1. Melarang masyarakat untuk melakukan aktifitas apa pun di dalam kawasan hutan (menutup akses masyarakat terhadap kawasan hutan)
2. Mengeluarkan perambah hutan dari kawasan hutan yang telah dirambahnya atau mengupayakan program lainnya yang dapat mengakomodasikan keinginan dari masyarakat
3. Meminta perusahaan dan masyarakat tidak melakukan kegiatan sebelum ada penyelesaian masalah
Pihak Perusahaan A. Cooperatif
1. Menawarkan program MHBM kepada masyarakat pada kawasan hutan yang menjadi konflik/berpotensi terjadi konflik
2. Koordinasi dengan instansi terkait (sampai dengan tingkat desa) dan lembaga non pemerintah lainnya (LSM, Perguruan Tinggi, tokoh masyarakat) untuk mencari solusi dalam upaya pemecahan masalah
cxii B. Non Cooperatif
1. Melarang masyarakat untuk melakukan aktifitas apa pun di dalam kawasan hutan (menutup akses masyarakat terhadap kawasan hutan)
2. Tidak melakukan pembangunan HTI pada areal yang menjadi sengketa
Pihak Masyarakat
A. Cooperatif
1. Masyarakat menerima bahwa lahan yang dijadikan tempat
berladang/berkebun karet merupakan kawasan hutan produksi dan telah ditetapkan sebagai areal HPHTI PT. MHP
2. Menerima dan ikut serta dalam program MHBM yang ditawarkan perusahaan
B. Non Cooperatif
Masyarakat tidak mengakui bahwa tempat berladang atau berkebun karet sebagai kawasan hutan sehingga mereka tetap berusaha membuka atau mengusahakannya. Jika memungkinkan akan mengupayakan memilikinya.
Adapun yang menjadi pay off dari permainan ini adalah :
1. Pihak masyarakat
a. Akses masyarakat atas lahan hutan menjadi terbuka
b. Produktifitas lahan menjadi optimal (sudah ditanami dan akan menghasilkan) sehingga dapat mengurangi tingkat degradasi lahan
c. Terciptanya lapangan kerja dan kesempatan kerja bagi masyarakat d. Tingkat pendapatan dan kesejahteraan ma syarakat meningkat
e. Redistribusi (dalam arti pengelolaan) kepada nasyarakat berjalan dengan baik
2. Pihak perusahaan
a. Luas tanaman HTI menjadi meningkat
b. Terjaminnya produksi hasil hutan untuk sumber bahan baku industri
c. Supremasi hukum dihargai karena kawasan tersebut menurut aspek legal formal merupakan kawasan hutan
cxiii
3. Pihak pemerintah daerah (kehutanan)
a. Luas hutan yang produktif menjadi meningkat
b. Supremasi hukum dihargai karena kawasan tersebut menurut aspek legal formal merupakan kawasan hutan
c. Menghilangkan anggapan bahwa kawasan hutan dapat diubah setiap saat menjadi tempat berladang dan berkebun karet oleh masyarakat
d. Bertambahnya sumber pembiayaan daerah yang berasal dari lahan dan hasil hutan
e. Terjaminnya fungsi produksi, hidrologi dan ekologi hutan
Jika secara ekonomi, besarnya payoff pemerintah daerah didasarkan pada pajak yang diterima per tahun berupa pembayaran Pajak Bumi Bangunan (PBB) yaitu sebesar Rp. 2.480,- per ha (untuk areal hutan yang ditanami dan berumur 1-3 tahun) dan Provisi Sumber Daya Hutan (PSDH) sebesar Rp. 3.000,- per m3, yang berdasarkan perhitungan Rp. 234.541.271,- per tahun atau Rp 401.432,- per ha per tahun. Payoff perusahaan didasarkan pada pendapatan yang diterima (berdasarkan perhitungan mencapai Rp. 6.379.631.815,- per tahun atau Rp. 12.106.328,- per ha per tahun) atau kerugian yang ditanggung bila tidak melakukan penebangan (perusahaan telah melakukan investasi dalam HTI sebesar Rp. 7.633.520,- per ha yang dipergunakan untuk kegiatan persemaian, penanaman, pemeliharaan dan pemungutan dan pemanfaatan hasil hutan). Sedangkan payoff masyarakat didasarkan pada pendapatan rata-rata per tahun yaitu sebesar Rp. 6.551.868,-. Jika dibuatkan dalam matrik pay off untuk setiap pihak ya ng terlibat terlihat pada Tabel 34, 35 dan 36
Tabel 34 Matriks pay off interaksi antara perusahaan dan masyarakat Masyarakat
Cooperatif (A) Non cooperatif (B) Cooperatif (A) (12.106.328) (6.551.868) (12.106.328) ( 0 )
Perusahaan
cxiv Tabel 35 Matriks payoff interaksi antara pemerintah dengan perusahaan
Perusahaan
Cooperatif (A) Non cooperatif (B) Cooperatif (A) (401.432) (12.106.328) (401.432) ( 0 )
Pemerintah
Non cooperatif (B) (-400.952) (12.106.328) (-400.952) ( 0 )
Tabel 36 Matriks payoff interaksi antara pemerintah dengan masyarakat Masyarakat
Cooperatif (A) Non cooperatif (B) Cooperatif(A) (401.432) (6.551.868) (401.432) (-791.868)
Pemerintah
Non cooperatif (B) (-400.952) (6.551.868) (-400.952) (-791.868 )
Seperti disebutkan sebelumnya bahwa areal hutan yang dijadikan areal kerja Program MHBM adalah areal hutan konsesi HPHTI yang disengketakan/diklaim oleh masyarakat dan areal-areal yang memiliki potensi konflik seperti areal yang diakui sebagai lahan adat, marga, desa dan sebagainya. Dengan demikian, adanya kelembagaan MHBM dapat mencegah dan mengurangi terjadinya konflik penggunaan lahan dengan masyarakat sekaligus me ningkatkan akses masyarakat terhadap sumberdaya hutan dengan menjadikan masyarakat sebagai subyek dalam pengelolaan HTI. Peranan kelembagaan MHBM itu juga didukung dari hasil pengolahan dengan game theory tersebut, yaitu ternyata tidak ada pilihan strategi lain bagi semua pihak yang terlibat selain mereka harus melakukan strategi yang bersifat cooperatif yaitu terus melaksanakan program MHBM dalam pengelolaan hutan (HTI) karena memberikan solusi yang optimum bagi semua pihak. Pemerintah daerah menyadari bahwa apabila tidak dilakukannya pembangunan HTI pada areal tersebut, akan mengalami kerugian berupa penurunan besarnya PSDH dan PBB yang diterima. Selain itu pemerintah daerah juga ingin menghindari atau menghilangkan adanya anggapan bahwa kawasan hutan setiap saat dapat diubah status fungsinya dan dapat diberikan kepada masyarakat. Karena apabila hal ini terjadi, maka kelompok masyarakat lain akan melakukan hal yang sama (serupa).
Demikian pula pada interaksi antara pemerintah dengan perusahaan. Perusahaan menginginkan perlu ada kejelasan mengenai areal hutan yang mereka
cxv kelola untuk membangun HTI. Mereka khawatir jika tidak melakukan program MHBM dalam pembangunan HTI akan mengalami kerugian yang lebih besar. Pihak perusahaan menyadari bahwa pembangunan HTI merupakan program jangka panjang dan memiliki resiko yang cukup tinggi, apalagi bila tidak ada jaminan keamanan dalam pelaksanaan di lapangan dan tidak tercipta hubungan harmonis dengan masyarakat di dalam/sekitar hutan.
Pada interaksi antara perusahaan dengan masyarakat, solusi yang optimum adalah baik perusahaan maupun masyarakat memilih strategi cooperatif yaitu meneruskan program MHBM. Oleh karena itu, untuk menjalankan strategi tersebut seperti yang terjadi di lapangan, perusahaan berupaya menciptakan kondisi untuk meningkatkan tingkat acceptability masyarakat dengan melibatkan peranan tokoh masyarakat dan melakukan sosialisasi kepada mereka sejak awal kegiatan MHBM akan dilakukan. Selain itu diciptakan program penunjang berupa kegiatan tumpangsari dan agro trisula yang bertujuan untuk memberdayakan masyarakat. Upaya-upaya tersebut perlu dilakukan agar masyarakat mau untuk berpartisipasi dalam kegiatan MHBM.
Slamet (1990) dalam Winarto (2003) mengatakan bahwa partisipasi masyarakat sangatlah mutlak demi berhasilnya suatu program pembangunan. Dapat dikatakan bahwa tanpa adanya partisipasi masyarakat maka setiap pembangunan akan kurang berhasil. Oleh sebab itu perlu dipahami baik oleh pemerintah daerah maupun perusahaan, bahwa dalam mengelola hutan, kawasan hutan tidak hanya dipandang untuk menghasilkan (produksi) hasil hutan saja, tetapi perlu dipandang sebagai suatu ekosistem dimana yang terdiri dari sub-sub ekosistem baik yang bersifat hayati maupun non hayati, yang diantaranya adalah masyarakat yang tinggal di dalam dan di sekitar hutan yang jumlahnya cukup banyak dan tidak mungkin dipindahkan/dikeluarkan dari kawasan hutan.
Berdasarkan hasil pengumpulan data (wawancara) dengan pengurus dan anggota kelompok MHBM serta pihak PT. MHP terhadap kele mbagaan MHBM, pelaksanaan MHBM di lapangan belum sepenuhnya sesuai dengan Akta Kesepakatan MHBM, yaitu dalam hal pembayaran jasa kerja yang terlambat dan penyerahan pekerjaan HTI yang tidak langsung ke kelompok kerja MHBM. Selain itu ada beberapa hal yang menjadi permasalahan menyangkut : 1) ketersediaan
cxvi modal kerja kelompok MHBM, 2) Komunikasi antara anggota, dan 3) Kemampuan SDM pengurus dan anggota kelompok MHBM. Ketersediaan modal kerja kelompok MHBM
Seperti disebutkan sebelumnya bahwa untuk melaksanakan pekerjaan sesuai SPK yang mereka terima dari PT. MHP, masing- masing kelompok MHBM harus menyediakan modal kerja. Tujuannya adalah diharapkan dengan adanya modal dan tenaga kerja yang berasal dari kelompok MHBM itu sendiri maka akan terjadi peredaran ua ng yang berasal dari berbagai pekerjaan dalam pembangunan HTI (upah kerja dan nilai borongan) dalam wilayah kelompok MHBM itu bermukim. Sehingga diharapkan peredaran uang ini akan menggerakkan perekonomian masyarakat dalam skala yang lebih luas. Namun kenyataannya sebagian besar kelompok MHBM menghadapi permasalahan keterbatasan modal sehingga timbul distribusi pendapatan yang tidak merata. Kelompok MHBM yang tidak mempunyai modal kerja dan berperan sebagai pekerja akan memperoleh pendapatan yang lebih kecil.
Kondisi ini akan semakin tidak menyenangkan apabila modal kerja diperoleh dari pihak luar kelompok MHBM atau luar desa. Uang yang diperoleh sebagai hasil pembayaran pekerjaan dalam kegiatan HTI sebagian besar akan tersedot keluar sehingga pihak kelompok MHBM hanya memperoleh sedikit. Selain itu, apabila pihak pemberi modal berasal dari luar kadang-kadang mereka menyediakan sendiri para tenaga kerjanya yang mereka kenal sebelumnya daripada anggota kelompok MHBM itu sendiri.
Permasalahan mengenai modal kerja ini sebenarnya telah disampaikan oleh kelompok kerja MHBM yang tidak mempunyai modal kerja kepada pihak perusahaan untuk dapat dicari alternatif pemecahannya. Mereka mengharapkan agar mereka diberikan modal awal berupa pinjaman yang nantinya akan diperhitungkan apabila mereka mendapatkan jasa kerja. Alternatif lainnya adalah agar pembayaran jasa kerja diberikan secara bertahap sesuai dengan perkembangan pelaksanaan pekerjaan, bukan pada saat pekerjaan selesai 100% dilaksanakan. Kelompok kerja MHBM juga pernah mengajukan permohonan peminjaman dana kepada lembaga keuangan/bank setempat tetapi tidak berhasil mengingat kegiatan HTI merupakan kegiatan yang memerlukan waktu yang lama
cxvii dan mengandung resiko yang cukup tinggi. Tetapi, ketiga alternatif itu belum dapat disetujui baik oleh pihak perusahaan maupun pihak bank.
Komunikasi antara anggota kelompok MHBM
Dari hasil wawancara didapatkan bahwa antara anggota kelompok dan pengurus MHBM terjadi kurang komunikasi sehingga menimbulkan rasa curiga dan salah pengertian, misalnya dalam hal penerimaan dan penggunaan jasa manajemen yang besarnya adalah 1% dari nilai jasa kerja yang diperuntukkan bagi organisasi MHBM. Para anggota kelompok MHBM mencurigai pengurus MHBM telah menggunakan jasa manajemen itu untuk kepentingan pribadi. Selain itu rasa curiga juga timbul dalam penyampaian kesempatan kerja yang tertuang dalam Rencana Operasional (RO) kepada para kelompok MHBM. Para anggota kelompok MHBM merasa bahwa pengurus MHBM tidak menyampaikan secara jujur kompone n-komponen pekerjaan apa saja yang terdapat didalam RO. Akibat kurangnya komunikasi, salah pengertian pun juga timbul antara pengurus dan kelompok MHBM dengan pihak PT. MHP.
Salah persepsi yang timbul diantaranya adalah :
a. Pihak perusahaan kadangkala menganggap para pengurus MHBM setiap datang ke kantor perusahaan hanya menanyakan tentang jasa manajemen saja
b. Pihak perusahaan merasa ruang geraknya menjadi terbatas. Jika saat program MHBM belum dilaksanakan, perusahaan bebas memilih kontraktor (pemborong) yang dianggap mampu (capable) dalam permodalan, skill, mudah diarahkan dan sebagainya. Tetapi dengan diterapkannya program MHBM, semua pekerjaan pembangunan HTI harus diserahkan dahulu kepada kelompok kerja MHBM, setelah kelompok kerja merasa tidak mampu/tidak sanggup melaksanakan pekerjaan itu, pihak perusahaan baru dapat mencari kontraktor/pemborong. Itupun tetap harus seizin pengurus MHBM
c. Dengan dilaksanakannya program MHBM, para petugas perusahaan yang berkompeten merasa memperoleh tambahan pekerjaan, misalnya menghadiri
cxviii berbagai pertemuan dengan masyarakat, memilah- milahkan jasa manajemen, merekapitulasi data dan sebagainya
Sebaliknya, para pengurus MHBM menganggap pihak perusahaan masih memiliki kekurangan, diantaranya :
a. Pihak perusahaan tidak serius dalam melaksanakan kerjasama MHBM, diantaranya ada beberapa areal HTI yang ketika diserahkan kepada kelompok kerja MHBM sudah tidak ada lagi pekerjaan, yang ada tinggal pekerjaan perlindungan dari api dan agen perusak lainnya
b. Batas waktu yang diberikan perusahaan kepada kelompok kerja MHBM sangat sempit, sehingga jika sampai pada batas waktu yang diberikan oleh perusahaan tidak bisa dipenuhi oleh kelompok kerja, maka pekerjaan HTI tersebut diambil alih oleh perusahaan untuk diserahkan/dicarikan ke kontraktor/pemborong lainnya.
Pengetahuan atau Kemampuan pengurus dan anggota kelompok
Tidak dapat dipungkiri bahwa pengurus dan anggota dalam kelompok MHBM kurang memiliki pengetahuan atau kemampuan dalam berorganisasi, pembukuaan dan pengetahuan-pengetahuan la in yang diperlukan untuk dapat memajukan organisasi. Namun sejalan dengan dilakukannya kegiatan MHBM, dengan adanya penyuluhan dan berbagai pertemuan yang diikuti, telah mendidik mereka untuk memahami masalah organisasi, belajar mendengarkan pendapat orang lain, mengerti tentang akuntabilitas dan pengetahuan-pengetahuan lainnya. Namun demikian, masih diperlukan bantuan dari pihak-pihak lain untuk pembelajaran kepara anggota kelompok MHBM sehingga mereka memiliki keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan agar pelaksanaan MHBM berhasil.
Selain permasalahan yang dihadapi antara pengurus/anggota kelompok MHBM dengan PT. MHP, berdasarkan hasil pengumpulan data di Dinas Kehutanan Provinsi dan Dinas Kehutanan Kabupaten, ternyata kegiatan MHBM PT. MHP yang dimulai tahun 2002 ini terkesan berjalan sendiri, kurang komunikasi dan koordinasi. Hal ini menyebabkan kurangnya data dan informasi mengenai perkembangan pelaksanaan MHBM dan keterlibatan instansi
cxix pemerintah dalam kegiatan MHBM PT. MHP ini. Baik Dinas Kehutanan Provinsi maupun Dinas Kehutanan Kabupaten belum pernah menerbitkan surat keputusan peraturan/ketentuan yang berkaitan dengan program MHBM PT. MHP ini, namun secara insidentil melakukan monitoring ke lapangan. Walaupun demikian, pemerintah sangat menduk ung dan membantu kelancaran aktifitas kelembagaan MHBM tersebut terutama untuk pemberdayaan masyarakat dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat. Pemerintah Kabupaten Muara Enim berupaya membantu menyelesaikan permasalahan para KT MHBM dengan mengadakan pertemuan dengan PT. MHP, yang salah satu hasilnya adalah akan membentuk suatu organisasi/forum/wadah bagi seluruh KT MHBM sehingga akan efisien dan efektif apabila ada permasalahan dengan PT. MHP. Sedangkan untuk Pemerintah Provinsi mulai tahun 2005, program MHBM PT. MHP akan dikaitkan dengan rencana pembangunan hutan campuran pangan (HCP) untuk mendukung Sumatera Selatan sebagai lumbung pangan, yaitu dengan melakukan penanaman padi, jagung, kedelai, kacang tanah, semangka dan cabe di areal MHBM.
Sebenarnya permasalahan yang dihadapi dalam MHBM mudah dipahami. Para pengusaha hutan (termasuk pekerjanya) dapat dikatakan sebagian besar berasal dari luar kawasan hutan yang diusahakan. Sardjono (2004) menyatakan bahwa konsep perusahaan konsesi hutan sebagai organisasi sekaligus institusi merupakan sesuatu yang asing bagi masyarakat lokal atau sangat berbeda dengan organisasi/institusi tradisional yang mereka kenal dan miliki. Hal ini terkait dengan aspek fisik, teknik/cara dan aturan main. Berbagai perbedaan ini tentu saja memperbesar prasangka dan menuntut adanya toleransi yang tinggi dan penghargaan budaya atas dasar keterbukaan dan kesetaraan. Dalam hal ini perlu inisiatif aktif untuk melakukan sosialisasi dan asimilasi dari pihak luar/pengusaha hutan.
Menurut Sardjono (2004), ada beberapa penting yang seharusnya dilakukan terkait dengan kelembagaan adalah :
(1) Upaya untuk mempelajari budaya dan adat istiadat lokal (termasuk norma dan pantangan serta peran kepala adat)
cxx (3) Sedapat mungkin memberikan kesempatan yang besar bagi masyarakat lokal untuk berpartisipasi dalam kegiatan (keterbukaan). Kesemuanya merupakan pendekatan sosiologis yang merupakan syarat penting bagi terjadinya proses dan bentuk interaksi yang positif.
Sardjono (2004) juga menyatakan bahwa sejujurnya bila tidak diliputi dengan prasangka negatif seperti bahwa masyarakat lokal itu ’pemalas’, tidak memiliki kualitas yang memadai untuk berperan serta dan bahkan menganggap mereka hanya sebagai faktor penghambat dalam berusaha, maka interaksi yang positif antara pengusaha hutan dan masyarakat bisa digalang. Masyarakat lokal juga merupakan aset berharga karena merupakan sumber tenaga kerja, penyedia jasa dan mitra berusaha yang potensial. Sebagai contoh, dalam aspek pengamanan kawasan dari gangguan penebang liar, perambah hutan dan penanggulangan kebakaran, dapat berjalan efisien dan efektif jika masyarakat lokal dilibatkan. Dengan demikian, apabila masyarakat diikutsertakan dalam pengelo laan hutan maka tujuan pembangunan kehutanan untuk melestarikan hutan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat dapat dicapai.
cxxi VI. IMPLIKASI KEBIJAKAN