste) telah dilakukan, maka diperlukan upaya perbaikan atau proses pemecahan masalah tersebut, yang ditunjukkan pada Tabel 4.14.

Tabel 4.14. Upaya Perbaikan dan Proses Pemecahan Masalah No Aktivitas Non

Value Added Faktor Potensial

Penyebab Sumber

Tabel 4.14. Upaya Perbaikan dan Proses Pemecahan Masalah (Lanjutan) No Aktivitas Non

Value Added Faktor Potensial

Penyebab Sumber Sumber : Pengolahan Data

4.2.9. Estimasi Hasil Peningkatan Kecepatan Proses

Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan oleh peneliti, aktivitas kerja yang dimiliki oleh perusahaan untuk memproduksi Crude Palm Oil (CPO) berjumlah 22 aktivitas kerja. Pengurangan aktivitas kerja dilakukan dengan mengeliminasi tiga aktivitas yang merupakan suatu kegiatan yang tidak memiliki nilai tambah

(non-valuable added). Berikut merupakan kegiatan yang tidak menghasilkan nilai tambah (non-valuable added).

a. Mengeliminasi aktivitas ke-4, yaitu TBS menunggu memasuki Loading Ramp.

Untuk dapat mengeliminasi kegiatan ini dilakukan dengan cara mengadakan perawatan (Maintenance) pada mesin secara berkala agar mesin pada proses tersebut tidak rusak dan tidak mengganggu proses produksi, serta membatasi jumlah pemasokan TBS per hari pada perusahaan

b. Mengeliminasi aktivitas ke-8, yaitu Tandan Buah Segar menunggu proses Sterilizer.

Untuk dapat mengeliminasi kegiatan ini, dapat dilakukan dengan cara menambah jumlah lori pada proses produksi, mengadakan perawatan (maintenance) pada mesin secara berkala, dan meningkatkan pengawasan pada pekerja guna meningkatkan fokus dan kinerja pekerja.

Dengan diterapkannya usulan perbaikan tersebut, maka kegiatan proses produksi Crude Palm Oil (CPO) akan berkurang sebanyak dua proses. Berikut merupakan kegiatan proses produksi Crude Palm Oil (CPO) setelah dilakukannya perbaikan dapat dilihat pada tabel 4.15.

Tabel 4.15. Proses Produksi Crude Palm Oil (CPO) Setelah Perbaikan

No Aktivitas Waktu Baku

1 TBS ditimbang di Weightbridge 1,58

2 TBS dibawa ke stasiun sortasi 2,56

3 TBS dibongkar dan disortir 33,45

4 TBS hasil penyortiran dimasukkan ke dalam Loading Ramp 28,83

Tabel 4.15. Proses Produksi Crude Palm Oil (CPO) Setelah Perbaikan (Lanjutan)

No Aktivitas Waktu Baku

5 TBS dimasukkan ke dalam lori 13,27

6 Lori ditarik menuju tempat Sterilizer 11,03

7 Melakukan proses Sterilizer untuk menghasilkan buah masak 150,44

8 Lori ditarik keluar 19,50

9 Pengangkatan dan Penuangan muatan Lori 73,76

10 TBS dimasukkan ke dalam mesin Thresher untuk memisahkan

brondolan dengan tandan kosong 75,68

11 Brondolan dilumatkan dengan menggunakan mesin Digester 19,84 12 Berondolan melalui proses penekanan (press) pada mesin Screw

Press sehingga menghasilkan CPO kotor dan inti 23,58

13 CPO kotor diendapkan di Sand Trap Tank 36,77

14 CPO kotor disaring menggunakan Vibrating Screen 21,40 15 CPO kotor ditampung sementara pada Oil Tank 29,10 16 CPO kotor dipisahkan antara minyak, air dan sludge dengan

menggunakan Continuous Storage Tank 19,54

17 Minyak dan air diendapkan di Pure Oil Tank 35,73 18

Minyak dimasukkan ke dalam mesin Vaccum Dryer untuk

memisahkan minyak dari kandungan air, sehingga diperoleh CPO murni

23,20 19 CPO murni dialirkan ke dalam Storage Tank 11,96

20 Pengisian CPO pada truk 37,75

Total Manufacturing Lead Time 668,97

Sumber : Pengolahan Data

4.2.10. Perhitungan Metric Lean Setelah Perbaikan

Berikut merupakan perhitungan Metric Lean pada proses produksi Crude Palm Oil PT. Perkebunan Nusantara IV Adolina setelah dilakukannya perbaikan proses produksi.

1. Perhitungan Manufacturing Lead Time

Perhitungan Manufacturing Lead Time dilakukan dengan cara menjumlahkan seluruh waktu proses kerja yang terdiri dari 20 proses kerja. Berikut merupakan urutan proses kerja dan waktu baku yang dapat dilihat pada tabel 4.16.

Tabel 4.16. Proses Perhitungan Manufacturing Lead Time Berdasarkan Waktu Baku Sesudah Perbaikan

No Aktivitas Waktu Baku

1 TBS ditimbang di Weightbridge 1,58

2 TBS dibawa ke stasiun sortasi 2,56

3 TBS dibongkar dan disortir 33,45

4 TBS hasil penyortiran dimasukkan ke dalam Loading Ramp 28,83

5 TBS dimasukkan ke dalam lori 13,27

6 Lori ditarik menuju tempat Sterilizer 11,03

7 Melakukan proses Sterilizer untuk menghasilkan buah masak 150,44

8 Lori ditarik keluar 19,50

9 Pengangkatan dan Penuangan muatan Lori 73,76

10 TBS dimasukkan ke dalam mesin Thresher untuk memisahkan

brondolan dengan tandan kosong 75,68

11 Brondolan dilumatkan dengan menggunakan mesin Digester 19,84 12 Berondolan melalui proses penekanan (press) pada mesin Screw

Press sehingga menghasilkan CPO kotor dan inti 23,58

13 CPO kotor diendapkan di Sand Trap Tank 36,77

14 CPO kotor disaring menggunakan Vibrating Screen 21,40 15 CPO kotor ditampung sementara pada Oil Tank 29,10 16 CPO kotor dipisahkan antara minyak, air dan sludge dengan

menggunakan Continuous Storage Tank 19,54

17 Minyak dan air diendapkan di Pure Oil Tank 35,73 18

Minyak dimasukkan ke dalam mesin Vaccum Dryer untuk

memisahkan minyak dari kandungan air, sehingga diperoleh CPO murni

23,20 19 CPO murni dialirkan ke dalam Storage Tank 11,96

20 Pengisian CPO pada truk 37,75

Total Manufacturing Lead Tima 668,97

Sumber : Pengolahan Data

2. Perhitungan Process Cycle Efficiency

Perhitungan Process Cycle Efficiency dilakukan dengan cara memisahkan kegiatan Value Added Time dengan Unnecessary Added Time. Pemisahan antara kegiatan Value Added Time, Unnecessary Added Time dengan Non-Value Added Time dapat dilihat pada tabel 4.17. .

Tabel 4.17. Tabel Value Added, Unnecessary Added Time dan Non-Value Added Time Setelah Perbaikan

No Aktivitas Value Added

Time (Menit) 1 TBS ditimbang di Weightbridge 1,58

2 TBS dibawa ke stasiun sortasi 2,56

3 TBS dibongkar dan disortir 33,45

4 TBS hasil penyortiran dimasukkan ke dalam Loading Ramp 7 Melakukan proses Sterilizer

untuk menghasilkan buah masak

150,44

8 Lori ditarik keluar 19,50

9 Pengangkatan dan Penuangan muatan Lori

73,76 10 TBS dimasukkan ke dalam

mesin Thresher untuk memisahkan brondolan dengan tandan kosong

75,68

Tabel 4.17. Tabel Value Added, Unnecessary Added Time dan Non-Value Added Time Setelah Perbaikan (Lanjutan)

No Aktivitas Value Added

Time (Menit) 11 Brondolan dilumatkan dengan

menggunakan mesin Digester 19,84 12 Berondolan melalui proses

penekanan (press) pada mesin Screw Press sehingga menghasilkan CPO kotor dan inti

23,58

13 CPO kotor diendapkan di Sand Trap Tank

sementara pada Oil Tank

29,10 memisahkan minyak dari kandungan air, sehingga diperoleh CPO murni

Total Value Added Time 548,10

Total Unnecessary Added Time 120,87

Total Non Value Added Time

Total Manufacturing Lead Time 668,97

Sumber : Pengolahan Data

Dengan menggunakan nilai waktu yang terdapat pada tabel 4.18. maka diperoleh perhitungan process cycle efficiency adalah sebagai berikut

Process Cycle Efficiency = Value Added Time

Manufacturing Lead Time x 100%

Process Cycle Efficiency = 548,10

668,97 x 100%

Process Cycle Efficiency = 81,93%

Berdasarkan hasil perhitungan, dapat dilihat bahwa Process Cycle Efficiency sebelum perbaikan sebesar 71,61% dan setelah perbaikan menjadi 81,93%.

Terdapat peningkatan pada proses produksi sebesar 10,32%. Hal ini berarti kemampuan perusahaan untuk memproduksi Crude Palm Oil telah meningkat dari spesifikasi yang ada.

3. Perhitungan Process Lead Time dan Process Velocity

Proses perhitungan Process Lead Time dilakukan untuk mengetahui berapa lama waktu yang diperlukan untuk memproses sejumlah produk karet dari awal hingga selesai selama bulan Agustus 2021 adalah sebagai berikut.

Rata - Rata Kecepatan Penyelesaian = Total Produksi Per Bulan Jumlah hari kerja

Rata - Rata Kecepatan Penyelesaian = 16.800 30 Rata - Rata Kecepatan Penyelesaian = 560 Ton

Process Lead Time = Jumlah Produk Dalam Proses Rata - Rata Kecepatan Penyelesaian

Process Lead Time = 16.800 560 Process Lead Time = 30 hari

Process Velocity merupakan kecepatan proses dalam memproduksi sejumlah barang dari awal hingga akhir. Berikut merupakan proses perhitungan Process Velocity adalah sebagai berikut :

Process Velocity = Jumlah Aktivitas Dalam Proses Process Lead Time Process Velocity = 20

30

Process Velocity = 0,67 per hariPeningkatan Produksi

Peningkatan Produksi =

𝑀𝑎𝑛𝑢𝑓𝑎𝑐𝑡𝑢𝑟𝑖𝑛𝑔 𝐿𝑒𝑎𝑑 𝑇𝑖𝑚𝑒 − 𝑀𝑎𝑛𝑢𝑓𝑎𝑐𝑡𝑢𝑟𝑖𝑛𝑔 𝐿𝑒𝑎𝑑 𝑇𝑖𝑚𝑒 Usulan Manufacturing Lead Time Aktual

Peningkatan Produksi = 761,33 − 668,97 761,33 Peningkatan Produksi = 0,1213 Peningkatan Produksi = 0,1266 x Rata

− rata kecepatan penyelesaian/hari Peningkatan Produksi = 0,1266 x 560

Peningkatan Produksi = 67,92 = 68 unit

Hasil perhitungan process velocity menunjukkan kecepatan proses yang diperlukan untuk menyelesaikan produk setelah perbaikan pada bulan Agustus 2021, yaitu sebesar 0,67 proses per hari. Kecepatan proses pada produksi Crude Palm Oil perlu ditingkatkan secara terus menerus untuk mengurangi biaya produksi, dengan cara mengurangi pemborosan-pemborosan yang terjadi selama proses produksi berlangsung.

4.2.11. Perancangan Future Value Stream Mapping

Future Value Stream Map (FVSM) merupakan suatu gambaran proses produksi usulan yang meliputi aliran informasi dan material. Tujuan pemetaan ini adalah untuk membandingkan Future Value Stream Map (CVSM) terhadap Current Value Stream Map (CVSM) dengan memperhatikan tingkat perbaikan yang dihasilkan setelah melakukan upaya perbaikan atas pemborosan tersebut.

Future Value Stream Map (FVSM) untuk proses produksi Crude Palm Oil (CPO) dapat dilihat pada Gambar 4.7.

Purchasing PPC Marketing

Gambar 4.6. Future Value Stream Mapping (FVSM) Proses Produksi Crude Palm Oil (CPO)

Berdasarkan hasil pengamatan dari Current Value Stream Mapping (CVSM) dengan Future Value Stream Mapping (FVSM), maka diperoleh perbandingan yang telah dilampirkan pada tabel 4.18.

Tabel 4.18. Perbandingan Current Value Stream Mapping (CVSM) dengan Future Value Stream Mapping (FVSM)

Current Value Stream

Mapping (CVSM) Future Value Stream Mapping (FVSM) Jumlah Kegiatan

Produksi 22 20

Manufacturing Lead

Time 765,39 668,97

Value Added Time 548,10 548,10

Unnecessary Added Time 120,87 120,87

Non Value Added Tima 96,42 0

Process Cycle Efficiency 71,61% 81,93%

Process Lead Time 30 30

Process Velocity 0,73/hari 0,67/hari

Peningkatan Produksi 560 628

Sumber : Pengolahan Data

Berdasarkan pada tabel 4.19. dapat kita lihat bahwa terjadi pengurangan pada Manufacturing Lead Time sebesar 96,42 menit pada proses produksi. Terdapat peningkatan pada Process Cycle Efficiency sebesar 10,32% dan meningkatnya kecepatan proses produksi pada pembuatan Crude Palm Oil di PT. Perkebunan Nusantara IV Adolina sebesar 0,06 proses/hari. Berdasarkan usulan perbaikan pada aktivitas waste, hal ini berarti kemampuan perusahaan untuk memproduksi barang sesuai dengan spesifikasi yang ditentukan, yaitu semakin baik.

BAB V

Dokumen terkait