BAB II LANDASAN TEORI
B. Cyberbullying
2. Jenis-jenis cyberbullying
Willard (2005) membagi beberapa jenis cyberbullying, yaitu :
a. Flaming (berapi-api), yaitu mengirimkan sebuah pesan teks berisi kata-kata ataupun kalimat yang penuh dengan amarah dan secara frontal. Istilah “flame” disini merujuk pada kata pesan yang berapi-api. Contohnya seperti dalam chatroom yang terjadi saling hina atau mencaci maki yang berbalas-balasan.
b. Harassment (gangguan), pesan yang berisi gangguan melalu e-mail, sms, hingga pesan teks yang ada di jejaring sosial (instagram, twitter, facebook) dilakukan secara berulang. Contoh ketika remaja mendapatkan pesan yang bersifat ofensif secara berulang.
c. Cyberstalking, mengganggu serta mencemarkan nama baik seseorang secara terus menerus sehingga membuat ketakutan yang berlebih pada korban. Contoh seorang pedofil yang mencoba mengontak korban dan meminta untuk bertemu secara terus menerus yang bertujuan untuk melecehkan korban.
d. Denigration, yaitu memberitahukan sebuah keburukan seseorang ke orang lain di internet dengan maksud merusak reputasi dan nama
baik orang tersebut. Contoh ketika seseorang mengatakan keadaan yang buruk baik fisik maupun sifat korban ke orang lain.
e. Impersonation (peniruan), yaitu meniru seseorang menjadi orang lain dan mengirimkan pesan dan status yang tidak baik. Contoh membuat akun media sosial yang sama persis.
f. Outing & Trickery, yaitu outing menyebarkan rahasia orang lain berupa pesan dan foto-foto pribadi orang lain, sedangkan trickery (tipu daya), membujuk seseorang dengan menipu agar mendapatkan sebuah rahasia maupun foto pribadi orang tersebut. Contoh outing yaitu menyebarkan foto seperti kartu identitas, nomer telepon hingga alamat rumah. Sedangkan contoh trikery, individu akan berusaha mendapatkan kepercayaan korban untuk meminta data pribadi korban, lalu disebar ke media sosial.
g. Exclusion (pengeluaran), yaitu dengan secara sengaja mengeluarkan seseorang dari grup online.
C. Tahap Perkembangan Remaja 1. Remaja
Remaja merupakan salah satu periode di usia 13 tahun hingga 20 tahun baik remaja laki-laki dan perempuan yang sedang mengalami karakteristik seksual sekunder dan sifat kedewasaan dengan adanya perubahan fisik dan perubahan psikologis yang berkaitan dengan konsep diri (Widyatama, 2010). Remaja adalah masa transisi perkembangan
dari masa kanak-kanak ke masa dewasa yang dimulai di usia 12 tahun dan berakhir di belasan tahun atau awal 20 tahun (Papalia, Olds &
Feldman, 2001).
Selain itu, remaja merupakan suatu peralihan dari masa anak-anak ke masa dewasa yang dimulai dari usia 10 tahun sampai 12 tahun dan berakhir di usia 18 hingga 22 tahun (Sarwono, 1997). Sementara itu, Monks (2002) mengungkapkan bahwa remaja berawal di usia 12 hingga 21 tahun yang terbagi pada remaja awal di usia 12-15 tahun merupakan remaja awal, usia 15-18 tahun masa remaja pertengahan dan 18-21 tahun merupakan remaja akhir.
Melalui pemaparan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa remaja merupakan suatu transisi dari masa anak-anak ke masa dewasa yang berawal dari usia 13 tahun hingga 20 tahun.
2. Remaja Akhir
Masa remaja terbagi menjadi dua yakni remaja awal (early adolescent) di usia 10-13 tahun dan remaja akhir (late adolescent) di usia 18-22 tahun. Remaja akhir merupakan individu yang memulai dirinya dengan keinginan berkarir hingga mengeksplorasi dirinya dibandingkan dengan remaja awal (Santrock, 2007). Lebih lanjut menjelaskan bahwa remaja akhir dapat memahami situasi dirinya sebelum merespon sesuatu dengan cara yang emosional (Newman dan Newman, 2012). Hurlock (1980) mengungkapkan, remaja akhir dapat memahami situasi dirinya sebelum mereaksikan sesuatu dengan cara
yang emosional. Maka hal tersebut diharapkan remaja akhir memiliki keterampilan dalam menyadari emosi, mengontrol emosi, mengetahui emosi orang lain dan yang terpenting remaja dapat mengontrol tingkah laku agresifnya.
Remaja akhir adalah proses seseorang menuju ke masa dewasa dan ditandai dengan beberapa pencapaian yang telah diperoleh seperti (1) minat yang lebih baik pada fungsi intelektualitas, (2) ego dalam mencari suatu kesempatan untuk bergabung dengan orang lain dalam mencari pengalaman yang baru, (3) identitas seksual yang tidak dapat berubah, (4) egosentrisme yang diubah dengan keseimbangan baik kepentingan pribari maupun orang lain dan (5) adanya batasan pada privasi pribadi dengan orang lain (Sigelman dan Rider, 2009).
D. Coping Stress bagi Remaja Korban Cyberbullying
Setiap remaja yang menjadi korban cyberbullying akan mengalami berbagai macam jenis cyberbullying ketika dirinya mendapatkan perlakuan tersebut di media sosial yang digunakan. Awal terjadinya cyberbullying karena pelaku merasa dirinya menjadi yang terkuat sehingga pelaku akan mencari orang yang menurutnya orang tersebut tidak memiliki kemampuan untuk melawan. Pelaku cyberbullying tentu akan melakukan berbagai macam bentuk, seperti flaming (berapi-api), harassment (gangguan), cyberstalking, denigration (pencemaran nama baik), impersonation (peniruan), outing & trickery, serta exclusion (pengeluaran) (Willard, 2005).
Hal ini yang dapat menyebabkan suatu dampak bagi korban cyberbullying.
Dampak dari perilaku cyberbullying tersebut, khususnya remaja yang menjadi korban cyberbullying akan merasakan kecemasan, menghindari pergaulan dengan teman sebaya, korban akan mengalami depresi, hingga keinginan untuk bunuh diri. Ketika cyberbullying yang dialami remaja tersebut bersifat jangka panjang, maka akan menimbulkan rasa percaya diri yang kurang, membolos sekolah, hingga stres berat (Rifauddin, 2016).
Ketika remaja sudah mencapai stres dalam dirinya, langkah yang baik untuk tidak stres yang terlalu berat tentu akan melakukan strategi coping dirinya. Hal ini akan membuat remaja korban cyberbullying akan bisa membuat dirinya terbuka dalam lingkungan sosialnya tanpa takut dengan perlakuan orang lain serta dapat membatasi dirinya ketika akan di bully di media sosial oleh pelaku cyberbullying. Coping stress yang dapat dilakukan oleh remaja korban cyberbullying untuk mendapatkan gambaran yang dapat dilakukan dalam dua jenis coping yakni focused problem coping dan emotion problem coping. Focused problem coping merupakan cara seseorang untuk dapat mengubah kondisi yang tertekan dengan menghadapi masalah yang mengakibatkan munculnya stres. Focused problem coping dibagi menjadi beberapa cara, yaitu active coping, planning, suppression of competing activities, restraint coping, seeking of instrumental social support. Sedangkan emotion problem coping adalah usaha seseorang untuk mengurangi serta menghilangkan respon emosional ketika kondisi seseorang mengalami tekanan. Emotion problem coping terbagi menjadi
beberapa cara, yaitu seeking of emotional social support, positive reinterpretation, acceptance, denial, turning to religion.
E. Kerangka Berfikir Remaja
Cyberbullying Stres Coping Stress
1. Flaming 2. Harassment 3. Cyberstalking 4. Denigration 5. Impersonation 6. Outing & trickery 7. Exclusion
Problem Focused Coping - Active coping
- Planning - Suppression of
competing activities - Restraint coping - Seeking of
instrumental social support
Emotion Focused Coping - Seeking of emotional
social support - Positive
reinterpretation - Acceptance - Denial
- Turning to religion
Gambar 1. Kerangka Pikir
22 BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah metode kualitatif. Menurut Moleong (2014) penelitian kualitatif merupakan penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian pada suatu konteks alamiah dan dengan memanfaatkan metode alamiah. Selanjutnya, desain penelitian kualitatif yang akan digunakan adalah analisis isi kualitatif deduktif (AIK). Dalam hal ini peneliti akan menafsirkan data berupa teks secara subjektif melalui proses pengelompokan sistematik seperti pengodean serta memasukkan kriteria ke dalam tema-tema tertentu. Penggunaan bahasa sebagai ciri AIK deduktif yang bertujuan untuk mengungkap isi serta makna dari sebuah teks yang sesuai dengan konteks masalah (Supratiknya, 2015).
B. Fokus Penelitian
Fokus utama pada penelitian ini adalah mengungkap dinamika coping stress remaja ketika menjadi korban cyberbullying, meliputi coping yang berfokus pada masalah atau problem focused coping seperti active coping, suppression of competing activities, restraint coping, seeking of instrumental social support hingga coping yang berfokus pada emosi atau emotion focused coping yang berfokus pada emosi di antaranya seeking of emotional social support, positive reinterpretation, acceptance dan turning to religion.
C. Partisipan Penelitian
Partisipan merupakan orang yang terlibat aktif dalam penelitian dengan memberikan data atau informasi yang dibutuhkan. Istilah partisipan biasa digunakan dalam penelitian kualitatif ditujukan pada orang yang menjadi subjek penelitian. Dalam penelitian ini, subjek penelitian dipilih dengan cara purposive sampling yakni ketika peneliti memilih subjek melalui ciri-ciri yang sudah ditentukan peneliti serta tujuan dari penelitian yang akan dilakukan peneliti (Herdiansyah, 2015).
Penelitian ini menggunakan analisis isi kualitatif dengan pertanyaan deduktif dan akan dilakukan dengan analisis isi terarah. Selain itu, remaja akhir merupakan detik-detik seorang remaja akan melalui transisi ke masa dewasa awal. Kriteria yang dipilih sebagai partisipan berusia 18-20 yaitu pernah menjadi korban cyberbullying yang berdampak subjek mengalami stres dan berupaya melakukan coping stress. Remaja korban cyberbullying tentu akan mendapatkan tekanan yang berat dalam dirinya, sehingga remaja tersebut akan sulit berkembang di lingkungan sosialnya terutama dengan teman sebaya baik laki-laki dan perempuan. Pada penelitian kualitatif, jumlah subjek tidak terlalu diperhitungkan, karena pada dasarnya kedalaman data lebih ditekankan untuk menggambarkan fenomena yang diteliti (Herdiansyah, 2015).
Partisipan dalam penelitian ini adalah remaja korban cyberbullying berjumlah 3 orang terdiri dari satu perempuan dan dua laki-laki. Ketiganya memenuhi kriteria sebagai partisipan. Pertama, ketiga partisipan yang pernah
menjadi korban cyberbulling. Kedua, pada saat menjadi korban cyberbullying masih berusia remaja dan masih bersekolah di bangku SMP dan SMA.
D. Metode Pengumpulan Data
Instrumen pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini adalah wawancara. Wawancara merupakan suatu teknik pengumpulan data dengan cara peneliti dapat melakukan face-to-face interview (wawancara berhadap-hadapan) dengan partisipan (Creswell, 2012). Wawancara dengan melakukan face to face, diharapkan terjadi komunikasi langsung, fleksibel serta terbuka, sehingga informasi yang didapat lebih banyak dan luas. Bentuk wawancara yang akan digunakan pada penelitian ini adalah wawancara semi terstruktur.
Melalui pemaparan di atas, peneliti juga akan merespon jawaban dari partisipan sehingga peneliti tidak terpatok pada pertanyaan saja (Herdiansyah, 2015).
Wawancara semi terstruktur ini tetap didasarkan pada daftar pertanyaan terbuka sehingga berguna untuk memberikan stimulus pada informan, agak partisipan dapat secara terbuka untuk mengungkapkan pengalaman yang pernah dialaminya (Supratiknya, 2015). Adapun daftar pertanyaan tampak pada Tabel wawancara berikut.
Tabel 1
Tabel wawancara
No Pertanyaan
1 Latar belakang subjek
1. Identitas (nama, tempat tanggal lahir, usia, tempat tinggal, asal, jenjang studi)?
2. Apa yang anda ketahui tentang bullying dan cyberbullying?
3. Apakah anda pernah mengalami hal tersebut
2 Cyberbullying
1. Kapan anda merasa bahwa diri anda merasa di bully melalui media sosial?
2. Sudah terjadi berapa lama?
3. Bullying apa saja yang pernah anda alami di media sosial?
4. Bagaimana reaksi anda terhadap orang yang melakukan bullying pada anda?
5. Bagaimana perasaan anda saat anda mendapatkan bully?
6. Apa yang akan anda lakukan setelah anda mendapatkan perlakuan bully?
3 Coping stress
1. Apakah anda pernah merasa stres setelah mengalami bully di media sosial?
2. Apa sajakah yang dapat membuat anda stres?
3. Apa yang anda lakukan saat anda stres?
4. Bagaimana cara anda menanggulangi stres yang anda alami di media sosial ketika di bully?
5. Apakah cara tersebut efektif untuk diri anda?
E. Metode Analisis Data
Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan analisis isi deduktif atau yang dikenal juga dengan analisis isi terarah (Supratiknya, 2015). Pendekatan deduktif memiliki tujuan untuk memvalidasi sebuah kerangka teoretis serta menguji teori yang sudah ada (Hsieh & Shannon dalam Supratiknya, 2015). Pelaksanaan analisis terarah dengan pendekatan deduktif mencakup langkah-langkah sebagai berikut:
1. Penyusunan matriks kategorisasi
Langkah pertama, menyusun matriks melalui sebuah kategorisasi yang sesuai dengan teori pada tema penelitian, yaitu dinamika coping stress. Matriks kategori disusun secara deduktif seperti yang disajikan pada tabel berikut.
Tabel 2
Kerangka Analisis Cyberbullying
No Bentuk Cyberbullying
1 2 3
4 5 6 7
Flaming Harassment Cyberstalking
Denigration Impersonation Outing & Trickery Exclusion
Pesan yang berupa amarah
Pesan yang berupa gangguan
Mengganggu subjek hingga ketakutan berlebih
Mencemarkan nama baik
Meniru seseorang
Menyebarkan rahasia
Mengeluarkan seseorang dari grup
Tabel 3
Kerangka Analisis Dinamika Coping Stress
No Jenis Coping Stress
1 Active coping Menghapus dan menghindar
dari stressor
2 Planning Membuat perencanaan
3 Suppression of competing activities
Menyelesaikan permasalahan
Mengabaikan urusan lain
untuk konsentrasi menghadapi stressor
4 Restraint coping Menunggu saat yang tepat untuk bertindak maupun tidak bertindak dalam mengambil keputusan
5 Seeking of instrumental social support
Mencari saran
Meminta bantuan untuk dapat
informasi melalui orang sekitar
6 Seeking of emotional social support
Mendapatkan dukungan moral
Mendapatkan simpati
Mendapatkan pemahaman
dari orang lain
7 Positive reinterpretation Mengambil sesuatu yang positif
8 Acceptance Menerima keadaan situasi dan kondisi yang terjadi
9 Denial Menolak dan tidak percaya
bahwa stressor itu ada
10 Turning to religion Berdoa
2. Pengodean
Pengodean dilakukan dengan cara mengidentifikasi dan mengkategorikan bentuk manifestasi yang sedang diteliti. Pengodean dilakukan melalui beberapa langkah. Pertama, peneliti membaca transkrip wawancara terlebih dulu, kemudian menandai setiap bagian dari teks yang menggambarkan tema yang sedang diteliti. Kedua peneliti menentukan kode dari bagian teks yang sudah ditandai sebelumnya (Hsieh & Shannon, dalam Supratiknya, 2015).
F. Reliabilitas dan Kredibilitas Data
Keabsahan data penelitian tidak terlepas dari validitas dan reliabilitas penelitian. Validitas kualitatif menurut Creswell (2012) adalah sebuah upaya memeriksa kembali hasil penelitian dengan menggunakan prosedur maupun strategi tertentu. Gibs (dalam Creswell, 2012) menyebutkan reliabilitas kualitiatif merupakan pendekatan yang digunakan untuk membuktikan keajegan penelitian apabila diterapkan pada proyek penelitian yang berbeda.
Selain itu, penelitian ini melakukan cross check pada partisipan guna membuktikan keabsahan data informasi yang diperoleh.
Supratiknya (2015) mengungkapkan dengan adanya reliabilitas kualitatif mempunyai sebuah tujuan untuk melihat penelitian ini dapat digunakan untuk diterapkan pada penelitian lain. Creswell (2009 dalam Supratiknya, 2015) dengan memeriksa transkrip wawancara dan memeriksa kode merupakan cara dari memeriksa reliabilitas penelitian kualitatif.
G. Refleksi Peneliti
Peneliti merupakan korban dari perilaku bullying maupun cyberbullying.
Hal tersebut terjadi pada saat peneliti duduk di bangku SMP. Menurut peneliti, lingkungan sekolah SMP kurang mendukungnya. Saat SMP, peneliti pernah memiliki panggilan “kuntet” yang berarti pendek. Namun, peneliti tidak menyukai panggilan tersebut.
Sewaktu peneliti duduk di bangku SMA, peneliti memiliki teman dekat yang mendapatkan perilaku bullying dan cyberbullying. Teman peneliti memiliki panggilan hitam yang bermaksud badannya yang berwarna hitam.
Selain itu, ia juga sering dipukuli dengan teman-teman yang lainnya. Dari panggilan itu yang berlanjut ke media sosialnya.
Suatu saat peneliti menanyakan hal tersebut kepada teman saya “Kamu gak kesel apa tiap hari selalu di pukulin kaya gitu?”. Teman peneliti hanya menjawab “Ya, mau gimana lagi. Biar saling deket aja temenan sama mereka”. Padahal hal tersebut tidak selayaknya dilakukan kalau hanya untuk
berteman. Masih ada cara lain untuk melakukan perlakukan yang selayaknya
“teman”. Lalu saya menanyakan perasaan ke teman saya “Perasaan kamu gimana?”, temen saya menjawab “Ya kesel sih sebenernya, cuma ya itu tadi untuk bisa berteman dekat”. Saat itu kami hanya bisa berdiam tanpa melawan sedikitpun kepada teman-teman yang melakukan hal tersebut dengan alasan untuk kedekatan teman. Hal ini yang membuat peneliti tergerak untuk menyampaikan perasaan seseorang ketika mengalami perilaku bullying maupun cyberbullying. Padahal kami sebagai personal yang kuat memiliki kekuatan untuk melawan itu dan bisa menanganinya.
Pada penelitian yang sudah dijalankan, peneliti menyadari memang tidak mudah untuk menerima hal tersebut ketika seseorang mendapatkan perilaku cyberbullying sehingga dampak yang dirasakan. Peneliti perlu melatih emosi, ketika mendengarkan cerita dari teman-teman yang sudah berpartisipasi pada penelitian. Untuk kedepannya, ketika peneliti kembali mendapatkan perilaku cyberbullying, peneliti setidaknya sudah memiliki bekal untuk menanggulangi dampak tersebut.
31 BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Persiapan dan Pelaksanaan Penelitian 1. Pelaksanaan Penelitian
Partisipan penelitian ini merupakan tiga mahasiswa yang pernah mengalami cyberbullying. Peneliti mencari partisipan dengan cara menyebarkan survei secara online di media sosial. Survei tersebut berupa pertanyaan-pertanyaan mengenai jenis cyberbullying. Peneliti mendapat respon sebanyak lima orang dari survei tersebut. Kemudian dari lima orang, peneliti memilih menjadi tiga orang dengan kesediaannya dalam mengikuti penelitian dengan wawancara di tengah pandemi Covid-19. Setelah itu, peneliti menghubungi mereka yang telah bersedia menjadi responden penelitian untuk dilakukan tahap selanjutnya, yaitu wawancara.
Sebelum melakukan pengambilan data dengan wawancara, peneliti melakukan rapport secara tidak langsung melalui pesan lewat Whatsapp karena masa pandemi Covid-19. Hal tersebut untuk membangun hubungan yang baik dan lebih terbuka antara peneliti dan partisipan. Periode membangun rapport dengan partisipan dilakukan pada bulan Mei 2020 sampai dengan November 2020. Saat melakukan rapport, peneliti menanyakan mengenai kondisi serta kesibukan partisipan selama masa pandemi.
Proses wawancara dilakukan pada bulan Juli 2020 sampai November 2020 secara langsung. Dalam melakukan wawancara, proses tersebut berada
dalam keadaan di tengah pandemi Covid-19 sehingga peneliti dan partisipan perlu memperhatikan protokol kesehatan dengan cara menjaga jarak, mencuci tangan atau menggunakan hand sanitaizer, dan menggunakan masker. Wawancara berlangsung dalam durasi yang berbeda-beda pada tiap partisipan, yaitu satu setengah jam hingga dua jam. Setelah seluruh proses wawancara selesai, peneliti melakukan konfirmasi lebih lanjut pada tiap partisipan guna menyamakan persepsi mengenai data yang sudah diberikan oleh partisipan.
Pertemuan pertama dengan Partisipan 1 berlangsung di sebuah taman terbuka di dekat rumah partisipan pada tanggal 18 Juli 2020. Sebelumnya peneliti menghubungi partisipan melalui pesan lewat Whatsapp untuk menyesuaikan jadwal bertemu. Pertemuan pertama peneliti melakukan rapport serta menyampaikan tujuan wawancara penelitian. Peneliti meminta kesediaan kepada P1 untuk menjadi partisipan dalam penelitian, lalu P1 mengisi persetujuannya pada lembar informed consent.
Pertemuan pertama dengan Partisipan 2 pada tanggal 9 Oktober 2020.
Sebelum melakukan wawancara, peneliti menghubungi partisipan melalui Whatsapp untuk menyesuaikan jadwal wawancara. Pertemuan pertama berlangsung di rumah partisipan dan disambut dengan orang tua partisipan.
Peneliti bertemu dengan ibu dari P2 dengan melakukan rapport untuk menjelaskan maksud dan tujuan penelitian serta meminta izin kepada ibu bersangkutan untuk mewawancarai partisipan. Ibu P2 sudah mengizinkan
dan partisipan sudah bersedia untuk diwawancarai. P2 mengisi informed consent yang telah disediakan sebagai bentuk kesediaan diwawancara.
Pertemuan pertama dengan Partisipan 3 pada tanggal 4 November 2020. Sebelum melakukan wawancara dengan partisipan, peneliti menghubungi partisipan melalui Whatsapp untuk menyesuaikan jadwal pertemuan untuk melakukan wawancara. Sesuai jadwal yang disepakati, peneliti dan partisipan bertemu di café yang sudah ditentukan sebelumnya.
Kemudian peneliti melakukan rapport untuk menjelaskan maksud dari sebuahn pertemuan, lalu peneliti meminta P3 untuk mengisi informed consent.
Waktu dan tempat pelaksanaan pengambilan data melalui wawancara kepada partisipan sebagaimana ditampilkan pada Tabel 4 berikut.
Tabel 4
Waktu dan Tempat Pelaksanaan Wawancara
2. Ethical considerations
Penelitian ini bertepatan dengan pandemi Covid-19 yang melanda di Indonesia. Pada proses sebelum mengumpulkan data, peneliti dan partisipan akan menerapkan protokol kesehatan yang sudah ditetapkan oleh pemerintah dengan cara menjaga jarak, mencuci tangan dan menggunakan masker. Selain itu, peneliti dan partisipan membawa hand sanitazer sebagai opsi lain ketika saling kontak melalui benda yang digunakan seperti pulpen maupun kertas. Hal ini untuk saling menjaga kesehatan peneliti dan partisipan.
No Keterangan Partisipan 1 Partisipan 2 Partisipan 3 1 Wawancara Sabtu, 18 Juli
2020 15.00–
17.00 di taman dekat rumah partisipan
Jumat, 9 Oktober 2020 18.30-20.30 di kamar rumah partisipan
Rabu, 4
November 2020 14.00-16.00 di café
Jumat, 21
Agustus 2020 16.00-17.45 di taman dekat rumah partisipan
Ketika ingin memulai wawancara, penelitian ini menggunakan informed consent sebagai persetujuan antara peneliti maupun partisipan dalam menjalankan penelitian ini. Informed consent dimaksudkan untuk menjamin partisipan dengan semua informasi yang sudah diberikan untuk menjamin dan melindungi kerahasiaan dan hak partisipan yang mengikuti sebuah penelitian (Grady dalam Supratiknya, 2015). Peneliti menjelaskan kepada partisipan sebelum melakukan wawancara agar partisipan dapat mengikuti penelitian dengan sukarela tanpa ada paksaan dari pihak partisipan, sehingga peneliti dan partisipan dalam melakukan penelitian dapat membangun situasi dan kondisi yang nyaman selama proses pengambilan data. Partisipan juga berhak untuk mengundurkan diri ketika partisipan yang bersangkutan mulai tidak nyaman dengan perlakuan partisipan.
Data yang akan diperoleh peneliti merupakan hasil sebuah wawancara dengan partisipan yang hanya bisa diakses oleh peneliti. Hasil wawancara yang diperoleh peneliti, wajib melindungi kerahasiaan data tersebut (HIMPSI, 2010). Proses dari data yang berupa alat perekam suara yang dipindahkan melalui sebuah teks yang dilakukan oleh peneliti itu sendiri.
Selain itu, peneliti akan menyadari bahwa selalu ada resiko yang muncul dalam proses pengambilan data, seperti perasaan cemas ketika mengingat masalah yang pernah dialami oleh partisipan, lalu perasaan kesal ketika menghadapi masalah tersebut. Pada kejadian tersebut, peneliti mencoba untuk mencairkan suasana dengan selipan humor yang akan meredam
perasaan tersebut hingga proses pengambilan data kembali berjalan dengan lancar.
B. Pertisipan Penelitian 1. Data Partisipan
Partisipan penelitian berjumlah tiga orang remaja yang pernah menjadi korban tindakan cyberbullying. Partisipan saat penelitian berstatus sebagai mahasiwa berusia 19 tahun dan 20 tahun. Dua partisipan berasal dari Bekasi, dan satu partisipan merupakan orang asli Yogyakarta. Data partisipan sebagaimana tampak pada Tabel berikut.
Tabel 5
Data Partisipan
No Keterangan Partisipan 1 Partisipan 2 Partisipan 3 1
2
Inisial
Jenis kelamin
LDR Permpuan
A Laki-laki
GL Laki-laki
3 Daerah asal Bekasi Yogyakarta Bekasi
4 Usia 19 tahun 20 tahun 20 tahun
5 Tempat tinggal Bekasi Kalasan Tambun
5 Tempat tinggal Bekasi Kalasan Tambun