OECD (1997) berpendapat bahwa corporate governance dapat mengurangi konfl ik bagi pihak yang berkepentingan di perusahaan dan dapat mengurangi masalah keagenan. Hal ini diakibatkan adanya keterbatasan informasi yang diperoleh pemilik minoritas dalam perusahaan (Dharwadka, George, dan Brandes, 2000). Pendapat menurut Carse (2000) corporate governance yang kuat merupakan suatu standar yang diperlukan dalam pengelolaan bank. Hal ini dikarenakan sebagian besar dana di bank dimiliki oleh kreditur dan deposan. Kegagalan dalam pengelolaan bank tidak hanya berpengaruh terhadap pemegang saham, tetapi juga bisa berpengaruh sistemik terhadap bank lain (Stanwick and Stanwick, 2005).
Berdasarkan struktur corporate governance, board of director merupakan pengambil kebijakan dalam sebuah perusahaan, hal tersebut sesuai dengan pendapat Stanwick and Stanwick (2005) bahwa anggota Dewan Komisaris di industri bank sangat penting untuk kinerja perusahaan, hal ini dikarenakan anggota board of director terdiri dari anggota yang dipilih oleh pemilik perusahaan dan bertanggung jawab dalam pengambilan keputusan dan pengawasan perusahaan. Pendapat lainnya yaitu Carse (2000) bahwa board of director dapat memainkan peran untuk menyetujui strategi dan rencana bisnis bank. Board of director dapat melakukan pengawasan terhadap kinerja manajemen untuk meyakinkan bahwa kegiatan bank dikelola dengan standar yang telah ditetapkan perusahaan.
Dewan Komisaris adalah salah satu mekanisme yang paling penting dalam implementasi corporate governance untuk melakukan monitoring terhadap manajemen (Perry dan Shivdasani, 2005). Peran Dewan Komisaris dalam mekanisme corporate governance memberikan kontribusi terhadap kinerja manajemen. Zahra dan Pearce (1989) mengemukakan atribut yang mempresentasikan peran Dewan Komisaris dalam melaksanakan tugasnya sehingga memberikan kontribusi terhadap kinerja perusahaan antara lain: (1) Komposisi Dewan Komisaris, (2) karakteristik Dewan Komisaris, (3) struktur Dewan Komisaris, dan (4) proses. Peran Dewan Komisaris dalam corporate governance telah dijelaskan pada model keterkaitan antara Dewan Komisaris pada kinerja perusahaan dalam persepektif teori agensi. Peran Dewan Komisaris adalah monitoring dan
bertanggung jawab untuk meninjau dan menyetujui inisitaif manajerial tentang strategi kebijakan yang akan menentukan kinerja perusahaan. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Judge dan Zeithmal (1992) bahwa Dewan Komisaris memberikan pengawasan dan saran kepada eksekutif terhadap pengelolaan perusahaan berkaitan dengan strategi perusahaan. Pendapat yang sama dikemukakan oleh Ruigroket et al. (2006) bahwa Dewan Komisaris mempunyai peran lainnya yaitu desain dan implementasi strategi serta mendorong perusahaan dengan lingkungan eksternal sehingga dapat meningkatkan kinerja perusahaan, dengan demikian peran Dewan Komisaris sangat strategis dalam pengawasan terhadap pengelola perusahaan sehingga dapat meningkatkan kinerja perusahaan.
Jiraporn, Singh, dan Lee (2009) berpendapat efektifi tas tugas Dewan Komisaris dilakukan bersama dengan komite- komite. Hal tersebut dikarenakan komite-komite memiliki peran dalam pengawasan sehingga dapat berpengaruh terhadap kinerja perusahaan (Vance, 1983) dan dapat mengurangi agency problem (Davidson, Pilger, dan Szakmary, 1998). Keberadaan Komite Risiko juga sangat diperlukan untuk melindungi kepentingan pemegang saham, hal ini dipertegas oleh Harrisson (1987) bahwa Komite Risiko merupakan mekanisme internal corporate governance yang melindungi kepentingan pemegang saham.
Peran dari Dewan Komisaris dapat mempengaruhi kinerja perusahaan, selain itu yang dapat mempengaruhi kinerja keuangan adalah tranparansi keuangan, pengalaman manajemen, Komisaris Independen dan ukuran board
(Chiang, 2005; Sonnenfeld, 2002). Sementara itu pendapat Wan dan Ong (2005) bahwa kinerja Dewan Komisaris memiliki hubungan langsung dengan kinerja perusahaan. Sedangkan peran struktur komite berpengaruh terhadap kinerja perusahaan dibuktikan oleh Chiang (2005) dan Davidson et al., (2004).
Dalam struktur governance komite pemantau risiko merupakan komite yang dibentuk dalam rangka membantu Dewan Komisaris untuk melakukan pengawasan atas kegiatan perusahaan. Menurut Munoz (2005) peran komite-komite dalam corporate governanceditentukan oleh komite yang independen dan komite yang memiliki keahlian spesifi kasi. Peran Komite tersebut diharapkan dapat memberikan saran kepada Dewan Komisaris yang pada akhirnya dapat meningkatkan kinerja perusahaan.
Beberapa penelitian yang berkaitan antara corporate governace dengan kinerja perusahaan antara lain dilakukan oleh Brick dan Chidambaran (2007); Yang (2008); Black (2011); Amman et al. (2011); Bernard et al. (2011); Khan dan Awan (2012); Uwigbe (2012); Kumar dan Singh (2012); Hoque et al.(2013); Al-Saidi dan Al-Shammari (2013); Nyamongo dan Temesgen (2013). Penelitian tersebut menyimpulkan hasil yang berbeda-beda. Hal ini dimungkinkan oleh struktur governanace, hukum dan peraturan yang berbeda-beda di setiap negara, sehingga penelitian-penilitian lanjutan dimungkinkan untuk dikembangkan dengan dengan konteks industri perbankan di Indonesia.
2.8. Prior Research Review dan Pengembangan Hipotesis
Penelitian yang dilakukan dengan perspektif diversitas pada pengambilan keputusan kelompok menyatakan bahwa team dengan tingkat okupasi (pekerjaan) yang berbeda-beda lebih efektif dalam memecahkan masalah dan melaksanakan peruabahn daripada pada team yang sifatnya homogen (Bantel dan Jackson, 1989). Beberapa penelitian tentang pelibatan perempuan dalam perusahaan telah dilakukan di Negara maju dan di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan adanya inkonsistensi hasil.
Keterkaitan gender diversity dan kinerja perusahaan menurut Credit Suisse (2012) adalah: (1) menunjukkan signal perusahaan yang lebih baik, (2) usaha yang lebih besar diantara perusahaan, (3) keahlian kepemimpinan yang beraneka ragam, (4) akses yang lebih luas pada bakat-bakat yang ada, (5) refl eksi yang lebih baik pada pengambilan keputusan konsumen (6) meningkatkan pelaksanaan corporate governance, dan (7) penghindaran pada risiko.
Beberapa hasil penelitian manajemen menunjukkan bahwa diversitas team yang dikaitkan dengan personalitas dapat memperbaiki perspektif dan kemampuan kognitif (Hambrick et al., 1996). Hasil penelitian menunjukkan pula bahwa diversitas demografi meningkatkan jaringan, sumber daya, kreativitas, dan inovasi (Di Tomaso, 2007).
Wicaksana (2010) meneliti tentang pengaruh diversitas dewan pada kinerja pasar. Wicaksana (2010) meneliti pada perusahaan yang terdaftar di Bursa efek Indonesia dengan
periode 2006 – 2008. Jumlah sampel penelitian adalah 166 perusahaan. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa proporsi gender, latar belakang pendidikan, kebangsaan, dan umur tidak berpengaruh terhadap kinerja pasar perusahaan. Variabel size dan industri berpengaruh terhadap kinerja pasar perusahaan.
Brammer, Millington, dan Pavelin (2007) menganalisis diversitas gender dengan sampel perusahaan di UK dan menyimpulkan bahwa board diversity dipengaruhi oleh lingkungan eksternal bisnis perusahaan. Brammer et al. (2007) menemukan cross section variation pada diversitas gender diantara berbagai industri.
Carter et al. (2003) menguji pengaruh proporsi wanita dan etnis terhadap kinerja perusahaan. Mereka menemukan pengaruh positif board diversity terhadap kinerja perusahaan. Carter et al. (2003) melakukan penelitian pada perusahaan di US. Sampel penelitian yang digunakan adalah 638 perusahaan yang diambil dari Fortune 1000 pada periode 1997 dengan menggunakan persamaan simultan. Carter et al. (2010) mengulang kembali penelitiannya dengan menggunakan sampel 641 dari Fortune 500 pada periode penelitian 1998-2002. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa proporsi wanita sebagai CEO berpengaruh positif terhadap kinerja perusahaan yang diukur dengan ROA dan tidak berpengaruh ketika kinerja perusahaan yang digunakan adalah Tobin’s Q.
Erhardt et al. (2003) menguji pengaruh demographic diversity pada board of director terhadap kinerja keuangan
perusahaan dengan periode penelitian 1993-1998. Penelitian dilakukan dengan sampel 127 perusahaan besar di US. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa board diversity berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan perusahaan. Ukuran kinerja perusahaan yang digunakan adalah ROI dan ROA.
Farrel dan Hersch (2005) menguji pengaruh representasi wanita pada board dengan sampel perusahaan yang terdaftar di Fortune 500. Mereka menunjukkan bahwa 87% perusahaan yang menjadi sampel memiliki setidaknya satu orang wanita sebagai anggota board of
director pada tahun 1999 dan 53% pada tahun 1990.
Mereka membuktikan bahwa gender mempengaruhi pilihan anggota board of director. Selanjutnya mereka menunjukkan bahwa wanita memberikan kontribusi yang lebih baik pada kinerja perusahaan dan adanya penambahan anggota wanita pada board of director tidak memberikan dampak pada abnormal return ketika hal tersebut diumumkan. Mereka menyimpulkan bahwa rata-rata keberadaan wanita dalam board of director tidak memiliki pengaruh terhadap fi rm value. Mereka menyatakan bahwa perusahaan di US menambahkan anggota wanita dalam board of director karena adanya tekanan dari pemerintah dan masyarakat pada isu board diversity.
Smith, Smith, dan Verner (2005) meneliti tentang keterlibatan wanita sebagai CEO dan kinerja perusahaan di Denmark. Sampel yang digunakan dalam penelitiannya sejumlah 2500 perusahaan dengan periode penelitian 1993- 2001. Hasil peneltiannya menunjukkan bahwa proporsi
wanita sebagai CEO berpengaruh positif terhadap kinerja perusahaan. Kinerja perusahaan yang digunakan adalah gross value added/turnover, profi t on primary operation/ turnover, ordinary result/net asset, net result after tax/net asset. Smith et al (2005) menyebutkan bahwa kualifi kasi wanita sebagai CEO menentukan kinerja perusahaan.
Prihatiningtyas (2012) meneliti tentang peran wanita sebagai CEO terhadap kinerja perusahaan, kinerja ekonomi dan kinerja sosial dengan periode 2005-2008 pada industri keuangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa adanya peran wanita sebagai CEO perusahaan berpengaruh positif terhadap kinerja perusahaan yang diukur dengan ROA. Ketika ukuran kinerja perusahaan diubah dengan Tobin’s Q maka pengaruh peran wanita sebagai CEO terhadap kinerja perusahaan menjadi negatif.
Virtanen (2012) menemukan bahwa direktur wanita berperan lebih aktif dan menggunakan power yang lebih besar dibandingkan direktur pria. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran perempuan sangat strategis pada berbagai industri (Abdullah, Ismail, dan Nachum, 2013). Abdullah et al. (2013) di Malaysia menemukan bahwa pelibatan wanita sebagai direktur berpengaruh positif signifi kan terhadap kinerja akuntansi yang diukur dengan ROA. Abdullah et al. (2013) menyatakan bahwa hal ini dapat disebabkan karena gaya manajemen yang berbeda. Wanita di Malaysia dapat membuat keputusan penting seperti halnya pria di Malaysia.
Penelitian di Belanda yang dilakukan oleh Lukerath- Rovers (2011) menemukan bahwa wanita sebagai direktur memiliki kinerja yang lebih baik yang diukur dengan ROE jika dibandingkan dengan perusahaan yang tidak memiliki wanita sebagai posisi direktur atau komisaris. Hal ini dapat disebabkan oleh adanya board gender diversity yaitu dengan pelibatan wanita sebagai CEO mendorong pada pertimbangan yang lebih baik sehingga keputusan yang diambil juga lebih baik.
Hasil penelitian tersebut didukung oleh Bathula (2008) di New Zealand. Bathula (2008) menyatakan bahwa gender diversity berpengaruh positif signifi kan terhadap kinerja perusahaan. Hal yang sama ditemukan oleh Campbell dan Vera (2009) pada perusahaan di Spanyol. Mereka menyatakan bahwa peran wanita sebagai CEO memberikan efek positif terhadap pasar saham (jangka pendek) dan memberikan efek positif terhadap nilai perusahaan dalam jangka panjang. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, hipotesis penelitian ini adalah:
H1: Proporsi wanita sebagai komisaris berpengaruh positif terhadap kinerja perbankan syariah di Indonesia.
CEO bertanggung jawab pada keputusan strategik yang diambil oleh perusahaan dan karenanya karakteristik CEO seperti itu berpengaruh terhadap organizational functioning. Menurut upper echelon theory, pemimpin perusahaan berpengaruh terhadap kinerja perusahaan (Finkelstein dan
Hambrick, 1996). Menurut Hambrick dan Mason (1984) pilihan stratejik yang diambil oleh level manajer senior merupakan hasil dari karakteristik kognitif dan perilaku. Mereka menyatakan bahwa nilai-nilai yang dianut CEO dan orientasi kognitif berpengaruh terhadap proses pengambilan keputusan stratejik dengan membatasi dan memberikan fi lter pada informasi yang ada, sehingga keputusan stratejik mencerminkan belief, assumption dan values CEO.
Pengambilan keputusan CEO menggunakan karakteristik kognitif yang dapat diobservasi yaitu pendidikan, functional background dan masa kerja pada perusahaan (Milliken dan Martin, 1996). Pengalaman kerja sebagai salah satu karakteristik demografi CEO yang dikaitkan dengan kemampuan kognitif memperluas dan memperkaya sumber informasi dan memperkuat kapasitas pengambilan keputusan (Dutton dan Duncan, 1987). Jadi, dalam konteks top management team pengalaman kerja memperkuat perspektif kognitif yang dibutuhkan untuk menemukan peluang stratejik dan mempertimbangkan berbagai alternatif stratejik yang memperkuat kemampuan team untuk mengidentifi kasi dan melakukan kesepakatan dengan kondisi lingkungan yang ada (Wiersma dan Bantel, 1992).
Goldsmith (2012) meneliti tentang CEO tenure dan kinerja perusahaan pada 282 perusahaan sektor keuangan di US dengan periode penelitian 199-2009. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa CEO tenure mendukung konsistensi, sustainable, dan profi table kinerja perusahaan. Data penelitiannya diambil dari Data Securities and Exchange
Commission Electronic Data Gathering and Retrieval System (EDGAR).
Menurut Maseko (2015) staggered board bukan bagian dari ketertarikan pemegang saham. Perusahaan dengan staggered board memiliki nilai yang lebih rendah daripada perusahaan lain karena boards yang memiliki kualifi kasi menurunkan sensitivitas turnover board dan kinerja perusahaan (Adams et al., 2010). Staggered board digunakan sebagai tameng perlindungan takeover yang melindungi manajer. Anggota boards seharusnya dipilih selama dua periode.
Menurut Ellison dan Mullin (2014) dalam penelitiannya tentang gender dan tenure pada kinerja perusahaan menyatakan bahwa pengaruh gender pada kinerja perusahaan tergantung pada dukungan perusahaan pada diversitas. Peneliti menemukan tidak adanya hubungan diversitas gender pada kinerja perusanaan pada perusahaan yang mendukung diversitas. Diversitas masa kerja berpengaruh terhadap kinerja perusahaan. Orang yang masuk ke perusahaan pada saat yang sama akan berbagi komunikasi lebih baik. Ellison dan Mullkin (2014) meneliti pada perusahaan kecil yang ada di US dengan periode penelitian 1995-2002. Ukuran kinerja yang digunakan adalah pendapatan.
Ely (2004) meneliti diversitas terhadap kinerja perusahaan. Diversitas yang dimaksud diantaranya adalah tenure (masa kerja). Ely (2004) menggunakan kuesioner untuk mencari data penelitian pada 486 kantor cabang
bank. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa masa kerja berpengaruh terhadap kinerja cabang bank.
Luo, Kanuki, dan Andrews (2013) meneliti tentang pengalaman kerja yang diukur dengan masa kerja terhadap kinerja perusahaan. Penelitian dilakukan pada 356 perusahaan di US dengan periode penelitian 2000-2010. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa semakin lama pengalaman CEO dalam bekerja maka semakin terasah keahliannya terutama kaitannya dengan employee relations tetapi kurang responnya pada perubahan pasar. Hal tersebut berpengaruh pada kinerja perusahaan.
Wan Yusoff (2010) menemukan bahwa hanya 3,5% direktur independen adalah wanita dan pengalaman dalam corporate management merupakan bagian integral dari efektifi tas CEO di Malaysia. Poon, Yap and Lee (2013) menyatakan bahwa senioritas CEO berpengaruh positif terhadap kinerja perusahaan. Hal ini disebabkan oleh CEO senior lebih berpengetahuan, kreatif, dan inovatif.
Pengalaman dibutuhkan untuk menjadi CEO dan untuk mengambil keputusan yang benar diperlukan pula pengalaman. Pada umumnya CEO di Malaysia memiliki pengalaman kurang dari 9 tahun sebagai CEO (Securities
Commission Malaysia, 2011). Beberapa penelitian
sebelumnya menemukan pengaruh positif pengalaman kerja terhadap kinerja perusahaan (Bantel dan Jackson, 1989; Hambrick, Cho, dan Chen, 1996; Smith et al., 1994). Hal ini mengindikasikan bahwa diversitas dapat memperkuat perspektif dan informasi serta kapasitas pengambilan
keputusan. Berdasarkan penelitian sebelumnya tentang komisaris dan direksi, maka hipotesis penelitian adalah:
H2: Pengalaman kerja wanita sebagai komisaris berpengaruh positif terhadap kinerja perbankan syariah di Indonesia.
Menurut data UNESCO tahun 2010 proporsi wanita yang memiliki jenjang pendidikan sarjana di dunia sebesar 54%. Prosentase tersebut mengalami peningkatan dibandingkan pada tahun 2000 sebesar 51%. Data dari UK menunjukkan bahwa hasil ujian nasional yang diikuti oleh siswa usia 16 tahun pada tahun 2011 26,5% perempuan paling tidak satu orang mencapai nilai tertinggi sementara untuk laki-laki hanya 19,8% yang mencapai posisi nilai tertinggi.
Keberadaan anggota CEO dengan kualifi kasi pendidikan yang lebih tinggi memberikan pengetahuan yang lebih luas, memberikan board stimulasi untuk mempertimbangkan alternatif lain, dan memperkuat pemecahan masalah (Cox dan Blake, 1991). Anggota CEO dengan pendidikan umum dan latar belakang kualifi kasi riset dan analisis yang lebih dalam seperti Ph. D menjadi sumber ide inovatif untuk menginisiasi pengembangan kebijakan dengan analisis yang lebih dalam dan memberikan perspektif unik pada isu-isu stratejik (Westphal dan Milton, 2000).
Komisaris yang berpendidikan tinggi, ahli dan trampil mampu melawan dominasi manajerial dan mewakili kepentingan stakeholders, meningkatkan kualitas keputusan, mengevaluasi strategi inovatif lingkungan dan
mengungkapkan informasi lingkungan secara reaktif atau proaktif. Wiersema dan Bantel (1992) menyatakan Komisaris dengan tingkat pendidikan yang tinggi dapat melakukan perubahan dalam strategi perusahaan untuk mewujudkan tujuannya dan meningkatkan nilai perusahaan.
Hasil penelitian Akhtaruddin dan Rouf (2011) menyimpulkan kualifi kasi pendidikan Komisaris dalam bidang akuntansi dan pengalaman di bidang bisnis berpengaruh positif terhadap pengungkapan sukarela. Hasil penelitian Hambrick, Cho dan Chen (1996) menyimpulkan tingkat pendidikan Komisaris berpengaruh positif signifi kan terhadap nilai perusahaan. Hasil berbeda ditunjukkan oleh penelitian Haniff a dan Cooke (2005), Suhardjanto (2010) yang menyatakan bahwa tingkat pendidikan Komisaris tidak berpengaruh terhadap tingkat pengungkapan sukarela.
Menurut Singh et al. (2008) bahwa wanita akan membawa perspektif internasional yang berbeda pada board dan British Female CEO pada umumnya memiliki jenjang pendidikan MBA. Hal ini bertentangan dengan apa yang diketahui umum, bahwa wanita memiliki keterbatasan kemampuan sumber daya manusia terutama pada Negara sedang berkembang. Kontribusi dinamika pada dilemma yang dipercaya umum adalah agresivitas, kurangnya percaya diri, penghindaran pada risiko, dan ketidakstabilan mental. Keluarga dan anak merupakan prioritas wanita dan pekerjaan sebagai peringkat kedua. Hal ini tergantung pada seberapa besar tekanan keuangan dan komitmen awal.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa latar belakang pendidikan dan pengalaman Komisaris berpengaruh terhadap penyusunan strategi inovatif yang berbasis lingkungan dan meningkatkan transparansi perusahaan. Dengan kompetensi intelektual yang dimiliki Komisaris, strategi perusahaan selalu dievaluasi, sehingga berdampak pada peningkatan nilai perusahaan. Beberapa penelitian tentang pengaruh jenjang pendidikan terhadap kinerja perusahaan menemukan hasil yang berbeda-beda. Buniamin, Johari, Abdul Rahman, dan Abdul Rauf (2012) di Malaysia tidak menemukan pengaruh kompetensi dan pendidikan terhadap kinerja perusahaan. Hal yang sama ditemukan oleh Bathula (2008) di New Zealand bahwa jenjang pendidikan S3 berpengaruh negatif terhadap kinerja perusahaan.
Smith, Smith, dan Verner (2005) meneliti tentang keterlibatan wanita sebagai CEO dan kinerja perusahaan di Denmark. Sampel yang digunakan dalam penelitiannya sejumlah 2500 perusahaan dengan periode penelitian 1993-2001. Hasil peneltiannya menunjukkan bahwa jenjang pendidikan wanita sebagai CEO berpengaruh positif terhadap kinerja perusahaan. Smith et al. (2005) membedakan jenjang pendidikan berdasarkan long higher education (university), medium or short higher education, dan no higher education. Smith et al. (2005) menyebutkan bahwa kualifi kasi wanita sebagai CEO menentukan kinerja perusahaan.
Idea (2013) meneliti tentang board diversity dan kinerja perusahaan. Hasil penelitiannya menunjukkan
bahwa jenjang pendidikan (Ph.D) berpengaruh terhadap kinerja perusahaan. Kinerja perusahaan diukur dengan menggunakan ROA dan ROE serta Tobin’s Q. Penelitian Idea (2013) dilakukan di US dengan sampel yang diambil dari Corporate Library Data pada periode penelitian 2001-2010.
Wan Yusoff (2010) menyatakan bahwa wanita di Malaysia adalah wanita yang berpendidikan dan berpengetahuan. Kualifi kasi pengetahuan dan pendidikan merupakan bagian integral dari efektifi tas CEO di Malaysia. Hal ini serupa dengan pernyataan Virtanaen (2012) di Finlandia. Berdasarkan hal tersebut, maka hipotesis penelitian adalah:
H3: Jenjang pendidikan wanita sebagai komisaris berpengaruh positif terhadap kinerja perbankan syariah di Indonesia.
Beberapa penelitian mendokumentasikan pengaruh skill based leadership diversity termasuk latar belakang pendidikan terhadap kinerja perusahaan (Milliken dan Martin, 1996). Kepemimpinan perusahaan dengan tingkat latar belakang pendidikan yang berbeda memberikan perspektif dan keahlian yang berbeda akan memperkuat kemampuan memecahkan masalah dan pengambilan keputusan stratejik. Latar belakang pendidikan yang berbeda memberikan kepada perusahaan kemampuan untuk mengakses sumber daya dan kelompok stakeholder yang berbeda (Roberson, 2006). Sebagai satu team, board of directors mengkombinasikan kompetensi dan kemampuan yang secara kolektif mewakili social capital dan menambahkan nilai pada eksekusi fungsi
governance pada perusahaan (Carpenter dan Westphal, 2001). Kualifi kasi anggota board secara individu diperlukan untuk pengambilan keputusan. Contohnya adalah pada saat melakukan monitoring akan efektif kalau board member sudah memiliki pengetahuan dan pengalaman sebelumnya.
Menurut riset yang dilakukan oleh Association Certifi ed of Accountants (ACCA) wanita yang mendapatkan posisi sebagai CEO ketika mereka memiliki latar belakang pendidikan keuangan dan keahlian di bidang keuangan tersebut menunjang keberhasilan karier mereka selanjutnya (Seally dan Doherty, 2012). Hasil penelitian menunjukkan bahwa 45% wanita yang memiliki kedudukan sebagai CEO di FTSE 100 memiliki kualifi kasi keuangan dan 65% dari prosentase tersebut memiliki latar belakang pendidikan keuangan. Beberapa alasan mengapa wanita yang memiliki latar belakang pendidikan keuangan mendapatkan posisi sebagai CEO adalah: (1) kualifi kasi keuangan meningkatkan kredibilitas, (2) wanita dengan latar belakang keuangan memiliki rasa percaya diri yang lebih besar, (3) karier di bidang keuangan biasanya terstruktur, dengan peran yang jelas, lebih mudah diakses, dan lebih menarik bagi wanita, (4) wanita dengan latar belakang pendidikan keuangan memiliki jaringan dan kontak sendiri yang terbuka untuk pengembangan karier di masa yang akan datang, dan (5) kualifi kasi kemampuan akuntansi relatif dapat dipakai di mana saja yang memungkinkan wanita untuk bergerak bebas diantara berbagai sektor dan secara potensial mengembangkan kerier mereka sendiri.
Kualifi kasi pendidikan termasuk dalam index evaluasi corporate governance perusahaan. Beberapa penelitian sebelumnya mendokumentasikan hasil pengaruh positif latar belakang pendidikan terhadap kinerja perusahaan (Hunt, 2000; Ljungquist, 2007). Anggota CEO yang memiliki pendidikan tinggi memberikan keuntungan pada perusahaan berupa kemampuan dan kompetensi (Carpenter dan Westphal, 2001; Carver, 2002) yang akan menciptakan perspektif yang berbeda dalam penganbilan keputusan (Millikens dan Martins, 1996; Biggins, 1999). Hasil penelitian yang dilakukan oleh Yermack (2006) menemukan bahwa reaksi harga saham sensitif pada kualifi kasi professional CEO dan spesialisasi akuntansi dan keuangan kaitannya dengan kinerja perusahaan. Hal ini jelas bahwa kualifi kasi pendidikan CEO dan spesialisasinya pada bidang akuntansi dan keuangan berpengaruh terhadap kinerja keuangan perusahaan.
Wicaksana (2010) meneliti tentang pengaruh diversitas dewan pada kinerja pasar. Wicaksana meneliti pada 166 perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan periode penelitian 2006-2008. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa latar belakang pendidikan tidak berpengaruh terhadap kinerja pasar perusahaan. Ukuran kinerja pasar yang digunakan adalah price to book value.