PERKEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN DALAM PERADABAN ISLAM
D. Sketsa Histrosis Pembidangan Ilmu Dalam Islam
Sejak periode klasik, bisa dikatakan telah ada pembidangan ilmu yang pada umumnya terbagi kepada ilmu-ilmu agama dan non-agama.51 Sebutan untuk ilmu agama beragam; al-‘ulum al-diniyyah, al-‘ulum al-naqliyyah, al-‘ulum al- Syar’iyyah, al-‘ulum al-Islamiyyah, dan ‘ulum al-‘Arab. Untuk ilmu non-agama
biasa disebut dengan al-‘ulum al-dunyawiyyah, al-‘ulum al-‘Aqliyyah, al-‘ulum al-dakhilah, ‘ulum al-‘Ajam dan ‘ulum al-Awail. Ilmu seperti tafsir, hadis, ilmu kalam, fikih, dan tasawuf adalah kelompok ilmu-ilmu agama. Sedangkan bahasa Arab, sejarah, filsafat, kedokteran, astronomi, matematika, kimia, fisika, kosmografi termasuk kelompok ilmu non-agama.
Imam Syafi’i, salah satu pendiri Madzhab Fikih, juga melakukan pengelompokan ilmu dari sisi legal knowledgenya. Menurutnya, ilmu ada dua; pertama, ‘ilm ‘ammah (ilmu yang diterima secara umum) dan kedua ‘ilm khasshah (ilmu yang menjadi wilayah orang-orang tertentu). Ilmu ‘Ammah
mempunyai nash yang tegas dalam Al-Qur’an dan Hadis Mutawatir di mana tidak terjadi perbedaan periwayatan serta kewajibannya. Ilmu yang tergolong ke dalam kelompok ini adalah kewajiban shalat lima waktu, puasa Ramadlan, melaksanakan haji bagi yang mmapu, membayar zakat, haramnya zina, membunuh, mencuri, minum khamr. Semua tidak ada perbedaan pendapat di kalangan muslim. Sedangkan yang selain itu, dikategorikan ke dalam ‘ilm khasshah.52 Pembidangan ilmu versi Syafi’i ini mengantarkan kepada wilayah kesadaran bersama bahwa untuk kelompok pertama tidak terdapat ruang perbedaan pendapat, namun untuk kelompok kedua sangat terbuka ruang perbedaan pendapat yang seluas-luasnya. A. Qadri Azizy menafsirkan pendapat Syafi’i bahwa yang tidak boleh terjadi perbedaan pendapat dari kelompok pertama dalam pandangan Syafi’i hanyalah garis besar dari beberapa hal, sedangkan uraian detailnya juga terbuka ruang yang lebar untuk terjadinya perbedaan pendapat. Perbedaan pendapat ini bisa terjadi karena perbedaan analisis atau kesimpulan penelitiannya.53
Filosof muslim periode klasik, Al-Farabi (w.339 H) mengelompokkan ilmu menjadi lima bagian, yaitu:54
a) Ilmu bahasa yang mencakup sastra, nahwu, sharf dan lain-lain.
b) Ilmu logika yang mencakup pengertian, manfaat, silogisme dan sebagainya. c) Ilmu propadetis (al-ta’lim) yang mencakup ilmu hitung, geometri, optika,
astronomi, astrologi, musik dan sebagainya. d) Ilmu fisika dan metafisika.
e) Ilmu sosial, ilmu hukum dan ilmu kalam.
Ibnu Buthlan (w. 450 H), seorang ahli kedokteran yang mengelompokkan ulama yang wafat sekitar pertengahan abad kesebelas Masehi ke dalam tiga kelompok berdasarkan cabang ilmu yang mereka tekuni; 1) Ilmu-ilmu Keagamaan, 2) Ilmu-ilmu Klasik, dan 3) Ilmu-ilmu Sastra.55 George Makdisi melukiskan keharmonisan ketiga pembidangan ilmu di atas sebagai piramida terbalik, atau dengan segi tiga sama kaki yang terbalik, di sebelah sudut kanan atas adalah ilmu-ilmu keagamaan, di sebelah kirinya ilmu-ilmu awail seperti filsafat dan di bawahnya ilmu-ilmu sastra yang menopang ilmu-ilmu di atasnya.56
Ibnu Khaldun (w.808 H) dalam bukunya, membuat dua pembagian besar, yaitu ilmu yang diperoleh melalui pemikiran (thabi’i) dan ilmu yang diperoleh melalui tradisi (naqli).57 Pertama disebut ilmu filsafat atau akal dan mencakup logika, fisika, metafisika, ilmu hitung, geometri, musik dan astronomi. Kedua disebut ilmu naqli yang mencakup tafsir, hadis, hukum, ilmu kalam, tasawuf dan ilmu bahasa.
Al-Ghazali (w. 1111 M) yang dipuncak ketokohannya lebih intens dalam bidang tasawuf, membagi ilmu kepada ilmu-ilmu syari’at dan non-syari’at.58 Cukup menarik, ternyata tidak saja ilmu-ilmu seperti kedokteran dan ilmu hitung yang penguasaannya dihukumi fardlu kifayah, bahkan ilmu-ilmu syari’at, seperti ilmu-ilmu Al-Qur’an, tafsir, rijal al-Hadis, ushul Fiqih dan Fiqh, oleh Al-Ghazali juga dihukumi fardlu kifayah. Sedangkan ilmu yang fardlu ‘ain hanya terbatas pada penguasaan ilmu mengenai kewajiban-kewajiban dasar yang dalam penerapannya amat ditentukan oleh waktu, situasi dan kondisi tertentu dari setiap individu.
Klasifikasi ilmu seperti di atas muncul secara wajar, dalam pandangan Ibnu Khaldun, atas fenomena pertumbuhan dan perkembangan ilmu yang amat terkait erat dengan luasnya wilayah dan beragamnya budaya maupun ilmu yang ada di daerah-daerah yang dikuasai Islam.59 Sementara secara epistemologi Islam, klasifikasi seperti itu tidak ada. Namun, perlu digaris bawahi bahwa pengklasifikasian ilmu tersebut tidak berpengaruh negatif terhadap gairah intelektual di kalangan muslim klasik. Memang secara kasuistik ada saja pertentangan, akan tetapi bukan sebagai pandangan umum (public image), seperti dijelaskan oleh Nurcholis Madjid. Ia menyatakan, “sekeras-kerasnya percekcokan intelektual di masa klasik, tidaklah hal itu membawa kepada sikap parokialistik
dan sikap anti ilmu...”60
Pada abad 13 Masehi, pemisahan secara tegas terjadi, di mana madrasah tidak lagi memasukkan ilmu-ilmu awail. Akibat tidak dimasukkannya ilmu-ilmu
awail ke dalam kurikulum madrasah, penyebaran ilmu-ilmu ini harus bergantung sepenuhnya pada usaha-usaha belajar perorangan.61 Hal ini kemudian disinyalir sebagai pemicu sikap antipati dan kecaman terhadap ilmu-ilmu awail terutama filsafat yang telah dicurigai oleh para teolog di abad kesebelas Masehi.62
Lambat laun, terbentuklah kesadaran baru yang sebenarnya amat merugikan umat Islam, yakni apa yang disebut oleh Anees sebagai “dikotomi konseptual” yang menurutnya dalam batas-batas tertentu sebagai akibat yang wajar dari ajaran sufi. Munculnya istilah ilmu terpuji (mahmûd) dan ilmu tercela
(madzmûm) berakibat pada penekanan pengetahuan keagamaan dan
dikorbankannya cabang-cabang pengetahuan lainnya. Menurutnya, hal ini menimbulkan kontradiksi yang besar dan membekas ke dalam kultur umat Islam belakangan yang tidak dapat dihilangkan.63
E. Penutup
Ilmu Pengetahuan merupakan aspek terpenting dalam perkembangan peradaban. Dalam Islam, ilmu pengetahuan mendapatkan perhatian serius sebagaimana terkandung dalam ayat-ayat Al-Qur’an maupun hadis-hadis Nabi. Pemaknaan dan pemahaman terhadap kedua sumber itu yang menyebabkan perbedaan generasi umat Islam dari awal hingga sekarang. Interptreasi itu pulalah yang menyebabkan gairah inteletual dalam lembaran sejarah peradaban Islam mengalami fluktuasi.
Secara garis besar, perkembangan ilmu pengetahuan dalam peradaban Islam dibagi menjadi tiga fase: 1) Periode Klasik (650-1250 M), di mana ilmu pengetahuan mengalami kemajuan yang sangat pesat, muncul karya-karya besar dan temuan-temuan sains yang belum pernah ada sebelumnya. 2) Periode Pertengahan (1250-1800 M), gairah intelektual umat Islam terkikis dan sangat merosot. Tidak ada lagi buah karya atau penemuan sains yang dihasilkan oleh ilmuwan muslim. Perhatian terhadap ilmu pengetahuan sangat menurun. 3) Periode Modern (1800 M – Sekarang), umat Islam mulai menyadari keterpurukan dan ketertinggalannya utamanya dalam bidang sains dan teknologi. Spirit ini melahirkan beberapa model gerakan pembaharuan dalam interpretasi dan implementasi terhadap ajaran Islam. Secara umum, ada empat model gerakan pembaharuan yang muncul; Wahabiyah, Modernisme, Westernisme dan Sekularisme.
Catatan:
1
Muhammad Gharib Gaudah, 147 Ilmuwan Terkemuka dalam Sejarah Islam, terjemahan Muhyiddin Mas Rida (Jakarta: Pustaka A-Kautsar, 2012), h. 7-8.
2
Ibid., h. 5.
3
QS. 96:1-5.
4
M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Tematik Atas Pelbagai Persoalan Umat (Bandung: Mizan, 2013), h. 569-570.
5
Secara garis besar, fase sejarah Islam dibagi menjadi tiga; a) Periode Klasik yang dimulai sejak tahun 650-1250 M dan merupakan periode kemajuan Islam dalam berbagai bidang kehidupan dan ilmu pengetahuan, b) Periode pertengahan dimulai sejak 1250 – 1800 M, dengan semakin meningkatnya disintegrasi tidak hanya dalam bidang politik, tetapi juga dalam paham keagamaan dan sektarian, Fase Tiga Kerajaan Besar (kerajaan Usmani di Turki, kerajaan Safawi di Persia, dan kerajaan Mughal di India) dimulai sejak tahun 1500 – 1700 M., c) Periode Modern yang dimulai sejak 1800 M – sekarang. Lihat: Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspek (Jakarta: UI-Press, 1985), h. 56-88. Lihat juga: Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam
(Bandung: Pustaka Setia, 2008), h. 22.
6
Abraham S. Halkin, The Judeo-Islamic Ages & Ideas of the Jewish People (New York: The Modern Library, 1956), h. 218-219.
7
Raghib Al-Sirjany, Madza Qaddama Al-Muslimun li Al-‘Alam: Ishamat Al-Muslimin fi Al-Hadlorat Al-Insaniyyah (Kairo: Muassasah Iqra’, 2009), Juz 1, h. 49.
8
QS. Al-Hujurat, 13; Al-Anbiya’ 107, dan Saba’, 28.
9
Abu Bakar Ahmad ibn Al-Husayn Al-Baihaqi, Syu’ab Al-Iman, Maktabah Syamilah 2, juz 2, h. 177.
10
Muhammad ibn ‘Afifi Al-Khudary, Nur Al-Yaqin fi Sirat Sayyid Al-Mursalin (Beirut: Dar Al-Ma’rifah, 2004), h. 30.
11
Syamsul Bakri, Peta Sejarah Peradaban Islam (Yogyakarta: Fajar Media Press, 2011), h. 5. Baca pula: Rolland E. Miller, “Christian-Muslim Relations; A Study Program of The Lutheran World Federation 1992-2002” dalam Dialogue and Beyond: Christian and Muslims Together on The Way (Switzerland: The Lutheran World Federation, 2003), h. 23.
12
QS. Al-Hujurat, 13.
13
Raghib Al-Sirjany, Madza Qaddama Al-Muslimun..., h. 55-56.
14
Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an..., h. 571.
15
QS. Al-Baqarah, 31-32.
16
Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an..., h. 572.
17
Abu Bakar Ahmad ibn Al-Husayn Al-Baihaqi, Sunan Al-Baihaqi Al-Kubra (Mekkah: Dar Al-Baz, 1994), Juz 10, h. 191.
18
Umar Sulaiman, Islam Kosmopolitan: Ikhtiar Pembumian Nilai-Nilai Transenden- Humanis di Ruang Publik (Yogyakarta: Freshbooks, 2012), h. 325-331.
19
Syamsul Arifin, et, al, Spiritualitas Islam dan Peradaban Masa Depan (Yogyakarta: SIPPRESS, 1996), h. 21.
20
Harun Nasution, Falsafah dan Mistisisme dalam Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 1992), h. 61.
21
Roder Garaudi, Promisses De L-Islam, terjemahan H.M. Rasjidi, dengan judul Janji- Janji Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 1983), h. 56.
22
Mohammad Athiyah Al-Abrasyi, Al-Tarbiyah Al-Islamiyyah, terjemahan Bustani A. Gani dan Johar Bahry dengan judul “Dasar-Dasar Pendidikan Islam” (Jakarta: Bulan Bintang, 1974), h. 107.
23
Harun Nasution, Islam ditinjau dari berbagai aspeknya. Lihat pula: Harun Nasution,
Islam Rasional (Bandung: Mizan, 1994), h. 112.
24
Ralph Schroeeder, Max Weber and The Sociology of Culture (London: Sage, 1992), h. 150-151.
25
Syamsul Bakri, Peta Sejarah Peradaban Islam, h. 19-20.
26
Shwaki Abu Khaleel, Islam on the Trial (Beirut: Dar Al-Fikr, 1991), h. 52.
27
Bryan S. Turner, Menggugat Sosiologi Sekuler, terjemahan Mudhofir (Yogyakarta: Suluh Press, 2005), h. 54.
28
Abdur Rahman Ibn Khaldun, Muqaddimah Ibn Khaldun (Beirut: Dar Al-Kotoob Al- Ilmiyyah, t.t.), hal. 344-345.
29
Harun Nasution, Islam ditinjaudari Berbagai Aspeknya, h. 71.
30
Syamsul Bakri, Peta Sejarah Peradaban Islam, h. 11.
31
Harun Nasution, Islam ditinjaudari Berbagai Aspeknya, h. 70.
32
Ibid., h. 71.
33
Gharib Gaudah, 147 Ilmuwan Terkemuka..., h. 68-77.
34
Ibid., h. 107-118.
35
Umar Sulaiman, Islam Kosmopolitan..., h. 265-266.
36
Harun Nasution, Islam ditinjaudari Berbagai Aspeknya, h. 74.
37
Umar Sulaiman, Islam Kosmopolitan, h. 266.
38
Harun Nasution, Islam ditinjaudari Berbagai Aspeknya, h. 82.
39 Ibid., h. 83. 40 Ibid., h. 84. 41 Ibid., h. 85-86. 42 Ibid., h. 87-88. 43
Ismail Raj’i Al-Faruqi, Tawhid, terjemahan Rahmani Astuti (Bandung: Pustaka, 1982), h. vii.
44
Amien Rais dalam John J. Donohue, Islam dan Pembaharuan : Ensiklopedi Masalah- Masalah, terjemahan (Jakarta: Raja Grafindo Press, 1995), h. x.
45
Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam: Sejarah Pemikiran dan Gerakan (Jakarta: Bulan Bintang, 1975), h. 25.
46
Amien Rais dalam John J. Donohue, Islam dan Pembaharuan...
47
Ibid., h. xii.
48
Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam..., h. 66.
49
Ibid., h. 167.
50
Musyrifah Sunanto, Sejarah Peradaban Islam Indonesia (Jakarta: Rajawali Press, 2005), h. 306.
51
52
Muhammad ibn Idris Al-Syafi’i, Al-Risalat (Beirut: Dar Al-Kutub Al-‘Ilmiyyah, t.t.), h. 357-360.
53
A. Qadri Azizy, Pengembangan Ilmu-Ilmu Keislaman (Jakarta: Direktorat Perguruan Tinggi Agama Islam Departemen Agama Islam RI, 2003), h. 16.
54
Harun Nasution, Islam Rasional, h. 317.
55
Mufiq Al-Din Abu l-Abbas Ahmad ibn al-Qasimi ibn Khalifat ibn Yunus Ibn Abi ‘Ushaibi’at, ‘Uyun al-Anba’ fi Thabaqat al-Atibba’, Ed. Nizar Ridla (Beirut: Dar Maktabah Al- Hayah, 1965), Juz 1, h. 327.
56
George Makdisi, The Rise of Colleges: Institutions of Learning in Islam and the West
(Edinburgh: Edinburgh Unibersity Press, 1981), h. 75.
57
Ibn Khaldun, Muqaddimah, h. 345.
58
Al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulum Al-Din (t.tp: Dar Al-Ihya’ al-Kutub Al-‘Arabiyah, t.t.), h. 16- 18.
59
Ibnu Khaldun, Muqaddimah, h. 344-345.
60
Nurcholis Madjid, Islam, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Makalah Seminar Nasional tentang Islam dan Ilmu Pengetahuan di IAIN STS Jambi tanggal 18-19 September 1992, h. 1.
61
Sayili, Sebab-Sebab Kemunduran Sains dalam Islam, dalam Majalah Al-Hikmah 13, 1994, h. 85.
62
Persentuhan Islam dengan Filsafat secara sistematis dimulai ketika terjadi gerakan penerjemahan buku-buku Yunani ke dalam bahasa Arab dalam tiga periode. Pertama, dimulai pada masa khalifah Al-Manshur (733-774 M) sampai penghujung masa khalifah Harun Al-Rasyid (786 M). Kedua, di masa Al-Makmun (813 M). Ketiga, di abad kesepuluh Masehi. Lihat, Yunasril Ali,
Perkembangan Pemikiran Falsafi dalam Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 1991), h. 8-10.
63
Munawar Ahmad Anees, Menghidupkan Kembali Ilmu, Al-Hikmah 3 (Bandung: Yayasan Muthahari, 1991), h. 77.