PERJUMPAAN SAINS DAN AGAMA DARI KONFLIK KE DIALOG
F. Analisis Dialog Sains dan Agama dalam Perspektif Islam 1 Nilai Islam
3. Contoh Penafsiran Al-Qur’an Berbasis Sains Modern
1. Rahasia Besi (Fisika). Surat al-Hadîd (57) ayat 25:
...
َﺪْﻳِﺪَPْﻟا ﺎَﻨْﻟَﺰْR+/َو
ِسﺎ,ﻨﻠِS ُﻊِﻓﺎَUَﻣ,و ٌﺪْﻳِﺪ َﺷ ٌسXYَﺑ ِﻪْ[ِﻓ
) ....
ﺪﻳﺪﳊا
: ٢٥ (Artinya: “…dan Kami turunkan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia…”10
Penjelasan (penafsiran) ilmiah: kata “anzalnâ ( NOPQRأ )” yang berarti
“Kami turunkan” khusus digunakan untuk besi dalam ayat ini, dapat diartikan secara kiasan untuk menjelaskan bahwa besi diciptakan untuk memberi manfaat bagi manusia. Tapi ketika kita mempertimbangkan makna harfiah kata ini, yakni “secara bendawi diturunkan dari langit”, kita akan menyadari bahwa ayat ini memiliki kejaiban ilmiah yang sangat penting. Ini dikarenakan penemuan astronomi modern telah mengungkap bahwa logam besi ditemukan di bumi kita berasal dari bintang-bintang raksasa di luar angkasa.
Logam berat di alam semesta dibuat dan dihasilkan dalam inti bintang-bintang raksasa. Akan tetapi sistem tata surya kita tidak memiliki struktur yang cocok untuk menghasilkan besi secara mandiri. Besi hanya dapat dibuat dan dihasilkan dalam bintang-bintang yang jauh lebih besar dari matahari, yang suhunya mencapai beberapa ratus juta derajat. Ketika jumlah besi sudah melampaui batas tertentu dalam suatu bintang, bintang tersebut tidak mampu lagi menanggungnya, dan akhirnya meledak melalui peristiwa yang disebut “nova” atau “supernova”. Akibat dari ledakan ini, meteor-meteor yang mengandung besi bertaburan di seluruh penjuru alam semesta dan mereka bergerak melalui ruang hampa hingga mengalami tarikan oleh gaya gravitasi benda angkasa. Semua ini menunjukkan bahwa logam besi tidak terbentuk di bumi melainkan kiriman dari bintang- bintang yang meledak di ruang angkasa melalui meteor-meteor dan “diturunkan ke bumi”, persis seperti dinyatakan dalam ayat tersebut: Jelaslah bahwa fakta ini tidak dapat diketahui secara ilmiah pada abad ke-7 ketika Al-Qur’ân diturunkan.11 Pada penjelasan kitab-kitab tafsir yang ada pada umumnya, kalimat NOPQRأو diartikan atau diterjemahkan dengan; “dan Kami ciptakan” bukan “dan Kami turunkan”.
2. Gempa Bumi (Geologi). Surat al-Zalzalah (99) ayat 1 - 4:
ﺎَﻬَﻟاَﺰْﻟِز ُضْر+ ْا ِﺖَﻟِﺰْﻟُز اَذِا
*
ﺎَﻬَﻟﺎَﻘْﺛَا ُضْر+ ْا ِﺖَﺟَﺮْﺧ+/َو
*
ﺎَﻬَﻟﺎَﻣ ُنﺎ َﺴْ7ﻻْا َلﺎَﻗَو5
*
ُثِّﺪَ ُﲢ ٍﺬِeَﻣْﻮَﻳ
ﺎَﻫَرﺎَgْﺧ+/
) *
لاﺰﻟﺰﻟا
: ١ - ٤ (Artinya: “Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan (yang dahsyat). Dan bumi telah mengeluarkan beban-beban beratnya. Dan manusia bertanya: ‘Mengapa bumi (jadi begini)?’ Pada hari itu bumi menceritakan beritanya.” 12
Lempeng-lempeng litosfer bergerak dan saling berinteraksi satu sama lain. Pada tempat-tempat saling bertemu, pertemuan lempengan ini menimbulkan gempa bumi. Sebagai contoh adalah Indonesia yang merupakan tempat pertemuan tiga lempeng: Eurasia, Pasifik dan Indo- Australia. Bila dua lempeng bertemu, maka terjadi tekanan (beban) yang terus menerus, dan bila lempengan tidak tahan lagi menahan tekanan (beban), maka lepaslah beban yang telah terkumpul ratusan tahun itu, dan dikeluarkan dalam bentuk gempa bumi. Apabila bumi “digoncangkan dengan goncangan (yang dahsyat).” Dan bumi telah “mengeluarkan beban-beban beratnya.” Dan manusia bertanya: “Mengapa bumi (jadi begini)?”. Pada hari itu bumi menceritakan beritanya.” Beban berat yang dikeluarkan dalam bentuk gempa bumi merupakan suatu proses geologi yang berjalan bertahun-tahun. Begitu seterusnya, setiap selesai beban dilepaskan, kembali proses pengumpulan beban terjadi. Proses geologi atau ‘berita geologi’ ini dapat direkam baik secara alami maupun dengan menggunakan peralatan geofisika ataupun geodesi. Sebagai contoh adalah gempa-gempa yang beberapa puluh atau ratus tahun yang lalu, peristiwa pelepasan beban direkam dengan baik oleh terumbu karang yang berada dekat sumber gempa. Pada masa modern, pelepasan energi ini terekam oleh peralatan geodesi yang disebut GPS (Global Position System).13 G. Penutup
Dalam hal pertemuan sains dan agama ini prespektif John F Haught setidaknya mempunyai sikap: 1) John F. Haught menerima perspektif evolusioner bahwa teologi secara mutlak direvisi berdasarkan perspektif konflik, kontras, kontak dan konfirmasi, 2) John F. Haught percaya akan teologi dinamis, dan karena itu menafikan pengetahuan dan kekuasaan Tuhan yang bersifat mutlak. Menurutnya, Tuhan rela membagikan kekuasaan kepada alam dengan memberikannya kemampuan untuk menata diri sendiri, 3) Dalam pandangannya, alih-alih mempertahankan situasi yang ada sekarang. Tuhan mempertaruhkan keterbatasan pengetahuan-Nya tentang masa depan, dan karena itulah evolusi berkembang, 4) John F. Haught percaya bahwa tujuan alam itu tidak dapat dicari
di wilayah sains karena ia merupakan rahasia dan harus tetap rahasia selamanya yang bahkan tidak akan tersingkapkan oleh agama.
Meskipun sampai pada pendekatan konfirmasi, sesungguhnya penulis melihat bahwa pandangan John F. Haught ini masih meletakkan bahwa agama dan sains tetap pada tempatnya masing-masing. Mereka berasal dari tempat yang berbeda. Hal ini tampaknya berbeda dengan konsep agama Islam bahwa semua potensi yang dapat diketahui oleh manusia bersumber dari satu yaitu wahyu, hanya saja dalam konteksnya masing-masing terjadi pembagian ada yang tergolong qauliyah yaitu berupa nilai-nilai hidup dan kehidupan yang didasari
oleh kepercayaan/keyakinan/apriori. Sementara sains tergolong kauniyah
(empiris) yangmana pengenalan tentang hal ini dibuktikan dengan perhitungan ilmiah yang melahirkan nilai-nilai yang dibuat oleh manusia.
Pertanyaannya adalah: Bagaimana manusia dapat mengambil pelajaran bahwa bukti-bukti yang ditemukan melalui sains adalah pembuktian dari nilai- nilai agama yang tidak secara gamblang dijabarkan?. Sekali lagi hal ini tergantung dari kelompok yang memberikan pandangan terhadap agama. Sementara agama yang berkembang dan terkelompok kepada beberapa agama, masing-masing yakin akan kebenarannya. Yang menjadi permasalahan adalah jika nilai-nilai agama ternyata bertentangan dengan fakta empiris yang dirasakan oleh manusia.
Berdasarkan kesimpulan di atas, Penulis dapat mengemukakan beberapa saran, antara lain:
1. Bagi John F. Haught. Selain empat tipologi yang dikemukakan John F. Haught, yaitu: konflik, kontras, kontak, konfirmasi. Alangkah baiknya mengenal satu tipologi yang berasal dari ilmu ushul fikih yaitu “al-Jam’u wa al-Taufîq (
ﻖ[ﻓﻮﺘﻟا و ﻊﶺا
). Adalah upaya untuk menggabungkan kesamaan-kesamaan ide, argumentasi maupun penafsiran antara sains dan agama selanjutnya menemukan kesepakatan antara keduanya.
2. Bagi pembaca, agar senantiasa konsisten memadukan sains dan agama sebagai dua entitas yang sama-sama telah mewarnai sejarah kehidupan umat manusia. Sebab, keduanya telah berperan penting dalam membangun peradaban. Dengan lahirnya agama, tidak saja telah menjadikan umat manusia memiliki iman, tapi hal lain yang tidak bisa dipandang sebelah mata adalah terbangunnya manusia yang beretika, bermoral dan beradab yang menjadi pandangan hidup bagi manusia dalam menjalani hidup di dunia.
3. Bagi generasi intelektual muslim, agar mewujudkan harmonisasi antara sains dan agama. Walaupun sejarah mencatat, bagaimana klaim sepihak lembaga agama telah menjadikan Galileo (1564-1642) jadi korban setelah ia dengan lantang bersuara bahwa matahari adalah pusat alam semesta (sementara dalam kitab suci kristen justru sebaliknya), dan sikap “sentimen” agama dalam
melihat teori evolusi Darwin. Meski kemudian, dari sengketa itu lambat laun bisa diterima oleh kaum agamawan, tapi berkat penemuan terbaru sains - setidaknya - telah menunjukkan pergeseran akan hubungan yang sebenarnya tidak melulu saling berseteru.
Catatan:
1 Hanafi Ahmad,
Al-Tafsîr al-‘Ilmiy Li al-Âyât al-Kawniyyah Fî Al-Qur’ân (Bairut: tp, tt), Cet. ke-2, h. 36.
2 Endang Saifudin Anshari,
Ilmu Filsafat dan Agama, (Surabaya: Bina Ilmu, 2008) h. 48. 3 Endang Saifudin Anshari,
Ilmu Filsafat dan Agama…, h. 49 4 Endang Saifudin Anshari,
Ilmu Filsafat dan Agama…, h. 33 5 Ahmad Tafsir,
Filsafat Ilmu, (Bandung: Bina Prakarsa Ilmu, 2004), h. 45 6 Ahmad Tafsir, Filsafat Ilmu…, h. 35 7 Ahmad Tafsir, Filsafat Ilmu…, h. 37 8 Hanafi Ahmad, Al-Tafsîr al-‘Ilmiy …, h. 6. 9 http://www.makalahkuliah.com/2013/09/metode-ijtihad-bayani-kajian-filsafat.html, diakses tanggal 23 September 2013
10 http://www.keajaibanalquran.com/physics iron.html. (diakses pada: 23/09/2013). Bandingkan juga terjemahan kata NOPQRا “Kami turunkan/ciptakan”, dalam M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, (Jakarta: Lentera Hati, 2003), Vol. 14, h. 46.
11http://www.keajaibanalquran.com/physics iron.html. 12 Departemen Agama,
Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Semarang: Toha Putra, 1989), h. 203.
13 Dikutip dari makalah dengan tema: “Beberapa Contoh Penafsiran Ayat-ayat Kauniyah dalam Al-Qur’an, ditulis oleh: Tim Asistensi Ayat Kauniyah LIPI, Jurnal Lektur Keagamaan, (Jakarta: Puslitbang Letktur Keagamaan Balitbang Agama dan Diklat Keagamaan Departemen Agama RI, 2012), Vol.3, No.2, h. 175.