• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

D. Manfaat Penelitian

2. Manfaat praktis

a. Remaja korban cyberbullying

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran bagi remaja korban cyberbullying tentang bagaimana menyelesaikan masalahnya sendiri melalui coping stress.

a. Masyarakat umum

Penelitian ini diharapkan bisa memberikan wawasan yang luas untuk mengenai perilaku cyberbullying yang terjadi pada remaja yang khususnya ada di Indonesia. Selain itu, penelitian ini juga diharapkan masyarakat mampu memahami bagaimana cara melakukan coping stress saat menjadi korban cyberbullying.

b. Guru BK

Setelah mengetahui cyberbullying yang dialami remaja khususnya siswa, harapannya seorang guru terutama guru bimbingan konseling dapat mengawasi serta membimbing siswanya terutama yang mengalami atau menjadi korban cyberbullying.

10 BAB II

LANDASAN TEORI

A. Coping Stress

1. Pengertian Coping Stress

Hinkle (dalam Lazarus dan Folkman, 1984) mengatakan bahwa stres merupakan suatu ketegangan, tekanan, kekuatan serta usaha yang dilakukan pada objek benda maupun individu sebagai kekuatan mental.

Sarafino dan Smith (2012) mengungkapkan stres merupakan kondisi individu yang disebabkan lingkungannya yang membuat individu tersebut merasa mendapatkan tuntutan dari berbagai sumber, seperti sistem biologis, sosial, hingga psikologis dari individu. Nevid, Rathus dan Greene (2014) menyatakan terdapat enam faktor yang dapat mempengaruhi stres, yaitu: (1) Harapan Akan Efikasi Diri, (2) Ketahanan Diri, (3) Dukungan Sosial, (4) Optimisme, (5) Identitas Etnik, (6) Jenis coping stress yang dipilih.

Menurut Lazarus dan Folkman (1984), coping adalah suatu strategi untuk melakukan suatu hal dalam memecahkan masalah dari sesuatu yang sederhana hingga bersifat realistis juga dapat berfungsi dalam membebaskan beban pada masalah yang nampak maupun tidak nampak.

Coping akan berusaha melalui kognitif dan perilaku seseorang dalam mengatasi, mengurangi dan bertahan dalam menghadapi sebuah tuntutan (dalam Ekasari & Yuliyana, 2012). Sementara itu, Siswanto (2007)

mengungkapkan coping merupakan konsep penengah dalam memahami kesehatan mental seseorang untuk dapat mengatasi situasi serta kondisi dalam keadaan tertantang, ancaman serta kehilangan. Coping juga merupakan reaksi seseorang dalam menanggapi suatu keadaa seperti stres maupun tertekan.

Dapat ditarik kesimpulan melalui pemaparan teori di atas, coping stress merupakan sebuah cara untuk dapat merespon suatu permasalahan yang terjadi pada diri individu melalui sistem kognitif dan perilaku untuk dapat mengurangi serta mengatasi masalah yang dihadapinya.

2. Jenis-jenis Coping Stress

Carver, dkk (1989) membagi dua jenis dimensi coping stress, yaitu problem focused coping dan emotion focused coping.

a. Problem focused coping (Lazarus dan Folkman, 1984) yaitu cara seseorang untuk dapat mengubah kondisi yang tertekan dengan menghadapi malsalah yang mengakibatkan munculnya stres. Berikut di bawah ini akan dijelaskan mengenai jenis-jenis problem focused coping.

1) Active coping

Sebuah proses dalam mengambil langkah untuk dapat menghapus serta menghindar dari stressor dengan maksud untuk memerbaiki dampak dari stressor itu sendiri.

2) Planning

Sebuah cara untuk berpikir bagaimana individu menghadapi stressor. Individu akan melalukan sebuah rencana untuk mengatur strategi mengenai langkah yang akan diambil serta memikirkan bagaimana cara terbaik untuk menghadapi masalah tersebut.

3) Suppression of competing activities

Cara individu untuk menekankan aktivitasnya dalam menyelesaikan masalah dan mengabaikan urusan lain untuk dapat konsentrasi dalam menghadapi stressor.

4) Restraint coping

Individu yang melakukan ini dengan cara menunggu saat yang tepat untuk dapat bertindak maupun tidak bertindak dalam mengambil keputusan secara cepat.

5) Seeking of instrumental social support

Sebuah cara upaya untuk mencari saran, bantuan serta informasi melalui orang disekitarnya.

b. Emotion-focused coping (Lazarus dan Folkman, 1984) adalah usaha seseorang untuk mengurangi serta menghilangkan respon emosional ketika kondisi seseorang mengalami tekanan. Berikut jenis-jenis emotion focused coping.

1) Seeking of emotional social support

Individu berupaya untuk mendapatkan dukungan moral, simpati dan pemahaman dari orang lain.

2) Positive reinterpretation

Proses individu mengambil sisi positif dari apa yang sudah terjadi.

Coping tersebut bertujuan untuk mengelola emosi dibandingkan menghadapi stressor.

3) Acceptance

Sebuah penerimaan individu dari suatu situasi dan kondisi yang terjadi saat itu.

4) Denial

Individu yang menggunakan caranya untuk menolak bahwa individu tidak percaya bahwa stressor itu ada sehingga individu beranggapan bahwa stressor itu tidak ada.

5) Turning to religion

Cara individu yang beralih ke agama ketika ia ada disituasi tertekan dalam dirinya. Agama memiliki fungsi untuk mendukung emosional serta menjadi sarana reinterpretasi positif maupun upaya dalam menghadapi stressor. Individu yang mengambil cara tersebut akan mengembalikannya atau pasrah dengan masalahnya pada keyakinan yang dimiliki.

B. Cyberbullying

1. Pengertian Cyberbullying

Burgess-Proctor, Hinduja, dan Patchin (2009) mengatakan cyberbullying merupakan sebuah kegiatan atau perbuatan yang dapat

merugikan seseorang dengan cara sengaja serta berulang melalui sebuah media elektronik seperti computer, handphone maupun perangkat alat elektronik yang lainnya. Hinduja dan Patchin (2010) mengatakan cyberbullying adalah sebuah perbuatan yang dilakukan dengan cara mengirim pesan untuk mengancam dan mempermalukan seseorang melalui chat dan email serta menuliskan komentar dengan menghina, mengancam dan mengintimidasi seseorang di sebuah website serta media sosial. Lalu, Willard (2007) mendefinisikan cyberbullying sebagai perbuatan kejam terhadap orang lain dengan mengirimkan atau mem-posting gambar maupun pesan yang menyakitkan bagi korbannya atau yang berkaitan dengan agresi sosial dengan menggunakan internet atau media elektronik lainnya.

Menurut Pandie dan Weismann (2016), terdapat faktor yang mendorong remaja mendapatkan perilaku cyberbullying, yakni (1) minimnya perlindungan sosial, (2) diri sendiri, dan (3) keluarga. Selain itu, Jalal, Idris dan Muliana (2021) mengungkapkan faktor yang menjadikan remaja rentan mengalami cyberbullying yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal meliputi, (1) kemampuan pelaku berempati, hal tersebut remaja tidak mengerti tentang etika yang baik dalam berperilaku online sehingga sulit untuk dikontrol dalam menggunakan media sosial. (2) karakter korban yang rentan dapat menjadikan remaja menjadi pelaku dan korban dari cyberbullying. (3) koneksivitas antara pelaku dan korban cyberbullying. Semakin tinggi

intensitas perilaku yang dilakukan pelaku maka korban akan semakin bersikap reaktif. (4) pelaku dan korban cyberbullying terjadi pada remaja perempuan maupun laki-laki. (5) faktor bersosialisasi sebagai pemicu terjadinya cyberbullying seperti berkomentar kasar. Sedangkan faktor eksternalnya yaitu (1) intensitas penggunaan media sosial, semakin tinggi remaja menggunakan media sosial maka akan semakin besar peluang remaja berperilaku cyberbullying dan mendapatkan perlakuan cyberbullying. (2) adanya perkembangan media sosial yang semakin pesat sehingga remaja dapat dengan mudah mengakses atau membawa hal yang baru dalam masyarakat untuk melakukan penindasan di media sosial. (3) pengaruh perangkat teknologi yang menyebabkan remaja dapat melakukan suatu yang kejam dibandingkan dengan apa yang didapatkan remaja dalam pelaku bullying.

Dampak dari cyberbullying tentu akan menimbulkan banyak pengaruh seperti individu memiliki perasaan harga diri yang rendah, depresi atau mengalami stress yang mengakibatkan remaja akan melakukan bunuh diri (Rudi, 2010). Bottino, dkk (2015) mengungkapkan bahwa cyberbullying dapat menimbulkan stres emosional, kecemasan sosial, penggunaan obat terlarang, gejala depresi hingga usaha untuk melakukan bunuh diri. Menurut Gini dan Pozzoli (2013) bahwa siswa yang mengalami cyberbullying kemungkinan akan merasakan dua kali lebih besar dampaknya seperti kesehatan yang

meliputi sakit kepala dan sakit perut dibandingkan dengan remaja yang tidak mengalami cyberbullying.

Dari pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa cyberbullying merupakan sebuah perilaku agresi yang dilakukan melalui media elektronik untuk menyerang korban dengan cara berulang.

2. Jenis-jenis Cyberbullying

Willard (2005) membagi beberapa jenis cyberbullying, yaitu :

a. Flaming (berapi-api), yaitu mengirimkan sebuah pesan teks berisi kata-kata ataupun kalimat yang penuh dengan amarah dan secara frontal. Istilah “flame” disini merujuk pada kata pesan yang berapi-api. Contohnya seperti dalam chatroom yang terjadi saling hina atau mencaci maki yang berbalas-balasan.

b. Harassment (gangguan), pesan yang berisi gangguan melalu e-mail, sms, hingga pesan teks yang ada di jejaring sosial (instagram, twitter, facebook) dilakukan secara berulang. Contoh ketika remaja mendapatkan pesan yang bersifat ofensif secara berulang.

c. Cyberstalking, mengganggu serta mencemarkan nama baik seseorang secara terus menerus sehingga membuat ketakutan yang berlebih pada korban. Contoh seorang pedofil yang mencoba mengontak korban dan meminta untuk bertemu secara terus menerus yang bertujuan untuk melecehkan korban.

d. Denigration, yaitu memberitahukan sebuah keburukan seseorang ke orang lain di internet dengan maksud merusak reputasi dan nama

baik orang tersebut. Contoh ketika seseorang mengatakan keadaan yang buruk baik fisik maupun sifat korban ke orang lain.

e. Impersonation (peniruan), yaitu meniru seseorang menjadi orang lain dan mengirimkan pesan dan status yang tidak baik. Contoh membuat akun media sosial yang sama persis.

f. Outing & Trickery, yaitu outing menyebarkan rahasia orang lain berupa pesan dan foto-foto pribadi orang lain, sedangkan trickery (tipu daya), membujuk seseorang dengan menipu agar mendapatkan sebuah rahasia maupun foto pribadi orang tersebut. Contoh outing yaitu menyebarkan foto seperti kartu identitas, nomer telepon hingga alamat rumah. Sedangkan contoh trikery, individu akan berusaha mendapatkan kepercayaan korban untuk meminta data pribadi korban, lalu disebar ke media sosial.

g. Exclusion (pengeluaran), yaitu dengan secara sengaja mengeluarkan seseorang dari grup online.

C. Tahap Perkembangan Remaja 1. Remaja

Remaja merupakan salah satu periode di usia 13 tahun hingga 20 tahun baik remaja laki-laki dan perempuan yang sedang mengalami karakteristik seksual sekunder dan sifat kedewasaan dengan adanya perubahan fisik dan perubahan psikologis yang berkaitan dengan konsep diri (Widyatama, 2010). Remaja adalah masa transisi perkembangan

dari masa kanak-kanak ke masa dewasa yang dimulai di usia 12 tahun dan berakhir di belasan tahun atau awal 20 tahun (Papalia, Olds &

Feldman, 2001).

Selain itu, remaja merupakan suatu peralihan dari masa anak-anak ke masa dewasa yang dimulai dari usia 10 tahun sampai 12 tahun dan berakhir di usia 18 hingga 22 tahun (Sarwono, 1997). Sementara itu, Monks (2002) mengungkapkan bahwa remaja berawal di usia 12 hingga 21 tahun yang terbagi pada remaja awal di usia 12-15 tahun merupakan remaja awal, usia 15-18 tahun masa remaja pertengahan dan 18-21 tahun merupakan remaja akhir.

Melalui pemaparan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa remaja merupakan suatu transisi dari masa anak-anak ke masa dewasa yang berawal dari usia 13 tahun hingga 20 tahun.

2. Remaja Akhir

Masa remaja terbagi menjadi dua yakni remaja awal (early adolescent) di usia 10-13 tahun dan remaja akhir (late adolescent) di usia 18-22 tahun. Remaja akhir merupakan individu yang memulai dirinya dengan keinginan berkarir hingga mengeksplorasi dirinya dibandingkan dengan remaja awal (Santrock, 2007). Lebih lanjut menjelaskan bahwa remaja akhir dapat memahami situasi dirinya sebelum merespon sesuatu dengan cara yang emosional (Newman dan Newman, 2012). Hurlock (1980) mengungkapkan, remaja akhir dapat memahami situasi dirinya sebelum mereaksikan sesuatu dengan cara

yang emosional. Maka hal tersebut diharapkan remaja akhir memiliki keterampilan dalam menyadari emosi, mengontrol emosi, mengetahui emosi orang lain dan yang terpenting remaja dapat mengontrol tingkah laku agresifnya.

Remaja akhir adalah proses seseorang menuju ke masa dewasa dan ditandai dengan beberapa pencapaian yang telah diperoleh seperti (1) minat yang lebih baik pada fungsi intelektualitas, (2) ego dalam mencari suatu kesempatan untuk bergabung dengan orang lain dalam mencari pengalaman yang baru, (3) identitas seksual yang tidak dapat berubah, (4) egosentrisme yang diubah dengan keseimbangan baik kepentingan pribari maupun orang lain dan (5) adanya batasan pada privasi pribadi dengan orang lain (Sigelman dan Rider, 2009).

D. Coping Stress bagi Remaja Korban Cyberbullying

Setiap remaja yang menjadi korban cyberbullying akan mengalami berbagai macam jenis cyberbullying ketika dirinya mendapatkan perlakuan tersebut di media sosial yang digunakan. Awal terjadinya cyberbullying karena pelaku merasa dirinya menjadi yang terkuat sehingga pelaku akan mencari orang yang menurutnya orang tersebut tidak memiliki kemampuan untuk melawan. Pelaku cyberbullying tentu akan melakukan berbagai macam bentuk, seperti flaming (berapi-api), harassment (gangguan), cyberstalking, denigration (pencemaran nama baik), impersonation (peniruan), outing & trickery, serta exclusion (pengeluaran) (Willard, 2005).

Hal ini yang dapat menyebabkan suatu dampak bagi korban cyberbullying.

Dampak dari perilaku cyberbullying tersebut, khususnya remaja yang menjadi korban cyberbullying akan merasakan kecemasan, menghindari pergaulan dengan teman sebaya, korban akan mengalami depresi, hingga keinginan untuk bunuh diri. Ketika cyberbullying yang dialami remaja tersebut bersifat jangka panjang, maka akan menimbulkan rasa percaya diri yang kurang, membolos sekolah, hingga stres berat (Rifauddin, 2016).

Ketika remaja sudah mencapai stres dalam dirinya, langkah yang baik untuk tidak stres yang terlalu berat tentu akan melakukan strategi coping dirinya. Hal ini akan membuat remaja korban cyberbullying akan bisa membuat dirinya terbuka dalam lingkungan sosialnya tanpa takut dengan perlakuan orang lain serta dapat membatasi dirinya ketika akan di bully di media sosial oleh pelaku cyberbullying. Coping stress yang dapat dilakukan oleh remaja korban cyberbullying untuk mendapatkan gambaran yang dapat dilakukan dalam dua jenis coping yakni focused problem coping dan emotion problem coping. Focused problem coping merupakan cara seseorang untuk dapat mengubah kondisi yang tertekan dengan menghadapi masalah yang mengakibatkan munculnya stres. Focused problem coping dibagi menjadi beberapa cara, yaitu active coping, planning, suppression of competing activities, restraint coping, seeking of instrumental social support. Sedangkan emotion problem coping adalah usaha seseorang untuk mengurangi serta menghilangkan respon emosional ketika kondisi seseorang mengalami tekanan. Emotion problem coping terbagi menjadi

beberapa cara, yaitu seeking of emotional social support, positive reinterpretation, acceptance, denial, turning to religion.

E. Kerangka Berfikir Remaja

Cyberbullying Stres Coping Stress

1. Flaming 2. Harassment 3. Cyberstalking 4. Denigration 5. Impersonation 6. Outing & trickery 7. Exclusion

Problem Focused Coping - Active coping

- Planning - Suppression of

competing activities - Restraint coping - Seeking of

instrumental social support

Emotion Focused Coping - Seeking of emotional

social support - Positive

reinterpretation - Acceptance - Denial

- Turning to religion

Gambar 1. Kerangka Pikir

22 BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah metode kualitatif. Menurut Moleong (2014) penelitian kualitatif merupakan penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian pada suatu konteks alamiah dan dengan memanfaatkan metode alamiah. Selanjutnya, desain penelitian kualitatif yang akan digunakan adalah analisis isi kualitatif deduktif (AIK). Dalam hal ini peneliti akan menafsirkan data berupa teks secara subjektif melalui proses pengelompokan sistematik seperti pengodean serta memasukkan kriteria ke dalam tema-tema tertentu. Penggunaan bahasa sebagai ciri AIK deduktif yang bertujuan untuk mengungkap isi serta makna dari sebuah teks yang sesuai dengan konteks masalah (Supratiknya, 2015).

B. Fokus Penelitian

Fokus utama pada penelitian ini adalah mengungkap dinamika coping stress remaja ketika menjadi korban cyberbullying, meliputi coping yang berfokus pada masalah atau problem focused coping seperti active coping, suppression of competing activities, restraint coping, seeking of instrumental social support hingga coping yang berfokus pada emosi atau emotion focused coping yang berfokus pada emosi di antaranya seeking of emotional social support, positive reinterpretation, acceptance dan turning to religion.

C. Partisipan Penelitian

Partisipan merupakan orang yang terlibat aktif dalam penelitian dengan memberikan data atau informasi yang dibutuhkan. Istilah partisipan biasa digunakan dalam penelitian kualitatif ditujukan pada orang yang menjadi subjek penelitian. Dalam penelitian ini, subjek penelitian dipilih dengan cara purposive sampling yakni ketika peneliti memilih subjek melalui ciri-ciri yang sudah ditentukan peneliti serta tujuan dari penelitian yang akan dilakukan peneliti (Herdiansyah, 2015).

Penelitian ini menggunakan analisis isi kualitatif dengan pertanyaan deduktif dan akan dilakukan dengan analisis isi terarah. Selain itu, remaja akhir merupakan detik-detik seorang remaja akan melalui transisi ke masa dewasa awal. Kriteria yang dipilih sebagai partisipan berusia 18-20 yaitu pernah menjadi korban cyberbullying yang berdampak subjek mengalami stres dan berupaya melakukan coping stress. Remaja korban cyberbullying tentu akan mendapatkan tekanan yang berat dalam dirinya, sehingga remaja tersebut akan sulit berkembang di lingkungan sosialnya terutama dengan teman sebaya baik laki-laki dan perempuan. Pada penelitian kualitatif, jumlah subjek tidak terlalu diperhitungkan, karena pada dasarnya kedalaman data lebih ditekankan untuk menggambarkan fenomena yang diteliti (Herdiansyah, 2015).

Partisipan dalam penelitian ini adalah remaja korban cyberbullying berjumlah 3 orang terdiri dari satu perempuan dan dua laki-laki. Ketiganya memenuhi kriteria sebagai partisipan. Pertama, ketiga partisipan yang pernah

menjadi korban cyberbulling. Kedua, pada saat menjadi korban cyberbullying masih berusia remaja dan masih bersekolah di bangku SMP dan SMA.

D. Metode Pengumpulan Data

Instrumen pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini adalah wawancara. Wawancara merupakan suatu teknik pengumpulan data dengan cara peneliti dapat melakukan face-to-face interview (wawancara berhadap-hadapan) dengan partisipan (Creswell, 2012). Wawancara dengan melakukan face to face, diharapkan terjadi komunikasi langsung, fleksibel serta terbuka, sehingga informasi yang didapat lebih banyak dan luas. Bentuk wawancara yang akan digunakan pada penelitian ini adalah wawancara semi terstruktur.

Melalui pemaparan di atas, peneliti juga akan merespon jawaban dari partisipan sehingga peneliti tidak terpatok pada pertanyaan saja (Herdiansyah, 2015).

Wawancara semi terstruktur ini tetap didasarkan pada daftar pertanyaan terbuka sehingga berguna untuk memberikan stimulus pada informan, agak partisipan dapat secara terbuka untuk mengungkapkan pengalaman yang pernah dialaminya (Supratiknya, 2015). Adapun daftar pertanyaan tampak pada Tabel wawancara berikut.

Tabel 1

Tabel wawancara

No Pertanyaan

1 Latar belakang subjek

1. Identitas (nama, tempat tanggal lahir, usia, tempat tinggal, asal, jenjang studi)?

2. Apa yang anda ketahui tentang bullying dan cyberbullying?

3. Apakah anda pernah mengalami hal tersebut

2 Cyberbullying

1. Kapan anda merasa bahwa diri anda merasa di bully melalui media sosial?

2. Sudah terjadi berapa lama?

3. Bullying apa saja yang pernah anda alami di media sosial?

4. Bagaimana reaksi anda terhadap orang yang melakukan bullying pada anda?

5. Bagaimana perasaan anda saat anda mendapatkan bully?

6. Apa yang akan anda lakukan setelah anda mendapatkan perlakuan bully?

3 Coping stress

1. Apakah anda pernah merasa stres setelah mengalami bully di media sosial?

2. Apa sajakah yang dapat membuat anda stres?

3. Apa yang anda lakukan saat anda stres?

4. Bagaimana cara anda menanggulangi stres yang anda alami di media sosial ketika di bully?

5. Apakah cara tersebut efektif untuk diri anda?

E. Metode Analisis Data

Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan analisis isi deduktif atau yang dikenal juga dengan analisis isi terarah (Supratiknya, 2015). Pendekatan deduktif memiliki tujuan untuk memvalidasi sebuah kerangka teoretis serta menguji teori yang sudah ada (Hsieh & Shannon dalam Supratiknya, 2015). Pelaksanaan analisis terarah dengan pendekatan deduktif mencakup langkah-langkah sebagai berikut:

1. Penyusunan matriks kategorisasi

Langkah pertama, menyusun matriks melalui sebuah kategorisasi yang sesuai dengan teori pada tema penelitian, yaitu dinamika coping stress. Matriks kategori disusun secara deduktif seperti yang disajikan pada tabel berikut.

Tabel 2

Kerangka Analisis Cyberbullying

No Bentuk Cyberbullying

1 2 3

4 5 6 7

Flaming Harassment Cyberstalking

Denigration Impersonation Outing & Trickery Exclusion

 Pesan yang berupa amarah

 Pesan yang berupa gangguan

 Mengganggu subjek hingga ketakutan berlebih

 Mencemarkan nama baik

 Meniru seseorang

 Menyebarkan rahasia

 Mengeluarkan seseorang dari grup

Tabel 3

Kerangka Analisis Dinamika Coping Stress

No Jenis Coping Stress

1 Active coping  Menghapus dan menghindar

dari stressor

2 Planning  Membuat perencanaan

3 Suppression of competing activities

 Menyelesaikan permasalahan

 Mengabaikan urusan lain

untuk konsentrasi menghadapi stressor

4 Restraint coping  Menunggu saat yang tepat untuk bertindak maupun tidak bertindak dalam mengambil keputusan

5 Seeking of instrumental social support

 Mencari saran

 Meminta bantuan untuk dapat

informasi melalui orang sekitar

6 Seeking of emotional social support

 Mendapatkan dukungan moral

 Mendapatkan simpati

 Mendapatkan pemahaman

dari orang lain

7 Positive reinterpretation  Mengambil sesuatu yang positif

8 Acceptance  Menerima keadaan situasi dan kondisi yang terjadi

9 Denial  Menolak dan tidak percaya

bahwa stressor itu ada

10 Turning to religion  Berdoa

2. Pengodean

Pengodean dilakukan dengan cara mengidentifikasi dan mengkategorikan bentuk manifestasi yang sedang diteliti. Pengodean dilakukan melalui beberapa langkah. Pertama, peneliti membaca transkrip wawancara terlebih dulu, kemudian menandai setiap bagian dari teks yang menggambarkan tema yang sedang diteliti. Kedua peneliti menentukan kode dari bagian teks yang sudah ditandai sebelumnya (Hsieh & Shannon, dalam Supratiknya, 2015).

F. Reliabilitas dan Kredibilitas Data

Keabsahan data penelitian tidak terlepas dari validitas dan reliabilitas penelitian. Validitas kualitatif menurut Creswell (2012) adalah sebuah upaya memeriksa kembali hasil penelitian dengan menggunakan prosedur maupun strategi tertentu. Gibs (dalam Creswell, 2012) menyebutkan reliabilitas kualitiatif merupakan pendekatan yang digunakan untuk membuktikan keajegan penelitian apabila diterapkan pada proyek penelitian yang berbeda.

Selain itu, penelitian ini melakukan cross check pada partisipan guna membuktikan keabsahan data informasi yang diperoleh.

Supratiknya (2015) mengungkapkan dengan adanya reliabilitas kualitatif mempunyai sebuah tujuan untuk melihat penelitian ini dapat digunakan untuk diterapkan pada penelitian lain. Creswell (2009 dalam Supratiknya, 2015) dengan memeriksa transkrip wawancara dan memeriksa kode merupakan cara dari memeriksa reliabilitas penelitian kualitatif.

G. Refleksi Peneliti

Peneliti merupakan korban dari perilaku bullying maupun cyberbullying.

Hal tersebut terjadi pada saat peneliti duduk di bangku SMP. Menurut peneliti, lingkungan sekolah SMP kurang mendukungnya. Saat SMP, peneliti pernah memiliki panggilan “kuntet” yang berarti pendek. Namun, peneliti tidak menyukai panggilan tersebut.

Sewaktu peneliti duduk di bangku SMA, peneliti memiliki teman dekat yang mendapatkan perilaku bullying dan cyberbullying. Teman peneliti memiliki panggilan hitam yang bermaksud badannya yang berwarna hitam.

Selain itu, ia juga sering dipukuli dengan teman-teman yang lainnya. Dari

Selain itu, ia juga sering dipukuli dengan teman-teman yang lainnya. Dari