D. Manfaat Penelitian 1.Manfaat Akademis 1.Manfaat Akademis
E.3. Citra Perusahaan
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia pengertian citra adalah (Soleh & Elvinaro, 2008: 114):
1. Kata benda: gambar, rupa, gambaran .
2. Gambaran yang dimiliki orang banyak mengenai pribadi,perusahaan, organisasi atau produk.
3. Kesan mental atau bayangan visual yang ditimbulkan oleh sebuah kata, frase atau kalimat, dan merupakan unsure dasar yang khas dalam karya prosa atau puisi.
Berkaitan dengan pengertian citra menurut Philip Kotler, secaras garis besar bahwa citra adalah seperangkat keyakinan, ide, dan kesan seseorang terhadap suatu objek tertentu. Sikap dan tindakan seseorang terhadap suatu objek tersebut yang menampilkan kondisi terbaiknya (Ruslan, 2010: 80).
Frank jefkins, dalam bukunya Public Relation Technique, menyimpulkan bahwa secara umum, citra diartikan sebagai kesan seseorang atau individu tentang suatu yang muncul sebagai hasil dari pengetahuan dan pengalamannya.
44 Dalam buku Essential of Public Relations, Jeffkins menyebut bahwa citra adalah kesan yang diperoleh berdasarkan pengetahuan dan pengertian seseorang tentang fakta-fakta atau kenyataan. Jalaludin Rakhmat dalam bukunya Psikologi Komunikasi menyebutkan bahwa citra adalah penggambaran tentang realitas dan tidak harus sesuai dengan realitas, citra adalah dunia menurut persepsi. Solomon, dalam Rakhmat, mengemukakan sikap pada seseorang atau sesuatu tergantung pada citra kita tentang orang atau obyek tersebut (Soleh & Elvinaro, 2008: 114).
E.3.4. Proses Pembentukan Citra
Proses pembentukan citra dalam struktur kognitif yang sesuai dengan pengertian system komunikasi dijelaskan oleh John S. Nimpeno, dalam laporan penelitian tentang tingkah laku konsumen serti dikutip Danasaputra sebagai berikut (Soleh & Elvinaro, 2008: 115):
Public Relations digambarkan sebagai input-output, proses intern dalam model ini adalah pembentukan citra, sedangkan input adalah stimulus yang diberikan dan output adalah tanggapan atau perilaku tertentu. Citra itu sendiri digambarkan melalui persepsi kognisi-motivasi-sikap.
Model pembentukan citra ini menunjukkan bagaimana stimulus yang berasal dari luar diorganisasikan dan mempengaruhi respons. Stimulus (rangsang) yang diberikan pada individu dapat diterima atau ditolak. Jika rangsang ditolak proses selanjutnya tidak akan berjalan, hal ini menunjukkan bahwa rangsang tersebut tidak efektif dalam mepengaruhi individu karena tidak adaperhatian dari individu tersebut, sebaliknya jika rangsang itu diterima
45 oleh individu, berarti terdapat komunikasi dan terdapat perhatian dari organisasi, dengan demikian proses selanjutnya dapat berjalan.
Empat komponen persepsi-kognisi-motivasi-sikap diartikan sebagai citra individu terhadap rangsang jika stimulus mendapat perhatian, individu akan berusahauntuk mengerti tentang rangsang tersebut. Persepsi diartikan sebagai hasil pengamatan terhadap unsure lingkungan yang dikaitkan dengan suatu proses pemaknaan. Dengan kata lain, individu akan memberikan makna terhadap rangsang berdasarkan pengalamannya mengenai rangsang. Kemampuan mempersepsi itulah yang dapat melanjtkan proses pembentukan citra. Persepsi atau pandangan individu akan positif apabila informasi yang diberikan oleh rangsang dapat memenuhi kognisi individu.
Kognisi yaitu suatu keyakinan diri dari individu terhadap stimulus. Keyakinan ini akan timbul apabila individu telah mengerti rangsang tersebut, sehingga individu harus diberikan informasi-informasi yang cukup yang dapat mempengaruhi perkembangan kognisinya. Motivasi dan sikap yang ada akan menggerakkan respons seperti yang diinginkan oleh pemberi rangsang. Motif adalah keadaan dalam pribadi seseorang yang mendorong keinginan individu untuk melakukan kegiatan-kegiatan tertentu guna mencapai suatu tujuan.
Sikap adalah kecenderungan bertindak, berpersepsi berpikir, dan merasa dalam menghadapi objek, ide, situasi, atau nilai. Sikap bukan perilaku, tetapi merupakan kecenderungan untuk berperilaku dengan cara-cara tertentu. Sikap menentukan apakah orang harus pro atau kontra terhadap sesuatu, menentukan apa yang disukai, diharapkan dan diinginkan. Sikap mengandung aspek
46 evaluative, artinya mengandung nilai menyenangkan atau tidak meyenangkan. Sikap ini juga dapat diperteguh atau diubah.
Dalam melihat dan menelaah pencitraan Jim McNamara dalam buku Strategi Public Relations merumuskan sebagai berikut (Wasesa & McNamara, 2010: 21):
Internal adalah kategori yang berkaitan dengan pencitraan yang disebabkan oleh bagian internal organisasi. Adapun dimensi kategori internal terdiri atas: 1. Organisasi
keseluruhan organisasi atau semua komponen organisasi dilihat sebagai suatu kesatuan.
2. Budaya
Budaya atau kebiasaan seperti apa yang berkembang di dalam suatu organisasi.
3. Citra Perseorangan
Citra perseorangan yang dimaksud adalah citra masing-masing anggota atau individu dalam suatu organisasi.
Eksternal adalah kategori yang berkaitan dengan aktivitas eksternal organisasi dan memiliki kedekatan pengaruh terhadap model pencitraan. Kategori inilah yang selama ini diperankan oleh PR secara maksimal, seperti dijelaskan di bawah ini:
1. Fisik
Penampilan fisik atau tampilan luar organisasi sering menjadi hal pertama yang dilihat publik dari sebuah organisasi, tampilan luar ini bisa berupa pengalaman publik dengan organisasi tersebut.
47 2. Relationship
Bagaimana organisasi menjalin hubungan atau kerjasama. 3. Refleksi
Refleksi yang dimaksud adalah bagaimana perusahaan memberi reaksi atau tanggapan ataupun penilaian terhadap organisasinya.
Konstruksi citra pada yang dilakukan public relations umumnya adalah bagaimana agar citra yang dihasilkan selalu positif bagi perusahaaannya. Konstruksi ini tentunya melibatkan persepsi kognisi-motivasi-sikap perilaku dari individu. Selain dari individu, organisasi juga terlibat dalam proses pembentukan citra yaitu internal dan eksternal organisasi. Sehingga dari kedua faktor ini lah yang mempengaruhi proses pembentukan citra dari publik. F. Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis framing model Kirk Hallahan dengan menggunakan pendekatan kualitatif interpretatif. Dengan pendekatan ini peneliti berusaha memahami dan menafsirkan aspek-aspek dari realitas yang dikonstruksi. Pendekatan ini lahir dari paradigma interpretif yang beranggapan bahwa manusia berkemampuan membentuk makna dan memberi makna terhadap dunia mereka. Ini lah yang sejalan dengan rilisnya advertorial PT Hardaya Inti Plantations di media cetak. Dimana fungsi PR adalah mengatur arus informasi agar informasi itu dapat diterima atau dipahami oleh publik sesuai dengan harapan perusahaan.
Analisis framing adalah analisis yang memusatkan perhatian pada bagaimana media mengemas dan membingkai berita, konsep framing sendiri dalam studi media banyak mendapat pengaruh dari lapangan psikologi dan
48 sosiologi (Eriyanto, 2008: 71). Framing lebih banyak memberikan penjelasan secara teoritis bagaimana media mengkonstruksi sebuah issue dan kisah dalam suatu berita. Namun Hallahan telah memberikan penjelasan yang lebih berhubungan dengan dunia public relations. Dengan tipologinya dia mengidentifikasi tujuh model framing yang diterapkan pada praktek publik relations, yaitu : situasi, atribut, pilihan, tindakan, masalah, tanggung jawab dan berita.
Dengan framing kita bisa menelaah bagaimana peristiwa didefinisikan, karena framing selalu berhubungan dengan pendapat umum. Ini sejalan dengan tugas vital Public Relations untuk memperhatikan agar opini orang-orang tertentu terekspresikan dengan layak dan berdasarkan informasi yang benar melalui penciptaan pesan. Dalam konstruksi realitas, bahasa adalah unsur utama. Ia merupakan instrument pokok untuk menceritakan realitas. Bahasa adalah alat konseptualisasi dan alat narasi. Selanjutnya penggunaan bahasa tertentu menentukan format narasi (dan makna) tertentu seperti penggunaan teks, photo, grafik, angka, dan tabel.