• Tidak ada hasil yang ditemukan

Macam-macam Corak dan Bentuk Hak Milik Tanah Rakyat di Daerah-daerah

HAK TANAH BAGI RAKYAT INDONESIA

I. Hak Wilayah

8. Macam-macam Corak dan Bentuk Hak Milik Tanah Rakyat di Daerah-daerah

Berm acam -m acam corak dan bentuk tanah bagi rakyat In don esia m en urut h ukum adat yan g satu daerah den gan daerah lain berbeda-beda. Hal tersebut akan diuraikan secara gamblang seperti yang tertera di bawah ini.

1. Di Banten dan J akarta, hanya ada hak milik perseorangan. 2 . Di Priyanganhanya terdapat hak tanah komunal. Hak tanah ini dinamakan “sawah zahab” di Sukapura-Ciawi. Hak ini diberikan kepada pam ong desa sebagai bengkok. Di Lim - bangan terdapat kebun jati kira-kira 40 bau sebagai perse- diaan bengkok,.

3 . Di Indramayu terdapat tanah komunal (tidak banyak) lain- nya m ilik perseorangan.

4 . Di Majalengka terdapat tanah komunal dengan bagian te- tap. Namun, karena semakin bertambahnya orang yang ber- h ak m en dapat bagian , lam a-kelam aan tan ah bagian n ya sem akin kecil.

5 . Di Galuh,um um nya tanah hak kom unal bagiannya tetap. Den gan h ak in i petan i tam bah tah u dan m en gerti akan keadaan tanahnya, dan m em bawa politik perbaikan bagi per tan ian n ya.

6 . Di Kuningan,di samping tanah komunal juga ada tanah milik per seor an gan

7 . Di Pekalongan,mulai tahun 1886 sampai 190 4 banyak ter- dapat sawah yan g dijadikan pekaran gan un tuk m em beri kesem patan bagi oran g m on dok yan g tidak m em pun yai pekarangan (m ondok rom pok, m ondok kringkel, m ondok sum pel, yang m enum pang pada sikep) berum ah di peka- rangan sendiri.

8 . Di Batan g terdapat tan ah h ak m ilik perseoran gan yan g turun -tem urun dan tan ah kom un al den gan bagian yan g tetap. Dahulu di situ terdapat tanah komunal dengan pem- bagian berkala (periodieke v erdeeling).

9 . Di Subah, kira-kira tahun 190 6 tanah komunal dengan ba- gian berganti (kongsen giliran) dijadikan bagian tetap. 10 .Di Grin gsin g, sebagian besar sawah den gan hak perseo-

rangan atau dengan “agraris eigendom”. Di sini tanah te- galan dengan hak perseorangan.

11.Di Tegal, tanah desa untuk pekulen tadinya agak luas, lalu dikurangi ¼ bau untuk dijadikan tanah pekarangan, namun sisanya m asih lum ayan untuk tanah pertanian. Kem udian ban yak tan ah sawah yan g dijadikan pekaran gan . Di sin i terdapat tanah komunal dengan bagian tetap, namun pada praktikn ya seperti hak m ilik yasan . Nam an ya saja tan ah kom unal, tetapi nyatanya si pem ilik berhak penuh untuk memperlakukan tanahnya sebagai milik perseorangan. Se- mua tanah pekarangan adalah hak perseorangan.

12.Di Pem alang pada perm ulaan abad ke-20 , banyak tanah sawah kom unal dijadikan pekarangan. H al ini dilakukan dengan m aksud agar tanah itu m enjadi hak m ilik perseo- r a n ga n d en ga n m en ja d ika n n ya t a n a h p eka r a n ga n . Di Pemalang ini selain terdapat tanah komunal juga terdapat tanah milik yasan.

13.Di Sem arang terdapat tanah kom unal dengan pem bagian berkala.

14.Tanah kom unal dengan pem bagian berkala tidak ditem u- kan di Salatiga.

15.Di Grobogan, terdapat tanah komunal dengan bagian tetap dan hak milik perseorangan. Di daerah ini terdapat tanah

“ber an ” d an “tan ah pu saka’ yan g tid ak tem asu k d alam peraturann pembukaan tanah (Ontginnings-ordonnantie), yaitu tanah-tanah yang sudah dibuka pada waktu ordonansi belum ada. Kedudukan hukum nya tidak jelas. Terkadang ahli warisn ya yan g m em buka pertam a digugat oleh pen - duduk lainnya supaya tanahnya dijadikan tanah komunal. Karena tidak ada tanda-tanda dan bukti-bukti yang resm i (tidak ada pengakuan pembukuan tanah), maka sering ter- jadi tanah-tanah semacam itu jadi tanah desa. Gugatan pen- duduk tidak diselidiki dengan seksama bagaimana asal mula- nya tanah itu, dan biasa hanya diputus menurut keterangan orang-orang di situ saja. Karena hal semacam ini, di daerah itu pern ah terjadi ban yak perm in taan oran g-oran g yan g m em punyai tanah beran dan tanah pusaka untuk m enda- patkan h ak agr ar is eigon d em agar tan ah n ya m en d apat ketentuan hukum, dan tidak selalu ada kemungkinan digu- gat dari orang untuk diminta dijadikan tanah desa.

Tanah yasan yang ditinggalkan oleh pem iliknya jatuh ke tangan orang lainnya, atau dikembalikan ke desa. J ika tanah tegalan dibuka sebelum ada Undang-Undang buka tanah maka akan menjadi tanah komunal.

Luas kepemilikan tanah makin lama makin kecil, terutama disebabkan banyaknya sawah komunal yang dijadikan peka- rangan, oleh pamong desa dengan cara menggunakan nama anggota-anggota keluarganya agar menjadikan tanah komu- nal menjadi tanah hak yasan. Sesudah menjadi pekarangan (yang dengan hak yasan) kemudian dijadikan lagi menjadi hak yasan. Dem ikianlah akal orang-orang untuk m em iliki tanah dengan hak yasan dari tanah komunal. Di distrik Ka- jen, sawah rawa menjadi milik perseorangan atau komunal

dari oran g-oran g di sekelilin g rawa-rawa itu. Sedan g di distrik Tayu, sawah rawa-rawa semacam itu menjadi tanah desa.

16.Di Kudus, tanah yasan sesungguhnya sam a dengan tanah kom un al den gan bagian yan g tetap. Bedan ya han ya ada pada penjualan atau pem indahan hak. Pekarangan (m ilik yasan) biasanya lebih luas, sedang tanah sawah milik yasan biasanya lebih kecil.

17.Di Tuban, ada tan ah pusaka di sam pin g tan ah kom un al dengan pembagian berkala. Pada tahun 1898, bupati Tuban mengubah tanah komunal dengan pembagian berkala tiap- tiap tahunnya menjadi pembagian tiap-tiap 5 tahun. Mak- sudnya untuk m em beri kesem patan bagi petani m em per- baiki tanahnya, sebab dengan pem bagian tiap-tiap tahun, usaha perbaikan tanah tidak dapat dijalankan.

18.Di Bojonegoro tanah kom unal pernah ditanam i tanam an keras. Kecuali kalau tanah komunal tersebut telah berubah menjadi milik yasan atas persetujuan desa.

19.Di Blora, sawah-sawah yang mendapat pengairan kadang- kadang menjadi milik yasan.

20 .Di Banyum as, hanya ada tanah kom unal dengan bagian tetap.

21.Di Purwokerto terdapat tanah milik yasan di samping tanah kom un al.

22.Di Purbalingga hanya ada tanah kom unal dengan bagian tetap dan tanah yasan yang turun-tem urun.

23.Di Banjarnegara umumnya hanya terdapat tanah komunal dengan bagian tetap. Tanah pekarangan menjadi hak milik perseorangan. Terkadang orang mengubah sawahnya men- jadi pekarangan dengan m aksud untuk m endapatkan hak

yang lebih leluasa untuk m engusahakannya.

24.Di Cilacap semua tanah pertanian tanah milik perseorangan atau komunal dengan bagian tetap.

25.Di Magelangterdapat “tanah (sawah) sanggeman”, resmi- nya disebut tanah kom unal dengan bagian tetap, nam un dalam praktiknya tak ada bedanya dengan tanah yasan. Se- muanya dianggap sebagai hak milik yasan, yang dikerjakan secara m aro.

26.Di Temanggung dan Purwokerto, tanah milik perseorangan han ya terdapat un tuk pekaran gan dan sem en tara sawah serta tegalan di desa-desa daerah pegunungan. Umumnya tanah di situ adalah hak komunal dengan andilan, akan tetapi praktikn ya ham pir m en yerupai tan ah hak m ilik perseo- rangan. Hanya saja kalau akan digunakan untuk kepentingan jalan kereta api dan air pipa (w aterleiding), maka berlaku sebagai tanah kom unal dengan ganti kerugian dibagikan kepada semua pemilik.

27.Tanah komunal dengan sistem pembagian berganti sudah tidak terdapat lagi di Kebum en , dan tan ah yan g dim iliki sangat kecil.

28.Di Magetan, penduduk di sini lebih suka tanah pekarangan dari tanah sawah yang bertukar-tukar. Di beberapa desa, tan ah kom un al diubah m en jadi tan ah hak m ilik perseo- rangan atau komunal dengan andilan tetap. Ada juga dengan agraris eigendom. Pada waktu itu tidak mengingat besar- nya bagian tanah tiap-tiap warga desa. Karena itu, ada bebe- rapa orang yang m em punyai tanah lebih luas antara (4-7 tanah bau) di samping orang-orang yang sangat kecil bagian tan ahn ya. Kem udian tim bul beberapa perm in taan un tuk meminta tambahan tanah dari orang-orang yang sawahnya

(tanahnya) luas. Namun hal ini tidak dapat terjadi karena tanah-tanah yang sudah m enjadi hak m ilik perseorangan sudah tidak bisa dibagikan lagi. Tanah-tanah di sini umum- nya dengan hak perseorangan dan komunal dengan andilan tetap.

29.Di Ponorogo, banyak tanah-tanah pekarangan di daerah pengairan luar kota Ponorogo m enjadi hak m ilik perseo- rangan. Sebagian besar tanah itu kemudian ditanami padi sebagai sawah dan dinamakan “sawah cakaran”.

30 .Di Pacitan, terdapat tan ah kom un al den gan pem bagian ber kala. Tan ah per tan ian yan g ber gan ti-gan ti tiap-tiap tahun menghalangi usaha untuk perbaikan tanah itu. 31.Di Kediri,kemungkinan mengubah sawah komunal menjadi

pekarangan dengan hak perseorangan ternyata malah mem- berikan keuntungan untuk perseorangan dan m elupakan kepentingan desa dan warga desa lainnya. Hal ini kemudian dilaran g.

32.Di Brebek (Nganjuk), tanah-tanah pekulen dipegunungan sangat kecil. Tanah yang baik untuk tanaman keras menjadi hak m ilik perseorangan.

33.Di Surabaya, 75% tanah pertanian adalah tanah komunal. 34.Di Sidoarjo, tanah pertanian tidak ada yang menggunakan hak perseorangan, semua tanah komunal tetap dengan an- dilan .

35.Di Mojokerto dan J om bang, seperti tem pat-tem pat lain- lainnya terdapat tanah kom unal dan m ilik perseorangan. Di J om ban g terdapat tan ah kom un al den gan pem bagian berkala.

36.Di Gresik, andilannya lama-lama menjadi tambah kecil. Di Paciran (Gresik) keban yakan tan ah m ilik perseoran gan ,

sedan gkan di Bawean han ya terdapat hak m ilik perseo- ran gan .

37.Di Lamongan terdapat dua macam hak; komunal dan per- seoran gan .

38 .Di Ban gil, tan ah yan g d ibuka m en jadi tan ah desa dan dibagikan kepada penduduk dengan hak komunal andilan tetap, selam a pen duduk yan g m en dapat bagian m en ja- lankan semua kewajiban desa. Kalau terjadi lowongan yang mengerjakan (ontstentenis van occupant), maka tanah itu kembali ke desa dan desa berhak mengatur pemakaiannya. Di on derdistrik Won orejo dan Rem ban g (Ban gil) sem ua sawah dan tegal m enjadi hak perseorangan dan kom unal dengan pem bagian berkala.

39.Di Malang, hak memakai turun temurun tetap dengan an- dilan. Kalau pem iliknya m eninggal dengan tidak m ening- galkan pewaris yang berhak (hak ini ditentukan oleh desa menurut adat di desa), maka tanah itu kembali kepada desa. 40 .Di Probolin ggo sem ua tan ah den gan hak m ilik ben gkok

per seor an gan .

41.Di Kraksaan, selain tanah bengkok, sem ua m enggunakan hak milik perseorangan. Berhubung dengan bertambahnya pen duduk, m aka un tuk per luasan pekar an gan ter paksa mengambil tanah komunal. Menurut peraturan daerah itu tidak diperkenankan untuk m endirikan desa baru dengan m engurangi tanah pertanian kalau tidak diajukan oleh 10 orang yang kuat bekerja (w erkbare m annen). Karena inilah maka di situ banyak pemilik tanah sawah yang tidak mem- pun yai pekaran gan , dan rum ahn ya m en um pan g kepada orang lain.

tanah hak milik perseorangan.

43.Di Besuki, di seluruh karesidenan terdapat tanah dengan hak m ilik perseorangan.

44.Di J ember,orang di satu desa yang tanahnya sempit dapat pin dah ke desa lain n ya un tuk m en dapatkan (m em buka) tanah untuk dijadikan sawah, tegal dan pekarangan dengan hak milik perseorangan untuk dirinya dan untuk anak tu- run an n ya.

45.Di Madura, semua tanah di sana dengan hak milik perse- or an gan .

46.Di Imogiri-Yogyakarta tempat makam raja-raja Surakarta dan Yogyakarta, terdapat “tan ah n orow ito”, yaitu tan ah (sawah ) yan g h asiln ya d ip er gu n akan u n t u k kep er lu an um um . Penjaga m akam Im ogiri dan juga Kotagede (Yog- yakarta), m endapat tanah lungguh untuk dirinya sendiri. Di sana terdapat tanah norow ito beberapa jung (1 jung = 8 bau), yang hasilnya disediakan untuk keperluan tamu-tamu yang datang berziarah ke situ. Selain itu juga digunakan untuk memperbaiki mesjid dan kuburan, menggaji pegawai- pegawai m esjid dan keperluan lain-lainnya yang sifatnya tidak untuk keperluan perseorangan.

Tan ah in i diker jakan den gan ten aga pen du du k sebagai kewajiban bekerja, atau digarap pen duduk secara m aro. Untuk tanah yang baik juga diberikan dengan pembayaran yan g sam a. Tan ah lun gguh juru kun ci biasan ya disebut n arawitan .

47.Di daerah Bali, semua tanah pertanian dengan hak yasan (m ilik perseorangan). Di Bali Tim ur terdapat tanah peka- rangan dengan hak komunal, tetapi dapat ditanami tanaman ker a s. P en d u d u k b er h a k a t a s t a n a m a n ker a s d i a t a s

p eka r a n ga n n ya d en ga n h a k kom u n a l t a d i. Or ga n isa si pengairan yang dinamakan subak, mempunyai daerah yang tidak bersam aan dengan daerah lingkungan desa, m elain- kan daerah pengairan (bev loein ggsgbred).

48 .Di Minahasa, tanah m ilik dengan hak yasan dinam akan pasini. Di sam ping itu ada tanah dengan m ilik kom unal, tetapi hanya ada dalam lingkungan famili, yang dinamakan tanah kalakeran. Hukum tua (Kepala Negeri) tidak meneri- m a bengkok, tetapi m enerim a tenaga orang-orang pendu- duk di situ yang kemudian diganti dengan uang. Dan sebagai gan tin ya heren dien st sekaran g m en arik kepada tiap-tiap wajib pajak f 2,50 setahun.

49.Di daerah Sulawesi Selatan,tanah rakyat dengan hak yasan (perseorangan). Di samping itu ada tanah-tanah yang hasil- nya untuk raja (kepala negeri) dengan tanah ongkos-ongkos dan aw atarang seperti yang dijelaskan di muka.

50 .Di Ambon ada tanah dati sebagai tanah dengan hak pusaka tur un -tem ur un yan g pem akain ya tidak ber h ak m en jual kecuali dengan persetujuan famili. Di samping itu ada tanah negeri, yaitu tanah kepunyaan negory (desa) yang diker- jakan oleh penduduk dengan kewajiban m em bayar pajak dan kewajiban desa. Selain itu juga terdapat tanah dengan hak (agraris) eigondem. Tanah dati yang tidak lagi ada yang memiliki (karena orangnya meninggal dengan tidak mem- punyai waris), m enjadi kepunyaan negory.

Hak Tanah di Lombok

Di daerah Lom bok bagian barat, pen garuh Bali terasa besar di sana. Menyangkut persoalan hak tentang tanah seperti yang berlaku di Bali dulu. Menurut adat dinyatakan bahwa

semua tanah, yang dikerjakan atau tidak, hutan belukar atau yang sudah dibuka adalah milik (druw é) raja. Tanah ini ada dua macam yaitu: 1) druw é dalem yang diusahakan dan diam- bil hasilnya untuk raja serta kaum keluarganya; dan 2) druw é jabé, yaitu tanah raja yang diberikan kepada pegawai-pegawai tinggi dan pejabat-pejabat kerajaan lainnya.

Druw é dalem kem udian dibagi lagi m en jadi beberapa ben tuk;

a . sa w a h p en g a y a h atau sa k a p a n , yaitu tan ah r aja yan g dikerjakan oleh rakyat dengan menyakap. Tanah ini dapat diberikan kepada anaknya kalau anaknya tidak mempunyai bagian tanah sendiri. Tanah itu tidak boleh dipindahkan h akn ya. Nam u n m en yewakan kep ad a or an g sed esan ya dengan jalan diam-diam malah diperkenankan. Raja mem- punyai kekuasaan atas tanah yang tidak terbatas. Pemakai- nya diwajibkan m em bayar pajak (lan dren te) serta kewa- jiban bekerja untuk raja. Kalau tidak memenuhi kewajiban ini maka tanah diambil kembali.

b . tanah pecatu adalah tanah yang diberikan sebagai apana- ge kepada kepala-kepala pemerintahan, pegawai pengairan, or an g-or an g alim atau or an g-or an g yan g ber kewajiban menjalankan pekerjaan kerajaan lainnya. Tanah pecatu ini bebas dari pajak. Pecatu yang tidak untuk orang, tetapi untuk suatu jabatan dinamakan pecatu m aider. Hak ini akan ber- pindah seiring penjabat itu berhenti. Memindahkan hak le- bih dari 1 tahun atau menjual tanaman yang ada di tanah itu tidak diperbolehkan.

c. tanah pengancil, yaitu tanah yang disewakan oleh Raja sen- diri kepada orang-orang tertentu. Terhadap pemakai tanah ini tidak dikenakan kewajiban bekerja (dienstplicht)

d . tanah paum an atau tanah w akap yang hasilnya diberikan oleh raja untuk keperluan pura (candi) dan rumah-rumah suci, kumpulan-kumpulan desa, yayasan pengairan (subak) atau orang-orang yang kena wajib bekerja tetapi tidak mem- punyai garapan tanah. Tanah ini tidak boleh dipindahkan h akn ya.

e. tanah pekarangan, tidak boleh dipindahkan haknya. Itulah sebabnya di Bali sebelah Timur seperti diterangkan di muka, pekarangan itu bukan tanah milik perseorangan.

Tanah druw éjabê umumnya diberikan sebagai hak milik perseoran gan turun tem urun den gan bebas dari pajak dan kewajiban kerja. Tanah ini umumnya berasal dari sekelompok tanah sawah, yang lama kelamaan karena penjualan, pengga- daian dan pembagian waris menjadi kecil dan terbagi di semua kasta. Lama-lama terjadi juga tanah druw é jabê dengan jabê bali dan jabê selam baik di kalangan Bali maupun di kalangan Sasak. Penjualan tanah ini dapat diizinkan oleh raja. Penjualan yang tidak dapat izin raja dapat dicabut tanahnya dan dijadikan druw é dalem. Izin ini diberikan hanya karena keadaan yang sangat memaksa, yaitu kalau sangat kekurangan untuk keper- luan perkawin an , upacara pem bakaran m ayat, atau un tuk m em bayar utang yang sudah lam a.

Pembatasan atas tanah druw é jabê ialah bahwa si pemilik harus m em berikan tanahnya kalau diperlukan untuk m em - buat jalan atau pipa air, pem eliharaan jem batan dan ben - d u n gan tan p a gan ti r u gi d an ju ga h ar u s m em ber ikan n ya dengan percuma kayu atau bambu yang ada dalam tanah dru- w é jabê tersebut. Pengem balian tanah druw é jabê m enjadi tanah druw é dalem seperti tersebut di atas akan terjadi karena penyewaan dan penjualan yang tidak mendapat izin dari raja.

Tanah druw é jabê juga dapat jadi tanah druw é dalem, karena: 1. cam put (pencamputan hak, naasting), sebab: a) si pemilik meninggal dan tidak dengan meninggalkan waris yang ber- hak. Dalam hal yang demikian, tidak hanya tanahnya yang diambil oleh raja, tetapi istri (istri-istri) dan anak-anak pe- rem puannya juga diam bil sebagai “kepunyaan” raja. Ter- hadap tiga kasta yang tertinggi (w argi) dan untuk bangsa- wan Sasak, pengambilan waris oleh raja tidak tentu. Tetapi terhadap rakyat biasa hal ini menjadi kebiasaan ; b) m atilas, karena tidak menurut kepada kepala-kepala,

2 . penyerahan dengan kem auan sendiri, hal ini sudah biasa sebab ada satu pihak yang masih berselisih di antara kelu- arga. Hal ini dilakukan dengan maksud untuk minta perlin- dungan raja atas hak tanahnya,

3 . karena dengan dinyatakan hilang haknya disebabkan kare- na pelanggaran-pelanggaran,

4 . karen a perselisihan yan g tidak dapat diselesaikan, m aka tanah itu dapat dicabut dan dapat diberikan kepada orang lain,

5 . karena dijual, 6 . karena pertukaran,

Di daerah-daerah lain di Lombok, yang terkenal dengan nama Dangin Juring (Bali) dan Tim uJuring (Sasak) di Lombok Tengah dan Timur, yang diperintah oleh kaum aristokrat Bali, sama keadaannya seperti tadi, yaitu mangakui bahwa di situ adalah kepunyaan raja Bali. Tetapi di sana orang tidak menge- nal pem bagian dua m acam “druw é dalem dan druw é jabé”. Hanya ada pembagian yang tidak seperti aslinya dan hampir bersamaan seperti di sebelah Barat. Di daerah Sasak, pengaruh Bali dalam soal sistim hak tanah ini kuat. Di daerah tersebut

dibagi m en jadi beberapa “p ay ar desa” yan g dulu-dulun ya merupakan negara-negara kecil yang masing-masing merdeka dan berdiri sendiri. Pay ar ini m em punyai tanah. Dasarnya adalah den gan m en gakui hak dan kekuasaan raja Bali atas tanah, tetapi “payar” desa sebagai kesatuan berhak atas tanah itu. Wakil-wakil raja Bali, yaitu Kepala-kepala Desa dianggap sebagai turunan “datu-datu” atau raja-raja Sasak dulu yang harus dihorm ati. Sedan g pun ggawa-pun ggawa Bali sebagai perantaranya juga harus dihorm ati.

Tanpa memandang luas tanahnya, desa tetap berkewaji- ban m em bayar upeti kepada pem ilik tanah, yaitu raja. Lalu oleh kepala desa, upeti yang harus dibayarkan itu dibebankan kepada kawula dalam payar.

Hak Tanah di Aceh

Dalam Sagi Mukim XXV tanah-tanah yang belum diker- jakan biasa dinamakan “tanòh roh”. Di sagi-sagi lainnya, tanah- tanah yang belum dimiliki oleh seseorang dinamakan atra bit aj m aj (benda kepunyaan negara, staatsdom ein).

Tanah-tanah yang belum dikerjakan ada banyak macam- m acam n ya:

1.rim ba, tanah hutan tua, terdapat di pegunungan, 2 .uteuen, belukar atau seum a’; hutan muda,