Gambar 4.8 Penyebaran Tingkat Kesukaran dan Daya Pembeda Draf Soal
2. Uji Coba Lapangan 1
Uji coba lapangan 1 dilakukan pada tanggal 05 Mei 2016. Subjek dalam uji coba lapangan ini adalah siswa SMAN Cilimus kelas XI IPA 1 yang berjumlah 36 siswa dan kelas XI IPA 3 yang berjumlah 38 siswa.
Uji coba yang dilakukan terdiri atas 50 soal yang terbagi ke dalam dua paket soal yaitu draf soal A terdiri atas 25 soal dan draf soal B terdiri atas 25 soal. Draf soal pada uji coba lapangan 1 ini merupakan soal yang dipergunakan pada uji coba terbatas sebelumnya dengan kategori valid. Berikut ini komposisi soal uji coba lapangan 1 pada draf soal A ditinjau dari segi materi dan jenjang kognitif :
Tabel 4.21 Komposisi Soal Ditinjau dari Segi Materi Draf Soal A Uji Coba Lapangan 1
No Label Konsep Jumlah
Soal
% Jumlah Soal
1 Struktur, dan Fungsi Reproduksi pada Manusia 3 12%
2 Pembentukan Sel Gamet Jantan dan Sel Gamet Betina 6 24%
3 Ovulasi dan Faktor yang Mempengaruhinya 3 12%
4
Menstruasi pada Wanita dan Faktor – faktor yang
Mempengaruhinya 3 12%
5 Alat-Alat Kontrasepsi Pada Pria Dan Wanita 2 8%
6 Fertilisasi, Kehamilan dan Persalinan 3 12%
7 ASI dan kesehatan reproduksi 2 8%
8 Kelainan/Penyakit pada Sistem Reproduksi Manusia 3 12%
Jumlah 25 100%
Berdasarkan tabel di atas, draf soal A memiliki 8 label konsep yang dijadikan dalam pembuatan soal dengan materi paling banyak tentang proses pembentukam sel gamet yang jumlah persentasenya 28%. Sedangkan materi paling sedikit yaitu tentang alat kontrasepsi, ASI, dan kelainan sistem reproduksi dengan prosentase 8%. Dalam uji coba lapangan 1 ini terdapat pengurangan soal dari 50 soal pada uji coba terbatas menjadi 25 soal. Meskipun jumlah soal berkurang, namun jumlah label konsep tetap tidak mengalami perubahan.. Adapun dari segi jenjang kognitif, soal yang dibuat terdiri atas C1, C2, C3, C4, C5, dan C6. Berikut ini tabel yang menjelaskan tentang komposisi soal berdasarkan jenjang kognitif :
Tabel 4.22 Komposisi Soal Ditinjau dari Segi Jenjang Kognitif Draf Soal A Uji Coba Lapangan 1
No Label Konsep Jumlah Jenjang % Jumlah Jenjang
C1 C2 C3 C4 C5 C6 C1 C2 C3 C4 C5 C6 1 Struktur, dan Fungsi
Reproduksi pada Manusia 0 0 1 1 1 0 0% 0% 4% 4% 4% 0%
3 Ovulasi dan Faktor yang
Mempengaruhinya 0 1 1 0 1 0 0% 4% 4% 0% 4% 0%
4
Menstruasi pada Wanita dan Faktor – faktor yang Mempengaruhinya
1 0 0 0 1 1 4% 0% 0% 0% 4% 4%
5 Alat-Alat Kontrasepsi
Pada Pria Dan Wanita 0 2 0 0 0 0 0% 8% 0% 0% 0% 0%
6 Fertilisasi, Kehamilan dan
Persalinan 0 0 1 1 1 0 0% 0% 4% 4% 4% 0% dan C5 berjumlah 3 soal dengan presentase 12%. Draf soal B terdiri atas 25 soal.
Soal draf B dikembangkan kembali dari hasil uji coba terbatas yang awalnya
berjumlah 50 soal. Berikut ini komposisi soal uji coba lapangan 1 pada draf soal B ditinjau dari segi materi dan jenjang kognitif :
Tabel 4.23 Komposisi Soal Ditinjau dari Segi Materi Draf Soal B Uji Coba Lapangan 1
No Label Konsep Jumlah % Jumlah
Soal Soal 1 Struktur, dan Fungsi Reproduksi pada Manusia 4 16%
2 Pembentukan Sel Gamet Jantan dan Sel Gamet Betina 7 28%
3 Ovulasi dan Faktor yang Mempengaruhinya 3 12%
4
Menstruasi pada Wanita dan Faktor – faktor yang
Mempengaruhinya 3 12%
5 Alat-Alat Kontrasepsi Pada Pria Dan Wanita 1 4%
6 Fertilisasi, Kehamilan dan Persalinan 3 12%
7 ASI dan kesehatan reproduksi 1 4%
8 Kelainan/Penyakit pada Sistem Reproduksi Manusia 3 12%
Jumlah 25 100%
Berdasarkan tabel di atas, draf soal B memiliki jumlah label konsep sebanyak 8 label konsep dengan presentase tertinggi dimiliki oleh materi pembentukan sel gamet jantan dan sel gamet betina sebanyak 24 % dengan jumlah soal sebanyak 6 soal. Sedangkan materi soal yang paling sedikit yaitu tentang alat kontrasepsi, ASI, dan kelainan sistemm reproduksi dengan presentase 8% dengan masing – masing jumlah soal sebanyak 2 soal. Berdasarkan jenjang kognitif, soal yang dibuat terdiri atas C1, C2, C3, C4, C5, dan C6. Berikut ini tabel yang menjelaskan tentang komposisi soal berdasarkan jenjang kognitif :
Tabel 4.24 Komposisi Soal Ditinjau dari Segi Jenjang Kognitif Draf Soal B Uji Coba Lapangan 1
No Label Konsep Jumlah Jenjang % Jumlah Jenjang
C1 C2 C3 C4 C5 C6 C1 C2 C3 C4 C5 C6 1 Struktur, dan Fungsi
Reproduksi pada Manusia 0 2 2 0 0 1 0% 8% 8% 0% 0% 0%
3 Ovulasi dan Faktor yang
Mempengaruhinya 1 1 0 0 0 1 4% 4% 0% 0% 0% 4%
4
Menstruasi pada Wanita dan Faktor – faktor yang Mempengaruhinya
0 0 1 1 1 0 0% 0% 4% 4% 4% 0%
5 Alat-Alat Kontrasepsi
Pada Pria Dan Wanita 0 0 0 1 0 0 0% 0% 0% 4% 0% 0%
6 Fertilisasi, Kehamilan dan
Persalinan 0 0 0 1 2 0 0% 0% 0% 4% 8% 0%
7 ASI dan kesehatan
reproduksi 0 0 1 0 0 0 0% 0% 4% 0% 0% 0%
8 Kelainan/Penyakit pada
Sistem Reproduksi 0 1 0 1 1 0 0% 4% 0% 4% 4% 0%
Manusia
Jumlah 2 4 7 6 4 2 8% 16% 28% 24% 16% 8%
Berdasarkan tabel di atas, draf soal A memiliki 8 label konsep yang dikelompokkan ke dalam beberapa jenjang kognitif dari C1 – C6. Draf soal A memiliki jumlah jenjang C3 dan C4 paling banyak dibandingkan dengan jumlah jenjang C yang lainnya yaitu sebanyak 28% dan 24% dengan jumlah masing – masing 7 dan 6 soal. Sedangkan jumlah jenjang yang lainnya hampir seimbang ialah C1 - C6 sebanyak 12% dengan jumlah masing – masing 2 soal. Untuk C2 – C5 berjumlah 4 soal dengan presentase 16%.
Apabila draf soal A dan soal B digabungkan, berdasarkan jumlah materi soal dapat dilihat komposisi soal uji coba lapangan 1 melalui diagram dibawah ini:
Gambar 4.15 Komposisi Soal Berdasarkan Materi Soal Uji Coba Lapangan 1
Berdasarkan diagram di atas, soal yang bermaterikan pembentukan sel gamet jantan dan sel gamet betina memiliki presentase paling banyak pada draf soal A dan draf soal B dengan presentase 24% dan 28% dibandingkan. Sedangkan materi tentang alat kontrasepsi , dan kelainan sistem reproduksi memiliki presentase yang paling rendah pada draf soal A dan B yaitu 8% dan 4%.
Draf soal A dan draf soal B keduanya memiliki jumlah label konsep sebanyak 8 label konsep dengan presentase keduanya berbeda. Untuk materi struktur dan fungsi organ reproduksi, proses ovulasi, proses mentruasi, alat kontrasepsi, ASI, kelainan sistem reproduksi memiliki jumlah soal yang sama antara kedua draf soal tersebut. Sedangkan untuk jumlah soal pembentukan sel gamet jantan dan sel gamet betina memiliki jumlah soal yang tidak sama antara kedua draf soal tersebut. Namun memiliki jumlah persentase paling banyak diantara kedua draf soal.
Adapun draf soal A dan soal B berdasarkan jenjang kognitif dapat dilihat komposisi soal uji coba lapangan 1 melalui diagram dibawah ini :
Gambar 4.16 Komposisi Soal Berdasarkan Jenjang Kognitif Uji Coba Lapangan 1
Berdasarkan diagram batang di atas, soal dengan jenjang kognitif C1 – C6 memiliki jumlah yang seimbang dengan tujuan agar soal yang dikembangkan dapat lebih mudah dalam mendeteksi miskonsepsi ditinjau dari segi jumlah jenjang dan jumlah materi yang disajikan. Soal dengan jenjang C3 – C4 memiliki presentase yang lebih tinggi dibandingkan jenjang yang lainnya, sedangkan jenjang C1 dan C6 memiliki presentase yang sangat rendah. Jenjang C3 dan C4 dipilih paling banyak dikarenakan penulis ingin mendeteksi miskonsepsi siswa dengan jenjang kognitif seimbang.
Soal yang telah dibuat kemudian diujicobakan dalam lingkup uji coba lapangan 1. Hasil uji coba lapangan 1 ini, dianalisis secara manual dengan menggunakan softwere Anates dan microsoft excel untuk mengetahui karakteristik tiap butir soal meliputi validitas, reliabilitas, daya pembeda, tingkat kesukaran, keberfungsian pengecoh, faktor tebakan, bias tes, dan ketidakwajaran skor.
a. Validitas
Hasil angka korelasi dari 25 soal draf A yang telah diujicobakan pada 37 subjek menghasilkan koefesien korelasi sebesar 0,41. Angka tersebut menunjukkan bahwa korelasi sedang. Hal ini sejalan dengan Arikunto (2012:
85) yang menyatakan bahwa apabila koefesien korelasi berada pada rentang 0,30 – 0,50 menunjukkan validitas rendah. Dengan demikian, tes layak untuk diujicobakan pada tahap selanjutnya. Begitupun dengan hasil angka korelasi dari 25 soal draf B yang telah diujicobakan pada 37 subjek menghasilkan koefesien korelasi sebesar 0,40. Angka tersebut menunjukkan bahwa korelasi sedang juga. Dengan demikian, tes layak untuk dilanjutkan pada tahap uji coba
selanjutnya. Persamaan validitas dari draf soal A dengan draf soal B dapat dilukiskan melalui diagram berikut ini :
Gambar 4.17 Validitas pada Uji Coba Lapangan 1
Berdasarkan diagram di atas, validitas pada draf soal A memiliki nilai yang hampir sama dengan validitas pada draf soal B. Hal ini menunjukkan draf soal A dan draf soal B memiliki validitas dengan kategori rendah.
b. Reliabilitas
Reliabilitas bertujuan untuk mengetahui tingkat ketepatan dan keajegan skor tes. Hal ini sejalan dengan Purwanto (2009 : 139) menyatakan bahwa, suatu tes atau alat evaluasi dikatakan andal atau reliability jika ia dapat dipercaya, konsisten atau stabil dan produktif.
Berdasarkan hasil tes dari draf soal A yang berjumlah 25 soal menghasilkan reliabilitas sebesar 0,33. Adapun hasil tes draf soal B yang berjumlah 25 soal menghasilkan reliabilitas sebesar 0,72. Angka tersebut menunjukkan bahwa tes yang dilakukan memiliki reliabilitas yang sedang.
Dengan demikian, tes layak untuk dilanjutkan pada tahap uji coba selanjutnya.
Gambar 4.18 Reliabilitas pada Uji Coba Lapangan 1
Berdasarkan diagram di atas, reliabilitas pada draf soal A memiliki nilai yang sedikit rendah dibandingkan reliabilitas pada draf soal B. Namun, hal ini, menunjukkan draf soal A memiliki reliabilitas dengan kategori sedang dAn draf
soal B memiliki reliabilitas tinggi. Dengan demikian, kedua draf soal tersebut layak untuk diujicobakan pada tahap berikutnya.
c. Tingkat Kesukaran
Hasil tes draf soal A yang terdiri dari 25 soal yang telah dianalisis dengan menggunakan softwere Anates dapat diketahui tingkat kesukaran pada draf soal A pada tabel dibawah ini :
Tabel 4.25 Rekapitulasi Analisis Tingkat Kesukaran Draf Soal A Uji Coba Lapangan 1
Analisis Tingkat Kesukaran
Kategori Jumlah Keterangan /Nomor soal Mudah 3 1,16,19
Sedang 16 2,3,5,7,9,11,12,13,14,17,18,19,20,23,24,25
Sukar 6 4,6,10,15,21,22
Jika digambarkan dengan diagram pie yaitu sebagai berikut :
Gambar 4.19 Indeks Kesukaran Draf Soal A pada Uji Coba Lapangan 1
Dilihat dari gambar 4.18 menunjukkan bahwa soal lebih banyak menunjukkan bahwa berkategori sedang dengan persentase 64%, selanjutnya berkategori sukar dengan persentase 24%, dan yang berkategori mudah dengan persentase 12% . Hal ini menunjukkan keberagaman produk soal jadi ini terbilang baik, karena jenisnya yang beragam. Tingginya nilai tingkat kesukaran dengan kategori sedang ini dikarenakan kelompok atas dan kelompok bawah mampu menjawabnya dengan benar.
Di bawah ini adalah beberapa contoh soal yang dikategorikan mudah, sedang, dan sukar. Soal yang dikategorikan mudah terdapat pada nomor 3 dengan indeks kesukaran sebesar 0,72. Hal ini terjadi karena dari 37 siswa
yang menjawab soal dengan benar sebanyak 28 siswa sedangkan yang menjawab salah sebanyak 9 siswa. Berikut ini soal nomor 1 :
Alat kelamin pria bagian dalam yaitu testis berfungsi dalam pembentukan sperma. Letak testis menggantung dan terbungkus kantung yang disebut skrotum. Untuk produksi sperma yang lebih baik.
Mengapa testis terbungkus skrotum …
A. Adanya skrotum dapat mempengaruhi luas letak testis B. Adanya skrotum membuat testis terlindungi
C. Adanya skrotum membuat aliran darah ke testis lebih lancer D. Testis membutuhkan temperature khusus dalam membentuk sperma E. Testis membutuhkan suhu yang hangat untuk pembentukan sperma Alasan :
1. Skrotum dapat mengatur suhu testis menjadi lebih hangat dengan menurunkan posisi testis
2. Skrotum dapat mengatur suhu testis dengan mensuplai darah yang mengalir ke testis lebih banyak
3. Skrotum dapat mengatur pembentukan sperma dengan memperluas bidang skrotum terhadap testis
4. Skrotum dapat mengatur suhu testisdengan memperbesar bentuk ketika suhu tidak sesuai 5. Skrotum dapat mengatur suhu testis dengan mengkerut ketika dingin dan mengendur
ketika panas untuk menstabilkan suhu
Soal yang dikategorikan sedang terdapat pada nomor 3 dengan indeks kesukaran sebesar 0,51. Hal ini terjadi karena dari 39 siswa yang menjawab soal dengan benar sebanyak 19 siswa dan yang menjawab soal dengan salah sebanyak 18 siswa. Berikut ini soal nomor 3:
Perhatikan gambar berikut !
Berdasarkan gambar diatas, perbedaan proses yang terjadi pada bagian yang ditunjuk oleh nomor 1 dan 3 adalah . . .
A. Fertilisasi dan Oogenesis B. Oogenesis dan Menstruasi C. Ovulasi dan Oogenesis D. Implantasi dan Fertilisasi E. Ovulasi dan Fertilisasi Alasan :
1. Karena no1 adalah oviduk tempat terjadi oogenesis, sedangkan no3 adalah uterus tempat terjadi menstruasi
2. Karena no1 adalah tuba fallopi tempat terjadi fertilisasi, sedangkan no3 adalah ovarium tempat terjadi oogenesis
3. Karena no1 adalah uterus tempat terjadi fertilisasi, sedangkan no3 adalah ovarium tempat terjadi oogenesis
4. Karena no1 adalah tuba fallopi tempat terjadi implantasi, sedangkan no3 adalah uterus tempat terjadi fertilisasi
5. Karena no1 adalah uterus tempat terjadi fertilisasi, sedangkan no3 adalah tuba fallovi tempat terjadi fertilisasi
Soal yang dikategorikan sukar terdapat pada nomor 21 dengan indeks kesukaran sebesar 0,27. Hal ini terjadi karena dari 39 siswa yang menjawab soal dengan benar sebanyak 10 siswa dan menjawab soal dengan salah sebanyak 27 siswa. Berikut ini soal nomor 21 :
Di bawah ini, adalah hormon-hormon yang berperan dalam sistem reproduksi.
1) Prolaktin 4) FSH 2) LH 5) Estrogen 3) Glandula mamae
Berdasarkan macam hormone di atas, hormone yang mengendalikan produksi ASI adalah…
A. 1 dan 2 B. 1 dan 3 C. 1 dan 4 D. 2 dan 3 E. 2 dan 5 Alasan :
1. FSH merupakan hormon yang merangsang kelenjar susu sedangkan LH merupakan hormon yang berperan dalam produksi ASI
2. LH merupakan hormon yang merangsang kelenjar susu sedangkan estrogen merupakan hormon yang berperan dalam produksi ASI
3. Glandula mamae merupakan kelenjar pada mamalia untuk menghasilkan susu sedangkan prolaktin merupakan hormon yang berperan dalam produksi ASI
4. Prolaktin merupakan hormon yang merangsang kelenjar susu sedangkan LH merupakan hormon yang berperan dalam produksi ASI
5. LH merupakan hormon yang merangsang kelenjar susu sedangkan Glandula mamae merupakan hormon yang berperan dalam produksi ASI
Darf soal B terdiri dari 25 soal dianalisis dengan menggunakan softwere Anates. Dengan demikian, tingkat kesukaran pada draf soal B setelah direkapitulasi dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
Tabel 4.26 Rekapitulasi Analisis Tingkat Kesukaran Draf Soal B Uji Coba Lapangan 1
Analisis Tingkat Kesukaran
Kategori Jumlah Keterangan /Nomor soal Mudah 2 1, 10
Sedang 19 1,4,5,10,11,12,13,16,17,18,19,20,21,22,23,24,25
Sukar 4 2,3,24,25
Jika digambarkan dengan diagram pie yaitu sebagai berikut :
Gambar 4.20 Indeks Kesukaran Draf Soal B pada Uji Coba Lapangan 1
Dilihat dari gambar 4.19 menunjukkan bahwa soal lebih banyak menunjukkan bahwa berkategori sedang dengan persentase 76%, selanjutnya berkategori sukar dengan persentase 16%, dan yang berkategori mudah dengan persentase 8% . Hal ini menunjukkan keberagaman produk soal jadi ini terbilang baik, karena jenisnya yang beragam. Tingginya nilai tingkat kesukaran dengan kategori sedang ini dikarenakan kelompok atas dan kelompok bawah mampu menjawabnya dengan benar.
Di bawah ini adalah beberapa contoh soal yang dikategorikan mudah, sedang, dan sukar. Soal yang dikategorikan mudah terdapat pada nomor 1 dengan indeks kesukaran sebesar 0,89. Hal ini terjadi karena dari 20 siswa yang menjawab soal dengan benar sebanyak 33 siswa sedangkan yang menjawab salah sebanyak 4 siswa. Berikut ini soal nomor 1 :
Berikut ini pernyataan mengenai uterus :
1) Organ tebal & berotot 4) Dikenal denganrahim 2) Bersifat fleksibel 5) Tempat singgah sperma 3) Tempat pembentukan
Ovum
Berdasarkan pernyataan di atas yang termasuk ciri dari uterus adalah ...
A. 1,4 dan 5 B. 1,2 dan 4 C. 2,3 dan 4 D. 2,4 dan 5 E. 1,3 dan 5 Alasan :
1. Uterus atau rahim merupakan organ tebal dan berotot serta tempat pembentukan ovum sehingga dapat menjadi tempat perkembangan dan pertumbuhan embrio hingga bayi 2. Uterus atau rahim merupakan organ tebal dan berotot dan bersifat fleksibel sehingga
dapat menjadi tempat perkembangan dan pertumbuhan embrio hingga bayi
3. Uterus dan rahim merupakan tempat persinggahan sperma untuk melakukan proses fertilisasi / membuahi sel telur (ovum) dan berkembang menjadi bayi
4. Uterus dan rahim merupakan organ tipis dan dan bersifat fleksibel sehingga dapat menjadi tempat singgah sperma
5. Uterus dan rahim merupakan organ tebal dan berotot dan bersifat fleksibel sehingga dapat menjadi tempat singgah sperma
Soal yang dikategorikan sedang terdapat pada nomor 9 dengan indeks kesukaran sebesar 0,64. Hal ini terjadi karena dari 20 siswa yang menjawab soal dengan benar sebanyak 24 siswa dan yang menjawab soal dengan salah sebanyak 13 siswa. Berikut ini soal nomor 9 :
Beikut ini merupakan proses yang terjadi pada organ reproduksi manusia. Pernyataan yang tepat adalah …
Testis Ovarium epididimis Oviduk
A Oogenesis Fertilisasi spermatogenesis Pematangan sperma B Pematangan sperma Fertilisasi spermatogenesis Oogenesis C spermatogenesis Fertilisasi Pematangan sperma Oogenesis D spermatogenesis Oogenesis Pematangan sperma Fertilisasi E Pematangan sperma Oogenesis spermatogenesis Fertilisasi Alasan :
1. Spermatogenesis terjadi di testis, oogenesis di ovarium, pematangan sperma di epididimis, fertilisasi di oviduk
2. Oogenesis terjadi di testis, fertilisasi di ovarium, spermatogenesis di epididimis, pematangan sperma di oviduk
3. Spermatogenesis terjadi di testis, fertilisasi di ovarium, pematangan sperma di epididimis, oogenesis di oviduk
4. Spermatogenesis terjadi di testis, oognesis di ovarium, spermatogenesis di epididimis, fertilisasi di oviduk
5. Pematangan sperma terjadi di testis, oogenesis di ovarium, spermatogenesis di epididimis, fertilisasi di oviduk
Soal yang dikategorikan sukar terdapat pada nomor 25 dengan indeks kesukaran sebesar 0,22. Hal ini terjadi karena dari 8 siswa yang menjawab soal dengan benar sebanyak 8 siswa dan yang menjawab soal dengan salah sebanyak 29 siswa. Berikut ini soal nomor 25 :
Menurutmu bagaimana jika seseorang pria yang memiliki penyakit menular seksual berhubungan dengan wanita yang sehat tapi menggunakan kondom? Apakah wanita itu terkena PMS?
A. Wanita itu tidak akan tertular karena sudah di lindugi oleh kondo B. Wanita tersebut bisa saja tertular karena kondom itu bisa bocor
C. Wanita tersebut pasti tertular karena kondom tidak melindungi dari virus
D. Wanita tersebut tidak akan tertular karena kondom dilengkapi dengan zat anti septic yang berguna membunuh virus-virus
E. Wanita tersebut pasti tertular karena juga akan menyusup kedalam kondom Alasan :
1. Penyakit menular seksual itu di akibatkan oleh kurangnya menjaga kebersihan 2. Penyakit menular seksual itu di akibatkan oleh jamur
3. Penyakit menular seksual itu di akibatkan oleh bakteri
4. Penyakit menular seksual salah satunya di akibatkan oleh hubungan seksual yang tidak aman
5. Penyakit menular seksual itu di akibatkan oleh kutu
d. Daya Pembeda
Daya pembeda soal tes adalah kemampuan soal untuk membedakan antara siswa yang berkemampuan tinggi dengan siswa yang berkemampuan rendah. Angka yang menunjukkan besarnya daya pembeda disebut indeks
diskriminasi atau disingkat D (Akbar, 2013: 104). Berdasarkan hasil tes yang dilakukan terhadap 37 siswa, diperoleh daya pembeda dengan kategori jelek, cukup dan baik. Berikut ini rekapitulasi daya pembeda yang terdapat pada draf soal A :
Tabel 4.27 Rekapitulasi Analisis Daya Pembeda Draf Soal A Tahap Uji Coba Lapangan 1
Analisis Daya Pembeda
Kategori Jumlah Keterangan /Nomor soal Jelek 13 1,3,4,5,9,12,16,19,20,22,23,24,24
Cukup 1 21
Baik 4 6,8,10,17
Baik sekali 7 2,7,11,13,14,15
Berdasarkan tabel di atas, daya pembeda yang dihasilkan lebih didominasi oleh kategori jelek, meskipun untuk kategori baik dan baik sekali hasilnya cukup seimbang. Hanya saja untuk kedua kategori tersebut jumlahnya sedikit. Sedangkan untuk kategori cukup memiliki jumlah yang rendah. Untuk lebih jelas, empat kategori tersebut digambarkan dalam diagram pie.
Gambar 4.21 Daya Pembeda Draf Soal A pada Uji Coba Lapangan 1
Berdasarkan digaram pie di atas, kategori daya pembeda yang dihasilkan didominasi oleh kategori jelek dengan presentase 52%. Sedangkan kategori baik dan baik sekali jumlah yang dihasilkan cukup seimbang yaitu untuk kategori baik 16 % dan kategori baik sekali 28% dan untuk kategori cukup paling rendah yaitu 4%. Dengan demikian, daya pembeda yang dihasilkan kurang baik dikarenakan jumlah keempat kategori tidak proposional.
Hubungan antara tingkat kesukaran dengan daya pembeda dapat digambarkan dalam bentuk scatter plot berikut ini :
Gambar 4.22 Penyebaran Tingkat Kesukaran dan Daya Pembeda Draf Soal B pada Uji Coba Lapangan 1
Berdasarkan scatter plot di atas, hubungan antara tingkat kesukaran dengan daya pembeda dikategorikan cukup baik. Hal ini dikarenakan penyebaran tingkat kesukaran dan daya pembeda tidak merata dan hubungan diantara keduanya lebih banyak berada di dalam segitiga dibandingkan di luar segitiga. Indeks tingkat kesukaran antara 0 – 91 dengan kategori, sukar, sedang dan mudah. Sedangkan indeks daya pembeda anatara -0,01 – 0,60 dengan kategori jelek, cukup, baik dan baik sekali.
Berbeda halnya dengan draf soal B. Hasil tes yang dilakukan terhadap 37 siswa, diperoleh daya pembeda dengan kategori jelek, cukup, baik, dan baik sekali. Adapun rekapitulasi daya pembeda yang terdapat pada draf soal B yaitu sebagai berikut :
Tabel 4.28 Rekapitulasi Analisis Daya Pembeda Draf Soal B Tahap Uji Coba Lapangan 1
Analisis Daya Pembeda
Kategori Jumlah Keterangan /Nomor soal
Jelek 5 1,9,10,15,19
Cukup 1 16
Baik 9 8,11,12,16,18,20,21,22,25 Baik sekali 10 3,4,5,6,7,13,14,17,23,24
Berdasarkan tabel di atas, daya pembeda yang dihasilkan lebih didominasi oleh kategori baik sekali, meskipun cukup seimbang dengan kategori baik. kemudian disusul dengan kategori jelek dan cukup. Hal ini menunjukkan bahwa soal yang dibuat memiliki daya pembeda yang tidak
proposional sehingga soal harus direvisi dan beberapa soal dihilangkan. Untuk lebih jelas, keempat kategori tersebut digambarkan dalam diagram pie.
Gambar 4.23 Daya Pembeda Draf Soal B pada Uji Coba Lapangan 1
Berdasarkan digaram pie di atas, kategori daya p embeda yang dihasilkan didominasi oleh kategori baik sekali dengan presentase 40% yang cukup seimbang dengan kategori baik yaitu 36%. Kemudian untuk kategori jelek yaitu 20% dan kategori cukup 4%. Dengan demikian, daya pembeda yang dihasilkan kurang baik dikarenakan jumlah keempat kategori tidak proposional.
Hubungan antara tingkat kesukaran dengan daya pembeda dapat dilukiskan dalam bentuk scatter plot berikut ini:
Gambar 4.24 Penyebaran Tingkat Kesukaran dan Daya Pembeda Draf Soal B pada Uji Coba Lapangan 1
Berdasarkan scatter plot di atas, hubungan antara tingkat kesukaran dengan daya pembeda dikategorikan cukup baik. Hal ini dikarenakan penyebaran tingkat kesukaran dan daya pembeda tidak merata dan hubungan antara keduanya lebih banyak berada di dalam segitiga dibandingkan di luar
segitiga. Indeks tingkat kesukaran antara 0 – 90 dengan kategori, sukar, sedang dan mudah. Sedangkan indeks daya pembeda antara -0,2 – 0,80 dengan kategori jelek, cukup, baik dan baik sekali.
e. Kualita Pengecoh (Distractor)
Kualitas pengecoh berfungsi untuk mengidentifikasi peserta tes yang berkemampuan tinggi dan berkemampuan rendah. Menurut Sudijono (2005:
412) pengecoh berfungsi dengan baik apabila dipilih oleh > 5 % dari peserta tes. Pengecoh belum berfungsi apabila < 5% dari peserta tes. Dalam penelitian ini ada 25 soal dengan 10 pilihan jawaban yang terdiri atas 5 pilihan jawaban tingkat pertama dan 5 pilihan jawaban tingkat kedua. Berikut ini rekapitulasi distractor yang dihasilkan pada draf soal A.
Tabel 4.29 Kualitas Pengecoh Draf Soal A Tingkat Pertama
Tabel 4.29 Kualitas Pengecoh Draf Soal A Tingkat Pertama