PROFIL LOKASI PENELITIAN
2.3. Sarana Prasarana
Sarana dan prasarana yang ada di Desa Jago-Jago masih sangat terbatas, terutama yang berkaitan dengan pengelolaan SDL dan kesejahteraan penduduk. Apakah mungkin karena jumlah penduduk desa ini masih sedikit, yakni 2.667 jiwa (data penduduk Januari 2007), sehingga perhatian untuk pembangunan desa masih rendah. Padahal bila dilihat dari sejarahnya, pada masa Belanda dan Jepang, desa ini merupakan kawasan strategis yang menghubungi Sibolga dengan Tapanuli Selatan melalui jalan laut dan sungai. Hal ini terlihat dengan adanya pos penjagaan yang mengawasi lalu lintas perahu dan kapal keluar Sibolga, baik menuju Tapanuli maupun daerah lain di luar Sibolga. Adanya pos ini lah yang memunculkan nama desa ini Jago-Jago yaitu asal kata jaga. Dalam kaitannya dengan pengelolaan SDL dan kesejahteraan penduduk, sesuai dengan sarana dan prasarana
yang tersedia di desa ini maka selanjutnya akan dideskripsikan tentang sarana transportasi, pendidikan, kesehatan, sarana umum dan ekonomi.
a. Sarana transportasi
Sarana dan prasarana transportasi yang ada di Desa Jago-Jago sejak penelitian data dasar aspek sosial Terumbu Karang tahun 2005 belum terlihat perubahan yang mencolok. Jalan yang menghubungi penduduk dengan masyarakat luar desa, wilayah kecamatan, kota kabupaten dan Tapanuli Selatan masih sama baik dari kondisi maupun jenis kendaraan yang digunakan1. Perubahan yang terlihat secara kasat mata adalah makin banyaknya jumlah ojek yang membuat rasa kecewa pelaku penambang becak motor (bentor). Mereka merasa kalah bersaing, karena calon penumpang yang sendiri atau akan bepergian untuk jarak jauh lebih memilih naik ojek yang dirasa lebih nyaman dan cepat. Akses transportasi lain untuk masuk Desa Jago-Jago adalah transportasi air melalui laut atau sungai.
Namun dengan adanya transportasi darat, jalur laut mulai berkurang terutama pada saat cuaca buruk atau waktu-waktu akan tiba badai yang biasanya di atas pukul satu siang.
Transportasi air ini masih sering digunakan untuk mencapai lokasi yang sulit dicapai dengan jalan darat seperti ke dusun yang terletak pada bagian pedalaman yang hanya dapat dilalui sungai, Teluk Tapanuli, Teluk Sibolga dan Desa Sitardas. Transportasi ke Teluk Sibolga walaupun telah ada transportasi darat, namun bila membawa
1
Lihat Daliyo dan Ngadi( 2007:19) yang telah menggambarkan tentang sarana dan prasarana Desa Jago-Jago.
Foto 2.1. Alat Transportasi Sungai
hasil kebun (palawija, karet dll.), tangkapan SDL (ikan) atau produksi paskapanen (teri dan ebi) lebih mudah dan lebih murah bila menggunakan sampan. Begitupula dengan penduduk yang mempunyai lapangan pekerjaan mencari mengambil pohon nipah di hulu atau muara sungai akan lebih mudah menggunakan sampan. Di samping itu, transportasi air juga digunakan untuk jarak dekat yakni dari Dusun Jago-Jago ke pangkalan ojek dan bentor karena sampai saat ini jembatan penghubung antara dua tempat tersebut belum terealisasi dan baru pada tahap ‘wacana’. Namun bila jembatan tersebut terealisasi, tampaknya pemerintah desa maupun tingkat pemerintah yang lebih atas perlu mengantisipasi penyediaan lapangan kerja untuk mengalihkan kegiatan penarik sampan yang jumlahnya cukup banyak saat ini.
Sarana transportasi yang tidak kalah pentingnya bagi nelayan adalah tempat penambatan kapal atau sampan, di mana mereka dapat melabuhkan sampan setelah melaut. Pada tahun 2006 COREMAP telah membangun sarana ini namun jarang digunakan nelayan karena lokasinya tidak tepat sebagai tempat kapal nelayan bersandar dan menurunkan hasil tangkapan. Oleh karena itu, saat ini tambatan perahu yang dibangun COREMAP lebih dimanfaatkan oleh perahu tambangan sedangkan perahu nelayan atau pencari ikan tetap tersebar di sepanjang pantai Dusun Jago-Jago. Mungkin sebaiknya dalam perencanaan pembangunan untuk tambatan perahu nelayan juga diikuti dengan tempat pelelangan atau turunnya hasil tangkapan nelayan. Selain itu, adanya tempat pelelangan ikan yang terkoordinir dengan baik mungkin saja dapat meningkatkan kehidupan ekonomi rumah tangga nelayan di Desa Jago-Jago yang sekarang makin terpuruk.
b. Sarana pendidikan
Pendidikan sering dianggap sebagai salah satu indikator sosial dalam penentuan tingkat kesejahteraan penduduk. Makin sejahtera tingkat kehidupan seseorang makin tinggi perhatiannya untuk pendidikan anak atau anggota keluarganya, atau sebaliknya makin tinggi
pendidikan seseorang makin sejahtera kehidupannya karena lebih terbukanya peluang kerja yang memadai bagi mereka yang berpendidikan. Namun saat ini pemahaman terakhir kurang tampak karena penyediaan lapangan kerja tidak seiring dengan pertambahan penduduk usia kerja, sehingga terjadi peluapan tingkat pengangguran baik mereka yang tidak berpendidikan maupun berpendidikan. Terlepas dari permasalahan di atas, untuk meningkatkan kehidupan mereka maka seseorang membutuhkan pengetahuan baik secara formal maupun non formal. Untuk itu dbutuhkan sarana dan prasarana pendidikan formal maupun non formal yang dapat meningkatkan pengetahuan mereka dalam menata kehidupannya. Tampaknya untuk masyarakat di Desa Jago-Jago sarana dan prasarana untuk meningkatkan pengetahuan ini masih terbatas pada pendidikan formal dan itu pun hanya pada tingkat Sekolah Dasar Negeri (SDN) baik Madrasah Ibtidaiyah (MI) Muhamadiyah dan MI Albariah. Ketiga sarana pendidikan ini terletak di Dusun Jago-Jago, sehingga anak-anak dari dua dusun lain yang umumnya berada di wilayah perbukitan dengan berjalan kaki datang ke sekolah ini.
Sarana dan prasarana SDN di Desa Jago-Jago pada tahun 2005, yakni setelah gempa, direnovasi dan kondisinya cukup memadai, baik dari sisi bangunan maupun tenaga pengajarnya. Jumlah guru walaupun belum seimbang dengan jumlah kelas (kelas I – VI), yakni lima orang, namun dapat dianggap memadai untuk daerah yang masih termasuk kategori desa tertinggal. Berbeda dengan MI Muhamadiyah maupun Albariah, tampaknya belum banyak menjadi perhatian pemerintah karena masih bersifat swadaya masyarakat sehingga gedung maupun pengajar sangat minim. Untuk setiap madrasah hanya mempunyai pengajar satu orang dengan jumlah murid di MI Muhamadiyah 50 orang dan MI Albariah 30 orang. Murid-murid ini umumnya hanya adalah anak-anak dari Dusun Jago-Jago yang dominan penduduknya beragama Islam. Dusun lain, terutama yang berpenduduk dominan orang Nias tidak ada yang sekolah di madrasah.
Di Desa Jago-Jago dan sekitarnya belum ada sarana dan prasarana pendidikan non formal seperti kursus-kursus atau pelatihan-pelatihan
untuk kesiapan kerja. Bagi mereka yang ingin mengikuti pendidikan singkat atau kursus untuk menambah pengetahuan karena tidak dapat melanjutkan pendidikan setelah tamat SLTP atau SLTA harus ke kota Kabupaten Sibolga. Keinginan untuk melanjutkan pendidikan ini sering terhambat, karena terbentur dengan faktor biaya yang tidak hanya untuk biaya pendidikan namun juga transportasi. Mungkin untuk mengatasi masalah pendidikan bagi anak-anak putus sekolah ini perlu dipikirkan penyediaan balai-balai pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan desa setempat dan ketersedian lapangan pekerjaan yang ada di tingkat desa, kecamatan dan kabupaten. Kemudian, lokasi tempat pelatihan berada tidak jauh dari desa Jago-Jago; paling tidak di masih berada di Kecamatan Badiri.
c. Sarana kesehatan
Pada tingkat desa, sarana kesehatan yang ada hanya Puskesmas Pembantu (Pustu) yang terletak di Desa Jago-Jago bagian daratan, yakni di jalan aspal arah ke kantor kecamatan. Pustu ini menerima pasien selama lima hari kerja (Senin – Jumat), yang dikelola oleh seorang tenaga medis (bidan). Biaya berobat antara Rp. 15.000,- - Rp. 20.000,-; tergantung dengan jenis penyakit dan obat yang dibutuhkan pasien. Pada hari-hari tidak di Pustu, bidan dpat menerima pasien di tempat bidan menginap (rumah bantuan karena gempa) di mana tersedia beberapa macam obat yang umum digunakan ketika sakit mendadak seperti obat luka, obat batuk dan obat sakit perut.
Pos Persalinan Desa (Polindes) telah ada di bagian pulau Desa Jago-Jago, namun belumberfungsi sebagaimana mestinya. Hal ini disebabkan belum adanya bidan desa yang menetap di desa ini. Pada umumnya pertolongan persalinan masih dilakukan oleh penduduk setempat yang didaulat penduduk sebagai dukun beranak. Perempuan ini diawali karena secara kebetulan bisa menolong persalinan dan aktif pada berbagai kegiatan desa. Pelatihan persalinan baru diikutinya sehingga sekarang dia sudah berpredikat sebagai dukun terlatih. Khusus untuk pengobatan penyakit, penduduk masih ada yang pergi ke dukun kampung. Di desa ini ada dua orang dukun
pengobatan tradidional, yaitu dengan cara membaca doa-doa atau mantra dan memberi ramuan tradisional.
Sarana kesehatan yang cukup lengkap dilihat dari perlatan dan petugas kesehatannya adalah Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) tingkat kecamatan yang terletak di Desa Hutabalang. Staf Puskesmas ini terdiri dari : 1 orang pimpinan, 22 perawat (PNS dan honorer), 1 dokter umum, 1 dokter gigi, 1 pharmacy, 1 ahli gizi, 1 ahli kesehatan lingkungan, 4 bidan, dan 2 orang tata usaha2. Puskesmas ini beum dapat menerima rawat inap karena perlengkapan untuk rawat inap belum ada. Apabila dilihat dari sarana dan prasarana transportasi yang cukup lancar dari Desa Jago-Jago ke Puskesmas ini seharusnya tidak membuat penduduk Jago-Jago merasa sulit ke lokasi pelayanan kesehatan ini. Mungkin bagi penduduk yang ekonominya sulit sekali kendala untuk berobat ke Puskesmas muncul, karena biaya kendaraan yang harus dibayarkan selain biaya pengobatan.
d. Sarana ekonomi
Pada tingkat desa, sarana ekonomi yang tampak di Desa Jago-Jago terbatas pada penyediaan kebutuhan dasar rumah tangga dan sarana untuk melakukan kegiatan mata pencaharian penduduk. Warung kebutuhan sehari-hari dan kebutuhan rumah tangga ada sekitar sepuluh warung yang tersebar di Desa Jago-Jago bagian pulau dan daratan. Sedangkan kedai minuman jumlahnya lebih banyak di bagian kepulauan, karena tampaknya keberadaan warung selain untuk makan-minum juga berfungsi sebagai tempat mangkal anak muda dan beristirahatnya orang-orang sepulang melaut. Untuk menarik pengunjung, warung minum ini juga terpasang televisi namun jarang digabung dengan VCD. Televisi hanya menyiarkan acara-acara televisi yang dapat tertangkat di desa tersebut. Warung yang terdapat di wilayah daratan ada dua, yaitu persis di pangkalan atau lokasi tambatan perahu penyebrangan. Khusus untuk warung makan yang juga menyediakan makanan terbuat dari ikan, umumnya membeli ikan segar dari nelayan atau pedagang pengumpul ikan.
2
Pasar sebagai tempat bertemunya pembeli dan penjual belum ada di Desa Jago-Jago. Penduduk yang akan berbelanja atau menjual hasil bumi atau hasil karyanya akan melakukan transaksi di pasar terdekat, yaitu Pasar Hajoran di Kecamatan Tukka. Pada hari-hari pasar seperti ibu-ibu membuat kue dan berbagai jenis makanan untuk dijual ke pasar tersebut. Sedangkan pemilik warung akan berbelanja untuk mengisi kebutuhan warungnya. Jarak antara Desa Jago-Jago dengan Pasar Jajoran sekitar 7 kilometer, bila ditempuh dengan ojek biayanya sekitar Rp. 6.000,- untuk pulang-pergi.