BAB II MAKNA KAUL KEMISKINAN DALAM
E. Hidup Persaudaraan dalam Komunitas
3. Nilai hidup bersama
Secara umum dapat dikatakan, bahwa kekuatan dan dinamika hidup religius sebagian besar merupakan hasil dari hidup bersama (LG 3,1).
a. Demi kepentingan pribadi masing-masing.
Keuntungan dari hidup bersama ialah bahwa hidup bersama dapat memberikan bantuan untuk perkembangan tiap-tiap anggota komunitas. Keluarga religius memberikan jaminan kepada anggota-anggotanya akan adanya ketetapan yang lebih pasti dalam cara hidup ajaran yang dikuatkan oleh pengalaman untuk mencapai kesempurnaan; juga dijamin adanya kesatuan persaudaraan dalam pelayanan kepada Tuhan, adanya kemerdekaan yang didukung oleh ketaatan, sehingga mampu merealisasikan dan menghayati kaul religius dengan semangat kegembiraan dalam jalan cinta (VC 43,1)
Hidup bersama merupakan penghayatan ungkapan hidup cinta, sekaligus merupakan jaminan untuk pembinaan diri terus menerus, bila memberikan suasana dan lingkungan yang memungkinkan perkembangan pribadi (ET 34;39).
Hidup rohani dapat berkembang, bila dijiwai oleh semangat injili, dipupuk dengan doa, ditandai dengan matiraga dan disiplin hidup (ET 38:41).
b. Hidup Bersama Membangun Tarekat
Tarekat religius berusaha untuk melaksanakan tugas gerejani demi pelayanan kepada dunia, dengan mengikuti dorongan Roh Kudus, bersatu, hidup dan bekerja dengan kesatuan semangat dan tujuan. Komunitas merupakan
kenyataan yang terus menerus berkembang. Tarekat membangun gereja, sebab pada dasarnya hidup yang dikaulkan itu hidup demi pembangunan Gereja.
Kesaksian cinta, yang mewarnai komunitas religius, ada dalam Gereja dan dunia.
Maka kesaksian itu menjadi tanda dari arti sejati komunitas Umat Allah dan menunjukkan kekayaan hidup kristiani sebagai komunitas orang percaya (AG 15).
Komunitas sejati yang religius merupakan kritik terhadap segala kebencian, ketidak adilan dan egoisme. Komunitas religius merupakan dorongan kesatuan, kecintaan, dan kesiapsiagaan, dan melupakan diri yang diperlukan untuk membangun suatu masyarakatt yang manusiawi (Darminta, 1981:43).
c. Cinta Persaudaraan
Manusia pada dasarnya merupakan makluk sosial. Kenyataan inilah yang membangun hubungan yang mendalam dan tak terpisahkan antara angota-anggota komunitas. Biasanya spontan cenderung untuk bertemu dan berkumpul , untuk saling membagi pandangan hidup dalam hidup bersama. Cinta persaudaraan diperlukan untuk menghayati hidupnya dari aspek sosial, jangan sampai tenggelam dalam kebersamaan atau jatuh dalam egoisme. Bila egoisme berkembang, maka akan mudah terjadi, orang mengukur hidup religius hanya dari segi penghayatan pribadi belaka. Sebagai bukti nampak dari sifat sosial, dalam komunitas harus ada saling membagi beban tanggungan hidup bersama, tugas-tugas demi kepentingan bersama harus merupakan saran untuk menjadi terlibat dalam hidup bersama (Darminta, 1981:55-56).
d. Persaudaraan dalam Perbedaan
Penerimaan perbedaan dan kekhasan dari masing-masing suster akan menciptakan persaudaraan yang lebih mendalam dan kuat dalam kongregasi.
Dengan mau menerima perbedaan yang ada, akan menjadi mudah dari pada memaksa mereka untuk bisa seperti yang diinginkan. Karena orang tidak akan bisa mengubah pribadi orang lain menjadi seperti yang ia inginkan.
Cara-cara yang lebih mudah untuk menerima teman yang berbeda dalam kongregasi adalah:
1) Menyadari bahwa teman-teman adalah ciptaan Tuhan yang unik, yang baik dan berharga.
2) Berusaha selalu mencoba melihat segi positif dari teman-teman dan mencoba menghentikan mencari yang negatif
3) Bayangkan seandainya di kongregasi semua persis sama. Orang akan mudah bosan karena dimana-mana ketemu dengan orang yang sama.
4) Perlu belajar menyadari bahwa diri kita tidak selalu sempurna. Bahkan kita dapat menyadari bahwa kita banyak tidak sempurna.
5) Perlu sering merefleksikan hidup bersama bahwa kaum tidak dapat hidup sendiri.
Kesatuan dengan Tuhan itulah yang menyatukan kaum religius, bukan kesamaan bakat, hobi, ataupun sifat dan watak. Berbeda dan bermacam-macam tetapi dalam satu ikatan Tuhan. Kita mempunyai karunia berbeda-beda, tetapi satu Roh. Banyak anggota, tetapi satu tubuh (1Kor 12:1-31). Dengan demikian kaum
religius diharapkan mengambil bagian dalam hidup bersama dengan saling membantu dan menguatkan (Suparno, 2007:26).
e. Komunitas sebagai Saksi Injili
Dalam kenyataan hidup Injili menjadi suatu yang diperjuangkan. Hidup injili adalah hidup yang membawa kegembiraan, sukacita, berkat, kebaikan, serta menumbuhkan iman. Hidup berkomunitas dilandasi semangat sabda bahagia supaya mampu memancarkan kelembutan dalam perilaku hidup sehari-hari.
Saling memberikan kesaksian dalam komunitas berarti saling menumbuhkan hidup. Hidup komunitas sebagai saksi injili memuncak dalam semangat mengalahkan diri sendiri, keberanian untuk berkorban dan kesediaan meskipun dihina dan diejek (Suparyanto, 2008: 58-59).
3. Persaudaraan dalam Tarekat FSGM
Kongregasi FSGM adalah salah satu tarekat yang mengambil pola hidup saudara-saudari Ordo Ketiga Regular Santo Farnsiskus Asisi yaitu menepati Injil suci Tuhan Yesus Kristus dengan hidup dalam ketaatan, kemiskinan, dan kemurnian. Semua dianggap saudara oleh Fransiskus karena seluruh ciptaan berasalah dari Tuhan. Relasi yang dekat dengan semua makluk menggambarkan kedekatan dengan Tuhan.
Konstitusi Kongregasi FSGM menekankan bahwa, hidup berkomunitas yang sejati menuntut para suster agar di mana pun ditempatkan oleh Tuhan, menerima semua anggota komunitas dan orang-orang serumah dengan rela dan
membantu dengan bersikap tidak menuntut, jujur dan penuh tanggungjawab agar terciptalah keluarga yang baik (Konst. 312).
Suster-suster FSGM bersatu tidak hanya dalam kongregas sendiri, tetapi terutama pula dengan saudara-saudari ketiga ordo St. Fransiskus. Bersama dengan mereka para suster merasa bersatu dalam semangat St. Fransiskus. Karena panggilan yang sama untuk mengikuti Kristus maka bersatu juga dengan semua perserikatan religius, untuk bersama-sama memberikan kesaksian tentang persatuan, perdamaian dan keadilan dalam Kristus, yang merupakan panggilan bagi seluruh umat manusia dalam Gereja (1Kor 1:30; Rm 14:17) (Konst. 313).
Fransiskus Asisi mengajak semua pengikutnya untuk hidup sebagai saudara, ia mengatakan “ Demi cinta kasih Allah hendaklah saudara-saudari saling mengasihi, sesuai dengan firman Tuhan: Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. Hendaklah mereka menunjukan dengan perbuatan bahwa mereka saling mengasihi (Yoh. 15:12).
Yang satu hendaknya dengan leluasan menyatakan kebutuhannya kepada yang lain, agar yang lain itu mencari apa yang dibutuhkannya serta memberikannya”
(AD 23). Dengan hidup sebagai murid Kristus menurut Injil, mereka semua menyanggupkan diri untuk melaksanakan perintah Tuhan yakni untuk saling mengasihi (bdk Yoh 13:34). Cinta kasih mendorong Kristus untuk menyerahkan diri, bahkan sampai korban termulia di Salib. Para murid hidup dalam persatuan sejati, mereka dengan murah hati melayani sesama, kesiagaan menampung dan menjadi sehati sejiwa.
Persaudaraan merupakan suatu nilai manusiawi dan kristiani adalah nilai yang amat penting dalam hidup religius dan hidup fransiskan. Sebab Allah sesungguhnya menghendaki agar semua manusia, yang diciptakan seturut gambar dan keserupaan dengan-Nya, dipanggil untuk membentuk suatu keluarga umat manusia dan memperlakukan satu sama lain dalam semangat bersaudara (Syukur, 2006:143).
Persaudaraan Fransiskan secara hakiki meneruskan tugasnya ini dengan memberikan suatu kesaksian akan universalitas kebapaan Allah dan persaudaraan universal manusia kepada Gereja dan dunia. Persaudaraan ini terbuka kepada seluruh makluk ciptaan. Sebagai model idealnya adalah persaudaraan yang dihayati oleh Kristus dan para rasulnya (Mrk 3:14-15) (Syukur, 2006:144).
Persaudaraan fransiskan memiliki tiga unsur penting, yang harus dipahami oleh setiap anggota fransiskan yaitu: Pertama suatu persaudaraan yang menyembah, karena terdiri dari saudara-saudara yang dengan perjanjian kasih (profesi) membaktikan diri pada penyembahan Allah. Kasih kepada Allah merupakan semangat dasar untuk mengabdaik kepada sesama manusia. Kedua suatu persaudaraan apostolis, karena dikehendaki oleh Allah dan Gereja untuk melakukan pertobatan dan mewartakan kabar keselamatan kepada semua orang.
Ketiga Suatu persekutuan hidup dalam persaudaraan dari orang-orang yang telah percaya kepada Injil. Mereka tidak memilih sendiri, tetapi mau menerima satu sama lain sebagai saudara, karena mereka telah menerima kemurahan hati Allah Bapa, Kristus, saudara yang sulung dan persekutuan dengan Roh Kudus (Syukur, 2006:145).
4. Rangkuman
Inti hidup religius adalah orang ingin menyerahkan diri secara utuh kepada Tuhan dan sesama yang berpusat pada kehidupan Yesus Kristus yang hidup miskin dan sederhana. Hidup sebagai religius bukan mencari ketenaran, atau mencari jabatan agar disanjung oleh banyak orang, karena kepintaran yang dimilikinya. Bukan juga untuk bermalas-malasan dan semaunya, karena semua kebutuhan dan fasilitas semuanya terpenuhi. Sebagai seorang religius harus berani berkata cukup dan mampu menolak tawaran-tawaran yang tidak sesuai dengan kaul-kaul yang diikrarkan.
Kemiskinan seorang religius di zaman modern ini bersifat profetis yang berarti melaksanankan tugas kenabian, perutusan dan kerasulan. Kemiskinan bukan berarti hidup melarat, melainkan pertama-tama mengarahkan hidupnya kepada Allah, bukan kepada harta duniawi. Kaul kemiskina juga mengajak para religius untuk hidup bermurah hati kepada sesama, sebab segala sesuatu yang dimilikinya berasal dari kebaikan dan kemurahan Tuhan secara cuma-cuma. Maka dengan menyadari kebaikan dan kemurahan Tuhan ini para religius diharapakan untuk tulus dan iklas memberikan harta miliknya untuk sesama yang membutuhkan.
Dengan kaul kemiskinan para religius melepaskan hak untuk memiliki harta kekayaan dalam kongregasi. Hidup tidak terikat oleh harta duniawi mempermudah orang untuk mengarahkan seluruh hidupnya hanya untuk Tuhan.
Kemiskinan menjadi sarana untuk membebaskan diri dari hak milik, kekuasaan, dan jabatan. Dengan hidup miskin, seluruh kebutuhan manusia dapat diatur dan
dipenuhi demi perkembangan hidup dan mendukung panggilan sebab penghayatan kemiskinan secara benar justru akan membawa hidup bebas dan terarah. Dengan mengikrarkan kaul kemiskinan para religius mengandalkan diri seutuhnya pada Tuhan bukan pada harta duniawi atau kekuasaan yang mengakibatkan orang menjadi lupa akan Tuhan. Dengan kaul kemiskinan para religius dituntut untuk memperjuangkan keadilan demi kesejahteraan bersama, dalam pemanfaatan sarana hidup serta kekayaan alam yang tersedia secara bijaksana. Tantangan besar di zaman ini dalam menghayati kaul kemiskinan, baik yang datang dari diri sendiri maupun dari luar diri adalah budaya materialisme orang haus akan harta milik, tanpa mengindahkan keperluan dan penderiataan masyarakat kecil, tidak peduli terhadap keseimbangan sumber daya alam.
Kesatuan dengan Tuhan itulah yang menyatukan para religius, bukan kesamaan bakat, hobi, ataupun sifat dan watak. Tetap berbeda dan bermacam-macam tetapi dalam satu ikatan Tuhan. Karunia berbeda-beda, tetapi satu Roh.
Banyak anggota, tetapi satu tubuh (1kor 12:1-31). Dengan demikian para religius diharapkan mengambil bagian dalam hidup bersama dengan saling membantu dan menguatkan.
Persaudaraan merupakan suatu nilai manusiawi dan kristiani adalah nilai yang amat penting dalam hidup religius dan hidup fransiskan. Sebab Allah sesungguhnya menghendaki agar semua manusia, yang diciptakan seturut gambar dan keserupaan dengan-Nya, dipanggil untuk membentuk suatu keluarga umat manusia dan memperlakukan satu sama lain dalam semangat bersaudara.
Hidup berkomunitas dilandasi semangat sabda bahagia supaya mampu memancarkan kelembutan dalam perilaku hidup sehari-hari. Saling memberikan kesaksian dalam komunitas berarti saling menumbuhkan hidup. Hidup komunitas sebagai saksi injili memuncak dalam semangat mengalahkan diri sendiri, keberanian untuk berkorban dan kesediaan meskipun dihina dan diejek.
BAB III
GAMBARAN PENGHAYATAN KAUL KEMISKINAN DALAM PERSAUDARAAN SUSTER-SUSTER FSGM
DI WILAYAH JAWA
Pada bab ini, penulis mengkaji tentang pengaruh penghayatan kaul kemiskinan dalam persaudaraan Suster FSGM di wilayah Jawa. Pada bagian pertama penulis membahas gambaran umum Kongregasi FSGM, sejarah Kongregasi FSGM, sejarah Provinsi St. Yusuf Pringsewu, komunitas Kampung Ambon, komunitas Dalem, komunitas Santa Maria Yogyakarta, dan komunitas Baturetno. Sedangkan pada bagian kedua penulis membahas mengenai penelitian tentang pengaruh penghayatan kaul kemiskinan dalam persaudaraan FSGM.
Kemudian bagian terakhir kesimpulan penelitian dan keterbatasan penelitian.
A. Gambaran Kongregasi Fransiskan Santo Georgius Martir (FSGM)
Kongregasi FSGM merupakan kongregasi kepausan, yang berpusat di Thuine Jerman Barat bagian Utara. Pada awal berdiri kongregasi ini memilih nama suster-suster Fransisikanes dari Hati Kudus, namun karena sudah banyak tarekat yang menggunakan nama Hati Kudus maka dipilih FSGM. Saat ini kongregasi FSGM terdiri dari enam provinsi dan satu regio yang tersebar di beberapa negara. Kongregasi FSGM provinsi Indonesia berpusat di Pringsewu Lampung. FSGM berkarya di beberapa keuskupan di Indonesia seperti Keuskupan Tanjugkarang, Keuskupan Jakarta, Keuskupan Agung Semarang, Keuskupan Singaraja Bali, Keuskupan Atambua, Keuskupan Palembang, Keuskupan
Jayapura dan Keuskupan Agats. Para suster berkarya di bidang Pendidikan, Kesehatan, Pastoral, dan Sosial.
1. Sejarah Berdirinya Kongregasi FSGM
Kongregasi FSGM berdiri pada tanggal 25 November 1869, di Thuine Jerman Barat bagian Utara, oleh Muder M. Anselma Bopp dan pastor Gerhardall.
FSGM merupakan kongregasi kepausan yang disahkan oleh Takta suci pada tahun 1909. Pada awal berdiri, kongregasi ini memilih untuk mengambil nama suster-suster Fransiskanes dari Hati Kudus. Anggaran dasar Ordo Ketiga Regular Santo Fransiskus Asisi yang dipilih oleh Muder M. Anselma Bopp karena semangat kemiskinan suci yang menjiwai semua pengikut Santo Fransiskus nampak dalam biara kecil di Thuine waktu itu. Kemiskinan sebagai pedoman dasar bukan keadaan yang memaksa, melainkan yang dicita-citakan ibu pendiri bagi kongregasinya (Kongregasi, 1994:42).
Perkembangan kongregasi Thuine dan karyanya dapat dikatakan sangat pesat, sungguh mengherankan. Pada masa kultukamp banyak anggota kongregasi besar yang telah berdiri harus ditutup, para anggotanya harus meninggalkan biara dan hidup di perasingan. Namun kenyataannya karya Allah sulit dibendung, Bapa disurga menghendaki lain, seolah menutup mata para politikus jaman itu bagi sasaran pembersihan di Thuine. Biara Thuine yang baru lahir terlewat dari pandangan dunia. Muncul, tumbuh dan berkembang (Kongregasi, 1994:48).
Muder M. Anselma Bopp sering mengajak para suster agar senantiasa bersyukur atas berkat Tuhan yang jelas nampak pada perkembangan kongregasi
dan atas panggilan menjadi anggota. Peristiwa-peristiwa kebetulan yang terjadi disekitar Thuine bersamaan dengan penganiayaan terhadap umat Katolik menjadi bukan kebetulan, namun diimani sebagai karya penyelengaraan Illahi dan peristiwa kasih Allah yang melampaui batas-batas perhitungan manusia. Adapun ayat kitab suci yang menjadi pedoman sebagai rasa syukur atas kasih karunia Tuhan yang dialami oleh Muder Anselma adalah: “Aku bersyukur kepada-Mu Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang yang bijak dan pandai, tetapi kau nyatakan kepada orang kecil” (Mat 11:25).
Dengan bertambahnya jumlah anggota maka kongregasi Thuine mulai membuka cabang-cabang ke berbagai negara, misalnya Belanda, Jepang, Amerika Serikat, Indonesia, Afrika, Brasilia, Italia, dan Timor Leste. Bebagai karya yang ditangani para suster demi untuk menyelamatkan umat manusia; ada karya kesehatan, pendidikan, sosial, pastoral, dan administrasi.
a. Provinsi St. Yusuf Pringsewu Lampung
Para imam SCJ meminta agar suster FSGM diutus ke Sumatera.
Permintaan itu dipenuhi dan diutus ke empat suster yaitu Sr. M. Adulpha schwalenberg, Sr. M. Engelmunda van Oorten, Sr. M. Solanis Meyer, Sr. M.
Arnolde Wouters. Sr. M. Odulpha dan Sr. M. Solanis adalah orang Jerman, yang memperoleh pendidikan di Negeri Belanda sedangkan Sr. M. Engelmunda dan Sr.
M. Arnolde berkebangsaan Belanda.
Tanggal 3 Mei diadakan perayaan perpisahan di rumah Agung, hadir pula prokurator misi kongregasi Imam-Imam Hati Kudus Yesus, Pater Finke dan Pater Cobben yang akan turut berangkat ke Sumatera. Muder Agung dan Muder Vikaris mendampingi para misionaris sampai di Marselille. Pada tanggal 13 Mei dari Marselille dengan kapal laut ”Indrapura” menuju Indonesia. Tanggal 4 Juni para suster tiba di Oosthaven, jaraknya satu hari perjalanan dari Batavia. Para rombongan misionaris disambut baik oleh para suster Hati Kudus dari Moerdijk dan juga Pater Van Oort, Pater Hermelink dan Pater Kuipers. Tempat misi para suster di Pringsewu, 40 km dari Tanjungkarang. Dalam perjalan ke Pringsewu para suster mengunjungi sekolah di Gedongtataan. Mereka sangat senang karena akan dibantu oleh Sr.M. Solanis.
Para suster sangat bahagia setelah perjalanan panjang akhirnya sampai tujuan yang dirindukan. Sebagi rasa syukur dinyanyikan Te Deum. Pembangunan rumah Yusuf belum selesai. Sementara para suster mencukupi diri dengan tempat-tempat terbatas. Hari pertama poliklinik langsung didatangi dua pasien, hari kedua lima pasien. Direncanakan akan membuka rumah sakit dengan 20 tempat tidur.
Tangal 20 Juni, para suster mulai menyesuaikan dengan kebiasaan di Indonesia. Suatu kesulitan khusus adalah bahasa. Tanpa seorang penerjemah hampir tidak mungkin untuk saling memahami, dengan berharap bahwa sambil bergaul dengan para penduduk dalam waktu singkat dapat sedikit belajar bahasa Jawa. Dari biara para suster dapat memandang gunung-gunung yang hijau yang didapati dengan tanaman pohon . Dekat biara ada hutan rimba. Singa dan gajah
yang menempatinya telah menggeser lebih jauh. Kadang-kadang sungai-sungai terlihat buaya. Beberapa orang yang sedang mandi dimangsanya.
Sr.M. Engelmunda mengajar di sekolah yang dikunjungi oleh anak laki-laki dan perempuan yang berusia antara 4-16 tahun. Jumlah murid yang awalnya 24 orang terus meningkat menjadi 35 orang dan seterusnya. Sr.M. Solanis bekerja di sekolah gedongtataan, jarak gedongtatan dari tempat perayaan Ekaristi 15 km.
Suster Solanis setiap pagi naik mobil. Para suster mengajar dalam bahasa Belanda. Akan tetapi supaya karya dapat lebih berhasil, pengetahuan bahasa Jawa mutlak perlu, karena anak-anak hanya bisa bahasa Jawa.
Pelayanan dalam bidang pastoral, dimulai dengan pelajaran agama untuk kaum ibu di desa Pamenang. Pastor Hermelink meminta bantuan para suster untuk mengajar pelajaran agama, dengan gembira suster Solanis menerima tawaran itu.
Meskipun letih, pulang dengan hati gembira karena telah melaksanakan tugas
“Menabur benih sabda Tuhan”. Yakin bahwa benih yang ditabur pada suatu saat pasti akan tumbuh, kembang dan berbuah.
Pekerjaan semakin bertambah banyak dan tenaga para suster kurang mencukupi. Disamping itu penyakit malaria sering mengganggu para suster.
Maka dengan keadaan ini diberitahukan ke rumah pusat Thuine, disertai permohonan agar ditambah suster-suster yang lain. Dewan Jendral mengabulkan permohonan tersebut dan mengirim tiga suster, mereka adalah Sr. M. Cortilia Welendorf, Sr.M. Edelgardis Hannink dan Sr.M.Adelia Grase. Tahun 1935 Muder Agung mengirim dua orang misionaris lagi yaitu Sr.M. Winibertha Kuipers berprofesi perawat dan Sr.M. Adeline Hermelink berprofesi guru.
Tanggal 25 November 1953 terjadi pembagian daerah persekutuan dalam kongregasi, Generalat, Provinsi, dan vice provinsi. Vice provinsi Santo Yusuf Pringsewu lampung saat itu mempunyai empat rumah cabang yaitu: rumah pusat Pringsewu, rumah cabang Tanjungkarang, rumah cabang Metro, dan rumah cabang Baturaja. Muder. M. Odulpha diangkat menjadi pemimpin vice provinsi dengan penesehat pertama Sr.M. Winibertha, penasehat kedua Sr.M. Yosepha.
Dalam berkat Tuhan Vice Provinsi berkembang terus. Baik dilihat dari segi jumlah anggota, rumah biara maupun perkembangan dan peningkatan pendidikan para suster.
Tanggal 24 April 1972, Kapitel Jendral ke XIII mengesahkan Vice Provinsi St. Yusuf menjadi Provinsi. Muder M. Pauline Scoorl dipilih menjadi pemimpin Provinsi. Provinsi St Yusuf Pringsewu memiliki 26 komunitas dengan tersebar di beberapa keuskupan. antara lain keuskupan Tanjungkarang, keuskupan Palembang, Keuskupan Jakarta, keuskupan Semarang, keuskupan Atambua, keuskupan Denpasar, Keuskupan Dili, keuskupan Jayapura dan keuskupan Agats.
b. Komunitas St. Fransiskus Kampung Ambon Jakarta Timur
Kampung Ambon merupakan bagian dari wilayah paroki Kramat. Telah cukup lama Pater Wahyusudibjo memikirkan kebutuhan umat di kampung ini.
Sejak tahun 1966 menawarkan kepada Muder M. Odulpha untuk berkarya di daerah pinggiran kota metropolitan ini, dengan akan menyerahkan tanah di Kampung Ambon.
Tahun 1969 Muder M. Odulpha sebagai pemimpin vice Provinsi St Yusuf Indonesia, memikirkan secara serius tawaran ini. Setelah mendapat persetujuan dari pemimpin Jenderal, merencanakan untuk memulai membangun rumah susteran di Kampung Ambon. Bangunan berbentuk bujursangkar terdiri dari enam kamar tidur untuk susteran, lengkap dengan kapel dan sarana lain, menyatu dengan rumah bersalin Mardi Asih. Kehidupan berkomunitas dijalani seirama dengan kehidupan metropolitan pinggiran. Waktu Kampung Ambon masih berstatus sebagai stasi dari paroki Kramat, para suster mendapat misa harian dari romo dari STF Driyarkara, dan OFM Kramat. Setelah unit frateran SJ. Jalan Bangunan 10 Kampung Ambon dibuka, para suster mendapat santapan rohani setiap hari, sampai hari ini.
Komunitas Kampung Ambon berkembang menjadi komunitas karya dan sebagai tempat transit bagi para suster yang berpergian, tempat pelayanan untuk para suster yang sakit dan perlu rujukan ke RS. St. Carolus. Komunitas ini juga menjadi tempat bernaung bagi para suster yang mendapat tugas studi lanjut di Jakarta.
Berjuang mempertahankan hidup rohani di lingkungan masyarakat majemuk, selektif terhadap arus modernisasi yang terus melejit dalam abad ini, agar tetap menjadi saksi cinta kasih-Nya yang penuh kerahiman. Adalah merupakan tugas yang tidak pernah selesai dari hidup para suster FSGM, yang menghuni Jln Bangunan Barat 5 Kampung Ambon khususnya, dan seluruh anggota persekutuan pada umumnya. Saat ini Klinik bersalin ditutup,
ruangan-ruangan digunakan untuk kamar tidur para suster karena anggota semakin banyak dan karya pendidikan semakin berkembang (Kongregasi,1994:245-250).
c. Komunitas St. Fransiskus Dalem Jawa Tengah
Gayamharjo terletak di lereng pegunungan Mintorogo, tanah di sepanjang lereng gunung tersebut sangat tandus. Pada awal tahun 1935 Pastor D.
Harjosuwondo,SJ mulai mengarahkan karyanya ke daerah pegunungan Mintorogo, yang ditempuhnya dari pastoran Wedi. Kedatangan beliau disambut
Harjosuwondo,SJ mulai mengarahkan karyanya ke daerah pegunungan Mintorogo, yang ditempuhnya dari pastoran Wedi. Kedatangan beliau disambut