Pendekatan dalam evaluasi medis bagi pasien berusia lanjut (berusia 60 tahun atau lebih) berbeda dengan pasien dewasa muda. Pasien geriatri memiliki karakteristik multipatologi, daya cadangan faali yang rendah, gejala dan tanda klinis yang menyimpang, menurunnya status fungsional, dan gangguan nutrisi. Selain itu, perbaikan kondisi medis kadangkala kurang dramatis dan lebih lambat timbulnya.
Karakteristik pasien geriatrik yang pertama adalah multipatologi, yaitu pada satu pasien terdapat lebih dari satu penyakit yang umumnya bersifat kronik degeneratif. Kedua adalah menurunnya cadangan faali, yang menyebabkan pasien geriatri amat mudah jatuh dalam kondisi gagal pulih (failure to thrive). Hal ini terjadi akibat penurunan fungsi berbagai organ atau sistem organ sesuai dengan bertambahnya usia, yang walaupun normal untuk usianya namun menandakan menipisnya daya cadangan faali. Ketiga adalah penyimpangan gejala dan tanda penyakit dari yang klasik, misalnya pada pneumonia mungkin tidak akan dijumpai gejala khas seperti batuk, demam dan sesak, melainkan terdapat perubahan kesadaran atau jatuh. Keempat adalah terganggunya status fungsional pasien geriatri. Status fungsional adalah kemampuan seseorang untuk melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari. Status fungsional menggambarkan kemampuan umum seseorang dalam memerankan fungsinya sebagai manusia yang mandiri, sekaligus menggambarkan kondisi kesehatan secara umum. Kelima adanya gangguan nutrisi, gizi kurang, atau gizi buruk. Gangguan nutrisi ini secara langsung akan mempengaruhi proses penyembuhan dan pemulihan.
Jika karena suatu hal pasien geriatri mengalamai kondisi akut seperti pneumonia, maka pasien geriatri juga seringkali muncul dengan gangguan fungsi kognitif, depresi, instabilitas, imobilisasi, inkontinensia (sindrom geriatri). Kondisi tersebut akan semakin kompleks jika secara psikososial terdapat hendaya seperti pengabaian (neglected) atau kemiskinan (masalah finansial). Berdasarkan uraian di ataas tidak dapat disangkal lagi bahwa pendekatan dalam evaluasi medis bagi pasien geriatri mutlak harus bersifat holistik atau paripurna yang tidak semata-mata dari sisi biopsiko-sosial saja, namun juga harus senantiasa memperhatikan aspek kuratif, rehabilitatif, promotif dan prenventif. Komponen dari pengkajian paripurna pasien geriatri meliputi status fungsional, status kognitif, status emosional, dan status nutrisi. Selain itu, anamnesis yang dilakukan adalah anamnesis sistem organ yang secara aktif ditanyakan oleh dokter (mengingat seringkali pasien geriatri memiliki hambatan dalam menyampaikan atau tidak menganggap hal tersebut sebagai suatu keluhan) dan pemeriksaan fisik lengkap yang mencakup pula pemeriksaan neurologis dan muskuloskeletal.
STATUS FUNGSIONAL
Pendekatan yang dilakukan untuk menyembuhkan kondisi akut pasien geriatri tidak akan cukup untuk mengatasi permasalahan yang muncul. Meskipun kondisi akutnya sudah teratasi, tetapi pasien tetap tidak dapat dipulangkan karena belum mampu duduk, apalgi berdiri dan berjalan, pasien belum mampu makan dan minum serta membersihkan dari tanpa bantuan. Pengkajian status fungsional untuk mengatasi berbagai hendaya menjadi penting, bahkan sering kali menjadi prioritas penyelesaian masalah. Nilai dari kebanyakan intervensi medis pada orang usia lanjut
hendaya maupun gejala yang muncul akan mengakibatkan kegagalan pengobatan secara keseluruhan.
Mengkaji status fungsional seseorang berarti melakukan pemeriksaan dengan instrumen tertentu untuk membuat penilaian menjadi objektif, antara lain dengan indeks aktivitas kehidupan sehari-hari (activity of daily living/A DL ) Barthel dan Katz. Pasien dengan status fungsional tertentu akan memerlukan berbagai program untuk memperbaiki status fungsionalnya agar kondisi kesehatan kembali pulih, mempersingkat lama rawat, meningkatkan kualitas hidup dan kepuasan pasien.
STATUS KOGNITIF
Pada pasien geriatri, peran dari aspek selain fisik justru terlihat lebih menonjol terutama saat mereka sakit. Faal kognitif yang sering terganggu pada pasien geriatri yang dirawat inap karena penyakit akut antara lain memori segera dan jangka pendek, perspesi, proses pikir, dan fungsi eksekutif. Gangguan tersebut dapat menyulitkan dokter dalam pengambilan data anamnesis, demikian pula dalam pengobatan dan tindak lanjut adanya gangguan kognitif tentu akan mempengaruhi kepatuhan dan kemampuan pasien untuk melakasanakan program yang telah direncanakan sehingga pada akhirnya pengelolalaan secara keseluruhan akan terganggu juga. Gangguan faal kognitif bisa ditemukan pada derajat ringan (mild cognitive impairment/MCI dan vascular cognitive impairment /VCI) maupun yang lebih berat (demensia ringan, sedang dan berat). Hal tersebut tentunya memerlukan pendekatan diagnosis dan terapeutik tersendiri. Penapisan adanya gangguan faal kognitif secara objektif antara lain dapat dilakukan dengan pemeriksaan neuropsikiatrik seperti Abbreviated Mental Test, The Mini Mental State Examination (MMSE), The Global Deterioration Scale (GDS), dan Clinical Dementia Ratings (CDR).
STATUS EMOSIONAL
Kondisi psikologik, seperti gangguan penyesuaian dan depresi juga dapat mempengaruhi hasil pengelolaan. Pasien yang depresi akan sulit untuk diajak bekerja sama dalam kerangka pengelolalaan secara terpadu. Pasien cenderung bersikap pasif atau apatis terhadap berbagai program pengobatan yang akan diterapkan. Hal ini tentu akan menyulitkan dokter dan paramedik untuk mengikuti dan mematuhi berbagai modalitas yang diberikan. Keinginan bunuh diri secara langsung maupun tidak, cepat atau lambat akan mengancam proses penyembuhan dan pemulihan. Instrumen untuk mengkaji status emosional pasien misalnya Geriatric Depression Scale (GDS) yang terdiri atas 15 atau 30 pertanyaan. Instrumen ini bertujuan untuk menapis adanya gangguan depresi atau gangguan penyesuaian. Pendekatan secara profesional dengan bantuan psikiater amat diperlukan untuk menegakkan diagnosis pasti.
STATUS NUTRISI
Masalah gizi merupakan masalah lain yang mutlak harus dikaji pada pasien geriatri. Gangguan nutrisi akan mempengaruhi status imun dan keadaan umum pasien. Adanya gangguan nutrisi sering kali terabaikan mengingat gejala awal seperti rendahnya asupan makanan disangka sebagai kondisi normal yang terjadi pada pasien geriatri. Sampai kondisi staturs gizi turun menjadi gizi buruk baru tersadar bahwa memang ada masalah di bidang gizi. Pada saat tersebut biasanya sudah terlambat atau setidaknya akan amat sulit menyusun program untuk mengobati status gizi buruk.
pemeriksaan antropometrik, maupun biokimia. Dari anamnesis harus dapat dinilai berapa kilokalori energi, berapa gram protein, dan berapa gram lemak yang rata-rata dikonsumsi pasien. Juga perlu dievaluasi berapa gram serat dan mililiter cairan yang dikonsumsi. Jumlah vitamin dan mineral biasanya dilihat secara lebih spesifik sehingga memerlukan perangkat instrumen lain dengan bantuan seorang ahli gizi. Pemeriksaan antropometrik yang lazim dilakukan adalah pengukuran indeks massa tubuh dengan memperhatikan perubahan tinggi tubuh dibandingkan saat usia dewasa muda. Rumus tinggi lutut yang disesuaikan dengan ras Asia dapat dipakai untuk kalkulasi tinggi badan orang usia lanjut. Pada pemeriksaan penunjang dapat diperiksa hemoglobin dan kadar albumin plasma untuk menilai status nutrisi secara biokimiawi.
LAMPIRAN I
INDEKS AKTIVITAS KEHIDUPAN SEHARI-HARI BARHTEL (AKS BARTHEL)
No. Fungsi Skor Keterangan Nilai
Skor 1. Mengendalikan rangsang pembuangan tinja 0 1 2
Tak terkendali/tak teratur (perlu pencahar) Kadang-kadang tak terkendali (1 x seminggu) Terkendali teratur 2. Mengendalikan rangsang berkemih 0 1 2
Tak terkendali atau pakai kateter
Kadang-kadang tak terkendali (hanya 1x/24jam) Mandiri
3. Membersihkan diri (seka muka, sisir rambut, sikat gigi)
0 1
Butuh pertolongan orang lain Mandiri
4. Penggunaan jamban, masuk dan keluar (melepaskan, memakai celana, membersihkan, menyiram) 0 1 2
Tergantung pertolongan orang lain
Perlu pertolongan pada beberapa kegiatan tetapi dapat mengerjakan sendiri beberapa kegiatan Mandiri
5. Makan 0
1 2
Tidak mampu
Perlu ditolong memotong makanan Mandiri
6. Berubah sikap dari berbaring ke duduk 0 1 2 3 Tidak mampu
Perlu banyak bantuan untuk bisa duduk (2 orang)
Bantuan minimal 1 orang mandiri 7. Berpindah/ berjalan 0 1 2 3 Tidak mampu
Bisa (pindah) dengan kursi roda Berjalan dengan bantuan 1 orang Mandiri
8. Memakai baju 0
1 2
Tergantung orang lain
Sebagian dibantu (misalnya mengancing baju) Mandiri
9. Naik turun tangga 0 1 2 Tidak mampu Butuh pertolongan Mandiri 10. Mandi 0 1
Tergantung orang lain Mandiri
TOTAL SKOR Keterangan : skor AKS BARTHEL
20 : Mandiri 5-8 : Ketergantungan berat
9-11 : Ketergantungan sedang LAMPIRAN 2
ABBREVIATED MENTAL TEST (AMT)
Status Mental Nilai
A. Umur ... tahun 0. Salah 1. Benar
B. Waktu / jam sekarang ... 0. Salah 1. Benar C. Alamat tempat tinggal ... 0. Salah 1. Benar
D. Tahun ini ... 0. Salah 1. Benar
E. Saat ini berada di mana ... 0. Salah 1. Benar F. Mengenali orang lain (dokter, perawat, penanya) 0. Salah 1. Benar G. Tahun kemerdekaan RI ... 0. Salah 1. Benar H. Nama Presiden RI ... 0. Salah 1. Benar I. Tahun kelahiran pasien atau anak terakhir ... 0. Salah 1. Benar J. Menghitung terbalik (20 s.d. 1) ... 0. Salah 1. Benar
K. Perasaan hati (afeksi) A. Baik
C. Depresi E. Cemas
B. Labil D. Gelisah Total Skor :
(diisi oleh petugas) Keterangan :
Skor AMT
0-3 : Gangguan ingatan berat 4-7 : Gangguan ingatan sedang 8-10 : Normal
LAMPIRAN 3
MINI MENTAL STATE EXAMINATION (MMSE)
Nama Responden : Nama pewawancara :
Umur Responden : Tanggal Wawancara :
Pendidikan : Jam Mulai :
Nilai Maksim um Nilai Responden 5 5 ( ) ( ) ORIENTASI
Sekarang (hari-tanggal-bulan-tahun) dan musim apa?
Sekarang kita berada dimana? (nama rumah sakit dan instansi, jalan, nomor rumah, kota, kabupaten, propinsi)
5 ( )
REGISTRASI
Pewawancara menyebutkan nama tiga buah benda, misalnya :
Satu detik untuk tiap benda. Kemudian mintalah responden mengulang ke tiga nama benda tersebut
Berilah nilai 1 untuk tiap jawaban yang benar, bila masih salah, ulangi menyebutkan ke tiga nama benda tersebut sampai responden dapat mengatakannya dengan benar :
(bola, kursi, sepatu )
Hitunglah jumlah percobaan dan catatlah : kali
5 ( )
ATENSI DAN KALKULASI
Hitunglah berturut-turut selang 7 angka mulai dari 100 ke bawah. Berhenti setelah 5 kali hitungan (93-86-79-72-65). Kemungkinan lain, ejalah kata dengan lima huruf, misalnya ‘DUNIA’dari akhir ke awal / dari kanan ke kiri : ‘AINUD’
Satu (1) nilai untuk setiap jawaban yang benar
3 ( )
MENGINGAT
Tanyakan kembali nama ke tiga benda yang telah disebut di atas. Berikan nilai 1 untuk tiap jawaban yang benar.
9 ( )
BAHASA
a. Apakah nama benda ini? Perlihatlanlah pinsil dan arloji (2 nilai) b. Ulangi kalimat berikut:”JIKA TIDAK DAN ATAU TAPI”(1 nilai) c. Laksanakanlah 3 buah perintah ini :
peganglah selembar kertas dengan tangan kananmu, lipatlah kertas itu pada pertengahan dan letakkan di lantai. (3 nilai) d. Bacalah dan laksanakan perintah berikut :
“PEJAMKAN MATA ANDA” (1 nilai)
e. Tulislah sebuah kalimat ! (1 nilai)
f. Tirulah gambar ini ! (1 nilai)
Jumlah nilai : ( ) Tandailah tingkat kesadaran responden pada garis absis di bawah ini dengan huruf ‘X’
SADAR SOMNOLEN STUPOR KOMA
Jam selesai :