• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III GAMBARAN PENGARUH PENGHAYATAN

A. Gambaran Umum Kongregasi FSGM

1. Sejarah Berdirinya Kongregasi FSGM

Kongregasi FSGM berdiri pada tanggal 25 November 1869, di Thuine Jerman Barat bagian Utara, oleh Muder M. Anselma Bopp dan pastor Gerhardall.

FSGM merupakan kongregasi kepausan yang disahkan oleh Takta suci pada tahun 1909. Pada awal berdiri, kongregasi ini memilih untuk mengambil nama suster-suster Fransiskanes dari Hati Kudus. Anggaran dasar Ordo Ketiga Regular Santo Fransiskus Asisi yang dipilih oleh Muder M. Anselma Bopp karena semangat kemiskinan suci yang menjiwai semua pengikut Santo Fransiskus nampak dalam biara kecil di Thuine waktu itu. Kemiskinan sebagai pedoman dasar bukan keadaan yang memaksa, melainkan yang dicita-citakan ibu pendiri bagi kongregasinya (Kongregasi, 1994:42).

Perkembangan kongregasi Thuine dan karyanya dapat dikatakan sangat pesat, sungguh mengherankan. Pada masa kultukamp banyak anggota kongregasi besar yang telah berdiri harus ditutup, para anggotanya harus meninggalkan biara dan hidup di perasingan. Namun kenyataannya karya Allah sulit dibendung, Bapa disurga menghendaki lain, seolah menutup mata para politikus jaman itu bagi sasaran pembersihan di Thuine. Biara Thuine yang baru lahir terlewat dari pandangan dunia. Muncul, tumbuh dan berkembang (Kongregasi, 1994:48).

Muder M. Anselma Bopp sering mengajak para suster agar senantiasa bersyukur atas berkat Tuhan yang jelas nampak pada perkembangan kongregasi

dan atas panggilan menjadi anggota. Peristiwa-peristiwa kebetulan yang terjadi disekitar Thuine bersamaan dengan penganiayaan terhadap umat Katolik menjadi bukan kebetulan, namun diimani sebagai karya penyelengaraan Illahi dan peristiwa kasih Allah yang melampaui batas-batas perhitungan manusia. Adapun ayat kitab suci yang menjadi pedoman sebagai rasa syukur atas kasih karunia Tuhan yang dialami oleh Muder Anselma adalah: “Aku bersyukur kepada-Mu Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang yang bijak dan pandai, tetapi kau nyatakan kepada orang kecil” (Mat 11:25).

Dengan bertambahnya jumlah anggota maka kongregasi Thuine mulai membuka cabang-cabang ke berbagai negara, misalnya Belanda, Jepang, Amerika Serikat, Indonesia, Afrika, Brasilia, Italia, dan Timor Leste. Bebagai karya yang ditangani para suster demi untuk menyelamatkan umat manusia; ada karya kesehatan, pendidikan, sosial, pastoral, dan administrasi.

a. Provinsi St. Yusuf Pringsewu Lampung

Para imam SCJ meminta agar suster FSGM diutus ke Sumatera.

Permintaan itu dipenuhi dan diutus ke empat suster yaitu Sr. M. Adulpha schwalenberg, Sr. M. Engelmunda van Oorten, Sr. M. Solanis Meyer, Sr. M.

Arnolde Wouters. Sr. M. Odulpha dan Sr. M. Solanis adalah orang Jerman, yang memperoleh pendidikan di Negeri Belanda sedangkan Sr. M. Engelmunda dan Sr.

M. Arnolde berkebangsaan Belanda.

Tanggal 3 Mei diadakan perayaan perpisahan di rumah Agung, hadir pula prokurator misi kongregasi Imam-Imam Hati Kudus Yesus, Pater Finke dan Pater Cobben yang akan turut berangkat ke Sumatera. Muder Agung dan Muder Vikaris mendampingi para misionaris sampai di Marselille. Pada tanggal 13 Mei dari Marselille dengan kapal laut ”Indrapura” menuju Indonesia. Tanggal 4 Juni para suster tiba di Oosthaven, jaraknya satu hari perjalanan dari Batavia. Para rombongan misionaris disambut baik oleh para suster Hati Kudus dari Moerdijk dan juga Pater Van Oort, Pater Hermelink dan Pater Kuipers. Tempat misi para suster di Pringsewu, 40 km dari Tanjungkarang. Dalam perjalan ke Pringsewu para suster mengunjungi sekolah di Gedongtataan. Mereka sangat senang karena akan dibantu oleh Sr.M. Solanis.

Para suster sangat bahagia setelah perjalanan panjang akhirnya sampai tujuan yang dirindukan. Sebagi rasa syukur dinyanyikan Te Deum. Pembangunan rumah Yusuf belum selesai. Sementara para suster mencukupi diri dengan tempat-tempat terbatas. Hari pertama poliklinik langsung didatangi dua pasien, hari kedua lima pasien. Direncanakan akan membuka rumah sakit dengan 20 tempat tidur.

Tangal 20 Juni, para suster mulai menyesuaikan dengan kebiasaan di Indonesia. Suatu kesulitan khusus adalah bahasa. Tanpa seorang penerjemah hampir tidak mungkin untuk saling memahami, dengan berharap bahwa sambil bergaul dengan para penduduk dalam waktu singkat dapat sedikit belajar bahasa Jawa. Dari biara para suster dapat memandang gunung-gunung yang hijau yang didapati dengan tanaman pohon . Dekat biara ada hutan rimba. Singa dan gajah

yang menempatinya telah menggeser lebih jauh. Kadang-kadang sungai-sungai terlihat buaya. Beberapa orang yang sedang mandi dimangsanya.

Sr.M. Engelmunda mengajar di sekolah yang dikunjungi oleh anak laki-laki dan perempuan yang berusia antara 4-16 tahun. Jumlah murid yang awalnya 24 orang terus meningkat menjadi 35 orang dan seterusnya. Sr.M. Solanis bekerja di sekolah gedongtataan, jarak gedongtatan dari tempat perayaan Ekaristi 15 km.

Suster Solanis setiap pagi naik mobil. Para suster mengajar dalam bahasa Belanda. Akan tetapi supaya karya dapat lebih berhasil, pengetahuan bahasa Jawa mutlak perlu, karena anak-anak hanya bisa bahasa Jawa.

Pelayanan dalam bidang pastoral, dimulai dengan pelajaran agama untuk kaum ibu di desa Pamenang. Pastor Hermelink meminta bantuan para suster untuk mengajar pelajaran agama, dengan gembira suster Solanis menerima tawaran itu.

Meskipun letih, pulang dengan hati gembira karena telah melaksanakan tugas

“Menabur benih sabda Tuhan”. Yakin bahwa benih yang ditabur pada suatu saat pasti akan tumbuh, kembang dan berbuah.

Pekerjaan semakin bertambah banyak dan tenaga para suster kurang mencukupi. Disamping itu penyakit malaria sering mengganggu para suster.

Maka dengan keadaan ini diberitahukan ke rumah pusat Thuine, disertai permohonan agar ditambah suster-suster yang lain. Dewan Jendral mengabulkan permohonan tersebut dan mengirim tiga suster, mereka adalah Sr. M. Cortilia Welendorf, Sr.M. Edelgardis Hannink dan Sr.M.Adelia Grase. Tahun 1935 Muder Agung mengirim dua orang misionaris lagi yaitu Sr.M. Winibertha Kuipers berprofesi perawat dan Sr.M. Adeline Hermelink berprofesi guru.

Tanggal 25 November 1953 terjadi pembagian daerah persekutuan dalam kongregasi, Generalat, Provinsi, dan vice provinsi. Vice provinsi Santo Yusuf Pringsewu lampung saat itu mempunyai empat rumah cabang yaitu: rumah pusat Pringsewu, rumah cabang Tanjungkarang, rumah cabang Metro, dan rumah cabang Baturaja. Muder. M. Odulpha diangkat menjadi pemimpin vice provinsi dengan penesehat pertama Sr.M. Winibertha, penasehat kedua Sr.M. Yosepha.

Dalam berkat Tuhan Vice Provinsi berkembang terus. Baik dilihat dari segi jumlah anggota, rumah biara maupun perkembangan dan peningkatan pendidikan para suster.

Tanggal 24 April 1972, Kapitel Jendral ke XIII mengesahkan Vice Provinsi St. Yusuf menjadi Provinsi. Muder M. Pauline Scoorl dipilih menjadi pemimpin Provinsi. Provinsi St Yusuf Pringsewu memiliki 26 komunitas dengan tersebar di beberapa keuskupan. antara lain keuskupan Tanjungkarang, keuskupan Palembang, Keuskupan Jakarta, keuskupan Semarang, keuskupan Atambua, keuskupan Denpasar, Keuskupan Dili, keuskupan Jayapura dan keuskupan Agats.

b. Komunitas St. Fransiskus Kampung Ambon Jakarta Timur

Kampung Ambon merupakan bagian dari wilayah paroki Kramat. Telah cukup lama Pater Wahyusudibjo memikirkan kebutuhan umat di kampung ini.

Sejak tahun 1966 menawarkan kepada Muder M. Odulpha untuk berkarya di daerah pinggiran kota metropolitan ini, dengan akan menyerahkan tanah di Kampung Ambon.

Tahun 1969 Muder M. Odulpha sebagai pemimpin vice Provinsi St Yusuf Indonesia, memikirkan secara serius tawaran ini. Setelah mendapat persetujuan dari pemimpin Jenderal, merencanakan untuk memulai membangun rumah susteran di Kampung Ambon. Bangunan berbentuk bujursangkar terdiri dari enam kamar tidur untuk susteran, lengkap dengan kapel dan sarana lain, menyatu dengan rumah bersalin Mardi Asih. Kehidupan berkomunitas dijalani seirama dengan kehidupan metropolitan pinggiran. Waktu Kampung Ambon masih berstatus sebagai stasi dari paroki Kramat, para suster mendapat misa harian dari romo dari STF Driyarkara, dan OFM Kramat. Setelah unit frateran SJ. Jalan Bangunan 10 Kampung Ambon dibuka, para suster mendapat santapan rohani setiap hari, sampai hari ini.

Komunitas Kampung Ambon berkembang menjadi komunitas karya dan sebagai tempat transit bagi para suster yang berpergian, tempat pelayanan untuk para suster yang sakit dan perlu rujukan ke RS. St. Carolus. Komunitas ini juga menjadi tempat bernaung bagi para suster yang mendapat tugas studi lanjut di Jakarta.

Berjuang mempertahankan hidup rohani di lingkungan masyarakat majemuk, selektif terhadap arus modernisasi yang terus melejit dalam abad ini, agar tetap menjadi saksi cinta kasih-Nya yang penuh kerahiman. Adalah merupakan tugas yang tidak pernah selesai dari hidup para suster FSGM, yang menghuni Jln Bangunan Barat 5 Kampung Ambon khususnya, dan seluruh anggota persekutuan pada umumnya. Saat ini Klinik bersalin ditutup,

ruangan-ruangan digunakan untuk kamar tidur para suster karena anggota semakin banyak dan karya pendidikan semakin berkembang (Kongregasi,1994:245-250).

c. Komunitas St. Fransiskus Dalem Jawa Tengah

Gayamharjo terletak di lereng pegunungan Mintorogo, tanah di sepanjang lereng gunung tersebut sangat tandus. Pada awal tahun 1935 Pastor D.

Harjosuwondo,SJ mulai mengarahkan karyanya ke daerah pegunungan Mintorogo, yang ditempuhnya dari pastoran Wedi. Kedatangan beliau disambut hangat oleh masyarakat setempat, dengan panenan yang melimpah. Menjelang hari Raya Natal tahun itu, delapan puluh orang katekumen menerima sakramen permandian (Kongregasi, 1994:264).

Semangat merasul menjiwai mereka. Berkat rahmat Tuhan, tahun demi tahun jumlah umat yang bernaung dibawah panji Kristus kian bertambah. Dari antara mareka banyak yang terpanggil untuk hidup membiara, diantaranya masuk dalam kongregasi FSGM. Jumlah umat Katolik semakin meningkat maka stasi mulai membangun Gereja. Desa Dalem dipilih sebagai lokasi pembangunan Gereja, karena letaknya yang cukup strategis. Umat menyambut pembangunan Gereja dengan gembira. Kegembiraan mereka bertambah lagi dengan dibukanya SMP oleh para bruder kongregasi FIC. Dalam kegembiraan mendalam dan betumpu pada pengharapan akan kemajuan daerah serta penghayatan iman, umat masih mengharapkan kahadiran biarawati di tempat itu. Mereka mengharapkan bahwa para suster dapat ikut serta ambil bagian dalam pelayanan melalui bidang pendidikan dan kesehatan (Kongregasi, 1994:264).

Permintaan mereka akhirnya dikabulkan, sebagai tanda terimakasih atas kesediaan untuk merelakan putra-putri mereka bekerja di ladang Tuhan, mengikuti Yesus Putera-Nya dalam panggilan khusus hidup membiara di luar daerah mereka. Jumlah dari mereka yang masuk biara FSGM juga cukup banyak termasuk di dalamnya para suster pendahulu kongregasi.

Karya yang ditangani komunitas Dalem adalah pendidikan khususnya taman kanak-kanak. Saat ini muridnya cukup banyak, bahkan murid yang datang bukan dari kalangan orang Katolik melainkan dari berbagai keyakinan. Selain pendidikan, ada juga suster yang terlibat aktif di Gerejal misalnya mendampingi misdinar, Remaka ,dan OMK (Kongregasi, 1994:263-267).

d. Komunitas St. Maria Yogyakarta

Komunitas ini dibuka pada tahun 1981, dibeli dari tarekat FMM. Dari keuskupan Agung Semarang diperoleh ijin sebagai rumah studi bukan komunitas karya. Dalam pembentukan komunitas baru ini bukan hanya komunitas studi, yang menjadi prioritas utama melainkan hidup panggilan menjadi landasan dasar untuk studi sebuah kalimat singkat yang berisikan suatu cita-cita luhur, menandakan suatu bentuk penghayatan yang mendasari mulainya komunitas (Kongregasi, 1994:267-268).

Selain dipergunakan untuk para suster yang bertugas belajar, rumah ini dipergunakan juga untuk singgah bagi para suster yang sedang dalam perjalanan di Jawa Tengah untuk berbagai keperluan atau cuti keluarga. Demikian pula berfungsi sebagai rumah pertemuan para suster yang studi di Semarang, Malang,

atau di dalam kota Yogyakarta yang sesuatu alasan masih tetap kos di biara lain.

Sesuai dengan kemampuan dan kemungkinanya setiap suster hendak berusaha mengembangkan pendidikannya dalam segi rohani, ilmu pengetahuan dan pendidikan praktis (Bdk Konst 504).

Doa harus menyertai tugas harian bagaikan benang merah. Seluruh waktu doa harus sungguh-sungguh digunakan untuk berdoa, demikian kata Muder M.

Anselma. Sungguh tidak mudahnya mengatur tugas belajar dengan hari doa, sama tidak mudah mengatur hari kerja dengan doa. Tetapi para suster tetap membuktikannya bahwa bisa menjalankan itu semua. Di ruang kapel para suster mempertaruhkan hidup keseharian dihadapan Allah. Misa harian dirayakan di komunitas atau di kapel Kolose De Brito, Misa hari Minggu di Paroki Baciro atau di Kapel para suster Klaris (Kongregasi, 1994: 273-274).

Saat ini jumlah suster yang tinggal di komunitas St. Maria berjumlah 16..

Sebagian besar para suster kuliah di Santa Dharma, dan beberapa universitas lainya. Dengan kwalitas intelektual para suster mendambakan pembentukan kwalitas hidup rohani membiara. Berkat Allah menyertai mereka yang bertahan dalam kebaikan sampai akhir, sebab seorang suster yang dengan niat murni melaksanakan pekerjaan yang paling sederhana, adalah lebih menyenangkan dari pada seorang suster terpelajar yang tinggi hati (Bdk. Wasiat Mdr.M. Anselma) .

e. Komunitas St. Fransiskus Baturetno Wonogiri.

Komunitas St. Fransiskus Baturetno Jawa Tengah berdiri pada Tanggal 17 Juli 1985. Kehidupan umat katolik dari paroki wilayah keuskupan Agung

Semarang ini dikenal saleh beragama dan ulet serta tekun dalam bekerja.

Sejumlah putra-putri dari kalangan umat banyak yang menyerahkan diri dalam kehidupan membiara atau menjadi imam. Umat di dearah ini berpartisipasi aktif terhadap keprihatinan masyarakat setempat. Pilihan kegiatan pada tahun 1965 adalah bidang kesehatan. Yayasan Dana Papa Miskin Keuskupan Agung semarang menjawab kebutuhan umat dan jeritan masyarakat yang jauh dari rumah sakit ini dengan mendirikan cabang karya kesehatan dengan status BKIA/Poli umum di desa Janglot Baturetno Wonogiri. Kehadiran BKIA disambut hangat oleh masyarakat setempat. Karya ini dikelola oleh paroki (Kongregasi, 1994:278).

Pastor Stormmsand memberikan tawaran kepada suster-suster Pringsewu untuk membantu memajukan daerah dan menyelamatkan karya kesehatan.

Tawaran ini diterima baik oleh pimpinan suster-suster Pringsewu dan mengadakan perjanjian kontrak dengan paroki yang di tandatangani oleh lembaga hukum masing-masing. Dalam perjanjian kontrak disebutkan bahwa para suster wajib mempertahankan pelayanan kepada yang miskin.

Melihat perkembangan yang pesat dari RB dan BKIA ini serta kemungkinan pengembangannya, Pastor Stormmsand memikirkan kemungkinan lain, yakni bermaksud menyerahkan pengelolaan dan pemilikan RB/BKIA kepada kongregasi FSGM. Rencana ini disetujui ole Bapak Uskup Agung Semarang dan ditawarkan kepada tarekat. Tawaran diterima oleh Provinsi FSGM dengan tetap mengingat misi semula dari pendirinya. Konsep pembaharuan kontrak diubah menjadi perjanjian penyerahan.

Bulan Januari 1989, Muder M. Teresia dan Sr. M. Magdalena menerima penyerahan dari pengurus dan staf P.G.P.M yang diketuai oleh Rm J Stormmsand, SJ. Acara serah terima diawali dengan perayaan Misa Kudus, selesai penandatangan berita acara dilanjutkan dengan rama tamah yang disaksikan dan dihadiri oleh dewan paroki Baturetno dan segenap karyawan RB/BKIA Pancasila.

Dengan kemajuan zaman dan tuntutan dari pemeritah maka RB/BKIA di naikan statusnya menjadi Klini Utama Pancasila. Para suster melayani siapa saja yang datang khusunya mereka yang miskin.

Para suster juga mengambil bagian di karya pastoral, dengan terlibat aktif di Gereja dan lingkungan. Menjalin hidup bersama dengan masyarakat di sekitar menandakan kerukunan dan indahnya perbedaan.

B. Penelitian tentang Pengaruh Penghayatan Kaul Kemiskinan dalam Persaudaraan FSGM Di Wilayah Jawa.

1. Rencana Penelitian a. Tujuan Penelitian

1) Untuk mengetahui, mendeskripsikan seberapa besar pengaruh penghayatan kaul kemiskinan dalam persaudaraan FSGM.

2) Untuk mengetahui dan mendeskripsikan usaha-usaha yang dapat dilakukan untuk melihat pengaruh penghayatan kaul kemiskinan dalam persaudaraan FSGM.

b. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan oleh peneliti adalah jenis penelitian kualitatif dengan metode analisis deskriptif berdasarkan pengalaman hidup bersama dalam komunitas, wawancara dan penyebaran angket kuesioner.

Penelitian kualitatif sebagaimana yang diungkapkan Bogan dan Taylor, sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati (Moleong, 2012:4).

Jenis penelitian kualitatif juga sering disebut sebagai metode etnografi karena pada awalnya metode penelitian ini lebih banyak digunakan untuk penelitian di bidang antropologi budaya. Penelitian kualitatif merupakan metode penelitian yang digunakan untuk meneliti objek yang berkembang apa adanya, tidak manipulasi oleh peneliti dan kehadiran peneliti tidak mempengaruhi dinamika pada objek tersebut. Peneliti bertindak sebagai instrumen kunci, tekni pengumpulan data melalui wawancara dan penyebaran angket kuesioner dan hasil penelitian lebih menekan pada makna (Sugiyono, 2014:8-9). Penelitian ini diajukan untuk mengungkapkan penghayatan kaul kemiskinan dalam persaudaraan FSGM di wilayah Jawa.

c. Desain Penelitian

Desain penelitian yang digunakan oleh penulis yaitu yaitu desain ex-post facto. Penelitian dengan desain ex-post facto yaitu penelitian yang dilakukan untuk meneliti suatu peristiwa yang telah terjadi dan kemudian melihat kebelakang untuk mengetahui faktor-faktor yang menimbulkan kejadian tersebut

(Sugiono, 2014:50). Dalam ex-post facto ini penulis tidak perlu lagi memberi perlakukan pada sampel yang akan diteliti karena sampel sudah mengalami atau mendapat perlakuan. Dalam penelitian ini masalah yang diteliti adalah pengaruh penghayatan kaul kemiskinan dalam persaudaraan suster FSGM di wilayah Jawa.

d. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian merupakan alat pengumpulan data (Nana Sudjana, 2012:97). Penelitian ini menggunakan instrumen penelitian berupa skala Likert.

Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau kelompok orang tentang fenomen sosial (Sugiyono, 2013:134). Dalam skala Likert ini variabel yang akan diukur dijabarkan sebagai titik tolak untuk menyusun item-item instrumen yang dapat berupa pertanyaan atau pernyataan (Sugiyono, 2013:135).

Jawaban dari setiap instrumen yang menggunakan skala Likert terdiri dari lima atau empat tingkatan yang mempunyai gradasi dari sangat positif sampai sangat negatif, diantaranya adalah:

a. Sangat setuju a. Selalu a. Sangat baik

b. Setuju b. Sering b. Baik

c. Ragu-ragu c. Kadang-kadang c. Tidak baik

d. Tidak setuju d. Tidak pernah d.Sangat tidak baik e. Sangat tidak setuju

Instrumen penelitian yang menggunakan skala Likert dapat dibuat ke dalam bentuk chekclist ataupun pilihan ganda.

e. Responden Penelitian

Responden penelitian adalah Suster-suster FSGM di komunitas wilayah Jawa. Guna menentukan responden penelitian perlu diketahui terlebih dahulu perbedaan antara populasi dan sampel. Populasi adalah kelompok atau kumpulan subyek yang akan dikenai generalisasi hasil penelitian, sedangkan sampel adalah bagian dari populasi yang akan diteliti (Priyanto, 2008:9).

Tabel I

Responde Penelitian

NO Komunitas Jumlah Responden

1 Komunitas St. Fransiskus Kampung Ambon Jakarta

19 orang

2 Komunitas St. Maria Yogyakarta 16 orang

3 Komunitas St. Fransiskus Dalem 2 orang

4 Komunitas St. Fransiskus Baturetno 4 orang

Jumlah 41 Orang

f. Tempat dan waktu

Penelitian dilaksanakan pada bulan April sampai dengan Mei 2019 di komunitas Suster-suster Fransiskan Santo Georgius Martir di wilayah Jawa.

g. Variabel Penelitian.

Sugiyono (2014:60) menjelaskan variabel penelitian sebagai “segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh penelitian untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut kemudian ditarik kesimpulan”.

Dalam hal ini variabel yang akan diteliti adalah: Pengaruh penghayatan kaul

kemiskinan dalam persaudaraan FSGM, faktor-faktor pendukung dan penghambat kaul kemiskinan dan persaudaraan FSGM serta harapan suster-suster FSGM untuk lebih memaknai kaul kemiskinan dalam persaudaraan FSGM

g. Kisi-Kisi Penelitian

Tabel II Kisi-kisi instrumen

No Variabel Aspek Indikator Juml

ah

1. Mampu meneladani skiap Yesusyang mengutamakan orang-orang yang lemah dan kecil.

2. Mampu menentukan sikap terhadap harta benda

1-2

Beradaptasi 1. Mampu untuk hidup di mana pun.

2. Mampu bersyukur atas apa yang ada

1. Mampu mencintai panggilan yang telah dipilih.

2. Mampu terlibat dengan sesama.

9-11

Solider 1. Mampu menumbuhkan sikap peka terhadap kebutuhan sesama.

2. Ikut merasakan apa yang dialami oleh sesama.

12-15

Tabel III

Kisi-kisi Instrumen Persaudaraan

No Variabel Aspek Indikator Jumlah

2. Persaudaraan Memahami sesama

1. Mampu menerima teguran yang membangun.

2. Mampu mengatasi salah paham dalam hidup

1. Mampu menyatukan segala perbedaan yang ada.

2. Mampu menjadi saudara bagi sesama

19-20

Memaafkan .

1. Mampu untuk melupakan masalah yang terjadi.

2. Mampu berelasi dengan baik

2. Menawarkan diri dalam membantu

1. Mampu berbagi dengan sesama dalam komunitas.

2. Mampu menjalin relasi yang akrab.

28-30

83%

17%

1. Sikap mengutamakan orang yang lemah dan miskin 2. Laporan dan Pembahasan Hasil Penelitian

a. Apek Partisipasi dalam Kristus

No Aspek yang diungkap Jawaban Jumlah Persentase (%) 1 Sikap mengutamakan

orang-orang yang lemah dan miskin merupakan sikap Yesus yang

Tabel dan diagram lingkaran di atas berdasarkan hasil penelitian terhadap 41 suster, mendapat respon sebanyak 34 suster (83%) menyatakan sangat setuju, dan 7 suster (17%) mengatakan setuju.

Hasil penelitian terhadap 41 suster yang diteliti membuktikan bahwa seluruh suster 41 (100%), para suster mengatakan sangat setuju dan setuju bahwa dalam pelayanan para suster mengutamakan orang-orang yang lemah dan miskin yang merupakan sikap Yesus yang perlu diteladani.

46%

54%

2. Perlunya pengendalian diri terhadap keinginan-keinginan No Aspek yang diungkap Jawaban Jumlah Persentase

(%) 2 Perlunya pengendalian diri

terhadap keinginan-keinginan

Tabel dan diagram di atas berdasarkan hasil penelitian penulis terhadap 41 suster, mendapat respon sebanyak 19 suster (46%) menyatakan sangat setuju, sebanyak 22 suster(54%) menyatakan setuju.

Hasil penelitian terhadap 41 suster yang diteliti membuktikan bahwa sebanyak 41 suster (100%) sangat setuju dan setuju bahwa para suster perlu pengendalian diri terhadap keinginan-keinginan dan mengambil jarak sehingga sikap hormat semakin tumbuh terhadap harta benda.

71%

29%

3. Rela meninggalkan segala sesuatu demi mencapai Kerajaan Allah No Aspek yang diungkap Jawaban Jumlah Persentase (%) 3 Rela meninggalkan segala

sesuatu demi mencapai

Tabel dan diagram di atas berdasarkan hasil penelitian penulis terhadap 41 suster, mendapat respon sebanyak 29 suster (71%) menyatakan sangat setuju, sebanyak 12 suster (29%) menyatakan setuju.

Tabel dan diagram di atas berdasarkan hasil penelitian penulis terhadap 41 suster, mendapat respon sebanyak 29 suster (71%) menyatakan sangat setuju, sebanyak 12 suster (29%) menyatakan setuju.