• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV ANALISIS DATA

D. Citizen Journalism (Jurnalisme Warga)

Perkembangan citizen journalism (jurnalisme warga) saat ini

adalah sebagai fenomena baru dalam dunia jurnalistik. Menurut Aceng, citizen journalism adalah bentuk jurnalisme yang melibatkan warga

masyarakat untuk ikut mengisi media.35 Sementara itu, menurut Nurudin

yang dimaksud citizen journalism adalah keterlibatan warga dalam

memberitakan sesuatu. Seseorang tanpa memandang latar belakang pendidikan, dan keahlian, dapat merencanakan, menggali, mencari,

34

http://sosiologibudaya.wordpress.com/2011/03/23/

35Aceng Abdullah, “Fenomena Baru Dunia Jurnalistik,” dalam Atwar Bajari dan Sahat Sahala Tua Saragih, ed., Komunikasi Kontekstual: Teori dan Praktik Komunikasi Kontemporer (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2011), h. 466-468.

mengolah, melaporkan informasi (tulisan, gambar, foto, tuturan, video)

kepada orang lain.36 Jadi, setiap orang dapat menjadi wartawan.

Maraknya media jurnalisme warga terjadi karena sejumlah hal,

Aceng Abdullah memaparkan di antaranya:37

1. Berbagai informasi yang dibutuhkan khalayak tidak selalu

terpenuhi oleh media massa konvensional. Hal ini dikarenakan khalayak media sekarang berubah. Mereka membutuhkan aneka informasi yang justru menurut media massa tidak

memiliki nilai berita (news value). Sedangkan, media massa

masih berkutat dengan aspek news value yang kadang kala

sesungguhnya tidak dibutuhkan oleh masyarakat serta seringkali nilai suatu berita terkalahkan oleh kapitalisme media itu sendiri. Di pihak lain, masyarakat butuh informasi sederhana tetapi semuanya adalah bentuk permasalahan warga dan hal tersebut mereka dapatkan pada media jurnalisme warga.

2. Khalayak bukan hanya butuh informasi, tetapi juga butuh

menginformasikan fakta dan opininya.

3. Khalayak memiliki foto atau rekanan gambar yang jauh kebih

bagus ketimbang yang dimiliki media massa umum.

Isi dari kanal citizen journalism sendiri bermacam-macam dapat

berupa video, tulisan, gambar, foto, dan lain-lain yang disiarkan melalui

36

Nurudin, Jurnalisme Masa Kini (Jakarta: Rajawali Pers, 2008), h. 215.

media internet atau blog dengan tujuan memberikan informasi kepada

orang lain (to share).38 Berikut ini disajikan tabel ringkas mengenai citizen

journalism:

Citizen Journalism

Penulis Warga negara biasa dan semua

orang

Media Internet (blog)

Tujuan Memberikan informasi kepada orang

lain (to share)

Aturan Bebas

Isi Bermacam-macam (video, tulisan,

gambar, dan lain-lain)

Posisi Individu/ masyarakat Subjek dan Objek

Motivasi Penulis Mandiri

Tabel 2.1 Karakteristik Citizen Journalism

Nurudin, mengutip tulisan Online Journalism Review milik D.

Lasica, yang kemudian membagi media untuk citizen journalism dalam

lima bentuk, yaitu:39

1) Partisipasi audiens (seperti komentar-komentar pada pengguna

yang dilampirkan untuk mengomentari kisah berita, blog pribadi, foto atau video gambar yang ditangkap dari kamera HP atau berita lokal yang ditulis oleh penghuni sebuah komunitas).

2) Berita independen dan informasi yang ditulis dalam website.

3) Partisipasi pada berita situs yang berisi komentar-komentar

pembaca atas sebuah berita yang disiarkan oleh media tertentu.

38

Nurudin, Jurnalisme Masa Kini, h. 216.

39

4) Tulisan ringan seperti dalam milis dan e-mail.

5) Situs Pemancar pribadi (video situs pemancar).

Wartawan penulis berita dalam citizen journalism biasa disebut

citizen journalist. Menurut Supadiyanto, citizen journalist atau pewarta warga adalah masyarakat umum yang berkomitmen serius ingin

mencerdaskan masyarakat luas melalui sharing berbagai informasi.

Mereka berpartisipasi memberikan kontribusi dalam mengumpulkan informasi, menulis berita, mengeditnya, menganalisis, melaporkan, dan

menyiarkannya agar bisa dikonsumsi oleh publik.40

Menurut Supadiyanto, citizen journalist mengembangkan model

jurnalisme yang mengedepankan hati nurani dan kejujuran (the soul and

honest journalism). Mereka menulis pandangan atas suatu peristiwa karena didorong oleh keinginan untuk membagi apa yang dilihat dan diketahui. Penulisnya dapat berasal dari kalangan mana saja yang termotivasi untuk menulis secara independen.

Pada perkembangan jurnalisme warga kontemporer, terdapat sejumlah permasalahan berupa kritik terhadap operasional, hal ini yang

dianggap menjadi masalah dalam operasional jurnalisme warga yaitu:41

a. Fakta Informasi

Sebagian orang masih meragukan fakta informasi yang dikirimkan citizen journalist kepada media jurnalisme warga. Hal ini disebabkan oleh

40

Supadiyanto, Booming Profesi Pewarta Warga,Wartawan&Penulis (Jakarta: PPWI Intramedia Press, 2009), h. 8

lemahnya kontrol terhadap pengirim berita, apakah berita tersebut fakta atau bukan. Karena itu media jurnalisme warga harus memiliki mekanisme check and recheck atau prosedur konfirmasi yang bisa dipertanggungjawabkan.

b. Akurasi Data

Data yang dikirimkan citizen journalist terkadang tidak akurat

dikarenakan kesalahan penyebutan nama orang, istilah, prosedur, dan lain-lain. Hal ini disebabkan karena mereka bukan jurnalis, melainkan warga dari berbagai latar belakang.

c. Pertanggungjawaban Pembuat Berita

Hal ini berkaitan dengan bagaimana pertanggungjawaban sang pembuat berita apabila berita yang ditayangkan tidak faktual dan tidak akurat sehingga menyesatkan pembacanya. Tentu saja hal ini akan merepotkan pengelola media jurnalisme warga.

d. Etika Media

Kegiatan jurnalisme warga rawan dari pelanggaran etika media. Bagaimana prosedur sanksi dan kode etik mana yang dipergunakan bagi citizen journalist yang melakukan pelanggaran etika media. Suatu media jurnalisme warga bisa saja dikelola di suatu negara, tetapi memiliki khalayak di negara lain.

Kode Etik Pewarta Warga menjadi rambu-rambu atau panduan bagi setiap pegiat jurnalisme warga agar bekerja secara profesional dalam

menyampaikan aspirasi dan informasi yang mereka miliki kepada khalayak tanpa bermaksud untuk memberikan batasan dalam berkarya.

“Kode Etik Pewarta Warga pada hakekatnya dimaksudkan sebagai rambu-rambu atau panduan bagi setiap aktivis jurnalisme warga. Ia tidak dimaksudkan untuk memberikan pembatasan atas hak-hak individu setiap pewarta warga dan masyarakat umum dalam menyampaikan aspirasi dan informasi ke ruang publik.”42 Kode etik pewarta warga merupakan aturan baku yang harus

dipatuhi oleh setiap citizen journalist dalam mencari berita, pendapat, foto

maupun video kemudian menyusunnya menjadi karya pewarta warga dan menyiarkan melalui berbagai media massa dan jejaring sosial. Adanya kode etik pewarta warga bertujuan untuk menjaga profesionalitas para citizen journalist dalam menghasilkan karya sehingga tidak menghasilkan

informasi yang menyesatkan dan membahayakan publik.43 Persatuan

Pewarta Warga Indonesia (PPWI) sebagai organisasi terbesar yang mewadahi para pewarta warga di Indonesia yang didirikan pada 11 November 2007, menetapkan kode etik pewarta warga yang harus ditaati

dan dilaksanakan secara konsisten, meliputi:44

1. Pewarta warga tidak menyiarkan berita yang dapat

membahayakan keselamatan dan keamanan negara maupun kesatuan dan persatuan bangsa.

42

Supadiyanto, Booming Profesi Pewarta Warga,Wartawan&Penulis, h. 31.

43

Supadiyanto, DASAR-DASAR JURNALISME WARGA (1): Semua Orang adalah Pewarta Warga (Citizen Journalist), Pendidikan Penataran Citizen Journalism bagi Perwira TNI kerjasama PUSPEN TNI-PPWI, Mabes TNI, Jakarta Timur, 3-5 September 2012.

44

Supadiyanto, Booming Profesi Pewarta Warga,Wartawan&Penulis, h. 30-31. Lihat juga: Supadiyanto, DASAR-DASAR JURNALISME WARGA (1): Semua Orang adalah Pewarta Warga (Citizen Journalist).

2. Pewarta warga tidak diperkenankan menyiarkan karya jurnalistik melalui media massa apapun yang bersifat cabul, menyesatkan, bersifat fitnah ataupun memutarbalikkan fakta.

3. Pewarta warga tidak diperkenankan menerima imbalan yang

dapat mempengaruhi objektivitas beritanya.

4. Pewarta warga menjaga dan menghormati kehidupan pribadi

dengan tidak menyiarkan berita-berita yang dapat merugikan nama baik seseorang, dengan kata lain demi kepentingan umum.

5. Pewarta warga dilarang melakukan tindakan plagiat atau

mengutip hasil karya pihak lain dengan tanpa menyebutkan sumbernya. Apabila kenyataannya nama maupun identitas sumber berita tidak dicantumkan, maka segala tanggung jawab ada pada pewarta warga yang bersangkutan.

6. Pewarta warga diwajibkan menempuh cara sopan dan

terhormat dalam memperoleh bahan karya jurnalistik, tanpa paksaan ataupun menyadap berita dengan tanpa sepengetahuan yang bersangkutan.

7. Pewarta warga diwajibkan mencabut atau meralat setiap

pemberitaan yang ternyata tidak akurat, dan memberikan kesempatan kepada yang bersangkutan untuk memberikan kesempatan hak jawab.

8. Dalam memberitakan peristiwa yang berkaitan dengan proses

warga harus selalu menjunjung tinggi asas praduga tak bersalah, dengan prinsip jujur dalam penyajian berita yang berimbang.

9. Pewarta warga harus berusaha semaksimal mungkin dalam

menyajikan pemberitaan kejahatan susila (asusila) agar tidak merugikan pihak korban.

10.Pewarta warga menghormati dan menjunjung tinggi ketentuan

embargo untuk tidak menyiarkan informasi yang oleh sumber berita telah dinyatakan sebagai bahan berita yang “off the record”.

Pengawasan pelaksanaan kode etik pewarta warga tersebut sebaiknya dilaksanakan oleh masing-masing anggota pewarta warga, dan masyarakat di lingkungan sosial masing-masing. Untuk pelanggaran yang bersifat normatif, cara menyelesaikan sengketa diserahkan kepada aparat penegak hukum; dan untuk hal-hal yang berkenaan dengan nilai sosial, peran sanksi dan kontrol sosial masyarakat diharapkan guna membantu menyelesaikan masalah. Walaupun demikian, PPWI melalui biro hukum akan memberikan advokasi atas segala kegiatan pewarta warga, termasuk

perlindungan hukum dan sosial. 45

45