• Tidak ada hasil yang ditemukan

D. Manfaat Penelitian 1.Manfaat Akademis 1.Manfaat Akademis

E.1. Analisis Framing

E.2.3. Iklan Versus Realitas

Sama seperti iklan yang bertujuan menjual produk secara langsung, iklan korporat juga bisa ditampilkan dalam bentuk advertorial (yaitu iklan dalam bentuk berita). Maksudnya agar iklan dapat memuat informasi secara detail dan lengkap. Keuntungan lain iklan advertorial adalah kesan beriklannya tidak tampak. Orang melihatnya sebagai berita bukan iklan, sehingga kecenderungan

24 untuk dibaca lebih besar. Namun apapun bentuknya, jangan membuat iklan buta dan iklan bohong. Iklan buta adalah iklan yang bisa menyesatkan, seperti mencantumkan informasi yang tidak jelas.Iklan bohong adalah iklan yang antara pesan yang diiklankan tidak sesuai dengan realitas. Alih-alih dapat membangun citra, justru akan menjatuhkan citra perusahaan. Publik akan kecewa jika tahu iklan itu tidak benar dengan realitasnya (Kriyantono, 2008: 209).

Sudah lama ada pandangan bahwa PR telah menyuap media, karena media selalu menghadirkan versi peristiwa dari satu sisi dan gambaran realitas yang menyimpang. Praktisi PR kerap dilihat tidak lebih dari sebagai manipulator kebenaran. Namun demikian pandangan kritis PR ini, sepihak dalam asumsi jurnalis selalu mengatakan kebenaran, selalu menginterpretasikan realitas secara benar, dan tidak pernah mendistorsi fakta-fakta untuk kepentingan mereka sendiri (Butterick, 2012:88).

Proses konstruksi realitas adalah upaya “menceritakan” (konseptualisasi) sebuah peristiwa, keadaan orang atau benda tak terkecuali mengenai hal-hal yang berkaitan dengan politik. Bahkan karena sifat dan faktanya bahwa pekerjaan yang berhubungan dengan media massa adalah menceritakan peristiwa-peristiwa, maka seluruh isi media tiada lain adalah realitas yang telah dikonstruksikan (constructed reality) sedemikian rupa susunannya hingga membentuk sebuah cerita atau wacana yang bermakna. Dalam konstruksi realitas, bahasa adalah unsur utama. Ia merupakan instrument pokok untuk menceritakan realitas. Bahasa adalah alat konseptualisasi dan alat narasi. Begitu pentingnya bahasa, maka tak ada berita, cerita, ataupun ilmu

25 pengetahuan tanpa bahasa. Selanjutnya penggunaan bahasa tertentu menentukan format narasi (dan makna) tertentu. Sedangkan jika dicermati secara teliti, seluruh isi media entah media cetak ataupun media elektronik adalah bahasa, baik bahasa verbal (kata-kata tertulis ataupun lisan) maupun bahasa nonverbal (gambar, photo, gerak-gerik, grafik, angka, dan tabel). Lebih dari jauh itu, terutama dalam media massa, keberadaan bahasa ini tidak lagi sebagai alat semata untuk menggambarkan sebuah realitas, melainkan bisa menentukan gambaran (citra) mengenai suatu realias-realitas media yang akan muncul di benak khalayak (Hamad, 2007: 5).

PR dituntut sebagai Jurnalistik bagi sebuah perusahaan maka mereka harus mampu mengemas realitas dalam sebuah struktur tertentu sehingga sebuah isu mempunyai makna tertentu. Hal ini terjadi karena dalam proses pengemasan berlangsung proses memilih fakta atas dasar frame tertentu sehingga ada fakta yang ditonjolkan, disembunyikan, bahkan dihilangkan dari narasi yang akan dibentuk.

E.2.4. Advertorial

Sebuah advertorial ditulis dalam bentuk sebuah editorial opini obyektif dan dapat menyerupai sebuah berita tentang sebuah produk atau jasa. Seperti bentuk advertising lainnya, advertorial ditempatkan sebagaimana iklan berbiaya pada majalah, koran, atau publikasi cetak lainnya, tetapi tidak terang-terangan seperti iklan tradisional. Sebuah advertorial ditulis dengan bentuk yang mirip dengan press release dan seringkali memuat hasil-hasil penelitian, statistik, tren, atau bagian informatif resmi lainnya. Meskipun sebuah advertorial terlihat obyektif, tidak terdapat jejak negativitas karena merupakan

26 advertising berbiaya, membuatnya menjadi non obyektif pada kenyataannya (Elvinaro, 2008: 72-73).

Perusahan maupun organisasi mempunyai kegiatan kehumasan didominasi oleh aktivitas tulis-menulis dibandingkan kegiatan-kegiatan lainnya. Produk penulisan PR salah satunya adalah advertorial. Perusahaan Konsultan PR seperti Golin Harris dan Weber Shandwick menggunakan advertorial sebagai strategi atau channel dalam mengkampanyekan program PR klien mereka. Hutabarat mengklasifikasikan advertorial sebagai bentuk kegiatan Penulisan PR. Ini diikarenakan sifatnya yang membentuk opini terutama membentuk citra yang baik atas tulisan tersebut di mata publik (Anggasta, 2013: 38).

Advertorial merupakan salah satu bentuk kegiatan media relations dalam bentuk tulisan. Menurut Philip lesly (Riyadin, 2009: 31) definisi media relations sebagai hubungan dengan media komunikasi untuk melakukan publisitas atau merespon kepentingan media terhadap kepentingan organisasi. Apa yang diuraikan Lesly ini lebih pada sisi manfaat yang diperoleh perusahaan. Manfaat ini seperti, perusahaan dapat menyampaikan informasi kepada publik mengenai perusahaan melalui media. Berkaitan dengan hal itu James Grunig dan Hunt menyumbang teorinya dalam bidang PR yaitu empat model komunikasi PR salah satunya model Press Agentry.

Grunig memaparkan (Darmastuti, 2010: 17) konsep gagasannya yang diadopsi dari ide Thayer mengenai synchronic dan diachronic communication. Namun dia lebih memakai istilah konsep asymetrical dan symmetrical model. Teori Press Agentry lalu masuk ke dalam konsep symmetrical model. Grunig

27 dan Hunt mengidentifikasi sejarah PR pada awal abad 20 mulai digunakan teori ini. Teori ini merupakan representasi dari model one way approaches. Dimana dengan model ini diseminasi infromasi lebih banyak dengan menggunakan media. Komunikasinya satu arah, tidak perlu dengan cara persuasif. Model Press Agentry bersifat satu arah (one way) dan hanya fokus pada output-bukan pada pencapaian outcomes. Proses komunikasi yang berlangsung dalam model informasi publik adalah satu arah, model ini berkembang sebagai reaksi perusahaan-perusahaan besar dan pemerintah terhadap pemberitaan di media massa mengenai diri mereka. Ini dikarenakan untuk mengcounter berita-berita dimedia massa. Informasi yang disampaikan mengenai organisasi diharapkan dapat diterima oleh publik dan mendapat dukungan sepenuhnya dari publik.

Beredarnya berita negatif di media massa tentunya perlu di manajemen dengan baik. Terlebih jika manajemen isu atau krisis melibatkan media massa sebagai saluran untuk menginformasikan hal-hal yang menyangkut perusahaan. Berangkat dari hal tersebut, PR harus mampu memulihkan atau meningkatkan citra perusahaan yang diwakilinya. Citra adalah kesan dan penggambaran publik yang dimiliki orang banyak mengenai pribadi maupun perusahaan atau organisasi. Untuk itulah PR dalam manajemen isu dan krisis menuntut sebuah manajemen penggambaran. Disinilah teori dramaturgi dapat mewakili fenomena bagaimana pencitraan dikonstruksi.

Menurut Goffman setiap orang berkeinginan untuk menampilkan gambaran dirinya atau konsep dirinya di depan orang lain. Upaya ini disebut manajemen impresi, yaitu individu-individu secara sengaja menggunakan

28 komunikasi untuk menciptakan impresi yang diinginkan dari orang lain terhadapnya. Komunikasi yang digunakan ini menurut Goffman, dibagi dalam dua bagian: bagian yang secara relatif mudah bagi individu untuk mengelola dan memanipulasinya, yaitu komunikasi verbal; dan bagian yang relatif lebih sulit dikontrol, yaitu komunikasi non verbal (Kriyantono, 2012: 222-223).

PR menggunakan strategi periklanan sebagai strategi menciptakan visibilitas korporat. Artinya strategi ini dilakukan guna menyampaikan publikasi informasi yang bertujuan untuk mensinkronisasi perilaku publik terhadap perusahaan. Sehingga perusahaan dapat melakukan apa yang di inginkan tanpa campur tangan publik. Iklan dalam bentuk advertorial merupakan salah satu bentuk komunikasi verbal yang dapat mudah dikonstruski.

Dennis L Wicox (dalam Primadini, 2008: 18) memberikan paparannya mengenai advertorial bahwa sebuah jenis iklan korporat disebut iklan

„advertorial‟ kadang-kadang lebih sering secara halus, hingga sampai pada

tingkat dimana batas antara iklan produk dan iklan korporat menjadi kabur. Jadi tujuan iklan gaya advertorial ingin menghilangkan kesan iklan dan lebih ingin memberikan kesan berita. Hal ini akan berpengaruh berhasilnya penyampaian informasi yang disampaikan perusahaan kepada publiknya bahwa informasi tersebut dapat dipercaya

Hal ini lah yang menjadikan advertorial yang melihatnya tertarik untuk membacanya. Karena advertorial yang disajikan dalam format jurnalistik tentunya teks berperan penting. Selain teks, ilustrasi juga menjadi bagian

29 peranan penting agar teks yang terdapat dalam advertorial dapat lebih menarik untuk dibaca.

Dalam Penelitian Guy J. Golan dalam Jurnal Komunikasi Internasional memaparkan Pemerintah Rusia menggunakan media Advertorial sebagai alat strategis diplomasi publik. Ini dikarenakan pemberitaan skeptis mengenai Rusia dimana segala kebijakannya mengundang kontroversial dunia Internasional. Apalagi media Amerika Serikat gencar memberitakan dengan pandangan negatif mengenai Rusia. Tentu saja hal ini mempengaruhi kredibilitas Negara rusia yang dicitrakan buruk oleh hampir sebagian Negara barat. Tak mau hal tersebut bergulir terus menerus maka advertorial dipilih sebagai media kampanye global internasional bagi Rusia dalam media The Washington Post dan The Times of India. Dari hasil penelitian Golan, advertorial berpengaruh terhadap publik Internasional karena sebagian besar publik tidak bisa membedakan publikasi yang murni berita atau publikasi yang berbayar. Sehingga informasi tersebut dapat dipercaya dan terserap dengan baik.

Penelitian Silvana pada tahun 2010 yang mendeskripsikan bagaimana perusahaan kondom menggunakan advertorial sebagai media untuk memberikan sosialisasi seputar kesehatan reproduksi. Dalam penelitiannya media advertorial merupakan media yang ampuh guna memberikan informasi yang positif. Sebab selama ini perusahaan memiliki kendala dalam hal terbatasnya media publikasi karena sifat produk dari perusahaan itu sangatlah sensitif. Selain itu juga dalam mengkampanyekan hal tersebut tentunya perusahaan pun tidak bisa segamblang atau mempublikasikan di semua media.

30 Di penelitian silvana ini menunjukkan bahwa informasi mengenai kampanye yang digalakkan perusahaan seputar kesehatan reproduksi dan penyakit menular melalui advertorial dapat tersampaikan secara efektif. Ini dikarenakan sifat advertorial yang membuat para penulis bisa dengan secara jelas dan detail menginformasikan pesan yang ingin disampakan. Hal ini tentunya tidak bisa dapat dilakukan ketika menggunakan sarana media yang lain. (Silvana, 2010: 102)

Pada penelitian wacana iklan advertorial yang dilakukan Sari tentang keutuhan wacana iklan kosmetika pembersih wajah dilihat dari koherensinya sekaligus hubungan antara bahasa iklan dan gambar yang tertera. Hasil penelitian sari tersebut menunjukkan bahwa alat-alat kohesi yang ditemukan dari iklan-iklan kosmetika itu, seperti ellipsis, refrensi, konjungsi, dan kohesi leksikal yang berupa reitarasi dan kolokasi, berfungsi menghubungkan unsur-unsur bahasa yang kemudian membentuk keutuhan wacana. Penelitian ini juga membuktikan adanya hubungan bahasa dengan gambar yang diwujudkan dengan pengacuan bahasa kepada gambar sehingga keutuhan wacana iklan juga didukung oleh gambar (Sari, 2004: 98).

Iklan advertorial mempunyai ukuran yang luas sebagaimana ukuran iklan display, tetapi teknik penyampaian pesan lebih diarahkan pada bentuk seperti sebuah berita dengan naskah yang panjang (copy heavy). Pada awalnya, iklan ini dibuat sebagai keinginan para pemasang iklan agar pesan yang dibuat tidak terkesan seperti sebuah iklan, namun lebih berkesan sebagai sebuah berita dalam surat kabar atau majalah pada umumnya (Widyatama, 2007: 84-85).

31 Advertorial, sejenis periklanan terselubung, menampilkan sebuah iklan yang muncul sebagai kisah fitur; mengaburkan perbedaan tradisional diantara isi surat kabar dan iklan bayaran (Federal Trade Comission Act dan William Wells, John Burnet, serta Sandra Moriarty yang dikutip oleh Lee dan Johnson, 2004: 260). Hal ini didukung oleh materi editorial dalam publikasi cetak yang membawa kredibilitas tinggi dari para pembacanya karena pembaca jarang melihat tulisan iklan sebagai interupsi dalam kegiatan membaca mereka (tidak seperti iklan pada televisi yang jelas-jelas dilihat sebagai interupsi) sehingga para pengkritik memandang periklanan terselubung sebagai cara khusus dan cerdik untuk mengakali publik (Lee dan Johnson, 2007: 260).

Advertorial termasuk ke dalam iklan yang mengandalkan copy impact yang artinya, dalam iklan advertorial, yang diutamakan adalah teks iklan karena iklan tersebut dibuat dengan gaya editorial (Silviana, 2010: 23). Apabila copy (teks) merupakan pesan utama, ilustrasi yang berupa gambar atau foto sebagai pendukung teks berperan untuk menarik perhatian, menjelaskan suatu konsep, menimbulkan suatu suasana, atau sebagai informasi tambahan mengenai gagasan dalam teks (Sudiana, 1986: 56).

Menurut Martutik dalam jurnal ALUR (2013: 10), advertorial merupakan media yang efektif untuk mempersuasi pembaca dikarenakn beberapa hal, yaitu:

1. Advertorial mensiasati kejenuhan pembaca terhadap iklan-iklan konvensional yang lebih menggurui. Walaupun kalimat yang terdapat pada iklan konvensional tidak banyak namun iklan konvesional lebih memaksa

32 pembacanya dengan gaya persuasif yang sangat massif dan penulisan yang sangat monoton.

2. Disusun dengan prinsip jurnalistik yaitu 5W+1H, maka advertorial yang bagus kerap membuat pembaca sulit membedakan dengan berita pada umumnya. Meski sudah ada embel-embel advertorial diatas artikel namun pembaca menganggapnya sebagai berita dan peluang untuk dibaca lebih besar. Ini lah yang membuat advertorial efektif sebagai pilihan dalam strategi corporate image.

3. Advertorial mampu memberikan penjelasan yang sedetail mungkin dikarenakan space yang disediakan oleh pihak media begitu besar. Namun besaran space tersebut tergantung kemampuan para pengiklan, space yang paling besar adalah 1 halaman. Semakin space yang dibeli oleh pihak pengiklan itu besar maka pengiklan dapat menyampaikan informasi secara lengkap dan dapat mendesain tata layout yang semenarik mungkin. Karena dengan advertorial yang didesain dengan baik maka pembaca tertarik untuk membacanya apalagi ketika ditunjang dengan penulisan yang bagus layaknya seperti berita.

Namun dalam suatu pilihan tentunya tidak ada yang sempurna begitu pun dengan advertorial. Seperti yang dipaparkan Rayana (2014: 9), Advertorial juga tidak sepenuhnya dipilih, beberapa kalangan PR sebagai strategi kampanye dan propaganda perusahaan atau organisasi. Hal ini dikarenakan mahalnya biaya advertorial yang harus dikeluarkan pengiklan guna membeli space yang disediakan oleh pihak media. Walaupun pihak media memberikan pilihan harga yang murah dengan besaran space paling kecil 3 kolom, namun

33 hal tersebut dirasa kurang efektif dalam hal penyampaian pesan yang ditujukan kepada publik. Jika seperti itu ketimbang membayar, beberapa kalangan PR lebih memilih mengirim Press Release yang besaran spacenya sama dengan harga advertorial yang paling terjangkau jika ditampilkan dimedia tersebut.

Berkaitan dengan manajemen reputasi, PR dituntut untuk memilih strategi yang tepat guna tercapainya image yang postif bagi organisasi maupun perusahaan. Apalagi manajemen reputasi tersebut berkaitan dengan permasalahan yang dihadapi perusahaan. Tentunya hal ini diperlukan adanya kerja sama dengan media atau dalam bahasa PR didebut dengan Media Relations. Keterlibatan media sebagai partner perusahaan atau organisasi merupakan strategi efektif memberikan informasi yang positif atau meluruskan informasi yang salah yang sudah tersebar di masyarakat. Media memegang peranan penting dalam tatanan kehidupan bermasyarakat, lewat media masyarakat tahu informasi yang terjadi tidak hanya itu media juga merupakan sarana hiburan bagi masyarakat. Dari peranannya yang luas itu maka media memiliki khalayak publik yang sangat luas. Jadi tak heran perusahaan ataupun organisasi menggandeng media dalam kegiatannya dikarenkan hampir sebagian besar publik media juga bagian dari publik perusahaan (Hardjana: 2008:8).

Dalam hal manajemen reputasi, kegiatan media relations yang bisa dipilih oleh kalangan PR yaitu Konferensi Pers (press conference), Press Tour, Press Release, Special event, Wawancara pers (Soemirat, 2007: 128-129).

Memanfaatkan peran media massa dalam hal publisitas dan reputasi erat kaitannya dengan kegiatan PR dalam hal media relations. Seperti yang sudah dijelaskan dalam paragraf diatas salah satunya adalah kegiatan konferensi pers.

34 Konferensi pers merupakan cara yang bisa dipilih bagi sebuah perusahaan/instansi/organisasi dalam menyampaikan informasi kepada eksternal publik karena berita atau informasi tersebut dapat segera disampaikan oleh pers kepada masyarakat luas dengan media elektronik maupun media cetak secara aktual dan faktual. Tujuan diadakannya konferensi pers adalah sebagai saluran komunikasi perusahaan dengan media yang diharapkan dapat menyampaikan informasi penting perusahaan kepada khalayak serta meningkatkan publisitas positif perusahaan jika terjadi berita buruk mengenai pencitaraan buruk perusahaan (Soemirat, 2007: 135).

Peran media atau pers menjadi penting sebagai penyambung lidah dalam menyampaikan berita tentang aktivitas perusahaan agar mendapat pengakuan dari publik. Salah satu cara yang dilakukan PR agar wartawan atau media mampu memberitakan perusahaannya secara menyeluruh dan seimbang yaitu dengan menyelenggarakan acara press tour. Press tour juga merupakan bagian dari kegiatan media relations. Pada kegiatan ini pers diajak oleh perusahaan mengunjungi tempat wisata tertentu. Menurut Rosady Ruslan (2005: 41), sejumlah wartawan dikenal baik diajak wisata kunjungan event khusus, atau peninjauan keluar kota bersama penjabat atau pimpinan perusahaan sebagai undangan (tuan rumah) selama lebih dari satu hari, untuk meliput secara langsung mengenai kegiatan tertentu.

Ada kalanya suatu saat, muncul kebutuhan untuk harus memberitahu kepada publik tentang perkembangaan terbaru atau kejadian yang ada yang berkaitan dengan lembaga atau tempat kita bekerja ataupun ada sesuatu yang baru yang harus diperkenalkan kepada publik, bisa mungkin kemunculan

35 produk baru, peraturan yang baru di buat, ataupun ada anggota atau komponen lembaga baru yang memang harus diperkenalkan. Dalam hal ini, Press Release sangat membantu dalam penyebaran berita-berita tersebut. Press release adalah segala bentuk informasi yang hendak disebarkan kepada pers biasanya media cetak (Kasali, 2008: 170). Siaran pers biasanya hanya berupa lembaran siaran berita yang dibagikan kepada wartawan atau media massa, baik melalui kurir maupun lewat faksimili kekantor media yang dituju.

Event merupakan salah satu ruang lingkup kerja public relations. Dari kegiatan event itu mampu meningkatkan pengetahuan, kesadaran, upaya pemenuhan selera, dan menarik simpati atau empati. Pada akhirnya public relations mengadakan special event dikarenakan dapat menciptakan citra (image) positif dari masyarakat atau public sebagai target sasarannya. Special event adalah suatu kegiatan kerja sama antara kegiatan PR sesuatu institusi dengan kalangan jurnalistik. Tujuan dari kerja sama ini adalah dalam rangka membangun image positif suatu institusi di mata publik. Event yang dilakukan dapat berupa kegiatan apresiasi, olahraga, media gathering, dan lain sebagainya.

Wawancara adalah kegiatan sehari-hari jurnalis. Biasanya wawancara pers datang dari insiatif media massa. Wawancara pers bisa terjadi karena ketidakpuasan wartawan terhadap isi pidato atau makalah yang dibaca seorang tokoh atau pejabat tinggi, namun juga bisa memunculkan pertanyaan-pertanyaan baru berdasarkan isu yang sedang beredar seputar institusi. Untuk itu Public Relations harus memanfaatkan kesempatan wawancara dengan sebaik-baiknya. Menurut Soleh Soemirat (Soemirat, 2007:129) wawancara

36 yang baik sebaiknya direncanakan agar kedua belah pihak siap untuk diwawancarai dan mewawancarai. Dengan wawancara yang dipersiapkan dan terkonsep maka wawancara yang dihasilkan juga keluarannya bagus yang tentunya ini akan berdampak positif pada institusi tersebut. Wawancara pers lebih bersifat pribadi dan individual. Public Relations atau top manajemen yang diwawancara hanya berhadapan dengan wartawan yang bersangkutan.

Beberapa kegiatan media relations diatas dapat dipilih PR sebagai strategi untuk menangani krisis. Kegiatan-kegiatan tersebut tentunya menguntungkan pihak institusi. Namun terkadang kerja sama yang diharapkan dengan pihak media tidaklah selalu sesuai dengan yang diharapkan. Contohnya saja kegiatan seperti konfrensi pers, dan wawancara pers. Kegiatan tersebut perlu memiliki kedekatan yang sangat erat dengan pihak media jika feedback yang di inginkan adalah pemberitaan positif. Apalagi jika informasi yang disampaikan kepada pihak media tersebut mengenai krisis yang dialami perusahaan. Alih-alih sudah melakukan konfrensi pers dan wawancara namun feedback yang diharapkan berlawanan dengan maksud dari tujuan kegiatan tersebut dilakukan. Seperti yang dikemukakan Riyadin (2008: 6), umumnya wartawan lebih tertarik dan mengangkat berita negatifnya ketimbang melihat sisi positif dalam suatu pemberitaan. Sebab mereka menganggap pemberitaan negatif lebih menjual sehingga mengangkatnya menjadi wacana dalam pemberitaan mereka.

Sementara itu mengirimkan press release dan dipublikasikan ke pihak media bukanlah perkara yang mudah. Sebab media massa sudah berorientasi pada komersialisasi artinya pihak media tidak semudah itu memberikan spacenya secara gratis. Belum lagi persaingan dari perusahaan-perusahaan lain

37 yang juga mengirimkan press release sehingga peluang release institusi yang kita wakilkan dipublikasikan secara gratis sangatlah kecil.

Lalu kegiatan seperti press tour dan special event biasanya hanya dilakukan pada saat perusahaan tidak berada dalam keadaan yang genting. Kegiatan ini hanya dilakukan untuk mendekatkan hubungan antara perusahaan atau organisasi dengan pihak media. Maka dari itu dua kegiatan tersebut tidak dipilih sebagai strategi dalam menangani krisis.

Dilihat dari sejarahnya advertorial merupakan bentuk servis pengelola media kepada para stakeholder, terutama kepada perusahaan-perusahaan yang menjadi mitra usaha. Namun seiring dengan berjalannya waktu advertorial sudah merupakan bagian dari keleluasaan pemilik media memberikan space medianya untuk komersialisme. Hal ini dikarenakan tuntutan agar perekonomian media tersebut dapat berlangsung terus menerus apalagi ketatnya persaingan dengan media elektronik yang memaksa media cetak untuk lebih terbuka. Ini juga sejalan dengan kepentingan perusahaan dimana kebutuhan akan publisitas kian tinggi. Kebutuhan publisitas awalnya masih berfokus pada bagaimana produk suatu perusahaan dapat dikenal dan laku dalam pemasaran. Namun perusahaan menyadari bahwa keberlangsungan hidup sebuah perusahaan tidak hanya dapat dinilai dari lakunya produk mereka. Namun nama baik atau citra perusahaan perlu juga diperhatikan agar citra baik tersebut dapat menopang jasa atau penjualan produk yang ditawarkan dari perusahaan (Chaerani, 2012: 14).

Advertorial yang berkembang saat ini tidak hanya menjelaskan informasi tentang produk itu sendiri. tetapi produk atau perusahaan tersebut lebih

38 menekankan pada aspek informasi yang sifatnya merujuk pada strategi PR. Yaitu dengan mendorong minat beli serta kepuasan konsumen, melalui penyampaian informasi dan kesan yang meyakinkan. Dalam usaha memperlihatkan bahwa perusahaan dan produk-produknya sesuai dengan kebutuhan, keinginan, kepentingan dan minat publik. Kemudian berdampak terhadap keputusan pembelian atau penilaian positif terhadap perusahaan. Seperti kampanye perduli kesehatan, pendidikan, lingkungan, bahkan prestasi

Dokumen terkait