• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. USULAN PROGRAM KATEKESE UMAT DALAM RANGKA

E. Contoh Satuan Persiapan Katekese Umat I

1. Identitas

a. Tema : Toleransi Dalam Hidup Bersama di Seminari b. Tujuan : Bersama pendamping, peserta semakin toleran dalam

hidup bersama, sehingga kerukunan hidup bersama di Seminari dapat terjaga.

c. Peserta : Siswa Seminari St. Paulus Nyarumkop d. Tempat : Aula Seminari

e. Hari/tgl : Sabtu, 23 Juli 2011 f. Waktu : 19.00 – 20.30 WIB g. Model : Shared Christian Praxis

h. Metode : - Tanya jawab - Diskusi kelompok - Sharing pengalaman - Refleksi pribadi - Pendalaman cerita - Informasi - Peneguhan

i. Sarana : - Buku Madah Bakti

- Teks Cerita “Orang yang Kuremehkan Ternyata adalah Berkat Bagiku”.

- Teks lagu “Hidup Rukun Dan Damai” dan “Hari Ini Kurasa Bahagia”

- Teks pertanyaan pendalaman

- Teks atau Kitab Suci Perjanjian Baru - Tape dan Kaset “Musik Instrumen”

j. Sumber Bahan : - Injil Matius 13: 24 – 30

-BPK Gunung Mulia (1983). Tafsiran Alkitab Masa Kini 3 (Matius- Wahyu), Jakarta: P.D.Nilakandi. Hal. 95-96. -Bergant, Dianne, CSA (2002). Tafsir Alkitab Perjanjian

Baru. Yogyakarta: Kanisius. Hal. 54.

-Pujaraharja, Blasius Mgr. Pr, dkk. (2011). Renungan Harian Mutiara Iman. Yogyakarta : Yayasan Pustaka Nusatama.

2. Pemikiran Dasar

Dalam kenyataan hidup sehari-hari seringkali orang kurang menyadari akan pentingnya toleransi dalam hidup bersama, terutama dalam hidup di seminari yang terdiri dari berbagai latar belakang daerah, suku, budaya, dan usia yang berbeda-beda. Setiap pribadi sangat dipengaruhi oleh latar belakang pembawaan masing-masing baik itu budaya, suku, dsb. Dengan segala perbedaan itu seringkali masing-masing tidak mau menghormati dan menghargai, tertutup, berpikir negatif, berbuat semaunya/ sekehendak hati dengan tidak memperhatikan teman-teman disekitarnya. Oleh karena itu, betapa pentingnya sikap toleran di dalam seminari, terutama dalam mengahayati panggilan bersama sebagai calon-calon imam. Kunci keberhasilan untuk membangun toleransi dalam seminari ini tergantung pada kesadaran pribadi masing-masing dalam hidup bersama. Perlakuan baik terhadap teman maupun orang lain menyangkut sikap saling menghormati dan menghargai, mau kerja sama, keterbukaan, perhatian, sapaan,

berpikir positif, dsb sangat membantu sekali keberhasilan untuk toleran dalam kehidupan di seminari ini, sehingga semakin terciptalah kerukunan dan kedamaian dalam hidup bersama.

Dalam Injil Matius 13: 24-30, Yesus memberi suatu perumpamaan tentang lalang di antara gandum. Dalam perumpamaan itu terlihat sikap orang yang toleran dan yang tidak toleran. Orang yang tidak toleran digambarkan dengan hamba-hamba yang ingin mencabut lalang (ayat 28). Sedangkan sikap toleran ditunjukkan oleh si tuan yang mempunyai ladang “biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai (ayat 30). Yesus mengharapkan para murid-Nya agar toleran dan terbuka terhadap orang lain karena pada waktunya nanti mereka akan menerima balasan dari setiap perbuatan yang telah dilakukan. Ditengah keberanekaragaman suku, budaya dan adat kebiasaan, Yesus mengajak semua orang untuk “menghargai” orang lain dan toleran kepada semua golongan. Sebagai orang kristiani yang mengimani Yesus Kristus setiap umat beriman diharapkan memiliki sikap-sikap seperti yang diajarkan oleh Yesus yaitu: saling menghormati dan menghargai, terbuka dan toleran terhadap orang lain. Dengan demikian dapat semakin tercipta kerukunan dalam hidup bersama.

Dari pertemuan ini diharapkan agar peserta semakin mampu menyadari pentingnya sikap toleran dalam hidup bersama di seminari dan dengan demikian juga sebagai murid Kristus semakin mampu untuk melaksanakan ajaran Yesus untuk saling menghormati dan menghargai, terbuka, dan toleran terhadap orang lain dan teman-teman di seminari ini sehingga dapat semakin terwujudlah kerukunan di dalam hidup bersama di seminari.

3. Pengembangan Langkah Langkah

a. Pembukaan

1) Pengantar

Teman-teman yang terkasih dalam Yesus Kristus, selamat malam! Pada pertemuan kali ini kita bersama disatukan dalam kasih Yesus, berkumpul di tempat ini untuk bersama-sama mencoba menyadari, apakah kita sudah dapat hidup toleran atau tidak di seminari ini. Marilah dalam pertemuan ini kita mencoba melihat kembali dan berusaha untuk menyadari bagaimanakah sikap yang seharusnya kita miliki dalam meningkatkan toleransi di seminari ini.

2) Lagu Pembukaan : “Hari Ini Kurasa Bahagia”. 3) Doa Pembukaan

Bapa yang Maha Baik, syukur dan pujian kami haturkan kehadirat-Mu atas penyertaan-Mu sepanjang hari ini, sehingga pada kesempatan kali ini, kami anak-anak-Mu dapat berkumpul di tempat ini. Berkatilah dan terangilah hati dan budi kami dengan Roh Kudus-Mu agar lewat pertemuan ini kami dapat semakin menyadari pentingnya sikap toleransi dalam hidup bersama, sehingga dengan ini dapat semakin terciptalah kerukunan dalam hidup bersama di seminari ini. Kami persembahkan segala pembicaraan kami saat ini kepada-Mu, semoga Engkau berkenan memberkati dan menyemangati usaha pendalaman iman kami ini. Demi Kristus, Tuhan dan pengantara kami. Amin.

b. Langkah I : Mengungkapkan pengalaman hidup peserta

1) Membagikan teks cerita “Orang yang Kuremehkan Ternyata adalah Berkat Bagiku” kepada peserta dan memberi pada peserta kesempatan untuk membaca dan mempelajari sendiri terlebih dahulu.

2) Penceritaan kembali isi cerita: pendamping memberikan kesempatan kepada salah satu peserta untuk mencoba menceritakan kembali dengan singkat tentang isi pokok dari cerita tersebut.

3) Intisari cerita “Orang yang Kuremehkan Ternyata adalah Berkat Bagiku” Frater Hendra adalah salah seorang frater dari Indonesia yang melanjutkan studi di Taiwan. Di Taiwan ia tinggal di suatu komunitas bersama frater-frater yang berasal dari berbagai negara. Di komunitas tersebut Fr. Hendra kurang menghargai seorang frater yang berasal dari Filipina karena dari pengamatan dan pengalamannya, ia melihat frater ini tidak pernah buka mulut dalam setiap pertemuan. Frater Filipina ini lebih banyak diam, tidak pernah bertanya ataupun memberikan usul/ saran ataupun memberi tanggapan dalam berbagai pertemuan. Hal inilah yang membuat Fr. Hendra meremehkan frater Filipina ini. Namun pandangan Fr. Hendra ini berubah total ketika ditengah kebingunannya ia dibantu oleh frater dari Filipina ini dalam melaksanakan tugasnya mengurus misa komunitas. Frater Filipina ini selalu siap sedia dengan gitarnya membantu orang yang membutuhkan bantuannya dengan senang hati siapapun yang meminta bantuannya tak ada yang ditolak walaupun itu secara mendadak. Sejak kejadian itu Fr. Hendra

tidak lagi meremehkan frater ini dan bisa menerimanya walau tetap saja frater ini pasif bicara dalam setiap pertemuan.

4) Pengungkapan pengalaman: pendamping mengajak peserta untuk mendalami cerita tersebut dengan tuntunan beberapa pertanyaan :

a) Apa yang dilakukan oleh frater dari Filipina itu terhadap Fr. Hendra? b) Ceritakanlah pengalaman teman-teman di seminari ini dalam

membangun toleransi? 5) Suatu contoh arah rangkuman

Dalam cerita yang telah teman-teman baca dan dengarkan tadi, kita mengetahui bagaimana Fr. Hendra yang tadinya meremehkan frater dari Filipina akhirnya dapat toleran dengannya. Fr. Hendra ternyata terbantu dengan adanya frater dari Filipina ini. Frater Filipina ini dengan senang hati membantu Fr. Hendra mengiringi misa komunitas dengan gitarnya. Frater ini juga selalu siap bagi siapa saja yang membutuhkan bantuannya. Fr. Hendra yang tadinya meremehkan frater Filipina ini dan tidak toleran dengan kekurangannya akhirnya dapat toleran dan bisa menerima kekurangan frater ini.

Begitu pula dengan pengalaman kita, dimana kita dalam seminari ini terdiri dari berbagai suku, budaya, dan perbedaan usia. Pada kenyataannya dengan perbedaan-perbedaan itu kita seringkali kurang toleran dalam hidup bersama sehingga kita cenderung untuk bersikap tertutup, cuek dengan teman, meremehkan teman, kurang mau membantu teman yang sedang mengalami masalah, kurang mau bekerja sama dengan orang lain, dan berbuat semaunya

atau sekehendak hati dengan tidak peduli teman-teman di sekitar kita. Oleh karena itu, perlunya kita toleran dalam hidup bersama yaitu mau terbuka, peduli dengan teman, saling menolong dan memperhatikan kebutuhan sesama.

c. Langkah II: Mendalami Pengalaman hidup peserta

1) Pendamping mengajak peserta untuk merefleksikan sharing pengalaman yang telah dilakukan oleh peserta pada langkah sebelumnya dengan dibantu pertanyaan sebagai berikut:

a) Apa kesulitan-kesulitan yang dirasakan sewaktu teman-teman harus toleran dengan orang lain?

b) Cara mana sajakah yang teman-teman gunakan dalam menghadapi kesulitan-kesulitan untuk toleran di seminari ini ?

2) Dari jawaban yang telah diungkapkan oleh peserta, pendamping memberikan rangkuman singkat:

Salah satu kunci keberhasilan untuk lebih toleran dalam hidup bersama sangat tergantung pada kesadaran pribadi akan pentingnya sikap toleransi dalam hidup bersama. Sadar akan pentingya sikap toleransi dalam hidup bersama dapat memampukan kita untuk bersikap terbuka, bersedia menolong, mau bekerja sama, saling perhatian dsb, sehingga olehnya kerukunan dan kedamaian dalam hidup bersama di seminari ini dapat diupayakan. Selain itu juga dapat terciptalah suasana nyaman, tenang dan

saling mendukung dalam belajar untuk menghayati panggilan sebagai calon imam.

d. Langkah III: Menggali Pengalaman Iman Kristiani

1) Pendamping meminta bantuan salah seorang dari peserta untuk membacakan sebuah perikop Kitab Suci dari Injil Matius 13: 24–30. (Teks fotocopy dibagikan kepada peserta).

2) Pendamping memberikan waktu sebentar kepada peserta untuk hening sejenak sambil secara pribadi merenungkan dan menanggapi pembacaan Kitab Suci dengan dibantu beberapa pertanyaan sebagai berikut : (saat hening diiringi oleh musik instrumental)

a) Ayat manakah yang mengajak kita untuk hidup toleran dan terbuka terhadap orang lain ? Mengapa ?

b) Apa makna toleransi yang dapat kita petik dari perikop tersebut? 3) Pendamping memberikan kesempatan kepada peserta untuk

merenungkan dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan sehingga peserta dapat menemukan pesan inti dari perikop tersebut. 4) Pendamping memberikan tafsir dari perikop, yaitu Injil Matius 13: 24 –

30 dan menghubungkannya dengan tanggapan peserta dan dalam hubungannya dengan tema dan tujuan.

Injil Matius 13: 24 – 30 menggambarkan sikap yang harus dilakukan dalam hidup bersama dengan orang lain. Dalam perikop tersebut penginjil Matius menceritakan tentang seorang tuan yang menaburkan benih gandum

ke ladangnya (ayat 25). Namun ternyata ada musuhnya yang tidak suka dengan perbuatan si tuan tersebut, sehingga ia pun menaburkan benih lalang ke ladang tuan tersebut sewaktu semua orang sedang tertidur (ayat 26). Sikap tidak toleran diperlihatkan oleh hamba yang hendak mencabut lalang dari tanaman gandum (ayat 28). Akan tetapi sikap mereka ini bertolak belakang dengan si tuan yang menaburkan benih gandum tersebut. Si tuan melarang hambanya mencabut lalang (ayat 29) dan membiarkan lalang itu tumbuh bersama dengan gandum tersebut (ayat 30). Si tuan, meskipun bisa, tidak serta merta mencabut lalang yang sengaja ditaburkan oleh musuh. Yesus mau mengajarkan kepada kita untuk tidak cepat menghakimi orang lain. Kita menyadari bahwa kita hidup di tengah-tengah masyarakat yang sangat plural (majemuk) dengan beraneka suku, etnis, budaya, agama dan adat kebiasaan. Melalui perumpamaan ini, Yesus mengajak kita untuk menghargai orang lain, pihak lain yang berbeda dengan kita dan tidak terlalu cepat mau menyingkirkan orang yang berbeda dengan kita.

Dari teks Kitab Suci yang telah bersama-sama kita dalami dapat kita ketahui bahwa kita sebagai orang Kristiani yang mengimani Yesus Kristus di tuntut untuk memiliki sikap-sikap yang sesuai dengan apa yang telah diajarkan oleh Yesus kepada kita yaitu tidak cepat menghakimi teman atau orang lain, saling menghormati dan menghargai, terbuka dan toleran terhadap semua orang yang mempunyai kehendak baik. Dengan menyadari dan dimilikinya sikap toleransi dalam hidup bersama kita dapat semakin

mewujudkan kerukunan dan kedamaian dalam hidup bersama terutama dalam seminari ini.

e. Langkah IV: Menerapkan iman Kristiani dalam situasi peserta konkret

1) Pengantar

Melalui proses yang telah kita lewati bersama tadi kita sudah mengetahui apa pesan pokok yang ingin disampaikan lewat cerita dan perikop dari Injil Matius 13: 24–30 tadi. Bahwa betapa pentingnya toleransi dalam hidup bersama, dimana kita hidup di tengah-tengah masyarakat yang plural (majemuk), terutama dalam seminari ini yang terdiri dari berbagai latar belakang yang berbeda-beda baik itu suku, usia, budaya, adat kebiasaan dll. Meskipun dalam perjalanan hidup seringkali kita sebagai seminaris kurang menyadari akan pentingnya sikap toleransi dalam hidup bersama, sehingga kita cenderung untuk bersikap tertutup, meremehkan teman, berpikir negatif, dan mengadili teman sekehendak hati dengan tidak memperhatikan teman-teman disekitarnya. Namun dalam pertemuan ini, kita disadarkan oleh Yesus untuk semakin toleran terhadap semua orang terutama di dalam seminari ini. 2) Sebagai bahan refleksi agar kita dapat semakin menyadari betapa

pentingnya toleransi dalam hidup bersama, terutama di dalam seminari ini. Untuk itu marilah kita mencoba menjawab dan merenungkan pertanyaan berikut:

a) Sikap apa saja yang perlu kita lakukan ketika membangun toleransi dalam komunitas di seminari ini ?

b) Sebagai seorang seminaris, apakah toleransi itu penting bagi kita? Mengapa ?

(pendamping memberikan waktu kepada peserta untuk merenungkan pertanyaan-pertanyaan penuntun yang diberikan sambil diiringi oleh alunan musik instrumen)

3) Suatu contoh rangkuman penerapan pada situasi peserta.

Yesus telah mengajarkan kepada kita untuk toleran dan terbuka terhadap orang lain yang mempunyai kehendak baik. Marilah kita kembali menyadari, bahkan berani menanggalkan hal-hal yang menghambat kita untuk bersikap toleran, terbuka, berpikir positif, saling menghormati dan menghargai, serta kerja sama. Kita hendaknya juga semakin berani mengakui kelemahan kita karena seringkali kita juga bersikap tidak toleran, tertutup, berpikir negatif baik terhadap teman maupun orang lain. Dan kita juga hendaknya memohon bantuan dari Allah agar Dia mengubahnya menjadi daya kekuatan baru. Tidaklah mudah untuk membangun toleransi dalam hidup bersama terutama dalam komunitas di seminari ini. Namun dengan dimulai dari pribadi untuk menyadari pentingnya menanamkan sikap toleran terhadap teman atau orang lain dan dengan rahmat dan kekuatan Allah sendiri, maka Dialah yang sanggup memampukan kita untuk meneladani Yesus yaitu bersikap terbuka, berpikir positif, toleransi, saling menghormati dan menghargai orang lain yang berkehendak baik, sehingga dengan sikap-sikap ini dapat terciptalah kerukunan dalam hidup bersama terutama di dalam komunitas seminari ini.

f. Langkah V: Mengusahakan aksi konkret 1) Pengantar.

Teman-teman sekalian yang terkasih dalam Yesus Kristus. Lewat cerita “Orang yang Kuremehkan Ternyata adalah Berkat Bagiku” tadi kita dapat belajar untuk hidup toleran dengan semua orang. Hidup toleran dapat kita tunjukkan melalui sikap terbuka, saling memperhatikan, mau menolong, dan peduli dengan orang lain. Kita juga telah bersama-sama mencoba untuk merefleksikan apa yang selama ini kita lakukan, terutama sikap toleran dalam hidup bersama terutama dalam komunitas di seminari ini, kita mencoba untuk menyadari sudahkah kita bersikap toleran terhadap teman atau orang lain.

Lewat bacaan dari Kitab Suci, Tuhan Yesus juga mengajarkan kepada kita bahwa hendaknya kita bersikap toleran, terbuka, berpikir positif, saling menghormati dan menghargai terhadap semua orang yang berkehendak baik. Kita juga harus yakin bahwa dengan rahmat dan kekuatan Allah sendiri, kita dapat dimampukan untuk meneladani Yesus untuk bersikap toleran terhadap semua orang.

Kita sebagai seminaris, diajak juga untuk semakin menyadari pentingnya toleransi dalam hidup bersama terutama dalam komunitas di seminari ini yang terdiri dari berbagai latar belakang budaya, suku dan adat kebiasaan yang berbeda-beda, sehingga dengan dibangunnya sikap toleran dalam komunitas ini dapat terciptalah kerukunan, kedamaian dan ketenangan hidup yang dapat mendukung keberhasilan study kita.

2) Secara bersama-sama memikirkan rencana apa yang akan dilakukan setelah mengikuti pertemuan ini, terutama sikap toleransi dalam komunitas di seminari ini.

a) Rencana apa yang akan kita lakukan agar kita dapat semakin toleran di dalam komunitas di seminari ini?

b) Hal-hal apa saja yang perlu kita perhatikan untuk mewujudkan rencana tersebut?

c) Kapan, dimana dan kepada siapa rencana tersebut saya laksanakan? (Pendamping memberikan kesempatan bagi peserta sejenak untuk memikirkan dan merenungkan rencana apa yang akan mereka lakukan dengan pertanyaan penduan pada langkah b dan mengungkapkan rencana tersebut baik rencana pribadi ataupun rencana bersama kepada peserta lain).

g. Penutup

1) Teman-teman yang terkasih, kita telah membuat rencana. Marilah kita bersama-sama memohon kekuatan dan semangat dari Allah, agar segala rencana yang kita buat sungguh-sungguh dapat kita wujudkan secara nyata dalam hidup kita sehari-hari. Maka dari itu dengan hati yang terbuka, marilah kita menyampaikan permohonan secara spontan.

2) Pendamping memberikan kesempatan kepada para peserta untuk menyampaikan doa umat secara spontan yang terlebih dahulu diawali oleh pendamping yang menghubungkan dengan kebutuhan dan situasi peserta. Setelah peserta menyampaikan doa-doa permohonannya,

pendamping menutup dengan doa penutup yang isinya merangkum keseluruhan langkah yang telah dilewati dalam proses tadi.

3) Doa Penutup

Allah Bapa yang Maha Baik, kembali kami haturkan syukur dan pujian padaMu, karena Engkau telah membimbing kami selama pertemuan ini berlangsung. Lewat pertemuan ini kami telah belajar, bagaimana hidup toleran dalam hidup bersama terutama dalam komunitas di seminari ini, kami juga semakin menyadari bahwa betapa pentingnya menanamkan sikap toleransi, terbuka, berpikir positif, saling menghormati dan menghargai terhadap semua orang. Tetapi seringkali juga kami kurang menyadari bahwa selama ini kami sering bersikap kurang toleran, tertutup dan bahkan berpikir negatif baik terhadap teman atau orang lain. Kami mohon kepada-Mu anugerahkanlah kepada kami semangat persaudaraan dalam membangun kerukunan dan toleransi di dalam hidup bersama terutama dalam komunitas di seminari ini. Marilah kita bersama-sama memanjatkan doa yang diajarkan Tuhan Yesus kepada kita. Bapa kami………….

4) Setelah doa penutup, pertemuan diakhiri dengan menyanyikan bersama lagu dari Madah Bakti, No. 530 “Hidup Rukun Dan Damai”

Dokumen terkait