COLLUSIVE MONOPSONY MENURUT HUKUM PERSAINGAN USAHA di INDONESIA
3.1 Collusive Monopsony dan Oligopsoni
Praktik collusive monopsony adalah praktik jamak dari monopsoni, yang bertujuan untuk mempengaruhi harga beli suatu barang atau komoditi, atau setidaknya mempengaruhi harga input atas komoditi tersebut53. Sesuai dengan para pihak di dalamnya, yakni pelaku usaha yang bertindak sebagai pembeli atau penerima pasokan atas suatu komoditi, maka perjanjian ini bersifat horisontal. Seperti dalam praktik lainnya yang berhubungan dengan kemungkinan monopoli ataupun monopsoni, maka kekuatan pasar menjadi salah satu faktor yang menjadikan terjadinya praktik ini. Tanpa adanya kekuatan pasar yang dimiliki oleh pelaku usaha, praktik ini tidak akan berjalan efektif.
Sama halnya dengan pure monopsony, praktik ini memiliki tujuan yang sama yakni meningkatkan keuntungan dengan melakukan penekanan atau usaha tertentu atas suplier suatu komoditi. Biasanya, para pihak dalam perjanjian
collusive monopsony akan melakukan pembatasan-pembatasan tertentu terkait hasil yang dihasilkan oleh suplier maupun produsen komoditi tersebut. Melalui pembatasan tersebut, suplier yang telah merasa ketergantungan dengan adanya para pelaku usaha tersebut, tidak memiliki pilihan lain selain untuk mengurangi hasil produksi atau kualitas produk. Pembatasan yang dilakukan oleh para pelaku 53 Lihat Roger D Blair and Jeffrey L Harrison, p.48
usaha bukan untuk meningkatkan nilai jual atas suatu barang yang langka di pasar, melainkan untuk mendapatkan harga yang lebih rendah dari harga barang yang sama atau sejenis di pasar. Namun, tidak menutup kemungkinan adanya niat pelaku usaha untuk selanjutnya menjadi monopolist untuk komoditi tersebut.
Seperti dalam praktik monopsoni lainnya, dalam praktik ini yang menjadi objek adalah barang dan/atau jasa yang menjadi komoditas pada suatu pasar. Sehingga, selain mengacu pada barang, jasa pun dapat menjadi hal yang mendasari adanya dugaan praktik monopsoni khususnya collusive monopsony.
Hal ini ditunjukkan dengan adanya contoh kasus NCAA football di Amerika Serikat, yang melibatkan pelajar peserta liga dan pelatih. Para pelaku usaha membatasi beasiswa dan kompensasi yang diterima oleh para atlit yang masih pelajat. Praktik tersebut mengurangi minat para pelajar untuk menjadi atlit, yang selanjutnya berpengaruh pada jumlah pemain tim yang berlaga. Dengan berkurangnya jumlah pemain, maka berpengaruh pula pada jumlah pelaku yang dipekerjakan. Hal tersebut kemungkinan akan menekan jumlah gaji yang harus dibayarkan oleh pihak manajemen tim, sehingga keuntungan akan lebih terasa oleh mereka. “The NCAA has been characterized as a cartel, that is ‘ a combination of independent commercial or industrial enterprises designed to limit competition ‘. ”54 collusive monopsony yang dipraktekkan oleh NCAA mengarah pada sebuah kartel. Praktik monopsoni yang dilakukannya berhubungan dengan pasar tenaga kerja yakni para atlit pelajar dan pelatih. Lebih jelasnya praktik tersebut merupakan kartel pembelian. Anggota dari kartel tersebut sepakat untuk mengurangi kompetisi antara mereka dengan tujuan untuk mengurangi
biaya yang dikeluarkan guna pembayaran gaji pelatih dan pemberian beasiswa bagi para atlitnya. Pengurangan beasiswa dengan cara membatasi fasilitas apa saja yang akan dinikmati oleh para atlit, misalnya dengan membatasi pada jenis kamar, buku tertentu, dan biaya pendidikan. Kartel yang dibangun oleh NCAA sejak 1905, hingga saat ini semakin berkembang dan bertambah kuat. Dalam kartel, seringkali terjadi kecurangan yang dilakukan oleh salah satu anggotanya, dalam NCAA hal tersebut telah dapat ditanggulangi dengan menerapkan sanksi bagi pelakunya. Sanksi tersebut dibuat sedemikian rupa tidak menguntungkan bagi pelaku, sehingga meminimalisir terjadinya kecurangan. Sanksi yang pernah diterapkan oleh NCAA antara lain terhadap University of Washington, yakni dengan membatasi fasilitas yang biasa dinikmati oleh anggota kartel, salah satunya pengurangan beasiswa selama dua tahun. Pada tahun 1975, NCAA sebagai sebuah asosiasi olahraga pernah melakukan pembatasan pada pelatih sepakbola dan bola basket. Pembatasan tersebut ditujukan pada sekolah-sekolah Divisi I, dengan adanya pembatasan tersebut merugikan kompensasi seorang pelatih sebesar 90%. Praktik yang dilakukan oleh NCAA, telah melanggar Section 1 pada Sherman Act. Namun, para juri dan hakim pada supreme court memilih menggunakan pendekatan rules of reasons, dengan memperhatikan reasonable restraint dari NCAA sekalipun sejak 1940, praktik tersebut diatur secara per se illegal. NCAA telah melakukan beberapa praktik yang mengarah pada collusive monopsony, khususnya kartel. Kartel yang telah dibentuk oleh NCAA sifatnya stabil dengan pengaturan yang mereka terapkan atas kecurangan dan pelanggaran sesama anggota. Kasus-kasus collusive monopsony yang telah diputuskan antara
lain : NCAA v. Board of Regents, Hennesey v. NCAA dan Law v. NCAA55.
Berdasarkan putusan-putusan tersebut, the NCAA pada dasarnya seperti subjek hukum lain yang dapat dikenakan aturan-aturan dalam Hukum Persaingan Usaha. Namun, pada the NCAA, putusan hakim cenderung menggunakan pendekatan
rules of reasons, sedangkan pada subjek hukum lainnya memilih menggunakan
per se illegal. Pengaturan collusive monopsony pada Hukum Persaingan Usaha di Amerika Serikat atau yang lebih dikenal dengan Antritrust Law, bersifat per se illegal, praktik tersebut melanggar ketentuan Section 1 dari Sherman Act. Hal tersebut tidak menutup kemungkinan hakim menggunaan pendekatan rules of reasons untuk memutuskan kasus-kasus tentang praktik collusive monopsony.
Collusive monopsony, juga memiliki pengaruh terhadap beberapa jenis pelanggaran yang dilarang dalam hukum persaingan usaha. Dengan adanya praktik ini, kemungkinan untuk terjadinya bentuk penyalahgunaan atas kekuatan pasar semakin terbuka lebar. Satu pelaku usaha yang menguasai pasar, memiliki keterbatasan ketika ada pelaku usaha pesaingnya memiliki potensi yang sama, sehingga memungkinkan adanya kekalahan atau berkurangnya keuntungan baginya. Jika kekuatan pasar tersebut diatur oleh beberapa orang, tentu akan lebih mudah dalam melakukan kontrol bagi para pelaku usaha pesaing. Berdasarkan hal tersebut, lahirlah beberapa perjanjian yang selanjutnya menjadi larangan pada hukum persaingan usaha pada umumnya dan dalam Undang-Undang Persaingan Usaha pada khususnya.
Beberapa jenis perjanjian yang dilahirkan oleh praktik collusive monopsony, antara lain :
a. Boikot b. Kartel
c. Penetapan Harga. d. Pembagian Wilayah.
Unsur-unsur collusive monopsony, yang disarikan dalam literatur, antara lain :
a. Beberapa pelaku usaha.
b. Satu perjanjian.
c. Bertujuan mempengaruhi harga atau produksi oleh produsen maupun suplier.56
d. Adanya penyalahgunaan kekuatan pasar yang dimiliki pembeli atau
monopsonist.57
Sebagai bagian dari salah satu bentuk monopsoni, collusive monopsony
tentu memiliki beberapa kesamaan dengan praktik pure monopsony. Yang membedakan kedua praktik tersebut ialah para pihak yang terlibat di dalamnya. Jika dalam monopsoni hanya ada satu pelaku usaha yang menjadi dominan dalam penerimaan pasokan untuk suatu barang atau jasa tertentu, maka sebaliknya. Dalam collusive monopsony, yang menjadi monopsonis adalah beberapa pelaku usaha melalui satu perjanjian.
Para pelaku usaha tersebut menghendaki untuk menurunkan harga pembelian mereka untuk suatu barang atau jasa tertentu. Atau setidaknya, mempengaruhi harga produksi untuk suatu barang atau jasa tertentu. Dengan hasil akhir, mereka memperoleh harga yang lebih rendah dibandingkan dengan pembeli lainnya.
Salah satu bentuk collusive monopsony¸ adalah ketika pekerja melalui serikatnya, membentuk perjanjian dengan serikat lainnya dalam jenis pekerjaan yang sama. Menggunakan bargaining power-nya untuk menentukan gaji yang
56 Pengaruh yang dihasilkan, seperti kegiatan monopsoni lainnya adalah pada struktur upstream market. Sehingga, keuntungan yang didapatkan oleh pelaku usaha biasanya cenderung melukai para suplier dan produsen.
57 Dengan adanya kekuatan pasar yang dimiliki oleh beberapa pelaku usaha dalam
perjanjian, merek selanjutnya dapat mengatur tingkatan harga, hingga wilayah distribusi produk tersebut.
akan mereka dapatkan setiap bulannya. Mereka menggunakan beberapa cara, salah satunya adalah mogok kerja. Secara tidak langsung, dengan mogok kerja tersebut berdampak pada jumlah barang yang akan di produksi oleh pabrik tempat mereka bekerja. Hal tersebut, berakibat pada dugaan adanya praktik collusive monopsony yang dilakukan oleh serikat pekerja tersebut. Collusive monopsony,
seperti ini, bukan termasuk monopsoni yang diatur dalam Pasal 18 Undang- Undang Persaingan Usaha. Mengingat bahwa monopsoni dalam pasal tersebut menekankan pada terciptanya praktik monopoli serta persaingan usaha tidak sehat dengan adanya praktik monopsoni. Sehingga, collusive monopsony yang demikian tidaklah dilarang.
Adapun yang menjadi larangan pada Undang-Undang Persaingan Usaha adalah praktik-praktik yang merupakan form dari collusive monopsony tersebut. Praktik-praktik tersebut adalah :
a. Boikot
Boikot atau pemboikotan merupakan salah satu perjanjian yang juga dilarang dalam Hukum Persaingan Usaha di Amerika Serikat. Boikot yang dilarang, adalah boikot yang dilakukan secara bersama atau grup. Larangan tersebut berlaku apabila terjadinya boikot merupakan suatu rencana oleh pelaku usaha dan dilakukan secara sengaja. Dalam Hukum Persaingan Usaha di Indonesia, larangan boikot dikonstruksikan dalam aturan Pasal 10 Undang-Undang Persaingan Usaha. Kegiatan yang mengarah pada praktik boikot, antara lain menjatuhkan pelaku usaha lain, memaksa pemasok atau pelanggannya untuk berhenti berhubungan dengan para kompetitor pelaku usaha terkait. Dalam pengaturan tersebut, tidak ada syarat mengenai pengaruh negatif dari perjanjian pemboikotan, namun
disebutkan syarat dalam ayat (2) pasal tersebut, yang mensyaratkan adanya kerugian yang ditimbulkan bagi pelaku usaha lain sebagai akibat boikot, termasuk juga telah ada halangan bagi barang dan atau jasa tertentu dalam pasar bersangkutan. Jika memenuhi syarat tersebut, maka suatu perbuatan yang diduga dapat dikatakan telah melanggar hukum persaingan usaha di Indonesia.
b. Kartel
Praktik kartel telah dilarang dalam konstruksi Pasal 11 Undang- Undang Persaingan Usaha. Pengertian praktik kartel, adalah bentuk kerja sama yang dilakukan oleh para pelaku usaha untuk mengawasi produk mereka sendiri, baik penjualan, harga, yang melahirkan monopoli pada pasar tertentu. Melihat rumusan pasalnya, bahwa larangan pelaku usaha untuk membuat perjanjian dengan pesaingnya, adalah perjanjian yang bermaksud untuk mempengaruhi harga dengan mengatur produksi, pemasaran, yang dapat melahirkan monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat. Dapat dikategorikan pendekatan yang dilakukan ialah pendekatan secara rule of reason. Bahwa jika kerja sama tersebut tidak melahirkan praktik monopoli dan tidak menimbulkan persaingan usaha tidak sehat bukan termasuk larangan dalam aturan ini.
Ilustrasi kasus, hanya ada satu pelaku usaha yang melakukan pembelian suatu barang dengan harga Rp 10.000,- akan mendapatkan keuntungan sebesar Rp 10.000,- jika ia membeli 10 barang secara bersamaan, dan akan menambah keuntungan seharga Rp 1000,- pada harga jual. Jika ia melakukan penekanan terhadap pemasok untuk memungkinkan mendapatkan keuntungan lebih, tanpa ada dukungan dari pelaku usaha lain, kemungkinannya untuk memaksa pemasok
sangatlah kecil. Disinilah dibutuhkan adanya kerjasama dengan pelaku usaha lainnya. Sehingga, bila penekanan tersebut dilakukan bersama-sama, pemasok yang merasa jika pelaku usaha tersebut adalah kunci keberhasilannya, akan secara serta merta menuruti kemauan para pembeli. Keadaan seperti inilah yang akan menjurus pada pendirian kartel.
Pengaturan mengenai collusive monopsony, bukanlah aturan dalam satu konstruksi pasal dalam Undang-Undang Persaingan Usaha di Indonesia yang dirumuskan secara eksplisit. Namun, pengaturannya secara langsung kepada praktik-praktik yang menjadi form dari collusive monopsony itu sendiri.
Oligopsoni adalah struktur pasar dengan sedikit pelaku usaha yang berlaku sebagai pembeli dalam skala besar yang tidak dapat mempertahankan kemampuan bertahannya58. Struktur pasar ini memiliki kesamaan dengan struktur pasar oligopoli, hanya saja struktur pasar ini terbatas pada pasar input59.Oligopsoni merupakan salah satu bentuk perjanjian yang dilarang oleh Undang-Undang Persaingan Usaha di Indonesia. Larangan ini dirumuskan dalam aturan Pasal 13 Undang-Undang Persaingan Usaha di Indonesia. Yang berbunyi :
Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha lain yang bertujuan untuk secara bersama-sama menguasai pembelian atau penerimaan pasokan agar dapat mengendalikan harga atas barang dan atau jasa dalam pasar bersangkutan yang dapat mengakibatkan praktik monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat60
Sementara itu, untuk syarat suatu perjanjian dikatakan sebagai perjanjian oligopsoni dan menjadi pelanggaran, apabila : “Pelaku usaha patut diduga atau dianggap secara bersama-sama menguasai pembelian atau penerimaan pasokan
58 Lihat Roger D Blair and Jeffrey L Harrison, p.48 59 Lihat Andi Fahmi Lubis et al., h.111
60 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan
Persaingan Usaha Tidak Sehat, Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 1999, pasal 13 ayat 1.
sebagaiamana dimaksud dalam ayat (1) apabila 2 atau 3 pelaku usaha atau kelompok usaha menguasai lebih dari 75% pangsa pasar barang dan atau jasa tertentu.” 61
Pendekatan yang digunakan dalam rumusan pasal ini, adalah rumusan pasal secara rule of reason, jika tidak memenuhi unsur-unsurnya, maka suatu perjanjian bukanlah sebagai perjanjian yang sifatnya oligopsoni. Pengertian oligopsoni dalam ketentuan Undang-Undang Persaingan Usaha berbeda dengan pengertian oligopsoni pada praktik, sehingga pembuktian untuk kasus oligopsoni tidaklah mudah, seperti pada Monopsoni dan Collusive Monopsony. Pada dasarnya, kegiatan ini adalah kegiatan yang wajar, dimana jumlah pembeli yang ada begitu terbatas. Namun, untuk melindungi usaha kecil, pengaturan atas oligopsoni, tetap diperlukan, sehingga pelaku usaha kecil dan menengah tidak menjadi mangsa para pelaku usaha dengan buyer power. Apabila ditelaah lebih lanjut, unsur-unsur collusive monopsony memiliki kesamaan dengan unsur-unsur oligopsoni, sebagai berikut :
a. Satu perjanjian.
b. Perjanjian tersebut dilakukan dengan pelaku usaha pesaing. c. Bertujuan untuk mempengaruhi harga.
d. Tindakan mempengaruhi harga dilakukan dengan jalan mengatur produksi atau pemasaran barang atau jasa tertentu.
e. Tindakan tersebut dapat mengakibatkan terjadinya praktik monopoli dan persaingan usaha tidak sehat.
f. Adanya presumsi atau dugaan jika oligopsoni telah terjadi jika dua atau tiga pelaku usaha atau kelompok pelaku usaha menguasai lebih dari 75% pangsa pasar untuk satu jenis barang atau jasa tertentu.62
61 Ibid., pasal 13 ayat 2.
Oligopsoni sebenarnya merupakan bagian dari kartel yaitu kartel pembelian63. Hubungan antara collusive monopsony, oligopsoni dan kartel digambarkan dalam himpunan sebagai berikut :
Collusive
Monopsony Oligopsoni Kartel
Gb.2 Hiubungan Collusive Monopsony, Oligopsoni dan Kartel