PROFIL LOKASI PENELITIAN
2.4. Program dan Kegiatan Pengelolaan SDL
2.4. Program dan Kegiatan Pengelolaan SDL
Dalam beberapa tahun terakhir ini, Desa Jago-Jago mulai terlihat adanya beberapa program atau kegiatan yang berkaitan dengan pengelolaan sumber daya laut yang dikelola pemerintah (DKP) maupun pihak swasta. Kegiatan tersebut adalah usaha tambak udang, COREMAP dan HNSI (Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia). Pada setiap kegiatan atau program melibatkan beragam pemangku kepentingan (stakeholders) dari berbagai tingkatan yang dapat dilihat pada matriks 2.1 di bawah ini.
Matriks 2.1.
Program atau Kegiatan Pengelolaan SDL Menurut Stakeholders yang Terlibat
No. Program/ Kegiatan
Stakeholders Keterangan
Pengusaha • Berasal dari luar Desa Jago-Jago Pekerja • Buruh umumnya penduduk Desa
Jago-Jago;
• Adapembagian kerja antara buruh perempuan dan laki-laki;
• Kawasan tambak makin luas dengan membeli tanah penduduk sekitar 1. Tambak
udang
Masyarakat • Mereka yang tidak terlibat pada kegiatan tambak sulit untuk masuk kawasan tambak dengan alasan tambak harus steril/bersih. 2. COREMAP DKP tingkat
kabupaten • KPA, Fasilitator (petugas lapangan) Konsultan ekonomi
produktif (MPA) • Dosen dari Universitas Nomensen, Medan
• Mahasiswa Nomensen sebagai pelaksana di lapangan dan meneliti kegiatan MPA untuk bahan skripsi LSM • Seharusnya berperan langsung untuk
intervensi program di masyarakat, namun jrang berada di lokasi dengan berbagai alasan seperti belum ada SK atau desa ini mudah dijangkau dari kabupaten
Aparat desa • Peran aparat desa tumpang tindih dengn LPSTK karena ada anggota LPSTK juga aparat desa. LPSTK/Pokmas • Penggerak dan pengawas kegiatan
COREMAP di desa Nelayan, pengolah
pascapanen • Nelayan yang mengambil hasil SDL seperti teri, ikan dan SDL lain. Terbanyak adalah pengolah ikan teri dari bagan-bagan yang ada di sekitar Jago-Jago
Pedagang pengumpul • Penentu harga hasil SDL (basah maupun kering), ada yang di desa dan di Sibolga
Penambang sampan • Menyebrangkan penduduk dari wilayah darat ke wilayah pulau Pegolah nipah • Terdiri dari penduduk yang
mengambil nipah hingga mengolahnya menjadi daun nipah siap dijual ke Tapanuli Selatan atau pedagang. Untuk kegiatan ini ada pembagian kerja antara laki-laki dan perempuan Masyarakat • Penduduk Desa Jago-Jago HNSI tingkat daerah/
kabupaten • Turut memprakasai untuk membentuk HNSI tingkat kecamatan atau desa HNSI tingkat
kecamatan/ desa • Pada saat penelitian berlangsung, HNSI Desa Jago-Jago baru dibentuk yang diprakasai oleh seorang tokoh masyarakat desa namun dia bukan nelayan.
Nelayan • Terlibat pada HNSI, karena kelompok ini khusus untuk nelayan. Pasda saat penelitian baru satu kali melakukan pertemuan untuk menyusun program atau kegiatan
3. HNSI
Masyarakat • Belum banyak yang tahu tentang keberadaan HNSI karena baru terbentuk dan belum disosialisasikan Sumber: Wawancara dengan informan tokoh masyarakat, pengelola COREMAP dan
HNSI di Desa Jago-Jago
2.5. Kependudukan
• Jumlah dan Komposisi
Survai yang dilakukan pada tahun 2005 dan 2007 meliputi 100 rumah tangga yang tinggal di Desa Jago-jago. Pemilihan lokasi survai di Desa Jago-jago didasarkan pada pertimbangan bahwa penduduk yang bekerja sebagai nelayan jauh lebih banyak dibandingkan Desa Sitardas.
Berdasarkan hasil survai pada tahun 2005 dan tahun 2007, tidak ada perubahan jumlah penduduk yang cukup berarti dari 100 rumah tangga sampel. Jika pada tahun 2005, jumlah anggota keluarga pada rumah tangga sampel adalah 536 jiwa, pada tahun 2007 anggota
rumah tangga sebanyak 537 jiwa. Hal ini berarti bahwa setiap satu rumah tangga terdiri atas lima atau enam jiwa. Jika dirinci berdasarkan jenis kelamin, pada tahun 2007 jumlah penduduk Desa jago-Jago terdiri dari 288 (53,6 persen) orang laki-laki dan 249 (46,4 persen) orang perempuan. Adapun rasio jenis kelamin adalah 115 yang berarti bahwa dalam 100 orang perempuan terdapat 115 laki-laki. Rasio jenis kelamin ini lebih besar dibandingkan dengan kondisi tahun 2005, yaitu 106 (Daliyo dan Ngadi, 2005).
Dari 100 rumah tangga sampel pada survai yang dilakukan tahun 2005, 95 rumah tangga di antaranya kembali menjadi sampel pada survai yang dilaksanakan pada tahun 2007. Lima rumah tangga yang menjadi sampel pada tahun 2005 terpaksa diganti karena mereka pindah ke lain desa. Meskipun ada lima rumah tangga baru pada survai tahun 2007, nampaknya tidak mempengaruhi terhadap jumlah anggota rumah tangga sampel tahun ini. Secara keseluruhan, jumlah anggota rumah tangga tahun 2005 dan 2007 hanya berbeda 1 orang. Sementara jika dilihat dari struktur umur, ada sedikit perbedaan antara kondisi tahun 2005 dan 2007. Hal ini selain karena adanya kenaikan umur dari anggota rumah tangga seiring dengan berjalannya waktu. Selain itu, adanya perbedaan lima rumah tangga yang menjadi sampel kemungkinan juga mempengaruhi perbedaan struktur umur rumah tangga sampel dari tahun 2005 dan 2007. Jika pada tahun 2005, proporsi penduduk terbesar adalah kelompok umur 15- 19 tahun (17,4 persen), pada tahun 2007 kondisinya tetap sama, hanya proporsinya sedkit meningkat (18,2 persen) (Tabel 2.1).
Tabel 2. 1.
Jumlah dan Komposisi Penduduk Desa Jago-jago, Tahun 2005 dan 2007
UMUR Laki-laki Perempuan Jumlah
0 - 4 24 19 43 5 - 9 20 19 39 10 - 14 38 37 75 15 - 19 50 48 98 20 - 24 38 27 65 25 - 29 22 13 35 30 - 34 12 8 20 35 - 39 9 13 22 40 - 44 10 19 29 45 - 49 16 17 33 50 - 54 19 16 35 55 - 59 14 4 18 60 - 64 8 4 12 65 - 69 4 3 7 70 - 74 0 0 0 75 + 4 2 6 Total 288 249 537 Sumber: Data Primer, Kajian BME Sosek, PPK-LIPI, 2007.
Tabel 1 menunjukkan bahwa kelompok penduduk usia muda (di bawah 15 tahun) sebanyak 29,3 persen, sedangkan usia produktif (15-54 tahun) 62,2 persen dan kelompok usia kurang produktif (55 tahun ke atas) sebanyak 8 persen. Kondisi ini agak berubah dengan dibandingkan dengan tahun 2005. Perbedaan yang cukup jelas adalah pada kelompok umur usia muda. Pada tahun 2005, kelompok usia muda tersebut mencapai 34, 3 persen.
Angka beban ketergantungan yang merupakan jumlah penduduk usia di bawah 15 tahun dan penduduk usia 65 tahun ke atas dibandingkan dengan penduduk usia produktif (15 – 64 tahun), menunjukkan angka yang relatif kecil, yaitu 38.8 persen. Artinya, bahwa setiap 100 orang usia produktif menanggung sekitar 39 orang yang tidak produktif. Masalahnya adalah, proporsi penduduk usia kerja yang berstatus bekerja hanya 35,9 persen.
Apabila dikelompokkan menurut suku bangsanya, sebagian besar penduduk rumah tangga yang menjadi sampel dari penelitian ini
sebagian besar adalah Suku Batak, yang lainnya adalah Suku Minang dan Nias. Meskipun sebagian besar mereka adalah Suku Batak, namun pengaruh budaya melayu cukup kental. Hal ini terjadi karena semakin banyaknya orang Melayu yang bermukim di Desa Jago-Jago baik untuk bekerja ataupun karena adanya perkawinan dengan penduduk setempat. Kentalnya pengaruh budaya Melayu dalam kehidupan masyarakat sehari-hari, dalam masyarakat muncul ungkapan ‘Bukan kapak sembarang kapak, kapaknya pembelah kayu.
Bukan Batak sembarang Batak namun bataknya menjadi Melayu”.
• Pendidikan dan Ketrampilan
Mengenai tingkat pendidikan tertinggi yang ditamatkan, data dari hasil survei rumah tangga menunjukkan bahwa sebanyak 13.2 persen ART mempunyai pendidikan SLTA ke atas. Dibandingkan dengan kondisi tahun 2005, proporsi ini meningkat sebanyak 3,1 persen, tahun 2005 hanya 9,9 persen. Proporsi ART yang berpendidikan tamat SLTP sebanyak 15,1 persen, tamat SD 37,8 persen, dan selebihnya belum/tidak tamat SD (31,7 persen) serta belum/tidak sekolah 2,1 persen (Tabel 2.2).
Tabel 2.2.
Komposisi Penduduk Uur 7 tahun Ke atas Menurut Tingkat Pendidikan yang Ditamatkan, Desa Jago-Jago, 2007
Pendidikan tertinggi yang ditamatkan
Laki-laki Perempuan Laki-laki + Perempuan
Belum/tidak sekolah 4 6 10
Belum/tidak tamat SD 84 67 151
SD tamat 97 83 180
SLTP tamat 42 30 72
SLTA tamat ke atas 29 34 63
Jumlah 256 220 476
Sumber: Data Primer, Survai BME, PPK-LIPI, 2007
Tabel 2.2 juga menunjukkan bahwa tidak ada kesenjangan yang menyolok dalam pencapaian pendidikan antara laki-laki dan perempuan pada tingkat pendidikan SLTA ke bawah. Pada jenjang
pendidikan SLTA ke atas, proporsi perempuan lebih rendah dibandingkan dengan laki-laki, yaitu 11,3 persen dan 15,5 persen. Alasan ekonomi cenderung umum dikemukakan sebagai sebab mengapa anak-anak perempuan cenderung tidak dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi selepas mereka dari SLTA. Selain tingkat pendidikan, penduduk Desa Jago-jago juga mempunyai beberapa ketrampilan khusus yang dapat digunakan untuk menunjang kehidupannya. Adapun ketrampilan yang banyak dimiliki oleh penduduk adalah mengolah daun nipah, membuat kapal kayu, mencari ikan dan mengolah ikan.
Ketrampilan penduduk yang terkait dengan nipah adalah mengolah daun ini untuk menjadi pembungkus rokok. Pengolahan pucuk nipah menjadi pembungkus rokok memerlukan ketelatenan tersendiri karena memerlukan proses yang relatif panjang. Adapun tahapan-tahapan yang harus dilalui antara lain adalah sebagai berikut: 1) pemotongan dan pengambilan pucuk nipah, 2) tutu, 3) pengupasan, 4) penjemuran, 5) pengikatan, 6) pengukusan, dan 7) pengepakan. Pucuk nipah yang sudah dipotong kemudian diambil lembar demi lembar. Lembaran daun nipah tersebut kemudian diambil lidinya dan daunnya dihaluskan. Setelah itu daun nipah tersebut dijemur.
Pekerjaan pemotongan dan pengambilan pucuk daun nipah dari hutan nipah biasanya dikerjakan oleh laki-laki, sementara perempuan biasanya mengerjakan tahapan tutu hingga pengepakan. Pengukusan dan pengepakan dilakukan oleh sendiri oleh taoke nipah.
Beberapa penduduk di Desa jago-jago memiliki ketrampilan membuat kapal kayu yang diperoleh secara turun temurun. Kapal-kapal tersebut dibuat berdasarkan pesanan yang dating baik dari dalam desa maupun dari luar desa. Pekerjaan membuat kapal ini dilakukan secara berkelompok. biasanya antara …..orang. Harga sebuah kapal kayu berkisar antara Rp. 5.000.000 tergantung dari bahan bakunya.
Foto 2.2.
Semakin bagus bahan baku seperti kayu meranti semakin tinggi harga kapal tersebut. Menurut informasi dari beberapa pembuat kapal kayu, kayu meranti tersebut akhir-akhir ini sulit sekali didapatkan.
Foto 2.3. Pembuatan Kapal Kayu
Ketrampilan mengolah ikan yang dimiliki oleh penduduk Desa Jago-Jago terutama adalah pengolahan ikan teri. Pengolahan ikan teri ini dimulai dari penangkapan ikan melalui yang dipasang di bagan. Setelah ikan dibawa pulang, kemudian direbus dan digarami. Tahap akhir dari pengolahan ikan ini adalah penjemuran ikan untuk menjadi ikan kering. Selain ketrampilan dalam membuat ikan teri kering, sebagian penduduk juga dapat mengolah ikan teri menjadi pepes. Pepes ikan teri tersebut dijual laku Rp. 1000 per bungkus
Foto 2.4. Foto 2.5. Penjemuran Ikan Teri Pembakaran Pepes Teri
• Pekerjaan (utama dan tambahan)
Berdasarkan survei 100 rumah tangga terlihat bahwa pada tahun 2007, proporsi terbesar dari 537 ART, statusnya adalah bekerja (35.9
persen atau 164 orang). Proporsi terbesar kedua (28,7 persen) masih berstatus sekolah. Sedangkan mereka yang tidak bekerja atau menganggur sebanyak 12.9 persen. Dan mereka yang mencari kerja sebanyak 10,3 persen. Sementara ART yang kegiatannya mengurus rumah tangga sebanyak 12,3 persen.
Jika dibandingkan dengan kondisi tahun 2005, terdapat penurunan proporsi ART yang bekerja. Pada tahun 2005, proporsi ART yang bekerja mencapai sekitar 54 persen, sementara pada tahun 2007 proporsi ART bekerja hanya 35.9 persen. Penurunan ini barangkali dikarenakan pada saat penelitian berlangsung terdapat beberapa orang penduduk yang tidak bekerja karena kondisi laut yang tidak memungkinkan sehingga mereka hanya di rumah saja. Padahal, pada saat penelitian kondisi laut relatif tenang. Batasan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kegiatan seminggu yang lalu.
Dilihat dari lapangan pekerjaaan penduduk, nampak bahwa perikanan laut tetap merupakan lapangan pekerjaan yang banyak dilakukan oleh anggota rumah tangga sampel. Ada sedikit kenaikan dari persentase anggota rumah tangga (ART) yang bekerja di bidang perikanan laut. Informasi yang diperoleh menunjukkan bahwa ada beberapa orang yang pada tahun 2005 belum bekerja, tahun 2007 ini mereka bekerja sebagai anak buah kapal (ABK).
Selain bidang perikanan laut, pekerjaan di bidang industri pengolahan merupaka lapangan pekerjaan yang banyak dilakukan penduduk. Lapangan pekerjaan industri pengolahan meliputi usaha pengolahan daun nipah, pengolahan ikan, dan industri pembuatan kapal. Industri pengolahan daun nipah menjadi bungkus rokok merupaka lapangan pekerjaan yang banyak menyerap tenaga kerja terutama perempuan, meskipun upah yang diterima dari pekerjaan ini relatif rendah. Upah yang diterima oleh seorang pekerja mengambil daun muda nipah dengan membuang lidinya sekitar Rp. 2000 untuk 100 batang (1 ikat). Rata-rata dalam sehari seorang perempuan dapat mengambil pucuk daun nipah sekitar 100-150 batang, sehingga upah yang diterima oleh seorang pekerja dalam sehari rata-rata sekitar Rp. 3000. Karena pekerjaan ini tidak dilakukan setiap hari, dalam sebulan seorang pekerja memperoleh penghasilan sekitar Rp. 300.000.
Perubahan yang cukup signifikan terlihat pada persentase penduduk yang bekerja di pertanian tanaman pangan dan jasa. Jika pada tahun 2005, penduduk yang bekerja di bidang pertanian pangan hanya sekitar tiga persen, jumlah tersebut melonjak pada tahun 2007. Menurut informasi yang diperoleh di lapangan, adanya pembukaan lahan di daerah perbukitan. Sebagian lahan yang dibuka sebenarnya bukan milik warga Desa Jago-jago, namun mereka memberikan kepada penduduk Desa Jago-jago dengan sistem bagi hasil. Lahan tersebut pada umumnya ditanami mentimun dan cabe.
Sementara perubahan pada bidang jasa, kemungkinan karena adanya kenaikan jumlah ART yang bekerja sebagai penyedia jasa angkutan (penyeberangan sungai maupun pengemudi becak motor). Pekerjaan penyeberangan sungai cukup diminati karena memberikan penghasilan yang lumayan. Dengan ongkos penyeberangan antara Rp. 500-1000, seorang penyedia jasa penyeberangan sungai memperoleh penghasilan sekitar Rp.20,000-25,000. Jika dibandingkan dengan penghasilan tahun 2005, relatif turun karena semakin banyaknya orang yang bekerja di bidang ini.
Tabel 2.3.
Distribusi Penduduk Menurut Lapangan Pekerjaan Utama, Desa Jago-Jago, tahun 2005 dan 2007
Tahun (Presentase) Lapangan Pekerjaan
2005 2007
Perikanan tangkap/laut 29,7 33,5
Perikanan budidaya 1,0 3,1
Pertanian tanaman pangan 3,1 11,2
Pertanian tanaman keras 4,2 2,5
Perdagangan 18,8 14,9
Jasa 4,7 11,8
Industri Pengolahan 29,2 21,5
Lanilla 9,4 1,9
Total 100 (192) 100 (164)
Sumber: Daliyo dan Ngadi, 2005 dan Kajian BME Sosek, PPK-LIPI, 2007.
• Kesejahteraan (TO dan T1)
- Pemilikan dan penguasaan asset produksi dan non produksi
Informasi tentang kepemilikan asset produksi dan non produksi dapat menggambarkan kondisi kehidupan ekonomi penduduk setempat. Bagian ini akan menguraikan tentang kepemilikan asset rumah yang berupa asset produksi dan non produksi. Sesuai dengan pekerjaan utama yang paling banyak dilakukan penduduk adalah di sector perikanan, maka kepemilikan alat produksi perikanan akan dkemukakan terlebih dahulu.
Tabel 2.5 menunjukkan bahwa dari 100 rumah tangga sampel, terdapat 29 perahu motor, sembilan di antaranya adalah perahu motor tempel. Dibandingkan dengan keadaan tahun 2005, terjadi penurunan, tahun 2005 jumlah perahu motor sebanyak 25. Perahu motor yang dimiliki oleh nelayan Desa Jago-Jago mempunyai ukuran yang bervariasi baik mesin maupun body yang bervariasi. Dari 20 perahu motor (dalam) sebagian besar (95 persen), mesinnya berukuran 5.5 PK, hanya satu yang mempunyai ukuran 3.8 PK. Ukuran body motor dalam ada yang empat meter (5 unit), lima meter (enam unit) dan enam meter sebanyak 8 unit. Dari sembilan motor temple, 6 di antaranya mempunyai mesin berukuran 5.5 PK, sedangkan tiga unit lainnya masing-masing berukuran lebih besar, yaitu 9.9 PK (satu unit) dan 15 PK (dua unit).
Perahu tanpa motor yang dimiliki penduduk dari rumah tangga sampel sebanyak 25 unit. Jumlah ini meningkat sebanyak 7 unit jika dibandingkan dengan kondisi tahun 2005. Perahu tanpa motor ini pada umumnya digunakan sebagai alat transportasi lintas sungai.
Tabel 2.4.
Distribusi Kepemilikan Aset Rumah Tangga, Desa Jago-Jago, Tahun 2005 dan 2007.
Jumlah No
Jenis Aset Rumah Tangga 2005 2007 A. Peralatan Produksi
1 Perahu Motor 25 29
2 Perahu tanpa motor 18 25
3 Keramba 1 - 4 Alat tangkap - Jaring 5 7 - Bagan 6 3 - Pancing 27 71 - Bubu - 7 B. Tambak 1 1 C. Lahan Pertanian
Tanaman pangan dan /kebun 18 12
D. Ternak 5 10
E. Aset lainnya
1 Pekarangan dan rumah 87 93
2 Alat transportasi 30 6
3 Barang elektronik 47 86
4 Perhiasan 6 14
5 Tabungan uang 7 N/A
Sumber: Daliyo dan Ngadi, 2005 dan Kajian BME Sosek, PPK-LIPI, 2007 Alat tangkap yang banyak dimiliki oleh rumah tangga di Desa Jago-Jago adalah jaring dan pancing. Jumlah jaring yang ada sebanyak 7 unit yang dimiliki oleh emapt orang. Sebanyak empat orang memiliki masing-masing satu jaring, sedangkan tiga orang lainnnya maing-masing memiliki dua, tiga, dan empat unit jaring. Jenis jaring tersebut pada umumnya adalah jaring untuk penangkap udang, kepiting dan ikan besar.
Jumlah pancing tercatat sebanyak tujuh puluh satu unit yang dimiliki oleh tujuh orang ART. Jenis pancing yang mereka miliki adalah pancing rawai. Jumlah pancing yang dimiliki cukup bervariasi antara 2 – 20 pancing, Dari 71 pancing tersebut, masing-masing orang memiliki dua orang memiliki pancing sebanyak 10 unit, dua orang lagi memiliki masing-masing 19 dan 20 unit pancing. Tiga orang lainnya masing-masing memiliki dua dan lima unit pancing.
Bagan merupakan alat tangkap yang mempunyai nilai ekonomis tinggi. Biaya pembuatan satu bagan dapat mencapai sekitar Rp. 10.000.000. Di Desa JagoJago terdapat dua orang mempunyai bagan, seorang memiliki dua bagan dan seorang lainnya hanya memiliki satu bagan.
- Kondisi permukiman dan sanitasi lingkungan
Rumah-rumah penduduk cenderung mengelompok di tiga dusun. Di dusun I, sebagian rumah penduduk berada di bantaran sungai sampai pantai Teluk Sibolga. Rumah-rumah tersebut cenderung terendam air ketika air laut pasang. Jika air surut, sebagian air masih menggenang. Kondisi ini memudahkan berkembang biaknya nyamuk di lingkungan pemukiman penduduk.
Bangunan rumah yang ada di Desa Jago-jago sebagian adalah rumah permanent yang berdinding tembok. Adapun lantainya cukup beragam sebagian besar adalah tegel atau semen, sedankan sebagian kecil sudah dikeramik. Lokasi desa yang cukup sulit karena dikelilingi oleh sungai dan teluk, menyebabkan harga-harga bangunan cukup mahal. Oleh karenanya, hanya orang-orang kaya saja yang mempunyai rumah permanen, berdinding tembok dan berlantai keramik atau tegel. Sebagian masyarakat mempunyai rumah yang semi permanen yaitu berdinding papan atau gedhek tetapi pondasinya dari karang mati. Menurut infomasi dari tokoh masyarakat setempat, pengambilan karang mati untuk pondasi bangunan terpaksa dilakukan oleh sementara penduduk karena susahnya mendapatkan batu untuk pondasi. Jika mereka harus membeli batu, biaya transportasinya cukup mahal.
Beberapa rumah, terutama yang berada di dekat bantaran sungai atau teluk adalah rumah panggung. Rumah-rumah tersebut beratap seng dan berdinding papan. Rumah-rumah tersebut berdiri di atas air, bila air pasang tingginya mencapai sekitar satu meter. Oleh sebagian penduduk, bagian belakang rumah panggung tersebut digunakan sebagai WC karena kotoran akan langsung hanyut terbawa air. Bila waktu surut, pemandangannya sungguh tidak enak, karena selain
kelihatan kotoran-kotoran di bawah rumah panggung, juga munculnya bau yang cukup menyengat.
Sebagian penduduk memperoleh air bersih dari mata air yang disalurkan memalui pipa yang merupakan bantuan dari pemerintah daerah melalui Program Pengembangan Kecamatan (PPK). Air tersebut ditampung ke dalam bak-bak penampung air sebelum disalurkan ke rumah-rumah penduduk. Jika musim hujan, bak ini penuh dengan air, namun ketika musim kemarau aliran air sangat kecil sehingga distribusi air menjadi tersendat.
Sebagian besar masyarakat belum memiliki fasilitas MCK. Jika air bersih didapatkan dari bak penampung air yang disalurka ke rumah-rumah penduduk, maka untuk keperluan kakus mereka menggunakan sungai/pantai. Hanya beberapa rumah yang memiliki fasilitas WC baik yang mempunyai septi tank maupun WC cemplung.
Sungai atau laut tidak hanya digunakan sebagai tempat pembuangan limbah manusia, tetapi juga dimanfaat oleh sebagian besar penduduk sebagai tempat pembuangan sampah. Jenis sampah yang paling banyak dibuang di pinggiran sungai adalah sampah daun nipah.
Foto 2.6. Bak Penampung Air