97 Treasury & International
Transaksi fixed income securities di tahun 2004 menitik beratkan pada pengoptimalan pendapatan melalui penurunan komposisi Surat Utang Negara (SUN) yang dimiliki untuk ditukar dengan kredit dan obligasi korporasi, serta meningkatkan volume transaksi obligasi di secondary market. Tujuan dari upaya tersebut adalah untuk
meningkatkan pendapatan (yield enhancement) dari aset surat berharga, pemenuhan likuiditas dan memperoleh
capital gain.
Dampak dari upaya di atas, maka pada tahun 2004 komposisi SUN menurun dari 49,3% menjadi 37,5% terhadap total asset dengan jumlah SUN ex Obligasi Rekap yang dijual mencapai Rp32,334 miliar. Obligasi korporasi yang dibeli selama tahun 2004 sebesar Rp1,57 triliun, dan volume transaksi obligasi selama tahun 2004 mencapai Rp55,17 triliun. Rata-rata yield SUN yang diperoleh untuk seri fixed
adalah 12,52% dan seri variabel 8,25%%, sementara untuk obligasi korporasi Rupiah sebesar 12,47 % dan obligasi USD sebesar 7,05%. Bank Mandiri termasuk salah satu bank teraktif dalam transaksi SUN, hal ini terbukti pada tahun 2004 memperoleh penghargaan berupa “the most active Bank in Government Bonds Trading” yang diberikan oleh Bursa Efek Surabaya.
Untuk melakukan penetrasi pasar lebih luas dalam rangka mendukung transaksi-transaksi di atas dan melayani nasabah secara lebih cepat dan optimal, Bank Mandiri telah membuka 2 (dua) buah kantor baru yang menjadi arm length
transaksi treasury melalui Regional Treasury Marketing (RTM) berupa mini dealing room di dua kota besar yakni Surabaya dan Medan. Di kantor tersebut, layanan transaksi valuta asing dan produk-produk terkait diberikan dengan harga dan service yang sama dengan kantor pusat.
Sejalan dengan ekspansi Bank Mandiri ke pasar valuta asing,
fixedincome dan derivatif, reinforcement pada infrastruktur telah dilakukan dengan diterapkannya New Treasury Solution
yaitu melalui sistem OPICS yang terintegrasi dengan
middle dan back office. Dengan sistem baru tersebut maka
recording, reporting, controlling transaksi treasury menjadi lebih terintegrasi.
Untuk mendukung kelancaran transaksi bisnis international Bank Mandiri telah menjalin hubungan koresponden dengan
1.275 bank koresponden yang tersebar di seluruh dunia. Selama tahun 2004 Bank Mandiri telah melakukan 42 kerja sama dengan beberapa Bank Koresponden untuk berbagai macam jenis produk antara lain Trade Service, Trade Finance, Remittance, Collection.
Dalam upaya meningkatkan volume transaksi pengiriman uang para TKI dari Arab Saudi ke Indonesia melalui Bank Mandiri, pada bulan September 2004 Bank Mandiri telah menempatkan liaison officer di Riyadh yang bertempat di Al Rajhi BIC.
Di bidang capital market services Bank Mandiri telah selesai mengembangkan product/system Jasa Receiving Bank, Implementasi Technical Support Sub Custody di Cabang Jakarta Kemayoran, Mutual Fund Administration System dan
Disaster Recovery Plan System Custodian. Hal ini dilakukan guna memberikan pelayanan yang lebih baik khususnya kepada para nasabah yang menggunakan jasa kustodian. Dari aktifitas capital market services, sampai dengan 31 Desember 2004 Bank Mandiri telah mengelola Portfolio
jasa kustodian sebesar Rp51.350,94 miliar dan USD221,43 juta sedangkan portfolio jasa Wali Amanat (Trustee) sebesar Rp9.703,49 miliar dan USD100 juta.
Fokus tahun 2005
Di tahun 2005 Bank Mandiri akan lebih agresif pada pengembangan dan penawaran produk Treasury yang lebih beragam dan memperluas pasar penawaran yakni sektor retail serta sektor korporasi, sektor dimana Bank Mandiri telah memiliki pengalaman panjang. Untuk mendukung rencana ini, Bank Mandiri akan memperkuat supporting system yang dimiliki sehingga dapat mengakomodasi fitur-fitur yang ada pada setiap produk tersebut. Upaya ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan nasabah & semakin mendekatkan hubungan dengan nasabah.
Demikian pula di bidang fixed income securities, Bank Mandiri akan lebih agresif dalam melaksanakan transaksi obligasi baik SUN maupun obligasi korporasi dengan lebih merambah kepada nasabah-nasabah consumer banking
dan nasabah institusi dengan menjual obligasi secara retail dalam jumlah nominal minimum Rp250 juta, serta akan lebih aktif dalam transaksi Repo, karena Bank Mandiri merupakan salah satu perintis diwujudkannya Indonesian General
Master Repo Agreement yang akan segera diterapkan pada Februari 2005.
Dalam rangka memperkuat struktur dana khususnya valuta asing dan melakukan refinancing atas Pinjaman Luar Negeri yang jatuh tempo tahun ini, Bank Mandiri merencanakan untuk menerbitkan Senior Debt pada berjangka waktu 5–10 tahun di pasar internasional. Alternatif pilihan jangka waktu 10 tahun, selain dalam rangka mengelola maturity profile pinjaman, diharapkan pula akan menjadi landmark
obligasi berjangka waktu 10 tahun yang diterbitkan korporasi Indonesia.
Untuk mewujudkan concern dalam melayani nasabah retail, Bank Mandiri di tahun 2005 memperkenalkan Consumer Banking Treasury (CBT) yang akan melayani nasabah
consumer dalam transaksi-transaksi Treasury. Dealing room CBT akan langsung melayani transaksi-transaksi retail secara lebih terfokus yang dikelola oleh para dealer berpengalaman. Sementara itu, untuk memperluas jaringan dan mempercepat pelayanan, Bank Mandiri akan menambah satu kantor
Regional Treasury Marketing lagi di kota Bandung yang merupakan salah satu kota yang sangat potensial dalam transaksi valuta asing.
Untuk meningkatkan transaksi antara Kantor Luar Negeri (KLN) dengan jaringan kantor/cabang dalam negeri dan transaksi antar KLN, sejak tahun 2004–2006 Bank Mandiri telah memulai program standarisasi banking system
Kantor Luar Negeri. Tahun 2005 implementasi sistem baru direncanakan akan selesai pada Cabang Singapore, Bank Mandiri Europe, London dan cabang Dilli. Dengan sistem baru tersebut, diharapkan mutu pelayanan KLN akan meningkat sesuai standar kualitas pelayanan internasional. Mengimplementasikan Central Liabilities System (CLS)
untuk monitoring exposure bank koresponden dan laporan
reciprocity management yang cepat dan akurat. Dengan CLS tersebut, diharapkan monitoring utilisasi limit kepada nasabah dan bank koresponden akan lebih optimal karena Bank Mandiri akan memperoleh data yang lebih akurat dari seluruh unit bisnis pengguna limit.
Untuk meningkatkan daya saing dengan bank pesaing di bidang usaha capital market sevices Bank Mandiri akan menyelesaikan Custodian System Enhancement Project, sehingga Bank Mandiri akan dapat memberikan layanan
online reporting kepada customer.
Dalam rangka memanfaatkan peluang bisnis antara Indonesia dan China, pada tahun 2005 Bank Mandiri akan berusaha memperoleh perijinan dari Bank Indonesia dan
China Banking Regulatory Commission (CBRC) untuk meningkatkan status Representative Office Shanghai menjadi Kantor Cabang.
Mempertahankan status sebagai Bank Pembayaran KSEI di Bursa Efek Jakarta (BEJ) untuk periode 2005–2009, dalam rangka mempertahankan pengendapan dana pihak ketiga di pasar modal Indonesia.
99 Treasury & International
Market Share Transaksi Treasury Bank Mandiri Tahun 2004*)
2 TOD/TOM/ SPOT USD 150,13 miliar 1 3 1 Option USD 2,98 miliar 2 3 1 Forward USD 2,88 miliar 2 2 3 Swap USD 230,48 miliar 1 1. Foreign Exchange
1. Bank Mandiri Market Share (11,3%) 2. Bank Lainnya (88,7%)
1. Bank Mandiri Market Share (6,96%) 2. Bank Lainnya (93,04%)
1. Bank Mandiri Market Share (0,94%) 2. Bank Lainnya (99,06%)
*) Sumber: Bank Mandiri dan Pusat Informasi Pasar Uang (PIPU)
Obligasi Pemerintah
1. Diperdagangkan (1,7%) 2. Tersedia untuk dijual (29,6%) 3. Dimiliki hingga jatuh tempo (68,7%)
1. Suku Bunga Tetap (Fixed Rate) (6,5%) 2. Variable Rate (Mengambang) (90,5%) 3. Lindung Nilai (3,0%)
1. Kurang dari 1 tahun (3,0%) 2. 1–5 tahun (3,2%) 3. 5–10 tahun (6,6%) 4. Lebih dari 10 tahun (87,2%)
2 3 Berdasarkan Portfolio 1 2 3 Berdasarkan Suku Bunga 1 3 3 3 1 Berdasarkan Jatuh Tempo 2 4
1. Bank Mandiri Market Share (14,78%) 2. Bank Lainnya (85,22%)
Treasury & International 2 3 MM USD USD 440.818 juta 1 2 MM IDR USD 117 juta 1 2. Money Market
1. Bank Mandiri Market Share (9,98%) 2. Bank Lainnya (90,2%) 2 3 2003 USD 81,74 miliar 1 2 2002 USD 55,83 miliar 1 3. Perkembangan Volume
dan Market Share Transaksi Valas Nasabah*)
1. Bank Mandiri Market Share (20,38%) 2. Bank Lainnya (79,62%)
1. Bank Mandiri Market Share (15,18%) 2. Bank Lavvinnya (84,82%) 3 1
2004
USD 98,08 miliar 21. Bank Mandiri Market Share (17,51%) 2. Bank Lainnya (82,49%)
*) Sumber: Bank Mandiri dan Pusat Informasi Pasar Uang (PIPU) 1. Bank Mandiri Market Share (19,39%)
101 Produk & Jasa
Transaksi Valuta Asing Trade Finance Jasa Kustodian
• Banknotes Sale/Purchase
• Currency Forward
• Currency Options
• Currency Swaps
• Spot, Today, Tomorrow for IDR/USD and major currencies
• Dual Currency Deposits
• Deposito Swap
• FX Range Deposits
• Usance Payable At Sight (UPAS)
• Export Usance Bills Discounting
• Forfeiting
• Trust Receipt
• Buyer’s Credit
• Refinancing L/C
• Islamic Trade Finance
• General Custody
• Sub Registry Govt. Bond & SBI
• Sub Custody Euroclear
• Local Custody for ADR/GDR
• Mutual Fund Administration
• Overseas Sub. Custody
Trade Services Jasa Wali Amanat
• Issuance L/C and Amendment
• Advising L/C
• Confirming L/C
• Negotiating L/C
• Export Bills Collections
• Documentary Collection • Wali Amanat • Agen Pembayar • Facility/Collateral Agent • Escrow Agent • Receiving Bank
Surat Berharga Assets Products Jasa Lainya
• Asset Swaps
• Bonds Outright Sale/Purchase
• Collateralized Fund Facility
• Repo & Reverse Repo
• Exchangeable Deposits
• Call Loan
• Syndicated Loan
• Investment Loan
• Working Capital Loan
• Two-Step Loans
• Ship Scraping Business
• B/A Financing
• Renegosiasi Wesel Ekspor
• GSM 102 Program
• Bank Guarantee
• International Remittance
• International Collection
• Vostro Account
• Interbank Risk Participation
• Mandiri Transfer Indonesia
• Financial Advisory
• Bank Reference
• Payment Bank KSEI
• Intra day Facilities Pasar Uang Liabilities Products
• Interest Rate Swaps
• SBI Auctions & Repo •• Demand Deposits Time Deposits
• Certificate of Deposits
Bank Mandiri melalui Credit Recovery Group telah melakukan restrukturisasi kredit terhadap debitur bermasalah,
dengan tujuan untuk miminimalkan potensi kerugian. Upaya perbaikan kondisi debitur yang bermasalah dalam pemenuhan kewajibannya dilaksanakan dengan penetapan pola restrukturisasi melalui proses analisa yang cermat dan tepat serta didukung oleh proses pengambilan keputusan yang cepat. Disamping hal tersebut, juga melaksanakan penanganan terhadap debitur yang telah dihapus buku (debitur ekstrakomptabel) dilaksanakan secara intensif guna mendapatkan tingkat recovery maksimal.
Untuk mencapai tujuan dimaksud, fokus kegiatan yang telah dilaksanakan pada tahun 2004 adalah:
1. Mempercepat proses restrukturisasi terhadap debitur bermasalah (non performing loan—NPL) dengan pemilihan pola restrukturisasi yang tepat.
2. Melakukan pembinaan, monitoring, dan mengoptimalkan penagihan yang intensif terhadap debitur pasca restrukturisasi.
3. Melaksanakan penagihan secara intensif terhadap debitur yang telah dihapusbukukan.
4. Penerimaan Kembali kredit yang telah dihapus buku selama tahun 2004 sebesar Rp1.076 miliar.
5. Kredit yang dihapusbukukan selama tahun 2004 sebesar Rp1.774 miliar
6. Rincian kredit non performing adalah
Nasabah Corporate Rp 3.781 miliar Nasabah Commercial Rp 2.552 miliar Nasabah Consumer Rp 242 miliar
Fokus Tahun 2005
Pada tahun 2005 fokus penanganan Credit Recovery tidak hanya pada debitur yang telah digolongkan bermasalah (Non Performing Loan—NPL), namun akan lebih bersifat deteksi dini terhadap kemungkinan terjadinya permasalahan. Hal ini dimaksudkan agar restrukturisasi kredit dapat dilaksanakan pada saat permasalahan masih dini dan belum bersifat struktural. Dengan pendekatan ini diharapkan tujuan restrukturisasi yaitu meminimalkan kerugian bank dapat lebih secara efektif dilaksanakan.
Bank Mandiri telah mengimplementasikan Sistem Deteksi Dini (Early Warning System—EWS) dimana dengan sistem ini, permasalahan yang dialami debitur dapat dideteksi lebih awal dan ditangani lebih dini, yaitu dengan melaksanakan restrukturisasi kredit sebelum fasilitas kreditnya menjadi bermasalah (Non Performing Loan—NPL)
Dalam upaya meningkatkan kinerja Credit Recovery Group di tahun 2005, maka fokus akan diarahkan untuk:
a. Menangani debitur yang memiliki kolektibilitas 2 (Dalam Perhatian Khusus) melalui implementasi Early Warning System, yang dilaksanakan bekerjasama dengan unit bisnis pengelola (joint effort).
b. Mempercepat restrukturisasi kredit pada debitur Non Performing Loan, lebih ditekankan pada pemilihan pola restrukturisasi yang tepat.
c. Melanjutkan upaya-upaya monitoring secara berkesinambungan terhadap debitur yang telah direstrukturisasi.
d. Meningkatkan penagihan debitur ekstrakomtabel secara proaktif.