• Tidak ada hasil yang ditemukan

Keadilan dan Keseimbangan

Dalam dokumen Buku Studi Islam Editor 2015 (Halaman 57-62)

ISLAM DAN TEORI EKONOMI MODERN

D. Perekonomian Islam

2. Keadilan dan Keseimbangan

Yang dimaksud dengan landasan keadilan dan keseimbangan ini adalah bahwa seluruh kebijakan dan kegiatan ekonomi harus dilandasi paham kedilan, yakni menimbulkan dampak positif bagi pertumbuhan dan pemerataan pendapatan dan kesejahteraan seluruh lapisan masyarakat. Adapun yang dimaksud dengan keseimbangan adalah suatu keadaan yang mencerminkan kesetaraan antara pendapatan dan pengeluaran, pertumbuhan dan pendistribusian, dan antara pendapatan kaum yang mampu dan yang kurang mampu.

Firman Allah dalam Surah Al-Hasyr (59): 7, yang artinya: “Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, untuk Rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.

Dalam Surah Al-Taubah (9): 34, yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan

rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih

Dalam Surah Al-Furqan (25); 67, yang artinya: “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.

3. Kebebasan

Kebebasan mengandung pengertian bahwa manusia bebas melakukan seluruh aktiviitas ekonominya sepanjang tidak ada ketentuan Allah yang melarangnya. Landasan kebebasan ini menunjukkan bahwa melakukan inovasi dan kreativitas ekonomi adalah suatu keharusan.

Manusia yang baik menurut Allah SWT. adalah manusia yang dapat menggunakan kebebasannya itu dalam rangka penerapan tauhid dan keseimbangan di atas. Yakni, bahwa adanya kebebasan tersebut merupakan ciptaan dan anugerah Allah SWT. Ia tidak tunduk pada siapapun kecuali kepada Allah.

Al-Qur’an Surah (13): 36, yang artinya: “Orang-orang yang telah Kami berikan kitab kepada mereka bergembira dengan kitab yang diturunkan kepadamu, dan di antara golongan-golongan (Yahudi dan Nasrani) yang bersekutu, ada yang mengingkari sebahagiannya. Katakanlah "Sesungguhnya aku hanya diperintah untuk menyembah Allah dan tidak mempersekutukan sesuatupun dengan Dia. Hanya kepada-Nya aku seru (manusia) dan hanya kepada-Nya aku kembali".

Al-Qur’an surah (31): 32, yang artinya: “Dan apabila mereka dilamun ombak yang besar seperti gunung, mereka menyeru Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai di daratan, lalu sebagian mereka tetap menempuh jalan yang lurus. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami selain orang-orang yang tidak setia lagi ingkar.”

Sehubungan kebebasan tersebut, maka muncul tiga hal penting sebagai berikut. Pertama, bahwa adanya kebebasan yang dimiliki seseorang tidak boleh mengganggu atau membatasi kebebasan orang lain. Kedua, bahwa adnya kebebasan yang dimiliki seseorang menunjukkan bahwa dalam Islam tidak diakui adanya perbudakan sebagaimana yang pernah terjadi di zaman Jahiliyah atau di zaman modern saat ini. Ketiga, bahwa kebebasan individu dalam etika Islam diakui selama tidak bertentangan dengan kepentingan sosial yang lebih besar atau sepanjang individu tidak melangkahi hak-hak orang lain. Dalam Al-Qur’an surah

Al-Lail (92): 4, disebutkan, yang artinya: “…. sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda.

4. Pertanggungjawaban

Menurut Islam, bahwa sungguhpun manusia diberikan kebebasan untuk menentukan jalan hidup dan memilih bidang usaha ekonomi yang akan dilakukan, namun kebebasannya ini harus bertanggung jawab, atau dapat dipertanggung- jawabkan secara sosial, etik dan moral, yakni kebiasan yang dapat dipertanggungjawabkan di hadapan manuisa atau kebebasan yang tidak bertentangan dengan kebebasan yang dimiliki orang lain, serta kebebasan yang berjalan di atas landasan etika dan sopan santun masyarakat yang beradab, dan bukan kebebasan tanpa etika seperti kebebasan binatang, dan kebeasan yang sejalan dengan nilai-nilai moral yang dijunjung tinggi, seperti kejujuran, keadilan, dan kebenaran.

Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW. bersabda: “Seseorang pada hari akhir nanti pasti akan ditanya tentang empat hal: usianya untuk apa dihabiskan, jasmaninya untuk apa digunakan, hartanya dari mana didapatkan dan untuk apa digunakan, dan ilmunya untuk apa digunakan.” (HR. Abu Daud)

Ada beberapa pengertian tentang ekonomi Islam yang dikemukakan oleh para ahli ekonomi Islam, antara lain:8

a. M. Akram Kan

Islamic economics aims the study og the human falah (well-being) achieved by organizing the resources of the earth on the basic of cooperation and participation. Secara lepas dapat kita artikan bahwa ilmu ekonomi Islam bertujuan untuk melakukan kajian tentang kebahagiaan hidup manusia yang dicapai dengan mengorganisasikan sumber daya alam atas dasar bekerja sama dan partisipasi.

b. Muhammad Abdul Manan

Islamic economics is a sosial science which studies the economics problems of a people imbued with the values of Islam. Jadi, menurut Manan ilmu ekonomi Islam adalah ilmu pengetahuan sosial yang mempelajari masalah- masalah ekonomi masyarakat yang diilhami oleh nilai-nilai Islam.

c. M. Umer Chapra

Islamic economics was difined as that branch of knowledge which helps realize human well-being through an allocation and distribution of scarce resources that is in conformity with Islamic teaching with out unduly curbing individual freedom or creating continued macroeconomic and ecological imbalances. Jadi, menurut Chapra ekonomi Islam adalah sebuah pengetahuan yang membantu upaya realisasi kebahagiaan manusia melalui alokasi dan distribusi sumber daya yang terbatas yang berada dalam koridor yang mengacu

pada pengajaran Islam tanpa memberikan kebebasan individu atau tanpa perilaku makro ekonomi yang berkesinambungan dan tanpa ketidakseimbangan lingkungan.

Pandangan lainnya, bahwa ekonomi Islam mengandung beberapa prinsip pokok tentang kebijakan ekonomi Islam yang dijelaskan dalam Al-Qur’an adalah sebagai berikut:9

a. Allah SWT. adalah Penguasa tertinggi sekaligus pemilik absolut seluruh alam semesta.

b. Manusia hanyalah khalifah Allah SWT. di muka bumi, bukan pemilik yang sebenarnya.

c. Semua yang dimiliki dan di dapatkan manusia adalah atas rahmat Allah SWT. Oleh karena itu, manusia yang kurang beruntung mempunyai hak atas sebagian kekayaan yang dimiliki saudaranya.

d. Kekayaan harus berputar dan tidak boleh ditimbun.

e. Eksploitasi ekonomi dalam segala bentuknya, termasuk riba, harus

dihilangkan.

f. Menerapkan sistem warisan sebagai mediasi redistribusi kekayaan yang dapat mengeliminasi berbagai konflik individu.

g. Menetapkan berbagai bentuk sedekah, baik yang bersifat wajib maupun sukarela, terhadap para individu yang memiliki harta kekayaan yang banyak untuk membantu para anggota masyarakat yang tidak mampu

G. Konsep Uang dalam Ekonomi Islam

Dinar adalah mata uang yang dibuat dari logam emas, sedangkan dirham dibuat dari logam perak. Dipilih menggunakan logam emas dan perak dengan alasan, pertama karena kedua logam tersebut memiliki karakteristik barang yang awet, kedua bisa dipecah menjadi satuan-satuan yang lebih kecil, ketiga senantiasa sesuai antara nilai intrisiknya dengan nilai nominalnya. Sehingga ekonomi lebih stabil dan inflasi bisa terkendali. Hal ini berbeda dengan uang kertas yang nilai nominalnya tak seimbang dengan nilai intrisiknya (nilai materialnya). Sistem ini rawan goncangan krisis dan rawan inflasi.

Rasulullah SAW. telah menetapkan emas dan perak sebagai uang. Beliau menjadikan hanya emas dan perak saja sebagai standar uang. Standar nilai barang dan jasa dikembalikan kepada standar uang dinar dan dirham ini.

Sistem uang kertas yang baru berlangsung sekitar 300 tahun, telah terbukti menimbulkan banyak bencana di berbagai Negara. Sedangkan mata uang dinar dan dirham yang telah berlangsung lebih dari 3000 tahun terbukti dalam sejarah tidak menimbulkan bencana krisis moneter, sebab nilai nominalnya dan kondisi ini tidak mengundang spekulasi dengan margin trading, seperti sekarang ini.

Untuk kembali kepada penggunaan uang emas dan perak, merupakan sesuatu yang sangat sulit. Hal ini disebabkan terbatasnya jumlah cadangan emas dan perak. Akibatnya kebutuhan transaksi dalam perekonomian yang cepat berakselerasi, tidak sebanding dengan cadangan emas yang tersedia. Kondisi inilah yang membuat percetakan uang kertas tidak lagi perlu dijamin oleh cadangan emas atau logam mulia.

Realitas ini, selanjutnya mengundang terjadinya bisnis spekulasi mata uang yang disebut dengan transaksi maya. Uang telah dijadikan sebagai komoditas yang diperdagangkan, bukan untuk kebutuhan sektor riil. Padahal, dalam konsep ekonomi Islam, uang tidak boleh digunakan sebagai komoditas, karena itu ekonomi Islam dengan tegas melarang spekulasi mata uang. Tujuh ratus tahun sebelum Adam Smith menulis buku The Wealth of Nations, seorang tokoh bernama Al-Ghazali, telah membahas fungsi uang dalam perekonomian.10

H. Pengertian Uang

Taqyuddin An-Nabhani, dalam buku An-Nizhâm Al-Iqtishâdi Al-Islâmi, mengatakan, uang adalah standar nilai pada barang dan jasa. Oleh karena itu, dalam ekonomi Islam, uang didefinisikan sebagai sesuatu yang dipergunakan untuk mengukur harga setiap barang dan jasa.11

Al-Ghazali berpendapat, bahwa dalam ekonmi barter sekalipun, uang diubutuhkan sebagai ukuran nilai atau barang. Misalnya, unta nilainya 100 dinar dan satu gantang gandum harganya sekian dirham. Dengan adanya uang sebagai ukuran nilai, maka uang berfungsi pula sebagai media pertukaran (medium of exchange). Namun harus dicatat, bahwa dalam ekonomi Islam, uang tidak dibutuhkan uantuk uang itu sendiri. Uang diciptakan untuk melancarkan pertukaran dan menetapkan nilai yang wajar dari pertukaran barang atau jasa. Karena ketidakadilan dalam ekonomi barter, digolongkan sebagai riba fadhl.

Peranan uang sebagai gudang nilai (store of value) juga diatur oleh Nabi Muhammad SAW., yaitu ketika beliau mewajibkan zakat atas asset moneter (emas dan Perak). Secara tidak langsung Nabi mengatakan, bahwa uang sebagai faktor produksi mempunyai potensi untuk berkembang melalui usaha-usaha produktif.

Beliau telah membuat standar uang ini dalam bentuk uqiyah, dirham, mitsqal, dan dinar. Semua ini sudah dikenal dan sangat masyhur pada masa Nabi SAW., di mana masyarakat Arab telah mempergunakannya sebagai alat tukar dan ukuran nilai dalam bentuk transaksi.

Merujuk pada Al-Qur’an, Al-Ghazali mengecam orang yang menimbun uang. Orang demikian, dikatakannya sebagai penjahat. Yang lebih buruk lagi adalah orang yang melebur dinar dan dirham menjadi perhiasan emas dan perak.

Dalam dokumen Buku Studi Islam Editor 2015 (Halaman 57-62)