PENGERTIAN
Kista tiroid adalah nodul kistik pada jaringan tiroid, merupakan 10-25% dari seluruh nodul tiroid.Insidens keganasan pada nodul kistik kurang dibandingkan nodul solid. Pada nodul kistik kompleks masih mungkin merupakan suatu keganasan. Sebagian nodul kistik mempunyai bagian yang solid.
DIAGNOSIS
Anamnesis
· Sejak kapan benjolan timbul
· Rasa nyeri spontan atau tidak spontan, berpindah atau tetap · Cara membesarnya:cepat,atau lambat
· Pada awalnya berupa satu benjolan yang membesar menjadi beberapa benjolan atau hanya pembesaran leher saja
· Riwayat keluarga
· Riwayat penyinaran daerah leher pada waktu kecil/muda · Perubahan suara
· Gangguan meelan · Sesak napas
· Penurunan berat bada · Keluhan tirotoksikosis Pemeriksaan fisik:
· Umum · Lokal:
- Nodus tunggal atau majemuk, atau difus - Nyeri tekan
- Konsistensi:kistik - Permukaan
- Perlekatan pada jaringan sekitarnya - Pendesakan atau pendorongan trakea - Pembesaran kelenjar getah bening regional - Pemberton’s sign
Penilaian risiko keganasan:
Anamnesis dan pemeriksaan fisik yang mengarahkan diagnostic penyakit tiroid jinak, tetapi tak sepenuhnya menyingkirkan kemungkinan kanker tiroid:
· Riwayat keluarga dengan struma nodosa atau difusa jinak
· Riwayat keluarga dengan tiroiditis Hashimoto atau penyakit tiroid autoimun. · Gejala hipotiroidisme atau hipertiroidisme.
· Nyeri berhubungan dengan nodul. · Nodul lunak, mudah digerakkan.
· Multinodul tanpa nodul yang dominan, dan konsistensi sama.
Anamnesis dan pemeriksaan fisik yang meningkatkan kecurigaan kearah keganasan tiroid: · Umur < 20 tahun atau > 70 tahun
· Gender laki-laki
· Riwayat radiasi daerah leher waktu usia anak-anak atau dewasa (juga meningkatakan insidens penyakit nodul tiroid jinak)
· Riwayat keluarga kanker tiroid medular
· Nodul yang tunggal,berbatas tegas,keras,irregular dan sulit digerakkan paralisis pita suara, · Temuan limfadenopati servikal
· Metastasis jauh (paru-paru, dll)
Langkah diagnostik awal: TSHs, FT4
Bila hasil : Non toksik Langkah diagnostik II:
Fungsi aspirasi kista dan BAJAH bagian solid dari kista tiroid
DIAGNOSIS BANDING
Kista tiroid, kista degenerasi, karsinoma tiroid
PEMERIKSAAN PENUNJANG
· USG tiroid:
- Dapat membedakan bagian padat dan cair,
- Dapat untuk memandu BAJAH: menemukan bagian solid.
- Gambaran USG kista = kurang lebih bulat, seluruhnya hipoekoik sonolusen, dinding tipis. · Sitologi cairan kista dengan prosedur sitospin.
· Biopsi aspirasi jarum halus (BAJAH): pada bagian yang solid.
TERAPI
Fungsi aspirasi seluruh cairan kista: · Bila kista regresi observasi
· Bila kista rekurens, klinis kecurigaan ganas rendah fungksi aspirasi dan observasi · Bila kista rekurens, klinis keecurigaan ganas tinggi operasi lobektomi
KOMPLIKASI
Tidak ada.
PROGNOSIS
Dubia ad bonam, tergantung tipe dan jenis histopatologinya.
WEWENANG
· RS pendidikan: Dokter Spesialis Penyakit Dalam dan PPDS Penyakit Dalam · RS non pendidikan : Dokter Spesialis Penyakit Dalam
UNIT YANG MENANGANI
· RS pendidikan : Departemen Ilmu Penyakit Dalam –Divisi Metabolik Endokrinologi · RS non pendidikan : Bagian Ilmu Penyakit Dalam
UNIT TERKAIT
· RS pendidikan : Departemen Patologi Klinik, Patologi Anatomi, Bedah tumor · RS non pendidikan : Bagian Patologi Klinik, Patologi Anatomi, Bedah
REFERENSI
1. Kariadi SH KS. Struma Nodosa Non-Toksik. Dalam W aspadji S, et al, eds. Buku A jar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi 3. Jakarta: Balai Penerbit FKUI;.p.757-65.
2. Suyono S. Pendekatan Pasien dengan struma. Dalam Markum HMS, Sudoyo HA W, Effendy S, Setiati S. Gani RA , A lwi Leditors. Naskah Lengkap Pertemuan Ilmiah Tahunan Ilmu Penyakit Dalam 1997. Jakarta:Departemen Ilmu Penyakit Dalam:1997.p.207-13.
3. Subekti I. Struma Nodosa Non-Toksik (SNNT). In Simadibrata M, Setiati S, A lwi I, Maryantoro, Gani RA , Mansjoer A ,editors. Pedoma Diagnosis dan Terapi di Bidang Ilmu Penyakit Dalam. Jakrta:Pusat Informasi dan Penerbitan Bagian Ilmu Penyakit Dalam FKUI:1999.p. 187-9
4. Soebardi S. Pemeriksaan Diagnostik Nodul Tiroid. Makalah Jakarta Endocrinology Meeting 2003. Jakarta, 18 Oktober 2003.
2.2
BRADIARITMIA
PENGERTIAN
Bradiaritmia adalah perlambatan denyut jantung di bawah 50 kali/menit yang dapat disebabkan oleh disfungksi sinus node, hipersensitivitas/kelainan system persarafan dengan dan atau adanya gangguan konduksi atriovetrikular. Dua keadaan yang sering ditemukan:
1. Gangguan pada sinus node (sick sinus syndrome)
2. Gangguan kondusksi atrioventrikular/blok AV (AV block):blok AV derajat satu, blok AV derajat dua, blok AV total.
DIAGNOSIS
Gangguan pada sius node (sick sinus syndrome) Keluhan:
· Penurunan curah jantung yang bermanifestasi dalam bentuk letih, pening, limbung, pingsan · Kongesti pulmonal dalam bentuk sesak napas
· Bila disertai takikardia disebut braditakiaritmia:terdapat palpitasi, kadang-kadang disertai angina pectoris atau sinkop (pingsan)
· Dapat pula menyebabkan kelainan/perubahan kepribadian, lupa ingatan, da emboli sistemik. EKG:
· EKG monitoring baik selama dirawat inap di RS maupun dalam perawatan jalan (ambulatory/holter ECG monitoring), dapat menemukan kelainan EKG berupa braidikardia sinus persisten.
Blok AV
· Blok AV Derajat Satu
Irama teratur dengan perpanjangan interval PR melebih 0,2 detik
· Blok AV Derajat dua
- Mobitz tipe I (Wenckebach), Gelombang P bentuk normal dan irama atrium yang teratur,
pemanjangan PR secara progresif lalu terdapat gelombang P yang tidak dihantarkan, sehingga terlihat interval RR memendek dan kemudian siklus tersebut berulang kembali
- Mobitz tipe II, Irama atrium teratur dengan gelombang P normal. Setiap gelombang P diikuti
gelombang QRS kecuali yang tidak dihantarkan dan bias lebih dari 1 gelombang P berturut-turut yang tidak dihantarkan. Irama QRS bias teratur atau tidak teratur tergantung pada denyut yang tidak dihantarkan. Kompleks QRS bias sempit bila hambatan terjadi pada berkas his, namun bias lebar seperti pada blok cabang berkas bila hambatan ini pada cabang berkas.
- Blok AV Total (Complete AV Block): terjadi hambatan total konduksi antara atrium dan ventrikel.
Atrium dan ventrikel masing-masing mempunyai frekuensi sendiri (frekuensi ventrikel < frekuensi atrium)
Keluhan : Sinkop,vertigo, denyut jantung (<50 kali/menit)
EKG : Disosisasi attrioventrikular Denyut atrium biasanya lebih cepat.
DIAGNOSIS BANDING
-PEMERIKSAAN PENUNJANG
TERAPI
Gangguan pada sinus node (sick sinus syndrome)
Pada keadaan gawat darurat berikan sulfas atropine (SA) 0,5-1 mg IV (total(0,04 mg/kgBB) jika tidak ada respos berikan drip isoproterenol mulai dengna dosis I ug/menit sampai 10 ug/kg/menit secara bertahap. Kemudian lanjutkan dengna pemasangan pacu jantung, sesuai dengan sarana yang tersedia (transcutaneus temporary pace maker dan transvenous temporary pace maker). Pada penatalaksana selanjutnya dilakukan pemasangan pacu jantung permanen.
Blok AV
Pengobatan hanya diberikan pada penderita yang simtomatik. Walaupun demikian etiologi penyakit dan riwayat alamiah penyakut ikut menentukan tindakan selanjutnya. Bila penyebabnya obat-obatan maka harus dihentikan. Demikian pula bila penyebabnya oleh karena factor metabolic yang reversible maka factor-faktor tersebut juga harus dihilangkan (seperti hipotiroidisme, asidosis, gangguan elektrolit dan sebagainya). Bila penyebab yang mendasarinya diketahui dan bila hal itu bersifat jantung sementara) seperti halnya pada infark miokard akut inferior. Pada penderita yang simptomatik, perlu dipasang pacu jantung permanen.
Blok AV total
Pada keadaan gawat darurat (simptomatik/asimptomatik) berikan sulfas atropine (SA) 0,5-1 mg IV (total 0,04 mg/kgBB), atau isoproterenol. Bila obat tidak menolong pasang alat pacu jantung sementara, selanjutnya dilakukan pemasangan pacu jantung permanen.
KOMPLIKASI
Sinkop, tromboemboli bila disertai takikardia, gagal jantung.
PROGNOSIS
Tergantung penyebab, berat gejala dan respon terapi
WEWENANG
· RS pendidikan : Dokter Spesialis Penyakit Dalam dan PPDS Penyakit Dalam dengan konsultrasi pada konsulen Penyakit Dalam
· RS non pendidikan : Dokter Spesialis Penyakit Dalam
UNIT YANG MENGANGANI
· RS pendidikan : Departemen Ilmu Penyakit Dalam –Divisi Kardiologi · RS non pendidikan : Bagian Ilmu Penyakit Dalam
UNIT TERKAIT
· RS pendidikan : Departemen Patologi Klinik, Medical High Care/ICCU · RS non pendidikan : Bagian Patologi Klinik, Patologi Klinik, ICCU
REFERENSI
1. Penggabean M M . Bradiaritmia Dalam In: Simadibrata M , Setiati S, A lwi I, M ary antoro, Gani RA , M ansjoer A , editors. Pedoman Diagnosis dan Terapi di Bidang Ilmu Peny ak it Dalam. Jak arta: Pusat Informasi dan Penerbitan Bagian Ilmu Peny ak it Dalam FK UI;1999.p.161-5.
2. K aro K S. Disritmia. In:Rilantono LI, Baraas F, K aro K S., Roebiono PS, editors. Buk u A jar K ardiologi, Jak arta: Balai Penerbit FK UI:1999.p.275-88.
3. Trisnohadi HB. K elainan Gangguan Iram a Jantung Y ang Spesifik . In: Sjaifoellah N , W aspadji S, Rachman M , Lesmana LA , W idodo D, Isbagio H, et al, editors. Buk u A jar Ilmu Peny ak it Dalam Jilid I, edisi k etiga, Jak arta: Balai Penerbit FK UI;1996.p.1005-14.