dari posisi akhir 2003, sehingga portfolio kredit akhir 2004 mencapai Rp36 triliun. Sektor yang menjadi fokus pembiayaan selama tahun 2004 adalah sektor Agroindustri,
Mining, Telco, dan Perdagangan.
Terbatasnya pertumbuhan kredit segmen Corporate
dibanding realisasi pertumbuhan kredit total Bank Mandiri selama tahun 2004 sebesar Rp18,5 triliun, sejalan dengan strategi Bank Mandiri untuk mencapai keseimbangan komposisi perkreditan segmen Corporate: Non Corporate
sebesar 50%:50%. Realisasi komposisi perkreditan per 31 Desember 2004 adalah 48%:52%.
Posisi dana masyarakat yang dikelola Corporate Banking
pada akhir 2004 mencapai Rp50,5 triliun atau 30% dari total dana Bank Mandiri, dengan komposisi pendanaan
(funding mix) antara Giro dan Deposito sebesar 45%:55%. Komposisi ini mengalami perbaikan dari akhir tahun 2003 sebesar 38%:62%. Perolehan pendapatan Fee Based Income
tahun 2004 mencapai Rp338.5 miliar, atau 99,5% dari target sebesar Rp340 miliar. Perolehan fee based income
tersebut terutama berasal dari pendapatan trade finance
(51%), penyertaan pada Mandiri Sekuritas (20%), fee kredit kelolaan (13%), cash management dan sindikasi (4%). Dalam rangka peningkatan kinerja perkreditan maupun pengembangan produk, selama tahun 2004 Corporate Banking telah melakukan berbagai upaya yakni: 1. Melakukan perubahan tanggal penagihan pokok dan
bunga dari setiap akhir bulan menjadi tanggal 23 setiap bulan. Dengan demikian para Relationship Manager
memiliki waktu lebih kurang 1 minggu untuk mengingatkan nasabah dalam menyelesaikan kewajibannya sebelum akhir bulan. Dengan perubahan ini diharapkan
pembayaran kewajiban oleh nasabah dapat dilaksanakan dengan baik sehingga kolektibilitas kredit tetap lancar. 2. Mempertahankan nasabah dengan rating AAA-B (kategori
investment grade) serta membina nasabah yang ratingnya di luar kategori investment grade agar meningkat dan masuk kedalam kategori tersebut. Sepanjang tahun 2004 terdapat 148 nasabah yang berada pada kategori
investment grade atau meningkat 4 nasabah dibandingkan dengan tahun 2003.
3. Mengimplementasikan konsep risk based pricing, dimana tingkat suku bunga pinjaman yang dibebankan tergantung pada risiko perusahaan nasabah, yang tercermin dari hasil ratingnya. Dalam konsep risk based pricing, semakin baik rating nasabah semakin rendah suku bunga yang dikenakan.
4. Mempertahankan Product Holding level sebesar 3, yang berarti setiap debitur Corporate Banking telah menggunakan produk Bank Mandiri rata-rata sebanyak 3 produk (misalnya: Kredit, Dana dan Cash Management/
Trade Finance/Trade Services). Hal tersebut dicapai melalui penjualan cross selling sehubungan dengan fasilitas loan yang diperoleh nasabah.
5. Melakukan survey kepuasan nasabah di bidang trade finance & service dimana hasilnya menunjukkan: customer satisfaction index mencapai sebesar 7.48 (2nd rank overall), with 1st rank in risk mitigation and cost efficient. Pelaksanaan survey dilakukan bersama dengan lembaga survey MarkPlus.
6. Meningkatkan sinergi dengan Mandiri Sekuritas dalam rangka menangani nasabah Corporate Banking yang akan
go-public atau issue bond. Selama tahun 2004 tercatat 10 (sepuluh) nasabah Corporate Banking yang menggunakan jasa Mandiri Sekuritas, baik sebagai Joint Lead
Underwriter Bond maupun sebagai Sole Arranger MTN.
Fokus 2005
Fokus kegiatan Corporate Banking pada tahun 2005 adalah:
1. Membangun Hubungan Nasabah yang Lebih Proaktif
Dalam rangka meningkatkan fokus bisnis pada sektor Agrobisnis dan sektor Infrastruktur serta mempertajam
spesialisasi untuk meningkatkan kemampuan bersaing pada sektor tersebut, maka dilakukan berbagai upaya antara lain:
a. Re-alignment organisasi menjadi 4 (empat) bidang usaha yakni:
• Agro Based Industries difokuskan untuk menangani sektor perkebunan, pertanian, perikanan, peternakan, perkayuan, down stream agro industries dan
perdagangan komoditi berbasis Agro.
• Consumer Related Industries difokuskan untuk menangani sektor food and beverages, cigarette, tekstil, Automotive, Electronic, Pharmaceutical, paper and packaging, transportasi, media, retailer trading. • Strategic Industries difokuskan untuk menangani
sektor mining, energy, telco & hightech, oil & gas, operator infrastruktur (operator jalan tol), jasa-jasa terkait infrastruktur.
• Multi Industries difokuskan untuk menangani sektor Lembaga Pemerintahan/ Departemen, property, lembaga keuangan, cement &steel, chemical, fertilizer, leisure & tourism.
b. Menunjuk konsultan profesional untuk membantu
Corporate Banking dalam melakukan kegiatan dalam bidang Agrobisnis dan Infrastruktur.
c. Melakukan kerjasama dengan lembaga keuangan bank dan non bank yang telah berpengalaman dalam pembiayaan di sektor infrastruktur
2. Memaksimalkan Value Chain melalui Aliansi Strategis
Sebagai market leader pada segmen corporate, Bank Mandiri akan memanfaatkan competitive advantage
2003
2004
Rating Jml Debitur Prosentase Rating Jml Debitur Prosentase
AAA-B 144 44,58 % AAA-B 148 45,40 %
C-G 79 24,46 % C-G 68 20,86 %
NR (1) 100 30,96 % NR (1) 110 33,74 %
Catatan
(1) Non rating, adalah debitur yang tidak dapat/perlu dirating dengan perangkat rating internal (al. lembaga keuangan, BUMN/ lembaga-lembaga pemerintah).
81
tersebut untuk memaksimalkan value chain Corporate Banking dengan Commercial Banking, Consumer Banking, dan Micro Banking, serta meningkatkan sinergi dengan anak perusahaan: Mandiri Sekuritas, AXA Mandiri dan Bank Syariah Mandiri.
3. Menjual produk dan jasa bank secara bundling.
Memenuhi kebutuhan nasabah dengan seluruh produk yang ada (dalam satu paket), agar tercapai efisiensi, yang berdampak pada harga yang kompetitif bagi nasabah.
4. Memaksimalkan pencapaian Fee Based Income, dengan cara:
a. Melakukan totalapproach kepada nasabah agar seluruh transaksi disalurkan melalui Bank Mandiri dan menerapkan kebijaksanaan loan follows fee yang berarti pemberian fasilitas loan dilakukan dengan mempertimbangkan jumlah transaksi fee based yang telah dan akan disalurkan melalui Bank Mandiri. b. Melakukan revitalisasi proses bisnis dan blueprint cash
management strategic serta melakukan marketing
secara lebih aktif sehingga menjadi the first cash management bank services di Indonesia. c. Melakukan enhancement trade finance & service
capabilities serta secara agresif melakukan selling
sehingga menjadi market leader in the trade finance & service business
5. Mengimplementasikan Macstools, Syndication
Information System dan Loan Origination System (LOS).
a. Macstools merupakan aplikasi yang berfungsi sebagai
sales tools bagi para Relationship Manager, b. Syndication Information System merupakan sistem
aplikasi yang berfungsi mendukung sistem administrasi kredit sindikasi.
c. Loan Origination System (LOS) merupakan aplikasi yang akan memonitor proses analisis kredit sejak diterimanya surat permohonan kredit sampai dengan disetujuinya (monitoring secara end-to-end proses). Implementasi aplikasi ini sejalan dengan implementasi dalam proses analisa sampai dengan persetujuan kredit.
Corporate Banking
Produk & Jasa
Loans Trade Services Bank Guarantee & Standby L/C
• Investment Loans
• Working Capital Loans (WCL) - General WCL
- Aflopend WCL - Revolving WCL - Export-Import WCL - WCL for special transaction
• Export (Pre-Export Financing, Forfaiting)
• Import (Usance Payable at Sight/ UPAS)
• Domestic Trade (SKBDN)
• Bid Bond, Advance Payment Bond
• Performance Bond, Retention Bond
• BG for Shipping Companies
• BG for Tobacco Duty
• BG for trade
• BG for Deferral of Duty
• Standby L/C Structured Trade Finance–Export
Finance Facilities
Structured Trade Finance—Import Finance Facilities
Cash Management Services
• Banker’s Acceptance
• Refinancing facilities for: - Working Capital Loans - Export Bills (with Recourse) - SKBDN
- Export Financing Scheme from IDB
• Import L/C Refinancing
• Import L/C Guarantee by BM’s Correspondent Banks
• Sight L/C Refinancing
• Usance L/C Refinancing
• Buyer’s Credit Facilities
• Imfas for US Agricultural Products Specified in the GSM 102 Prgrms
• Imfas for the Import of Cotton from Australia
• Line of import Trade Fin Operation (ITFO) Fas from IDB
• Cash Management System
• Mass Transaction System
• Account Pooling
• Immediate Cash
• Customized Cash Management•
Electronic Fund Transfer
• Electronic Payment Order
• Inquiry Cash Management
Syndication Treasury & Liabilities Securities and Related Services
• Arranger • Facility Agent • Security Agent • Escrow Agent • Cash Transaction/Foreign Currency Trading • Derivative Transactions - Foreign Exchange transaction
Services (Forward, Swap, Option) - Interest Rate Transaction Int Rate Swap, Int rate Floor, Int Rate Cap
• Liabilities, mutual funds Korporasi Mandiri Tabungan Yayasan
• Custodial Services - Sub Custody Euroclear - Administration of mutual fund - Overseas Securities Sub Custody
• Services
- Local Custodial Services for
• ADR/GDR
- Sub-registry Services for Government Bonds and SBI - General Custody Services
83
Berkembangnya Mandiri Sekuritas menjadi perusahaan sekuritas papan atas tidak terlepas dari keputusan strategis yang dilakukan Bank Mandiri untuk menjadikan pasar modal dan jasa investment banking sebagai salah satu dari tiga pilar bisnis utamanya. Rekapitalisasi yang dilakukan oleh Bank Mandiri dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh Mandiri Sekuritas dengan keberhasilan mencapai posisi yang lebih tinggi dalam kancah persaingan di pasar obligasi maupun pasar saham, sekaligus memantapkan posisinya sebagai pemain utama dalam bidang pengelolaan reksadana
Keberhasilan di Seluruh Lini Usaha
Mandiri Sekuritas berhasil meraih kinerja yang mengesankan di seluruh lini usahanya, mencakup Investment Banking, Pasar Modal, dan Manajemen Investasi.
Investment Banking. Tahun 2004 merupakan tahun yang sangat aktif bagi jasa investment banking Mandiri Sekuritas, yang terlibat dalam transaksi penjaminan penerbitan obligasi dan Medium Term Notes (MTN) senilai total Rp2,72 triliun, atau 14% dari nilai seluruh penerbitan surat hutang di tahun 2004, dan merupakan peningkatan dari Rp1,39 triliun di tahun 2003. Mandiri Sekuritas naik satu tingkat ke peringkat ketiga berdasarkan volume penjaminan yang dilakukan. Tahun 2004 juga ditandai dengan kembalinya Mandiri Sekuritas dalam kegiatan penjaminan penawaran umum perdana saham (IPO) senilai Rp238 miliar, dibandingkan nol pada tahun 2003.
Prestasi luar biasa yang dicapai di bidang penjaminan obligasi tidak lepas dari peran aktif Mandiri Sekuritas dalam memberikan jasa Merger & Akuisisi, pembiayaan perusahaan serta restrukturisasi hutang. Adanya sinergi dari berbagai aktifitas investment banking ini menjadi keunggulan Mandiri Sekuritas dalam melakukan penjaminan penerbitan obligasi korporasi. Di tahun 2004, Mandiri Sekuritas terlibat sebagai penjamin dalam penerbitan obligasi berbagai perusahaan terkemuka, termasuk penerbitan obligasi senilai Rp1 triliun lebih oleh HM Sampoerna, Medco Energi, dan Bank Jabar. Pasar Modal. Mandiri Sekuritas membukukan hasil yang memuaskan dari aktifitas perdagangan efek saham dan obligasi di pasar sekunder. Di tahun 2004, Mandiri Sekuritas menjadi perusahaan perantara perdagangan efek terbesar kedua untuk Obligasi Pemerintah dengan total transaksi mencapai Rp48,2 triliun, atau 21% dari keseluruhan
perdagangan Obligasi Pemerintah di pasar sekunder pada tahun tersebut. Mandiri Sekuritas berada di peringkat 5 dan 14 berturut-turut untuk perdagangan obligasi korporasi dan efek saham, dengan volume transaksi sebesar masing-masing Rp1,2 triliun dan Rp11,1 triliun. Dibandingkan tahun sebelumnya, peringkat ini merupakan kenaikan yang signifikan. Pada tahun 2003 dan 2004, Mandiri Sekuritas memperoleh pengakuan dari Bursa Efek Surabaya sebagai perantara perdagangan efek paling aktif untuk instrumen Surat Utang Negara (SUN).
Keberhasilan Mandiri Sekuritas dalam memfasilitasi transaksi di pasar modal telah berhasil membawa Mandiri Sekuritas memenangkan penghargaan bergengsi dari IFR Asia Awards 2004 sebagai Indonesian Bond House of the Year, selain peringkat kedua penghargaan Best Local Brokerage dari majalah Asiamoney. Pengakuan dan penghargaan yang diperoleh ditahun 2004 melanjutkan penghargaan sebagai Rising Bond House pada tahun 2003 yang diterima perusahaan dari The Asset. Pengakuan ini diperoleh pada saat peranan pasar obligasi sangat besar sebagai sumber likuiditas dalam percepatan pemulihan ekonomi Indonesia dan menegaskan komitmen Mandiri Sekuritas untuk menjadi penjamin likuiditas utama di pasar sekunder untuk Obligasi Pemerintah maupun swasta. Manajemen Investasi. Pasar reksadana di Indonesia tumbuh seiring dengan pertumbuhan Mandiri Sekuritas ditahun 2004. Jumlah aset yang dikelola meningkat hampir lima kali lipat pada tahun 2004, dengan nilai sebesar Rp4.01 triliun pada awal tahun 2004 meningkat menjadi Rp19,2 triliun pada akhir tahun tersebut, atau 17% dari total asset di pasar reksadana. Sebagai penyandang penghargaan “The Fastest Growing Mutual Fund Award 2003” yang diberikan oleh majalah The Asset, Mandiri Sekuritas pada tahun 2004 telah menjadi pengelola reksadana terbesar di Indonesia, dengan berbagai produk meliputi keseluruhan jenis reksadana yang ada, termasuk reksadana pendapatan tetap, pasar uang, ekuitas, dan reksadana campuran.
Untuk lebih meningkatkan fokus pada pengembangan usaha, Mandiri Sekuritas telah membentuk sebuah anak perusahaan, PT Mandiri Manajemen Investasi, yang akan memberikan jasa manajemen investasi secara terpisah di luar jasa investment banking dan pasar modal mulai tahun 2005.
Corporate Banking