• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II MAKNA KAUL KEMISKINAN DALAM

C. Makna Kaul Kemiskinan

2. Menurut tarekat FSGM

Suster-suster Fransiskan Santo Georgius Martir (FSGM) termasuk dalam Ordo Ketiga Reguler Santo Fransiskus dari Asisi, untuk mengikuti Kristus yang murni, miskin dan taat dan bermaksud mengikuti Kristus dengan hidup dalam kesatuan persaudaraan. Dalam Anggaran Dasar dan Konstitusi para suster FSGM, maklumat yang disampaikan oleh (Yohanes Paulus II, 1982:5) mengatakan

“Dengan berpegang pada teladan St. Fransiskus dari Asisi, para anggota Ordo Ketiga Reguler berusaha mengikuti Kristus dengan hidup dalam persekutuan sebagai saudara, berkaul secara resmi untuk menepati nasihat injil ketaatan, kemiskinan dan kemurnia, serta membaktikan diri pada berbagai jenis dan kerasulan”. Agar mewujudkan cita-cita hidup mereka, maka mereka tekun menjalankan kebiasaan berdoa, membina cintakasih yang sejati diantara mereka serta menjalankan pertobatan yang benar dan pengikaran diri secara kristen.

Para suster FSGM sebagai salah satu dari kongregasi Ordo Ketiga Regular Santo Fransiskus berusaha untuk mengikuti dan menghidupi semangat hidup Tuhan Yesus Kristus yang ditandai oleh kemiskinan, kerendahan hati dan kesederhanaan. Ia yang karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya karena kemiskinan-Nya (2Kor 8:9). Yesus menaruh perhatian pada fakir miskin, orang lemah dan orang sakit serta hidup diantara mereka sebagai sahabat dan saudara. Semangat Yesus inilah yang menggerakan hati Muder M. Anselma Bopp, pendiri kongregasi FSGM untuk membuka karya sosial dan juga berbagai karya-karya lainnya (Konst 115).

a. Menjadi Kemiskinan Injili

Konstitusi kongregasi suster-suster FSGM (Konst 116) menegaskan bahwa sebagai Fransiskan dipanggil menjadi saksi kemiskinan injili, juga pada zaman sekarang. Menurut St Fransiskus, kemiskinan dan kerendahan hati tak terceraikan. Orang yang miskin dalam roh mengikuti teladan Kristus melepaskan secara bebas kehendak sendiri dan menundukan diri secara utuh kepada kehendak Allah (1Ptr 5:6). Menjadi pelayan dan penolong sesama dan merendahkan diri secara sukarela (Luk 22:27).

b. Hubungan Harta Benda

Anggaran Dasar Ordo Ketiga Reguler Santo Fransiskus (Art 21b) dikatakan Bahwa: “Hendaklah mereka ingat bahwa dari segalanya di dunia ini, tidak ada yang perlu kita miliki kecuali seperti kata Rasul- makanan dan pakaian, cukuplah itu untuk kita...

Dengan kata-kata yang diambil dari AngTBul, AngOrReg mengingatkan bahwa Kristus mesti menjadi kriteria normatif dari hidup dalam kemiskinan, juga dalam hubungan dengan barang duniawi. Hidup dalam kemiskinan, dengan kesatuan pada hidup Kristus yang miskin dan yang tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya (Mat 8:20) mempunyai konsekuensi dalam hidup sosial. Karena dipanggil untuk menghayati kemiskinan Kristus dan Gereja seturut teladan para rasul (Syukur, 2006:127-128).

Dalam konstitusi Suster-suster FSGM (Konst 117-118) dikatakan bahwa:

Dengan mengamalkan kemiskinan para suster menghargai dunia dan kekayaan. Bergembira atasnya, mengakui nilai-nilainya serta memuji

Tuhan dalam dan atas keagungan-Nya kepada manusia sebagai anugerah dan tugas (Bdk. Kej 1:28). Dengan rasa hormat dan terimakasih menerima barang-barang duniawi untuk dimanfaatkan demi pelaksanaan tugas, mengolah dan menggunakan benda dengan semestinya menjadi bagian dari rencana Allah, memuliakan Allah dan menyempurnakan pencipta.

c. Mengalami Hidup Orang Miskin

Selaras dengan Tradisi gerakan fransiskan akan pertobatan, saudara-saudari dididik untuk merasakan bahwa kegembiraan, harapan, kesedihan, dan kecemasan orang-orang zaman sekarang terutama kaum miskin merupakan kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan para murid Kristus (GS 92).

Dengan mendengar jeritan orang miskin yang menderita, saudara-saudari menjadi sesama bagi mereka dan melayani mereka dengan terus melaksanakan Karya kasih (Syukur, 2006:130).

Dalam konstitusi dan peraturan hidup suster FSGM dikatakan bahwa: Siap melayani siapa saja yang membutuhkan pertolongan. Sebab inilah sikap orang miskin yang sejati, yang tidak menahan sesuatu pun dari dirinya bagi diri sendiri, tetapi mengembalikan semuanya kepada Tuhan. Sebagai pengikut Kristus yang sejati hadir bagi para miskin dan orang sakit, mereka yang gagal dalam hidup dan putus asa, yang diasingkan dari masyarakat dan tertindas (Konst 120).

D. Tantangan Kaul Kemiskinan di Zaman Modern

Menghayati kaul kemiskinan membutuhkan perjuangan karena banyaknya tantangan yang ditemui dalam hidup ini, baik yang berasal dari dalam diri maupun dari luar diri. Berikut ini penulis akan menjelaskan beberapa tantangan kaul kemiskinan berdasarkan acuan beberapa sumber.

1. Tantangan dari Diri Sendiri a. Nafsu akan Harta Benda

Tantangan untuk menghayati kaul kemiskinanna di zaman ini adalah orang haus akan harta benda yang hanya memuaskan diri sesaat. Orang ini biasanya membeli barang-barang yang bukan merupakan kebutuhan tetapi hanya karena senang dan tidak memikirkan orang lain yang lebih membutuhkan (VC 89).

b. Kemalasan

Malas berarti orang yang tidak mempunyai semangat untuk melakukan sesuatu didalam hidupnya, tidak memiliki gairah hidup dan tidak mau mengerjakan yang menjadi tugasnya. Orang yang malas bekerja berarti melanggar kaul kemiskinan di mana seharusnya bekerja rajin dan bersemangat sebagai tanda hidup sederhana dalam mengikuti Tuhan. Kemalasan jelas akan berdampak pada tingkah laku misalnya tidak optimal dalam mengembangkan hidupnya dan tidak optimal dalam menjalankan tugas perutusan. Kemalasan akhirnya bisa menjadi jalan masuk setan untuk menggodanya agar tidak setia pada hidup membiara (Suparno, 2016:54-55).

c. Kelekatan Tidak Teratur

Kelekatan yang tidak teratur yang sulit dilepaskan, sehingga tidak lepas bebas dalam mengikuti Yesus. Kelekatan dapat terjadi pada beberapa hal seperti:

barang, tempat, pekerjaan, orang atau kebiasaan jelek. Kelekatan ini mengganggu dalam menghayati kaul kemiskinan secara tulus dan gembira. Masing-masing mempunyai kelekatan tersendiri, maka tidak usah iri dengan kelekatan orang lain.

Yang perlu diusahakan adalah bagaimana melepaskan diri dari kelekatan yang tidak teratur dalam diri sendiri (Suparno, 2016:63).

d. Sikap Egoisme

Sikap egoisme, dimana orang hanya memikirkan kebutuhan diri sendiri tanpa memikirkan orang lain di sekitarnya. Orang yang egois, tidak murah hati, akan sulit menghayati kaul kemiskinan, di mana diajak untuk memperhatikan kebutuhan orang lain terutama mereka yang kecil dan tersingkir. Banyak anggota akan menderita, sakit hati dan tidak bahagia bila dipimpin oleh orang egois dan kikir seperti ini (Suparno, 2016:73).

1. Tantangan dari Luar Diri a. Kemajuan Teknologi

Teknologi modern memunculkan berbagai peralatan gadget, HP, internet, web dan alat komunikasi modern lainya. Akibat dari kemajuan teknologi ini maka meluapnya berbagai informasi. Informasi Ada yang baik dan berguna bagi kehidupan dan karya pelayanan namun ada juga informasi yang tidak baik misalnya pornografi, ajaran sesat, ajaran relatifisme dan ajaran tidak bermoral.

Meluapnya informasi yang bermacam-macam ini kalau tidak dikritisi dapat terpengaruh dengan informasi yang tidak baik yang dapat menghambat atau melemah dalam penghayatan kaul (Suparno, 2016:80).

b. Budaya Instan

Budaya instan dimana orang selalu ingin cepat berhasil, serba mau cepat.

Budaya serba mau cepat, memang ada gunanya karena memacu untuk menangani persoalan hidup dengan cepat. Kalau memang persoalan itu dapat ditangani cepat kiranya baik dilakukan dengan cepat tanpa mengulur-ulur waktu. Maka orang tidak mau bermalas-malas menanti. Namun budaya instan dapat menjadi hambatan kaul, karena tidak semua persoalan dan perkara dalam hidup membiara dapat diselesaikan dengan cepat. Bahkan banyak kasus di mana dituntut waktu yang lama dan juga daya tahan yang kuat. Kalau tidak hati-hati maka budaya instan akan menjadi tidak tahan terhadap persoalan yang memakan waktu lama yang menuntut kesabaran dalam hidup. Budaya instan juga menyebabkan orang tidak mendalam menyelesaikan persoalan (Suparno, 2016:83).

c. Budaya Konsumeristik

Budaya konsumeristik merupakan budaya orang yang selalu ingin mengkomsumsi dan mempunyai barang apa pun yang sering tidak ada gunanya dalam kehidupannya. Orang suka membeli barang dan fasilitas yang mewah dan mahal, meskipun barang itu belum pasti ada manfaatnya. Kadang barang itu hanya disimpan di almari tanpa digunakan (Suparno, 2016:85-86).

d. Budaya Materialisme

Budaya materialisme mengungkapkan sikap menusia yang haus akan harta benda, lebih suka mengumpul dan menumpuk harta milik, tanpa mengindahkan

orang lain dan tidak peduli pada keseimbangan sumber daya alam (VC. 89).

Perilaku seperti ini menjadikan manusia terus bergantung dan mencari kebutuhannya, kadang kebutuhannya yang paling mendasar dilupakan atau pun kalau ingat tidak peduli. Jelas budaya ini sangat bertentangan dengan penghayatan kaul kemiskinan, yang diharapkan untuk menggunakan harta kekayaan secukupnya sesuai dengan kebutuhan agar dapat menyisikan bagi sesama yang lebih membutuhkan (Mangunhardjana, 1997:120).

e. Budaya Relativisme

Budaya relativisme adalah budaya dimana orang merelatifkan segala sesuatu, termasuk imanya akan Allah. Orang seperti ini menanggap semua hal tidak ada yang mutlak, semuanya relatif. Tidak ada nilai mutlak dalam hidupnya.

Karena semuanya relatif, kelebihan orang seperti ini adalah tidak mempertahankan pendapat atau keyakinan, karena semuanya relatif.

Kekurangannya adalah dalam penghayatan iman, juga penghayatan kaul tidak serius dan cenderung seenaknya karena imannya bukanlah sesuatu yang mutlak bagi hidupnya. Gejala yang dapat dilihat adalah orang tidak memiliki prinsip yang tegas. Budaya relativisme dapat juga membuat orang tidak berani membuat komitmen kekal (Suparno, 2016:90-91).

f. Godaan Roh Jahat

Godaan roh jahat adalah suatu tarikan dari luar yang membuat seseorang ikut sehingga tidak menghayati kaulnya dengan sungguh-sungguh. Godaan roh

jahat ini biasanya bukan berupa “roh”, tetapi lebih ketertarikan orang pada sesuatu yang bertentangan dengan penghayatan kaul atau yang awalnya kelihatan baik tetapi pelan-pelan menjerumuskan orang itu dalam tindakan yang berlawanan dengan hidup berkaul. Godaan itu menggoda lewat kelemahan maka perlu hati-hati dengan kelemahan sehingga tidak jatuh. Kalau lemah dalam penhayatan kaul kemiskinan akan digoda di sekitar harta, kekasaan atau kedudukan (Suparno, 2016:103-105).

2. Menyikapi Tantangan Kaul Kemiskinan a. Persatuan Pribadi dengan Tuhan

Kaum religius dipanggil oleh Tuhan untuk bersatu dengan Yesus dan untuk digunakan oleh Yesus dalam karya keselamatan-Nya. Menghadapi berbagai persolan atau tantangan dalam hidup terutama yang datang dari diri sendiri, kita perlu memupuk kesatuan dengan Tuhan secara pribadi. Kesatuan dengan Tuhan memberikan kekuatan dan daya tahan yang besar dalam menghadapi tantangan.

Salah satu membangun relasi yang dekat dengan Tuhan adalah perlu rajin berdoa, meditasi, kontemplasi dan bersemadi. Selain itu juga kita dapat menimba dari sakramen-sakramen yang rutin diterima setiap hari misalnya sakramen Ekaristi yang memberikan kekuatan dan kelegaan dalam hidup karena kita bersatu erat dengan Yesus (Suparno, 2016:152).

b. Membangun Semangat Lepas Bebas

Semangat lepas bebas terhadap keinginan yang tidak teratur perlu dikembangkan, sehingga keputusan selalu dipikirkan dengan matang. Dalam semangat lepas bebas hanya Tuhan yang diutamakan sedangkan yang lain tidak dianggap penting. Seperti Paulus, sejak bertemu Yesus semuanya dianggap sampah, tidak berati lagi. Dalam banyak tantangan, terutama yang mengajak kita mencari kepuasan diri, sangat penting mengembangkan semangat lepas bebas hanya untuk Tuhan, seperti dalam doa-doa FSGM “Semua untuk kemuliaan Tuhan”. Semangat lepas bebas dapat dilatih dengan bertindak melawan keinginan yang tidak teratur dan mencari kesenangan sendiri (Suparno, 2016:155).

c. Kemampuan Berdiskresi

Dengan adanya banyak tantangan yang datang dari diri sendiri atau dari luar, kiranya sangat penting mengembangkan kemapuan berdiskresi.

Mengembangkan kemampuan mempertimbangkan setiap persoalan dan tantangan dengan matang, kritis, mendalam dan tenang sehingga dapat mengambil keputusan secara benar sesuai dengan kehendak Tuhan. Unsur penting dalam discerment adalah unsur mempertimbangkan dan unsur Tuhan. Maka perlu mempertimbangkan secara lengkap dan matang tantangan atau tawaran yang dihadapi dengan mempertimbangkan semua segi yang terkait. Selanjutnya mengajukan hasil pertimbangan kepada Tuhan untuk mendeteksi apakah keputusan itu membahagian dan mendamaikan hidup (Suparno, 2016:156).

d. Sikap Tegas Terhadap Godaan

Sikap yang sangat penting dikembangkan dan dilatih dalam menghadapi banyak tantangan dan tawaran adalah sikap tegas terhadap godaan, tegas terhadap hal-hal yang tidak baik. Ketegasan terhadap godaan juga perlu dilatih dalam kehidupna sehari-hari, termasuk mulai dari yang kecil-kecil sampai dengan hal yang lebih besar (Suparno, 2016:157).

e. Mendalami Makna Kaul

Hidup berkaul selalu mengalami perkembangan. Meski inti dan semangat dasar hidup berkaul itu tetap, tetapi ungkapan dan bentuknya berkembang sesuai dengan zamannya. Maka sangat penting bila selalu memperbaharui pengertian dan penghayatan kaul dengan membaca buku-buku tentang hidup berkaul. Setiap ada dokumen baru tentang hidup membiara perlu dipelajari untuk menimba semangat dan penghyatan kaul. Dengan demikian kaum religius tidak ketinggalan zaman dan dapat selalu maju dan segar ( Suparno, 2016:158).

2. Hidup Persaudaraan dalam Komunitas

Persaudaraan adalah suatu cita-cita kehidupan yang hendak diwujudkan oleh semua terekat hidup bakti. Pemahaman ini terdapat dalam Dokumen dekrit tentang Pembaharuan dan Penyesuaian hidup Religius yakni Perfectae Caritatis yang cara khusus berbicara mengenai “Hidup Bersama”. Berikut ini kutipan dari dokumen tersebut: Menurut teladan Gereja Perdana, ketika golongan kaum beriman hidup sehati dan sejiwa (Kis 4:32) hendaknya kehidupan bersama

bertekun dalam ajaran injil, dalam liturgi suci dan terutama dalam pelayanan Ekaristi, dalam doa serta persekutuan semangat yang sama (PC 15).

Dalam Kitab Hukum Kanonik Kan. 602 juga berbicara mengenai Persaudaraan, dengan kutipannya sebagai berikut:

Hidup persaudaraan yang menjadi ciri masing-masing tarekat, semua anggota dipersatukan bagaikan dalam satu keluarga khususnya dalam Kristus. Hendaknya hidup persaudaraan itu ditentukan sedemikian rupa sehingga semua saling membantu untuk dapat memenuhi panggilan masing-masing. Dengan persatuan persaudaraan itu, yang berakar dan berdasar dalam cinta kasih, para anggota hendaknya menjadi gambar dari perdamaian menyeluruh dalam Kristus (Kan 602).

Dari uraian di atas dapat dilihat bahwa ciri dari masing-masing tarekat adalah hidup dalam persaudaraan, seluruh anggota disatukan dalam keluarga yang bersumber pada Kristus sendiri. Persatuan persaudaraan berakar dan berdasar dalam cinta kasih.

1. Faktor-faktor Pemersatu dalam Persaudaraan a. Kehadiran Kristus

Kristus yang merupakan titik perjumpaan dan ikatan, yang mempersatukan anggota-anggota komunitas. Hidup bersama tumbuh dan berkembang dalam komunio pada misteri Paskah, sebuah komunitas menjadi religius, bila persaudaraan dan persahabatan, yang mengikat anggota-anggotanya, diresapi oleh kehadiran Kristus, sebab cinta sejati menghadirkan Kristus (LG 49,1;50,3).

Kehadiran Yesus terjadi dalam liturgi, Ekaristi, Kitab Suci dan doa (SC 7) .

b. Sama-sama Menyatu dengan Kristus

Kita masing-masing sama-sama disatukan pada pokok hidup sejati, yaitu Yesus. Kita sama-sama dihidupkan dan disemangati oleh sumber yang sama, yaitu Yesus. Tanpa kesatuan dengan Kristus kita akan kering dan tidak dapat disatukan dalam hidup bersama. Itulah sebabnya dalam hidup rohani, hidup doa bagi yang berkaul menjadi penting sebagai dasar persaudaraan sejati (Suparno, 2016:171).

Setiap anggota harus membangun relasi yang akrap denga pribadi Yesus.

Hal ini dilakukan dengan membangun hidup doa dan hidup rohani yang teratur.

Semakin dekat dengan Yesus, semakin dibimbing untuk mau bersaudara dengan yang lain. Dalam membangun relasi atau kesatuan dengan Yesus yang perlu dikembangkan adalah kesadaran dan keinginan untuk melaksanakan kehendak Tuhan yaitu hidup dalam semangat saling mencintai satu dengan yang lain (Suparno, 20016:171).

c. Kekuatan Anggota-Anggotanya

Secara dinamis yang memberikan kehidupan dan kekuatan baik kepada tiap-tiap anggota maupun komunitas ialah tiap-tiap anggota sendiri. Dinamika ini merupakan hasil lebih dari sumbangan personal dari masing-masing dari pada kenyataan maupun struktur yuridis. Pemberian diri menyiapkan menerima orang lain. Penghayatan nasehat-nasehat injili semakin membuat terasanya ikatan dengan orang lain (PC 12). Hidup bersama tidak hanya dilihat sebagai sarana asketis belaka, tetapi merupakan ungkapan hidup mistik atau hidup dalam kesatuan dengan Tuhan (Darminta, 1981:38-39).

d. Otoritas dan Struktur Hidup

Hidup bersama menuntut adanya otoritas untuk mengatur karya dan kelompok, tetapi lebih-lebih untuk memastikan kehadiran Tuhan dalam suatu bentuk yang lebih pasti dan tetap. Selanjutnya sejalan dengan pengaturan hidup bersama dalam hal-hal yang fundamental, maka diperlukan adanya suatu disiplin hidup yang mengatur seluruh hidup bersama dalam garis besarnya (Darminta, 1981:39).

2. Dimensi Hidup Bersama a. Dimensi Liturgis

Atas dasar kekuatan kaul seorang religius masuk untuk ikut ambil bagian dalam suatu komunitas imami dan liturgis, yaitu komunitas terdiri dari manusia pendoa. Dengan begitu nampaklah aspek sosial dan persaudaraan dari doa, sejauh dia berdoa dalam komunio rohani dengan saudara-saudara sekomunitas dan dalam ukuran tertentu juga dalam persatuan dengan mereka, yang terungkap secara lahiriah dengan berkumpul bersama, seperti teladan orang-orang kristiani zaman dulu (Darminta, 1981:39).

b. Dimensi Profetis

Dimensi profetis dan kesaksian, yang diharapkan oleh Gereja dengan praktek dan penghayatan nasehat-nasehat injili, Hidup religius bercirikan sosial dan komuniter. Gereja memerlukan suatu kesaksian komuniter, yang mengungkapkan kekuatan pemersatu dan perpaduan, kepada dunia dalam

hubungan sosial pula. Kaum religius, sebagai kelompok, merupakan tanda dan penunjuk akan realitas surgawi. Komunitas religius diharapkan menunjukkan kepada masyarakat zaman sekarang prinsip-prinsip yang membentuk hubungan-hubungan manusiawi, yaitu terutama bahwa manusia adalah saudara (Darminta, 1981:40).

c. Dimensi Apostolik

Komunitas religius apostolis tidak sama dengan kelompok apostolik atau gerakan-gerakan kerasulan. Kaum religius mendasarkan persembahan dan pengudusan diri kepada Tuhan pada saat pelaksanaan nasehat-nasehat injili, penyerahan diri secara penuh kepada kerasulan dan hidup bersama dalam komunio persaudaraan pada karisma yang sama. Hidup bersama menghayati kegiatan yang tidak mungkin dilakukan orang sendirian. Seorang religius apostolis mempunyai ciri hidup dalam komunitas. Pada umumnya, kaum religius bekerja bersama dengan anggota tarekat yang sama. Kerasulan bersama merupakan buah dari hasil kesatuan semangat dan tujuan yang sama. Komunitas sejati merupakan jaminan kerja sama dan solidaritas antara sesama anggota.

Karena dituntut suatu usaha pemahaman, dialog dan saling memberikan informasi (Darminta, 1981:40-41).

3. Nilai Hidup Bersama

Secara umum dapat dikatakan, bahwa kekuatan dan dinamika hidup religius sebagian besar merupakan hasil dari hidup bersama (LG 3,1).

a. Demi kepentingan pribadi masing-masing.

Keuntungan dari hidup bersama ialah bahwa hidup bersama dapat memberikan bantuan untuk perkembangan tiap-tiap anggota komunitas. Keluarga religius memberikan jaminan kepada anggota-anggotanya akan adanya ketetapan yang lebih pasti dalam cara hidup ajaran yang dikuatkan oleh pengalaman untuk mencapai kesempurnaan; juga dijamin adanya kesatuan persaudaraan dalam pelayanan kepada Tuhan, adanya kemerdekaan yang didukung oleh ketaatan, sehingga mampu merealisasikan dan menghayati kaul religius dengan semangat kegembiraan dalam jalan cinta (VC 43,1)

Hidup bersama merupakan penghayatan ungkapan hidup cinta, sekaligus merupakan jaminan untuk pembinaan diri terus menerus, bila memberikan suasana dan lingkungan yang memungkinkan perkembangan pribadi (ET 34;39).

Hidup rohani dapat berkembang, bila dijiwai oleh semangat injili, dipupuk dengan doa, ditandai dengan matiraga dan disiplin hidup (ET 38:41).

b. Hidup Bersama Membangun Tarekat

Tarekat religius berusaha untuk melaksanakan tugas gerejani demi pelayanan kepada dunia, dengan mengikuti dorongan Roh Kudus, bersatu, hidup dan bekerja dengan kesatuan semangat dan tujuan. Komunitas merupakan

kenyataan yang terus menerus berkembang. Tarekat membangun gereja, sebab pada dasarnya hidup yang dikaulkan itu hidup demi pembangunan Gereja.

Kesaksian cinta, yang mewarnai komunitas religius, ada dalam Gereja dan dunia.

Maka kesaksian itu menjadi tanda dari arti sejati komunitas Umat Allah dan menunjukkan kekayaan hidup kristiani sebagai komunitas orang percaya (AG 15).

Komunitas sejati yang religius merupakan kritik terhadap segala kebencian, ketidak adilan dan egoisme. Komunitas religius merupakan dorongan kesatuan, kecintaan, dan kesiapsiagaan, dan melupakan diri yang diperlukan untuk membangun suatu masyarakatt yang manusiawi (Darminta, 1981:43).

c. Cinta Persaudaraan

Manusia pada dasarnya merupakan makluk sosial. Kenyataan inilah yang membangun hubungan yang mendalam dan tak terpisahkan antara angota-anggota komunitas. Biasanya spontan cenderung untuk bertemu dan berkumpul , untuk saling membagi pandangan hidup dalam hidup bersama. Cinta persaudaraan diperlukan untuk menghayati hidupnya dari aspek sosial, jangan sampai tenggelam dalam kebersamaan atau jatuh dalam egoisme. Bila egoisme berkembang, maka akan mudah terjadi, orang mengukur hidup religius hanya dari segi penghayatan pribadi belaka. Sebagai bukti nampak dari sifat sosial, dalam komunitas harus ada saling membagi beban tanggungan hidup bersama, tugas-tugas demi kepentingan bersama harus merupakan saran untuk menjadi terlibat dalam hidup bersama (Darminta, 1981:55-56).

d. Persaudaraan dalam Perbedaan

Penerimaan perbedaan dan kekhasan dari masing-masing suster akan menciptakan persaudaraan yang lebih mendalam dan kuat dalam kongregasi.

Dengan mau menerima perbedaan yang ada, akan menjadi mudah dari pada memaksa mereka untuk bisa seperti yang diinginkan. Karena orang tidak akan bisa mengubah pribadi orang lain menjadi seperti yang ia inginkan.

Cara-cara yang lebih mudah untuk menerima teman yang berbeda dalam kongregasi adalah:

1) Menyadari bahwa teman-teman adalah ciptaan Tuhan yang unik, yang baik dan berharga.

2) Berusaha selalu mencoba melihat segi positif dari teman-teman dan mencoba menghentikan mencari yang negatif

3) Bayangkan seandainya di kongregasi semua persis sama. Orang akan mudah bosan karena dimana-mana ketemu dengan orang yang sama.

4) Perlu belajar menyadari bahwa diri kita tidak selalu sempurna. Bahkan kita dapat menyadari bahwa kita banyak tidak sempurna.

5) Perlu sering merefleksikan hidup bersama bahwa kaum tidak dapat hidup sendiri.

5) Perlu sering merefleksikan hidup bersama bahwa kaum tidak dapat hidup sendiri.