• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV USULAN PROGRAM SEBAGAI USAHA

C. Gambaran Umum Program

7. Contoh persiapan rekoleksi

1). Tema : Makna kaul kemiskinan dan persaudaraan menurut pandangan Muder Anselma Bopp dan St. Fransiskus Asisi.

2). Tujuan : Membantu peserta agar memahami makna kaul kemiskinan dan persaudaraan menurut Mdr. Anselma Bopp dan St. Fransiskus Asisi

3). Peserta : Suster-suster FSGM di wilayah Jawa 4). Tempat : Komunitas FSGM

5). Hari/Tgl : Sabtu dan Minggu 11-12 Januari 2020 6). Waktu : Pkl. 16.00- 14.00 WIB

7). Model : Rekoleksi

8). Metode : Informasi, Tanya jawab, Sharing, Refleksi pribadi.

9). Saran : Laptop, Proyektor, Saudsytem, Hand Out, Kitab Suci, Konstitusi, AD III, Teks Lagu

10). Bahan : Flp 2:5-7, Konstitusi, AD III 11). Jadwal rekoleksi :

Tabel IV Susunan Acara

Waktu Acara

16.00-16.15 Pengantar

16.15-18.30 Sesi I: Menonton film “ Fransiskus Asisi” dan pendalaman film

18.30-19.30 Makan Malam

19.30-21.00 Sesi II: Sharing dalam kelompok (4-5) orang tentang penghayatan kaul kemiskinan dalam persudaraan FSGM.

21.00 Doa malam istirahat 05.30-06.00 Ibadat pagi

06.00-06.30 Meditasi pribadi ( Flp 2:5-7) 06.30-07.30 Sarapan

08.30-10.00 Sesi III Penyampaian materi tentang tantangan kaul kemiskinan di zaman modern dan cara menyikapinya

10.00-10.30 Snack

10.30-11.30 Sesi IV: Penyampain materi tentang kaul kemiskinan dalam persaudaraan menurut konstitusi FSGM

11.30-12.00 Sesi V: Membuat aksi hidup baru 12.00-12.45 Sesi VI: Perayaan Ekaristi

12.45 Makan siang sayonara

b. Pemikiran Dasar

Seorang religius memiliki konsekuensi atas pilihan hidup yang tidak semua orang mampu memahami cara hidup kecuali orang-orang tertentu.

Memahami dan mengerti bahwa apapun bentuk panggilan seseorang yang jelas membutuhkan konsekuensi atas pilihan yang diambil. Mengikuti Kristus yang miskin merupakan bentuk konkrit dari kepercayaan yang absolut dan total dalam ikut ambil bagian misteri salib Kristus dan kesetiaan kepada kehendak Bapa.

Dari penelitian yang dilakukan menemukan bahwa seorang suster FSGM, terus menerus meningkatakan penghayatan hidup dalam persudaraan FSGM agar semakin mampu menjalani konsekuensi atas pilihan hidup untuk mengikuti Kristus yang miskin. Membutuhkan proses yang terus menerus dalam memperjuangkan penghayatan kaul kemiskinan dalam persaudaraan FSGM.

Diharapkan agar kaum religus mengalami kegembiraan sejati dalam mengikuti Kristus serta percaya akan penyelenggaraan Ilahi. Sebagai manusia rapuh dan lemah pastinya tidak luput dari kekeringan dan krisis dalam hidup panggilan, maka tetaplah mengandalkan Tuhan dalam penyelenggaraan-Nya karena pilihan hidup ini bukan manusia yang memilih tetapi Dia yang memilih maka Ia akan menyelesaikan segala persoalan hidup, Yesus hanya meminta kesetiaan dari manusia karena telah memilih hidup ini.

c. Langkah-Langkah Pelaksaan Rekoleksi 1) Pengantar

Para suster yang terkasih kita bersyukur atas kasih setia Tuhan yang senantiasa menyertai kita, yang telah mengumpulkan kita di tempat ini. Pada pertemuan yang pertama ini, kita awali dengan menggali pengalaman penghayatan kul kemiskinan dalam persaudaraan yang akan dibagi kepada sesama melalui sharing. Dua kita akan melihat tantangan-tantangan penghayatan kaul kemiskinan di zaman modern ini serta cara menyikapinya. Tiga kita memperoleh peneguhan tentang kaul kemiskinan dan persaudaraan yang ditimba dari dokumen-dokumen yang akan kita dalami bersama. Empat kita diajak untuk membangun hidup baru dengan merencanakan suatu tindakkan kongret sebagai perwujudan dari niat-niat untuk meningkatkan penghayatan kaul kemiskinan dalam persaudaraan. Pertemuan ini bertujuan agar kita dapat memaknai penghayatan kaul kemiskinan dan persaudaraan yang telah dihayati selama ini.

2) Lagu Pembuka

Kurenungkan kasih Tuhan yang memancar di setiap waktu Dari lambung-Mu mengalirkan air dan darah untuk hidup ku Kusiap siaga menaggung perendahan-Nya

Dalam kemiskinan kerendahan hati dan pengosongan diri Memancarkan cinta kasih Allah

Penuh kerahiman dalam pengabdian untuk kehidupan baru.

3) Doa pembuka

Allah Bapa yang Maha baik dan Maha murah, kami bersyukur dan berterimakasih kepada-Mu atas segala rahmat yang telah Engkau anugerahkan kepada kami sampai saat ini. Kami bersyukur karena Engkau telah mengumpulkan kami di tempat ini sebagai satu saudara dalam keluarga FSGM.

Sekarang kami ingin membagikan pengalaman hidup kami yang telah kami pilih untuk mengikuti Engkau, dalam karya pelayanan yang Engkau percayakan kepada kami masing-masing melalaui terekat kami. Mampukanlah kami untuk tetap bahagia di mana pun kami berada agar dengan kehadiran kami banyak orang mengalami kasih dan kehadiran-Mu. Semoga Engkau tetap menuntun dan membimbing kami bila kami jauh dari pada-Mu, kuatkalah kami bila kami mengalami tantangan dan hiburlah kami bila kami mengalami kesepian ini semua kami mohon dengan perantaan Yesus Putera-Mu yang hidup dan berkuasa kini dan sepanjang masa Amin.

4) Sesi I

Menonton Film “ St. Fransiskus Asisi

Pendalaman tentang film “St. Fransiskus Asisi dengan panduan pertanyaan a) Apa yang mengesan bagi ku dari pribadi Fransiskus Asisi?

b) Nilai-nilai apa saja yang mengispirasi hidupku dari cara hidup Fransiskus Asisi?

c) Apa yang mendorong Fransiskus melakukan hal-hal tersebut?

d) Apa saya ungkapan penghayatan kaul kemiskinan yang dilakukan Fransiskus Asisi ?

e) Apakah saya juga memiliki pengalaman yang sama seperti yang dilakukan Fransiskus?

5) Sesi II

Sharing pengalaman dalam kelompok 4-5 orang tentang penghayatan kaul kemiskinan dan persaudaraan dengan panduan sebagai berikut:

a) Dengan bercermin pada contoh bapa Fransiskus Asisi, apa yang mendorong suster untuk menghayati kaul kemiskinan dan persaudaraan?

b) Apakah suster merasa terpaksa dalam menghayati kaul kemiskinan dan persaudaraan? Mengapa?

c) Apa makna penghayatan kaul kemiskinan dan persaudaraan bagi suster?

6) Sesi III

Materi tentang tantangan penghayatan kaul kemiskinan di zaman modern dan cara mengatasinya.

a) Nafsu akan Harta Benda

Tantangan untuk menghayati kaul kemiskinanna di zaman ini adalah orang haus akan harta benda yang hanya memuaskan diri sesaat. Orang yang demikian biasanya membeli barang-barang yang bukan merupakan kebutuhan tetapi hanya karena senang dan tidak memikirkan orang lain yang lebih membutuhkan.

(VC.89).

b) Kemalasan

Malas berarti orang yang tidak mempunyai semangat untuk melakukan sesuatu didalam hidupnya, tidak memiliki gairah hidup dan tidak mau mengerjakan yang menjadi tugasnya. Orang yang malas bekerja berarti melanggar kaul kemiskinan di mana seharusnya bekerja rajin dan bersemangat sebagai tanda hidup sederhana dalam mengikuti Tuhan. Kemalasan jelas akan berdampak pada tingkah laku misalnya tidak optimal dalam mengembangkan hidupnya dan tidak optimal dalam menjalankan tugas perutusan. Kemalasan akhirnya bisa menjadi jalan masuk setan untuk menggodanya agar tidak setia pada hidup membiara (Suparno, 2016:54-55).

c) Menyikapi Tantangan Kaul Kemiskinan d) Persatuan Pribadi dengan Tuhan

Kaum religius dipanggil oleh Tuhan untuk bersatu dengan Yesus dan untuk digunakan oleh Yesus dalam karya keselamatan-Nya. Menghadapi berbagai persolan atau tantangan dalam hidup terutama yang datang dari diri sendiri, kita perlu memupuk kesatuan dengan Tuhan secara pribadi. Kesatuan dengan Tuhan memberikan kekuatan dan daya tahan yang besar dalam menghadapi tantangan.

Salah satu membangun relasi yang dekat dengan Tuhan adalah perlu rajin berdoa, meditasi, kontemplasi dan bersemadi. Selain itu juga kita dapat menimba dari sakramen-sakramen yang rutin diterima setiap hari misalnya sakramen Ekaristi yang memberikan kekuatan dan kelegaan dalam hidup karena kita bersatu erat dengan Yesus (Suparno, 2016:152).

e) Membangun Semangat Lepas Bebas

Semangat lepas bebas terhadap keinginan yang tidak teratur perlu dikembangkan, sehingga keputusan selalu dipikirkan dengan matang. Dalam semangat lepas bebas hanya Tuhan yang diutamakan sedangkan yang lain tidak dianggap penting. Seperti Paulus, sejak bertemu Yesus semuanya dianggap sampah, tidak berati lagi. Dalam banyak tantangan, terutama yang mengajak kita mencari kepuasan diri, sangat penting mengembangkan semangat lepas bebas hanya untuk Tuhan, seperti dalam doa-doa FSGM “Semua untuk kemuliaan Tuhan”. Semangat lepas bebas dapat dilatih dengan bertindak melawan keinginan yang tidak teratur dan mencari kesenangan sendiri (Suparno, 2016:155).

Para suster yang terkasih untuk lebih mendalami penghayatan kaul kemiskinan dan persaudaraan, di bawa ini panduan pertanyaan untuk refleksi pribadi.

a) Apa tantangan bagi para suster dalam menghayati kaul kemiskinan dan persaudaraan di zaman ini?

b) Bagaimana cara menyikapi tantangan tersebut?

7) Sesi IV

a) Makna kaul kemiskinan dan persaudaraan menurut Konstitusi FSGM

Suster-suster Fransiskan Santo Georgius Martir (FSGM) termasuk dalam Ordo Ketiga Reguler Santo Fransiskus dari Asisi, untuk mengikuti Kristus yang murni, miskin dan taaat dan bermaksud mengikuti Kristus dengan hidup dalam kesatuan persaudaraan. Dalam Anggaran Dasar dan Konstitusi para suster FSGM,

maklumat yang disampaikan oleh (Yohanes Paulus II, 1982:5) mengatakan

“Dengan berpegang pada teladan St. Fransiskus dari Asisi, para anggota Ordo Ketiga Reguler berusaha mengikuti Kristus dengan hidup dalam persekutuan sebagai saudara, berkaul secara resmi untuk menepati nasihat injil ketaatan, kemiskinan dan kemurnia, serta membaktikan diri pada berbagai jenis dan kerasulan. Agar mewujudkan cita-cita hidup mereka, maka mereka tekun menjalankan kebiasaan berdoa, membina cintakasih yang sejati di antara mereka serta menjalankan pertobatan yang benar dan pengikaran diri secara kristen.

Suster-suster Fransiskan Santo Georgius Martir (FSGM) sebagai salah satu dari kongregasi Ordo Ketiga Regular Santo Fransiskus berusaha untuk mengikuti dan menghidupi semangat hidup Tuhan Yesus Kristus yang ditandai oleh kemiskinan, kerendahan hati dan kesederhanaan. Ia yang karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya karena kemiskinan-Nya (2Kor 8:9). Yesus menaruh perhatian pada fakir miskin, orang lemah dan orang sakit serta hidup diantara mereka sebagai sahabat dan saudara. Semangat Yesus inilah yang menggerakan hati para pendiri kongregasi FSGM untuk membuka karya sosial dan juga berbagai karya-karya lainnya (konst 115).

b) Menjadi Kemiskinan Injili

Konstitusi kongregasi suster-suster FSGM (Konst 116) menegaskan bahwa sebagai Fransiskan dipanggil menjadi saksi kemiskinan injili, juga pada zaman sekarang. Menurut St Fransiskus, kemiskinan dan kerendahan hati tak tercerikan. Orang yang miskin dalam roh mengikuti teladan Kristus melepaskan secara bebas kehendak sendiri dan menundukan diri secara utuh kepada kehendak

Allah (1Ptr 5:6). Menjadi pelayan dan penolong sesama dan merendahkan diri secara sukarela (Luk 22:27).

c) Hubungan Harta Benda

Anggaran Dasar Ordo Ketiga Reguler Santo Fransiskus (Art 21b) dikatakan bahwa “Hendaklah mereka ingat bahwa dari segalanya di dunia ini, tidak ada yang perlu kita miliki keculai seperti kata Rasul- makanan dan pakian, cukulah itu untuk kita”.

Dengan kata-kata yang diambil dari AngTBul, AngOrReg mengingatkan bahwa Kristus mesti menjadi kriterial normatif dari hidup dalam kemiskinan, juga dalam hubungan dengan barang duniawi. Hidup dalam kemiskinan, dengan kesatuan pada hidup Kristus yang miskin dan rendah yang tidak mempunyai tempat untuk meletakan kepala-Nya (Mat 8:20) mempunyai konsekuensi dalam hidup sosial. Karena dipanggil untuk menghayati kemiskinan Kristus dan Gereja seturut teladan para rasul(Syukur, 2006:127-128). Dalam konstitusi Suster-suster FSGM (Konst 117-118) dikatakan bahwa: Dengan mengamalkan kemiskinan para suster menghargai dunia dan kekayaan. Bergembiraan atasnya, mengakui nilai-nilainya serta memuji Tuhan dalam dan atas keagunga-Nya kepada manusia sebagai anugerah dan tugas (Bdk. Kej 1:28). Dengan rasa hormat dan terimakasih menerima barang-barang duniawi untuk dimanfaatkan demi pelaksanaan tugas, mengolah dan menggunakan benda dengan semestinya menjadi bagian dari rencana Allah, memuliakan Allah dan menyempurnakan pencipta.

d) Mengalami Hidup Orang Miskin

Selaras dengan Tradisi gerakan fransiskan akan pertobatan, saudara-saudari dididik untuk merasakan bahwa kegembiraan, harapan, kesedihan, dan kecemasan orang-orang zaman sekarang terutama kaum miskin merupakan kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan para murid Kristus (GS 92).

Dengan mendengar jeritan orang miskin yang menderita, saudara-saudari menjadi sesama bagi mereka dan melayani mereka dengan terus melaksanakan Karya kasih (Syukur, 2006:130). Dalam konstitusi dan peraturan hidup suster FSGM dikatakan bahwa: Siap melayani siapa saja yang membutuhkan pertolongan.

Sebab inilah sikap orang miskin yang sejati, yang tidak menahan sesuatu pun dari dirinya bagi diri sendiri, tetapi mengembalikan semuanya kepada Tuhan. Sebagai pengikut Kristus yang sejati hadir bagi para miskin dan orang sakit, mereka yang gagal dalam hidup dan putus asa, yang diasingkan dari masyarakat dan tertindas (Konst 120).

e) Persaudaraan dalam Tarekat FSGM

Kongregasi FSGM adalah salah satu tarekat yang mengambil pola hidup saudara-saudari Ordo Ketiga Regular Santo Farnsiskus Asisi yaitu menepati Injil suci Tuhan Yesus Kristus dengan hidup dalam ketaatan, kemiskinan, dan kemurnian. Semua dianggap saudara oleh Fransiskus karena seluruh ciptaan berasalah dari Tuhan. Relasi yang dekat dengan semua makluk menggambarkan kedekatan dengan Tuhan.

Dalam konstitusi kongregasi FSGM menekankan bahwa, hidup berkomunitas yang sejati menutut para suster agar di mana pun ditempatkan oleh

Tuhan, menerima semua anggota komunitas dan orang-orang serumah dengan rela dan membantu dengan bersikap tidak menuntut, jujur dan penuh tanggungjawab agar teciptalah keluarga yang baik (Konst. 312).

Suster-suster FSGM bersatu tidak hanya dalam kongregas sendiri, tetapi terutama pula dengan saudara-saudari ketiga ordo St. Fransiskus. Bersama dengan mereka para suster merasa bersatu dalam semangat St. Fransiskus. Karena panggilan yang sama untuk mengikuti Kristus maka bersatu juga dengan semua perserikatan religius, untuk bersama-sama memberikan kesaksian tentang persatuan, perdamaian dan keadilan dalam Kristus, yang merupakan panggilan bagi seluruh umat manusia dalam Gereja (1Kor1:30;Rm14:17), (Konst. 313).

Fransiskus Asisi mengajak semua pengikutnya untuk hidup sebagai saudara, yang berbunyi: Demi cinta kasih Allah hendaklah saudara-saudari saling mengasihi, sesuai dengan firman Tuhan: Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. Hendaklah mereka menunjukan dengan perbuatan bahwa mereka saling mengasihi (Yoh. 15:12).

Yang satu hendaknya dengan leluasan menyatakan kebutuhannya kepada yang lain, agar yang lain itu mencari apa yang dibutuhkannya serta memberikannya.

(AD 23). Dengan hidup sebagai murid Kristus menurut Injil, mereka semua menyanggupkan diri untuk melaksanakan perintah Tuhan yakni untuk saling mengasihi (bdk Yoh 13:34). Cinta kasih mendorong Kristus untuk menyerahkan diri, bahkan sampai korban termulia di Salib. Para murid hidup dalam persatuan sejati, mereka dengan murah hati melayani sesama, kesiagaan menampung dan menjadi sehati sejiwa.

Persaudaraan merupakan suatu nilai manusiawi dan kristiani adalah nilai yang amat penting dalam hidup religius dan hidup fransiskan. Sebab Allah sesungguhnya menghendaki agar semua manusia, yang diciptakan seturut gambar dan keserupaan dengan-Nya, dipanggil untuk membentuk suatu keluarga umat manusia dan memperlakukan satu sama lain dalam semangat bersaudara (Syukur, 2006:143).

Persaudaraan Fransiskan, secara hakiki meneruskan tugasnya ini dengan memberikan suatu kesaksian akan universalitas kebapaan Allah dan persaudaraan universal manusia kepada Gereja dan dunia. Persaudaraan ini terbuka kepada seluruh makluk ciptaan. Sebagai model idealnya adalah persaudaraan yang dihayati oleh Kristus dan para rasulnya (Mrk 3:14-15) (Syukur, 2006:144).

Persaudaraan fransiskan memiliki tiga unsur penting, yang harus dipahami oleh setiap anggota fransiskan yaitu:

a. Suatu persaudaraan yang menyembah, karena terdiri dari saudara-saudara yang dengan perjanjian kasih (profesi) membaktikan diri pada penyembahan Allah.

Kasih kepada Allah merupakan semangat dasar untuk mengabdaik kepada sesama manusia.

b. Suatu persaudaraan apostolis, karena dikehendaki oleh Allah dan Gereja untuk melakukan pertobatan dan mewartakan kabar keselamatan kepada semua orang.

c. Suatu persekutuan hidup dalam persaudaraan dari orang-orang yang telah percaya kepada Injil. Mereka tidak memilih sendiri, tetapi mau menerima satu sama lain sebagai saudara, karena mereka telah menerima kemurahan hati

Allah Bapa, Kristus, saudara yang sulung dan persekutuan dengan Roh Kudus (Syukur, 2006:145).

7) Sesi V

Para suster yang terkasih kita telah mendalami tentang makna kaul kemiskinan dan persaudaraan dari contoh hidup Santo Fransisikus Asisi, pengalaman kita pribadi dan dalam konstitusi kongregasi kita. Maka pada bagian ini kita diberi waktu untuk mengambil keputusan yang akan kita lakukan dalam rangka meningkatkan penghayatan kaul kemiskinan dalam persaudaraan, dengan panduan pertanyaan sebagai berikut:

a) Tindakan kongret apa yang hendak saya lakukan untuk meningkatkan penghayatan kaul kemiskinan dalam persaudaraan?

b) Apa yang saya lakukan apabila menghadapi tantangan dalam penghayatan kaul kemiskinan dalam persaudaraan?

Para suster bebas memilih tempat untuk berrefleksi dan silakan kembali berkumpul sesuai dengan waktu yang telah disepakati.

8) Sesi VI

Setelah kita merefleksikan dan merencanakan untuk membangun hidup baru dalam penghayatan kaul kemiskinan dan persaudaraan, pada kesempatan ini kita bersyukur serta memohon berkat dan kekuatan dari Tuhan agar mampu melaksanakannya dengan perayaan Ekaristi Kudus.

BAB V PENUTUP

Bab ini terdiri dari dua bagian, yakni bagian pertama menyampaikan kesimpulan berdasarkan rumus permasalahan. Bagian kedua mengemukakan beberapa saran bagi pihak dalam kongregasi yang berwewenang dalam pembinaan untuk merancang program demi meningkatkan penghayatan kaul kemiskinan dalam persaudaraan FSGM.

A. Kesimpulan

Sebagai religius yang dipilih Allah secara khusus membaktikan diri kepada Allah lewat janji yang diikrarkan. Penghayatan sebagai seorang yang terpanggil dan berkaul diharapkan agar menampakan kesetiaan dalam hidup doa, persaudaraan dalam komunitas dan semangat dalam tugas perutusan.

Dalam menjalankan kaul, seorang religius khusunya FSGM sangat dibutuhkan kesetiaan di dalam doa agar memiliki ketahanan hidup yang kuat dalam penghayatan dan perwujudan kaul-kaul yang telah diikrarkan. Dengan demikian dapat mengatasi tantangan dan kesulitan sehubungan dengan kaul-kaul di zaman modern ini.

Ada berbagai macam upaya yang dilakukan oleh kongregasi untuk membantu mengatasi tantangan dalam penghayatan kaul-kaul seperti rekoleksi, retret, pertemuan angkatan, week-end, pendalaman spiritualitas, visi dan misi kongregasi, adorasi bersama, doa bersama, hidup bersama dalam komunitas dan tugas perutusan. Kaum religius sering mengikuti rekoleksi bulanan dalam

komunitas masing-masing tentu memiliki sebuah harapan yakni dapat mewujudkan buah-buah rohani dalam hidup karya pelayanan setiap saat.

Dalam penelitian ditemukan bahwa kaul kemiskinan yang dihayati oleh suster-suster FSGM di wilayah Jawa sudah sepenuhnya menyadari diri betapa pentingnya menghayati kaul kemiskinan dan menyatakan kesanggupan diri untuk menjalankan tugas panggilan yang dipilih secara totalitas yang lahir dari kedalaman hati bukan karena keterpaksaan. Dari data kuisioner item 1-3 tentang Bertanggungjawab atas pilihan hidup dengan terlibat aktif dan menaruh perhatian kepada orang yang membutuhkan serta berani berkata cukup dalam hal penggunaan barang-barang yang hanya sebagai pendukung dalam karya bukan menjadi budak atas barang-barang. Sikap yang perlu diwujudkan adalah memperhatikan kaum miskin dan bersifat sederhana baik dalam kata-kata, tindakan maupun dalam penggunaan barang-barang duniawi. Kekayaan rohani dan jasmani digunakan untuk sesama bukan untuk kepentingan pribadi.

Sedangkan kemiskinan komunitas adalah menumbuh kembangkan rasa solider terhadap kehidupan orang lain yang membutuhkan bantuan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penghayatan kaul kemiskinan dan persaudaraan suster-suster FSGM di wilayah Jawa, hidup dalam kesederhanaan merupakan ungkapan kebebasan dalam menggunakan barang dengan melihat manfaat dan kegunaan barang dalam tugas pelayanan setap hari. Hal ini terlihat dalam hasil penelitian bahwa suster-suster yang sungguh-sungguh menghayati kaul kemiskinan sebanyak 34 suster (83%) dari 41 suster, sedangakan 9 suster (17%) masih terus berjuang untuk menghayati kaul kemiskinan yang lebih

sungguh agar bisa menghidupi dan menjiwai dalam kehidupan sehari-hari.

Sedangkan hidup dalam persaudaraan juga masih mengalami hambatan dan kesulitan yang datang dari diri sendiri maupun dari orang lain sehingga menghambat penghayatan kaul kemiskinan dan persaudaraan dalam kehidupan setiap hari. Peneliti menemukan sebanyak 24 suster (59%) yang sudah menerima dengan baik hidup dalam persaudaraan dalam komunitas sedangkan 17 suster (41%) masih jatuh bangun dan membutuhkan perjuangan agar dapat menerima perbedaan dalam persaudaraan. Pembinaan perlu dilaksanakan sebagai upaya membantu suster-suster dalam menghayati kaul kemiskinan dan persaudaraan, sehingga dapat mengetahui kekuatan dan kelemahannya. Melalui pembinaan tersebu suster-suster FSGM diharapkan dapat memberikan diri secara totalitas bagi kongregasi sebagai penyerahan diri kepada Allah dan sesama.

B. Saran

Berdasarkan kesimpulan, penulis mengusulkan beberapa saran sebagai upaya meningkatkan penghayatan kaul kemiskinan dan persaudaraan bagi suster-suster FSGM di wilayah Jawa.

1. Kongregasi

Kongregasi perlu mengadakan Rekoleksi rutin dengan menentukan pembimbing, tema dan tempat untuk menggali kaul kemiskinan dan persaudaraan sebagai dasar usaha menghayati dan menjalankan kaul kemiskinan dan hidup dalam persaudaraan di zaman ini.

2. Komunitas

Dalam komunitas diadakan pendalaman atau sharing bersama dalam kelompok kecil untuk saling mendengarkan pergulatan atau usaha yang dilakukan oleh setiap pribadi baik dalam hidup doa, hidup bersama maupun tugas perutusan untuk menghayati kaul kemiskinan yang telah diikrarkan.

3. Setiap Suster

Masing-masing suster-suster FSGM perlu mengadakan refleksi terus menerus tentang penghayatan kaul kemiskinan dan persaudaraan sesuai dengan Konstitusi Kongregasi. Membaca buku pustaka FSGM, buku rohani, mengikuti perayaan ekarisi, bimbingan rohani, di-scerment, agar dalam diri terpancara jiwa religius FSGM yang memiliki tiga semboyan dari ibu pendiri yakni cinta akan kemiskinan, gembira dalam berkarya dan setia dalam doa.

DAFTAR PUSTAKA Darminta, J. (1975). Hidup berkaul. Yogyakarta: Kanisius.

_________. (1981). Satu Hati dan Satu Jiwa. Yogyakarta: Kanisius.

Jakobs, T. (1978). Hidup Membiara Makna dan tantangannya. Yogyakarta:

Kanisius.

Kitab Hukum Kanonik. (2016). Tarekat Hidup Bakti. Jakarta: Konferensi Wali Gereja Indonesia.

Kongregasi FSGM (2013). Hidup dan Semangat Muder M. Anselma Bopp.

Yogyakarta: Kanisius.

_______________. (1979). Anggaran Dasar dan Konstitusi. Propinsi St. Yusuf

_______________. (1979). Anggaran Dasar dan Konstitusi. Propinsi St. Yusuf