PENDAPATAN PENDUDUK DAN PERUBAHANNYA (T0 dan T1)
4.1. Pendapatan Penduduk (T0 dan T1)
PENDAPATAN PENDUDUK DAN
PERUBAHANNYA (T0 dan T1)
4.1. Pendapatan Penduduk (T0 dan T1)
esarnya pendapatan rumah tangga cukup bervariasi tergantung dari sumber pendapatan masing-masing rumah tangga tersebut. Dalam kajian ini, cara penghitungan pendapatan rumah tangga didasarkan pada lapangan pekerjaan yang menjadi sumber pendapatan bagi masing-masing rumah tangga tersebut (Daliyo dan Ngadi, 2007).
Pada umumnya, pembagian pendapatan nelayan yang diperoleh melalui bekerja dengan atau pada orang lain menggunkan system bagi hasil. Penghitungan dilakukan dengan menjumlahkan semua hasil penjualan ikan kemudian dibagi sesuai dengan proporsi masing-masing. Dari hasil penjualan tersebut kemudian dikurangi biaya produksi seperti sewa perahu motor, pembelian minyak, spiritus, alat-alat lampu, kaca dan kaos lampu. Sisanya, dibagi sama rata untuk nelayan taoke dan pekerja.
Berbeda halnya dengan nelayan yang bekerja sendiri. Hasil yang diperoleh selama melaut dikalikan dengan frekuensi melaut dalam satu bulan. Pendapatan bersih yang diterimanya adalah pendapatan yang diperoleh dikurangi dengan ongkos produksinya. Mengingat
B
bahwa penghasilan nelayan tidak menentu tergantung pada musim, maka informasi pendapatan nelayan juga dirinci berdasarkan masing-masing musim.
Penghasilan yang diperoleh dari pekerjaan sebagai buruh pengupas nipah dihitung dihitung sesuai dengan jumlah ikatan daun nipah yang telah dikupas. Pada umumnya, seorang buruh kupas nipah dapat mengerjakan sebanyak 15-20 ikat dalam satu minggu. Penghasilan mereka dalam satu bulan adalah perkalian dari jumlah ikat yang telah dikerjakan dan dikalikan dengan upah per ikat yang diterimanya. Sedangkan upah yang diterima oleh buruh pemotong nipah dihitung berdasarkan jumlah batang nipah yang telah berhasil dipotong. Dalam satu hari biasanya seorang pemotong nipah hanya dapat memotong sekitar 2 - 5 batang. Ongkos pemotongan nipah sekitar Rp. 20.000 per batang. Oleh karena pekerjaan ini tidak rutin dalam satu bulan, maka penghitungan pendapatan (per bulan) berdasarkan jumlah batang yang telah dipotong dalam satu minggu kemudian dikalikan empat. Sementara pendapatan yang diperoleh dari seorang tukang pembuat kapal kayu dihitung dengan sistem harian. Para tukang tersebut bekerja sehari penuh dari pagi hari sekitar jam 8.00 sampai sore hari (jam 16.00). Upah yang diterima oleh seorang tukang kayu sekitar Rp. 40.000. Dengan demikian, dalam satu bulan apabila mereka bekerja penuh maka penghasilannya mencapai Rp. 1.200.000.
Hasil survai 100 rumah tangga di Desa Jago-Jago menunjukkan bahwa rata-rata pendapatan rumah tangga terpilih di Desa Jago-Jago sekitar Rp. 901.900. Jumlah ini nampaknya relatif besar, namun jika dilihat dari pendapatan minimum dan maksimum nampak sekali kesejangan yang cukup menyolok. Pendapatan penduduk dari rumah tangga terpilih yang tertinggi mencapai Rp. 6.000.000 per bulan, sedangkan pendapatan yang terendah hanya Rp. 45.000. Besarnya kesenjangan ini kemungkinan besar dikarenakan jenis pekerjaan yang dilakukan oleh anggota rumah tangga yang bersangkutan. Data yang ada menunjukkan bahwa pendapatan sekitar Rp. 6.000.000 per bulan adalah dari rumah tangga yang mempunyai sumber pendapatan sebagai nelayan teripang.
Jika dibandingkan dengan pendapatan yang diperoleh pada tahun 2005, terjadi penurunan yang cukup berarti. Pada tahun 2005, rata-rata pendapatan rumah tangga per bulan mencapai sekitar Rp. 1.167.800 (Daliyo dan Ngadi, 2007), berarti terjadi penurunan sekitar Rp. 260.000. Pendapatan tertinggi yang diperoleh penduduk pada tahun 2005 mencapai lebih dari Rp. 9.000.000 per bulan, sedangkan pendapatan terendah sekitar Rp. 116.667. Jika dilihat dari pendapatan per kapita, Tabel 4.1 menunjukkan bahwa pendapatan per kapita penduduk Desa Jago-Jago pada tahun 2007 cenderung sangat kecil, sekitar Rp 186.800. Jumlah ini menurun jika dibandingkan pendapatan pada tahun 2005, yaitu sekitar Rp. 238.600. Jika mengacu kepada BPS tentang angka kemiskinan, terlihat jelas bahwa penduduk Desa Jago-Jago terutama dari rumah tangga terpilih termasuk dalam kategori miskin karena angka kemiskinan untuk daerah Provinsi Sumatera Utara berdasarkan pada pada harga yang berlaku adalah Rp. 660.000 per kapita (BPS Tapanuli Tengah, 2004).
Tabel 4.1.
Statistik pendapatan rumah tangga Desa Jago-Jago Tahun 2005 dan 2007
Jumlah Pendapatan
Tahun 2005 Tahun 2007
Per Kapita 238.617 186.872
Rata-rata rumah tangga 1.167.860 951.020 Median rumah tangga 900.000 675.000 Minimum rumah tangga 116.667 45.000 Maksimum rumah tangga 9.160.000 6.000.000 Sumber: Daliyo dan Ngadi, 2007 dan Data primer, Survai BME Sosek,
PPK-LIPI, 2007.
Berdasarkan pada pengelompokkan pendapatan rumah tangga responden (Tabel 4.2), sebagian besar (75 persen) rumah tangga terpilih mempunyai pendapatan di bawah Rp. 1.000.000, dan 35 persen di antaranya mempunyai rata-rata pendapatan di bawah Rp. 500.000. Kondisi ini menggambarkan bahwa rumah tangga di Desa Jago-Jago termasuk dalam kategori rumah tangga miskin. Kondisi ini
juga terindikasi dari jumlah penduduk yang menerima bantuan tunai langsung (BLT). Di Desa Jago-Jago terdapat 160 KK (40 persen) penerima BLT dari sekitar 360 rumah tangga yang ada.
Jika dibandingkan dengan kondisi pada tahun 2005, proporsi rumah tangga yang mempunyai rata-rata pendapatan di bawah Rp. 500.000, meningkat cukup tajam, lebih dari dua kali lipat (16 persen dan 35 persen). Menurunnya penghasilan rumah tangga bepengaruh terhadap penyebaran jumlah rumah tangga yang berpenghasilan rendah. Menurut informasi yang diperoleh, penurunan pendapatan dialami oleh banyak rumah tangga dari berbagai sumber pendapatan. Dari rumah tangga yang sumber pendapatannya dari perikanan misalnya, penurunan cenderung disebabkan oleh kurangnya hasil tangkapan para nelayan. Selain itu, penurunan pendapatan ini kemungkinan besar terjadi karena banyak nelayan yang tidak melaut karena pada saat itu sedang musim gelombang kuat (Bulan Mei). Dengan demikian, pendapatan masyarakat, khususnya nelayan, cenderung menurun. Penurunan pendapatan ini tidak hanya dirasakan oleh rumah tangga nelayan saja, tetapi juga rumah tangga yang sumber pendapatannya dai perdagangan. Sementara dari rumah tangga yang sumber pendapatannya dari perdagangan, penurunan lebih disebabkan oleh menurunnya daya beli masyarakat dan melonjaknya jumlah para pedagang di desa Jago-Jago. Berikut adalah penuturan Pak Chan (seorang pemilik warung sembako) tentang rata-rata pendapatan rumah tangganya per bulan dibandingkan tahun 2005.
…dibandingkan dengan dua tahun lalu, pendapatan kami dari usaha berdagang menurun. Hal ini terutama karena jumlah pembeli menurun,dan jumlah warung meningkat. Kalau dulu hanya sekitar 6 orang yang membuka warung, sekarang jumlah warung ada 11 (dua kali lipat). Selain itu, turunnya pendapatan saya karena pendapatan para nelayan juga turun. Sama-samalah...
Turunnya pendapatan rumah tangga jka dibandingkan dengan kondisi tahun 2005 dirasakan oleh sebagian besar masyarakat sangat menyulitkan. Hal ini dikarenakan harga-harga barang-barang sudah
naik dengan tajam. Sebagai contoh, pada tahun 2007 harga bensin sudah mencapai Rp. 5.500 dan minyak tanah Rp. 2.500 sebelumnya hanya Rp. 1500. Jika dua tahun yang lalu, biaya melaut hanya sekitar Rp. 700.000, tahun ini biaya tersebut membengkak sampai sekitar Rp. 1.000.000. Demikian halnya dengan kebutuhan sehari-hari, harga bahan kebutuhan pokok juga sudah melonjak. Harga telor misalnya, jika dua tahun sbelumnya hanya Rp. 600 per buttir, tahun ini mencapai Rp. 800 per butir. Sementara harga beras mencapai Rp. 9000 per kilogramnya. Selain bahan kebutuhan pokok, ongkos tranportasi juga naik. Pada tahun 2005, ongkos becak motor ke Simpang hanya Rp, 2000 per orang, ongkos tersebut menjadi Rp. 3000 untuk tahun 2007.
Dari Tabel 4.2 juga terungkap bahwa proporsi rumah tangga yang memiliki pendapatan di atas Rp. 1.000.000 semakin kecil. Dibandingkan dengan tahun 2005, proporsinya menunjukkan kecenderungan turun. Penurunan yang sangat tajam terjadi pada kelompok pendapatan antara Rp. 1.000.000 – Rp. 1.500.000. Pada kelompok pendapatan tersebut proporsinya berkurang hampir separoh. Kondisi yang berbeda pada rumah tangga yang mempunyai pendapatan antara Rp. 2.000.000 – Rp. 2.999.999, penurunan proporsi relatif kecil. Sementara pada kelompok pendapatan tinggi (di atas Rp. 3.000.000) proporsinya tetap sama dengan kondisi tahun 2005. Mereka yang termasuk dalam kelompok ini adalah rumah tangga dengan sumber pendapatan dari penjualan teripang. Nampaknya
Tabel 4.2.
Distribusi Rumah Tangga Menurut Kelompok Pendapatan Desa Jago-Jago, tahun 2005 dan 2007 Kelompok Pendapatan Jumlah
Tahun 2005 Tahun 2007 < 500.000 16 35 500.000 - 999.000 46 40 1.000.000 – 1.499.999 21 12 1.500.000 – 1.999.999 7 6 2.000.000 – 2.499.999 3 1 2.500.000 – 2.999.999 2 1 3.000.000 – 3.499.999 1 1 >/ 3.500.000 4 4
Sumber: Daliyo dan Ngadi, 2007 dan Data primer, Survai BME Sosek, PPK-LIPI, 2007.
Pendapatan menurut Lapangan Pekerjaan
Pendapatan penduduk dari rumah tangga terpilih di Desa Jago-Jago cukup variatif jika dilihat dari lapangan pekerjaan. Hasil survai dari 100 rumah tangga tersebut menunjukkan bahwa sumber pendapatan rumah tangga berasal dari berbagai lapangan pekerjaan, yaitu perikanan, pertanian, perdagangan, jasa, industri pengolahan dan lainnya. Dari berbagai lapangan pekerjaan tersebut, perikanan merupakan sumber pendapatan bagi 36,6 persen rumah tangga. Urutan kedua adalah sumber pendapatan yang berasal dari pekerjaan di bidang industri pengolahan 14, 9 persen. Selanjutnya, sumber pendapatan dari lapangan pekerjaan di sektor jasa 18.6 persen, pertanian 13,7 persen, dan perdagangan 11,8 persen. Hanya sebagian kecil rumah tangga yang mempunyai pendapatan dari sumber lain (1,9 persen), misalnya dari kiriman anak atau saudara.
Pada tahun 2007, rata-rata pendapatan rumah tangga terpilih di Desa Jago-Jago sekitar Rp. 901.900. Berdasarkan hasil tabulasi silang menurut rata-rata pendapatan dan lapangan pekerjaan (Tabel 4.3), sektor perikanan merupakan sumber pendapatan terbesar
dibandingkan dengan pendapatan yang diperoleh dari sektor-sektor lainnya. Di sektor perikanan (tangkap dan budidaya), rata-rata pendapatan rumah tangga mencapai sekitar Rp. 1.256.700. Sebetulnya, tingginya rata-rata pendapatan rumah tangga dari sektor perikanan ini karena beberapa rumah tangga mempunyai anggota rumah tangga yang bekerja sebagai nelayan tangkap yang mencari penghasilan dari penangkapan ikan maupun teripang yang mempunyai nilai ekonomis tinggi. Seperti yang dituturkan oleh Pak Ag, seorang nelayan dan pedagang teripang. Dalam mencari teripang Pak Ag bekerja secara kelompok (3 orang). Dalam satu bulan hanya bekerja selama tiga minggu dengan perolehan per minggu sekitar Rp. 3.000.000 yang dibagi lima (3 orang teman dan 2 bagian untuk pemilik kapal). Jadi dalam satu bulan Pak Ag, mendapatkan penghasilan sekitar Rp. 1.900.000.
Pendapatan dari sektor ini jauh lebih besar dibandingkan dari pendapatan yang diperoleh dari pertanian, terutama pertanian tanaman pangan. Rata-rata pendapatan rumah tangga yang diperoleh dari pertanian tanaman pangan hanya sekitar Rp. 565.000. Rumah tangga yang mempunyai pendapatan dari pertanian ini biasanya merupakan petani tanaman keras (karet) dan sebagian petani tanaman pangan yang mengerjakan lahan yang mereka buka dengan menanam cabe, mentimun, dll. Pada saat penelitian ini berlangsung (bulan Mei) lahan untuk pertanian baru beberapa bulan dibuka sehingga penghasilan yang diperoleh belum maksimal. Meskipun demikian, usaha di bidang pertanian tanaman pangan merupakan usaha yang banyak dilakukan oleh rumah tangga di desa penelitian, terutama rumah tangga nelayan ketika pekerjaan kenelayanan tidak memberikan penghasilan seperti yang mereka harapkan.
Tabel 4.3.
Distribusi Pendapatan Rumah Tangga Menurut Lapangan Pekerjaan, Desa Jago-Jago, tahun 2005
dan 2007 Tahun 2005 Tahun 2007 Lapangan Pekerjaan KRT Rata-rata (Rp.) Minimum (Rp.) Maksimum (Rp.) Rata-rata (Rp.) Minimu m (Rp.) Maksimu m (Rp.) Perikanan 1.426.073 325.000 9.160.000 1.256.752 115.000 6.000.000 Pertanian 965.142 468.500 1.800.000 565.032 45.000 1.500.000 Perdagangan dan industri RT 1.049.073 116.666 3.700.000 791.750 50.000 2.591.666 Jasa 717.222 641.666 825.000 618.303 70.000 1.350.000 Lainnya 729.055 350.000 908.000 260.000 260.000 260.000
Sumber: Data primer, Survai Data Dasar Aspek Sosial Terumbu Karang, PPK-LIPI, 2007
Tabel 4.3 juga mengungkapkan bahwa pendapatan yang diperoleh dari sektor perdagangan dan industri rumah tangga relatif tinggi, sekitar Rp. 791.700 per bulan. Mereka yang termasuk dalam kelompok ini adalah para pedagang dan mereka yang bekerja di industri pengolahan daun nipah. Upah yang diterima oleh seorang pekerja mengambil daun nipah dengan membuang lidinya sekitar Rp. 2000 untuk 100 batang (1 ikat). Rata-rata dalam sehari seorang perempuan dapat mengambil lembaran pucuk daun nipah sekitar 100-150 batang, sehingga upah yang diterima oleh seorang pekerja dalam sehari rata-rata sekitar Rp. 3000. Karena pekerjaan ini tidak dilakukan setiap hari, dalam sebulan seorang pekerja memperoleh penghasilan sekitar Rp. 300.000.
Sementara rumah tangga yang mempunyai sumber pendapatan dari sektor jasa mempunyai rata-rata pendapatan sekitar Rp. 618.000. Padahal, yang termasuk dalam kelompok ini antara lain adalah guru dan staf desa. Penghasilan yang mereka peroleh relatif minim, hampir separuh dari rata-rata pendapatan rumah tangga yang diperoleh dari sektor perikanan. Cukup tingginya pendapatan dari sektor perikanan menunjukkan bahwa sektor perikanan cenderung lebih menjanjikan daripada sektor lain.
Seperti yang telah diuraikan pada bab sebelumnya bahwa dilihat dari jenis pekerjaan responden, dalam kurun waktu dua tahun terjadi perubahan proporsi penduduk yang melakukan jenis pekerjaan tertentu. Perubahan yang cukup signifikan terlihat pada proporsi penduduk yang bekerja di pertanian tanaman pangan dan jasa. Jika pada tahun 2005, penduduk yang bekerja di bidang pertanian pangan hanya sekitar tiga persen, jumlah tersebut melonjak pada tahun 2007 hingga mencapai 13 persen. Menurut informasi yang diperoleh di lapangan, adanya pembukaan lahan di daerah perbukitan telah memberikan peluang bagi penduduk setempat untuk bekerja di sektor pertanian, khususnya tanaman pangan. Sebagian lahan yang dibuka sebenarnya bukan milik warga Desa Jago-Jago, namun pemilik lahan memberikan kepada penduduk Desa Jago-Jago untuk mengolahnya dengan sistem bagi hasil. Lahan tersebut pada umumnya ditanami sayur-sayuran seperti mentimun, kacang panjang dan cabe. Perubahan jenis pekerjaan tersebut salah satunya disebabkan oleh menurunnya penghasilan yang diperoleh dari jenis pekerjaan yang dilakukannya. Sementara perubahan pada bidang jasa, kemungkinan karena adanya kenaikan jumlah ART yang bekerja sebagai penyedia jasa angkutan (penyeberangan sungai maupun pengemudi becak motor). Pekerjaan penyeberangan sungai cukup diminati karena memberikan penghasilan yang lumayan. Dengan ongkos penyeberangan antara Rp. 500-1000 per orang sekali jalan, seorang penyedia jasa penyeberangan sungai memperoleh penghasilan sekitar Rp.20.000-25.000 per hari. Namun demikian, jika dibandingkan dengan tahun 2005, penghasilan yang diterima dari pekerjaan ini relatif turun karena semakin banyaknya orang yang bekerja sebagai penyedia jasa transportasi tersebut. Dengan semakin banyaknya jumlah mereka yang bekerja di bidang jasa penyeberangan maupun angkutan becak dirasakan sangat berpengaruh terhadap penghasilan rumah tangga mereka.
Sementara ART yang bekerja di bidang perdagangan mengeluhkan bahwa menurunnya penghasilan mereka dikarenakan semakin banyaknya penduduk yang berusaha di bidang perdagangan. Hal yang sama juga dirasakan oleh rumah tangga yang menggantungkan
hidupnya dari industri pengolahan, khususnya pengolahan daun nipah. Meskipun upah memetik pucuk daun nipah naik, dari Rp 17.500 menjadi Rp. 20.000 per 100 batang, namun karena semakin banyaknya pekerja di bidang ini juga berpengaruh terhadap jumlah penghasilan yang mereka terima.
Seperti telah diuraikan sebelumnya bahwa pendapatan nelayan sangat dipengaruhi oleh adanya musim. Pada musim gelombang tenang, nelayan cenderung memperoleh banyak ikan atau hasil tangkapan lainnya. Sebaliknya, jika musim gelombang kuat pendapatan nelayan cenderung menurun karena menurunnya hasil tangkapan. Selain itu, pada musim gelombang kuat sebagian nelayan cenderung tidak melaut atau bahkan melakukan pekerjaan lain yang tidak terkait dengan kegiatan kenelayanan. Sebelum membahas pendapatan nelayan menurut musim, terlebih dahulu akan diuraikan tentang pendapatan nelayan, khususnya nelayan tangkap dengan tidak memerincinya menurut musim.
• Pendapatan nelayan
Bagian ini akan menguraikan tentang pendapatan kegiatan kenelayanan yang merupakan pekerjaan yang paling banyak dilakukan oleh responden di Desa Jago-Jago. Seperti yang telah dijelaskan pada bagian sebelumnya, pendapatan rumah tangga yang tertinggi bersumber dari lapangan pekerjaan perikanan. Pendapatan perkapita nelayan sekitar 232.500, lebih tinggi dari rata-rata pendapata perkapita secara keseluruhan (Rp. 186.800). Sedangkan rata-rata pendapatan rumah tangga nelayan per bulan mencapai Rp. 1.083.200. Seperti yang juga telah dijelaskan sebelumnya, terdapat kesenjangan yang cukup tinggi antara pendapatan nelayan tertinggi dan pendapatan terendah. Pendapatan nelayan yang tertinggi mencapai Rp. 6.000.000 per bulan, sedangkan pendapatan nelayan terendah hanya Rp. 139.333 per bulan. Pada umumnya kelompok yang masuk berpendapatan tertinggi adalah nelayan pemilik bagan pancang dan atau nelayan teripang, sedangkan pendapatan terendah adalah nelayan miskin, biasanya nelayan pekerja/anak buah
kapal/ABK atau nelayan perorangan dengan alat tangkap yang sangat sederhana.
Jika rata-rata pendapatan rumah tangga nelayan terlihat sekitar Rp. 1.083.000, pada kenyatannya kemungkinan besar jauh dari jumlah tersebut karena pengaruh dari nilai tertinggi. Sementara jika pendapatan nelayan dilihat berdasarkan nilai mediannya, maka pendapatan rumah nelayan adalah Rp. 616.666. Jumlah ini kemungkinan besar mendekati kenyataan di lapangan, karena penghitungan nilai ini tidak terpengaruh oleh nilai terekstrim dari kasus yang ada. Dengan demikian dapat diungkapkan kemungkinan besar pendapatan nelayan berkisar antara jumlah tersebut
Jika dibandingkan dengan kondisi tahun 2005, rata-rata pendapatan rumah tangga jauh menurun, dari sekitar Rp. 1.400.000 menjadi sekitar Rp. 1.083.000. Salah satu kemungkinan terjadinya penurunan tersebut adalah karena menurunnya hasil tangkapan. Jika pada tahun 2007, jumlah pendapatan rumah tangga nelayan yang tertinggi Rp. 6.000.000, tahun 2005 jumlah pendpatan tertinggi mencapai Rp. 9.160.000. Sementara jumlah pendapatan rumah tangga nelayan terendah pada tahun 2005 adalah Rp. 325.000 (Daliyo dan Ngadi, 2005: 46), dua tahun kemudian jumlah ini turun menjadi Rp. 139.333. Menurut informasi dari beberapa nelayan, penurunan hasil tangkapan dikarenakan meningkatnya jumlah nelayan (termasuk yang dari luar daerah) yang mencari ikan di Teluk Sibolga dan penggunaan alat tangkap yang lebih canggih. Selain itu, tsunami yang melanda wilayah nagroe Aceh Darussalam dan Nias pada akhir tahun 2004 dianggap berpengaruh terhadap menurunnya penghasilan nelayan. Selain dianggap menurunkan populasi ikan di wilayah tersebut, bencana tsunami juga mempengaruhi kegiatan nelayan dalam mencari ikan. Beberapa nelayan mengaku bahwa setelah bencana tsunami tersebut keberanian mereka melaut cenderung menyusut. Jika sebelumnya mereka tetap melaut meskipun keadaan cuaca tidak mendukung, sekarang sebagian nelayan cenderung tidak melaut jika cuaca tidak bersahabat.
Seperti telah diuraikan sebelumnya, rata-rata pendapatan rumah tangga nelayan sudah di atas Rp. 1.000.000 per bulan, baik pada pada
tahun 2005 maupun 2007. Namun demikian, penyebaran pendapatan tidak merata, ada kesenjangan yang cukup menyolok antara proporsi rumah tangga yang memiliki pendapatan rendah (di bawah Rp. 500.000) dengan rumah tangga nelayan yang memiliki pendapatan tinggi (di atas Rp. 2.500.000) per bulan. Meskipun di setiap kategori pendapatan ada persentasenya, namun proporsi terbesar tetap mengelompok di bawah Rp. 1.000.000. Khusus untuk tahun 2007, hampir separoh pendapatan rumah tangga nelayan berada pada kategori pendapatan di bawah Rp. 500.000 (lihat Tabel 4.4)
Tabel 4.4.
Distribusi Rumah Tangga Nelayan Tangkap menurut Kelompok Pendapatan, Desa Jago-Jago, tahun 2005
dan 2007 (Persentase) Kelompok Pendapatan Jumlah
Tahun 2005 Tahun 2007 < 500.000 11,4 46,3 500.000 - 999.000 40,9 26,8 1.000.000 – 1.499.999 22,7 9,8 1.500.000 – 1.999.999 11,4 2,4 2.000.000 – 2.499.999 2,3 2,4 >2.500.000 11,4 12,2 Jumlah 100 100
Sumber: Daliyo dan Ngadi, 2007 dan Data primer, Survai BME Sosek, PPK-LIPI, 2007.
Dari Tabel 4.4 terungkap bahwa meskipun proporsi rumah tangga nelayan dengan pendapatan di bawah Rp. 500.000 meningkat tiga kali lipat, namun pada kelompok pendapatan tinggi (Rp. 2.500.000 ke atas) proporsinya justru meningkat meskipun hanya sedikit. Rumah tangga yang termasuk dalam kelompok pendapatan ini pada umumnya adalah rumah tangga nelayan kaya yang memiliki bagan pancang atau pemilik armada tangkap berkapasitas tinggi (sekitar 20 PK). Salah satu kemungkinan meningkatnya persentase kelompok pendapatan tinggi ini karena adanya kenaikan pendapatan sebagai
hasil dari tingginya harga jual ikan dan sejenisnya, khususnya teripang.
Teripang merupakan hasil tangkapan yang mempunyai nilai ekonomis tinggi bagi nelayan setempat. Hal ini tidak mengherankan jika pendapatan rumah tangga nelayan teripang lumayan tinggi. Menurut penuturan seoarang nelayan teripang, Pak Gus, meskipun hasil yang diperoleh cukup lumayan, namun untuk menangkap teripang juga dibutuhkan biaya yang cukup tinggi. Biaya yang harus dikeluarkan meliputi biaya untuk pembelian bensin sekitar 30 liter (a R. 5.500), minyak solar 60 liter (a Rp. 4.800), rokok sekitar Rp. 200.000, mie, beras, garam, dan lain-lain. Selain itu, setiap awak kapal dibekali uang jajan Rp 50.000 per orang yang harus dikembalikan lagi kepada majikan jika mereka sudah kembali dari melaut. Armada tangkap yang digunakan untuk menangkap teripang jug cukup mahal karena dibutuhkan perahu dengan mesin yang berkekuatan tinggi.
Rata-rata pendapatan nelayan bervariasi menurut musim. Jika gelombang lemah, hasil tangkapan nelayan cenderung banyak. Hal ini dikarenakan pada saat gelombang lemah ini, yaitu pada musim angin timur biasanya merupakan musim banyak ikan. Selain itu, pada musim gelombang lemah, nelayan biasanya melaut sampai ke tengah lautan atau jarak yang relatif jauh. Sebaliknya ada kecenderungan pendapatan nelayan menurun pada saat pancaoba maupun ketika gelombang kuat. Pada saat gelombang kuat pendapatan nelayan cenderung paling sedikit. Pada musim gelombang kuat, frekuensi melaut nelayan cenderung berkurang, bahkan jika gelombang kuat sementara nelayan tidak melaut sama sekali. Hanya nelayan-nelayan tertentu yang mempunyai armada dengan mesin berkuatan besarbanin melaut. Sebagian dari nelayan bahkan beralih pekerjaan sebagai petani tanaman pangan. Pada saat gelombang kuat, rata-rata pendapatan nelayan hanya sekitar separoh dari pendapatan ketika musim banyak ikan. Pada musim pancaroba, yaitu peralihan antara musim gelombang kuat dan gelombang lemah, pendapatan nelayan berada di antara keduanya.
Pada tahun 2007, pendapatan perkapita nelayan pada saat musim gelombang tenang (banyak ikan) mencapai sekitar Rp. 316.141,
sedangkan pada musim pancaroba mulai menurun menjadi Rp. 212.181 dan semakin menurun (Rp. 169.454) ketika musim gelombang kuat. Sementara rata-rata pendapatan rumah tangga nelayan pada saat musim ombak tenang yaitu musim banyak ikan mencapai hampir Rp. 1.500.000 per bulan. Jumlah ini relatif besar, namun kenyataan di lapangan kemungkinan tidak sebesar ini. Hal ini mengingat besarnya kesenjangan antara pendapatan tertinggi dan terendah. Pendapatan nelayan tertinggi pada musim gelombang lemah ini mencapai Rp. 9.000.000, sedangkan pendapatan terendah hanya Rp.150.000. Pada musim gelombang lemah ini, hasil tangkapan melimpah sehingga kadang-kadang harga ikan menjadi turun. Hal ini