BAB III MENGENAL TAFSIR AL-RAZI UU SUHENDAR
B. Karakteristik Tafsir
3. Corak (Laun) Penafsiran
Yang dimaksud dengan corak adalah nuansa khusus yang memberikan warna tersendiri terhadap tafsir.30 Macam-macam corak antara lain:
a. Corak bahasa
Corak bahasa adalah jenis corak yang lebih didominasi oleh uraian tentang berbagai aspek kebahasaannya daripada pesan pokok dari ayat yang ditafsirkan dalam menjelaskan ayat-ayat al-Qur’an.31
b. Corak Fikih
28Uu Suhendar, Tafsir al-Razi Kasaluyuan Surat, Ayat jeung Mufrodat, vi
29Uu Suhendar, Tafsir al-Razi Kasaluyuan Surat, Ayat jeung Mufrodat, 7
30Abdul Mustaqim, Dinamika Sejarah Tafsir al-Qur’an Studi Madzahibut
Tafsir/Aliran-aliran dari Periode Klasik, Pertengahan, Hingga Modern-Kontemporer (Yogyakarta: Idea Press, 2016), 112
31Abdul Mustaqim, Dinamika Sejarah Tafsir al-Qur’an Studi Madzahibut
33 Seperti namanya, jenis ini lebih menitikberatkan pada pembahasan fikihnya di dalam menafsirkan al-Qur’an.32 Contoh kitab tafsir yang memiliki corak ini adalah Aḥkām al-Qur’an karyaّal-Jassās.33
c. Corak Teologis
Corak teologis adalah bentuk penafsiran yang ditulis dengan tujuan membela sudut pandang teologis tertentu.34 Contoh kitab tafsir yang memiliki corak ini adalah Tafsīr al-Kasysyāf karya al-Zamakhsyarī.35
d. Corak Sufistik
Corak sufistik adalah tafsir yang dibangun atas dasar-dasar teori sufistik yang bersifat falsafi dengan menggunakan metode takwil untuk mencari makna batin.36
e. Corak Falsafi
Corak jenis ini lebih berusaha menafsirkan al-Qur’an dengan mengaitkannya pada permasalahan-permasalahan filsafat.37
f. Corak Ilmi
Tafsir ilmi adalah corak yang memanfaatkan pendekatan teori-teori ilmiah untuk menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an.38
Corak yang paling mendominasi dalam Tafsir al-Razi adalah corak bahasanya. Hal ini karena juga secara langsung Uu Suhendar mengatakan bahwa cara dia menafsirkan ayat al-Qur’an adalah secara perkata dengan
32Abdul Mustaqim, Dinamika Sejarah Tafsir al-Qur’an Studi Madzahibut
Tafsir/Aliran-aliran dari Periode Klasik, Pertengahan, Hingga Modern-Kontemporer, 117
33Abdul Syukur, “Mengenal Corak Tafsir al-Qur’an”, Jurnal El Furqonia 01, no. 1
(2015), 86
34Abdul Mustaqim, Dinamika Sejarah Tafsir al-Qur’an Studi Madzahibut
Tafsir/Aliran-aliran dari Periode Klasik, Pertengahan, Hingga Modern-Kontemporer, 121
35Abdul Syukur, “Mengenal Corak Tafsir al-Qur’an”, 97
36Abdul Mustaqim, Dinamika Sejarah Tafsir al-Qur’an Studi Madzahibut
Tafsir/Aliran-aliran dari Periode Klasik, Pertengahan, Hingga Modern-Kontemporer, 125
37Abdul Mustaqim, Dinamika Sejarah Tafsir al-Qur’an Studi Madzahibut
Tafsir/Aliran-aliran dari Periode Klasik, Pertengahan, Hingga Modern-Kontemporer, 131
38Abdul Mustaqim, Dinamika Sejarah Tafsir al-Qur’an Studi Madzahibut
menggunakan pendekatan ilmu bahasa Arab. Pernyataannya adalah sebagai berikut:
Nitenan kecap-kecap anu aya dina tiap-tiap ayat Al-Qur’an atawa struktur kecap anu aya dina ayat ngagunakeun pendekatan Ulum Allughah Al-‘Arabiyah (Ilmu Semantik Arab).39
“Memperhatikan kata-kata yang ada dalam setiap ada al-Qur’an atau struktur kata yang ada di dalam ayat dengan menggunakan pendekatan ilmu semantik Arab.”
Perhatikan potongan penafsiran surat al-Fatihah berikut ini:
ِّبَر ِهّٰ لِل ُدْمَحْلا
َنْيِم لّٰعْلا
(
2
)
Sadaya puji kagungan Allah nu ngurus sakabeh alam
Alhamdu sadaya puji lillah kagungan Allah rabbi anu ngurus ‘ālamin sakabeh alam. Kecap Al-Hamdu hartina sadaya puji. Alif lam nu napel dina eta kecap nurutkeun Ilmu Balaghah kaabus lilistighraq (ngagebudkeun harti) nu sok dihartian sadaya puji atawa sakabeh puji. Al-hamdu ilaharna dilarapkeun pikeun ngalem atawa muji ka nu hade hasil tina ihtiarna sorangan sedengkeun lamun muji nu maksudna ngarayu saperti nyebut geulis ke awewe atawa kasep ka lalaki dina basa Arab disebutna almadhu lantaran kasep jeung geulis lain meunang hasil gawe jeung ihtiarna. Lamun urang dipuji ku nu sejen maka eta pujian teh hakekatna dialamatkeun ka Allah sarta kudu dibalikkeun ka Allah ku ngedalkeun ucap Al-hamdu lillah. Lillah hartina milik Allah. Rabbil’ālamin hartina Allah nu ngatik, ngabingbing jeung ngurus sakabeh alam, kaabus alam manusa, jin, tutuwuhan, sasatoan, alam nu nemrak jeung alam ghaib, sakumaha dijentrekeun dina QS. An-Nahl (16):8:” Jeung Mantena (Allah) nu geus nyiptakeun makhluk nu maraneh teu arapal.40
“Segala puji milik Allah yang mengurus seluruh alam”
“Ḥamdu segala puji lillahi miliki Allah rabbi yang mengurus al-‘alamīn seluruh alam. Kata al-Ḥamdu berarti segala puji. Alif lam yang menempel dalam kata tersebut menurut ilmu bahasa termasuk li’istighrāq (mengumpulkan arti) yang sering diartikan segala puji atau seluruh puji.
39Uu Suhendar, Tafsir al-Razi Kasaluyuan Surat, Ayat jeung Mufrodat, 7
35 al-Ḥamdu biasanya diucapkan untuk memuja atau memuji hasil yang baik dari suatu usaha sendiri sedangkan apabila memuji dengan bermaksud merayu seperti menyebut seorang wanita itu cantik atau pria itu tampan dalam bahasa Arab disebut al-Mahdu sebab tampan dan cantik bukanlah hasil pekerjaan dan usahanya. Apabila kita dipuji oleh orang lain maka pujian tersebut hakikatnya ditunjukkan kepada Allah serta harus dikembalikan kepada Allah dengan melafazkan kata alhamdulillah. Lillah berarti milik Allah. Rabbi al-'Alamin berarti Allah yang menggerakan, membimbing, dan mengurus seluruh alam termasuk manusia, jin, tumbuhan, binatang, alam yang tampak dan alam gaib, sebagaimana dijelaskan dalam surat al-Nahl ayat 8: "Dan Dialah (Allah) yang telah menciptakan makhluk yang kalian tidak ketahui."
Pada bagian tersebut, setelah memberi terjemahan dalam bahasa Sunda terhadap ayat yang ditafsirkan, Uu Suhendar kemudian langsung menafsirkannya secara perkata seperti penjelasan bahwa kata al-Ḥamdu dalam ayat tersebut memiliki arti seluruh puji. Memiliki arti demikian, karena huruf alif dan lam yang menempel pada kata al-Ḥamdu dalam ilmu kebahasaan termasuk ke dalam kategori Li’istghrāq atau untuk mencakup yang selalu diartikan sebagai segala atau seluruh. al-Ḥamdu umumnya diucapkan ketika ingin memuji hal-hal yang baik dan merupakan hasil usaha sendiri sedangkan bila memuji yang maksudnya adalah merayu seperti menyebut seorang wanita itu cantik dalam bahasa Arab hal tersebut disebut al-Mahdu sebab cantik bukanlah hasil pekerjaan dan usaha sendiri.
Bentuk penafsiran yang demikian selalu ditemukan setiap ayat yang ditafsirkan. Sehingga pantaslah apabila dikatakan corak yang mendominasi dalam Tafsir al-Razi adalah corak kebahasaannya. Selain itu, kentalnya corak bahasa pada tafsir ini pun ada kemungkinan didasari pada latar keilmuan dari Uu Suhendar sendiri yang pernah mengenyam pendidikan bahasa Arab semasa kuliah S1 dan S2.
Dengan demikian, hasil pembacaan penulis adalah sama dengan hasil penelitian Linda Dahlia yaitu Tafsir al-Razi memiliki sumber bi al-ma’tsūr, metode al-tahlīli dan corak bahasa.