COREMAP DAN IMPLEMENTASINYA
3.1. Pelaksanaan COREMAP Fase II: Permasalahan dan Kendala
3.1.2. Pelaksanaan dan permasalahan COREMAP di tingkat desa
Dalam mengkaji pelaksanaan COREMAP di tingkat desa, tulisan berfokus pada desa kajian yakni Desa Jago-Jago. Pengelolaan COREMAP fase II tingkat desa juga melibatkan berbagai
stakeholders, baik dari di tingkat desa maupun tingkat kabupaten.
Para stakeholders tersebut adalah anggota LPSTK, masyarakat, LSM, dan staf DKP Kabupaten Tapanuli Tengah. Para stakeholders ini yang terlibat dalam pembentukan kelompok (Pokmas), merencanakan program, dan melaksanakan program yang telah disetujui bersama. Kegiatan COREMAP di Desa Jago-Jago diawali dengan pembentuk LPSTK (Lembaga Pengelola Sumber Daya Terumbu Karang) yang anggotanya dipilih dari masyarakat desa tersebut. Pemilihan anggota melalui pertemuan anggota masyarakat secara terbuka, dan ketua terpilih salah seorang staf desa, sementara anggota pengurus LPSTK dari berbagai unsur masyarakat desa itu. Dilihat dari sisi jenis pekerjaan pengurus ada pedagang, nelayan, pengumpul ikan, pemilik warung makanan, dan lainnya. Dilihat dari SDM pengurus COREMAP di Desa Jago-Jago kurang memadai. Misalnya ketua LPSTK bukan dari kalangan nelayan sehingga kurang memahami permasalahan nelayan. Orang ini dipilih lebih mengacu kepada statusnya, yakni sebagai perangkat desa.
Pada saat ini LPSTK Desa Jago-Jago telah mendirikan tiga kelompok kerja, yaitu: (1) Pokmas Konservasi; (2) Pokmas Perempuan atau Jender; (3) Pokmas Ekonomi Produktif (MPA) yang dibentuk pada tahun kedua dari kegiatan Coremap fase II, yakni setelah dilakukan kajian Sosial-ekonomi oleh LIPI. Setiap Pokmas beranggotakan rata-rata 15 orang atas kompromi bersama antara masyarakat yang berminat terhadap program ini dengan LPSTK. Berdasarkan informasi yang diperoleh, pada awalnya masyarakat Desa Jago-Jago banyak yang tidak berminat bergabung dalam Pokmas, namun setelah terbentuk dan ada yang menerima dana untuk kegiatan ekonomi muncul masyarakat yang menyatakan berminat untuk bergabung. Setelah Pokmas terbentuk, kemudian disusun struktur keanggotaan Pokmas yang terdiri dari ketua, bendahara dan anggota. Kegiatan
Pokmas adalah menyusun proposal untuk perencanaan program yang akan dilaksanakan dengan dibantu oleh pendamping dan LSM.
Pembentukan LPSTK dan Pokmas tampaknya kurang disertai sosialisasi yang benar mengenai keberadaan COREMAP di desa ini. Ini terlihat dari pengetahuan pengurus LPSTK yang kurang memahami keberadaan COREMAP dan di antara mereka ada yang tidak berfungsi sesuai dengan kedudukannya. Pernyataan ini terutama dikemukakan dari mereka yang jarang diikutsertakan dalam kegiatan program, sehingga merasa hanya nama saja tercantum sebagai pengurus di kelompok tersebut. Situasi ini tentu memengaruhi kinerja kelompok, bahkan ada yang ingin tidak terlibat lagi dengan kegiatan COREMAP. Pengurus desa biasanya berkumpul ketika pengurus dari kabupaten datang dalam rangka penyampaian program yang akan dilaksanakan atau pelatihan yang berkaitan dengan program tersebut. Itu pun terkadang terbatas hanya pada anggota Pokmas yang terlibat. Misalnya ketika ada pelatihan pengeloahan makanan dari bahan dasar ikan seperti bakso dan kerupuk, maka yang berkumpul selain pimpinan juga anggota Pokmas perempuan. Bahkan akhir-akhir ini antara pengurus LPSTK semakin jarang mengadakan pertemuan. Apabila ada program akan dilaksanakan pun tidak semua pengurus bertemu dengan staf COREMAP tingkat kabupaten.
Pada saat ini penerima “bantuan” atau pelaksana program masih terbatas, yang artinya tidak semua anggota akan terlibat program. Menurut pengurus LPSTK yang dipilih untuk melaksanakan program tahap awal, khususnya MPA, adalah mereka yang dianggap mau dan bisa melaksanakannya. Namun keputusan ini menimbulkan permasalahan di masyarakat, khususnya di dalam anggota kelompok Pokmas. Ada yang beranggapan, bahwa mereka yang terlibat dalam beberapa program yang dilaksanakan di Desa Jago-Jago adalah orang yang sama atau dari anggota keluarga yang “itu-itu saja”. Misalnya kegiatan MPA budidaya ikan lele diikuti oleh kepala keluarga, sementara MPA ternak itik petelur dilaksanakan istri atau anak perempuannya anggota Pokmas perempuan. Situasi ini menimbulkan kecemburuan sosial di kalangan masyarakat karena mereka ada juga yang menginginkannya. Dampak dari rasa ketidakadilan ini
munculnya rasa antipati dan tidak ingin mendukung kegiatan COREMAP. Hal ini tentu merupakan kendala lain untuk keberlanjutan program COREMAP ke depan untuk desa ini. Dalam hal ini, pengurus daerah (PIU) mengemukakan bahwa permasalahan ini akan diatasi dengan membentuk kelompok-kelompok baru, namun jika kegiatan yang telah dilaksanakan oleh pokmas menunjukkan keberhasilan.
Kegiatan sosialisasi COREMAP di Desa Jago-Jago dimulai tahun 2004 berdasarkan panduan LIPI. Kemudian, tahun 2005 dilakukan penjelasan tentang program-program Coremap dan tahun 2006 program mulai diwujudkan dengan didampingi oleh pihak ketiga. Tahun 2007 direncanakan untuk memberikan pembelajaran tentang management keuangan dan proses pengelolaan dana akan dilakukan oleh LPSTK. Sosialisasi keberadaan COREMAP di Desa Jago-Jago diawali dengan pemasangan billboard yang diletakkan pada jalan masuk desa atau pangkalan sampan.
Pada umumnya kegiatan COREMAP sudah diketahui masyarakat, namun dampaknya belum dapat dirasakan sepenuhnya oleh mereka. Permasalahannya karena implementasi kepada masyarakat belum menyeluruh karena adanya kendala dalam pencairan dana dan koordinasi antara pengurus tingkat desa hingga kabupaten. Menurut pengurus, dana sering turun terlambat sehingga pelaksanaan program menjadi terlambat. Sementar dari sisi masyarakat muncul anggapan, bahwa dana yang turun kurang menyentuh masyarakat dan lebih banyak digunakan untuk pertemuan yang tidak melibatkan mereka. Misalnya pertemuan-pertemuan di tingkat “atas” atau pelatihan untuk “kelompok terbatas”di luar desa. Situasi ini menimbulkan konflik terselubung di dalam pengurus maupun masyarakat. Anggota pengurus yang merasa tidak pernah dilibatkan pada pelaksanaan program COREMAP bahkan ada yang keluar dari kepengurusan. Tidak adanya keterbukaan ini mengakibatkan masyarakat mulai tidak simpati dengan kegiatan COREMAP, dan kondisi ini tentu akan menjadi kendala bagi keberlanjutan program ke depan. Mereka berharap adanya keterbukaan tentang keberadaan program
COREMAP kepada masyarakat maupun pengurus, baik terkait dengan dana maupun program yang akan dilaksanakan.
Pelatihan yang diadakan hanya melibatkan mereka yang menerima bantuan program COREMAP yang akan dilaksanakan di desa ini. Pada umumnya pelatihan dilaksanakan di luar Kota Sibolga, yakni Kota Medan. Misalnya pelatihan untuk kegiatan program pengembangan ikan lele dan itik petelor dilaksanakan di balai pengembangan peternakan di Medan. Mereka yang dikirim untuk mengikuti pelatihan tersebut sangat terbatas, yakni pelatihan ikan lele empat orang dan itik hanya dua orang. Diharapkan peserta pelatihan dapat menularkan pengetahuan yang didapat kepada anggota Pokmas lainnya. Sementara itu, pelatihan seperti pengolahan makanan dengan menggunakan bahan dasar ikan seperti bakso dan tepung ikan dilaksanakan di Desa Jago-Jago sehingga semua anggota Pokmas jender dapat berpartisipasi. Bahan dan peralatan untuk pelatihan dibawa oleh pelatih dari DKP Kabupaten Tapanuli Tengah. Setelah pelatihan selesai, semua alat-alat diserahkan kepada pengurus Pokmas. Namun sampai saat ini belum pernah dimanfaatkan oleh anggota dengan alasan tidak ada modal untuk menindaklanjuti hasil pelatihan. Dampak dari kegiatan tersebut hanya melekat pada saat pelatihan yang membuat peserta senang, namun untuk keberlanjutannya belum terlihat. Selain tidak ada dana, bahan dasar selain ikan yang diperlukan untuk membuat bakso dan tepung ikan pun masih sulit didapat.
Pelaksanaan mata pencaharian alternatif (MPA) adalah kegiatan pengembangan itik petelor, budidaya kepiting bakau, budidaya ikan lele, dan pembesaran kambing. Pembentukan kelompok berdasarkan pertemuan antara masyarakat dengan LPSTK, sedangkan penentuan kegiatan berdasarkan kajian dari pendamping kegiatan dari Universitas Nomensen, Medan. Kemudian, seharusnya hasil dari kajian maka anggota kelompok membuat proposal dengan didampingi oleh LSM terpilih. Untuk keberlanjutan program, LSM dan LPSTK seharusnya menyusun atau mengatur cara menggulirkan hasil dari program ke masyarakat yang belum menerima, kemudian DKP akan melanjutkan bila program tersebut dianggap berhasil. Namun
AD/ART mengenai cara pengguliran ini belum ada, sehingga sampai saat ini belum jelas alur dari pengguliran program. Penyaluran dana untuk pelaksanaan kegiatan adalah melalui pendamping lapangan atau pihak ketiga yang besarnya tergantung dari program yang akan dilaksanakan. Total biaya maksimum 90 juta rupiah untuk semua tahap pelaksanaan program, dan tidak hanya untuk pembelian bahan yang akan diberikan ke masyarakat. Pelaksana kegiatan, yakni masyarakat terpilih, dalam pelaksanaan kegiatan akan didampingi LSM.
Masyarakat yang terpilih untuk melaksanakan kegiatan ternak itik petelor adalah dari Pokmas jender sebanyak lima KK dan kelompok pembesaran kambing 12 KK dari Pokmas produksi. Pada saat kajian ini dilakukan, pemberian itik dan kambing sudah berjalan sekitar lima bulan namun belum ada hasilnya. Bahkan kambing yang diberikan sudah lima ekor yang mati. Permasalahannya karena pada saat kambing tersebut diberikan masih teramat kecil, yakni usia 3 bulan, sehingga akan lama besarnya. Menurut salah seorang staf DKP, kambing yang diberikan sengaja kecil agar waktu belajar untuk pemeliharaan dengan pemberian pakan yang berasal dari desa tersebut bisa lebih lama. Sementara itu, itik yang diberikan tampaknya kurang dipilih secara baik sehingga waktu yang dibutuhkan dalam pemeliharaan dengan pemberian pakan bahan lokal (talas) cukup lama. Menurut mahasiswa yang bertugas memberi pelatihan kepada masyarakat dalam pemberian pakan itik-itik tersebut seharusnya sudah bertelur. Waktu yang cukup lama dalam pemeliharaan kedua binatang ini membuat mereka yang menerima itik menjadi bosan dan capek mengikuti prosedur pemeliharan. Bahkan ada yang beranggapan lebih baik tidak menerima bantuan karena membuang waktu saja.
Budidaya kepiting bakau dilaksanakan oleh Pokmas Produksi. Pertama kali diberikan kepada 10 KK yang ditanam di daerah sekitar bekas pos jaga namun tidak berhasil karena lokasi itu tidak cocok. Kemudian lokasi penanaman kepiting dipindah pada tempat yang tidak terlalu ramai dan dibuat agar kepiting bisa tenang disana. Pemeliharaannya diserahkan kepada seorang anggota Pokmas
Produksi yang dianggap sanggup baik dari segi dana maupun waktu. Pada saat kunjungan evaluasi dilakukan belum menunjukkan hasil. Kegiatan yang masih baru adalah budidaya ikan lele yang pemeliharaannya diserahkan pada LPSTK. Anggota LPSTK yang terlibat kegiatan ini ada empat orang dan diharapkan bila berhasil dapat ditularkan ke masyarakat. Hasil dari lele ini dapat digunakan untuk mengisi kas kelompok yang digunakan untuk keperluan pelaksanaan COREMAP ke depan.
Untuk kegiatan konservasi, prasarana yang tersedia adalah pondok informasi, kapal, alat selam, dan snorkeling. Kondisi kapal pengawas tidak memadai karena kapasitas mesin kapalnya 15 PK, padahal kapal yang akan dihalau umumnya berkapasitas mesin jauh lebih tinggi. Kapal pengawas di Desa Jago-Jago yang diberi COREMAP masih ada, namun karena kondisinya kurang memadai dan mulai bocor maka hanya tertambat saja di tepi pantai dekat pondok informasi. Kapal tersebut lebih sering digunakan pada jarak dekat untuk mengangkut penduduk atau hasil bumi yang akan dibawa ke pasar. Bahkan bila ada peyugas yang akan keliling pulau atau ke Desa Sitardas akan menyewa kapal lain. Kondisi kapal ini juga sama di Desa Sitardas sehingga hanya ditambatkan saja, karena mereka biaya operasional tidak mencukupi. Permasalahan kapal ini merupakan kendala bagi LPSTK atau Pokmaswas dalam mengawasi kawasan laut Desa Jago-Jago dari para perusak terumbu karang atau pengambil SDL yang dilestarikan.
Pondok informasi terletak di pinggir pantai di wilayah Dusun I. Sayangnya pondok tersebut kurang dimanfaatkan untuk kegiatan COREMAP dan belum ada tanda-tanda sebagai penyebaran informasi yang berkaitan dengan program COREMAP. Bahkan tangki air untuk keperluan pondok baru sebulan dipasang telah hilang. Kadang-kadang pondok informasi ini digunakan penduduk untuk berkumpul sebagai tempat pertemuan, karena desa belum memiliki gedung pertemuan. Misalnya ketika ada pertemuan anggota HNSI (Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia) dalam rangka pembentukan kelompok tersebut di Desa Jago-Jago mereka menggunakan pondok ini dengan alasan daripada tidak digunakan. Permasalahan ini sangat terkait dengan
dana operasional pemeliharaan yang dikatakan “tidak mencukupi”. Misalnya, pada tahun 2006 dana operasional keseluruhan prasarana yang dibangun Coremap sebesar 2 juta rupiah. Permasalahan lain, ketua kelompok bukan dari kalangan nelayan sehingga tampaknya kurang cekatan dalam melaksanakan tugas sebagai ketua Pokmas pengawas.
Gambaran dari pelaksanaan COREMAP di Desa Jago-Jago, permasalahan yang muncul umumnya berkaitan dengan ketidakjelasan pengurus LPSTK atau pimpinan COREMAP dalam mengkomunikasikan program atau kegiatan COREMAP yang dilaksanakan di desa ini. Sementara itu, hubungan antara anggota LPSTK pun kurang harmonis karena semua kegiatan hanya didominasi beberapa orang atau tidak melibatkan semua anggota. Kondisi ini juga terjadi dalam lingkungan Pokmas. Dampak dari situasi ini menimbulkan kecurigaan dan kecemburuan antar anggota, sehingga kemungkinan dapat menimbulkan konflik internal. Konflik ini mulai terlihat dengan adanya beberapa anggota LPSTK yang keluar atau pasif terhadap pelaksanaan kegiatan COREMAP. Apabila tidak cepat ditengarai akan berpengaruh terhadap masyarakat, yakni berkurangnya tingkat partisipasi mereka dalam kegiatan COREMAP.
3.2. Pengetahuan dan Partisipasi Masyarakat Terhadap