• Tidak ada hasil yang ditemukan

COREMAP DAN IMPLEMENTASINYA

2. tidak tahu

59,0 41,0 99,0 1,0 2. Pengetahuan tentang adanya kegiatan

penyelamatan TK: 1. ada 2. tidak ada 3. tidak tahu 29,0 45,0 26,0 68,0 32,0 - 3. Pengetahuan tentang

perlindungan/pengawasan pesisir & laut: 1. tahu 2. tidak tahu Total responden - - - 44,1 55,9 (100)

Sumber: Data Primer, BME Sosial Ekonomi COREMAP – LIPI, 2007

Program COREMAP yang telah berlangsung sekitar tiga tahun dengan berbagai kegiatan, antara lain adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran pentingnya pelestarian terumbu karang, baik melalui sosialisasi maupun pertemuan antar kelompok masyarakat (Pokmas) yang dibentuk. Di samping kegiatan penyelamatan terumbu karang, terdapat delapan kegiatan COREMAP lainnya yang telah dilaksanakan di Desa Jago-Jago, yaitu:

pembentukan lembaga pengelola terumbu karang; 1. kegiatan peningkatan usaha ekonomi masyarakat; 2. kegiatan pelatihan;

3. kegiatan pendampingan;

4. kegiatan pembuatan rencana pemanfaatan dan pelestarian terumbu karang (RPTK);

5. kegiatan Pokmas konservasi;

6. kegiatan Pokmas Mata Pencaharian Alternatif atau Usaha Ekonomi Produktif;

7. Pokmas Jender

Dari 68 responden yang mengetahui adanya kegiatan penyelamatan terumbu karang di desa ini namun tampaknya tidak semua mengetahui bentuk program atau kegiatan yang dilakukan COREMAP. Dari sembilan kegiatan di atas, kegiatan pembentukan lembaga pengelola terumbu karang dan kegiatan kelompok jender yang paling banyak diketahui responden. Mungkin ini disebabkan kedua kegiatan ini nyata terlihat oleh masyarakat, baik dalam bentuk kelembagaan maupun pemberian kepada pelaksana kegiatan. Misalnya pemberian itik petelor kepada beberapa perempuan yang tergabung dalam Pokmas Jender. Sementara responden yang mengetahui kegiatan seperti RPTK, peningkatan usaha ekonomi masyarakat, dan pendampingan umumnya di bawah 30 persen. Ketiga kegiatan ini umumnya tidak melibatkan banyak orang dan sampai ini belum memperlihatkan hasil nyata. Hal ini mungkin karena kurangnya sosialisasi dan terbatas mereka yang menerima bantuan. Misalnya untuk peningkatan ekonomi rumah tangga bantuan hanya diberikan kepada beberapa rumah tangga, sedangkan kegiatan pendampingan tidak jelas karena jarangnya pimpinan atau petugas pendamping datang ke desa ini. Lihat Tabel 3.2 tentang pengetahuan responden dalam kegiatan COREMAP.

Tabel 3.2.

Pengetahuan Responden tentang Kegiatan COREMAP di Desa Jago-Jago Tahun 2007

No. Uraian %

1. Pengetahuan tentang pembentukan lembaga pengelola TK: 1. tahu 2. tidak tahu Total responden 54,4 45,6 (68)

2. Pengetahuan tentang kegiatan usaha ekonomi masyarakat: 1. tahu 2. tidak tahu Total responden 23,5 76,5 (68)

3. Pengetahuan tentang kegiatan pelatihan: 1. tahu 2. tidak tahu Total responden 30,9 69,1 (69)

4. Pengetahuan tentang kegiatan pendampingan: 1. tahu 2. tidak tahu Total responden 25,0 75,0 (68)

5. Pengetahuan tentang RPTK (rencana pemanfaatan & pelestarian TK): 1. tahu 2. tidak tahu Total responden 16,2 83,8 (68)

6. Pengetahuan tentang Pokmas konservasi: 1. tahu 2. tidak tahu Total responden 57,4 42,6 (68)

7. Pengetahuan tentang Pokmas MPA/UEP: 1. tahu 2. tidak tahu Total responden 35,3 64,7 (68)

8. Pengetahuan tentang Pokmas Jender: 1. tahu 2. tidak tahu Total responden 54,4 45,6 (68)

Sumber: Data Primer, BME Sosial Ekonomi COREMAP – LIPI, 2007

Permasalahan ketidaktahuan masyarakat tentang kegiatan COREMAP mungkin karena kurangnya sosialisasi adanya kegiatan yang berkaitan dengan program COREMAP kepada masyarakat. Apabila program ini ingin dikembangkan dan diterima masyarakat, mungkin perlu ditataulang kegiatan sosialisasi yang lebih mengena dan dipahami mereka. Hal yang paling penting adalah penjelasan bahwa keberadaan

program COREMAP tidak sebagai ”charity” seperti program bantuan lain yang pernah ada di masyarakat. Hal ini mengingat masyarakat desa ini pernah terkena imbas kejadian gempa di Nias yang mendatangkan bantuan secara cuma-cuma kepada mereka. Situasi ini memengaruhi anggapan mereka, bahwa kegiatan ini adalah sama sebagai bantuan yang tidak perlu digulirkan ke orang lain. Kurangnya pengetahuan mereka mengenai dana bergulir ini terlihat dari 68 responden yang mengetahui kegiatan COREMAP, hanya enam responden mengetahui dana yang diberikan untuk pengembangan suatu usaha ke depan seharusnya digulirkan pada orang lain.

Dalam kaitan dengan keterlibatan responden pada kegiatan COREMAP, tampaknya tidak semua responden yang mengetahui kegiatan ini terlibat. Berdasarkan jawaban responden dari masing-masing kegiatan, secara prosentase adalah pada kegiatan pelatihan (50 persen), penyusunan RPTK (45,5 persen), dan pendampingan (43,8 persen). Besarnya jawaban ini dapat dimengerti karena responden terpilih selain nelayan adalah juga pengurus COREMAP yang umumnya terlibat pada program awal dari kegiatan ini. Misalnya pengurus LPSTK akan terlibat dalam rencana pemanfaatan dan pelestarian terumbu karang dan pelatihan yang diberikan, baik dari tingkat kabupaten maupun provinsi. Sementara kegiatan lain seperti pembentukan lembaga pengelola terumbu karang, pengawasan pesisir & laut, konservasi, MPA, dan jender terbatas pada mereka yang terlibat dalam kelompok tersebut. Misalnya kegiatan itik petelor hanya melibatkan kelompok jender, konservasi hanya kelompok konservasi, dan MPA hanya kelompok ekonomi produktif.

Tabel 3.2 di bawah ini memperlihatkan bahwa mereka yang tidak terlibat cukup tinggi dibanding dengan yang terlibat. Gambaran ini menunjukkan bahwa partisipasi masyarakat Jago-Jago masih rendah dalam kegiatan COREMAP. Permasalahannya memang yang terlibat kegiatan COREMAP masih terbatas terkait dengan jumlah Pokmas hanya tiga yang beranggotakan sekitar 15 orang setiap Pokmas. Kemudian, anggota Pokmas terkadang ada yang terlibat dalam kegiatan COREMAP lain seperti pembentukan lembaga dan pelatihan. Sementara itu, anggota Pokmas pun tidak semua terlibat

pada kegiatan COREMAP yang dilaksanakan di desa itu karena umumnya hanya antara 5 hingga 11 anggota yang terlibat. Misalnya kegiatan itik petelor hanya melibatkan 5 anggota jender. Namun sayangnya penentuan penerima kegiatan tersebut kurang dijelaskan kepada anggota lain dan masyarakat, sehingga menimbulkan kecemburuan baik di antara anggota maupun masyarakat. Akhirnya, mereka yang terlibat dan mengikuti pelatihan di luar desa terkadang harus ”diam-diam” agar tidak konflik di antara mereka. Untuk lebih jelasnya jumlah responden yang terlibat kegiatan COREMAP di Desa Jago-Jago dapat dilihat pada tabel 3.2 di bawah ini.

Tabel 3.3.

Keterlibatan Responden Dalam Kegiatan COREMAP di Desa Jago-Jago Tahun 2007

No. Keterlibatan pada: N/%

1. Kegiatan peningkatan pengetahuan & kesadaran pentingnya pelestarian TK: 1. Terlibat 2. Tidak terlibat Total responden 17 (34,7) 32 (65,3) 49 (100)

2. Kegiatan perlindungan/pengawasan pesisir & laut: 1. Terlibat 2. Tidak terlibat Total responden 9 (30,0) 21 (70,0) 30 (100)

3. Kegiatan pembentukan lembaga pengelola TK: 1. Terlibat 2. Tidak terlibat Total responden 11 (29,7) 26 (70,3) 37 (100) 4. Kegiatan MPA/UEP: 1. Terlibat 2. Tidak terlibat Total responden 6 (37,5) 10 (62,5) 16 (100) 5. Kegiatan pelatihan: 1. Terlibat 2. Tidak terlibat Total responden 10 (50,0) 10 (50,0) 20 (100) 6. Kegiatan pendampingan: 1. terlibat 2. tidak terlibat Total responden 7 (43,8) 9 (56,3) 16 (100)

7. Kegiatan penyusunan RPTK: 1. terlibat 2. tidak terlibat Total responden 5 (45,5) 6 (54,5) 11(100)

8. Kegiatan Pokmas Konservasi: 1. terlibat 2. tidak terlibat Total responden 11 (28,2) 28 (71,8) 39 (100)

9. Kegiatan Pokmas MPA/UEP: 1. terlibat 2. tidak terlibat Total responden 5 (21,7) 18 (78,3) 23 (100)

10. Kegiatan Pokmas Jender: 1. terlibat 2. tidak terlibat Total responden 7 (20,6) 27 (79,4) 34 (100)

Sumber: Data Primer, BME Sosial Ekonomi COREMAP – LIPI, 2007

Keterangan: total responden yang menjawab keterlibatan ada yang tidak sama dengan total jawaban pengetahuan tentang kegiatan COREMAP karena ada responden yang tidak menjawab.

Pada dasarnya masyarakat yang tidak atau belum terlibat dalam kegiatan COREMAP ada yang berminat untuk ikut terlibat, khususnya kegiatan yang dapat meningkatkan ekonomi keluarga. Program yang diinginkan kebanyakan adalah kegiatan ekonomi yang diberi dana kontan untuk usaha atau kegiatan yang dapat menghasilkan uang. Misalnya tambahan dana buka warung atau dagang makanan dan ternak itik atau kambing seperti yang sudah diterima anggota masyarakat lain. Permasalahannya, umumnya mereka hanya melihat bentuk pemberian namun kurang memahami arti dibelakang dari pemberian tersebut. Oleh karena itu, sebelum pemberian bantuan kepada masyarakat atau anggota kelompok sebaiknya diberikan sosialisasi dibalik kegiatan yang akan mereka laksanakan agar tidak ada kegagalan atau kekecewaan pada si penerima. Selain itu untuk menghindari konflik yang mungkin saja terjadi di antara anggota kelompok atau masyarakat.

Sementara itu, di antara yang menginkan terlibat dalam kegiatan COREMAP ada pula yang tidak ingin dengan berbagai alasan. Dalam hal ini, alasan yang mereka kemukakan dapat dikelompokkan dalam

dua kategori, yakni alasan ekonomi dan alasan sosial. Alasan ekonomi di antaranya karena kegiatan COREMAP dianggap tidak menguntungkan secara ekonomi, sibuk dengan pekerjaan sehari-hari, dan tampaknya kondisi ekonomi masyarakat sebelum dan sesudah ada COREMAP sama saja atau tidak ada perubahan. Sementara alasan sosial karena tidak ada waktu, sudah tua, dan tujuan COREMAP tidak jelas. Mengacu kepada alasan yang dikemukakan oleh mereka yang tidak mau terlibat kegiatan COREMAP, tampaknya pengurus perlu lebih menggiatkan sosialisasi keberadaan COREMAP dan tujuannya kepada masyarakat secara umum secara lebih jelas dan terperinci. Selain itu, kegiatan yang dilaksanakan harus teratur sehingga tidak tampak hanya bersifat sementara atau menurut tidak ”hangat-hangat tai ayam”.

Apabila dikaitkan dengan keadaan ekonomi keluarga dibandingkan sebelum dan sesudah ada kegiatan COREMAP di desa ini, umumnya mereka mengatakan sama saja bahkan lebih buruk dan sedikit sekali yang mengatakan lebih baik. Mereka yang mengatakan sama saja secara garis besar alasannya antara lain:

• tidak terlibat dan tidak pernah pernah menerima bantuan COREMAP;

• program COREMAP tidak langsung menyentuh ke masyarakat dan tidak tepat sasaran dan sebaiknya bantuan adalah berupa uang saja;

• program COREMAP belum mempunyai kebijakan yang pasti tentang penyelamatan terumbu karang, sehingga makin sulit memperoleh hasil laut;

• usaha yang dilakukan tidak terkait dengan kegiatan COREMAP

Sementara itu, mereka yang mengatakan kondisi ekonominya lebih buruk memberi alasan:

• pendapatan yang diperoleh jauh dari yang diharapkan, namun harga beli makin tinggi;

• sejak COREMAP di bentuk di desa ini secara umum belum ada program yang betul-betul sampai ke masyarakat, hanya sebagian kecil masyarakat yang dapat;

• sarana untuk berusaha lebih baik, namun hal ini tidak disebabkan karena bantuan COREMAP;

• terumbu karang di kawasan ini makin sedikit sehingga nelayan makin sulit mencari ikan;

Gambaran dari pengetahuan dan keterlibatan masyarakat Jago-Jago dalam program dan kegiatan COREMAP, memperlihatkan walaupun sosialisasi keberadaan COREMAP telah diketahui masyarakat, namun dampaknya belum sepenuhnya dirasakan mereka. Permasalahannya karena sosialisasi dari implementasi program belum dilakukan secara menyeluruh, khususnya yang terkait dengan dana dan peserta kegiatan. Dari sisi pengurus, permasalahan ini terjadi karena terkait dengan turunnya dana yang sering terlambat sehingga pelaksanaan program pun menjadi terlambat. Sementara dari sisi masyarakat, ada anggapan bahwa dana yang turun kurang menyentuh masyarakat karena lebih banyak digunakan untuk pertemuan yang tidak melibatkan mereka. Dalam hal ini, masyarakat mengharapkan adanya keterbukaan, baik yang terkait dengan dana maupun program, kepada masyarakat maupun pengurus. Tidak adanya keterbukaan ini lah yang mengakibatkan mereka mulai tidak simpati dengan kegiatan COREMAP. Situasi ini secara tidak langsung akan menjadi kendala bagi kelanjutan program COREMAP di Desa Jago-Jago pada masa datang.

PENDAPATAN PENDUDUK DAN