Data yang dikumpulkan terbagi menjadi data primer yang merupakan penilaian rating factor, penentuan faktor allowance, waktu siklus, identifikasi waste, dan tingkat kepentingan perbaikan. Sedangkan untuk data sekunder terdiri dari data aliran proses produksi dan gambaran umum perusahaan.
4.1.1. Data aliran proses
Berdasarkan pengamatan proses produksi CPO (Crude Palm Oil)yang berada di PT. Perkebunan Nasional IV Pabrik Adolina, berikut merupakan data aliran proses produksi Crude Palm Oil (CPO) pada departemen produksi yang ditunjukkan pada tabel 4.1.
Tabel 4.1. Data Aliran Proses
No. Aktivitas
1 TBS ditimbang di Weightbridge 2 TBS dibawa ke stasiun sortasi 3 TBS dibongkar dan disortir
4 Menunggu TBS memasuki Loading Ramp
5 TBS hasil penyortiran dimasukkan ke dalam Loading Ramp 6 TBS dimasukkan ke dalam lori
7 Menunggu Proses Sterilizer
8 Lori ditarik menuju tempat Sterilizer
9 Melakukan proses Sterilizer untuk menghasilkan buah masak 10 Lori ditarik keluar
11 Pengangkatan dan Penuangan muatan Lori
Tabel 4.1. Data Aliran Proses (Lanjutan)
12 TBS dimasukkan ke dalam mesin Thresher untuk memisahkan brondolan dengan tandan kosong
13 Brondolan dilumatkan dengan menggunakan mesin Digester
14 Berondolan melalui proses penekanan (press) pada mesin Screw Press sehingga menghasilkan CPO kotor dan inti
15 CPO kotor diendapkan di Sand Trap Tank
16 CPO kotor disaring menggunakan Vibrating Screen 17 CPO kotor ditampung sementara pada Oil Tank
18 CPO kotor dipisahkan antara minyak, air dan sludge dengan menggunakan Continuous Storage Tank
19 Minyak dan air diendapkan di Pure Oil Tank
20 Minyak dimasukkan ke dalam mesin Vaccum Dryer untuk memisahkan minyak dari kandungan air, sehingga diperoleh CPO murni
21 CPO murni dialirkan ke dalam Storage Tank 22 Pengisian CPO pada truk
Sumber : PT. Perkebunan Nusantara IV Adolina
4.1.2. Data Waktu Proses
Berdasarkan hasil pengamatan dari waktu proses produksi Crude Palm Oil (CPO) pada departemen produksi, berikut merupakan waktu proses produksi Crude Palm Oil pada departemen produksi yang ditunjukkan pada tabel 4.2.
Tabel 4.2. Data Waktu Siklus Urutan
Tabel 4.2. Data Waktu Siklus (Lanjutan) Urutan
Proses
Waktu Siklus (menit)
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
8 6,75 7,15 6,72 6,68 7,2 7,85 7,08 7,81 6,43 7,34 9 99,5 101,14 93,75 100,6 91,15 97,62 97,98 93,72 98,9 94,6 10 12,3 12,6 11,9 12,45 12,76 12,05 13,47 12,45 13,15 12,48 11 40,21 39,65 36,95 36,65 41,38 39,37 37,3 42,54 36,75 39,70 12 41,4 37,35 37,22 36,68 39,8 42,6 43,09 40,9 39,7 41,9 13 11,71 12,42 11,84 11,32 12,38 13,17 12,96 12,4 13,46 14,08 14 13,81 15,03 15,6 14,34 15,71 13,34 16,05 15,94 15,62 14,02 15 35,42 34,45 35,31 40,4 35,2 35,76 33,68 40,02 39,07 38,35 16 14,02 13,95 12,84 13,38 14,16 14,19 12,4 13,95 13,7 13,07 17 29,5 28,56 28,36 28,38 29,48 27,36 28,8 29,72 30,2 30,68 18 12,11 12,51 13,72 11,28 11,75 12,61 12,3 12,45 12,9 13,15 19 36,6 38,15 38,50 35,42 36,1 31,25 31,68 35,15 36,45 38,04 20 15,24 14,72 14,65 15,37 15,25 14,82 15,22 15,24 15,80 14,38 21 8,18 7,94 7,62 7,64 7,5 8,21 8,23 8,3 7,94 8,18 22 29,90 27,75 27,5 26,93 32,42 28,34 30,75 29,64 27,17 28,65 Sumber : Pengolahan Data
4.1.3. Penilaian Rating Factor
Penilaian Rating Factor dilakukan dengan metode Westinghouse untuk mengukur tingkat kewajaran bekerja seorang operator. Berikut merupakan penentuan Rating Factor untuk masing-masing operator
Berikut merupakan tabel enentuan Rating Factor menurut Westing House ditunjukkan pada tabel 4.3.
Tabel 4.3. Tabel Rating Factor Menurut Westing House
SKILL EFFORT
Sumber: Wignjosoebroto S, 2006
Penentuan Rating Factor untuk operator I, yang bertugas untuk menimbang TBS di Weightbridge, ditunjukkan pada tabel 4.4.
Tabel 4.4. Penentuan Rating Factor Operator I Rating Factor
1 Keterampilan a. Kelas Superskill
1) Tampak seperti telah terlatih dengan baik
Dari banyaknya data diatas yang sesuai dengan operator pada saat proses pengamatan, maka dapat ditunjukkan : 1/8 x 100% = 12,5%
b. Kelas Excellent
1) Percaya pada diri sendiri
Dari banyaknya data diatas yang sesuai dengan operator pada saat proses pengamatan, maka dapat ditunjukkan : 1/9 x 100% = 11,1%
2 Usaha
a. Kelas Superskill
1) Tampak seperti telah terlatih dengan baik
Dari banyaknya data diatas yang sesuai dengan operator pada saat proses pengamatan, maka dapat ditunjukkan : 1/8 x 100% = 12,5%
b. Kelas Excellent
1) Percaya pada diri sendiri
Dari banyaknya data diatas yang sesuai dengan operator pada saat proses pengamatan, maka dapat ditunjukkan : 1/9 x 100% = 11,1%
c. Kelas Average
1) Bekerja dengan stabil
2) Menerima saran-saran tetapi tidak melaksanakannya 3 Kondisi Kerja
4 Konsistensi
Sumber : PT. Perkebunan Nusantara IV Adolina
Dari keterangan diatas dapat disimpulkan nilai Rating Factor pada proses diatas dapat dilihat pada tabel 4.5.
Tabel 4.5. Rating Factor Operator I
No. Faktor Kelas Lambang Nilai
Sumber : PT. Perkebunan Nusantara IV Adolina
Maka Rating Factor untuk operator I adalah Rf = 1 + 0,15 = 1,15
Berikut merupakan rekapan dari Rating Factor untuk operator I sampai dengan operator XII dapat dilihat pada tabel 4.6.
Tabel 4.6. Rekapan Perhitungan Rating Factor Tiap Operator
No Operator Rating Factor
1 Operator I 1,15
2 Operator II 1,17
3 Operator III 1,19
4 Operator IV 1,18
5 Operator V 1,19
6 Operator VI 1,19
7 Operator VII 1,12
8 Operator VIII 1,12
9 Operator IX 1,19
10 Operator X 1,17
11 Operator XI 1,14
12 Operator XXI 1,11
Sumber : PT. Perkebunan Nusantara IV Adolina
4.1.4. Penetapan Allowance
Penetapan Allowance untuk setiap operator berdasarkan karateristik pekerjaannya, ditunjukkan pada tabel 4.7.
Tabel 4.7. Penetapan Allowance Tiap Operator
Operator Faktor Allowance Allowance Total
I
Kebutuhan Pribadi : Pria 1%
6%
Tenaga Yang Dikeluarkan : Dapat
Diabaikan 0%
Sikap Kerja : Duduk 1%
Gerakan Kerja : Normal 0%
Kelelahan Mata : Pandangan
Terputus-putus 3%
Keadaan Temperatur : Normal 0%
Keadaan Atmosfer : Baik 0%
Keadaan Lingkungan : Bersih, sehat,
cerah dengan kebisingan rendah 0%
Hambatan yang Tak Terhindarkan 1%
II
Kebutuhan Pribadi : Pria 1%
2%
Tenaga Yang Dikeluarkan : Dapat
Diabaikan 0%
Sikap Kerja : Duduk 0%
Gerakan Kerja : Normal 0%
Kelelahan Mata : Pandangan
Terputus-putus 0%
Keadaan Temperatur : Normal 0%
Keadaan Atmosfer : Baik 0%
Keadaan Lingkungan : Bersih, sehat,
cerah dengan kebisingan rendah 0%
Hambatan yang Tak Terhindarkan 1%
III
Kebutuhan Pribadi : Pria 1%
26%
Tenaga Yang Dikeluarkan :Berat 20%
Sikap Kerja : Berdiri diatas dua kaki 1%
Gerakan Kerja : Agak terbatas 2,50%
Kelelahan Mata : Pandangan
Terputus-putus 0%
Keadaan Temperatur : Normal 0%
Tabel 4.7. Penetapan Allowance Tiap Operator (Lanjutan)
Operator Faktor Allowance Allowance Total
III
Keadaan Atmosfer : Baik 0%
Keadaan Lingkungan : Bersih, sehat,
cerah dengan kebisingan rendah 0%
Hambatan yang Tak Terhindarkan 1%
IV
Kebutuhan Pribadi : Pria 1%
24%
Tenaga Yang Dikeluarkan : Sangat
Ringan 7,50%
Sikap Kerja : Berdiri diatas dua kaki 1%
Gerakan Kerja : Normal 0%
Kelelahan Mata : Pandangan
Terputus-putus 3%
Keadaan Temperatur : Normal 5%
Keadaan Atmosfer : Cukup 5%
Keadaan Lingkungan : Bersih, sehat,
cerah dengan kebisingan rendah 0%
Hambatan yang Tak Terhindarkan 1%
V
Kebutuhan Pribadi : Pria 1%
37%
Tenaga Yang Dikeluarkan : Sangat
Ringan 7,50%
Sikap Kerja : Duduk 0%
Gerakan Kerja : Normal 0%
Kelelahan Mata : Pandangan yang hampir
terus-menerus 7,50%
Keadaan Temperatur : Tinggi 10%
Keadaan Atmosfer : Cukup 5%
Keadaan Lingkungan : Sangat bising 5%
Hambatan yang Tak Terhindarkan 1%
Tabel 4.7. Penetapan Allowance Tiap Operator (Lanjutan)
Operator Faktor Allowance Allowance Total
VI
Kebutuhan Pribadi : Pria 1%
29%
Tenaga Yang Dikeluarkan : Sangat
Ringan 7,50%
Sikap Kerja : Berdiri diatas dua kaki 1%
Gerakan Kerja : Normal 0%
Kelelahan Mata : Pandangan
Terputus-putus 3%
Keadaan Temperatur : Normal 5%
Keadaan Atmosfer : Cukup 5%
Keadaan Lingkungan : Sangat bising 5%
Hambatan yang Tak Terhindarkan 1%
VII
Kebutuhan Pribadi : Pria 1%
29%
Tenaga Yang Dikeluarkan : Sangat
Ringan 7,50%
Sikap Kerja : Berdiri diatas dua kaki 1%
Gerakan Kerja : Normal 0%
Kelelahan Mata : Pandangan
Terputus-putus 3%
Keadaan Temperatur : Normal 5%
Keadaan Atmosfer : Cukup 5%
Keadaan Lingkungan : Sangat bising 5%
Hambatan yang Tak Terhindarkan 1%
VIII
Kebutuhan Pribadi : Pria 1%
29%
Tenaga Yang Dikeluarkan : Sangat
Ringan 7,50%
Sikap Kerja : Berdiri diatas dua kaki 1%
Gerakan Kerja : Normal 0%
Kelelahan Mata : Pandangan
Terputus-putus 3%
Keadaan Temperatur : Normal 5%
Keadaan Atmosfer : Cukup 5%
Keadaan Lingkungan : Sangat bising 5%
Hambatan yang Tak Terhindarkan 1%
IX Kebutuhan Pribadi : Pria 1%
Tenaga Yang Dikeluarkan : Sangat 24%
Ringan 7,50%
Tabel 4.7. Penetapan Allowance Tiap Operator (Lanjutan)
IX
Kebutuhan Pribadi : Pria 1%
24%
Tenaga Yang Dikeluarkan : Sangat
Ringan 7,50%
Sikap Kerja : Berdiri diatas dua kaki 1%
Gerakan Kerja : Normal 0%
Kelelahan Mata : Pandangan
Terputus-putus 3%
Keadaan Temperatur : Normal 5%
Keadaan Atmosfer : Cukup 5%
Keadaan Lingkungan : Bersih, sehat,
cerah dengan kebisingan rendah 0%
Hambatan yang Tak Terhindarkan 1%
X
Kebutuhan Pribadi : Pria 1%
24%
Tenaga Yang Dikeluarkan : Sangat
Ringan 7,50%
Sikap Kerja : Berdiri diatas dua kaki 1%
Gerakan Kerja : Normal 0%
Kelelahan Mata : Pandangan
Terputus-putus 3%
Keadaan Temperatur : Normal 5%
Keadaan Atmosfer : Cukup 5%
Keadaan Lingkungan : Bersih, sehat,
cerah dengan kebisingan rendah 0%
Hambatan yang Tak Terhindarkan 1%
XI
Kebutuhan Pribadi : Pria 1%
24%
Tenaga Yang Dikeluarkan : Dapat
Diabaikan 7,50%
Sikap Kerja : Duduk 1%
Gerakan Kerja : Normal 0%
Kelelahan Mata : Pandangan
Terputus-putus 3%
Keadaan Temperatur : Normal 5%
Keadaan Atmosfer : Baik 5%
Keadaan Lingkungan : Bersih, sehat,
cerah dengan kebisingan rendah 0%
Hambatan yang Tak Terhindarkan 1%
XII Kebutuhan Pribadi : Pria 1% 15%
Tabel 4.7. Penetapan Allowance Tiap Operator (Lanjutan)
XII
Kebutuhan Pribadi : Pria 1%
15%
Tenaga Yang Dikeluarkan : Dapat
Diabaikan 7,50%
Sikap Kerja : Duduk 0%
Gerakan Kerja : Normal 0%
Kelelahan Mata : Pandangan
Terputus-putus 5%
Keadaan Temperatur : Normal 0%
Keadaan Atmosfer : Baik 0%
Keadaan Lingkungan : Bersih, sehat,
cerah dengan kebisingan rendah 0%
Hambatan yang Tak Terhindarkan 1%
Sumber : PT. Perkebunan Nusantara IV Adolina
4.1.5. Identifikasi Waste
Berdasarkan hasil perancangan Current Value Stream Mapping (CVSM), dilakukan identifikasi sumber pemborosan (waste) yang memungkinkan untuk dilakukannya perbaikan, antara lain:
a. Tandan Buah Segar Menunggu Memasuki Loading Ramp
Aktivitas TBS Menunggu memasuki loading ramp tergolong kedalam kategori Business Non-Value Added, yang berarti aktivitas atau proses produksi tidak memberikan nilai tambah bagi produsen, dikarenakan terdapat pemborosan (waste) yaitu menunggu (waiting) pada proses produksi tersebut.
b. Tandan Buah Segar Menunggu Proses Sterilizer
Tandan Buah Segar menunggu proses sterilizer merupakan salah satu aktivitas yang tidak bernilai tambah (non-value added). Aktivitas ini tentunya termasuk sebagai suatu jenis pemborosan, yaitu Waiting, dimana terdapat proses menunggu dalam proses produksi.
4.2. Pengolahan Data
Pengolahan data pada penelitian ini dilakukan dengan melakukan pendekatan Lean Manufacturing
4.2.1. Project Statement
Dalam melaksanakan project statement terdapat beberapa komponen utama, yaitu :
1. Bussiness Case (Masalah Perusahaan)
Dalam menghadapi persaingan bisnis yang semakin ketat, perusahaan harus mampu menghasilkan produk kepada para pelanggan. Pada saat ini perusahaan masih memiliki beberapa permasalahan dalam proses produksi berupa adanya aktivitas yang tidak bernilai tambah. Perusahaan diharapkan dapat menghasilkan produk Crude Palm Oil (CPO) dengan cepat untuk dapat memenuhi kepuasan konsumen sehingga tetap unggul dan mampu bersaing di pasaran nasional. Fokus utama dalam penelitian ini adalah masalah reduksi kegiatan tidak bernilai tambah pada proses produksi Crude Palm Oil (CPO).
2. Problem Statement (Pernyataan Masalah)
Masalah yang ditemukan dalam perusahaan adalah adanya kegiatan yang tidak bernilai tambah pada kegiatan menunggu (waiting).
3. Project Scope (Ruang Lingkup Kegiatan)
Ruang lingkup dalam kegiatan penyelesaian masalah perusahaan adalah produksi karet dengan data historis pada bulan Juli 2021.
4. Goal Statement (Pernyataan Tujuan)
Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi aktivitas yang tidak bernilai tambah (waste) serta memberikan usulan perbaikan dengan menggunakan metode Lean Manufacturing.
5. Project Timeline (Batas Wasktu Kegiatan)
Batas waktu pengerjaan penelitian ini yaitu sampai bulan November 2021.
4.2.2. Perancangan Diagram SIPOC (Supplier, Input, Process, Output, Control) Diagram SIPOC (Supplier, Input, Process, Output, Customer) merupakan salah satu metode yang berada pada tahapan DMAIC (Define, Measure, Analyze, Improve, Control) yang digunakan untuk menunjukkan aktivitas mayor atau subproses dalam sebuah proses bisnis bersama-sama dengan kerangka kerja dari proses yang disajikan dalam Supplier, Input, Process, Output, Customer.
Perancangan diagaram SIPOC (Supplier, Input, Process, Output, Customer) bertujuan untuk memberikan aliran informasi dari sumber bahan baku (Supplier), bahan baku yang digunakan (Input), proses produksi yang dilakukan dan diterapkan
kepada bahan baku (Process), hasil dari olahan bahan baku yang melewati proses – proses terterntu (Output) sampai dengan produk tersebut tiba di tangan tiap – tiap konsumen (Customer) yang terjadi dalam proses produksi Crude Palm Oil (CPO).
Berikut merupakan elemen – elemen yang digunakan dalam diagram SIPOC (Supplier, Input, Process, Output, Customer) adalah sebagai berikut:
a. Supplier : Kebun PT. Perkebunan Nasional IV Adolina dan Kebun Rakyat (CV. LMA, CV. RL)
b. Input : TBS (Tandan Buah Segar)
c. Process : Penimbangan, Penyortiran, Perebusan (Sterilizer), Penekanan (Thresher), Disgester, Presser, Clarification, Pengisian pada Tanki.
d. Output : Crude Palm Oil (CPO) e. Customer : PT. Sun, PT. Mtm, PT. INL
Diagram SIPOC (Supplier, Input, Process, Output, Customer) pada proses pembuatan CPO (Crude Palm Oil) pada PT. Perkebunan Nusantara IV Adolina dapat dilihat pada Gambar 4.1.
Gambar 4.1. Diagram SIPOC PT. Perkebunan Nusantara IV Adolina
4.2.3. Perhitungan Waktu Siklus
Berdasarkan data waktu proses yang dikumpulkan maka perlu dilakukan uji keseragaman data dan uji kecukupan data. Pengujian ini dilakukan pada proses produksi. Tingkat keyakinan dan ketelitian yang digunakan yaitu 95% dan 5%.
Pengujian yang dilakukan adalah sebagai berikut:
1. Uji Keseragaman Data
Pengujian keseragaman Data dilakukan untuk mengetahui apakah data dan waktu proses berada pada batas kontrol atau tidak pada peta kontrol. Contoh perhitungan berikut merupakan uji keseragaman data untuk proses produksi yang pertama yaitu proses produksi pada tahap 1 penimbangan TBS di Weghtbridge.
a. Perhitungan nilai rata-rata waktu proses.
X = ∑ki=1Xi n
X = 1,71+1,43+1,11+1,05+1,05+1,11+1,11+1,12+1,71+1,53 10
X = 1,29
b. Perhitungan nilai standar deviasi
σ= Ʃ (𝑋𝑖 − 𝑥)2 𝑛 − 1
σ= Ʃ (1,71-1,29 )2+(1,43-1,29 )2+…+(1,71-1,29 )2+(1,53-1,29 )2 10-1
σ= 0,27
c. Perhitungan Batas Kontrol Atas (BKA) dan Batas Kontrol Bawah (BKB) Untuk tingkat kepercayaan 95% dan tingkat ketelitian 5% maka nilai Zᾰ/2 yang dipakai adalah 2.
BKA = x + Zᾰ/2(σ) BKB = x – Zᾰ/2(σ)
BKA = 1,29 + 2(0,27) BKB = 1,29 – 2(0,27)
BKA = 1,83 BKB = 0,76
Peta kontrol untuk proses pertama dapat dilihat pada Gambar 4.2.
Gambar 4.2. Peta Kontrol Proses Pertama
Dari peta kontrol di atas dapat terlihat bahwa keseluruhan data waktu siklus untuk proses pertama yaitu proses penimbangan pemasukan Tandan Buah Segar (TBS), berada dalam batas kontrol. Pengujian data untuk waktu siklus proses produksi yang lain juga dilakukan dengan proses yang sama. Hasil rekapitulasi uji keseragaman untuk proses yang lainnya dapat dilihat pada tabel 4.8.
0 0,2 0,4 0,6 0,8 1 1,2 1,4 1,6 1,8 2
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10